Maulid: Momentum Meneladani Metode Perjuangan Nabi ï·º
Surat PembacaMomentum Maulid Nabi ï·º sudah saatnya dijadikan titik balik untuk membangkitkan kesadaran politik dan ideologis
meneladani metode dakwah Rasulullah ï·º secara utuh, dan berjuang menegakkan aturan Islam dalam kehidupan demi meraih rida Allah Swt.
______________________________
KUNTUMCAHAYA.com, SURAT PEMBACA - Setiap kali bulan Maulid tiba, umat Islam di berbagai penjuru negeri selalu menyambutnya dengan penuh suka cita.
Peringatan ini menjadi momen penting bagi umat Islam untuk mengenang teladan akhlak mulia Rasulullah SAW, memperbanyak bacaan sholawat, membaca riwayat sirah nabawiyah, seperti Maulid Diba'i dan Simtudduror, serta mempererat silaturahmi. (detik.com, 24-08-2026)
Maulid Nabi bukan hanya momentum untuk mengingat kelahiran Rasulullah SAW. Tetapi juga menjadi kesempatan bagi kita untuk meningkatkan kecintaan kepada beliau dengan mengenal dan meneladani akhlaknya. (rri.co.id, 22-08-2026)
Peringatan hari lahir Nabi ini menjadi wujud nyata rasa cinta kita kepada Baginda Nabi Muhammad ï·º. Namun, jika direnungkan lebih dalam, perayaan Maulid yang rutin kita laksanakan sering kali hanya berhenti pada aspek ritual peribadatan dan euforia emosional semata. Pembahasan tentang cara meneladani (ittiba') Nabi biasanya hanya dibatasi pada urusan akhlak personal yang sempit, seperti bersikap jujur dan ramah kepada sesama. Padahal, keteladanan dari beliau jauh lebih luas.
Nabi Muhammad ï·º diutus oleh Allah Swt. untuk mengubah sistem masyarakat yang rusak pada masa itu yang menghambakan manusia kepada dunia dan hawa nafsu menuju sistem Islam yang menegakkan penghambaan murni hanya kepada Allah Swt..
Hari ini, cinta kepada Rasulullah ï·º kerap tereduksi menjadi ekspresi kecintaan yang hampa dari pemahaman ideologis. Padahal, mencintai Nabi ï·º secara hakiki menuntut keterikatan penuh pada risalah dan cara perjuangan yang beliau contohkan untuk mengubah peradaban.
Tanpa disadari, saat ini umat Islam masih hidup di bawah cengkeraman sistem buatan manusia yang menjauhkan aturan agama dari kehidupan, seperti kapitalisme dan sekularisme. Sistem ini memaksa manusia menjadikan materi sebagai tujuan hidup utama. Tidak heran jika sistem kapitalis terus berusaha keras menghalangi suara kebangkitan umat yang menuntut perubahan sistem secara total.
Agar peringatan Maulid tidak berlalu begitu saja, kita harus mengembalikan arti ittiba' pada hakikatnya yang utuh. Allah Swt. berfirman di dalam Al-Qur'an: "Katakanlah: 'Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.' Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. Ali Imran: 31)
Ayat ini mengingatkan bahwa cinta kepada Nabi Muhammad ï·º tidak cukup dibuktikan dengan bershalawat atau merayakan hari kelahirannya saja. Cinta tersebut harus dibuktikan dengan mengikuti seluruh aturan hidup (syariat) yang beliau bawa, sekaligus melanjutkan perjuangan beliau dalam menegakkan hukum-hukum Islam di tengah kehidupan bermasyarakat dan bernegara.
Perlu kita sadari, bahwa perjuangan Rasulullah ï·º dalam menegakkan Islam bukan proses yang instan. Beliau menempuh sebuah metode perjuangan (thariqah) yang jelas dan terstruktur dalam tiga tahapan utama:
1. Tahap Pembinaan (Tatsqif): Melakukan pembinaan secara intensif kepada individu umat dengan pemikiran Islam yang sahih untuk membentuk kader dakwah berkesadaran ideologis.
2. Tahap Berinteraksi dengan Umat (Tafa'ul Ma'al Ummah): Terjun langsung ke tengah masyarakat untuk mendakwahkan Islam secara terang-terangan dan membongkar kerusakan sistem jahiliyah agar umat tersadar.
3. Tahap Penerimaan Kekuasaan (Istilamul Hukmi): Meminta dukungan riil dari pihak yang memiliki kekuatan di tengah masyarakat agar hukum Islam dapat diterapkan secara total dalam bingkai negara yang berdaulat.
Dengan menempuh metode perjuangan inilah Rasulullah ï·º berhasil mengubah peradaban manusia dari zaman kegelapan menuju cahaya Islam yang terang benderang. Oleh karena itu, momentum Maulid Nabi ï·º sudah saatnya dijadikan titik balik untuk membangkitkan kesadaran politik dan ideologis, meneladani metode dakwah Rasulullah ï·º secara utuh, dan berjuang menegakkan aturan Islam dalam kehidupan demi meraih ridha Allah Swt.. Wallahualam bissawab. [Dara/MKC]
Murni Cendra Kasih, S.Pd., Gr.











