Standarisasi Berislam: Seorang Penguasa atau Sang Pembawa Risalah
OpiniMaka sungguh, cukuplah Rasulullah saw. sebagai suri teladan
dan standar untuk berislam baik secara pribadi maupun dalam bernegara
_________________________
Penulis UmmiQyu
Kontributor Media Kuntum Cahaya dan Komunitas Rindu Surga
KUNTUMCAHAYA.com, OPINI - Buku 'Islam ala Prabowo' yang diluncurkan oleh pihak Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) pada bulan Agustus 2025 menuai berbagai respons dari masyarakat di media sosial.
Setelah satu tahun diterbitkan muncul diskusi dan perdebatan antar masyarakat mengenai isi buku tersebut dan mayoritas menilai buku tersebut berlebihan bahkan kekacauan terutama dalam memilih frasa dari judul 'Islam ala Prabowo'.
Adapun isi dari buku tersebut secara substansial (inti) berfokus pada 3 pilar yaitu dimensi keislaman dan spiritualitas, komitmen terhadap perdamaian dan keadilan sosial, serta prinsip pengabdian nyata untuk kesejahteraan rakyat.
Penyusunan buku ini didasari oleh upaya akademik untuk menggali nilai-nilai luhur, paradigma berpikir, serta kilasan sejarah perjalanan hidup Prabowo Subianto, mulai dari kehidupan pribadi hingga karir militer. Pembaca juga diajak memahami akar pemikiran yang membentuk karakter kepemimpinannya saat ini. (BeritaNasionalUpdate.Com, 13 September 2026)
Selain itu, buku ini juga merupakan kumpulan tulisan karya 21 penulis, yang terdiri dari tokoh agama, akademisi, diplomat dan politisi. Anehnya, akhir-akhir ini beberapa tokoh yang namanya tercantum sebagai penulis, justru mengaku merasa tidak menulis untuk buku tersebut.
Standarisasi dalam Berislam
Munculnya buku 'Islam ala Prabowo' yang menimbulkan kontroversi, bukan semata-mata karena Prabowo Subianto seorang Presiden, dan bukan pula karena di dalam buku tersebut ada sejumlah ulama, akademisi dan tokoh masyarakat. Melainkan sejak kapan Islam memiliki versi berdasarkan nama seorang penguasa? Apalagi di dalam negeri sekuler? Itulah yang menjadi pertanyaan sederhana dan yang paling mendasar.
Dalam sejarah Islam, kita mengenal pemimpin-pemimpin hebat, seperti kepemimpinan istimewa Khalifah Umar bin al-Khaththab, sang heroik dalam berjihad Shalahuddin al-Ayyubi atau penaklukan agung Muhammad al-Fatih. Kurang hebat apa keislaman mereka? Apa bisa dibandingkan dengan pemimpin negeri sekuler saat ini? Sangat jauh, akan tetapi tidak pernah ada istilah "Islam ala Umar" Atau "Islam ala Muhammad al-Fatih".
Setiap manusia khususnya seorang muslim, sudah seharusnya menentukan mana yang harus dijadikan standar dalam berislam, apakah seorang penguasa atau sang pembawa risalah Islam? Jika berstandar pada seseorang jelas keliru, sebab ketidaksempurnaannya sebagai seorang manusia yang tidak luput dari kesalahan, bahkan seorang ulama sekalipun. Oleh karena itu untuk melihat dan menilai dari perwujudan Islam yang sempurna bukan dari perilaku individu muslim apalagi dari seorang penguasa.
Dalam perspektif akidah Islam, tolok ukur atau standarisasi kebenaran berasal dari wahyu Allah Swt. (Al-Qur’an dan As-Sunnah) bukan dari figur manusia. Oleh karenanya kesempurnaan Islam akan tetap terjaga dan tak lekang oleh waktu. Kesempurnaan dan kebenaran Islam juga tidak membutuhkan legitimasi (pengesahan) dari manusia yang berkedudukan sekalipun.
Karena tugas dan kewajiban seorang manusia sebagai seorang hamba hanya untuk memahami, mentaati dan mengamalkan Al-Qur'an dan As-Sunnah. Di mana di dalamnya terdapat berbagai aturan, solusi dalam setiap permasalahan kehidupan serta hukum-hukumnya yang harus diterapkan dalam segala aspek kehidupan, mulai dari individu sampai kepada mengurusi negara. Tidak perlu lagi campur tangan manusia dalam menentukan hukum-hukum, cukuplah syariah Islam yang sudah sempurna.
Dengan begitu manusia akan meraih kemuliaan sejauh ia menyesuaikan pikiran, ucapan dan tindakannya dengan ajaran Islam yang universal. Karena sesungguhnya Islam bukan hanya sekedar agama tetapi sebuah ideologi yang berbeda dengan ideologi lain di mana sistem pemikirannya bergantung pada karisma atau otoritas tokoh tertentu.
Rasulullah Sebagai Panutan
Karena Islam adalah agama yang berdasarkan wahyu, maka Allah Swt. menisbatkannya kepada seorang manusia pilihan Allah Swt. yaitu Rasulullah saw. untuk merefleksikan Islam kepada umatnya. Sementara kita sebagai umat muslim diperintahkan untuk itibak (mengikuti) Rasulullah saw. sebagai figur, panutan dalam berislam di berbagai aspek dari urusan individu hingga urusan negara.
Allah Swt. berfirman:
“Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagi kalian, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) Hari Kiamat dan dia banyak mengingat Allah.” (TQS. Al-Ahzab [33]: 21)
Dalam perspektif fiqih siyaasah, seorang kepala negara dalam Islam wajib menjalankan amanah kepemimpinannya dengan ittiba kepada Rasulullah saw. sebagai kepala negara Islam di Madinah dalam mewujudkan keadilan, menjaga agama serta melindungi jiwa, akal, harta dan kehormatan masyarakat. Tentunya dengan menjalankan seluruh aturan Islam dan undang-undang secara menyeluruh yang bersumber pada Al-Quran dan As-Sunnah.
Maka sungguh, cukuplah Rasulullah saw. sebagai suri tauladan dan standar dalam berislam baik secara pribadi maupun dalam bernegara. Juga sebagai pelaksana aturan Islam di segala aspek kehidupan secara menyeluruh. Wallaahualam bissawab. [GSM/MKC]











