Alt Title
Menggantung Asa di Langit Istanbul (Bagian 15)

Menggantung Asa di Langit Istanbul (Bagian 15)

 


Masjid bukan hanya difungsikan untuk kajian ilmu, tetapi digunakan untuk aktivitas kenegaraan, seperti peradilan, persiapan perang dan sebagainya

______________________________


Penulis Rumaisha

Kontributor Media Kuntum Cahaya 


KUNTUMCAHAYA.com, CERBUNG - "Selanjutnya, apa rencana kita?" Tanya Umar.


"Besok, kita mulai penjelajahan. Rasanya sudah tidak sabar ingin mengunjungi tempat-tempat peninggalan peradaban Islam di negeri ini," jawab Yusuf


"Kita akan berkunjung ke mana dulu?" Tanya Umar kembali.


"Kota Bursa," sahut Yusuf penuh semangat.


Umar sudah tidak sabar menunggu esok hari. Pukul 03.00 Umar terbangun. Ia melaksanakan salat tahajud dan membaca mushaf. Di sela-sela doa yang dipanjatkan, ia bersyukur punya sahabat seperti Yusuf, sahabat dakwah yang sangat baik, anugerah terbaik sepanjang hidupnya.


"Suf, bangun. Rasanya sudah memasuki waktu subuh. Tapi, kok aku tidak mendengar azan berkumandang? Apakah negeri ini sudah sedemikian sekulernya sampai-sampai lantunan azan pun dilarang?" Gerutu Umar.


"Entahlah, aku juga kurang paham. Mungkin juga berawal ketika Mustafa Kemal mengganti azan dengan bahasa Turki. Tetapi, yang aku dengar di kota-kota pinggiran masih terdengar kumandang azan."


Setelah yakin waktu subuh telah tiba, mereka melaksanakan salat Subuh berjamaah. Setelah beres dan siap-siap untuk sarapan pagi, mereka mengelilingi hotel sambil menikmati indahnya laut di waktu pagi.


Sebelum pergi mereka breakfast terlebih dahulu di ruangan bersama wisatawan lainnya. Sedang asyik-asyiknya menikmati hidangan, seseorang datang menghampiri.


"Tuan muda, ini Baba Abraham yang akan menemani dalam perjalanan, dan ini driver Ali yang akan setia mengantar anda kemana pun. Ia ahli dalam sejarah dan sering menjadi guide wisatawan yang berkunjung ke Turki."


"Assalamualaikum, kenalkan saya Abraham, senang bertemu dengan Anda."


"Terima kasih, sudah mau menemani, kami, Baba," sahut Yusuf.


"Ayo, kalau selesai sarapannya kita berangkat sekarang mumpung masih pagi. Kita akan menempuh perjalanan sekitar enam jam untuk sampai di Kota Bursa," kata Abraham menjelaskan.


"Siap, Baba."


Selama perjalanan, tak henti-hentinya Yusuf dan Umar berdecak kagum. Mereka bisa menikmati pemandangan dari dalam mobil.


"Luar biasa, ini dulu adalah negeri kaum muslimin, betapa hebatnya mereka, sehingga khilafah terakhir tegak di sini," gumam Yusuf nyaris tidak terdengar.


"Baba, apakah jalan-jalan di sini seperti ini tiap harinya, hanya satu, dua mobil yang lewat?" tanya Umar


"Beda jauh dengan Indonesia, ya, super macet dan semrawut," timpal Yusuf.


"Kalau di kota-kota besar seperti ini pemandangan kesehariannya. Berbeda dengan daerah pinggiran yang banyak penduduknya, kemacetan akan kita temui di sana," jawab Abraham.


"Ooooh," kata Umar sambil fokus ke depan, seakan tidak mau melewati momen langka ini.


"Baba, masih sekali bahasa Indonesianya, belajar di mana?" Tanya Yusuf penasaran.


"Dulu saya belajar di Jogja selama satu tahun, pekerjaanku mengharuskan untuk bisa berbagai bahasa walaupun tidak menguasai banget. Karena banyak sekali wisatawan dari Indonesia yang berkunjung ke Turki."


"Turki, memang menjadi salah satu destinasi yang  disukai orang Indonesia, Baba. Terutama orang-orang yang memahami tentang peradaban Islam terakhir di Istanbul. Di sana ada museum Top Cape, gambaran masa kejayaan dan singgasana khalifah terakhir sebelum runtuh," kata Umar.


"Ya, ya, dan sekarang hanya tinggal romantisme sejarah," sahut Abraham.


"Bagi kami tidak, Baba. Kami yakin, suatu saat Islam akan kembali menjadi negara adidaya," Yusup menimpali.


"Aku juga mendengar, banyak orang berpendapat seperti itu." Suara Abraham terdengar datar tanpa ekspresi.


Pukul 11.45, mereka sampai di Kota Bursa, dan langsung menuju masjid.


"Masya Allah," Yusuf dan Umar serentak mengucapkannya.


"Sebelum kita ngobrol dan keliling sekitar masjid ini, kita salat dan makan dulu," kata Abraham. 


"Siap," kata Yusuf.


Selama berada di dalam masjid, tak henti-hentinya mereka berdecak kagum dengan interior dalam masjid. Di luar terlihat warna putih, setelah ada di dalam nuansa hijau mendominasi ruangan yang dipadu dengan tulisan kaligrafi yang sangat indah. Abraham mendekati mereka dan mulai bercerita tentang silsilah masjid.


Yesil Camii (Green Mosque), berdiri di sebuah bukit di Bursa. Tempat ini dikenal dengan kawasan Yesil atau kawasan hijau. Dibangun pada masa Khalifah Mehmed I, sekitar abad ke-15. Beliau adalah salah seorang khalifah di masa kekhilafahan Turki Utsmani.


Abraham menunjukkan beberapa tempat khusus. Di lantai dua, ada ruangan khusus Sultan ketika menerima tamu kenegaraan. Di lantai satu ada ruang rapat, ruang pengadilan. Pada zaman kekhilafahan dulu, masjid difungsikan sebagai tempat khalifah menjalankan pemerintahannya, mengurusi urusan umat.


Begitu juga di zaman Rasulullah saw. dan para sahabat sesudahnya. Masjid bukan hanya difungsikan untuk kajian ilmu, tetapi digunakan untuk aktivitas kenegaraan, seperti peradilan, persiapan perang dan sebagainya.


Abraham mengajak mereka untuk berkeliling di luar masjid. Menakjubkan, di sekitar masjid juga dibangun semacam musala dan tempat khusus jamuan makan. Khalifah senantiasa menyediakan makan gratis untuk orang miskin.


Di samping kiri masjid terdapat areal pemakaman, di situlah Khalifah Mehmed I dan keluarga dimakamkan. Seperti masjid, di makam juga nuansa hijau begitu terasa indah memberi kesan tenang.


Yusuf dan Umar masuk ke makam tersebut. Mereka berdoa dengan khusyuk. Tidak terasa butiran bening membasahi pipinya. Membayangkan sosok Sultan yang berjuang untuk kemajuan Islam dan meninggikan kalimat tauhid. Kebahagiaan tersendiri, mereka bisa berkunjung ke tempat peristirahatannya yang terakhir.   


Abraham memberi tanda agar mereka segera keluar.


"Lihat ini! Ada hiasan kaligrafi di dekat pintu masuk ke masjid yang kosong. Konon, Khalifah Mehmed keburu meninggal, jadi beliau tidak bisa menuntaskan tulisan kaligrafinya," Abraham menjelaskan.


"Luar biasa, peradaban Islam yang sangat tinggi, dan sampai detik ini tidak ada yang mampu menandinginya," ucap Umar. [SJ


Bersambung

Menggantung Asa di Langit Istanbul (Bagian 14)

Menggantung Asa di Langit Istanbul (Bagian 14)

 


"Semoga, suatu saat nanti, negeri ini akan kembali ke pangkuan Islam," kata Yusuf, untuk menghapus kemarahan di wajah Umar

______________________________


Penulis Rumaisha

Kontributor Media Kuntum Cahaya 


KUNTUMCAHAYA.com, CERBUNG - "Masyaallah, benarkah ini Istanbul? Mimpikah?" teriak Umar sambil memukul-mukul pipinya, seakan tak percaya.


"Ini, nyata. Antum sampai di Istanbul," timpal Yusuf sambil tersenyum.


"Ya, Rabb ... puji syukur kepada-Mu, akhirnya aku bisa menginjakkan kaki di rumah nenek moyangku, rumah besar kaum muslimin."


Yusuf dan Umar sampai di Bandara Istanbul setelah menempuh perjalanan panjang. Mereka menumpang pesawat Emirates, dan transit dulu di Dubai sebelum melanjutkan ke Istanbul. Sebetulnya, mereka ingin berjalan-jalan di Dubai, yang katanya negeri terkaya, tapi sayang waktu tidak memungkinkan keluar bandara. 


"Hos geldiniz," tiba-tiba seseorang menyapa mereka dengan ramah.


"Hos bulduk," jawab Yusuf.


Umar yang memperhatikan percakapan mereka, terlihat kebingungan.


"Kamu ngomong apa dan siapa mereka?"


"Itu bahasa Turki, yang artinya selamat datang, dan aku jawab 'senang kita bertemu'. Panjang ceritanya, nanti aku ceritakan kalau sudah sampai," jawab Yusuf.


Orang itu membawa mereka menuju mobil yang sudah terparkir, dan mengantarkan mereka menuju penginapan. Walaupun masih bingung, tetapi Umar mengikuti Yusuf tanpa banyak tanya.


Menjelang magrib, akhirnya mereka tiba di tempat yang dituju. Keluar dari mobil beberapa orang yang berpakaian rapi sudah menunggu.


"Selamat datang di Grand Belish, tuan muda." Orang yang menggunakan jas memberi hormat kepada Yusuf.


Grand Belish Beach Resort dan Spa All Inclusive, hotel bintang lima yang terletak di Kusadasi. Hotel ini berada di tepi laut di pesisir Aregea. Sehingga bagi yang menginap bisa menyaksikan keindahan laut dari balkon. Sungguh memesona.


"Tesekkur ederim," jawab Yusuf singkat. Yusuf tidak menyangka penyambutan terhadap dirinya begitu luar biasa. Padahal, baru kali ini ia menginjakkan kaki lagi di negeri kelahirannya itu.


Jauh-jauh hari, sebelum Yusuf berangkat, ia sudah berkomunikasi dengan Ravza, bahwa ia akan berkunjung ke Istanbul, sekaligus ingin mengetahui aset-aset yang dimilikinya sebagai pewaris tunggal kakeknya. Tapi, ia tidak menyangka akan mendapatkan penyambutan seperti ini.


Umar seperti kerbau dicocok hidungnya, mengikuti kemana Yusuf pergi. Sejuta tanya menggelayut dalam hati.


"Mari, saya bawakan barang-barangnya. Tuan dan temannya bisa istirahat di kamar yang sudah disiapkan."


Sesampainya di kamar ...


"Ya, Rabb ... indah nian pemandangan dari sini. Memandang langsung ke laut, apalagi sore hari menjelang matahari terbenam. Bak kata mutiara, matahari terbenam hanyalah sedikit pemandangan dari jalan emas di surga." Kata-kata itu pernah ia baca, tapi entah di mana.


Yusuf yang melihat tingkah Umar, tersenyum sambil merebahkan badannya di atas tempat tidur. Perjalanan panjang terbayar dengan kedatangan di tempat ini.


"Boleh aku bertanya sesuatu. Sejak di bandara sampai di sini penyambutan terhadap kamu begitu luar biasa, siapa kamu sebenarnya?" tanya Umar penasaran.


Panjang ceritanya. Yusuf pun menceritakan kisah hidupnya dari mulai A sampai Z.


"Masyaallah, ternyata kamu asli Turki dan pewaris satu-satunya dari kakekmu. Terus, ibumu sekarang di mana?"


"Entahlah, aku juga belum menelusuri keberadaannya, yang pasti ada di sini."


"Kamu enggak punya gambaran atau info tentang ibumu, atau foto mungkin?"


"Entahlah, wajahnya pun aku lupa."


"Insyaallah, pasti kalian dipertemukan kembali. Berdoa semoga ibumu sehat-sehat saja." Umar memberi semangat dan membesarkan hati Yusuf.


"Aamiin."


"Ayo, kita makan malam, perutku sudah keroncongan," ajak Yusuf.


Umar lagi-lagi tercengang dengan penyediaan makanan yang sungguh mewah. 


"Suf, lihat di dinding, mengganggu selera makan aja. Kenapa sih, harus dipajang? Jelas-jelas dialah yang telah meruntuhkan kekhilafahan Islam," kata Umar.


"Oh, itu. Dia kan dikenal sebagai bapak pembaharu Turki. Sebelum aku masuk Islam, aku sama dengan pemahaman masyarakat Turki, bahwa dia yang telah membawa Turki menuju kehidupan sekuler, yang serba bebas dari kehidupan Islam yang dipandang sebagai fanatik. Hampir di setiap tempat umum atau rumah makan akan terlihat fotonya, mengalahkan presidennya saat ini," Yusuf menjelaskan.


"Ya, dialah, Mustafa Kemal Attaturk, dengan kekuatan diktatornya dan dibantu Inggris berhasil meruntuhkan kekhilafahan Islam dan membagi kesatuan umat menjadi 50 negeri-negeri kecil tanpa kekuatan. Mustafa Kemal mengusir Khalifah Abdul Majid keluar dari Istana dengan hanya membawa satu koper berisi beberapa lembar pakaian dan sedikit uang. Mustafa Kemal berhasil mewujudkan mimpi kaum kafir, yang menjadi senda gurau mereka sejak perang salib dan mendirikan negara kapitalis sekuler. Pada tanggal 3 Maret 1924, akhirnya kekhilafahan Islam terakhir di Istanbul berakhir. Sejak itu, umat Islam hidup dalam kubangan penderitaan dan kesengsaraan yang dirasakan sampat saat ini. Umat tidak lagi memiliki perisai, yang akan melindungi dari keganasan dan kepongahan kafir penjajah."


Kata-kata itu meluncur ringan dari mulut Umar, terlihat wajahnya menahan marah. Ia melirik ke kiri dan ke kanan, takut pembicaraannya didengar orang. Alhamdulillah, belum banyak orang yang datang untuk makan.


"Semoga, suatu saat nanti, negeri ini akan kembali ke pangkuan Islam," kata Yusuf, untuk menghapus kemarahan di wajah Umar.


"Insyaallah, fajar kemenangan Islam itu akan segera terbit. Khilafah yang merupakan janji Allah dan bisyarahnya Rasulullah akan segera terwujud, tidak lama lagi," ucap Umar dengan berapi-api. [SJ] 


Bersambung.

Menggantung Asa di Langit Istanbul (Bagian 13)

Menggantung Asa di Langit Istanbul (Bagian 13)

 


Cahayanya yang indah menemani kami menuju perjalanan pulang

Esok dan esoknya lagi, dakwah harus terus berjalan, sampai Allah Swt. memberikan janjinya, bahwa kemenangan akan diberikan kepada orang-orang yang yakin

______________________________


Penulis Rumaisha

Kontributor Media Kuntum Cahaya 


KUNTUMCAHAYA.com, CERBUNG - "Sulit aku percaya, hari ini bisa menginjakkan kaki lagi di Kota Bandung, setelah dua tahun kutinggalkan. Hari ini juga adalah Ramadan kedua dalam perjalanan hidupku," gumam Yusuf, sambil mengenang kembali rentetan peristiwa yang telah dialami.


Waktu itu, setelah Yusuf mengambil sikap untuk meninggalkan tempat sementara dan berpamitan kepada Ustaz Anwar, ia bersafari mengelilingi berbagai kota di Indonesia. Ia ingin menyaksikan dari dekat tentang fakta kehidupan umat Islam.


Hari ini, kedatangan Yusuf kembali, berencana akan mengunjungi Umar di penjara yang ada di Kota Bandung, sekaligus menjemputnya. Masa tahanan sudah dijalani oleh Umar dengan penuh kesabaran.


Umar, sahabatnya ini, telah dipenjarakan karena kasus dakwah yang selama ini dilakukannya. Umar dilaporkan karena berdakwah mengajak masyarakat kepada penerapan Islam kafah dan khilafah. Karena bersikukuh dengan keyakinannya, ia pun didelik pidana dan dijebloskan ke penjara.


Pihak terkait beralasan, dakwah Umar akan memecah belah NKRI. Padahal, Umar dan yang lainnya tidak pernah mengangkat senjata atau aktivitas lainnya yang bersifat fisik. Dakwah yang dilakukannya selama ini adalah dakwah pemikiran, memahamkan umat, mengajak umat berpikir tentang kewajiban menerapkan hukum Allah tegak kembali di muka bumi ini.


Yusuf tidak habis pikir, negeri ini adalah mayoritas muslim, tetapi mengapa para pengemban dakwah seperti Umar dan yang lainnya yang bersuara lantang menolak kebijakan penguasa yang tidak pro rakyat justru dianggap radikal. Padahal, tujuan mereka mulia, ingin memperbaiki negeri ini dari kerusakan sistem yang tidak menerapkan hukum Islam kafah.


"Aku saja yang baru masuk Islam memahami, bahwa apa yang mereka lakukan adalah sebuah kebenaran. Khilafah adalah ajaran Islam yang dicontohkan oleh Rasulullah saw.. Lantas apa yang mereka takutkan?" Tanya itu berkecamuk dalam dada.


Yusuf masih ingat pesan What'sApp yang diterimanya dari Umar.


[Assalamualaikum. Sahabatku, Yusuf. Sebenarnya aku diberi pilihan oleh mereka, berhenti dakwah menyuarakan Islam kafah dan khilafah dan bisa bebas beraktivitas seperti biasa kalau tidak berarti tetap di penjara? Tetapi, aku memilih untuk tetap berdakwah. Aku teringat ketika Rasulullah saw. ketika ditawari tahta, harta, dan wanita asal berhenti untuk dakwah kepada Islam. Beliau waktu itu menjawab dengan lantang, "Sekali pun matahari diletakkan di tangan kanan dan bulan di tangan kiri, Aku tidak akan berhenti dari dakwah ini sampai maut menjemputku."]


Yusuf bangga mempunyai sahabat seperti Umar. Pendiriannya begitu teguh, akidahnya sudah mengkristal dalam dada.


Tidak terasa, Yusuf sudah berdiri di depan lapas Sukamiskin. Setelah melewati para penjaga yang menanyakan identitas, Yusuf dibawa ke tempat berkunjung. Di ruangan itu hanya ada dua bangku panjang dan sebuah meja. Di situlah para tahanan biasa bertemu dengan keluarganya atau orang yang ingin mengunjunginya.


Yusuf masuk ke ruangan, di sana Umar dan yang lainnya sudah menunggu. Yusuf sengaja datang menjelang buka puasa. Ia membawa makanan yang banyak untuk buka. Karena Yusuf tahu, makanan di penjara ala kadarnya. Bagaimanapun, mereka harus menerima apa pun yang diberikan oleh pihak lapas. Mereka semua tampak gembira.


"Assalamualaikum," sapa Yusuf.


"Waalaikumssalam," Umar menjawab salam pertama kali diikuti oleh yang lainnya.


Umar yang pertama-tama bersalaman dan memeluk Yusuf.


"Selamat menjalankan ibadah puasa Ramadan, Umar," ucap Yusuf.


"Selamat menjalankan puasa Ramadan juga, Yusuf," balas Umar.


"Apa kabarmu selama ini?" tanya Yusuf 


"Aku sehat-sehat saja," kata Umar sambil tersenyum.


Yusuf tidak melihat sedikit pun keletihan di wajah Umar, juga wajah-wajah yang lainnya. Semua menunjukkan keceriaan. Mereka adalah sesama tahanan yang sudah tercerahkan pemikirannya oleh dakwah Umar.


Indahnya hidup dalam ikatan akidah. Saling support dan menguatkan satu dengan yang lainnya. Padahal, mereka dari suku yang berbeda, tetapi Islam telah melebur mereka menjadi satu. 


"Bagaimana pengalamanmu selama ini berkeliling Indonesia? Bagaimana keadaan saudara-saudara kita?"


Umar tahu, Yusuf sering bepergian ke pelosok-pelosok untuk melihat keadaan saudaranya dari dekat. Yusuf pergi dengan para Ustaz yang sudah lebih dulu memahami Islam dan berjuang dalam memahamkan umat.


"Mereka, muslim Indonesia bahkan dunia sedang tidak baik-baik saja. Kezaliman penguasa yang menjadi antek Barat begitu membuatku marah. Aku menyaksikan kemiskinan terhampar di mana-mana, banyak para Ustaz yang ditangkap hanya karena mengkritisi penguasa. Padahal, ini adalah Ramadan kedua bagiku, tetapi mungkin Ramadan yang ke sekian kalinya bagimu dan yang lainnya. Apakah sudah ada perubahan atau tambah buruk dari Ramadan sebelumnya?" Yusuf balik bertanya.


"Ya, benar. Ramadan tahun ini masih seperti tahun-tahun sebelumnya, Ramadan masih berselimut duka. Miris memang, kondisi kaum muslimin ketika tidak ada seorang pemimpin bagi umat Islam seluruh dunia. Betul sekali apa yang kamu ceritakan, inilah kondisi umat Islam saat ini. Lemah, tak berdaya, dan menjadi santapan manusia-manusia yang rakus, yang haus akan gemerlapnya dunia," jawab Umar.


"Semoga ini Ramadan terakhir tanpa khilafah. Aku ingin merasakan hidup di bawah naungannya. Merasakan berkah dari langit dan bumi melingkupi dunia," doa Yusuf, diikuti kata aamiin dari yang hadir.


Azan magrib berkumandang. Semua  berbuka dengan makanan yang dibawa dari luar. Semua makan dengan lahap, maklum jarang menyantap makanan yang seperti ini. Walaupun di penjara, mereka tetap bersyukur bisa menjalani ibadah Ramadan ini dengan penuh keimanan.


"Aku harap kalian terus bersabar selama masih di tahanan ini. Tetaplah mengajarkan Islam bagi mereka yang ingin belajar. Yakinlah suatu saat fajar kemenangan itu akan segera terbit," kata Yusuf berapi-api.


"Seperti kalian ketahui, hari ini aku lepas dari kungkungan jeruji besi ini. Semoga kita bisa bertemu dan berkumpul di tempat yang lebih baik, suatu saat nanti," kata Umar. Ia memberikan alamat dan nomor kontaknya, agar bisa saling memberikan informasi.


"Berkunjunglah kepada kami, sekali-kali, Umar, Yusuf," kata seorang teman kami dari Palembang.


"Insyaallah," jawab Umar.


"Kalau aku bebas nanti, aku ingin bergabung dengan kalian untuk memperjuangkan Islam," kata Usman, yang memahami Islam ketika di penjara.


"Akan kutunggu saat itu tiba," sahut Yusuf.


Sebelum Umar dan Yusuf  meninggalkan penjara, mereka saling berpelukan. Di antara mereka ada yang berlinang air mata, yang lainnya tertunduk dengan wajah ditekuk. Perpisahan ini membuat semua yang hadir terharu. Begitulah hidup. Bagai awan di langit. Bertemu tuk berpisah lagi.


Dua orang penjaga mengantar kami keluar. Kami menuju taksi yang sebelumnya sudah dipesan. Rasanya seperti mimpi. Yusuf seakan tak percaya bahwa Umar telah benar-benar bebas.


"Ke mana kita pergi sekarang?" tanya Yusuf ketika sudah berada di dalam taksi.


"Terserah kamu sajalah, Yusuf," jawab Umar.


"Uang simpananku lumayan banyak, nantilah aku ceritakan suatu hari nanti. Bagaimana kalau kita mengunjungi kampung halaman kita, rumah kita, rumah besar kaum muslimin? Pastinya setelah berkunjung dulu ke rumah orang tuamu. Mereka pasti senang mendengarmu sudah bebas," kata Yusuf.


"Apa, katamu kita berkunjung ke Istanbul, rumah besar kaum muslimin?" Dari mana aku punya uang untuk ongkosnya?


"Tenang saja, semoga Allah memudahkan rencana kita," kata Yusuf.


Bulan menerangi mayapada. Cahayanya yang indah menemani kami menuju perjalanan pulang. Esok dan esoknya lagi, dakwah harus terus berjalan, sampai Allah Swt. memberikan janjinya, bahwa kemenangan akan diberikan kepada orang-orang yang yakin. [SJ] 


Bersambung

Menggantung Asa di Langit Istanbul (Bagian 11)

Menggantung Asa di Langit Istanbul (Bagian 11)

Dengan perasaan malu, karena aib keluarganya harus dibuka kembali, mau tidak mau Umar sebagai pemimpin di rumah menceritakan kejadian yang menimpa kakaknya dari awal sampai akhir

______________________________


Penulis Rumaisha

Kontributor Media Kuntum Cahaya 



KUNTUMCAHAYA.com, CERBUNG - Umar baru saja selesai menyampaikan pelajaran agamanya, ketika pintu kelas diketuk dari luar.

"Iya, masuk!"

"Permisi, Pak. Bapak dipanggil sama Pak Burhan di ruangannya," kata Udin, penjaga sekolah.

"Oh, iya, sebentar saya ke sana."

"Anak-anak karena pelajaran sudah selesai, kita akhiri sampai di sini. Jangan lupa PR-nya dikerjakan. Kalian nanti harus mencari bukti bahwa Allah itu ada."

"Siap, Pak." Mereka menjawab serentak.

Sepanjang perjalanan menuju ruang kepala sekolah, Umar berpikir apa sebenarnya yang ingin dibicarakan oleh Pak Burhan. Baru kali ini, ia dipanggil secara resmi.

"Assalamualaikum."

"Waalaikumsalam. Iya, masuk."

Setelah mendapat izin duduk, Umar pun duduk berhadap-hadapan.

"Iya, Pak. Makasih. Ada yang bisa saya bantu?" tanya Umar dengan merendah.

"Sebenarnya, saya sudah lama ingin ngobrol. Ada beberapa hal yang ingin minta konfirmasinya. Pertama, ada seorang guru yang pernah mendengar ketika Bapak mengajar, mengatakan bahwa agama yang benar itu hanya Islam. Sedangkan, kita mengetahui agama yang diakui di negara ini ada lima dan semuanya mengajarkan kebaikan. Kedua, saya juga mendengar, Bapak ikut aksi waktu ke Bandung yang menyuarakan tentang khilafah, padahal jelas khilafah dilarang di negeri ini karena akan merusak bangunan negara yang sudah dibangun oleh para pendahulu kita. Apakah informasi ini benar?" tanya Burhan sambil menatap tajam.

Umar kaget ditanya mendadak seperti itu. Umar menduga, ada orang yang memata-matainya selama ini. Tapi, ia tetap bersikap tenang. Umar menarik napas panjang sebelum menjawab.

"Terus di mana salahnya kalau saya bilang seperti itu? Kan sudah jelas di dalam Al-Qur'an yang mulia disebutkan bahwa agama yang benar dan diridai Allah adalah Islam. Selain Islam batil. Sikap ini yang seharusnya diyakini oleh umat Islam, karena ini menyangkut akidah."

Umar berhenti sebentar sebelum melanjutkan kata-katanya. Ia ingin tahu bagaimana respon Pak Burhan. Tetapi, sikapnya biasa aja belum menunjukkan perubahan yang signifikan.

"Pertanyaan kedua, tentang menyuarakan khilafah. Sepemahaman saya yang fakir, khilafah itu adalah sistem pemerintahan yang pernah dicontohkan oleh Rasulullah. Khilafah itu artinya kepemimpinan umum bagi umat Islam seluruh dunia. Umat Islam wajib hukumnya untuk berada di bawah satu kepemimpinan, tidak boleh banyak. Khilafah juga ajaran Islam, sama seperti ajaran Islam yang lainnya seperti salat, bayar zakat, menutup aurat bagi perempuan, akhlak dan ajaran Islam lainnya. Semuanya wajib kita tunaikan. Tidak boleh menunda dan memilih. Karena Islam itu aturan dan solusi bagi seluruh permasalahan manusia."

"Kamu, baru punya ilmu sedikit, sudah sombong," tukas Burhan dengan nada mulai naik.

"Maaf, Pak. Bukan maksud saya seperti itu. Saya yakin, Bapak lebih paham tentang isi Al-Qur'an karena Bapak seorang tahfiz."

"Tapi, kan ini sekolah. Saya enggak mau nanti, sekolah ini dicap radikal, intoleran karena ada oknum satu orang guru yang mempunyai pemahaman nyeleneh, mengajarkan intoleransi dan ajaran sesat."

"Innaa lillahi," gumam Umar hampir tidak terdengar.

"Pokoknya, kalau Bapak masih mau mengajar di sini, jangan ajarkan lagi pemahaman yang bertentangan dengan kurikulum. Kalau enggak, Bapak terima sendiri akibatnya. Pikirkan itu!" Burhan menutup obrolannya.

Umar keluar dari ruangan Pak Burhan dengan pikiran tak menentu. Di satu sisi, ia bingung, langkah apa yang harus diambil. Di sisi lain, Umar bersyukur, Allah sudah memberikan kesempatan dengan memberi fasilitas dakwah gratis terkait akidah dan khilafah. Apalagi kepada orang nomor wahid di sekolah ini. Ketika Allah Swt. sudah berkehendak, tidak ada satu pun yang bisa menghalanginya. Umar paham, tidak ada sehelai daun pun yang jatuh dari pohon, kecuali atas izin-Nya. 

Setelah salat Asar, Umar pulang ke rumah seperti biasa. Dari kejauhan, ia melihat banyak orang yang berkerumun di depan rumahnya. Umar mempercepat laju kendaraannya. "Jangan-jangan, Ibu ...," pikirnya.

"Aku berhak mengambil anak ini, dia anakku. Darah dagingku!" nada bicaranya keras.

"Bukan, ini anakku. Aku yang melahirkannya."

Di belakang warga yang berkerumun bertanya kepada teman dekatnya.

"Emang, Si Nurul kapan nikahnya, tahu-tahu sudah punya anak?"

"Wah, ini pasti anak haram."

"Eh, parahnya, yang aku dengar, pacarnya itu orang kristen."

"Hhmm, kasihan ya, keluarganya, padahal bapaknya baru meninggal."

Itulah lontaran-lontaran dari warga kampung yang sungguh membuat telinga Umar memerah.

"Oh, ternyata kamu. Berani-beraninya kamu ke rumah ini lagi setelah menipu dan menjebak kakak saya atas nama cinta," kata Umar sambil merangsek memukul Rafael.

"Sudah, sudah. Kita bisa bicarakan baik-baik, tidak boleh main hakim sendiri," kata Pak Danang, ketua RT di mana Umar tinggal.

Sementara, Nurul memegang anaknya dengan erat. Ia duluan masuk ke dalam rumah ditemani Irma. Walaupun Irma masih marah kepada anaknya itu, ia juga tidak rela kalau cucunya dibawa oleh Rafael. Biarkan dosa di masa lalu terkubur bersama penyesalan yang paling dalam.

Semua masuk ke dalam. Diikuti oleh Rafael dan seorang temannya. Sedangkan tetangga lain yang tadi berkumpul membubarkan diri setelah Pak Danang memberi penjelasan.

"Nah, sekarang ceritakan apa yang terjadi sesungguhnya?"

Dengan perasaan malu, karena aib keluarganya harus dibuka kembali, mau tidak mau Umar sebagai pemimpin di rumah menceritakan kejadian yang menimpa kakaknya dari awal sampai akhir.

Pak Danang menyimak, sesekali kepalanya manggut-manggut. Ia harus berusaha bijak untuk menyelesaikan masalah ini.

"Oh, begitu ceritanya."

"Nak, Rafael, setahu Bapak sebagai muslim, anak yang masih menyusui itu wajib bersama ibunya, tidak boleh dipisahkan. Kewajiban si ibu untuk menyusui sampai dua tahun tidak bisa digantikan perannya oleh siapa pun. Kalau sama sampean, siapa nanti yang akan memberikan ASI-nya?"

"Itu mah mudah, Pak. Beri saja ia susu formula," jawab Rafael setengah memaksa.

"Bukan masalah mudah atau sulit, ini masalah keyakinan agama kami. Bapak yakin, sampean sanggup membelinya. Tapi, kita juga tahu bahwa ASI adalah asupan gizi terbaik bagi si bayi."

"Dia telah menjebak kakak saya, Pak. Didekati, diambil hatinya, ketika korban terpedaya, dia menjaga pahlawan, dan berjanji akan menikahi, tetapi ternyata dia memaksa kakak saya untuk murtad."

Wajah Umar memerah seperti udang rebus.

"Sudah! tidak ada artinya bertengkar, toh semua sudah terjadi dan tidak akan mengembalikan keadaan. Nasi sudah menjadi bubur. Kita ambil pelajaran dari kejadian ini. Untuk kamu, siapa namamu, Rafael ya, tenang saja. Pulanglah! Saya selaku RT, tidak mau ada kekerasan nantinya."

Walaupun masih dongkol karena maksudnya tidak kesampaian, Rafael akhirnya pulang. Dalam hatinya, ia sudah merencanakan sesuatu, biarlah ia mengalah untuk menang. [SJ] 


Bersambung

Menggantung Asa di Langit Istanbul (Bagian 10)

Menggantung Asa di Langit Istanbul (Bagian 10)


Yusuf teringat seseorang yang selama ini menginspirasinya. Sosoknya secara tidak langsung telah mengantarkan ia untuk bersyahadat. Mungkin dirinya tidak akan menjadi Yusuf Borg, bila tidak pernah bertemu dengan Umar

Setidaknya, keislamannya tidak akan secepat itu

_________________________


Penulis Rumaisha

Kontributor Media Kuntum Cahaya 


KUNTUMCAHAYA.com - CERBUNG, Hari telah petang. Langit di Desa Blimbingsari di Kabupaten Jembrana, Bali masih biru meski tidak sebiru siang tadi. Seorang wanita paruh baya berdiri di depan jendela dengan tatapan kosong. Ia menarik napas panjang seakan ingin melepaskan beban yang ada di dalam dadanya. Sudah dua dasawarsa lebih ia tinggal di desa ini. Desa yang secara adat berbeda jauh dengan kebiasaannya.


"Ravza, di mana Kau?"


"Ya, Aku di sini," yang dipanggil menyahut dan menghampiri ke arah suara.


"Kenapa, Kamu? Masih bersikeras dengan niatmu itu?"


"Iya, Pa. Mama tidak mau berbohong terus-menerus menyembunyikan rahasia ini. Kita tidak tahu, kapan ajal menjemput, sementara masih ada rahasia yang disembunyikan dan dibawa mati."


"Ah, Kamu terlalu lebay. Biarkan saja dia dalam agamanya sekarang, toh kita yang merawat dan membesarkannya," kata Samuel.


"Aku khawatir, Pa. Sudah beberapa bulan ia tidak pulang. Ditelpon pun tidak diangkat. Aku takut terjadi apa-apa," jawab Ravza. Wajahnya terlihat cemas.


Peristiwa itu berawal ketika adiknya berkunjung ke rumah. Ia kelepasan bicara tentang ibu kandungnya. Ketika ditanya lebih lanjut, semua gelagapan dan terkesan ada yang ditutupi. Ravza pun belum berani bercerita  tentang masalah sebenarnya.


Ravza sebenarnya seorang muslim sebelum ia pindah dan berubah kewarganegaraan mengikuti suaminya. Begitu pun suaminya, walaupun bukan muslim sejati. Entah sejak kapan tepatnya, suaminya itu berubah keyakinan kembali ketika pindah ke tempat asalnya, dan memaksa Ravza  untuk mengikutinya. Desa Blimbingsari sendiri penduduknya hampir 90 %  beragama Protestan. Nenek moyang Samuel secara turun-temurun juga memeluk keyakinan ini. Inilah, yang membuat Ravza tidak mempunyai pilihan lain, sekalipun dalam hatinya berontak.


*****


"Alhamdulillahirabbil 'alamin." Hadirin mengucapkan kalimat itu serentak ketika David Borg selesai mengikrarkan kalimat syahadat. Mengenakan Koko lengan panjang, serta peci putih, semua serba putih. David sangat bahagia. Seolah ia baru terbebas dari beban yang begitu berat. Matanya berkaca-kaca. Dua butir air mata bergulir, membasahi pipinya.


"Hadirin semuanya yang hadir di tempat ini, mulai saat ini saudara kita ini atas keinginannya sendiri mengganti namanya menjadi Yusuf. Yusuf Borg. Borg adalah nama turun-temurun di keluarganya. Ia menggunakan nama itu, sebagai bentuk kecintaan kepada leluhurnya," ucap Imam Anwar Ibrahim yang tadi membimbing David masuk Islam.


Imam Anwar menjabat tangan Yusuf. Imam Anwar mengucapkan selamat kepada Yusuf Borg. Lalu mereka berdiri. Hadirin yang hadir, satu persatu mengucapkan selamat kepada Yusuf.


"Semoga Allah melindungi Anda selalu, saudaraku." "Anda menjadi manusia baru yang terbebas dari segala dosa." "Jangan sungkan menghubungi kami jika Anda memerlukan bantuan." Itulah ucapan-ucapan dari saudara seiman yang menyalaminya. Semua yang hadir di Masjid Istiqomah larut dalam keharuan.


Inilah titik balik Yusuf, setelah sebelumnya ia mengalami perjalanan yang sangat berat. Kegalauan tentang tiga pertanyaan besar yang ada dalam dirinya terpecahkan. Selama 20 tahun dia gelisah. Walaupun keluarganya beragama Protestan, tetapi ia tidak pernah dipahamkan. Yusuf lebih menyerupai seorang atheis. Sejak kepergiaannya enam bulan yang lalu, ia hidup tak punya arah. Depresi, mabok, keluyuran. Bahkan ketika bekalnya habis, ia terpaksa menjadi kuli panggul di pasar. Terkadang juga menjadi buruh cuci piring untuk bisa makan satu piring sebagai pengganjal perut.


Sampai akhirnya ia bertemu dengan Imam Anwar di depan masjid. Entahlah, ia sering berlama-lama memandang masjid dari jarak yang agak jauh. Entahlah, hatinya serasa tenang ketika berada di dekatnya. Imam Anwar lah yang merangkulnya, menanyai, bahkan memberinya makanan, tanpa memperhatikan agama yang dipeluknya.


Yusuf teringat seseorang yang selama ini menginspirasinya. Sosoknya secara tidak langsung telah mengantarkan ia untuk bersyahadat. Mungkin dirinya tidak akan menjadi Yusuf Borg, bila tidak pernah bertemu dengan Umar. Setidaknya, keislamannya tidak akan secepat itu.


Tetapi, sampai hari ini, Yusuf belum bisa menghubunginya. "Ah, mungkin ia sibuk," pikirnya.


[Nak, pulanglah! Ada sesuatu yang ingin Mama sampaikan terkait keingintahuanmu selama ini. Mama tunggu. Peluk cium. Mamamu]


Yusuf melihat ponselnya. Ternyata dari Mamanya.


Yusuf berjanji, ia akan pulang menemui mamanya, dan memberi tahu tentang keIslamannya, apapun yang akan terjadi ia akan menerimanya. Bagaimanapun mereka adalah orang tua yang telah membesarkannya dan menyayanginya.


Esok hari, lembaran baru bagi Yusuf sebagai seorang muslim. Hatinya merasakan kedamaian yang luar biasa. Hari ini, ia akan pulang. Setelah pamitan kepada Imam Anwar dan menceritakan semuanya, ia berangkat menggunakan kereta malam menuju Gubeng dan meneruskan ke stasiun Banyuwangi. 


Pukul 22.00, Yusuf tiba di pelabuhan penyeberangan Gilimanuk. Untuk sampai ke rumahnya, ia harus menempuh jarak sekitar 15 km lagi. Ia melakukan salat Isya dulu sebelum melanjutkan perjalanan. Walaupun bacaan salatnya masih terbata-bata, semangat Yusuf untuk belajar patut diacungkan jempol.


"Assalamualaikum."


"Siapa, ya?" Orang yang berada di dalam rumah balik bertanya. Ravza terkejut melihat siapa yang datang.


"David, kamu kah itu?"


Seorang laki-laki dengan baju koko putih dan peci warna senada menganggukkan kepala. Laki-laki yang dipanggil David menyalami Ravza.


"Kamu, ada apa? Tiba-tiba bersikap seperti ini? Kamu ke mana aja selama ini?" Tanyanya dengan bertubi-tubi. Ravza memeluk erat David, seakan tidak mau melepaskan lagi.


"Nanti aku ceritakan, Ma. Apa yang sesungguhnya terjadi."


"Ya, sudah, istirahat dulu, kamu pasti lelah," sahut Ravza.


Di kamar tidurnya, Yusuf merebahkan diri. Ia berusaha untuk mengistirahatkan badan dan pikirannya. Hampir sehari semalam dalam perjalanan. Cuaca yang sangat panas sungguh telah membuatnya tak berdaya. Nyanyian jangkrik di luar bagai musik pengantar tidurnya.


"Nak, bangun sudah subuh!" Teriakan dari luar kamar mengejutkan Yusuf.


"Innaa lillahi, aku belum salat Subuh," gumamnya.


Yusuf cepat-cepat mengambil air wudhu dan melakukan salat dua rakaat. Ia, teringat pesan Imam Anwar agar senantiasa melafazkan doa ini sehabis salat, walaupun dengan terbata-bata.


La Ilaha Illa Anta subhanaka ini kuntu minadzolimin


Setelah salat, Yusuf menghampiri orang tuanya yang sedang berada di ruang makan, sambil menyantap sarapan pagi. Setelah menyalami papanya, ia pun duduk di sebelahnya.


"Ke mana aja, Boy? Kamu bikin Mamamu cemas," kata Samuel.


"Anak laki-laki kan harus mencari jati diri. Mencari jawaban atas segala kegundahanku selama ini, Pa. Di rumah aku tidak pernah mendapatkannya," jawab Yusuf tenang.


"Ooooohh." Hanya kata itu yang keluar dari mulut Samuel. Ia semakin sadar, anaknya kini bukan anak ingusan lagi.


"Ma, Pa, apa sesungguhnya yang ingin dibicarakan?"


"Nak, mungkin inilah saatnya kamu mengetahui yang sesungguhnya."


"Ada apa sebenarnya, Ma?" Tanya Yusuf semakin penasaran.


"Mama, dulu mempunyai sepupu namanya Ahmed Reyhan. Bapaknya adalah pengusaha minyak di Turki. Tapi sayang, karena dibesarkan dalam bergelimang harta, Reyhan tumbuh menjadi anak yang angkuh. Berkelakuan buruk, sering mabuk-mabukan dan main perempuan. Suatu saat, ia menyukai seorang gadis anak pegawai bapaknya. Tetapi, cintanya bertepuk sebelah tangan. Rupanya nasib baik masih berpihak kepadanya. Bapak gadis tadi terlilit utang kepada bapaknya. Kesempatan ini dipakai oleh Reyhan untuk bernegosiasi, yaitu utangnya lunas asal ia bisa menikah dengan gadis pujaannya. Singkat cerita, pernikahan pun terjadi tanpa cinta. Malang bagi si gadis, Reyhan meninggal karena over dosis obat. Padahal, pernikahannya baru seumur jagung. Terlebih lagi, di dalam rahim gadis itu ada bakal calon manusia.


Ravza berhenti sebentar, sambil menghela nafas panjang. Dengan perasaan campur aduk, ia melanjutkan ceritanya dengan deraian air mata. Sementara, Samuel hanya menjadi pendengar yang baik, dan perasaan was-was menghinggapinya.


"Jangan bilang bahwa janin itu aku, Ma?"


"Iya, Nak, kamu. Kami merahasiakannya sampai detik ini, khawatir setelah tahu yang sebenarnya kamu akan meninggalkan kami."


"Tapi, kenapa Mamaku sendiri membuangku?"


"Bukan membuang, Nak. Situasinya waktu itu sangat genting. Mama kamu yang masih belia, cara berpikirnya masih labil, ditambah lagi tidak lama kemudian orang tuanya meninggal. Jadi Mamamu menitipkan kamu kepada kami, karena kebetulan kami belum mempunyai anak."


Yusuf bersikap sangat tenang. Tidak ada air mata yang mengalir di pipinya. Tak ada luapan emosi.


"Apakah Mamaku muslim?"


"Iya, Nak."


"Ma, Pa, setelah mendengar riwayat hidupku, rasa hati semakin yakin akan sikap yang kuambil baru-baru ini."


"Apa maksudmu?" tanya Ravza. Ia menduga bahwa Yusuf (David) akan membencinya dan meninggalkannya.


"Ma, dengan kesadaran sendiri dan hasil pencarian yang selama ini dilakukan, aku sudah menemukan jawaban yang pasti tentang kegundahanku selama ini. Aku sekarang sudah menjadi muslim."


"Apa? Kamu?" Mata Ravza terbelalak.


"Iya, Ma. Aku sudah bersyahadat."


Ravza dan Samuel terdiam. Mereka tidak bisa memaksakan kehendaknya. Karena, mereka memahami, setiap orang bebas memeluk agama yang diyakininya, begitulah pemahaman sekuler yang diajarkan secara turun-temurun dari orang tuanya.


"Apakah kamu akan meninggalkan dan membenci kami, Nak?"


"Ma, Pa, bagaimanapun kalian adalah orang tua yang telah merawatku. Kita masih bisa bertemu dan berkabar. Dalam Islam, dari buku-buku yang ku baca, walaupun kita berbeda akidah, tapi ada ikatan nasab, kita tetap bisa menjalin hubungan. Tapi mungkin, aku tidak akan tinggal di sini lagi. Aku ingin mencoba hidup mandiri."


"Papa menghargai pendapat dan keputusanmu, Nak," kata Samuel.


"Oh, iya. Satu lagi yang belum kau ketahui. Keluargamu meninggalkan warisan untukmu, yaitu beberapa perusahaan dan sebuah hotel Grand Belish, Kusadasi di Turki," kata Ravza. [GSM]

Bersambung

Menggantung Asa di Langit Istanbul (Bagian 9)

Menggantung Asa di Langit Istanbul (Bagian 9)

 


Perasaan itu terkadang masih ada di dalam hatinya

Nasionalisme sudah mengakar dalam diri setiap muslim termasuk dirinya. Setiap ketemu dengan orang Indonesia lagi, rasanya senang karena merasa satu bangsa yang sama

______________________________


Penulis Rumaisha

Kontributor Media Kuntum Cahaya 


KUNTUMCAHAYA.com, CERBUNG - Serombongan turis memasuki Silk Market. Mereka melihat-lihat pajangan aksesoris yang terpajang. Kebanyakan yang dibeli oleh mereka adalah pernak-pernik yang ada evil eye-nya, baik berupa gantungan kunci atau gantungan tas. Mereka membelinya sebagai oleh-oleh untuk kerabatnya.


Bukan sekadar oleh-oleh khas Turki, liontin biru ini menurut kepercayaan Turki memiliki makna khusus yang diyakini sebagai jimat pelindung. Liontin ini dipercayai dapat melindungi penggunanya dari energi-energi negatif dan kekuatan jahat.


Padahal, Diyanet, otoritas urusan agama pemerintah Turki telah menerbitkan pendapat agama yang mengatakan bahwa jimat berbentuk mata setan (evil eye) yang terkenal dalam tradisional Turki, bertentangan dengan Islam.


"Apakah, Anda dari Indonesia?" tanya Fatimah kepada seorang Ibu yang sedang asyik memilih.


"Iya. Kamu bisa berbahasa Indonesia?"


"Saya dari Indonesia juga, Bu. Saya sedang menuntut ilmu di sini. Ketika sedang tidak kuliah, saya bekerja paruh waktu. Senang bisa bertemu denganmu," tukas Fatimah.


Perasaan itu terkadang masih ada di dalam hatinya. Nasionalisme sudah mengakar dalam diri setiap muslim termasuk dirinya. Setiap ketemu dengan orang Indonesia lagi, rasanya senang karena merasa satu bangsa yang sama.


Tetapi, ketika kita pergi ke negara lain, kita merasa asing bertemu dengan mereka, padahal mereka sama-sama berakidah Islam. Paham nasionalisme inilah yang telah mencerai-beraikan umat yang dulunya hidup di bawah naungan yang sama, Daulah Khilafah Islam.


"Ya Allah, maafkan hambamu," gumam Fatimah sambil melirik kepada Ayla, saudara satu akidah walaupun berbeda negara.


"Coba tanya lagi, apakah dia dari Bali?" bisik Ayla.


"Bali itu luas, Ayla. Belum tentu mereka tahu alamat saudaramu. Kamu sendiri kan belum tahu alamatnya dengan jelas."


Ayla terdiam. Ada kesedihan terlihat di matanya, padahal sebelumnya ada rona bahagia ketika disebut nama Indonesia.


"Tenang saja, nanti aku bantu."


"Kamu masih ingat, mungkin masih ada saudara dari anakmu itu?" tanya Fatimah.


"Oh, iya. Kenapa aku enggak kepikiran ke sana. Tapi, kami sudah lama putus silaturahmi."


"Berdoa saja, yakinlah ketika Allah sudah berkehendak, maka tidak ada satu pun manusia yang bisa menghalanginya," Fatimah memberi harapan.


Sejak saat itu, tidak ada yang dilakukan oleh Ayla kecuali menanamkan keyakinan dan ikhtiar. Iya mulai mendata kembali dalam memorinya satu persatu saudara dari suami pertamanya, yang paling dia ingat adalah sosok yang telah mengadopsi anaknya.


Lagi asyik-asyiknya merenung, tiba-tiba ada seseorang yang menyapanya, 


"Hai, kamu Ayla, kan? Apa kabar?" Laki-laki dengan badan tinggi dan tegap menyapanya dengan bahasa Turki yang kental.


"Eh, ii ... iya. Siapa ya, aku lupa."


"Aku Deniz, masa kamu lupa. Aku adiknya Ravza, masih ingat?"


"Masyaallah, senang banget ketemu sama kamu," kata Ayla.


"Gimana kabarmu?" tanya Deniz.


"Alhamdulillah, beginilah aku harus bekerja untuk tetap bertahan hidup."


"Sebetulnya, aku ingin ngobrol sama kamu panjang lebar, tapi ditunggu sama rombongan tuh. Aku jadi guide sekarang. Ini kartu namaku, nanti kita ngobrol lebih banyak lagi. Eh, tapi malam ini dan besok aku masih di Bursa, kalau ada waktu chat aja, nanti kita janjian," kata Deniz, sambil lari keluar. 


"Siapa dia, aku kurang mengerti tentang apa yang kalian bicarakan," tanya Fatimah.


Ayla menceritakan obrolannya dengan laki-laki tadi. Walaupun sudah lama tidak bertemu, tapi Deniz masih mengenali dirinya. Mungkin karena usianya tidak jauh berbeda ketika ia menikah.


"Terus kamu mau janjian, kapan, berdua saja?" tanya Fatimah.


"Iya, aku ingin cepat mengetahui kabar tentang anakku."


"Tapi kan kamu sendiri, berdua sama dia. Dalam Islam khalwat itu dilarang," kata Fatimah.


"Apa itu khalwat? Aku baru mendengarnya."


"Khalwat itu, ketika seorang laki-laki berduaan dengan seorang perempuan tanpa ada mahram bersamanya," papar Fatimah.


"Sebegitu ketatkah aturan dalam Islam? Rasanya segala enggak boleh. Aku sendiri dari dulu muslim, tapi baru kali ini mendengar istilah itu."


"Wajar, Ukhti. Ketika lahir kita sudah berada dalam sistem sekuler. Turki atau di Indonesia sendiri sebagai mayoritas muslim tapi sama saja sekuler. Terlebih Turki, Kemal Attaturk telah merubah wajah Turki menjadi negeri yang bebas, padahal dulu di sini pernah berdiri sebuah pemerintahan Islam yang mengatur seluruh urusan kaum muslimin sedunia," papar Fatimah panjang lebar.


"Ya ya, aku pernah dengar sekilas tentang hal itu. Terus gimana, sedangkan aku tidak punya siapa-siapa yang bisa menemani."


"Gini aja. Nanti aku sama suamiku akan menemani, tapi tidak sekarang. Kamu tanyain aja, kapan dia ada waktu lagi," kata Fatimah.


"Oh, Ok. Syukron Ukhti."


Ayla pulang lebih dulu, sementara Fatimah masih menunggu suaminya untuk menjemput.


"Assalamualaikum." Ayla langsung masuk ke dalam rumah seperti biasa. Ia mendapati ibunya tidak ada di ruang tamu.


"Anne ... Anne di mana?"


Sepi mencekam. Tidak ada sahutan. Ayla makin cemas, ia langsung ke kamar ibunya.


"Innaa lillahi ... Anne kenapa?" Ayla mengguncang tubuh ibunya yang tersungkur di lantai.


"Enggak apa-apa, Anne tadi agak pusing, mungkin karena efek darah rendah aja."


"Ya, sudah, nanti aku buatkan tea sultan hangat setelah itu istirahat biar badannya bugar kembali," kata Ayla sambil membaringkan ibunya.


Konon, tea sultan ini adalah minuman yang biasa dikonsumsi oleh para sultan di masa kekhilafahan Utsmani. Rasanya seperti rempah-rempah dan hangat di tenggorokan.


"Makasih, ya, Nak, kamu sungguh baik. Apa jadinya Anne kalau tidak ada kamu. Anak satu-satunya sudah meninggalkan Anne untuk selamanya." 


"Enggak apa-apa, Anne. Aku juga kan sama anakmu juga. Aku bersyukur masih punya seorang ibu," ucap Ayla sambil memeluk ibunya. Kedua matanya berkaca-kaca, mereka merasakan hal yang sama.


Setelah ibunya terlelap, Ayla baru masuk ke kamarnya.


Usai mengambil air wudu, Ayla melaksanakan salat Isya. Dalam sujud panjangnya, ia berdoa atas apa yang dialaminya tadi siang. Gambaran tentang keberadaan anaknya mulai menampakkan titik terang. "Ya, Rabb, Engkaulah tempat hamba memohon. Pertemukan dengan anak hamba atas izin-Mu, Wahai Zat yang Maha berkuasa."


Ayla membuka mushafnya. Sudah lama sekali ia tidak pernah membuka surat cinta ini. Surat cinta dari seorang Pencipta kepada makhluknya yang berisi tentang aturan-Nya agar hambanya selamat di dunia dan surga balasan di akhirat kelak.


Bersyukur sekali bisa bertemu dengan Fatimah, yang selalu mengingatkan dan memberinya ilmu tentang Islam sebagai aturan dan solusi bagi seluruh problem kehidupan.


Ayla mengambil gadgetnya dari tas. Ia lupa untuk menanyakan sesuatu.


[Assalamualaikum. Deniz, bisakah besok malam kita ketemu di Green Mosque, sesudah salat Magrib?"]


Lama menunggu balasan, sampai ia tertidur di atas sajadah menjelang fajar. Ia mengecek ponselnya.


[Ok, aku datang]


Ayla menyampaikan kabar baik itu kepada Fatimah. Ia langsung mendapatkan jawabannya.


[Ok, suamiku siap menemani, setelah aku menceritakan masalahmu]


Waktu yang dinanti pun akhirnya tiba. Setelah mereka melakukan salat Magrib berjamaah, Ayla mencari sosok yang dinantinya, tetapi belum juga kelihatan batang hidungnya.


"Tenang saja, mungkin ia ada keperluan dulu," ucap Fatimah, ia tahu kegelisahannya yang dirasakan temannya itu.


"Maaf, agak telat." Seseorang muncul tiba-tiba di hadapannya.


"Aduh, aku khawatir sekali kamu tidak datang."


Setelah menanyakan kabar seperlunya, Ayla langsung menanyakan kabar tentang anaknya yang diadopsi oleh kakak Deniz. 


"Setahu aku tidak lama setelah itu, kira-kira anakmu berumur enam bulan mereka pindah ke Indonesia mengikuti suaminya. Aku sendiri hanya berkabar lewat medsos. Terakhir aku dengar Ravza dan anakmu pindah agama, mengikuti suaminya, pemeluk Nasrani."


"Innaa lillahi, kok bisa seperti itu," jerit Ayla. Dadanya berdegup kencang, badannya menggigil. Walaupun ia bukan pemeluk Islam yang baik, tapi ia paham apa itu murtad dan dosanya. 


Fatimah berusaha untuk menenangkannya.


"Ya, itu hal lumrah, Ayla, itulah yang disebut kebebasan beragama," sahut Deniz dengan tenang.


"Tapi, tidak bagi kami. Menurut pemahaman kami, hanya Islam yang diridai oleh Allah. Dosa besar ketika seseorang pindah keyakinan," kata Rahman, suami Fatimah.


"Oh, saya juga Islam, tapi bukan Islam yang kaku," balas Deniz.


Semua diam. Tidak tepat waktunya kalau dibahas sekarang. Orang yang sudah terlanjur sekuler, harus ngobrol dari akidah dulu. Wajar, Deniz adalah bagian dari masyarakat Turki yang sudah sekuler sejak lahir.


Setelah memberikan info secukupnya dan menjawab semua pertanyaan Ayla, Deniz pamit duluan. 


Tinggallah Ayla dengan sebuah penyesalan setinggi gunung Uhud. 


Rahman menasihatinya dengan kata-kata yang bijak. "Ayla kalau inget tentang sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, di dalamnya disebutkan, 'bahwa seorang anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, orang tuanya yang menjadikan anak itu Yahudi, Nasrani, atau Majusi.' Kalau kita lihat faktanya sekarang, itu terjadi pada anakmu, karena anakmu telah dididik oleh orang tuanya yang Nasrani. Tetapi, jangan putus harapan, selama kita berpegang teguh kepada Allah dan berdoa disertai ikhtiar, semoga saja kalian bisa bertemu kembali dalam ketaatan di bawah cahaya Islam." [SJ


-Bersambung-

Menggantung Asa di Langit Istanbul (Bagian 8)

Menggantung Asa di Langit Istanbul (Bagian 8)

 


Selama bercerita, Ayla tidak kuasa menahan tangisnya. Hampir 22 tahun, rahasia ini dia pendam. Tidak ada yang tahu bahwa ia punya seorang anak, bahkan suami keduanya juga tidak mengetahui. Abraham hanya mengetahui, ia seorang janda

Dari perkawinan keduanya, Ayla tidak dikaruniai keturunan. Abraham dan ibunya yang telah mengangkatnya dari keterpurukan hidupnya. Tetapi, Allah masih terus mengujinya dengan mengambil kembali Abraham. Allah Swt. lebih sayang kepadanya

_________________________


Penulis Rumaisha

Kontributor Media Kuntum Cahaya 


KUNTUMCAHAYA.com, CERBUNG - Walaupun warga Turki sekuler, namun dari obrolan yang turun-temurun yang ia dengar, mereka sangat membanggakan peninggalan-peninggalan Islam yang sampai saat ini bangunannya masih berdiri kokoh. Masyarakat juga mengetahui bahwa dulu di Istanbul berdiri sebuah rumah besar bagi kaum muslimin seluruh dunia yaitu Khilafah Islamiyah. Di sinilah, kekhilafahan Utsmani terakhir berkuasa. Sebuah peradaban tinggi yang telah menyatukan bangsa kulit hitam, merah, dan putih dengan sebuah ikatan akidah yang kokoh. Peradaban ini  pernah berjaya selama 13 abad dan wilayahnya meliputi 2/3 dunia. 


Peninggalan itu salah satunya ada di Bursa. Tidak jauh dari tempatnya bekerja, berdiri sebuah masjid yang super megah. Masjid ini terkenal dengan nama Green Mosque atau YesilCamii (masjid hijau). Konon, masjid ini dibangun sekitar abad ke-15 oleh Khalifah Mehmet I, salah seorang khalifah di masa kekhilafahan Utsmani. Masjid ini dijadikan sebagai pusat pemerintahan, sebagai tempat khalifah menerima tamu-tamu negara, mempersiapkan perang, kajian ilmu, tempat rapat juga untuk peradilan. Bukan hanya itu, khalifah juga menyediakan tempat khusus untuk makan bagi para duafa yang tidak bisa makan, khalifah menjamunya dengan gratis. Begitulah, dulu masjid bukan hanya dipakai untuk salat, tetapi juga aktivitas kenegaraan.


Masih di sekitar area masjid, ada juga bangunan berupa makam. Di situlah Khalifah Celebi Mehmet I dan keluarganya dimakamkan. Makamnya dihiasi dengan dominasi warna hijau dan keramik-keramik yang cantik. 


"Ayla, ayo kita salat. Salat di awal waktu dan berjamaah itu lebih baik, pahalanya 27 derajat," kata Fatimah.


Fatimah adalah teman kerja Ayla. Ia dan suaminya berasal dari Indonesia dan sedang menuntut ilmu di Turki. Ia kerja paruh waktu untuk membiayai kuliahnya. Banyak mahasiswa Indonesia yang bekerja di toko-toko souvenir, menjadi pelayan karena para pemilik toko tahu, banyak wisatawan Indonesia yang berkunjung ke Turki. Turki menjadi salah satu tujuan favorit yang disukai. Banyak destinasi yang ditawarkan yang menjadi kebanggaan negeri ini. 


Ayla untuk sementara terdiam. Ia tidak terlalu mengerti apa yang diucapkan Fatimah. 


"Can you speak English?" kata Ayla. 


"Oh, okay." 


Perbincangan pun lalu menggunakan bahasa Inggris. 


Ayla mengambil tas yang berisi peralatan salatnya. Barang ini menjadi istimewa akhir-akhir ini yang senantiasa ia bawa. Maklum, ia belum menutup aurat dengan sempurna.


Berbeda dengan Fatimah. Ia seorang muslimah yang nyaris sempurna di mata Ayla. Salehah, cantik, pintar, dan ramah. Fatimahlah yang selama ini membimbingnya menuju jalan Penciptanya, setelah sekian lama ia tinggalkan. Alhamdulillah, Ayla bisa melaksanakan salat di masjid yang menjadi kebanggaan umat Islam ini. Setelah melakukan salat berjamaah, mereka pun berbincang menghabiskan waktu istirahat.


"Ukhti, kalau ada waktu, aku mau ngobrol denganmu, boleh?"


"Boleh, kapan? Sore ini sepulang kerja, kebetulan ana tidak ada jadwal."


"Ya, boleh," sahut Ayla.


Akhir-akhir ini, Ayla merasakan gundah gulana. Ada kesadaran yang menyeruak dari dalam hatinya, walaupun kesadaran itu datang terlambat. Ayla menyesal, kenapa baru sekarang ia ingat kepada Allah, setelah semuanya terjadi. Tetapi, ia yakin setiap rangkaian cerita pasti ada penyesalan, semoga ia bisa mengambil makna dari arti sebuah kehidupan.


"Gimana, kalau ngobrolnya di rumahku saja, kebetulan suamiku pulang agak larut, karena ada keperluan," ajak Fatimah.


"Boleh, dengan senang hati."


Setelah waktu kerja selesai, mereka pun siap-siap. Dengan berjalan kaki menghabiskan waktu tempuh sekitar 15 menit, akhirnya mereka sampai di tempat yang dituju. Fatimah langsung mempersilahkan Ayla masuk.


"Mau cerita apa, Ayla?"


"Ini sebenarnya aib besar bagiku, Ukhti. Tapi aku ingin berbagi dan minta pendapatmu bagaimana baiknya. Dulu, umurnya masih sangat belia, ketika orang tuaku memaksaku untuk menikah dengan seseorang yang tidak kukenal sebelumnya. Laki-laki itu anak kawan lama ayah. Ayah terbelit hutang, dan aku yang ditumbalkan. Pernikahan pun dilangsungkan diiringi deraian air mata. Singkat cerita, pernikahan itu tidak berjalan lancar dan hanya bertahan satu tahun, sampai suatu hari, suamiku meninggal karena over dosis obat."


"Masyaallah, betapa tragisnya kisahmu."


"Iya, Ukhti. Satu tahun setelah kematian suami yang tidak kucintai, orang tuaku menyusul karena kecelakaan mobil. Bumi seakan berhenti berputar waktu itu. Tragisnya lagi, di dalam rahimku ada benih yang tidak diinginkan. Sampai kemudian bayi itu lahir, aku sangat membencinya dan memberikannya kepada keluarga suami, untuk diadopsi. Aku sangat menyesalinya, dan aku sendiri tidak tahu, anakku di mana sekarang dan seperti apa dia."


Selama bercerita, Ayla tidak kuasa menahan tangisnya. Hampir 22 tahun, rahasia ini dia pendam. Tidak ada yang tahu bahwa ia punya seorang anak, bahkan suami keduanya juga tidak mengetahui. Abraham hanya mengetahui, ia seorang janda. Dari perkawinan keduanya, Ayla tidak dikaruniai keturunan. Abraham dan ibunya yang telah mengangkatnya dari keterpurukan hidupnya. Tetapi, Allah masih terus mengujinya dengan mengambil kembali Abraham. Allah Swt. lebih sayang kepadanya. 


"Aku selalu dihantui mimpi buruk ukhti. Malam tidak bisa tidur nyenyak. Tapi aku berjanji akan menelusuri keberadaannya."


"Iya, saudaraku, berdoalah kepada Allah. Semoga kalian dipertemukan kembali," kata Fatimah menenangkan saudaranya.


"Apakah, Engkau menyimpan alamat terakhir saudaramu yg membawa anakmu"


"Terakhir saya tahu, mereka berada di Indonesia mengikuti tempat tinggal istrinya."


Setelah mereka ngobrol panjang lebar, Ayla pun pamit. Di luar salju masih turun walaupun mulai berkurang. Ayla merasakan beban di hatinya menjadi ringan. Ia berjanji akan mencari anaknya.


Sesampainya di rumah, hari sudah agak larut. Setelah menengok ibunya yang sudah terlelap dalam buaian malam, Ayla masuk ke kamarnya. Ayla mengambil air wudhu, selesai salat Isya dan berzikir, ia berdoa atas segala kekhilafannya selama ini. Ia berdoa agak dipertemukan kembali dengan anaknya. Ia teringat syair Abu Nawas yang pernah dibacanya.


Ya Tuhanku, hamba tidak pantas menjadi penghuni surga


Namun hamba juga tidak kuat menahan panas api neraka


Maka berilah aku taubat (ampunan) dan ampunilah dosaku


Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun dosa yang besar


Dosaku bagaikan pasir dilautan


Maka berilah aku taubat wahai Tuhanku yang memiliki keagungan


Umurku ini setiap hari berkurang


Sedang dosaku selalu bertambah, bagaimana aku menanggungnya


Wahai, Tuhanku hamba-Mu yang telah berbuat dosa telah datang kepada-Mu


Dengan mengakui segala dan telah memohon kepada-Mu


Maka jika Engkau mengampuni, maka Engkaulah yang berhak mengampuni


Jika Engkau menolak, kepada siapakah lagi aku mengharap selain kepada Engkau? [GSM]


- Bersambung -

Menggantung Asa di Langit Istanbul (Bagian 7)

Menggantung Asa di Langit Istanbul (Bagian 7)

Ayla dan suaminya bukanlah pemeluk Islam yang taat. Ia sama seperti penduduk Turki kebanyakan, sekuler. Sebutan yang identik dengan Turki sekarang

Kemal Attaturk telah mengubah Turki menjadi sekuler setelah sebelumnya berhasil menghapuskan kekhilafahan Utsmani di Istanbul. Itu yang ia dengar dari orang tuanya dulu

_____________________________________


Penulis Rumaisha

Kontributor Media Kuntum Cahaya 



KUNTUMCAHAYA.com, CERBUNG - Umur manusia adalah musim tanam di dunia untuk memetik hasilnya kelak di akhirat nanti. Irma masih tidak percaya umur suaminya begitu singkat. Tapi ia yakin, selama ini Ahmad adalah orang yang saleh. Semoga semua amal kebaikannya diterima di sisi Allah Swt..


Kalaulah tidak ingat kepada qada, rasanya ia ingin menyusul Ahmad, pergi bersama-sama menuju Rabb Pencipta semesta alam. Meninggalkan segala beban yang menghimpit dada. Entah bagaimana hidupnya nanti tanpa pendamping, sementara di depan ada batu besar yang menghadang. Apakah ia sanggup, kalau suatu saat nanti handai taulan dan tetangganya menanyakan perihal anak sulungnya.


"Ibu, ada Hamzah dan ibunya," panggil Umar di depan pintu kamar yang terbuka sedikit.


Irma merapikan pakaian sebelum menemui para tamunya. Sebelumnya ia berpesan kepada Umar, agar Nurul tidak keluar kamar sampai para tamu pulang.


Umar hanya menganggukkan kepala. Ia tahu perasaan ibunya. Tapi sampai kapan harus bersikap seperti ini. Nasi sudah menjadi bubur.


"Ibu, turut berduka cita ya. Semoga almarhum husnul khatimah. Maaf, baru ke sini," kata Aisyah ibunya Hamzah.


"Enggak apa-apa, Bu. Maafkan, Abah, ya Hamzah, kamu suka digoda sama almarhum."


"Iya, Bu. Saya bersaksi bahwa beliau orang baik, orang saleh. Alhamdulillah, Abah punya anak yang saleh, pejuang syariah dan khilafah," sahut Hamzah sambil melirik kepada sahabat kecilnya.


Irma hanya terdiam. Dalam hatinya ia menyesal telah memperlakukan Umar dengan tidak baik.


"Oh, iya, Nurul kemana enggak kelihatan?" tanya Aisyah.


Sebelum menjawab pertanyaan Aisyah, tiba-tiba tamu jauh berdatangan. Irma sibuk menerima ucapan bela sungkawa didampingi Umar. Semuanya menanyakan penyebab kematian Ahmad. Walaupun semua memahami, semuanya sudah qada. Irma menjawab seperlunya.


Tamu terakhir yang datang adalah Ustaz Lutfi. Setelah menemui Irma, Ustaz Lutfi memisahkan diri bersama Umar dan Hamzah. Mereka menganggukkan kepala kepada para tamu yang datang dan pulang. Setelah itu, mereka asyik dengan obrolannya. 


Tiba-tiba, Nurul muncul dari dapur sambil menggendong seorang bayi perempuan. 


"Itu anakmu, Nduk?" Seorang ibu sepuh bertanya dengan tatapan heran. Ia tahu siapa Nurul. Nurul tidak pernah suka kepada anak kecil. 


Nurul tidak menjawab. Ia keburu mendapat isyarat dari ibunya dengan tatapan tidak suka. 


Para tamu yang hadir pun saling bertatapan. Ada juga yang berbisik-bisik dengan teman di kiri kanannya. Kesunyian pecah ketika Ustaz Lutfi berpamitan pulang. Umar pun mengantarkan sampai depan rumah. Satu per satu para tamu pun berpamitan pulang. 


Sepandai-pandainya menyimpan bangkai, baunya akan tercium juga. Itulah yang dialami Nurul. Ia tidak mungkin terus-menerus menutupi dosa yang telah diperbuatnya. Apalagi sekarang ada bidadari kecil yang tidak berdosa bersamanya. 


Malam semakin larut. Nurul tidak bisa tidur nyenyak. Sambil rebahan ia memandangi langit-langit kamarnya. Di sinilah, masa kanak-kanaknya yang penuh kasih sayang ia lalui. Suara jangkrik bersahutan di kebun pisang belakang rumahnya. Jiwa dan pikirannya benar-benar tidak bisa tenang. 


"Mar, boleh Teteh masuk?" Nurul mengetuk pintu kamar adiknya dengan pelan. 


"Iya, masuk aja." 


Nurul duduk di atas tempat tidur, berhadapan dengan Umar. 


"Dek, apa yang harus dilakukan untuk menebus dosa-dosaku selama ini? Benar kata Ibu, Abah meninggal gara-gara, Teteh. Apakah Allah akan mengampuni, Teteh, Mar?" Bulir-bulir bening yang mulai turun tak kuasa ia bendung. 


Sejenak, Umar menatap kakaknya dalam-dalam, seakan ingin menembus isi hatinya untuk mengetahui kesungguhan ucapannya. Setelah itu, ia berkata lirih. 


"Teh, sebesar apa pun dosa seorang hamba selama bukan syirik, pasti Allah akan mengampuninya. Asalkan hamba tadi benar-benar taubat." 


"Teteh, enggak bakalan sanggup menghadapi sanksi yang akan diberikan masyarakat, seandainya mereka tahu keadaan yang sebenarnya." 


Umar pun membesarkan hati kakaknya. Apa pun yang terjadi mereka akan hadapi bersama. Umar yakin ada hikmah dibalik musibah. 


"Tetapi, bagaimana dengan Ibu, Mar? Ibu, begitu marah. Sampai detik ini, tidak pernah menyapa teteh dan si kecil."


"Wajar Teh. Hati Ibu mana yang tidak hancur, anak yang sangat dicintainya telah melakukan kesalahan yang fatal, dosa besar." 


"Apa yang harus Teteh, lakukan?" 


"Temui Ibu, bersujudlah di kakinya. Mohon ampunlah kepada beliau." 


Dengan sisa-sisa air mata yang masih membasahi pipi, Nurul menghampiri kamar ibunya yang letaknya paling ujung. Nurul berhenti sejenak. Hatinya ragu. Apakah ibunya mau memaafkan dia atas segala yang telah dilakukan. Ia tahu, semenjak pulang ke rumah, ibunya tidak pernah berbicara dan selalu membuang muka. 


"Ibu ... maafkan Nurul, karena telah membuat menderita dan malu. Apa yang bisa Nurul lakukan untuk menebus dosa-dosa ini?" Nurul menubruk tubuh ibunya dan bersujud. 


"Angkat kaki dari rumah ini. Aku tidak mau melihat kamu lagi." 


***


Seorang wanita dengan jaket tebal dan sepatu bootnya baru saja memasuki rumah. Seperti hari kemarin, hari ini, adalah hari yang putih. Jalan putih, dedaunan putih, sepanjang mata memandang hanya ada pemandangan yang putih. Salju baru saja beberapa hari turun di Yenisehir, Kota Bursa, Istanbul. 


"Baru pulang, Ayla?" 


"Iya, Anne. Belum tidur?" 


"Nungguin kamu, Nak." 


Setelah mencium tangan ibunya, Ayla minta izin untuk masuk ke kamar. 


"Anne, istirahatlah."


Setelah suaminya meninggal lima tahun yang lalu, Ayla hanya hidup berdua dengan ibu mertuanya. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya, ia bekerja di sebuah silk market di Kota Bursa. Aneka macam oleh-oleh khas Istanbul dijual di sini, mulai dari keramik, pashmina, sutra, dan mata biru (evil eye). Harganya pun terjangkau mulai dari yang murah sampai jutaan rupiah. 


Ayla dan suaminya bukanlah pemeluk Islam yang taat. Ia sama seperti penduduk Turki kebanyakan, sekuler. Sebutan yang identik dengan Turki sekarang. Kemal Attaturk telah mengubah Turki menjadi sekuler setelah sebelumnya berhasil menghapuskan kekhilafahan Utsmani di Istanbul. Itu yang ia dengar dari orang tuanya dulu. 


Ayla tidak terlalu paham dengan apa yang terjadi di masa lalu, yang ia tahu semenjak lahir, Turki sudah seperti hari ini. Sampai-sampai, ia pun tidak memahami bahwa seorang muslimah wajib menutupi seluruh tubuhnya kecuali muka dan kedua telapak tangan. Orang tuanya pun (semoga Allah meridai mereka) tidak pernah mengajarkan bagaimana menjadi seorang muslimah sejati. [SJ] 


- Bersambung -

Menggantung Asa di Langit Istanbul

Menggantung Asa di Langit Istanbul

 


Setelah penolakannya untuk pindah agama, Rafael berubah sikap. Nurul diperlakukan layaknya pembantu

 Ia tidak pernah diberi uang untuk keperluannya, bahkan ia dilarang untuk keluar rumah, semuanya diatur. Tetapi, ia tetap tegar demi anaknya yang masih membutuhkan perhatian

_________________________


Penulis Rumaisha

Kontributor Media Kuntum Cahaya 


KUNTUMCAHAYA.com, CERBUNG - "Apa? Kita menikah di gereja? Bukankah kamu berjanji akan masuk Islam dan menikah sesuai agama Islam?" teriak Nurul.


"Santai aja. Setelah menikah di gereja, nanti aku pikirkan tawaranmu, yang penting kita menyelamatkan bayi yang ada dalam kandunganmu dulu. Agar kelak ketika lahir punya orang tua," jawab Rafael dengan tenang.


Tadinya Nurul ragu. Tetapi, ia tidak punya pilihan lagi selain mengikuti apa kata Rafael.


Dengan cepat, Rafael mempersiapkan segala sesuatunya, agar mereka segera menyatukan janji suci di gereja. Dengan dihadiri kerabat dari Rafael, pernikahan beda agama itu berlangsung tanpa restu kedua orang tua Nurul. Nurul benar-benar telah lupa akan jati dirinya sebagai seorang muslimah. Seorang muslimah haram hukumnya menikah dengan laki-laki kafir.


Setelah menikah, mereka tinggal di sebuah rumah kontrakan di Kota Jakarta. Malam pertama yang dinanti oleh pasangan yang baru menikah, tidak mereka nikmati, karena sudah dihabiskan di malam yang lain atas desakan syahwat yang bejat. Ranjang pengantin tak seindah yang diimpikan. Mereka menikah karena semata menyelamatkan benih yang sudah ada dalam kandungan Nurul.


Hari berganti hari. Bulan berganti bulan. Sudah hampir tujuh purnama Nurul lewati. Tanda-tanda Rafael untuk masuk Islam belum nampak. Sampai akhirnya, bayi mungil tanpa dosa itu pun terlahir ke dunia. Nurul berharap, semoga saja kelahiran buah hatinya akan mempercepat Rafael untuk mengucap syahadat.


Berbeda dengan Rafael. Menurutnya, kelahiran bayi mungilnya justru akan semakin mengikat Nurul untuk tetap bertahan di sisinya, sedangkan dia sendiri tidak ada niat untuk berpindah keyakinan.


Sampai suatu hari, dengan terus terang Rafael mengajak Nurul untuk pindah agama, mengikutinya.


"Tidak, aku tidak mau pindah agama. Kamu telah membohongiku, telah menipuku." Nurul memukul dada Rafael bertubi-tubi.


"Aku juga kalau kamu tidak hamil, ogah tahu. Masih muda sudah menikah, untung ada orang tuaku yang membiayai kebutuhan kita."


Setelah penolakannya untuk pindah agama, Rafael berubah sikap. Nurul diperlakukan layaknya pembantu. Ia tidak pernah diberi uang untuk keperluannya, bahkan ia dilarang untuk keluar rumah, semuanya diatur. Tetapi, ia tetap tegar demi anaknya yang masih membutuhkan perhatian.


Ketika Rafael tidak di rumah, Nurul rajin kembali belajar Islam. Ia juga kembali melakukan salat tanpa sepengetahuan suaminya. 


“Hai kamu, lagi apa? buang-buang waktu saja, cepat aku mau makan,” kata Rafael sambil menjambak mukena Nurul.


“Aku kan masih muslim, tidak bolehkah aku menjalankan agamaku sendiri?”


“Tidak boleh. Awas ya, sekali lagi aku lihat kamu salat, aku akan tendang kamu keluar.”


Nurul, hanya bisa meneteskan air mata. Kalaulah penyesalan itu bisa ia ganti dengan air mata darah, maka ia akan melakukannya dan bersujud di depan orang tuanya. 


“Ya Allah, kini aku datang menghadap kepada-Mu. Menyampaikan pengakuan dan penyesalan dengan hati yang hancur luluh. Kalaulah, masih ada kesempatan untuk bertobat, berilah hamba jalan keluar yang terbaik menurut-Mu. Aamiin.”


Dengan tergopoh-gopoh, Nurul membereskan mukenanya dan menyimpan di tempat rahasia. Ia tidak mau Rafael menemukannya. Setelah itu, Nurul menyiapkan makan seperti permintaan Rafael. 


Satu-satunya yang memberikan kekuatan agar ia terus bertahan adalah anaknya, Kania. Nurul berjanji akan menjaga anaknya itu dari pengaruh bapaknya dan keluarga besar Rafael. 


Apa yang menimpanya, enggak mungkin ia bercerita kepada keluarga. Abah, ibu, dan adik satu-satunya pasti membencinya. Cukuplah mereka menanggung malu akibat perbuatannya. 


“Besok, aku akan keluar kota selama dua hari. Awas kalau kamu macam-macam. Akan ada seseorang yang mengawasimu,” kata Rafael sambil membawa tas.


Nurul tidak menjawab. Ia sibuk mengurus si kecil yang baru saja mandi. Batinnya berkecamuk, apakah ini waktu yang tepat agar bisa terlepas dari neraka dunia? Tapi bagaimana caranya, Rafael telah menempatkan bodyguard di rumahnya.


Hari pertama tanpa Rafael, ia mencari cara agar bisa keluar dari sarang setan ini. Di luar sang bodyguard sedang berdiri sambil mengawasi keadaan rumah.


Dengan perasaan yang gemetar, Nurul menguatkan diri menjalankan strategi yang telah disusunnya. 


"Hai, kamu. Mom Monika sakit dan tidak ada orang di rumah. Tolong kamu antar ke dokter, kasihan dia," ujar Nurul. 


Monika adalah mertuanya yang selama ini membiayai segala kebutuhannya. 


"Tapi, Nyonya, saya disuruh jaga di sini. Saya tidak berani melanggar perintahnya." 


"Kamu takut saya kabur? yang benar saja, pagi buta bawa anak, mau kabur ke mana?" sentak Nurul. 


"Baik, Nyonya, kalau begitu. Saya pergi. 


Kesempatan ini dipakai Nurul untuk kabur dari rumah terkutuknya. Hanya tas baju anaknya dan pakaian yang menempel di badan, yang dibawa. Bak dikejar hantu, secepat kilat ia sudah duduk di atas angkutan kota menuju terminal bis. 


“Ya Allah, lindungi hamba dan selamatkan hamba untuk sampai di rumah Ibu dengan selamat,” pintanya dalam hati.


Hampir setahun Nurul meninggalkan rumah yang di dalamnya penuh cinta. Tidak banyak yang berubah. Hanya saja, siang itu terlihat banyak orang yang berdatangan. Di sudut pagar terlihat bendera kuning tertancap. Hatinya mulai berkecamuk. Ada apa? Siapa yang telah meninggal? 


Nurul menyibakkan kerumunan orang yang ada di depannya. Ia melihat Umar sedang menerima bela sungkawa dari para tamu. Matanya sembab. 


“Mar, ada apa ini?”


“Alhamdulillah, Teteh pulang. Abah ... Abah meninggal.” Umar tak kuasa menahan haru. Ia  memeluk Nurul dengan deraian air mata. Dengan sigap, ia mengambil anak yang berada dalam gendongan Nurul yang hampir jatuh.


“Abah, maafkan Nurul. Nurul telah berdosa,” teriaknya sambil menubruk jasad Abahnya.”


"Kamu masih berani datang, gara-gara kamu, Abahmu meninggal. Pergi kamu!" teriak Irma dari dapur.  


Umar menghampiri dan menenangkan ibunya. Semua orang yang hadir terlihat kaget dengan pemandangan yang ada di depannya. 


Nurul memeluk Ahmad yang sudah terbujur kaku, diciuminya wajah abahnya tak henti-hentinya. Penyesalan merasuki jiwanya, geletar duka yang mencabik-cabik sanubari. Air mata darah sekalipun tak akan mampu mengembalikan abahnya. Semoga saja kepulangannya ke rumah dengan tobat yang dilakukannya akan membuat abahnya tenang menuju keabadian. [GSM]

- Bersambung -

Menggantung Asa di Langit Istanbul

Menggantung Asa di Langit Istanbul

 


Diam-diam David mengikuti jalannya aksi sampai di tempat yang dituju. 

David tidak menyangka langkah kakinya yang tidak punya arah mengantarkannya ke tempat ini. Sementara, di seberang sana, peserta sudah berbaris di depan Gedung Sate

_________________________


Penulis Rumaisha

Kontributor Media Kuntum Cahaya 


KUNTUMCAHAYA.com, CERBUNG - Seorang laki-laki yang berperawakan kekar berkulit kuning, turun di stasiun bis tanpa membayar. Sopir bis itu mengeluarkan sumpah serapah kepada orang tersebut yang berlalu begitu saja. "Dasar Sinting!" kutuknya. Para penumpang lain yang turun berbarengan memandangnya dengan rasa iba. Ada juga yang memandang acuh tak acuh bahkan mencibir.


Lelaki itu berjalan gontai. Sekali-kali wajahnya menunduk. Matanya merah saga. Dari mulutnya menyeruak bau minuman keras. Ia merasakan tenggorokannya kering dan pahit sementara perutnya terasa perih menahan lapar.


Semua orang yang berpapasan dengannya memandang jijik dan memalingkan muka. Ia mengepalkan tangannya kepada seorang bapak tua yang memperhatikannya dengan senyuman sinis. Bapak tua itupun lari menghindar karena takut.


Sepasang mata diam-diam memperhatikannya sejak lama. Laki-laki itu memandang dan berdiri di sebuah warung tegal, ia tidak berani masuk ke dalam. Hampir dua hari tidak ada sebutir nasi pun masuk kerongkongan. Sisa air mineral sudah ia habiskan beberapa jam yang lalu. Sementara, uangnya tidak satu sen pun tersisa di kantong celananya.


"Bung, ini! makanlah"


Laki-laki itu mengambil bungkusan yang disodorkan kepadanya dengan cepat. Ia langsung melahap isinya tanpa memperhatikan sekelilingnya. Orang yang berlalu lalang di sekitar, memperhatikan dengan tatapan aneh.


Setelah menghabiskan isi bungkusan, laki-laki itu mencari sosok dewa penolongnya. Namun, ia tidak menemukan jejaknya.


Kini, ia merasa lebih kuat. Lalu, ia meninggalkan tempat itu. Melangkah, dan terus melangkah tanpa arah dan tujuan yang pasti. 


*****


Umar baru saja sampai di tempat penginapannya. Sudah dua hari, ia berada di kota kembang ini. Ia sedang mengikuti pelatihan yang ditugaskan dari sekolah tempatnya mengajar. Umar merebahkan badan di atas tempat tidurnya. Hari ini, cuaca begitu panas. Pemanasan global ternyata berefek juga kepada Kota Bandung yang dulu terkenal sejuk. 


Umar teringat kepada laki-laki asing yang ia belikan nasi bungkus. Umar meninggalkannya begitu saja, sampai ia lupa menanyakan nama dan nomor ponselnya. 


"Siapakah?" Umar yakin, laki-laki itu sedang terbius dengan minuman keras atau obat-obatan sampai ia seperti itu. Tidak heran, di sistem yang menganut kapitalisme sekuler seperti saat ini, narkoba tidak dianggap sebagai sebuah kejahatan. Padahal, dalam Islam jelas-jelas narkoba atau zat lainnya yang memabukkan haram hukumnya.


Umar spontan menolong laki-laki tadi tanpa mempedulikan statusnya, siapa dan apa agamanya. Pelajaran ini yang pernah ia dapatkan di kelompoknya. Inilah yang disebut nilai insaniyah. Di mana seseorang secara refleks akan menolong orang lain tanpa melihat statusnya, tergerak secara langsung untuk membantu. 


"Harusnya aku lebih bersyukur kalau dibandingkan dengan dia. Dikelilingi oleh orang-orang yang mencintai karena Allah. Ada di sebuah kelompok dakwah yang di dalamnya senantiasa melakukan amar makruf nahi mungkar. Tidak terbayangkan olehku, apa jadinya kalau ada di luar jamaah. Keras dan menakutkan. Ya, Rabb ... maafkan hamba yang berniat futur dari jalan dakwah ini," gumamnya. Hati kecilnya terus berkata-kata.


Umar mendapat kabar dari Ustaz Lutfi, bahwa besok akan ada aksi damai menolak kenaikan BBM yang sering kali terjadi. Karena Umar lagi berada di Bandung, Ustaz Lutfi memberikan amanah untuk menjadi salah satu orator, perwakilan dari kaum muda.


Peserta aksi berkumpul di Pusdai, pada pukul tujuh dan mulai bergerak dengan berjalan tertib menuju Gedung Sate, ikonnya Kota Bandung sekitar pukul delapan. Aparat kepolisian sudah bersiap-siap mengawal peserta aksi. Mereka membersamai jalannya aksi dengan penuh gembira, karena aparat tahu, bahwa aksi kami tidak pernah membuat kerusuhan.


"Bung, apa kabar?" seorang laki-laki tiba-tiba menyapa Umar.


"Oh, alhamdulillah, baik. Apakah kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya Umar.


"Masih ingat kemarin, ketika Anda memberikan sebungkus nasi kepada seseorang? Orang itu adalah saya.


"Masyaallah, akhirnya kita dipertemukan kembali," kata Umar.


"Saya senang berkenalan dengan Anda. Kenalkan, nama saya David Borg. Nenek moyang saya, yahudi, tapi sudah lama tinggal di Bali.


Umar menyambut uluran tangannya, hangat.


"Saya Umar. Umar bin Ahmad, asli dari Garut." 


David menatap wajah Umar yang berseri-seri dan bersih. Bahkan, ia melihat dalam diri teman barunya itu terlihat seperti ada cahaya yang memancar dari raut mukanya. Wajah yang menampakkan kedamaian dan bersahabat. Tidak terlihat kesan yang buruk, seperti banyak diberitakan, bahwa seorang muslim itu radikal dan intoleran.


"Maaf, saya harus ikut mobil terbuka itu dan berjalan sampai Gedung Sate," kata Umar. 


"Oh, iya iya, silahkan," kata David.


Mobil mulai bergerak pelan. Kalimat tauhid dan takbir berkumandang sepanjang perjalanan, membuat gemetar bagi yang mendengarnya. Teriakan yel-yel melalui pengeras suara semakin membakar para peserta aksi. Ar-Rayah menghitam. Spanduk bertulisan, "Tolak BBM," dan lainnya ikut dibawa oleh para aksi. 


BBM naik, tolak! 

Islam kafah, terapkan!

Khilafah, tegakkan!

Kapitalisme, campakkan!


Diam-diam David mengikuti jalannya aksi sampai di tempat yang dituju. David tidak menyangka langkah kakinya yang tidak punya arah mengantarkannya ke tempat ini. Sementara, di seberang sana, peserta sudah berbaris di depan Gedung Sate.


David terkesiap dan mematung sebentar, mendengar teriakan dari atas mobil terbuka. David tidak mengerti apa yang diucapkan Umar dan kawan-kawannya. Tetapi, yang pasti semua orang mengikuti kata-kata Umar ketika mengucapkan yel-yel. Semangat mereka begitu luar biasa, seperti air yang dipanaskan dalam tungku, mendidih, dan menggerakkan semua orang yang hadir.


David terus memperhatikan acara yang digelar di gedung kantor Gubernur Jawa Barat itu. Sampai acara beres, David menyimak dan mendengarkan, walaupun kata-katanya tidak dipahami secara utuh, sebagian besar malah asing di telinganya.


Selepas acara, diam-diam David menghampiri Umar. "Anda tadi berbicara apa? Apa yang dilakukan bersama yang lainnya?"


"Oh, Anda, masih di sini?"


"Iya, saya mengikuti Anda dari belakang," sahut David.


"Oh, tadi saya sedang melakukan aksi damai, melakukan muhasabah kepada penguasa. Mengingatkan kepada mereka agar tidak mengeluarkan kebijakan yang menzalimi rakyat. Penguasa bersikeras menaikkan BBM, padahal rakyat sedang menghadapi persoalan ekonomi yang semakin hari semakin mencekik leher. Apa yang kami lakukan itu adalah bentuk cinta rakyat kepada pemimpinnya, agar pemimpin tidak melanggar ketetapan Allah dan Rasul-Nya."


"Oh, seperti itu ya, bentuk cinta dalam Islam terhadap pemimpinnya. Acayip!" [GSM]


-Bersambung-