Korupsi Dana Bencana: Hati Nurani Telah Mati
OpiniMeskipun banyak lembaga anti korupsi tidak serta merta korupsi bisa tertangani
Untuk itu butuh keseriusan pemerintah dan ketegasan hukum
___________________
Penulis Tinah Asri
Kontributor Media Kuntum Cahaya, Aktivis Dakwah dan Pegiat Literasi
KUNTUMCAHAYA.com, OPINI- Keterlaluan! Bencana sedang menimpa beberapa wilayah negeri, namun pejabat Badan Penanggulangan Bencana Nasional (BPBN) malah tertangkap tangan karena korupsi.
Dana bantuan yang seharusnya disalurkan untuk meringankan beban saudara-saudara kita yang sedang menderita ternyata diembat masuk kantong-kantong pribadi pejabat.
Dikutip dari hukumonline.com (15-10-2026) Komisi Pemberantasan Koruosi (KPK) dalam operasi senyap mengamankan barang bukti sebesar Rp 1,4 miliar dan beberapa batang logam emas. KPK menetapkan lima tersangka dari 14 orang yang telah diamankan.
Salah satunya adalah Bima Setiawan, adik Kepala BNPB sebelumnya Letjen Suharyanto. Keempat tersangka lainnya adalah Kepala Subdirektorat Pengelolaan Bantuan dan Dana Kedaruratan BNPB Gabriel Purwaka Sigit, Tenaga Ahli Kepala BNPB Richard Airlangga, Syifa Nrika Ghifarin serta pihak swasta Gery Prasetiawan.
Kepala Pusat Data Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Bentor Panjaitan mengatakan pihak BNPB menghormati hukum serta menjunjung tinggi asas praduga tak bersalah. Ia menegaskan pihaknya tidak akan melakukan intervensi apapun dan mengimbau seluruh jajarannya untuk tetap fokus dengan tugasnya di samping hukum tetap terus berjalan.
Hilangnya Empati Kemanusiaan
Korupsi dana bencana di tengah bencana yang sedang menimpa merupakan tindakan paling biadab, meskipun semua korupsi biadab. Entah apa yang ada dipikiran mereka, mungkin matanya buta, hati nurani pun mati sehingga tega menari di atas penderitaan orang lain.
Mereka tidak melihat bayi dan anak-anak yang menderita sesak nafas terpapar asap Karhutla. Sementara orang tua pun tetap harus bekerja, mempertaruhkan kesehatannya demi menghidupi keluarga. Hewan-hewan pun banyak yang mati terpanggang, sebagian kehilangan habitat tempat hidupnya.
Hal tersebut berbanding terbalik dengan kelakuan para pejabat. Mereka tanpa malu duduk santai di kursi kekuasaan sambil menikmati uang hasil korupsi. Dulu korupsi dilakukan oleh individu, itupun dengan sembunyi-sembunyi supaya tidak ada yang tahu. Kini korupsi seolah menjadi budaya dan dilakukan secara terang-terangan, bahkan tak ada lembaga negara yang terbebas dari tindakan korupsi.
Masih segar dalam ingatan, korupsi juga terjadi dalam lembaga Badan Gizi Nasional (BGN). Lembaga yang dipercaya menangani Program Strategis Nasional MBG. Parahnya, korupsi justru melibatkan Kepala BGN Dadan Indrayana berserta lima orang dalam jajarannya. Bahkan, korupsi juga terjadi dalam lembaga keagamaan yang sampai hari ini kasusnya masih menggantung, belum juga terselesaikan.
Entah sampai kapan negeri ini akan terbebas dari korupsi? Padahal, kita memiliki beberapa lembaga untuk menangani masalah korupsi, ada KPK, Kepolisian, Kejaksaan, Pengadilan Tipikor, BPK, dll. Pemerintah juga telah berulang kali mengeluarkan komitmen untuk memberantas korupsi, bahkan akan dikejar sampai Antartika.
Biang Kerok Korupsi
Korupsi merupakan persoalan serius, karena dampaknya bisa mengakibatkan kerugian negara, juga menghambat layanan publik di tengah masyarakat. Sayang, memberantas korupsi di negeri ini ibarat membersihkan jamur di musim hujan, begitu dipangkas tumbuh lagi dan lagi. Komitmen membersihkan korupsi hanyalah omong kosong tak berisi. Bagaimana bisa membersihkan korupsi, sementara sistem yang diterapkan justru mendukung tindakan korupsi.
Memberantas korupsi bukan hanya pada berapa banyak negeri ini memiliki lembaga anti korupsi. Akar permasalahan yang sebenarnya terletak pada sistem yang diterapkan negeri ini. Kapitalisme mempunyai andil besar dalam membentuk karakter manusia menjadi serakah, maruk, haus kekuasaan dan jabatan. Akibatnya, para pemangku jabatan ketika masih menjabat cenderung mencari keuntungan pribadi daripada mengurusi rakyat.
Penguasa lupa bahwa kekuasaan dan jabatan adalah amanah yang harus ditunaikan dengan sebaik-baiknya. Melalaikan amanah sama dengan mengkhianati Allah Swt.,
"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul-Nya dan (jangan pula) mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui." (QS. Al-Anfal :27)
Sekularisme juga memperkuat tumbuh suburnya praktik korupsi. Sistem kehidupan yang hanya berorientasi pada dunia, melalaikan kehidupan akhirat membuat manusia tidak takut untuk berbuat dosa. Mereka hanya akan takut jika kehilangan harta, jabatan, dan ketenaran. Padahal kehidupan dunia hanya sementara, harta, kekuasaan dan jabatan hanyalah titipan, suatu saat akan diambil oleh pemilik aslinya yakni Allah Swt. Dunia hanyalah tempat untuk mengumpulkan bekal menuju kehidupan kekal, yakni akhirat.
Sayangnya, negara tak sepenuh hati menangani masalah korupsi. Sanksi yang dijatuhkan bagi para koruptor pun sekedar syarat mengelabui masyarakat. Fakta sebenarnya para terpidana korupsi bisa menempati sel mewah dengan fasilitas lengkap. Bahkan sempat ada tahanan yang bisa jalan-jalan tanpa takut ketahuan. Sebab, bukan hanya pejabat tetapi penegak hukum dan lembaga antikorupsi pun tak luput dari tindakan ini, mereka pelaku korupsi itu sendiri.
Islam Solusi Tepat Memberantas Korupsi
Meskipun banyak lembaga anti korupsi tidak serta merta korupsi bisa tertangani. Untuk itu butuh keseriusan pemerintah dan ketegasan hukum. Tanpa kedua komitmen yang dijalankan negara menjadi sia-sia.
Islam sebagai agama yang diturunkan oleh Allah Swt. menawarkan aturan untuk mengatasi masalah korupsi. Aturan Islam menyeluruh dan sempurna, mengatur seluruh aspek kehidupan manusia mulai dari level individu, masyarakat, dan negara.
Level individu, akidah Islam menanamkan kepada setiap orang bahwa di balik kehidupan,alam semesta dan manusia ada Allah Swt. sebagai Sang Pencipta dan Sang Pengatur. Sedangkan manusia wajib tunduk dan patuh terhadap aturan-Nya, sebagai esensi dari ketakwaan. Dengan begitu manusia senantiasa terikat dengan aturan Allah dan merasa diawasi sehingga takut untuk melakukan kemaksiatan.
Secara masyarakat, menurut Islam masyarakat adalah sekumpulan individu yang di dalamnya ada interaksi dan disatukan oleh pemikiran, perasaan, dan aturan sama. Satu dengan yang lain saling bersinergi, tidak boleh terpisahkan, setiap anggota masyarakat mempunyai rasa tanggung jawab terhadap lingkungan tempat tinggalnya, sehingga amar makruf nahi mungkar pun senantiasa dapat terlaksana.
Sementara dalam perspektif bernegara, Islam memandang bahwa pejabat bukanlah orang yang mempunyai imunitas hukum. Setiap pejabat yang melakukan tindak pelanggaran harus mendapatkan sanksi tegas. Korupsi terkategori tindakan kriminal (jariimah), hukuman bagi pelakunya adalah takzir. Yakni sanksi menurut keputusan pengadilan (qadhi) daulah yang disesuaikan dengan kadar pelanggarannya. Mulai dari sanksi teguran, dirampas harta hasil kejahatannya dan dikembalikan ke Baitulmal, hingga kurungan atau penjara.
Begitu pula jika ada pejabat yang menyalahgunakan kekuasaan, menerima suap misalnya, negara Khil4fah tidak akan mempertahankannya, tetapi akan dikenai sanksi yang tegas. Seperti yang pernah dilakukan oleh Rasulullah saw. yang mencapot Muadz bin Jabal ra. dari tugasnya mengurusi administrasi negara, saat diperlukan penataan ulang.
Inilah gambaran jika Islam diterapkan oleh negara, hanya Islam yang mampu mewujudkan rahmat untuk seluruh alam. Wallahualam bissawab. [EA/MKC]











