Pemimpin Abai, Asap Tak Kunjung Padam
Surat PembacaKarhutla terus berulang dan nyawa rakyat menjadi taruhannya
Mirisnya lagi, pemerintah tetap merasa sanggup dan bisa mengendalikan kabut asap yang pada kenyataan makin meluas
__________________
KUNTUMCAHAYA.com, SURAT PEMBACA - Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) belum padam sampai saat ini. Ini menyebabkan asapnya menyebar luas di tujuh provinsi di negeri ini, bahkan negara tetangga. Malaysia juga sempat menyampaikan protesnya atas bencana ini karena mereka juga terkena dampak kabut asapnya.
Namun, sampai saat ini pemerintah menyatakan masih sanggup menangani karhutla dan belum menetapkan sebagai bencana nasional. Meski negara tetangga terus memprotes kabut asap lintas negara. Sungguh sangat miris, tidak hanya merugikan rakyat negeri ini, namun karhutla juga merugikan negara tetangga.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan Kalimantan Tengah (Kalteng) dan Kalimantan Selatan (Kalsel) yang memiliki area penanganan Karhutla terluas. BNPB melaporkan luas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) seluas 639,23 hektare, yang tersebar di enam provinsi prioritas hingga Senin (12-10-2026). Kalteng dan dan Kalsel menjadi dua provinsi yang masih menghadapi penanganan karhutla cukup berat. (Bisnis.com, 13-10-2026)
Akibat dari kabut asap di Indonesia menyebabkan terjadinya kasus ISPA. Dari data Kemenkes per 11 Oktober 2026, sudah mencapai 277.075 kasus, termasuk 64.913 balita dan sudah ada 4 orang yang meninggal dunia.
Akar Masalah
Inilah yang terjadi di negeri ini saat menerapkan sistem kapitalisme. Pemimpinnya abai terhadap rakyatnya. Karhutla terus berulang dan nyawa rakyat menjadi taruhannya. Mirisnya lagi, pemerintah tetap merasa sanggup dan bisa mengendalikan kabut asap yang pada kenyataan makin meluas.
Seharusnya pemimpin bisa menjaga rakyatnya agar aman dan nyaman hidup di dalam negerinya karena pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.
Rasulullah bersabda yang artinya: "Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyat yang dipimpinnya. Seorang imam/presiden adalah pemimpin yang akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyatnya..." (HR. Bukhari dan Muslim)
Selain itu, dalam sistem kapitalisme yang berlandaskan sekularisme, membuat pemimpin tidak paham hakikat kepemimpinan dan tidak memiliki rasa tanggung jawab. Bahkan tidak peduli dengan banyaknya korban akibat keabaiannya.
Penerapan sistem ekonomi kapitalisme menyerahkan kekuasaan di tangan pemodal. Siapapun bebas memiliki apa pun, sehingga hutan dan lahan menjadi pintu eksploitasi besar-besaran demi kerakusan segelintir orang.
Hal tersebut menyebabkan kebakaran hutan dan lahan berulang terjadi di negeri ini. Karena negeri ini menerapkan aturan selain aturan Allah. Sebaliknya malah bekerja sama dengan asing untuk mengeruk sumber daya alam di negeri tercinta ini.
Solusi Islam
Kebakaran hutan dan lahan tidak akan terus berulang jika Islam diterapkan. Dalam Islam, pemimpin adalah raa'in dan junnah yang menjadikan nyawa rakyat sebagai prioritas. Ia memiliki tiga watak, yaitu al-quwwah (kekuatan), at-taqwa (ketakwaan), dan ar-rifq bi ar-ra’iyyah (lembut kepada rakyat).
Selain itu, sistem pendidikan Islam berbasis akidah membentuk pemimpin berkepribadian Islam yang paham bahwa kepemimpinan adalah amanah yang akan dihisab oleh Allah sehingga memiliki rasa tanggung jawab penuh atas rakyatnya. Alhasil, tidak akan abai terhadap keselamatan rakyatnya.
Ada hadis yang menyampaikan tentang kepemimpinan. Rasulullah bersabda yang artinya: "Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyat yang dipimpinnya. Seorang imam/presiden adalah pemimpin yang akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyatnya..." (HR. Bukhari dan Muslim)
Perlu kita ketahui bahwa, sistem ekonomi Islam membagi kepemilikan menjadi individu, umum, dan negara. Hutan dan lahan termasuk kepemilikan umum yang haram dikuasai korporasi, sehingga pintu eksploitasi tertutup. Kekuasaan ada di tangan negara yang berhukum dengan syariat, bukan di tangan pemodal, sehingga karhutla diselesaikan sampai akarnya bukannya terus berulang.
Betapa aman dan nyaman jika Islam diterapkan di negeri ini. Jikapun terjadi bencana, pemimpin tidak akan abai terhadap keselamatan rakyatnya. Namun, akan bergerak cepat dan tepat untuk mengatasinya. Wallahualam bissawab. [Dara/MKC]
Ummu Adil











