Featured Post

Recommended

Bullying Karakter Menyeleweng Generasi, Islam Solusi Hakiki

Akar permasalahan berasal dari kesalahan penggunaan sistem kapitalisme Hal ini membuat seseorang cenderung abai terhadap aturan Allah Swt. d...

Alt Title
Bullying Karakter Menyeleweng Generasi, Islam Solusi Hakiki

Bullying Karakter Menyeleweng Generasi, Islam Solusi Hakiki


Akar permasalahan berasal dari kesalahan penggunaan sistem kapitalisme

Hal ini membuat seseorang cenderung abai terhadap aturan Allah Swt. dan berperilaku sesukanya


Penulis Suci Halimatussadiah 

Kontributor Media Kuntum Cahaya dan Ibu Pemerhati Umat


KUNTUMCAHAYA.com, OPINI - Rentetan kasus perundungan terhadap anak sekolah makin masif terjadi. Kali ini, korban merupakan anak perempuan yang berasal dari Batam.Viralnya, kasus penganiayaan dan perundungan ini membuat netizen geram dan ikut membanjiri kolom komentar dengan kalimat-kalimat yang mengutuk aksi pelaku tersebut.


Seperti dikutip dari TribunTrend.com (02/03/2024), ibu korban menjelaskan bahwa permasalahan utamanya terjadi sebelum adanya pengeroyokan yang dialami sang anak. Dalam penjelasannya, korban yang berinisial SC mendapat kekerasan dari sekelompok remaja putri karena membela sang adik.


Tragisnya, sang ibu tidak berani langsung membuat laporan ke kepolisian karena khawatir jika anak perempuannya yang lain mendapatkan perlakuan yang sama. Namun, tidak lama setelah berita ini viral, sang ibu baru memberanikan diri untuk melaporkan tindakan kriminal terhadap anaknya.


Menanggapi kasus bullying, Kanit Reskrim Polsek Lubuk Baja Ipda Jonathan Reinhart Pakpahan turut angkat bicara. Ipda Jonahan menyebut bahwa pihak kepolisian tengah mendalami kasus tersebut. Keempat pelaku perundungan yang berinisial AR, RS, SR, dan LS tengah menjalani pemeriksaan.


Jika kita telaah kasus kriminalitas di Indonesia, tentunya kasus bullying bukanlah suatu hal yang baru. Banyaknya kasus perundungan yang terjadi, baik secara fisik, verbal, maupun perundungan di dunia online (cyber bullying) menunjukkan bahwa bullying bukan lagi suatu hal yang dianggap remeh. 


Jika dilihat dari perspektif korban, seseorang yang mengalami tindakan perundungan akan berisiko mengalami berbagai permasalahan kesehatan, baik fisik maupun mental. Dari sini kita ketahui, bahwa fenomena bullying sudah sangat parah dan menjadi epidemi yang menimbulkan banyak korban. Kasus perundungan akan terus meningkat setiap tahunnya. 


Ada banyak faktor yang menyebabkan terjadinya kasus perundungan. Namun, yang sering ditemukan yaitu adanya ketidakseimbangan antara pelaku dengan korban. Bisa berupa ukuran badan, fisik, kepandaian komunikasi, gender hingga status sosial. Penyebab lain yang menyertai biasanya terkait lingkungan pergaulan yang salah dan pengaruh teman sebaya, dan lain-lain.


Dari rentetan masalah perundungan yang makin marak bisa kita ambil kesimpulan bahwa kasus ini terjadi bukan hanya karena permasalahan individu semata, melainkan permasalahan sistemis yang tergambar pada pola pikir dan pola sikap masyarakat. Akar permasalahan berasal dari kesalahan penggunaan sistem hari ini, yaitu sistem kapitalisme yang berasaskan sekularisme yang memisahkan agama dan kehidupan. Hal ini membuat seseorang cenderung abai terhadap aturan Allah Swt. dan berperilaku sesukanya.


Ditambah lagi adanya naluri eksistensi diri yang dimiliki oleh setiap manusia yang tidak dapat tersalurkan dengan baik di sistem saat ini. Alhasil manusia jadi berperilaku brutal tanpa mempertimbangkan  kemanusiaan, apalagi agama. Sebab, yang mereka dewakan hanya eksistensi diri dan popularitas duniawi. Itulah mengapa dalam kasus perundungan, terutama dalam lingkungan remaja yang marak terjadi saat ini menjadi tanda bahwa karakter menyeleweng generasi tidak dapat lagi ditoleransi.


Dalam sistem Islam, pembentukan karakter generasi merupakan kolaborasi dari peran keluarga, pendidik, masyarakat, dan negara. Hal utama yaitu keluarga menjadi bagian paling penting. Keluarga terutama ibu merupakan madrasah pertama bagi anak-anak sebelum mereka terjun ke dunia yang lebih luas.

 

Pembentukan karakter anak di awal perlu diperhatikan dengan baik dan saksama oleh keluarga. Pembentukan kebiasaan dan pemikiran yang berlandaskan pada akidah Islam harus dijadikan standar utama dalam hablum minannas (bermuamalah dengan orang lain).


Selain itu, guru sebagai pendidik anak di sekolah harus mewujudkan kestabilan antara kompetensi akademik dan karakter anak. Sebab, fungsi sekolah dalam Islam bukan hanya sebagai pencetak para intelektual dalam bidang tertentu. Tetapi, mewujudkan individu yang paham akan identitasnya sebagai seorang muslim. Oleh karena itu, nilai rapor di sekolah tidak dapat dijadikan patokan keberhasilan dalam mendidik anak jika karakter mereka rusak dan berujung pada kemudaratan dan murka Allah Swt. Masyarakat yang peduli menjadi aspek yang sangat penting dalam terwujudnya kesejahteraan dalam sistem Islam. 


Kesadaran masyarakat akan implementasi Islam dalam kehidupan akan turut membantu para individu untuk taat kepada Allah Swt. Sebab, saat mereka sedang melakukan sebuah dosa atau kemaksiatan, masyarakat ikut peduli dan saling mengingatkan agar mereka kembali ke jalan Allah.


Selanjutnya, negara yang peduli terhadap persoalan umat. Dalam hal ini, pemerintah berperan sebagai eksekutor dalam negara. Ia memiliki peran dan tanggung jawab yang besar dalam segala aspek yang berkaitan dengan riayatu asy-syu’nil ummah atau (pengurus urusan umat). Jika ada problematika seperti kasus kriminalitas yang terjadi, negara akan melakukan tindakan tegas dan solutif.


Tak hanya itu selain tindakan kuratif yang dilakukan sebagai efek jera bagi pelaku dan peringatan bagi masyarakat lainnya. Ada juga tindakan preventif (pencegahan) yang dilakukan oleh negara, yaitu dengan memperkuat akidah Islam dalam diri anak dan membangun kesadaran bahwa setiap perilaku yang diperbuat akan dimintai pertanggungjawabannya di akhirat kelak. Hal ini akan menumbuhkan sikap berhati-hati dan takut (kepada Allah). Lebih dari itu, negara akan memastikan penguatan peran orang tua, guru, dan masyarakat untuk mewujudkan individu-individu yang bertakwa.


Sayangnya, kesejahteraan ini tidak dapat terwujud jika kita masih terkerangkeng oleh sistem kapitalisme sekuler yang mendewakan materi belaka. Maka, bersama-sama kita wujudkan janji Allah dengan meneruskan perjuangan Rasulullah, yaitu dakwah Islam demi terwujudnya sistem mulia yaitu sistem Islam dalam naungan Daulah Islamiyah yang keberhasilannya telah terbukti dalam tinta sejarah. Dengannya mampu mewujudkan kesejahteraan umat dalam semua lini kehidupan. Wallahualam bissawab. [Dara]

Sanksi Hukum yang Tak Membuat Jera

Sanksi Hukum yang Tak Membuat Jera

 


Banyaknya narapidana residivis menjadi alarm bahwa hukum yang berlaku sama sekali tidak membuat jera pelaku kejahatan

Tidak konsekuennya penerapan hukum menambah parah kebobrokan sistem hukum negeri ini

_________________________


Penulis Maya Dhita E.P., ST.

Tim Media Kuntum Cahaya 


KUNTUMCAHAYA.com, OPINI - Momen Idulfitri 1445 Hijriyah menjadi saat yang ditunggu-tunggu bagi banyak orang. Tak ketinggalan juga bagi para narapidana. Sebanyak 16.336 narapidana di Jawa Barat mendapat remisi Idulfitri dari Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham), pada Rabu (10/4).


Dari sejumlah besar tersebut sebanyak 128 orang di antaranya bebas tepat pada hari Lebaran. (CNNIndonesia, 10/4/2024)


Siapa yang bisa mendapat remisi


Secara umum, remisi bisa diberikan kepada narapidana dengan syarat sebagai berikut:

1. Narapidana berkelakuan baik

Hal ini dibuktikan dengan,

a. Tidak dalam hukuman disiplin dalam waktu 6 bulan terakhir

b. Sudah mengikuti pembinaan yang diselenggarakan oleh Lapas dengan predikat baik.

2. Sudah menjalani masa pidana lebih dari 6 bulan 


Sedangkan terdapat syarat tambahan bagi para narapidana tindak pidana terorisme, narkotika dan prekursornya, psikotropika, korupsi, kejahatan hak asasi.manusia berat, kejahatan terhadap keamanan negara, serta kejahatan transnasional terorganisasi lainnya. Yaitu,

a. Menyatakan kesediaannya untuk membantu hukum dalam membongkar perkara tindak pidana yang dilakukannya.

b. Bagi pelaku tindak pidana korupsi harus telah membayar lunas denda dan membayar lunas uang pengganti sebagaimana telah diputuskan dalam pengadilan

c. Bagi pelaku tindak pidana terorisme maka setelah mengikuti program deradikalisasi yang diselenggarakan oleh pihak Lapas/dan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme. Serta berikrar untuk setia kepada Negara kesatuan Republik Indonesia secara tertulis bagi narapidana warga negara Indonesia. Atau menyatakan untuk tidak mengulangi perbuatannya secara tertulis bagi warga negara asing yang dipidana karena melakukan tindak pidana terorisme.


Dari dari ketentuan persyaratan di atas maka narapidana yang tidak berhak mendapatkan remisi adalah mereka yang tidak memenuhi syarat-syarat tersebut. Dan juga ditambah dengan prasyarat sebagai berikut: 

1. Tidak sedang menjalani cuti menjelang bebas dan, 

2. Tidak sedang menjalani pidana kurungan atau penjara sebagai ganti pidana denda atau uang pengganti atau restitusi. (HukumOnline, 6/7/2023)


Fakta Pemberian Remisi


Di dalam sistem kapitalisme, hukum buatan manusia dapat dikondisikan untuk mempermudah kerja penguasa. Karena bukan berasal dari sumber hukum sahih, maka pembentukannya akan sarat kepentingan. Begitu juga dengan dasar hukum pemberian remisi, telah mengalami beberapa kali perubahan bahkan saat telah dikeluarkan Kepres RI Nomor 69 Tahun 1999 belum sempat diterapkan aturan itu sudah dicabut kembali dengan Kepres RI Nomor 174 Tahun 1999.


Aplikasi di lapangan juga terlihat penuh keberpihakan. Kecenderungan terlihat pada narapidana korupsi yang mendapatkan remisi berkali-kali. 


Standar kelakuan baik dalam masa penahanan narapidana sebagai syarat untuk mendapatkan remisi jelas tidak sebanding dengan kejahatan yang telah diperbuat. Ini adalah bentuk kezaliman pada korban atau rakyat. 


Remisi juga dijadikan penguasa sebagai salah satu solusi untuk mengatasi overcrowded lapas. Hal ini merupakan bentuk kebijakan sembrono yang mengancam keselamatan dan keamanan rakyat. 


Hukum Tidak Menjerakan


Banyaknya narapidana residivis menjadi alarm bagi kita bahwa hukum yang berlaku saat ini sama sekali tidak membuat jera pelaku kejahatan. Tidak konsekuennya penerapan hukum menambah parah kebobrokan sistem hukum negeri ini.


Bongkar pasang aturan tidak dapat terelakkan demi memuluskan niat penguasa. Pasal-pasal titipan adalah sebuah keniscayaan. Alhasil, kejahatan makin tak terkendali banyaknya. Lapas-lapas overcrowded dan tak layak huni. Sedangkan narapidana korupsi hidup dalam kemewahan sangkar emas dan jaminan remisi berlapis. Lalu bagaimana kita mampu berharap akan terwujudnya keamanan dan keadilan dalam kehidupan?


Sistem Sanksi Islam adalah Jawaban


Islam memiliki seperangkat aturan sahih dari Sang Maha Pengatur. Mekanisme penerapan syariat Islam mampu mencegah dan menanggulangi tindak kejahatan yang terjadi dalam kehidupan keluarga, bermasyarakat, dan bernegara.


Mekanisme ini terwujud sempurna dengan adanya tiga pilar penegakan hukum. 


1. Ketakwaan individu 

Rasa takut kepada Allah pada individu mampu mencegah dari perilaku kejahatan.


2. Amar makruf nahi mungkar oleh masyarakat

Tingkat kepedulian yang tinggi dan kewajiban untuk saling beramar makruf nahi mungkar, menjadikan kejahatan dan segala bentuk penyimpangan syariat akan lebih cepat terdeteksi. Pelaku dapat segera diingatkan, lebih cepat untuk bertaubat, dan kembali ke jalan Allah.


3. Negara menerapkan sistem sanksi yang adil dan tegas

Negara menerapkan sistem sanksi yang bersumber dari hukum syarak. 


Dalam aspek penanganan kejahatan, Islam akan memberlakukan sistem sanksi berupa jinayat, qisas, takzir maupun mukhalafat. Penjara juga menjadi salah satu jenis hukuman yang juga dipilih dalam Islam. Tidak ada remisi dalam hukuman penjara. Keputusan hakim bersifat mengikat sesuai masa hukuman yang telah diputuskan.


Tidak ada banding dalam perkara yang telah diputuskan dalam sidang. Karena setiap keputusan yang telah ditetapkan bersumber dari hukum syarak. 


Jelas sudah hanya ketegasan sistem peradilan dan sistem sanksi yang mampu mengatasi segala bentuk kejahatan penyimpangan hukum syarak. Hal ini karena sifat sistem sanksinya yaitu sebagai zawajir (pencegah) dan jawabir (penebus).


Bersifat jawabir atau sebagai penebus dosa yang telah diperbuat di dunia. Hukuman yang diberikan juga setimpal. Sehingga nanti di akhirat tidak lagi dimintai pertanggungjawaban oleh Allah Swt.. Bukankah perhitungan Allah lebih cepat dan teliti?


Sedangkan dikatakan bersifat zawajir atau pencegah karena tegasnya pelaksanan sistem sanksi ini dan diketahui oleh khalayak ramai, maka orang-orang akan takut untuk melakukan kejahatan serupa karena tidak ingin mendapat hukuman yang sama.


Demikianlah jika sistem Islam diterapkan secara sempurna di muka bumi. Kasus kejahatan akan menurun drastis hingga titik terendah. Keamanan dan keadilan akan terwujud dalam kehidupan. Wallahualam bissawab. [By]

Berawal dari Kerinduan, Mudik Kini Jadi Tradisi

Berawal dari Kerinduan, Mudik Kini Jadi Tradisi

 


Arus balik erat hubungannya dengan aktivitas mudik sebelum hari raya

 Hal ini telah menjadi tradisi masyarakat Indonesia di setiap tahunnya

____________________


Penulis Tinah 

Kontributor Media Kuntum Cahaya, Pemerhati Umat dan Pegiat Literasi AMK 


KUNTUMCAHAYA.com, OPINI - Tak jauh berbeda dengan perjalanan saat mudik menjelang lebaran. Perjalanan arus balik para pemudik menyisakan cerita yang menarik untuk dibahas. Mereka rela kepanasan, kehausan, kelaparan, bahkan ada yang kebelet pipis saat terjebak kemacetan.


Ini seperti yang dialami oleh Ny. Titin, pemudik asal Tasikmalaya yang melakukan perjalanan pulang ke Kota Bandung. Yang menyampaikan keluh kesahnya saat terjebak macet sementara anaknya kebelet pipis. "Anak saya kebelet pipis saat terjebak kemacetan berjam-jam di Garut menuju Bandung, maju kena mundur kena, sampai anak saya gelisah karena pingin buang air kecil," ujarnya. (IDEJABAR, Sabtu 13 April 2024)


Arus balik erat hubungannya dengan aktivitas mudik sebelum hari raya yang telah menjadi tradisi masyarakat Indonesia di setiap tahunnya. Mudik menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia ( KBBI) berasal dari kata 'udik' yang mengandung arti dusun, desa, atau kampung. Mudik bisa diartikan kembalinya perantau ke kampung halaman untuk bertemu dan berkumpul dengan keluarga. Sementara dalam arti yang lebih luas, mudik berarti menghidupkan kembali semangat gotong royong, kekeluargaan, persaudaraan, para perantau saat mereka kembali ke komunitas di mana mereka tinggal.


Menurut Prof Heddy Shri Ahimsa Putra, Antropologi Universitas Gajahmada (UGM) Yogyakarta, istilah mudik sendiri dikenal mulai tahun 1970 an. Setelah masa orde baru melakukan pembangunan yang dipusatkan di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Bandung, dan Medan. Inilah yang menyebabkan orang tertarik untuk melakukan perpindahan dari desa ke kota (urbanisasi) untuk menetap dan mencari pekerjaan. 


Ada beberapa faktor yang menjadi pemicu terjadinya urbanisasi, salah satunya adalah faktor pembangunan yang tidak merata. Akibatnya timbul ketimpangan kondisi masyarakat antara kehidupan desa dan perkotaan. 


Sampai saat ini kota-kota besar masih memiliki daya tarik tersendiri. Masih dianggap sebagai tempat yang mudah untuk menggapai impian, cita-cita, tempat untuk merubah nasib menuju kehidupan yang lebih baik. Meski, terkadang perbaikan kehidupan tak semudah membalikkan kedua telapak tangan. Faktanya, banyak para pendatang yang luntang lantung hidup di jalanan, ketika mereka datang tanpa dibekali dengan keahlian yang menunjang.


Urbanisasi juga tak bisa lepas dari lapangan pekerjaan khususnya sektor pertanian yang semakin hari makin berkurang. Eksploitasi lahan secara besar-besaran oleh para kapitalis yang didukung sepenuhnya penguasa demi memenuhi ambisi mereka mencari keuntungan dan mempertahankan kekuasaan. Mengakibatkan para petani kehilangan lahan pertanian. Lihat saja, sawah-sawah kini berubah menjadi kawasan perumahan elite, pabrik-pabrik, semua itu keberadaannya bukan untuk rakyat. Kalau pun menyentuh rakyat, mereka hanya jadi buruh dengan upah yang sangat rendah. Semua itu membuktikan bahwa dalam sistem demokrasi kapitalis, penguasa tak pernah tulus dalam melayani rakyatnya. Sampai kapan pun yang namanya kesejahteraan ekonomi bagi rakyat dalam sistem ini tak akan pernah terwujud, meski pemimpin berganti lima tahun sekali.


Lain halnya dengan Islam yang memandang bahwa kesejahteraan masyarakat dalam sektor ekonomi baik yang menyangkut papan, sandang dan pangan. Semuanya merupakan kebutuhan pokok yang harus terpenuhi, karena jika tidak terpenuhi dapat menimbulkan ketidakstabilan dan kekacauan di tengah-tengah masyarakat. Pemenuhan kebutuhan ini dibeban secara mutlak kepada negara. Negara akan memastikan setiap individu masyarakat bisa mengakses kebutuhan pokok tersebut dengan mudah, baik yang miskin atau kaya, baik yang di kota maupun yang di desa.  


Negara dengan sistem Islam menganggap bahwa siapa saja yang menjadi penguasa. Siapa pun pemimpinnya, ia harus bisa menjadi pemimpin yang mampu melindungi, mengayomi, dan melayani rakyat. Dengan tulus tentunya, sebagai wujud ketaqwaannya kepada Allah Swt. Sebab, syariat Islam telah menetapkan jika keberadaan penguasa atau pemimpin itu laksana penggembala, sekaligus pelindung bagi umatnya. Rasulullah saw. bersabda: "Sesungguhnya seorang pemimpin itu adalah perisai, orang-orang berperang di belakang dia dan berlindung kepada dia." (HR al- Bukhari dan Muslim).


Begitu pun dengan kebutuhan jasa atau layanan publik yang menjangkau masyarakat secara luas seperti, kesehatan, pendidikan, dan keamanan, semuanya harus dipenuhi oleh negara. Pemenuhan ketiganya termasuk masalah yang sangat penting bagi kemaslahatan umat. Negara harus mewujudkan pemenuhan layanan publik tersebut agar bisa dinikmati oleh seluruh rakyat, baik muslim maupun non muslim, miskin atau kaya, menyebar di kota dan di desa. Seluruh pembiayaannya diambil dari kas negara (Baitulmal).


Islam memandang pentingnya mengoptimalkan semua potensi sumber-sumber ekonomi seperti sektor perdagangan, pertanian, kepemilikan umum, dikelola dengan sebaik-baiknya karena berpotensi pada pendapatan yang sangat besar. Semua pendapatan itu akan dikumpulkan di baitulmal untuk dikelola dan didistribusikan demi keberlangsungan dan kemaslahatan masyarakat. 


Dengan begitu, hanya dengan penerapan syariat Islam kesejahteraan masyarakat akan terwujud. Karena, dalam Islam pemerataan pembangunan baik di kota maupun desa bisa direalisakan untuk seluruh masyarakat. Dengan penerapan Islam, urbanisasi bisa dihindari. Tak ada lagi cerita kepanasan, kehausan, kelaparan di tengah kemacetan.


Ayo, kita tinggalkan sistem yang tidak berpihak kepada rakyat. Kita ganti dengan sistem Islam. karena, hanya sistem Islam yang terbukti selama tiga belas abad peduli dan mampu melindungi seluruh rakyat.  Wallahualam bishawab [Dara]

Kemacetan Mudik Masih Menghantui?

Kemacetan Mudik Masih Menghantui?

 


Permasalahan yang terus terjadi saat mudik menjadi bukti bahwa mitigasi negara tidak berjalan sebagaimana mestinya

Alhasil, permasalahan yang sama terus berulang setiap tahunnya dalam sistem kapitalisme

__________________


Penulis Munawwarah Rahman, S. Pd

Kontributor Media Kuntum Cahaya dan Praktisi Pendidikan


KUNTUMCAHAYA.com, OPINI - Mudik sudah menjadi tradisi menjelang hari raya Idulfitri. Namun, di tengah hiruk-pikuk tradisi ini. Lagi-lagi masyarakat dihadapkan pada kondisi seperti tahun-tahun sebelumnya, yang horor jauh dari kata aman dan nyaman. 


Salah satu polemik yang sering menghantui para pemudik adalah terjebak kemacetan parah. Seperti waktu tempuh perjalanan ke Merak, naik signifikan selama periode mudik lebaran 2024. Berdasarkan pantauan CNBC Indonesia pada 06/04/2024, waktu tempuh hingga bisa naik ke atas kapal tembus tujuh jam.


Pusat kemacetan adalah sebelum embarkasi ke kapal, di mana calon penumpang harus mengantre dalam tiga kantong berbeda sebelum naik ke kapal. Bahkan, antrean tersebut dapat menempuh waktu hingga 4 jam.


Sebelum sampai pelabuhan Merak, kemacetan parah juga terjadi di Tol Tangerang-Merak KM 95. Dari pantauan CNBC Indonesia sekitar pukul 3:41 WIB, kendaraan yang melintas terhenti beberapa menit. Kabarnya, kemacetan dipicu oleh penumpukan antrean pemudik ke gerbang tol merak dan Km 95 yang biasanya menjadi titik awal kemacetan. Sabtu (6/4/2024). (CNBC Indonesia/Sefti Oktaranisa).


Selain dihantui kemacetan parah, masyarakat juga dibayangi rawannya kecelakaan. Tahun 2024, masa mudik Idul Fitri telah mencapai 213 kecelakaan. Dengan perincian 23 orang meninggal dunia, 39 orang luka berat, dan ratusan lain luka ringan. 


Melihat fakta yang terus berulang, pemerintah telah berupaya mengatur skema kebijakan agar memperlancar perjalanan mudik dengan beragam cara seperti: memberi diskon tiket, menerapkan sistem ganjil genap, dan lain-lain.


Namun, walau skema kebijakan telah dilakukan. Faktanya, kemacetan masih terus menghantui di setiap waktu-waktu mudik. Parahnya bukan saja masalah macet, melainkan kecelakaan maut yang terjadi di KM 58 Tol Jakarta-Cikampek. Akibatnya, 12 orang dinyatakan meninggal dunia. Peristiwa nahas itu terjadi di jalur contraflow Cikampek menuju Jakarta dan melibatkan tiga kendaraan. (Viva, 8/4/2024).


Permasalahan yang terus terjadi saat mudik menjadi bukti bahwa mitigasi negara tidak berjalan sebagaimana mestinya. Alhasil, permasalahan yang sama terus berulang setiap tahunnya dalam sistem kapitalisme. 


Kapitalisme merupakan sistem kehidupan yang berlandaskan pada materi. Wajar, jika prinsip pelayanan negara saat ini tidak terlepas dari bisnis. Karena, hal tersebut bisa menghasilkan keuntungan. Pada akhirnya, prinsip inipun membuat negara lalai dalam melayani dan ujung-ujungnya menzalimi rakyat. 


Sementara, dengan kejadian yang terus berulang masyarakat seolah terbiasa dan memaklumi kelalaian  tersebut. Bahkan, pemakluman itu dijadikan sebagai legalitas negara membuat pemerintah dalam sistem kapitalisme merasa cukup dan tak lagi memikirkan langkah yang tepat untuk menyelesaikan persoalan rakyatnya. Solusi yang diberikan hanya solusi parsial dan pragmatis. 


Nyatanya, beberapa solusi yang telah dilakukan tak menyelesaikan persoalan. Masyarakat tetap saja terjebak pada persoalan yang sama. Parahnya, perjalanan mudik yang horor telah mengorbankan hari-hari terakhir Ramadan dan kekhusyuan tak bisa dirasakan oleh para pemudik.


Pelayanan Mudik dalam Sistem Islam


Pelayanan negara saat mudik dalam sistem kapitalisme tentu berbeda dalam sistem Islam. Sebab negara Islam adalah pelayan umat (Raain). Sebagaimana sabda Rasulullah saw., “Imam (Khalifah) adalah raa’in (pengurus rakyat) dan ia bertanggung jawab atas pengurusan rakyatnya.” (HR al-Bukhari)


Melalui hadis ini, negara dalam sistem Islam akan bertanggungjawab penuh untuk menjamin keselamatan dan kenyamanan pada seluruh rakyat saat mereka sedang mudik. Negara akan melakukan mitigasi secara optimal sebagai bentuk periayahan atas rakyat, khususnya dalam hal transportasi mudik. Beberapa di antaranya adalah:


Pertama, Sistem Islam akan melakukan pembangunan dan perbaikan jalan secara totalitas, baik jalan arteri maupun jalan tol. Perbaikan ini dilakukan di jalur utama hingga jalan-jalan menuju desa dan perkampungan. Tak lupa melakukan pengaspalan jalan menggunakan bahan yang terbaik sesuai dengan kontur alam wilayah. Selain itu, lampu jalan akan diperhatikan oleh negara sehingga setiap jalan ada penerangannya. 


Kedua, Penyediaan moda transportasi saat mudik seperti kereta api, kapal laut dan pesawat. Masyarakat tak perlu khawatir dengan pembiayaannya. Sebab, semua akan tersedia dengan harga yang murah bahkan gratis, aman, dan nyaman. 


Dengan pelayanan seperti ini, masyarakat akan mendapatkan haknya dalam mengakses moda transportasi jenis apapun secara murah, aman, nyaman, dan berkualitas. Dengan begitu masyarakat akan terhindar dari antrean panjang, berebut tiket, bahkan kemacetan panjang.


Ketiga, penyediaan transportasi atas dasar layanan sosial, bukan bisnis. Sehingga prinsip-prinsip untung rugi tidak akan ditemukan dalam sistem Islam. Menariknya, negara akan menyediakan rest area dengan prinsip pelayanan di sejumlah titik jalan. 


Hal ini sesuai dengan kebijakan yang pernah dilakukan pada masa Khalifah Umar bin Khattab. Di mana, beliau membangun (rumah singgah yang menyediakan bahan makanan) untuk Ibnu sabil (orang yang dalam perjalanan).


Keempat, Sistem Islam akan mengembangkan industri transportasi dengan teknologi terbaru. Sehingga transportasi yang digunakan terjamin kelayakan dan kualitasnya.


Demikian, peran negara menggunakan sistem Islam dalam meriayah dan melindungi rakyatnya. Sehingga kemacetan tak menghantui para pemudik di setiap perjalanannya. Tentu, hal ini bisa dirasakan ketika sistem Islam kembali berjaya dalam kehidupan ini. Wallahualam Bissawab. [Dara]

Generasi Rusak, Dampak Diterapkannya Sistem Sekuler

Generasi Rusak, Dampak Diterapkannya Sistem Sekuler

  


Rusaknya generasi ini disebabkan penerapan sistem sekuler oleh negara

Artinya, negara menjamin semua warganya memiliki hak kebebasan asal tidak merugikan orang lain

______________________________


Penulis Ummu Bagja Mekalhaq 

Kontributor Media Kuntum Cahaya 


KUNTUMCAHAYA.com, OPINI - Sistem sekuler artinya memisahkan agama dari kehidupan. Oleh karena itu banyak umat muslim yang rusak moralitasnya, minim ilmu agamanya, hidupnya serba boleh/permisif. Sehingga banyak muslim yang hidup tanpa tujuan yang jelas.


Akhirnya banyak muslim termasuk Gen Z yang menjalani hidup bebas/sekuler, tidak mau diatur dengan aturan Islam. Akibatnya, generasi saat ini, gemar bermaksiat seperti pacaran seolah lumrah, meskipun di bulan Ramadan tetap bermaksiat, naudzubillaah


Perlu diketahui rusaknya generasi ini disebabkan penerapan sistem sekuler oleh negara. Artinya, negara menjamin semua warganya memiliki hak kebebasan asal tidak merugikan orang lain. Oleh karena itu, ketika kita melihat maraknya pelaku maksiat, maraknya pacaran, zina, selingkuh, mabuk, dan lainnya, kita tidak punya kuasa melarang dan menghentikan mereka, betul?


Pada akhirnya gelombang maksiat terjadi di mana-mana. Contoh kasus yang terjadi di Lampung Utara, seorang remaja berusia 15 tahun dalam kondisi mengenaskan disiksa oleh 10 orang laki-laki dengan tidak berperikemanusiaan, serta banyak contoh lainnya.


Kondisi ini pun diperparah lagi oleh pemerintah yang menghukum pelaku kriminalitas tidak adil, berlaku hukum karet standar ganda. Ketika pelakunya pelajar disebut di bawah umur dan proses hukumnya  ringan, tidak menimbulkan efek jera. Maka kriminalitas makin tinggi dan meningkat. 


Padahal seharusnya pemuda hari ini pemimpin masa depan. Untuk itu perlunya mengembalikan ghirah pemuda kepada Islam kafah dengan cara sebagai berikut: 


Pertama, menyadarkan pemuda secara individu memiliki keimanan tertinggi dengan cara pemuda tersebut harus mau ditasqif/dibina dengan akidah Islam agar memiliki keimanan yang kuat.


Kedua, setelah dibina harus mau berinteraksi dengan umat, yakni menyampaikan kembali hasil tasqif tersebut kepada masyarakat, mengajak masyarakat kembali kepada aturan Islam, bukan yang lain.


Ketiga, thalabunusrah minta dukungan kepada yang memiliki kekuasaan untuk bersama menerapkan aturan Islam kafah, sesuai Al-Qur'an dan Sunnah. 


Keempat, elemen inilah yang harus ditempuh agar generasi kuat menjadi garda terdepan dalam mewujudkan Indonesia emas 2045.


Apalagi hal ini didukung oleh penguasa, karena satu-satunya yang sangat berpengaruh untuk mengubah sistem adalah sang pemilik kekuasaan/pemimpin/presiden dan jajarannya.


Ramadan Saat yang Tepat untuk Perubahan Hakiki


Ramadan bulan mulia, bulan penuh berkah, penuh rahmat dan ampunan. Di bulan Ramadan pula diturunkannya Al-Qur'an sebagai petunjuk, pedoman hidup bagi seluruh manusia yang beriman. 


Dzalikalkitaabu laaraiba fiih huddan lilmuttaqiin

Artinya: "Kitab/Al-Qur'an ini tidak ada keraguan di dalamnya, petunjuk bagi orang yang bertakwa." (QS. Al-Baqarah: 2)


Namun sayang, banyak umat Islam  yang tidak menjadikan Al-Qur'an sebagai aturan hidup, petunjuk hidup, dikarenakan akidah Islam yang diyakininya tidak kuat. Imannya rapuh, gersang, bisa jadi hilang, terkalahkan oleh nafsu buruk yang lahir dari sistem sekuler.


Ditambah lagi, kurangnya ilmu agama dalam generasi. Kurangnya didikan keluarga, kurangnya kontrol masyarakat terdekat, tetangga sekitarnya. Sehingga menyebabkan para pemuda hidup permisif, hidup serba boleh tanpa aturan Islam.


Padahal, di bulan Ramadan yang seharusnya wajib puasa, tetapi banyak remaja muslim merokok di sembarang tempat, tidak merasa berdosa, naudzubillaah.


Pagi ini, serasa malu, saya menyaksikan sendiri, mendapati tiga orang pria remaja dan dewasa, kumpul duduk santai pukul 07.00 WIB sambil merokok. Ku hampiri mereka meski rasa takut itu ada, manusiawilah. Tetapi demi melaksanakan nahi mungkar, insyaallah siap dengan risiko yang terjadi saat itu.


Kuberanikan menyapa mwereka saat rokok tepat diisapnya, berdialoglah aku dan mereka. 

Aku: Waduh, weyyy naon eta? (bahasa sunda)

"Waduh, apa itu?"

Mereka: Aaaa, calangap

(bahasa sunda) kaget, muka penuh malu

Aku: Difoto ku ibu, nyak! (Dikamera sama ibu, ya)

"Awas, tong didieu!" (Awas jangan di sini!). Aku mengusir mereka.


Mereka pun bubar, muhun sambil nunduk dan berkata, "Muhun ibu." (Iya ibu) 


Alhamdulillaah, mereka masih nurut, masih ada rasa takut, coba kalau beringas, pasti bahaya menimpa.


Artinya  betapa kurangnya rasa empati perhatian dan didikan keluarga, masyarakat, kerabat dan lingkungan terdekat untuk saling menasihati dalam kebaikan dan kesabaran. Padahal perkara saling nasihat diperintahkan dalam Al-Qur'anulkarim


"Saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran. (TQS. Al-Ashr: 3).


Namun saat ini perkara amar makruf nahi mungkar tidak dipraktikkan hanya di masjid dalam kegiatan pengajian saja. Tidak secara umum di mana pun, kapan pun, seperti yang Rasulullah saw. contohkan.


Tradisi amar makruf nahi mungkar terhalang oleh paham kebebasan, terkalahkan oleh paham sekularisme, di mana memisahkan agama dari kehidupan sudah tertancap kuat. Saat paham sekularisme ini dikenal oleh umat Islam, maka jadilah umat Islam hidup dalam ketidakpastian, artinya agamanya masih Islam, namun jauh dari ajaran Islam. 


Jika kondisinya sudah seperti ini, maka tugas kita semua untuk memahamkan kembali ajaran Islam kafah, sebagai akidah yang harus diyakini dengan cara mentasqif/membina umat dimulai dengan penguatan akidah Islam.


Akidah, keyakinan adanya Allah sebagai Pencipta manusia, alam dan kehidupan dan Allah sebagai Al-Mudabbir/Pengatur manusia, alam dan kehidupan dengan memberi aturan hidup  Al-Qur'an dan Sunnah. 


Yang lebih penting dari aturan hidup/Al-Qur'an ini yakni harus ada seorang penguasa muslim tunggal/khalifah yang mampu menerapkan hukum Allah/Al-Qur'an. 


Karena jika bukan penguasa yang menerapkannya, niscaya umat Islam diliputi kegelapan. Tidak paham dengan agamanya sendiri. Agama sekadar tulisan di KTP saja, nihil dari penerapan terhadap diri sendiri, masyarakat dan lebih luas nihil dari penerapan oleh negara.


Terakhir, bulan Ramadan seharusnya menjadi penguat iman perubahan kebangkitan dan peradaban Islam. Namun karena akidah yang diemban negara, adalah aturan demokrasi sekuler, akhirnya merusak umat Islam itu sendiri. Baik secara individu, masyarakat bahkan negara berlomba maksiat. Termasuk maraknya maksiat di bulan Ramadan saat ini.


Pandangan Islam Terkait Sekularisme 


Sekularisme paham kebebasan yang memisahkan agama dari kehidupan tidak boleh dijadikan aturan hidup umat Islam. Jika diambil, maka rusaklah umat Islam. Sekularisme sangat bertentangan dengan akidah Islam. 


Umat Islam adalah umat terbaik, hendaknya kembali kepada ajaran Islam kafah, sesuai Al-Qur'an dan Sunnah. Buang jauh aturan sekularisme. Jika kembali kepada Islam kafah, maka otomatis semua amal akan sesuai dengan syariat Islam.


Jika Al-Qur'an sudah dijadikan pedoman hidup dan Sunnah Rasulullah saw. dijadikan contoh teladan, 100% diyakini kebenarannya, otomatis maraknya maksiat di bulan Ramadan bisa ditekan. Apalagi negara yang berkuasa menegakkannya. Wallahualam bissawab. [SJ]

Emang Boleh Sebegitu?

Emang Boleh Sebegitu?

 


Emang boleh sebegitu mudah lupa?

Sebulan penuh kata-kata hikmah sebagai pengejawantah

Di mana ruang ketakwaan dan kedermawanan?

Malah di awal digas takwa dan derma bablas

_________________________


Penulis Hanif Kristianto 

Sastrawan Politik dan Analis Politik - Media 


KUNTUMCAHAYA.com, PUISI -

Di mana ada halalbihalal

Di situ ada acara makan-makan

Di mana ada halalbihalal

Di situ kumpulan manusia lulusan Ramadan


Halalbihalal dalam sebuah perayaan

Nikmati bertemu sanak dan handai taulan

Kawan-kawan sepekerjaan

Teman-teman seperjuangan


Makanan hidangan digelar lebar

Sempat kalap setelah menahan sebulan

Ingat pesan ahli kesehatan akan usia yang tak lagi muda

Semua berawal dari yang masuk ke badan


Emang boleh sebegitu meriah?

Di acara halalbihalal hadirkan tamu pengisi acara

Perempuan cantik dengan lirik yang berdendang

Ingatan tadarus dari langgar pun hilang


Emang boleh sebegitu atraktif?

Di acara halalbihalal berjarak ria

Cekakak-cekikik melupakan dzikir malam yang syahdu

Kok ya begitu mana buah madu dari puasa sebulan lalu?


Emang boleh sebegitu mudah lupa?

Sebulan penuh kata-kata hikmah sebagai pengejawantah

Di mana ruang ketakwaan dan kedermawanan?

Malah di awal digas takwa dan derma bablas


Hiasilah halalbihalal dengan dakwah bilhal

Perwujudan takwa dan derma dalam lapangan dan susah

Cerminan manusia yang kembali kepada Allah di jalan yang benar

Tak perlu membelokkan manusia yang malah jadi wasilah bersalah


Hiasilah halalbihalal dalam naungan keimanan

Mengingat kembali di Syawal sebagai syahadat awal

Persaksian kembali suci dan rendah diri

Untuk teguh berkomitmen menjadi hamba Rabbani


Halalbihalal

Pupuk kembali iman dan kepribadian Islam

Sistem sekuler dan liberal seolah jadikan Ramadan seremonial

Selepas itu seolah sah bebas suka-suka


Apakah Allah rida dengan demikian hal?

Kalau semua masih ingat bahwa manusia menumpang di bumi Allah

Kalau semua masih sadar bahwa jiwa dalam genggaman-Nya

Lantas, kenapa sebegitu rupa merusak akal dan kepribadian manusia? [GSM]


#halalbihalal #ramadan #idulfitri1445h #lebaran #sukacita

Memperjuangkan Islam Kafah Bukanlah Radikalisme Melainkan Kewajiban

Memperjuangkan Islam Kafah Bukanlah Radikalisme Melainkan Kewajiban

 


Istilah radikalisme dituduhkan kepada orang-orang yang taat beragama dan mengajak pada syariat

Sedangkan aktivitas para ulama atau tokoh Islam yang ingin Islam diterapkan secara keseluruhan atau kafah, dianggap intoleran dan teroris

_________________________


Penulis Oom Rohmawati

Kontributor Media Kuntum Cahaya dan Pegiat Member AMK


KUNTUMCAHAYA.com, OPINI - Semangat ibadah kaum muslimin di bulan Ramadan senantiasa meningkat dan terjaga, termasuk di kalangan remaja. Banyak di antara mereka yang antusias mengikuti berbagai kajian keagamaan. Seperti kegiatan yang berlangsung di Angkringan Rumah Kayu Citarum, Desa Mekar Rahayu, Kecamatan Margaasih Kabupaten Bandung. Puluhan pemuda dari sejumlah komunitas dan mahasiswa hadir mengikuti kegiatan Ruang Obrolan Terbuka Asyik di Bulan Ramadan (Rotasi Ramadan).


Acara ini diinisiasi oleh Pemuda Sapu Bersih Hoaks yang mengusung tema Ngaso Bari Sila (Ngawangkong Soal Bahaya Radikalisme dan Situasi Wilayah). Ikrima Qolbiyah selaku ketua menyampaikan bahwa kegiatan tersebut diharapkan menjadi ajang untuk sama-sama menolak paham radikalisme dan memiliki waspada tersendiri dalam hal isu situasi wilayah. Digelarnya kegiatan ini sebagai wujud aktualisasi Pemuda Saber Hoaks menjaring potensi pemuda di Kabupaten Bandung sekaligus open recruitment anggota. Harapannya pemuda menjadi yang terdepan untuk menyaring potensi bentuk ancaman dan bahaya informasi radikalisme lewat media. Acara yang dibuat menarik ini dihadiri juga oleh narasumber dari Kepala Badan Kesbangpol Kabupaten Bandung yang diwakil Supriadi selaku Analis Kebijakan Muda, Iwan Nuryan sebagai Direktur Lembaga Kajian Kebijakan Publik dan Hukum (LKKPH) Neraca Bandung, dan Ketua Jabar Sapu Bersih Hoaks, Alfianto Yustinova, yang diwakili oleh Ganjar Darusalam. (Jabarekspres, Selasa 26 Maret 2024)


Isu radikalisme senantiasa  digaungkan di negeri ini. Berbagai forum dan kegiatan pun kerap dilakukan untuk menangkal bahaya radikalisme terutama bagi generasi.


Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) radikalisme adalah paham atau aliran yang menginginkan perubahan sosial secara drastis dengan cara kekerasan dan ekstremis. Contohnya tindakan makar, revolusi demonstrasi dan protes sosial secara anarkis serta berbagai aksi yang merusak. Sedangkan istilah radikal mengacu pada hal-hal mendasar, prinsip-prinsip fundamental, pokok soal, dan esensial atas bermacam gejala, atau juga bisa bermakna “tidak biasanya.” Maka wajar jika radikalisme dianggap sangat membahayakan dan harus diwaspadai sebagaimana yang diungkapkan Ikrima Qolbiyah di atas. 


Sayangnya, saat ini istilah radikalisme dituduhkan kepada orang-orang yang taat dalam beragama dan mengajak pada syariat. Di Indonesia sendiri kriteria "radikal" adalah gerakan-gerakan keislaman, aktivitas para ulama atau tokoh Islam yang ingin Islam diterapkan secara keseluruhan atau kafah, mereka dianggap intoleran dan teroris. Sehingga terjadilah persekusi ulama dan pembubaran acara-acara dakwah ustaz-ustaz yang dianggap radikal. Meskipun dari masyarakat sendiri menyambutnya, tetapi tetap dibubarkan oleh kelompok-kelompok yang mengklaim dirinya moderat dan toleran.


Kemunculan istilah radikal, intoleran, dan teroris ataupun ekstremis dan garis keras, berawal dari peristiwa 11 September 2001. Tendensi kuat bahwa yang dimaksud dengan istilah-istilah tersebut terlihat dari pernyataan George W. Bush yang merupakan Presiden AS saat itu. Saat itulah dunia mengenal istilah perangi terus terorisme yang kemudian bergeser become a war on radicalism or extremism.


Untuk melanggengkan ideologi kapitalisme dan imperialismenya di dunia, khususnya di negeri-negeri Islam, mereka melakukan propaganda perang melawan siapapun yang melawan atau menolak pemikiran Barat dengan melakukan framing negatif dan memberikan stigma radikal tersebut kepada muslim yang menentang ideologi kapitalisme. Sebaliknya, mereka memuji muslim yang pro ideologi kapitalisme sebagai moderat, yaitu mereka yang cinta tanah air, toleransi tinggi, antikekerasan, dan akomodatif terhadap budaya lokal. Bahkan arti dari toleransi pun lebih dikerucutkan yaitu muslim yang tidak memberikan ucapan selamat Natal pada orang Kristen. 


Sementara kepada muslim yang meneladani Rasulullah saw. secara keseluruhan baik dalam bersikap, bermuamalah, berdakwah, berpolitik dan bernegara inilah yang sering kali dihadang dengan berbagai cara oleh musuh-musuh Islam, dan para sekutunya. Di antaranya melalui stigma-stigma negatif, pelabelan, ataupun berbagai rekayasa yang sesungguhnya memutarbalikkan fakta arti radikalisme. Perjuangan dakwah yang akan menjadikan Islam sebagai rahmatan lil aalamiin justru dituduh mengancam dan membahayakan. Inilah hakikatnya yang terjadi. Artinya ada perang istilah dan pemikiran yang menjadi bagian dari pertarungan abadi antar Islam dan kekufuran. 


Ramadan sejatinya waktu yang tepat untuk meningkatan ketakwaan bagi umat muslim, juga para pemuda yang akan menjadi benteng pertahanan suatu negara, tetapi dengan informasi atau pemahaman yang moderat, apakah bisa terwujud? Sebab moderat lahir dari sistem kapitalisme yang melahirkan kebebasan, menjauhkan agama dari aturan hidup. Seperti acara yang digelar di atas jelas muatannya untuk menolak Islam kafah (menyeluruh), yang menyerukan persatuan umat, tapi menurut mereka radikal. Itu berarti mereka telah membajak potensi ketaatan yang benar pada para pemuda dan membawanya pada pemikiran yang dibawa oleh Barat. 


Mestinya umat muslim sadar tentang penyesatan opini ini dan apa yang mereka lakukan di balik perang melawan radikalisme. Umat yang telah memiliki pemahaman yang benar harus terus berupaya untuk menjelaskan ajaran Islam yang sesungguhnya, sampai masyarakat menjadi paham bahwa semua ajaran Islam  adalah rahmat dari Allah Swt., bukan keburukan sebagaimana yang dipropagandakan Barat. Dalam Al-Qur'an surah Al-Baqarah ayat 217 Allah Swt. berfirman;

"...Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai kamu murtad (keluar) dari agamamu, jika mereka sanggup. Barang siapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, mereka itulah penghuni neraka, kekal di dalamnya." 


Dakwah Islam bersifat fikriyah (pemikiran) dan unfiyah ‘tanpa kekerasan’ sehingga tidak mungkin melahirkan terorisme. Perlu diketahui bahwa ancaman sesungguhnya bagi negeri-negeri muslim adalah sistem kapitalisme. Faktanya jelas kita bisa saksikan berbagai kerusakan di bidang ekonomi, hukum, sosial, dan politik yang terjadi di negeri-negeri muslim justru bersumber dari penerapan sistem kapitalisme ini.


Oleh karenanya sudah saatnya umat memiliki kesadaran dan kecerdasan akan situasi ini dan meningkatkan kewaspadaan agar tidak terjebak dan terbawa arus. Karena senyatanya yang harus dimusuhi adalah sistem dan ideologi  kapitalisme serta para pengusung utamanya. Karena ini merupakan wujud dari keimanan kita, untuk bertarung dan memperjuangkan yang hak dari kebatilan. Sebagai seorang muslim hendaknya optimis karena Allah telah berjanji dalam Al-Qur'an surat An-Nur ayat 55 bahwa kaum muslimin yang senantiasa berpegang teguh dengan syariat-Nya, pada akhirnya akan dimenangkan. Wallahualam bissawab. [GSM]

Masih Melanjutkan Kemarin

Masih Melanjutkan Kemarin

  


Masih melanjutkan kemarin

Bi'ah yang baik dipupuk biar tak lapuk

Jika meninggalkan yang jelek bisa, artinya taat itu mudah

Jika bisa jujur dan makmur, artinya istikamah lebih berkah

_________________________


Penulis Hanif Kristianto 

Sastrawan Politik dan Analis Politik-Media 


KUNTUMCAHAYA.com, PUISI - Kemarin berkekuatan sebulan panjang

Menahan tiada makan dan minum di siang

Malam penuh dengan kedekatan

Mendirikan dan mengisi dalam sujud panjang yang menawan


Kemarin hati lembut dalam pembagian

Mengirimkan harta terbaik untuk yang baik-baik

Bersuka cita berbagi dalam berbuka melepas dahaga dan kelaparan

Suatu peluang menarik penuh tanda Ramadan jadi ikonik


Kemarin mata tak sempat terpejam

Menikmati ayat demi ayat yang tersurat

Melengkingkan suara melalui pengeras toa

Suatu jalan untuk mendalami hidup berkah atas titah-Nya


Kemarin mencari berkah di pagi buta

Mengisi energi untuk berpuasa sehari lamanya

Mengosongkan isi tubuh biar istirahat sesuai haknya

Makrifat diri menjaga aset yang diberi dengan tanpa meminta


Masih melanjutkan kemarin

Bi'ah yang baik dipupuk biar tak lapuk

Jika meninggalkan yang jelek bisa, artinya taat itu mudah

Jika bisa jujur dan makmur, artinya istikamah lebih berkah


Masih melanjutkan kemarin

Bukan ditinggalkan atau tertinggal dalam lipatan

Bukan ditutup dan dihapus biar terputus

Bukan dibiarkan menjamur lalu menatap yang lain meraih mujur


Masih melanjutkan kemarin

Hari ini tetap menatap kepastian

Hari esok diiringi doa harapan kebaikan

Hari kemarin menorehkan sejarah tercatat baik dalam berbuat [By]


#idulfitri #lebaran #idulfitri1445h #puisi #puisihanifk #sastra #sastraindonesia

Masih Belum Berakhir

Masih Belum Berakhir

  


Masih belum berakhir

Ramadan hanya tempat parkir berpikir

Mengosongkan jiwa merasai diri yang alpa 

Pengejawantahan dari pembelajaran atas hidup yang berkesinambungan

_________________________


Penulis Hanif Kristianto 

Sastrawan Politik dan Analis Politik-Media 


KUNTUMCAHAYA.com, PUISI - Kiranya Ramadan sudah selesai

Cukup sampai di sini ketaatan sementara

Sehari setelah Idul Fitri tiba

Semua kembali ke semula


Mulai dari nol ya dalam hitungan

Seolah Ramadan berlalu begitu saja

Seolah Ramadan bulan penuh taat

Lalu bulan berikutnya penuh maksiat


Masih belum berakhir ternyata

Selama nafas panjang dalam badan

Selama perasa mencerap energi alam sekitar

Selama berpijak di atas bumi luas tak berbatas


Masih belum berakhir di sini

Karena kemenangan ada dalam tiap ketaatan

Karena perjuangan tidak berhenti dalam kenikmatan

Dan garis akhir bukan batas berhenti dengan pamrih


Idul Fitri telah mengoyak jiwa dalam memilih

Pemilahan kerikil tajam jadi lembut seperti larut

Pengayaan murni tanda siapa yang turuti 


Idul Fitri telah kembali ke dalam lubuk hati

Rela berkorban untuk kembali ke udik

Berjejalan dalam jalur mudik

Inilah wujud hidup yang panjang dan pendek berhimpitan


Masih belum berakhir

Ternyata permintaan untuk diterima semua amal

Khawatir amal terbang tak sampai diberikan balasan

Tak ada rasa putus asa berhadapan di altar pengharapan


Masih belum berakhir

Ramadan hanya tempat parkir berpikir

Mengosongkan jiwa merasai diri yang alpa 

Pengejawantahan dari pembelajaran atas hidup yang berkesinambungan [By]


#idulfitri #lebaran #idulfitri1445h #sukacita

Fitri Kembali Menyapa

Fitri Kembali Menyapa

  


Fitri kembali menyapa

Alarm untuk ingat hakikat untuk apa berpuasa?

Taat bukanlah hitungan sebulan Ramadan

Selama nyawa di kandung badan melekat sebuah pengabdian

_________________________


Penulis Hanif Kristianto 

Sastrawan Politik dan Analis Politik-Media 


KUNTUMCAHAYA.com, PUISI - Ramadan telah berpamitan pulang

Yakinlah Ramadan kembali datang

Itulah perjalanan waktu yang telah Allah tetapkan

Bagian dari masa memberi kesempatan kepada hamba yang berkepercayaan


Adapun jiwa ini yang dalam genggaman-Nya

Seribu tanda tanya masihkah bertandang?

Ternyata Ramadan datang banyak juga yang berpulang

Oh sungguh masuk akal siapa saja yang tak menyia-nyiakan kesempatan dari-Nya


Fitri kembali menyapa

Kembali makan dan berbuka di siang harinya

Sebulan penuh dalam tungku pembakaran dosa

Semoga tiada gosong tapi bersih tiada noda


Fitri kembali menyapa

Alarm untuk ingat hakikat untuk apa berpuasa?

Taat bukanlah hitungan sebulan Ramadan

Selama nyawa di kandung badan melekat sebuah pengabdian


Selamat merayakan Idul Fitri 1445 Hijriah

Di tengah derita umat yang belum tamat

Di ujung tanduk ideologi kapitalisme jahat yang segera hancur terlumat

Di akhir zaman yang siapapun bisa memilih dan terpilih [By]