Indonesia Darurat Kesehatan Jiwa Anak
OpiniKondisi ini membentuk paradigma masyarakat
dimana standar baik buruk bukan lagi merujuk pada ajaran agama Islam, tetapi pada tren popularitas dan opini publik
______________________________
Penulis Aksarana Citra
Kontributor Media Kuntum Cahaya
KUNTUMCAHAYA.com, OPINI - Sejak awal tahun 2026 kasus mengakhiri hidup yang dilakukan oleh anak-anak. Data CKG 2025 -2026 temuan utamanya sekitar 700 ribu anak hampir 10% dari 7 juta skrining mengalami gejala kecemasan dan depresi dan didominasi pada rentang usia 11 -17 tahun.
Selain itu, data CKG menyebutkan sekitar 338.000 anak (4,4%) menunjukkan gejala gangguan kecemasan dan 363.000 anak (4,8%) gejala depresi. Perlu diwaspadai tren bunuh diri ini terus meningkat. Ini bukan sekadar data, tetapi menunjukkan masalah serius terkait kesehatan jiwa anak. (Tribunnews.com, 25-04-2026)
Pemerintah merespons dengan serius masalah ini. Strategi nasional dan solusi dibentuk untuk mengatasi kasus ini. Kolaborasi sembilan Kementerian dan lembaga menandatangani Surat Keputusan Bersama (SKB) terkait masalah Kesehatan Jiwa Anak.
Adapun jajaran yang melakukan penandatanganan SKB ini meliputi Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (MenteriPPPA) Arifah Fauzi, Mendukbangga/Kepala BKKBN Wihaji, Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian, Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar, Menteri Sosial (Mensos) Saifullah Yusuf, Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid, serta Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Kapolri) Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo. (Hukumonline.com)
Selain itu, skrining diperluas hingga 25 juta anak. Penguatan layanan di Puskesmas (psikologi klinis ± 203 orang, masih terbatas). Pengawasan guru BK dan sekolah diperkuat, lalu layanan krisis. Pemerintah memastikan bahwa kebijakan ini komprehensif dan diimplementasikan secara integrasi (Tribunnews.com, 25-03-2026)
Setidaknya ada empat faktor utama pemicu keinginan anak mengakhiri hidup. Dari segi keluarga yang acap kali menjadi alasan di balik masalah kesehatan jiwa anak, konflik dengan keluarga menduduki posisi teratas sekitar 24-46 %. Di samping itu, terjadinya kasus kekerasan di sekolah dan madrasah yakni perundungan 14-18% dan tekanan akademik 7-16%, serta paparan konten-konten tertentu di media sosial dan masalah psikologis lainnya sebanyak 8- 28%.
Penetapan SKB kesehatan jiwa anak merupakan salah satu upaya pemerintah dalam melindungi generasi penerus bangsa. Dan pemerintah berkomitmen agar kasus ini dalam dicegah dan diatasi. (Hukumonline.com)
Angka di atas bukan sekadar data, melainkan sebuah alarm kewaspadaan bagi kita semua. Di baliknya terdapat banyak anak yang sedang berjuang dalam kesendirian tanpa terlihat. Tidak jarang kasus bunuh diri pada anak terjadi tanpa disadari oleh orang-orang di sekitarnya.
Hal ini sering kali dipicu oleh anggapan sebagian orang tua bahwa anak-anak tidak mungkin mengalami depresi atau bahwa keluhan mereka hanyalah bentuk kemanjaan dan kelemahan semata. Sementara itu, sebagian yang lain masih meremehkan pentingnya menjaga kesehatan jiwa anak.
Krisis kesehatan jiwa pada anak yang makin meningkat merupakan dampak dari sistem kehidupan sekuler liberal yang berkembang saat ini. Sistem tersebut memisahkan nilai-nilai spiritual dan ajaran agama dari kehidupan sehari-hari, sehingga manusia cenderung hidup hanya mengandalkan ego, hasrat, dan keinginan semata. Akibatnya, muncul pola hidup yang bebas (liberal) tanpa landasan aturan yang kokoh dalam mengarahkan perilaku.
Dalam praktiknya, aturan agama dan nilai-nilai spiritual sering kali hanya diterapkan pada situasi tertentu, sementara dalam kehidupan sehari-hari terutama ketika menghadapi persoalan yang lebih kompleks nilai-nilai tersebut kerap diabaikan. Kondisi ini berdampak pada meningkatnya berbagai permasalahan sosial, seperti perundungan, kekerasan, hingga kasus bunuh diri yang sulit dibendung.
Pada akhirnya, anak-anak tumbuh dalam lingkungan yang dipenuhi rasa takut, kecemasan, bahkan depresi. Hal ini terjadi karena nilai-nilai spiritual yang seharusnya menjadi benteng perlindungan tidak diterapkan secara nyata dalam kehidupan mereka sehari-hari.
Lalu paradigma dan nilai-nilai Islam di tengah masyarakat makin tergerus oleh nilai-nilai sekuler liberal dengan hegemoni media kapitalisme global. Sistem kapitalis yang memegang kendali atas media saat ini. Media hanya menyuguhkan hiburan semata tanpa adanya pengawasan dan menyaring semua konten-konten.
Konten-konten negatif berseliweran dan berdampak buruk pada kesehatan jiwa anak dan remaja misal konten kekerasan seperti perkelahian penyiksaan dan tindakan brutal menjadi lebih viral dibanding dengan konten pendidikan. Maka akibat yang timbul adalah tumbuhnya sikap agresif dan menormalisasi kekerasan.
Lalu konten perundungan cyber bullying seperti hinaan ejekan body shaming lebih unggul dari konten motivasi dan inspirasi maka menurunkan rasa percaya diri pada anak dan memicu kecemasan dan depresi. Konten pornografi dan seksual yang merusak pola pikir dan memicu perilaku menyimpang lebih viral dibanding konten keagamaan dan spiritual.
Konten gaya hidup bebas yang dimana menormalisasi pergaulan bebas, kohibitasi, mabuk-mabukan, dan mengajak melanggar norma agama dan sosial maka anak anak meniru tanpa memahami konsekuensinya. Konten flexing dan hedonisme yang berdampak anak merasa minder iri dan tidak bersyukur lalu konten pesimisme dan keputusasaan yang dimana menormalisasi putus asa dan narasi hidup tidak berarti maka memengaruhi cara pandang anak terhadap hidup dam memicu kasus bunuh diri.
Semua konten itu berseliweran tiap detik di gawai kita, anak-anak kita terkena dampak, tetapi yang terjadi pada pemegang kendali media sebaliknya harta mereka makin bertambah, makin viral satu konten maka keuntungan yang didapat para kapitalis makin besar. Keuntungan yang mereka dapat bisa dari iklan dan iklan merupakan sumber keuntungan terbesar bagi banyak media, lalu data pengguna, langganan, konten berbayar, sponsor dan lainnya.
Dampak dominasi kapitalis di kehidupan kini adalah makin tergerusnya nilai-nilai Islam di tengah masyarakat. Karena konten disajikan tidak berlandaskan pada kebenaran dan kemaslahatan umat, tetapi pada yang paling menarik perhatian dan menghasilkan keuntungan.
Akibatnya, masyarakat atau anak-anak terutama secara perlahan terpapar pada gaya hidup bebas pola pikir instan dan jauh dari tuntunan syariat. Nilai-nilai seperti kesabaran, rasa malu, tanggung jawab, dan ketaatan kepada Allah Swt. mulai tergantikan tren budaya hedonisme, individualisme, dan kebebasan tanpa batas.
Maka dalam jangka panjang kondisi ini membentuk paradigma masyarakat dimana standar baik buruk bukan lagi merujuk pada ajaran agama Islam, tetapi pada tren popularitas dan opini publik. Maka hal ini makin menjauhkan generasi muda dari identitas keislaman mereka serta melemahkan peran agama sebagai pedoman hidup.
Belum lagi pendidikan di keluarga, di sekolah, dan di lingkungan masyarakat tidak berpijak pada akidah dan syariat Islam. Parameter sukses diukur dari kesuksesan yang bersifat materi. Pendidikan saat ini sering kali hanya diukur dari capaian nilai akademik, serta berfokus pada transfer ilmu semata tanpa diiringi dengan pembinaan akhlak. Akibatnya, lahir generasi yang cerdas secara intelektual, namun lemah dalam karakter dan adab.
Sedangkan pendidikan keluarga saat ini juga menghadapi tantangan yang tidak ringan. Banyak orang tua yang lebih fokus pada pemenuhan kebutuhan materi, tetapi kurang memberikan perhatian pada pembinaan akhlak, emosi, dan spiritual anak. Kesibukan, tekanan ekonomi, serta pengaruh teknologi sering kali membuat interaksi antara orang tua dan anak menjadi berkurang.
Di sisi lain, tidak sedikit orang tua yang menyerahkan sepenuhnya pendidikan anak kepada sekolah sehingga peran utama keluarga sebagai pendidik pertama dan utama menjadi melemah. Padahal keluarga adalah tempat pertama anak belajar nilai-nilai kehidupan, seperti keimanan, adab, tanggung jawab, dan kasih sayang.
Akibatnya, anak tumbuh tanpa pendampingan yang cukup dalam memahami dirinya, mengelola emosi, dan menghadapi masalah. Mereka cenderung mencari pelarian dari luar. Seperti media sosial atau lingkungan yang kurang baik yang justru dapat memperparah kondisi mental dan akhlaknya.
Oleh karena itu, perlu adanya kesadaran bagi orang tua untuk kembali menguatkan peran pendidikan dalam keluarga, tidak hanya dalam aspek duniawi, tetapi juga dalam membangun kepribadian dan nilai-nilai spiritual anak sebagai bekal hidup mereka. Agar kasus pengakhiran hidup anak tidak lagi terjadi ini butuh kerja sama bukan saja pada lingkup kecil seperti keluarga, tetapi harus berkerjasama sampai lingkup negara.
Segala macam hal yang bisa membahayakan dan memengaruhi anak harus diberantas sampai ke akarnya. Di sinilah peran pemerintah harus lebih dominan karena yang mampu memberantas menyaring dan menghapus segala konten media sosial hanyalah pemerintah.
Oleh sebab itu, kita butuh suatu sistem yang berpihak pada kemaslahatan masyarakat melindungi masyarakat yang menjadi rain dan junnah bagi umat, bukan seperti sistem sekarang yang berpihak hanya pada pemilik modal dan mencari keuntungan pada segi materi saja. Sedangkan banyak generasi penerus bangsa menjadi korban akibat keserakahan pemegang sistem ini.
Sistem sekuler liberal kapitalistik yang mendominasi dunia saat ini harus menjadi musuh bersama umat. Sistem yang lahir dari buah pikir manusia yang sarat kepentingan kekuasaan dan materi tidak akan mampu menjadi penjaga dan pelindung umat.
Pada kenyataannya umat diarahkan untuk terus bekerja dan dipaksa untuk mengikut pola sistem kehidupan yang telah dibentuk mereka, akibatnya umat Islam menjadi lemah secara mental dan pikiran. Fokus kehidupan terbatas hanya pada pemenuhan hajat hidup sehari hari sementara keterikatan dengan syariat Islam semakin berkurang. Kondisi ini berdampak pada munculnya berbagai kesulitan hidup dan ketidakberdayaan dalam menghadapi tantangan zaman.
Di berbagai belahan dunia kita juga menyaksikan konflik dan ketidakstabilan ketidakadilan menimpa saudara-saudara muslim kita contohnya saja apa yang terjadi di P4lestina, Irak, Suriah. Mereka perang agar dapat menguasai negara tersebut dan mengambil segala kekayaannya. Kita disini masih disibukkan dengan kesulitan ekonomi yang membuat kita terjebak dalam kesulitan yang berkepanjangan.
Maka diperlukan upaya perjuangan dakwah diarahkan untuk mengganti sistem tersebut menjadi sistem Islam. Mengajak umat untuk kembali memahami dan mengamalkannya ajaran Islam secara kafah sehingga mampu membangun kembali kehidupan Islam yang adil bermartabat dan penuh berkah.
Negara menjalankan tanggung jawabnya sebagai rain dan junnah dalam melindungi memelihara dan sebagai perisai atau tameng umat dari gempuran hegemoni Barat yang berpaham sekuler liberal kapitalistik yang ingin merusak anak dan keluarga. Khalifah menjadi garda terdepan dalam memerangi segala sesuatu yang dalam merusak pemikiran dan akhlak umat.
Paradigma politik dalam sistem pendidikan, sistem kesehatan, dan sistem ekonomi harus terintegrasi diatur berdasarkan syariat Islam yang selalu mengedepankan kesejahteraan keselamatan dan keadilan bagi seluruh umat.











