Idulfitri, Geopolitik Umat, Jalan Panjang Menuju Kemenangan Hakiki
OpiniDalam dinamika global, tidak sedikit negeri muslim
terlibat aliansi strategis dengan kekuatan besar dunia
__________________
Penulis Fira Nur Anindya
Kontributor Media Kuntum Cahaya
KUNTUMCAHAYA.com, OPINI - Dinamika geopolitik dunia Islam kembali memanas dalam beberapa waktu terakhir. Amerika Serikat bersama sejumlah negara Arab, Bahrain, Yordania, Kuwait, Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab, secara terbuka mengutuk Iran atas serangan balasan yang dilancarkan ke Isra*l serta pangkalan militer AS di kawasan Timur Tengah.
Dikutip dari cnbcindonesia.com, (2-3-2026) pernyataan bersama itu menyebutkan bahwa serangan Iran dianggap sebagai tindakan yang membahayakan warga sipil serta mengancam stabilitas regional.
Informasi serupa juga dimuat oleh Al Arabiya pada (3-3-26, alarabiya.net) dan kantor berita internasional AFP (2-3-26, afp.com) yang menegaskan adanya komitmen negara-negara tersebut dalam menjaga keamanan kawasan, termasuk melalui kerja sama sistem pertahanan udara dan rudal.
Fakta ini menunjukkan realitas yang cukup kompleks, sebagian negara muslim justru berada dalam satu barisan strategis dengan kekuatan global nonmuslim dalam konflik kawasan. Kondisi ini mencerminkan bahwa dunia Islam saat ini masih terfragmentasi dalam berbagai kepentingan nasional yang berbeda, bahkan dalam beberapa kasus saling berseberangan. Lebih luas lagi, kawasan Timur Tengah yang menjadi pusat konflik dikenal sebagai wilayah yang sangat strategis dan kaya sumber daya berdasarkan laporan World Bank dan OPEC Annual Statistical Bulletin di tahun 2024.
Potensi ini sejatinya sangat luar biasa, tetapi pada saat yang sama fakta menunjukkan bahwa umat Islam masih terpecah dalam berbagai negara dan belum memiliki kesatuan politik yang kuat. Bahkan dalam dinamika global, tidak sedikit negeri muslim yang terlibat dalam aliansi strategis dengan kekuatan besar dunia dalam konflik yang melibatkan sesama kawasan muslim.
Idul Fitri dan Perjuangan Meraih Kemenangan Umat Islam
Ramadan sejatinya bukan hanya bulan menahan lapar, dahaga, dan hawa nafsu, tetapi juga bulan perjuangan. Sejarah Islam menunjukkan bahwa momentum Ramadan sering kali menjadi titik balik kemenangan umat, seperti dalam Perang Badar dan Fathu Makkah. Namun, jika dikaitkan dengan kondisi umat saat ini, perjuangan untuk meraih kemenangan hakiki yakni tegaknya kehidupan yang sesuai dengan ajaran Islam secara menyeluruh, masih belum terwujud. Idul Fitri yang seharusnya menjadi simbol kemenangan, pada akhirnya lebih banyak dimaknai sebagai kemenangan spiritual individual, belum sebagai kemenangan kolektif umat.
Di sisi lain, realitas menunjukkan bahwa umat Islam masih berada dalam kondisi terpecah-pecah. Batas-batas negara, kepentingan nasional, serta aliansi politik global sering kali membuat umat tidak berada dalam satu barisan yang utuh. Bahkan dalam beberapa situasi, terjadi kerja sama strategis dengan kekuatan nonmuslim dalam konflik yang melibatkan dunia Islam itu sendiri.
Menimbang Akar Masalah, Kesadaran, dan Arah Perjuangan
Jika dicermati lebih dalam, persoalan ini tidak hanya terletak pada kondisi eksternal, tetapi juga pada cara pandang umat dalam memaknai perjuangan itu sendiri. Kesadaran bahwa Ramadan adalah bulan perjuangan belum sepenuhnya sampai pada level kesadaran ideologis. Aktivitas keislaman masih didominasi oleh pendekatan praktis dan pragmatis, belum menyentuh aspek perubahan sistemik yang lebih mendasar.
Padahal Allah Swt. telah memberikan predikat mulia kepada umat Islam, “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia…” (QS. Ali Imran: 110)
Predikat ini menunjukkan bahwa umat Islam memiliki potensi besar untuk memimpin peradaban.
Ditambah lagi dengan kekuatan sumber daya manusia, kekayaan alam, serta posisi geopolitik yang strategis, umat sebenarnya memiliki modal yang sangat besar. Namun, tanpa arah perjuangan yang jelas dan kesadaran kolektif yang kuat, potensi tersebut belum mampu terkonversi menjadi kekuatan nyata.
Sejatinya Islam tidak hanya mengatur aspek ibadah individual, tetapi juga mencakup seluruh aspek kehidupan. Allah Swt. berfirman, “Dan Kami turunkan kepadamu Al-Kitab untuk menjelaskan segala sesuatu." (QS. An-Nahl: 89)
Rasulullah saw. juga bersabda, “Imam adalah pengurus rakyat dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dalil-dalil ini menunjukkan bahwa Islam memiliki konsep pengaturan kehidupan yang utuh, termasuk dalam aspek kepemimpinan dan pengelolaan masyarakat.
Pentingnya Menumbuhkan Kesadaran Persatuan Umat
Konstruksi arah kebangkitan dan persatuan umat diperlukan arah yang lebih jelas dalam membangun kebangkitan umat. Pertama, dakwah perlu diarahkan untuk membangun kesadaran politik dan ideologis umat, bahwa Islam bukan hanya agama ritual, tetapi juga sistem hidup yang menyeluruh (kafah). Kedua, penting untuk menumbuhkan kesadaran akan urgensi persatuan umat dalam satu kepemimpinan yang mampu menyatukan potensi yang ada. Persatuan ini bukan sekadar simbolik, tetapi bersifat nyata dan terstruktur.
Ketiga, Ramadan dan Idulfitri semestinya menjadi titik awal untuk mengonsolidasi kekuatan umat, baik dari sisi pemikiran, gerakan, maupun arah perjuangan agar lebih terarah dan berkelanjutan.
Dalam konteks saat ini, masyarakat tetap memiliki peran penting dalam proses perubahan, di antaranya memperdalam pemahaman Islam secara menyeluruh, tidak parsial, aktif dalam kajian dan diskusi yang membangun kesadaran umat, menjaga ukhuwah Islamiyah di tengah perbedaan dengan cara yang bijak, santun, dan relevan. Perubahan tidak terjadi secara instan, tetapi dimulai dari kesadaran dan usaha yang konsisten.
Allah Swt. berfirman, “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri” (QS. Ar-Ra’d: 11)
Ayat ini menjadi pengingat bahwa kebangkitan umat dimulai dari perubahan pola pikir, lalu berkembang menjadi gerakan kolektif yang terarah.
Idulfitri bukanlah akhir dari perjalanan Ramadan, melainkan awal dari fase baru dalam kehidupan umat. Momentum ini seharusnya tidak hanya dimaknai sebagai kemenangan spiritual, tetapi juga sebagai pemicu kebangkitan yang lebih luas. Melalui kesadaran, ilmu, dan usaha yang berkelanjutan, harapan untuk meraih kemenangan hakiki umat tetap terbuka. Perjalanan ini memang panjang, namun bukan sesuatu yang mustahil untuk diwujudkan. Wallahualam bissawab. [SM/MKC]











