Maraknya perundungan semestinya menjadi peringatan
bahwa keselamatan generasi tidak dapat dijamin hanya dengan imbauan moral
________________________
Penulis Ummu Ghazi
Kontributor Media Kuntum Cahaya
KUNTUMCAHAYA.com, OPINI - Lagi dan lagi, media sosial dibuat geram oleh berita perundungan yang berujung pada hilangnya nyawa.
Generasi hari ini seolah kehilangan ruang yang benar-benar aman. Sekolah yang semestinya menjadi tempat menimba ilmu, membangun kepribadian, dan menumbuhkan akhlak mulia, justru dapat berubah menjadi ruang yang menyimpan ketakutan bagi sebagian anak.
Mereka yang menjadi korban bukan hanya menghadapi luka fisik, tetapi menanggung tekanan batin yang tidak selalu terlihat. Ironisnya, penderitaan itu kerap tidak mendapatkan perhatian yang sepadan, bahkan ketika perundungan telah berujung pada kematian.
Perundungan bukan persoalan sepele yang bisa diselesaikan dengan kalimat, “Namanya juga anak-anak, nanti juga akur lagi.” Anggapan semacam ini justru berpotensi menormalisasi kekerasan dan mengabaikan penderitaan korban. Lebih menyedihkan lagi apabila keluarga yang kehilangan anak harus menghadapi ketidakpastian dalam mencari keadilan, sementara penanganan terhadap pelaku tidak memberikan jaminan bahwa kejadian serupa tidak akan terulang.
Menyandarkan kematian seseorang pada takdir semata, kemudian berhenti mencari penyebab dan mengabaikan tanggung jawab manusia, merupakan cara pandang yang keliru. Keimanan kepada takdir tidak seharusnya menjadi alasan untuk membiarkan kezaliman terus berlangsung. Justru, setiap peristiwa semestinya mendorong manusia melakukan introspeksi dan memperbaiki keadaan agar tidak semakin banyak korban berjatuhan.
Dugaan perundungan kembali menyita perhatian publik. Seorang siswa berusia tujuh tahun bernama Aqib, warga Kebondalem, Pemalang, dikabarkan meninggal dunia setelah diduga mengalami perundungan oleh kakak kelasnya. Peristiwa tersebut dilaporkan oleh detikJateng.com pada 2 Oktober 2026. Dalam pemberitaan itu, Kasat Reskrim Polres Pemalang, AKP M. Wildan Umar, menyampaikan bahwa pihak kepolisian menerima informasi mengenai seorang anak yang meninggal dunia dan diduga berkaitan dengan tindakan kekerasan.
Peristiwa ini kembali mengingatkan kita bahwa kasus perundungan bukan kejadian tunggal. Berulangnya insiden serupa menunjukkan perlunya evaluasi serius terhadap cara keluarga, sekolah, masyarakat, dan negara melindungi anak. Pertanyaan yang perlu diajukan bukan hanya siapa yang melakukan kekerasan, tetapi mengapa kekerasan dapat terjadi, bagaimana tanda-tandanya luput dari perhatian, dan sejauh mana sistem perlindungan mampu mencegah tragedi serupa.
Perundungan Bukan Kenakalan Biasa
Perundungan tidak dapat disederhanakan sebagai pertengkaran antaranak atau bagian lumrah dari proses tumbuh kembang. Tindakan mengintimidasi, mempermalukan, mengucilkan, mengancam, ataupun menyakiti orang lain dapat meninggalkan dampak yang panjang. Korban mungkin mengalami ketakutan, kehilangan kepercayaan diri, kesulitan berkonsentrasi, penurunan prestasi, hingga gangguan kesehatan mental.
Dalam kondisi tertentu, tekanan yang berat dapat meningkatkan risiko munculnya persoalan psikologis yang lebih serius. Oleh karena itu, setiap laporan perundungan perlu ditangani dengan sungguh-sungguh, bukan dianggap selesai hanya karena pelaku telah meminta maaf.
Pencegahan juga tidak cukup dilakukan melalui slogan antiperundungan atau kegiatan seremonial di sekolah. Anak membutuhkan lingkungan yang memungkinkan mereka melaporkan kekerasan tanpa takut disalahkan atau mengalami pembalasan.
Guru dan pihak sekolah harus memiliki prosedur penanganan yang jelas, sedangkan orang tua harus peka terhadap perubahan perilaku anak, seperti enggan pergi ke sekolah, menarik diri dari pergaulan, mengalami gangguan tidur, atau menunjukkan ketakutan yang tidak biasa. Apabila terdapat dugaan kekerasan, keselamatan korban harus menjadi prioritas, disertai pemeriksaan yang objektif dan penanganan sesuai ketentuan yang berlaku.
Pada saat yang sama, pelaku tidak boleh begitu saja diberi label sebagai anak nakal tanpa ditelusuri latar belakang perilakunya. Tindakan kekerasan harus dimintai pertanggungjawaban, tetapi upaya pencegahan juga memerlukan pemahaman tentang faktor-faktor yang membentuk perilaku tersebut.
Ketegasan dan pembinaan bukan dua hal yang harus dipertentangkan. Keduanya diperlukan agar korban memperoleh perlindungan, pelaku memahami konsekuensi perbuatannya, dan lingkungan sekolah kembali menjadi tempat yang aman.
Krisis Empati dan Akar Persoalan Sosial
Perundungan tidak tumbuh dari kehidupan yang sederhana. Perilaku tersebut dapat dipengaruhi oleh pola asuh, lingkungan pergaulan, pengalaman kekerasan, serta nilai-nilai yang terus disaksikan anak dalam kehidupan sehari-hari. Ketika rumah kehilangan fungsi sebagai tempat memperoleh kasih sayang dan bimbingan, anak dapat mengalami kesulitan dalam mengenali, mengelola, dan mengungkapkan emosinya.
Kesibukan orang tua, komunikasi yang renggang, konflik keluarga, atau minimnya pendampingan bukan berarti otomatis menjadikan seorang anak pelaku kekerasan. Namun, keadaan tersebut dapat menjadi faktor risiko ketika tidak diimbangi dengan dukungan dan pengasuhan yang memadai.
Pengaruh lingkungan di luar rumah pun tidak dapat diabaikan. Media sosial dapat menjadi ruang belajar dan berkreasi, tetapi bisa menyebarkan kebiasaan mengejek, mempermalukan, dan menjadikan penderitaan orang lain sebagai bahan hiburan. Dorongan untuk mendapatkan perhatian, popularitas, atau pengakuan dapat membuat sebagian anak menganggap penghinaan sebagai sesuatu yang wajar.
Ketika perilaku merendahkan orang lain terus memperoleh tepuk tangan, tanda suka, atau dukungan dari kelompok pertemanan, batas antara candaan dan kekerasan makin kabur. Anak pun berisiko belajar bahwa mempermalukan orang lain merupakan cara untuk memperoleh kedudukan dalam kelompok.
Dalam pandangan Islam, keadaan tersebut tidak bisa dilepaskan dari pentingnya pembentukan kepribadian yang berlandaskan akidah dan akhlak. Ketika keberhasilan lebih banyak diukur melalui popularitas, penampilan, kekayaan, atau dominasi, nilai kemanusiaan mudah ditempatkan di bawah ukuran-ukuran lahiriah.
Orang yang berbeda kemudian dipandang sebagai sasaran ejekan, sedangkan mereka yang dianggap lemah menjadi pihak yang mudah ditindas. Budaya semacam ini bertentangan dengan ajaran Islam yang menempatkan ketakwaan sebagai ukuran kemuliaan dan melarang manusia merendahkan sesamanya.
Allah Swt. berfirman dalam Al-Qur'an : "Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diperolok-olokkan) lebih baik daripada mereka (yang mengolok-olok) ....” (QS. Al-Hujurat [49]: 11)
Ayat tersebut menegaskan bahwa penghinaan bukan perilaku yang dapat dibenarkan karena dilakukan bersama-sama atau dianggap sebagai gurauan. Islam mengajarkan manusia untuk menjaga kehormatan sesama, mengendalikan ucapan, dan menyadari bahwa penilaian berdasarkan penampilan maupun kedudukan sosial tidak menentukan kemuliaan seseorang di hadapan Allah.
Allah Swt. juga berfirman : “Dan barang siapa membunuh seorang mukmin dengan sengaja, balasannya ialah neraka Jahanam. Dia kekal di dalamnya. Allah murka kepadanya, melaknatnya, dan menyediakan azab yang besar baginya.” (QS. An-Nisa [4]: 93)
Ayat ini memperlihatkan betapa beratnya dosa menghilangkan nyawa seorang mukmin. Adapun dalam kasus perundungan yang menyebabkan kematian, penetapan sebab kematian, unsur kesengajaan, dan pertanggungjawaban hukum harus didasarkan pada penyelidikan serta pembuktian yang cermat. Tidak setiap kasus memiliki unsur hukum yang sama. Namun, satu hal yang tidak berubah yaitu menyakiti dan menzalimi orang lain bukan perkara yang boleh diremehkan.
Islam juga mengajarkan bahwa kemuliaan manusia tidak ditentukan oleh kekuatan, harta, keturunan, atau ketenaran. Allah Swt. berfirman : “Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.” (QS Al-Hujurat [49]: 13)
Prinsip tersebut seharusnya menjadi landasan dalam membangun pergaulan. Tidak ada alasan untuk merendahkan seseorang karena kondisi fisik, latar belakang keluarga, kemampuan akademik, atau keterbatasan ekonominya. Pendidikan akidah harus tercermin dalam perilaku nyata, menghormati orang lain, menahan diri dari menyakiti, membela pihak yang dizalimi, dan berani menghentikan kekerasan meskipun pelakunya adalah teman sendiri.
Dalam kerangka pandangan politik Islam, maraknya perundungan juga perlu dikaji dalam kaitannya dengan sistem kehidupan yang cenderung mengutamakan kebebasan individual dan ukuran keberhasilan material. Sekularisme yang memisahkan agama dari pengaturan kehidupan, dipandang berisiko melemahkan peran nilai-nilai agama ketika membentuk perilaku sosial dan kebijakan publik.
Sementara itu, orientasi kapitalistik dapat memperkuat budaya persaingan dan pemujaan terhadap status apabila tidak diimbangi dengan keadilan serta tanggung jawab sosial. Kritik tersebut bukan berarti setiap anak yang hidup dalam masyarakat sekuler pasti kehilangan empati, atau faktor ideologi merupakan satu-satunya penyebab perundungan.
Perilaku manusia dibentuk oleh banyak unsur yang saling berkaitan. Namun, masyarakat perlu mempertanyakan nilai apa yang dipromosikan, perilaku apa yang dibiarkan, dan sistem apa yang dibangun untuk melindungi pihak yang rentan. Perubahan tidak cukup berhenti pada nasihat kepada individu jika lingkungan yang membentuk perilaku itu sendiri tidak turut diperbaiki.
Perlindungan Generasi Membutuhkan Peran Negara dan Syariat
Dalam perspektif Islam, pembentukan generasi berakhlak tidak dapat dibebankan kepada keluarga semata. Keluarga memang memiliki peran mendasar dalam menanamkan keimanan, kasih sayang, tanggung jawab, dan penghormatan terhadap sesama. Sekolah bertugas mengembangkan pengetahuan sekaligus membina perilaku peserta didik.
Masyarakat memiliki kewajiban menciptakan lingkungan pergaulan yang sehat. Akan tetapi, seluruh upaya tersebut membutuhkan dukungan negara yang menjamin perlindungan, menyediakan mekanisme pengaduan, serta menegakkan hukum secara adil.
Negara tidak cukup hadir setelah sebuah tragedi terjadi. Perlindungan anak perlu diwujudkan melalui pencegahan yang terencana, pengawasan terhadap pelaksanaan kebijakan, pendampingan bagi korban, dan penanganan terhadap pelaku sesuai hukum. Sekolah harus memiliki sistem pelaporan yang dapat diakses, tenaga pendidik yang memahami penanganan kekerasan, serta koordinasi dengan keluarga dan pihak berwenang.
Korban juga perlu memperoleh pendampingan psikologis dan perlindungan dari intimidasi lanjutan. Dalam kasus yang menimbulkan kematian, penyelidikan harus dilakukan secara transparan dan profesional agar fakta terungkap serta pertanggungjawaban dapat ditetapkan berdasarkan bukti.
Dalam pandangan Islam, negara memiliki tanggung jawab untuk menjaga jiwa, kehormatan, akal, dan keselamatan masyarakat. Penerapan syariat dipahami bukan sekadar pengaturan ibadah individual, tetapi juga pedoman untuk membangun kehidupan sosial yang berkeadilan.
Pendidikan berbasis akidah diarahkan untuk membentuk pribadi yang menyadari tanggung jawabnya kepada Allah dan sesama manusia. Pengaturan kehidupan sosial diharapkan mencegah kezaliman, sedangkan penegakan hukum bertujuan menjaga hak masyarakat dan memberikan konsekuensi atas pelanggaran yang terbukti.
Pendidikan Islam tidak boleh berhenti pada hafalan dalil atau penyampaian larangan. Nilai kasih sayang, amanah, penghormatan, dan tanggung jawab perlu diwujudkan dalam keteladanan orang dewasa serta kebiasaan sehari-hari. Anak harus belajar bahwa keberanian bukan kemampuan menakut-nakuti orang lain, tetapi kesanggupan mengendalikan diri dan membela pihak yang diperlakukan tidak adil. Mereka juga perlu memahami bahwa diam ketika menyaksikan kekerasan bukan pilihan yang bijak apabila tersedia cara aman untuk mencari pertolongan.
Pada saat yang sama, keluarga membutuhkan dukungan agar mampu menjalankan pengasuhan dengan baik. Masyarakat perlu membangun budaya saling menjaga, bukan menormalisasi penghinaan.
Media dan penyedia platform digital juga memiliki tanggung jawab untuk menangani konten yang mempromosikan kekerasan serta mencegah penderitaan korban dijadikan bahan tontonan. Semua pihak harus bergerak dalam arah yang sama yaitu menghentikan kekerasan, memulihkan korban, dan mencegah terulangnya peristiwa serupa.
Maraknya perundungan semestinya menjadi peringatan bahwa keselamatan generasi tidak dapat dijamin hanya dengan imbauan moral. Dibutuhkan pembentukan kepribadian, lingkungan yang sehat, kebijakan yang berpihak pada perlindungan anak, dan penegakan hukum yang dapat dipertanggungjawabkan. Dalam pandangan Islam, seluruh ikhtiar tersebut perlu berpijak pada nilai-nilai syariat yang menjaga kehidupan dan kehormatan manusia.
Anak yang menjadi korban perundungan tidak seharusnya menanggung penderitaannya seorang diri. Keluarga tidak semestinya dibiarkan berjuang sendirian ketika mencari keadilan. Masyarakat tidak boleh terus menganggap kekerasan sebagai bagian biasa dari masa kanak-kanak. Ketika satu anak terluka, kita tidak cukup hanya mengecam pelakunya. Kita juga harus berani memperbaiki lingkungan yang memungkinkan kekerasan itu terjadi. Wallahualam bissawab. [Dara/MKC]