Eid Mubarak Diwarnai Utang yang Marak
Opini
Sistem Islam mewujudkan perekonomian yang menyejahterakan
sehingga memberi solusi bagi masyarakat dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari
_____________________________
Penulis Siska Juliana
Tim Media Kuntum Cahaya
KUNTUMCAHAYA.com, OPINI - Bulan Ramadan dan Idulfitri merupakan momen istimewa bagi setiap umat Islam di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Banyak persiapan yang dilakukan dalam menyambut Idulfitri baik itu moril dan materiil. Namun, di tengah kesempitan ekonomi yang melanda masyarakat, banyak di antara mereka yang memaksakan kehendak dalam mempersiapkan Lebaran sehingga terlilit utang.
Di Indonesia terdapat berbagai macam ritual menjelang Lebaran di antaranya mudik dan berbagi THR. Tentu saja hal ini tidak mudah dilakukan untuk saat ini sebab kondisi ekonomi yang tidak stabil.
Pada Februari 2026 inflasi tahunan mencapai 4,76 persen. Sedangkan nilai tukar rupiah per 10 Maret 2026 menyentuh level Rp16.879 per dolar AS. Hal ini merupakan sinyal bahwa biaya hidup makin meningkat, sementara ketahanan ekonomi negara makin menurun. (inilah.com, 14-03-2026)
Sinyal bahaya ini ditandai dengan harga pangan naik, ongkos mudik tetap berat, THR makin menyusut akibat potongan pajak, bansos tidak merata, dan kelas menengah makin bergantung pada utang jangka pendek untuk menutupi kekurangan pengeluaran.
Melonjaknya Utang
Berdasarkan data terjadi peningkatan yang signifikan pada utang masyarakat Indonesia, baik melalui pinjaman online (pinjol), paylater, maupun pegadaian menjelang Lebaran. Utang pinjol warga Indonesia menembus angka lebih dari Rp80-Rp87 triliun di tahun 2025. Selain itu, utang paylater mencapai Rp32 triliun di pertengahan 2025.
Pinjaman di pegadaian juga mengalami kenaikan sekitar 15 persen selama Ramadan serta jelang Lebaran karena kebutuhan tunai yang tinggi. Fenomena ini sering disebut cash is the king yang mengakibatkan tingginya permintaan uang tunai untuk kebutuhan belanja dan THR. Tren kenaikan utang ini dipicu oleh beberapa faktor antara lain kebutuhan konsumtif, biaya mudik, dan melonjaknya harga kebutuhan pokok.
Kapitalisme Menyuburkan Riba
Adanya peningkatan aktivitas utang ke pinjol, paylater, dan pegadaian merupakan hal yang kontradiktif dengan kesucian bulan Ramadan. Seharusnya momen Ramadan diisi dengan ketaatan kepada Allah, bukan malah melakukan aktivitas ribawi yang jelas diharamkan.
Saat ini, riba merajalela karena sistem kapitalisme menjadikannya sebagai pilar. Alhasil, mayoritas transaksi di dalam kapitalisme mengandung riba. Dampaknya terjadi kerusakan luar biasa, baik yang menimpa individu maupun masyarakat.
Di sisi lain, kapitalisme melahirkan kehidupan bebas tanpa batas karena tidak melibatkan agama untuk mengatur kehidupan. Setiap individu dikendalikan oleh hawa nafsunya. Cara pandang dalam memahami kehidupan adalah untuk meraih materi sebesar-besarnya. Tidak mengherankan jika untuk memenuhi gaya hidup rela melakukan segala cara, termasuk menempuh jalan ribawi.
Bagaimana harta kita bisa berkah jika masih terlibat riba? Oleh karena itu, kita butuh solusi yang menyeluruh dalam menyelesaikan permasalahan ini.
Islam Memberi Solusi
Saat Islam melarang riba, Islam juga memberikan solusi bagi masyarakat yang membutuhkan.
Sebagaimana firman Allah dalam surah Al-Baqarah ayat 275,
“Orang-orang yang memakan riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan karena gila. Yang demikian itu karena mereka berkata bahwa jual beli sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.”
Sistem Islam mewujudkan perekonomian yang menyejahterakan sehingga memberi solusi bagi masyarakat dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. Arti menyejahterakan yaitu terpenuhinya kebutuhan dasar berupa sandang, pangan, papan, pendidikan, kesehatan, dan keamanan bagi tiap individu, serta mewujudkan kemampuan memenuhi kebutuhan sekunder dan tersier.
Selain itu, masyarakat dalam sistem Islam yaitu Khil4fah melalui sistem pendidikan yang berdasarkan akidah Islam mendapatkan edukasi sehingga bergaya hidup zuhud dan tidak berlebih-lebihan. Momen Ramadan dan Idulfitri akan disambut dengan memperbanyak amal saleh, bukan justru konsumtif sehingga pengeluaran rumah tangga meningkat.
Adapun tradisi mudik akan difasilitasi dengan transportasi publik yang terintegrasi antara satu moda dengan yang lainnya sehingga memudahkan masyarakat untuk silaturahmi tanpa harus membeli kendaraan baru atau mengeluarkan ongkos yang besar. Sedangkan kebutuhan modal usaha untuk UMKM akan dipenuhi dengan sistem pinjaman nonribawi atau bahkan hibah dari Baitulmal.
Khatimah
Demikianlah solusi Islam agar masyarakat terhindar dari praktik riba. Alhasil, Allah Swt. akan mencurahkan keberkahan bagi umat Islam. Kebutuhan masyarakat akan terpenuhi dengan baik dan para pengusaha bisa berbisnis dengan tenang. Inilah gambaran keindahan hidup di bawah naungan Khil4fah. Wallahualam bissawab.











