Maulid: Meneladani Akhlak Sampai Perjuangan Dakwah
OpiniMemperingati Maulid Nabi Muhammad saw. seharusnya menjadi momentum
untuk menyegarkan kembali ingatan kita atas Rasullullah Saw. bahwa akhlak beliau merupakan implementasi dari Al Qur'an
_____________________
Penulis Ummu Saibah
Kontributor Media Kuntum Cahaya
KUNTUMCAHAYA.com, OPINI - Dalam rangka memperingati maulid Nabi Muhammad Saw pada 12 Rabiulawal 1448 Hijriah, Kementerian Agama (Kemenag) mengajak 1.781.945 umat Islam dari berbagai penjuru Indonesia untuk berselawat.
Acara tersebut digelar melalui kegiatan Blissful Mawlid 1448 H. Salah satu agenda utamanya adalah Gema Selawat Kebangsaan, gerakan ini dimaksudkan mengajak masyarakat memperkuat kecintaan kepada Rasulullah saw. (Sindonews.com, 23-8-2026)
Memang benar salah satu ungkapan kecintaan kita terhadap Nabi Muhammad Saw adalah dengan bershalawat sebanyak-banyaknya kepada Beliau. Allah Swt. berfirman: "Sesungguhnya Allah dan para Malaikat-Nya berselawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman bershalawat lah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya" (QS. Al-Ahzab (33): 56)
Oleh karena itu , berselawat kepada Nabi Muhammad saw. hendaknya dilakukan setiap hari, bukan setahun sekali. Alhasil, ketika memperingati maulid Nabi Muhammad Saw agenda utama bisa difokuskan dengan mengingatkan kembali perjuangan Rasulullah saw. dalam menyebarkan Islam juga mewujudkan penerapan syariat Islam.
Memaknai Peringatan Maulid Nabi Muhammad saw.
Memperingati Maulid Nabi Muhammad Saw seharusnya menjadi momentum untuk menyegarkan kembali ingatan kita atas Rasullullah Saw. bahwa akhlak beliau merupakan implementasi dari Al-Qur'an. Kehebatan risalah yang beliau bawa yaitu Islam, mampu membawa bangsa Arab mengalahkan dua Imperium besar saat itu yaitu Persia dan Roma.
Dahsyatnya pembelaan beliau terhadap umat Islam dan teguhnya perjuangan beliau untuk menegakkan syariat Islam di atas muka bumi dibayar tidak hanya dengan pengorbanan harta dan pikiran tetapi dengan nyawa para sahabat Rasulullah saw..
Peringatan Maulid Nabi Muhammad saw. seharusnya mampu menggetarkan kembali keterikatan atas dasar keimanan, ketaatan dan kerinduan kepada Nabi Muhammad saw. yang akan menguatkan hati kita untuk meneladani Nabi Muhammad saw. dalam menjalani kehidupan ini.
Namun faktanya tidak demikian, setiap tahun umat Islam merayakan Maulid dengan pembacaan shalawat, tabligh akbar, bahkan pawai. Sehingga substansinya kerap berhenti pada aspek ritual dan emosional saja, tidak menimbulkan keinginan yang kuat untuk benar-benar mewujudkan kembali kepemimpinan Islam dan penerapan syariat Islam yang dulu pernah diperjuangkan oleh Rasulullah saw..
Perayaan Maulid semacam ini, tereduksi menjadi ekspresi kecintaan tanpa konsekuensi ideologis. Akibatnya, umat Islam tidak memahami Islam yang sebenarnya bahkan mengabaikan syariat Islam yang saat ini tidak diterapkan. Padahal cinta kepada Rasulullah saw. harus melahirkan keterikatan pada risalah dan perjuangan yang beliau bawa.
Pembahasan ittiba' kepada Nabi Muhammad saw. pada momentum Maulid masih dibatasi pada keteladanan akhlak saja, belum menyentuh kesadaran mengubah sistem jahiliyah yaitu sistem kapitalis yang sekarang diterapkan, menuju sistem Islam dengan menegakkan penghambaan hanya kepada Allah Swt. melalui penerapan syariat Islam secara keseluruhan dalam setiap aspek kehidupan.
Padahal perubahan sistem jahiliah kepada sistem Islam inilah yang dulu diperjuangkan Rasulullah saw.. Sayangnya, umat Islam kehilangan kesadaran bahwa penghambaan kepada selain Allah Swt. masih berlangsung secara sistemik, melalui demokrasi, kapitalisme dan liberalisme yang menjadikan dunia serta hawa nafsu sebagai orientasi hidup.
Urgensi Ittiba' kepada Nabi Muhammad saw.
Kewajiban setiap pengemban dakwah di tengah masyarakat adalah mengembalikan makna ittiba’ sebagai keterikatan pada syariat dan memperkenalkan metode perjuangan Rasulullah saw., sehingga peringatan Maulid Nabi Muhammad saw. bukan sekadar ritual saja.
Allah Swt. berfirman: "katakanlah (Muhammad) "jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu", Allah maha pengampun, maha penyayang" (QS. Ali Imran(3): 31)
Umat Islam harus memahami bahwa bukti cinta kepada Allah Swt. adalah dengan melanjutkan kehidupan Islam, mendakwahkan Islam keseluruhan penjuru dunia juga menerapkan syariat Islam sebagai pengatur kehidupan, memperjuangkan apa yang dulu Rasulullah saw. perjuangkan yaitu tegaknya Islam di muka bumi.
Penerapan sistem kapitalisme-sekuler di negeri-negeri muslim mewajibkan umat Islam memperjuangkan penerapan syariat Islam secara kafah melalui kepemimpinan Islam sebagaimana dakwah yang dicontohkan Rasulullah saw. di Makkah dan Madinah. Karena prinsip kapitalisme bertolak belakang dengan syariat Islam sehingga tidak mungkin menerapkan syariat Islam melalui pemerintahan demokrasi.
Perjuangan untuk melanjutkan kehidupan Islam harus mengikuti metode perjuangan Rasulullah saw. yang ditempuh melalui tiga tahapan:
Pertama, pembinaan metode ini dicontohkan Rasulullah Saw ketika Beliau membina para sahabat di rumah Al Akram.
Kedua, berinteraksi dengan umat. Di mana Rasulullah Saw dan para sahabat berinteraksi dengan masyarakat, menawarkan Islam kepada orang-orang Quraisy dan siapa saja yang mereka temui, mengajak mereka untuk kembali menyembah Allah Swt..
Ketiga, penerimaan kekuasaan. Metode ini terjadi saat penduduk Madinah/Hijaz sudah menerima dakwah Islam dari Mus'ab bin Umair ra dan bersedia menerima Rasulullah Saw sebagai pemimpin dan menjadikan syariat Islam sebagai aturan baku yang mengatur kehidupan mereka.Dengan metode inilah kehidupan Islam akan tegak kembali, sehingga Islam benar-benar hadir sebagai rahmat bagi seluruh alam.
Allah Swt. berfirman: "Dan kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) Rahmat bagi seluruh alam." (QS. Al-Anbiya [21]: 107)
Begitulah seharusnya peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw membekas di lubuk hati setiap muslim sehingga dengan kesadaran penuh umat akan bangkit untuk kembali melanjutkan kehidupan Islam yaitu dengan menerapkan syariat Islam secara kafah. Wallahualam bissawab. [Dara/MKC]











