Thufan al-Aqsha, Dunia Kehilangan Nurani
Surat PembacaTiga tahun sejak gerakan Thufan al Aqsha
kehidupan warga P4lestina makin menderita dan sengsara, namun dunia seakan diam, buta dan tuli
__________________________
KUNTUMCAHAYA.com, SURAT PEMBACA - Tiga tahun sudah operasi Thufan al Aqsha yang dilakukan oleh H4mas. Kementerian Kesehatan G4za menyebut jumlah korban terus bertambah sejak diberlakukan gencatan senjata pada 11 Oktober 2025.
Hingga saat ini, tercatat 1.462 warga P4lestina syahid dan 5.151 lainnya terluka dalam periode tersebut. Selain korban tewas dan luka, sebanyak 836 jenazah telah berhasil dievakuasi atau ditemukan dari lokasi-lokasi terdampak sejak gencatan senjata diberlakukan. Sementara itu, secara kumulatif sejak dimulainya genosida Isra*l di Jalur G4za, jumlah korban yang tercatat di rumah sakit mencapai 74.245 warga telah syahid dan 175.267 lainnya terluka. (gazamedia.net, 06-10-2026)
Angka-angka ini bukan sekadar statistik, melainkan bukti kehancuran sebuah generasi. Anak-anak yang seharusnya tumbuh dengan buku dan cita-cita justru kehilangan masa depan. Sekolah yang semestinya menjadi tempat menuntut ilmu tak luput dari kehancuran. Ketika pelajar dan tenaga pendidik menjadi korban, yang dihancurkan bukan hanya nyawa, melainkan juga harapan sebuah bangsa.
Inilah wajah nyata penjajahan: merampas tanah, menghancurkan kehidupan, dan melanggengkan penderitaan. Kejahatan yang terus berlangsung selama bertahun-tahun menunjukkan bahwa kecaman moral tanpa tindakan tegas tidak cukup untuk menghentikan agresi.
Allah Swt. berfirman dalam QS. Al-Ma'idah ayat 32 yang menegaskan besarnya dosa membunuh manusia tanpa alasan yang dibenarkan. Lantas, di mana nurani dunia ketika ribuan pelajar kehilangan hak paling mendasar mereka, yakni hidup?
Kapitalisme Melanggengkan Ketidakadilan
Tragedi P4lestina tidak cukup dipahami sebagai konflik dua pihak. Ada persoalan mendasar dalam tatanan politik global yang memberikan ruang bagi dominasi kekuatan besar. Dalam sistem kapitalisme global, kepentingan geopolitik, ekonomi, dan aliansi strategis kerap mengalahkan prinsip keadilan. Hak asasi manusia lantang disuarakan, tetapi penerapannya sering kali tunduk pada kepentingan penguasa.
Lembaga internasional dapat mengeluarkan kecaman dan resolusi, tetapi tanpa kemauan politik serta tekanan nyata dari negara-negara berpengaruh, berbagai seruan itu sulit menghentikan penderitaan. Lebih menyakitkan lagi, negeri-negeri muslim yang memiliki kedekatan akidah dan ikatan persaudaraan dengan P4lestina belum berhasil membangun kekuatan bersama yang efektif untuk menghentikan agresi dan mengakhiri penjajahan.
Inilah kegagalan politik yang harus dikritisi. Persoalannya bukan semata-mata kurangnya solidaritas, melainkan lemahnya keberanian politik untuk menempatkan pembebasan P4lestina di atas kepentingan nasional yang sempit. Bantuan kemanusiaan memang penting, tetapi tidak boleh menjadi pengganti perjuangan mengakhiri sebab utama penderitaan, yaitu penjajahan.
Allah Swt. berfirman dalam QS. An-Nisa ayat 75, mempertanyakan mengapa kaum muslimin tidak berjuang membela laki-laki, perempuan, dan anak-anak yang tertindas. Ayat ini merupakan seruan moral agar penderitaan kaum tertindas tidak dijawab dengan sikap diam dan kepasrahan.
Khil4fah dan Kewajiban Membela P4lestina
Islam tidak menjadikan kekuatan sebagai alat untuk menjajah, melainkan sebagai amanah untuk menegakkan keadilan dan melindungi manusia. Dalam syariat Islam, peperangan memiliki aturan yang membatasi tindakan para pejuang. Rasulullah saw. melarang pembunuhan perempuan dan anak-anak dalam peperangan. Dengan demikian, pembantaian warga sipil tidak dapat dibenarkan atas nama agama maupun kekuasaan.
Dalam perspektif politik Islam, Khil4fah dipahami sebagai institusi kepemimpinan yang menerapkan syariat dan mengurus kepentingan umat. Para pendukungnya memandang persatuan politik umat sebagai salah satu jalan membangun kekuatan untuk membela kaum tertindas, menghadapi penjajahan, dan menjaga kehormatan umat. Namun, cita-cita tersebut harus diwujudkan dengan tetap menaati ketentuan syariat, menjaga keselamatan warga sipil, dan menolak segala bentuk kezaliman.
Allah Swt. berfirman dalam QS. Al-Anbiya ayat 107 "Dan Kami tidak mengutus engkau (Nabi Muhammad), kecuali sebagai rahmat bagi seluruh alam."
Karena itu, perjuangan Islam tidak boleh berubah menjadi pembenaran atas kebencian atau penindasan terhadap manusia.
Tiga tahun Thufan al-Aqsha seharusnya meruntuhkan ilusi bahwa tatanan dunia saat ini telah mampu menghadirkan keadilan bagi semua. Umat Islam membutuhkan persatuan, kepemimpinan yang amanah, dan keberanian politik untuk menghentikan penjajahan. P4lestina tidak membutuhkan dunia yang sekadar berduka, tetapi dunia yang sungguh-sungguh bertindak.
Ketika ribuan pelajar P4lestina kehilangan masa depan, diamnya para pemilik kekuatan bukan lagi sekadar kelemahan diplomasi, melainkan kegagalan menjalankan tanggung jawab kemanusiaan. Jangan biarkan sejarah mencatat bahwa dunia mengetahui penderitaan mereka, tetapi memilih membiarkannya terus berlangsung. Wallahualam bissawab. [Luth/MKC]
Evi Faouziah, S.Pd.











