Bukan Sekadar Makan Gratis Rakyat Butuh Pendidikan Gratis
Surat PembacaNegara tidak cukup hanya menghadirkan program-program populis
Negara wajib memastikan seluruh kebutuhan pokok masyarakat terpenuhi dengan baik, termasuk pendidikan, kesehatan, keamanan, serta berbagai layanan publik lainnya
______________________
KUNTUMCAHAYA.com, SURAT PEMBACA - Kasus puluhan siswa sekolah dasar di Kabupaten Sukabumi yang diduga mengalami keracunan setelah mengonsumsi susu dari Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menimbulkan pertanyaan besar mengenai efektivitas program tersebut.
Sejumlah siswa mengalami gejala mual, muntah, hingga harus mendapatkan penanganan medis. Pihak RSUD Seqqkarwangi menyatakan para pasien datang dengan keluhan yang mengarah pada dugaan keracunan dan masih dilakukan penelusuran lebih lanjut terkait penyebabnya. (jabarnews.com, 30-7-2026)
Terlepas dari hasil investigasi akhir, kejadian ini menunjukkan bahwa program berskala nasional yang menyangkut konsumsi jutaan anak membutuhkan sistem distribusi, pengawasan, dan keamanan pangan yang sangat ketat. Jika pengawasan lemah, program yang semula bertujuan meningkatkan gizi justru dapat membahayakan penerimanya.
Keselamatan anak-anak seharusnya menjadi prioritas utama sehingga setiap tahapan. Mulai dari proses produksi, penyimpanan, hingga pendistribusian makanan, benar-benar diawasi secara profesional dan bertanggung jawab.
Persoalan yang lebih mendasar adalah apakah MBG benar-benar menjadi kebutuhan paling mendesak rakyat? Di tengah masih tingginya biaya pendidikan, mahalnya perlengkapan sekolah, biaya transportasi, hingga berbagai pungutan yang masih dirasakan sebagian masyarakat, banyak keluarga justru lebih membutuhkan akses pendidikan yang benar-benar gratis dan berkualitas.
Di berbagai daerah, ketimpangan mutu pendidikan juga masih menjadi persoalan yang belum terselesaikan. Makanan bergizi memang penting, tetapi pendidikan merupakan investasi jangka panjang yang akan menentukan kualitas generasi dan masa depan sebuah bangsa. Tanpa pendidikan yang baik, sulit berharap lahir generasi yang mampu membawa perubahan dan kemajuan bagi negeri.
Dalam pandangan Islam, negara adalah ra'in (pengurus) yang bertanggung jawab memenuhi kebutuhan dasar rakyat.
Rasulullah ﷺ bersabda, "Imam (pemimpin) adalah pengurus rakyat dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyat yang diurusnya." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Karena itu, negara tidak cukup hanya menghadirkan program-program populis, tetapi wajib memastikan seluruh kebutuhan pokok masyarakat terpenuhi dengan baik, termasuk pendidikan, kesehatan, keamanan, serta berbagai layanan publik yang menjadi hak setiap warga negara. Kebijakan yang diambil semestinya berorientasi pada penyelesaian akar persoalan, bukan sekadar memberikan solusi yang bersifat sementara atau hanya menyentuh sebagian kecil kebutuhan masyarakat.
Sejarah pemerintahan Islam menunjukkan bahwa pendidikan diberikan secara gratis kepada seluruh rakyat tanpa membedakan status sosial maupun tingkat ekonomi. Negara membangun sekolah, menyediakan guru-guru terbaik, perpustakaan, laboratorium, hingga berbagai sarana pendidikan tanpa membebani masyarakat dengan biaya yang mahal.
Bahkan, perkembangan ilmu pengetahuan pada masa kejayaan Islam melahirkan banyak ulama dan ilmuwan yang memberikan kontribusi besar bagi peradaban dunia. Pendanaan ini berasal dari Baitulmal yang dikelola berdasarkan syariat, bukan bergantung pada pungutan pajak sebagai sumber utama pemasukan negara.
Dengan sistem seperti ini, rakyat tidak dipaksa bergantung pada program bantuan sesaat, melainkan memperoleh hak-haknya secara menyeluruh. Anak-anak mendapatkan pendidikan berkualitas, layanan kesehatan yang memadai, sekaligus terpenuhinya kebutuhan hidup melalui tata kelola negara yang amanah. Negara hadir sebagai pelayan rakyat, bukan sekadar pelaksana proyek atau pembuat program yang bersifat jangka pendek.
Kasus dugaan keracunan MBG seharusnya menjadi momentum untuk mengevaluasi arah kebijakan publik. Ukuran keberhasilan negara bukan banyaknya program yang diluncurkan atau besarnya anggaran yang dihabiskan, melainkan sejauh mana kebijakan tersebut benar-benar mampu menyelesaikan persoalan rakyat secara mendasar dan berkelanjutan.
Rakyat membutuhkan jaminan atas hak-hak dasar mereka, termasuk pendidikan yang gratis, berkualitas, dan mudah diakses oleh seluruh lapisan masyarakat. Islam menawarkan paradigma yang berbeda, yaitu negara hadir bukan sekadar memberi bantuan, tetapi menjamin terpenuhinya seluruh hak dasar masyarakat melalui penerapan syariat Islam secara kafah. Wallahualam bissawab.[BY/MKC]
Rina Herlina











