Featured Post

Recommended

Sirine Darurat Kerusakan Ekologis Ekstrem

  Berbagai bencana cuaca yang terjadi adalah wajah krisis iklim yang makin mendesak kehidupan kita Sirine darurat kerusakan ekologis ekstrem...

Alt Title
Sirine Darurat Kerusakan Ekologis Ekstrem

Sirine Darurat Kerusakan Ekologis Ekstrem

 



Berbagai bencana cuaca yang terjadi adalah wajah krisis iklim yang makin mendesak kehidupan kita

Sirine darurat kerusakan ekologis ekstrem


__________________________


Penulis Nahida Ilma

Kontributor Media Kuntum Cahaya 


KUNTUMCAHAYA.com, OPINI - Kalau cuaca sekarang sudah terasa absurd, itu baru trailernya. Full movienya ada di 2050. Bayangkan di 2050 nanti kita akan hidup di tengah climate chaos. Bencana pun datangnya bukan satu-satu lagi, tetapi secara bersamaan. (Forest Watch Indonesia, 13 November 2025)


Sepanjang Januari-November 2025 terjadi sebanyak 2.919 bencana di mana hampir 99% banjir dan cuaca ekstrem. BNPB menyebutkan hampir seluruh bencana 2025 adalah bencana cuaca. Mirisnya, fenomena ini bukan hanya terjadi di Indonesia. Malaysia beberapa waktu lalu kembali mengalami banjir besar yang memaksa ribuan orang mengungsi.

 

Thailand dilanda banjir luas di wilayah selatan. Filipina yang sudah terbiasa menghadapi topan, sekarang berhadapan dengan badai yang lebih kuat dari kategori sebelumnya (Greenpeaceid, 27 November 2025). Krisis iklim juga membuat curah hujan makin tinggi dan angin makin kencang di G4za selama musim dingin tahun ini. (Tempo.co, 16 November 2025)


Narasi yang sama terus diulang setiap kali dunia sedang menghadapi bencana cuaca. Hujan menjadi kambing hitam karena sistem ekologi telah dirusak. Padahal hujan adalah salah satu proses alami yang sangat penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem bumi. Hujan memang turun dari langit dan itu normal, tanah yang rusaklah yang membuat bencana. Ketika hutan masih utuh, bukit masih punya akar pepohonan dan tanaman punya daya serap. Hujan sederas apa pun tidak akan seketika menyebabkan banjir dan longsor.


Berbagai bencana cuaca yang terjadi adalah wajah krisis iklim yang makin mendesak kehidupan kita. Sirine darurat kerusakan ekologis ekstrem. Ketika hulu terus dibabat, hilir akan terus tenggelam. Krisis iklim yang bukan lagi ancaman masa depan, tetapi ia sudah hadir hari ini. Ketika ini dirasakan oleh seluruh belahan bumi, kita tentu perlu menduga bahwa ada masalah yang mendasar dan sistematis yang mengakibatkan semua ini terus terjadi.


Disampaikan dalam situs resmi un.org, sejak 1800-an aktivitas manusia telah menjadi pendorong utama perubahan iklim. Berhubungan dengan aktivitas manusia tidak terlepas dari cara pandangnya tentang kehidupan. Ketika kehidupan dilihat sebagai segala sesuatu yang dapat dikomoditaskan, hal ini menjadi faktor utama krisis iklim hari ini. Kehidupan dinilai sebagai kegiatan produksi dan konsumsi. 


Hal ini ditegaskan Masoud Movahed peneliti ekonomi di New York University, “Pertumbuhan dan konsumerisme adalah inti sistem ekonomi kapitalisme. Tuntutan untuk terus meningkatkan produksi dan konsumsi telah mendorong eksploitasi SDA secara besar-besaran. Demi menekan biaya produksi dan memenangkan persaingan, para korporat tidak segan-segan mengorbankan kelestarian lingkungan. 


Teori-teori penanganan krisis iklim dari berbagai sudut pandang tentu saja sudah lahir. Berbagai penemuan solusi praktis dan teknikal penanganan krisis iklim juga tak kurang-kurang lahir dari para peneliti. Tentu saja konferensi-konferensi terkait isu ini juga sudah berulang kali dilakukan. Namun, forum bergensi seperti Conference of the Parties (COP) tak ubahnya menjadi platform greenwashing terbesar di dunia ketika sudut pandang kapitalisme tetap melekat.


Perusahaan dan negara-negara pelaku polusi terbesar dapat menebus "dosa iklim" mereka dengan mengumumkan komitmen net-zero di tahun 2050, sambil terus mengekspansi proyek mineral, batu bara, minyak, dan gas. Mereka menciptakan narasi seolah-olah sedang bergerak. Padahal mereka hanya menendang masalah ke bawah tangan, ke pundak generasi mendatang. Jelaslah, kapitalisme paling bertanggung jawab atas krisis iklim hari ini.


Tuntutan logis bagi dunia ini adalah kembali pada sistem kehidupan yang berasal dari Zat Pencipta planet bumi, manusia, alam semesta dan kehidupan. Allah menciptakan planet bumi dan segala isinya dengan ukuran masing-masing sehingga serasi dan harmoni satu sama lain. Puluhan tahun sebelumnya, Allah sudah memberi pesan pada umat manusia melalui Rasul-Nya.


Sesuai Firman-Nya: “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia. Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar-Ruum: 41)


Dalam perspektif Islam, negara diposisikan sebagai pihak yang wajib menjamin terpenuhinya kebutuhan dasar dan kesejahteraan individu. Rasulullah saw. menegaskan: “Imam adalah raa’in (pengurus rakyat) dan ia bertanggung jawab atas pengurusan rakyatnya.” (HR. Bukhari)


Atas dorongan keimanan, pemimpin dalam negara Islam memiliki kesadaran penuh bahwa amanah yang diembannya akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat kelak. Kacamata keimanan pula yang menghadirkan pemahaman bahwa setiap apa pun di alam semesta merupakan titipan Allah yang dapat dimanfaatkan untuk menopang kehidupan manusia tanpa merusaknya.


Negara sebagai subjek yang diamanahi oleh As-Syari untuk mengelola kepemilikan umum, yaitu SDA akan melakukan eksploitasi sumber daya untuk memenuhi kebutuhan publik. Produksi akan dilakukan jika dibutuhkan. Jika belum dibutuhkan akan digunakan sebagai cadangan.

 

Allah menyediakan seperangkat aturan kehidupan berupa sistem kehidupan Islam agar planet bumi lestari. Bukan hanya menjaga kelestarian, tetapi juga berfaedah maksimal bagi kehidupan masyarakat. Wallahualam bissawab. [Dara/MKC]

Generasi Muda, Ingatan Tua: Alarm Digital Dementia

Generasi Muda, Ingatan Tua: Alarm Digital Dementia




Fenomena remaja jompo akibat dementia adalah alarm sosial yang tidak boleh diabaikan

Orang tua, pemerintah, dan masyarakat harus bersama-sama menjaga generasi muda agar tidak kehilangan akal juga jiwa mereka


_________________________


Penulis Mommy Hulya

Kontributor Media Kuntum Cahaya 


KUNTUMCAHAYA.com, OPINI - Gen Z merupakan istilah untuk anak-anak muda zaman sekarang. Jika dilihat dari usia, Gen Z seharusnya generasi yang saat ini dalam usia produktif, sehat, mudah menerima pelajaran bisa dibilang masa di mana bunga sedang mekar-mekarnya. Namun ironisnya, fenomena yang kita lihat saat ini adalah generasi yang lemah fisik juga lemah psikis.

 

Bagaimana tidak di usia muda tak jarang dari mereka mudah sakit ringkih layaknya orang tua yang sudah jompo. Mudah lupa, mudah lelah, sulit fokus dan banyak lagi gejala yang menyerupai orang jompo. Itulah mengapa istilah remaja jompo sering kali terdengar di telinga.Hal ini terjadi bukan tanpa sebab. Dilansir dari kompas.id


Ciri-ciri remaja jompo, yaitu: mudah lupa, sulit fokus. Cepat lelah ringkih secara fisik maupun psikis. Bagaimana tidak mudah lupa, mereka selalu mengandalkan bantuan gawai untuk mengingat segala hal. Kondisi ini disebut digital demensia yang pertama kali diperkenalkan oleh ahli syaraf Jerman Manfred Spitzer yang menggambarkan demensia yang dialami anak muda karena tergantung pada perangkat digital. Istilah ini merupakan fenomena sosial neurologis, tetapi tidak termasuk dalam diagnosis medis.


Dampak yang Diakibatkan Fenomena Digital Dementia 


Dampak Sosial dan Pendidikan 


Digital dementia juga berdampak pada dunia pendidikan. Remaja saat ini kesulitan memahami pelajaran karena fokusnya mudah terpecah oleh notifikasi gawai. Bukan hanya itu, hal ini juga dapat melemahkan kemampuan berpikir kritis.


Akibatnya, proses belajar menjadi dangkal dan membentuk karakter yang lemah diusia yang seharusnya produktif justru kehilangan semangat belajar sehingga mengakibatkan fondasi lemah masa depan bangsa. Apabila remaja gen Z sudah kehilangan daya saing sejak dini, bagaimana mereka bisa menjadi pemimpin yang tangguh di masa depan?


Dampak pada Kesehatan Mental 


Screen time berlebihan membuat mereka lebih mudah cemas, sulit tidur, dan kehilangan kemampuan berinteraksi secara sehat dengan lingkungan sekitar. Minimnya waktu untuk berinteraksi dengan orang lain membuat remaja rentan terhadap depresi, kecemasan, kesepian serta rasa tidak percaya diri.


Sebagai contoh balita dengan screen time berlebihan akan mengalami keterlambatan bicara. Hal tersebut terjadi karena tidak terbiasa berbicara dengan orang lain. Apa jadinya jika situasi ini terus terjadi hingga anak remaja? Mereka akan kesulitan beradaptasi dengan lingkungan sosial.


Remaja jompo bukan hanya masalah individu, tetapi masalah orang tua, guru, pemerintah, dan masyarakat pada umumnya. Ini merupakan tanggung jawab bersama. Jika kita membiarkan mereka tenggelam dalam gawai sama saja dengan membiarkan masa depan bangsa melemah. 


Islam Solusi Digital Dementia


Ada beberapa hal yang mungkin bisa diterapkan oleh para orang tua untuk mengurangi digital dementia:

1. Berikan teladan untuk anak. Tidak hanya melarang anak jauh dari gadget sementara kita sebagai orang tua tetap sibuk dengan gadget.

2. Kebijakan edukasi digital yang jelas, bukan sekadar melarang penggunaan teknologi, tetapi tidak membatasi akses digital secara umum sehingga anak-anak masih leluasa bermain.

3. Masyarakat perlu memberikan ruang interaksi yang sehat bagi anak muda.

4. Pembatasan penggunaan gawai di sekolah juga tidak kalah penting.


Gadget hanya alat, bukan tujuan hidup. Oleh karena itu, jika alat ini membuat manusia lalai, ia menjadi fitnah yang merusak generasi muda. Rasulullah saw. pernah mengingatkan bahwa setiap amanah akan dimintai pertanggungjawaban. Amanah menjaga akal dan jiwa generasi muda adalah tanggung jawab besar yang tidak boleh diabaikan.


Dalam Islam, menjaga akal dan jiwa merupakan bagian dari amanah yang harus dipelihara. Lalai membiarkan anak rusak oleh gadget sama dengan lalai menjaga amanat Allah. Manusia terlalu sibuk dengan layar hingga lupa diri, lupa waktu, dan lupa Allah. Seperti firman Allah dalam QS. Al-Isra ayat 36: "Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hari. Semuanya akan dimintai pertanggungjawaban."

 

Ayat ini mengikatkan bahwa setiap penggunaan indra, termasuk saat menatap layar, akan dimintai pertanggungjawaban. Fenomena remaja jompo akibat dementia adalah alarm sosial yang tidak boleh di abaikan. Orang tua, pemerintah, dan masyarakat harus bersama-sama menjaga generasi muda agar tidak kehilangan akal juga jiwa mereka. 


Fenomena remaja jompo akibat digital dementia hanya salah satu dari banyaknya masalah yang menimpa umat. Lemahnya psikis dan fisik menunjukan bahwa kita tidak bisa hidup tanpa Islam kafah. Seperti firman Allah dalam QS. Al-Baqarah ayat 208: "Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara kafah dan janganlah kamu ikuti langkah-langka setan. Sesungguhnya ia musuh yang nyata bagimu.”


Dalam ayat ini, menegaskan bahwa hanya dengan Islam kafah seluruh masalah umat teratasi bukan sekadar ritual, tetapi juga sistem hidup yang menjaga akal, jiwa, keluarga, pendidikan, dan masyarakat. Oleh karena itu, mari kita kembali kepada Islam secara menyeluruh menjadikan pedoman hidup agar tak ada lagi remaja jompo melainkan tumbuh sebagai generasi tangguh yang berpegang teguh pada amanah Allah. Wallahualam bissawab. [Dara/MKC]

Galodo Terus Berulang di Sumatra

Galodo Terus Berulang di Sumatra



Berbagai bencana yang menimpa Sumatra, terutama banjir, longsor, dan puting beliung 

menunjukkan pola yang berulang dari tahun ke tahun

_________________________


Penulis Melta Vatmala Sari. S.E

Kontributor Media Kuntum Cahaya


KUNTUMCAHAYA.com, OPINI - Bencana merupakan rangkaian peristiwa yang menimbulkan ancaman serius bagi keberlangsungan hidup manusia.


Peristiwa ini dapat dipicu oleh faktor alam, non-alam, hingga tindakan manusia sendiri sehingga berdampak pada kerugian materi, gangguan psikologis, bahkan hilangnya nyawa. Belum pulih dari musibah tahun sebelumnya, negeri ini kembali didera bencana baru, berupa banjir dan tanah longsor yang terjadi di wilayah Pulau Sumatra.


Laporan CNNIndonesia.com menginformasikan bahwa banjir, longsor, serta angin puting beliung melanda Sumatra Barat, Sumatra Selatan, Aceh, hingga Sulawesi. Curah hujan yang sangat tinggi menjadi pemicu utama meningkatnya jumlah korban di berbagai daerah tersebut. Longsor menyebabkan rumah dan jalan ambruk, akses komunikasi terganggu, serta sejumlah warga tertimbun material tanah. Kondisi ini menggambarkan bahwa dampak bencana makin kompleks dan luas. (27-11-2025)


Di Sumatra Barat, galodo kembali berulang. Material kayu berserakan di mana-mana, dan longsor juga terjadi di kawasan UIN IB Lubuk Minturun Padang. Dalam lima tahun terakhir, wilayah ini kehilangan sekitar 27.447 hektar hutan berdasarkan data Geographic Information System (GISKKI). Banyaknya kawasan hutan yang dialih fungsikan menjadi objek wisata membuat daerah tersebut kehilangan kemampuan menahan air. Akibatnya, pasang naik air laut meluber hingga memasuki pemukiman warga.


Faktor Terjadinya Bencana


Berbagai bencana yang menimpa Sumatra, terutama banjir, longsor, dan puting beliung menunjukkan pola yang berulang dari tahun ke tahun. Selain dipacu oleh curah hujan ekstrem dan letak geografis, kerusakan lingkungan dan tata ruang yang tidak tepat semakin memperparah situasi. Dengan demikian, bencana yang muncul tidak dapat dianggap sebagai fenomena alam murni, melainkan hasil kombinasi antara dinamika alam dan ulah manusia.


Secara umum, penyebab bencana terbagi menjadi tiga kategori:


Alam, seperti pergeseran lempeng, letusan gunung api, badai, dan banjir.


Non-alam, seperti kegagalan teknologi dan merebaknya penyakit.


Sosial, yaitu bencana akibat tindakan manusia seperti konflik atau pengelolaan lingkungan yang keliru.


Berbagai peristiwa tersebut terutama dipicu oleh kesalahan dalam pengaturan tata ruang dan lemahnya pengelolaan lingkungan. Kebiasaan masyarakat membuang sampah sembarangan mengakibatkan aliran air tersumbat. Aktivitas penebangan hutan ilegal mengurangi kemampuan tanah dalam menyerap air. Ditambah lagi, lemahnya pengawasan pemerintah terhadap pembangunan membuat kerusakan semakin meluas.


Dalam sistem kapitalisme, bencana sering dipandang sebagai sesuatu yang tak terelakkan. Pemerintah tidak sepenuhnya menjalankan fungsi sebagai pelayan rakyat, tetapi lebih berorientasi pada kebijakan yang menguntungkan pemilik modal. Misalnya, pengesahan Omnibus Law UU Cipta Kerja yang dinilai membuka peluang semakin luas bagi eksploitasi sumber daya alam. Dampaknya terlihat pada maraknya deforestasi dan alih fungsi hutan menjadi lahan pertanian atau perkebunan. Akibat lemahnya integritas aparat dan praktik suap, kepentingan rakyat pun kerap diabaikan.


Islam dalam Penyelesaian Bencana


Negara yang diatur dengan prinsip sekularisme biasanya menempatkan materi sebagai tujuan utama. Hal ini membentuk masyarakat yang cenderung mengabaikan dampak lingkungan atas tindakan mereka. Berbeda dengan Islam yang menegaskan bahwa sumber daya alam merupakan milik umum dan harus dikelola untuk kepentingan seluruh masyarakat, bukan hanya pihak yang memiliki modal.


Dalam perspektif Islam, pemerintah bertanggung jawab sepenuhnya dalam upaya mitigasi dan penanggulangan bencana. Pemimpin berfungsi sebagai pelindung dan pengayom rakyat. Masyarakat tetap dianjurkan membantu sesama, tetapi penanganan utama tetap berada pada negara.


Sistem pemerintahan Islam mengelola bencana secara menyeluruh: memastikan kebutuhan warga terpenuhi, memperbaiki sarana umum yang rusak, serta menyediakan anggaran khusus melalui Baitulmal untuk keadaan darurat. Dana ini harus tetap tersedia, baik ketika kas dalam kondisi penuh maupun kosong.


Islam juga memandang pembangunan berkelanjutan bukan dari ukuran materi semata. Pemikiran Ibnu Khaldun dalam Muqaddimah menjelaskan bahwa pembangunan harus ditopang oleh individu yang memiliki keahlian sekaligus akidah Islam yang kuat. Dengan demikian, terbentuklah masyarakat beriman, bertakwa, dan kompeten.


Proses pembangunan pun dilakukan dengan memperhatikan kelestarian alam agar tidak menimbulkan kerusakan. Setelah aspek lingkungan terjaga dan keadilan kepemilikan lahan jelas, barulah infrastruktur yang benar-benar dibutuhkan masyarakat dibangun. Hal ini akan melahirkan pertumbuhan ekonomi yang penuh keberkahan, sebagaimana ditegaskan Allah Swt. dalam surah Al-A’raf ayat 96:


“Jika sekiranya penduduk suatu negeri beriman dan bertakwa, niscaya Kami akan melimpahkan kepada mereka berbagai keberkahan dari langit dan bumi. Namun, mereka mendustakan ayat-ayat Kami, maka Kami timpakan hukuman karena perbuatan mereka." (QS. Al-A'raf: 96)


Wallahualam bissawab. [GSM/MKC]

Sumatra Menangis: Keuntungan Mengalahkan Kelestarian Alam

Sumatra Menangis: Keuntungan Mengalahkan Kelestarian Alam




Sikap penguasa yang haus pada materi sangat niscaya tercipta dalam sistem sekuler kapitalisme

Sistem yang saling terikat satu sama lainnya melahirkan pola kekuasaan yang dibangun dari akal pikiran manusia semata

______________________________


Penulis Aksarana Citra

Kontributor Media Kuntum Cahaya


KUNTUMCAHAYA.com, OPINI - Bencana seakan tidak habisnya mendera negara kita yang tercinta ini. Derai air mata, kehilangan, kerusakan, menyelimuti saudara-saudara kita di Sumatra. 


Ratusan nyawa melayang, hanyut terbawa arus banjir dan tertimbun tanah longsor. Apakah Tuhan sedang marah kepada kita? kita yang penuh dosa hingga alam pun tidak sudi lagi dihuni. Ketika air hujan yang seharusnya menjadi sumber manfaat justru berubah menjadi pembawa bencana bagi manusia.


Salah siapa ketika awan menurunkan air dari langit, tetapi kayu gelondongan yang membanjiri tanah Sumatra. Apakah langit menurunkan hujan kayu bukan air? Air deras turun dari perbukitan menghantam segala yang ada di bawahnya. Ini bukan bencana tsunami, tetapi korban dan kengeriannya tak kalah sama, memori lama kembali terbayang.


Akhir November 2025 menjadi akhir bulan yang tak terlupakan bagi tiga provinsi di Indonesia. Terjadi bencana secara berbarengan di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat. Di Sumatra Utara, daerah terdampak yakni wilayah Tapanuli Tengah, Tapanuli Utara, Sibolga, Tapanuli Selatan, dan daerah lainnya.


Hal serupa terjadi di Sumatra Barat. Wilayah terparah, yakni  Padang Pariaman, Tanah Datar, Solok, dan Kota Padang. Sementara itu, di Aceh yang terpengaruh wilayah Kabupaten Aceh Besar, Pidie, Aceh Utara, Aceh Singkil, Aceh Barat Daya, Aceh Tengah, Aceh Tenggara, dan Aceh Barat.


Di saat yang hampir bersamaan, selain di Indonesia negara lain seperti Malaysia, Thailand, dan Sri Lanka diterjang bencana banjir dan longsor. Menurut ilmuwan iklim di Indian Institute of Tropical Meterology Roxy Mathew Koll bahwasanya peringatan badai siklon telah disampaikan sebelum Badai Siklon Senyar dan Ditwah mencapai daratan.


Badai ini bukanlah badai yang terkuat karena kecepatan angin yang relatif rendah, yaitu 60-80 km/jam (37-50mph). Namun, yang terjadi di Indonesia justru bencana yang dahsyat tercatat korban meninggal akibat bencana ini. (kompas.com, 2-12-2025)


Update terkini sebanyak 836 orang dan akan bertambah karena ratusan orang masih terjebak dan 518 dinyatakan hilang. Selain itu, setidaknya ada 2,7 ribu jiwa terluka dengan rincian di Provinsi Aceh korban meninggal dunia sebanyak 325 jiwa. Sementara 170 dinyatakan hilang. Di Sumatra Utara 311 orang meninggal dunia dan 127 orang dinyatakan hilang


Adapun Sumatra Barat tercatat 200 orang meninggal dunia dan 221 orang belum diketemukan. Setidaknya 10,5 ribu rumah rusak, 536 fasilitas umum, 25 fasilitas pendidikan, 185 rumah ibadah, serta ribuan warga mengungsi dan meminta bantuan karena kesulitan akses mengakibatkan bantuan sulit didistribusikan. (tempo.co, 4-12-2025)


Apa yang disampaikan oleh Roxy bahwasanya badai siklon Senyar dan Ditwah bukanlah yang terkuat jika dibandingkan badai yang lain. Berarti penyebab banjir bandang dan longsor bukan saja karena faktor curah hujan atau badai. Ada faktor lain yang menyebabkan banjir bandang dan longsor di Sumatra. Apakah manusia menjadi faktor utamanya?


Sudah kita ketahui lewat jejak digital kerusakan hutan di Indonesia sudah berlangsung bertahun--tahun. 12 tahun lalu aktor Harison Ford pernah menegur Menteri Kehutanan saat itu setelah melihat kondisi Taman Nasional Teso Nilo Riau rusak karena penebangan liar. Tahun berlalu yang ditakutkan oleh semua manusia terjadi, hutan Indonesia perlahan hilang. Hutan Indonesia hilang ½ hektar permalam


Jadi jelas ini bukan karena alam atau pun curah hujan. Bencana kali ini terjadi karena ulah manusia. Bukan pula sekadar ujian yang diturunkan Allah Swt. kepada umatnya. Ini adalah dampak kejahatan lingkungan yang berlangsung lama dan dilegitimasi kebijakan oleh para penguasa, pemberian hak konsesi lahan, obral izin perusahaan sawit. Di mana banyak hutan yang dialihfungsikan menjadi kebun sawit.


Memang tidak salah menyatakan bahwasanya sawit pun pohon. Ada daun dan batang, tetapi pernyataan itu menyesatkan karena beda tanaman sawit dan pohon-pohon terdapat pada akarnya. Deforestasi yang dicanangkan pemerintah pun menjadi pro kontra di kalangan masyarakat dan pemerhati lingkungan.


20 juta hektare hutan akan dialihfungsikan menjadi kebun sawit demi tercapainya ketahanan pangan dan energi dengan harapan memanfaatkan hutan cadangan atau area degraded serta mengombinasikan tanaman produktif dengan penanaman pohon. Pemerintah menyangkal strategi tersebut sebagai deforestasi, tetapi reforestasi atau pemanfaatan hutan cadangan. 


Namun, banyak pakar menyebutkan rencana tersebut sebagai deforestasi masif karena membuka hutan alam untuk perkebunan sawit atau pun pertanian akan merusak keanekaragaman hayati habitat spesies hewan dan tanaman, serta mempercepat krisis iklim.


Selain itu, konversi hutan terutama jika mencakup hutan primer atau hutan alam  bisa memperparah risiko ekologis, seperti erosi, hilangnya daya serap air, dan meningkatkan kemungkinan bencana alam. Hari ini terbukti banjir bandang dan longsor yang terjadi menjadi realitas kini.


Hutan kita telah dibabat dan dihancurkan oleh para manusia yang haus keserakahan. Selain itu, izin tambang terbuka dibuka dengan leluasa. Bahkan muncul kebijakan pemberian konsesi tambang untuk ormas. Sebuah langkah yang justru menambah panjang daftar persoalan tata kelola sumber daya alam di negeri ini. Di balik gegap gempitanya pembabatan, oligarki terus meraup keuntungan dari sumber daya hasil bumi.


Mereka mengambil emas, batu bara, nikel, dan mineral lainnya, tetapi menyisakan kesengsaraan bagi rakyat, kerusakan, dan bencana ekologis yang terus berulang. Ironisnya, saat ada rakyat menyampaikan kritik di debat terbuka, ia mengemukakan fakta sederhana bahwa manusia bertambah dan kebutuhan lahan pun meningkat. Namun, kemampuan rakyat kecil paling hanya menebang satu pohon per hari sementara eskavator milik korporasi dapat membabat 1 hektar dalam sehari.


Belum lagi UU Minerba , UU Ciptakerja, dua regulasi yang dinilai oleh sebagian kalangan  sebagai pintu lebar bagi eksploitasi alam tanpa pertanggungjawaban. Karena UU Minerba memperlonggar syarat memperpanjang izin dan menguatkan posisi korporasi serta melemahkan peran pengawasan.


Sementara itu, UU Ciptaker mereduksi perlindungan lingkungan memotong proses AMDAL dan memudahkan alih fungsi hutan sekali pun masih menjadi kawasan yang dilindungi atau memiliki peran penting secara ekologis, seperti halnya terjadi di Taman Nasiaonal Teso Nilo.


Sikap penguasa yang haus pada materi sangat niscaya tercipta dalam sistem sekuler kapitalisme. Sistem yang saling terikat satu sama lainnya melahirkan pola kekuasaan yang dibangun dari akal pikiran manusia semata. Pada akhirnya terbukti hanya menguntungkan segelintir orang. Kekuasaan menjadi alat transaksi bukan amanah. 


Saat masyarakat membutuhkan bantuan, mereka yang datang membantu membawa misi pencitraan. Tempat pengungsian berubah menjadi panggung kampanye terselubung. Inilah kenyataan pahit yang hanya terjadi di sistem demokrasi. Ketika bencana sekalipun dimanfaatkan sebagai kesempatan mengangkat popularitas.


Padahal para penguasa itu menutup rapat topeng mereka. Mereka berdiri di hadapan kamera seolah-olah datang sebagai penyelamat, tetapi di balik itu merekalah sang pembuat kebijakan. Merekalah yang merusak lingkungan, memberi izin membabat hutan, memotong kayu-kayu yang akhirnya membanjiri wilayah tesebut, memutus akses kehidupan rakyat dan melanggengkan kekuasaan oligarki.


Inilah efek dari suatu negara yang meninggalkan hukum Allah dan sistem Islam dalam pengelolaan lingkungan. Hingga saat ini dengan jumlah korban yang sebegitu banyak dan dampak lingkungan yang besar, hingga ada 4 kampung di Aceh menghilang tertimbun tanah, tetapi Status Darurat Becana Nasional tidak diberlakukan.


Kenapa tidak diberlakukan, karena ketika negara memberlakukan Status Darurat Bencana Nasioal maka izin industri akan berhenti, eksploitasi tambang berhenti, proyek mega infrastruktur harus dihentikan, penyebab bencana harus diusut, struktur tata ruang dan izin lingkungan harus diaudit dan dalang dari ini semua harus dicari.


Arus opini internasional akan berdatangan dan akan ikut mengusut. LSM internasional masuk, maka media asing akan memantau, akhirnya transparansi tidak bisa ditutup. Mungkin itu yang ditakutkan penguasa kita, segala macam kedok mereka terbongar. Dalam sistem ini penguasa dan pengusaha menikmati hasil sedang rakyat menikmati bencana.


Penguasa yang tidak berpihak pada rakyat, tetapi tunduk pada pengusaha. Karena sistem  sekuler kapitalis yang memisahkan agama dengan sendi-sendi kehidupan membuat penguasa kita lupa untuk apa mereka menjabat, diberikan amanah, mereka lalai dan mementingkan materi di atas nyawa rakyat. 


Umar Bin Khattab pernah menangis hanya karena keledai yang terjatuh di jalan. Ketika sahabat bertanya mengapa engkau menangis itu hanya seekor keledai. Beliau berkata aku takut itu menjadi urusanku kelak di akhirat karena keledai itu jatuh di jalanan berlubang di tempatku, dan kelak menjadi urusanku di akhirat. Sebegitu mulianya bahkan hewan saja beliau khawatirkan, tetapi bagaimana dengan  penguasa kita yang secara terang-terangan membabat hutan?


Dalam Al-Qur’an, Allah Swt. telah mengingatkan kerusakan di bumi merupakan ulah manusia. Allah berfirman dalam surah QS. Ar-Rum ayat 41 yang berbunyi:


“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan tangan manusia. Melalui hal itu, Allah membuat mereka merasakan sebagian dari akibat perbuatan mereka agar mereka kembali sadar.”


Negara Islam mengharamkan perusak alam secara mutlak, tidak membiarkan eksploitasi hutan, tambang dengan seenaknya. Allah berfirman dalam QS. Al-Araf: 56 yang berbunyi:


“Dan janganlah kalian memebuat kerusakan di muka bumi setelah Allah memperbaikinya.“ 


Maknanya, negara wajib mencegah segala bentuk perusak lingkungan baik individu maupun oligarki. Negara mengatur kepemilikan SDA sesuai hadis Rasullullah saw.,


“Kaum muslim berserikat dalam 3 hal: air, padang rumput, dan api.” (HR. Abu Dawud)


Negara akan melarang menebang hutan secara masif, membuat dan menjaga kawasan resapan air, tidak memberikan izin alih fungsi hutan, dan diwajibkannya reboisasi. Menanam pohon adalah ibadah maka merusaknya adalah kezaliman. Negara akan memberikan sanksi tegas pada perusak lingkungan, karenanya termasuk perbuatan yang membahayakan umat banyak. 


Selain itu, negara akan melakukan pencegahan melalui pendapat para ahli lingkungan. Saran dan kritik akan ditampung oleh negara dan bijaksana dalam mengambil segala keputusan. Maka hanya dengan hukum Allah Swt. negara bisa menimimallisir bencana.


Kita memang tidak tahu kapan bencana akan datang karena merupakan takdir Allah Swt., tetapi ketika negara diurus oleh penguasa yang zalim dengan kebijakan kebijakan yang tidak bijaksana dan salah, akan menimbulkan segala macam bencana.


Khalifah sebagai pemegang mandat dari Allah akan fokus pada setiap kebijakan dan memikirkan sampai mendalam setiap mengambil segala keputusan,dan mengutamakan keselamatan umat manusia dan lingkungan dari dharar.


Khalifah akan merancang blue print tata ruang secara menyeluruh, melakukan pemetaan wilayah sesuai fungsi alamnya, tempat tinggal dan semua daya dukungnya, industry tambang dan himmahnhya.


Syariat Islam mampu menutup pintu bencana akibat keserakahan manusia. Inilah bukti Islam tidak hanya menjadi solusi bagi manusia dan penolong keberlangsungan bumi serta isinya karena Islam adalah rahmatan lil alamin. Wallahualam bissawab.

Krisis Sudan, Umat Harus Bersatu!

Krisis Sudan, Umat Harus Bersatu!



Intervensi yang dilakukan Amerika Serikat dan ketidakmampuan negeri Islam

dalam menolong saudaranya adalah bukti lemahnya persatuan umat

_________________________


Penulis Novita Suri 

Kontributor Media Kuntum Cahaya dan Aktivis Dakwah


KUNTUMCAHAYA.com, OPINI - Sudan merupakan negara di Timur laut Afrika yang berbatasan langsung dengan Laut Merah.


Karenanya Sudan memiliki beberapa pelabuhan strategis seperti Port Sudan, dimana kapal-kapal dari pelabuhan tersebut dapat menggunakan Terusan Suez sebagai rute pelayaran menuju laut Mediterania dan Eropa serta negara lainnya tanpa harus mengelilingi benua Afrika, dan ini merupakan jalur laut yang strategis untuk perekonomian. Selain itu, Sudan juga negara yang subur dan kaya akan sumber daya alam sehingga ini menjadi perebutan antara pihak yang ingin berkuasa.


Sudan: Wilayah yang Kaya SDA


Perebutan kekuasaan antar saudara yang terjadi di Sudan sudah memasuki tahun ketiga, konflik ini terjadi antara Angkatan Darat Sudan (Sudanese Armed Forces/SAF) dengan para militer ( Rapid Support Forces/RSF) yang saat ini mereka berfokus pada perebutan sumber daya alam sehingga terciptalah matriks kontrol yang komplek dari perebutan kendali atas SDA tersebut.


Sebagian wilayah timur dan utara Sudan yang memiliki cadangan emas termasuk ibu kota Khartoum, dan jalur ekspor Port Sudan dikuasai oleh SAF, sementara wilayah bagian barat Darfur dan sebagian ladang minyak di selatan dikuasai oleh RSF.


Meskipun terjadi konflik, pada tahun 2024 produksi emas ilegal Sudan melonjak menjadi 64 Ton, dengan pendapatan ekspor legal senilai US$1,57 milyar (Rp26,28 triliun), dimana pada tahun 2023 sebanyak 99% di ekspor ke Uni Emirat Arab yang merupakan mitra dagang utama Sudan. (CNBCIndonesia.com, 22-11-25)


Adapun kekayaan di wilayah Sudan Selatan berupa kilang minyak dikuasai oleh RSF, sementara kendali pipa minyak dari el-Obeit ke Port Sudan yang merupakan jalur penting minyak Sudan dan Sudan Selatan ada di tangan SAF. Sehingga dengan segala upaya, RSF mengambil kendali atas berbagai wilayah penting di Sudan Utara dan Timur demi mengendalikan Sumber Daya Alam dan jalur ekspor Sudan. 


Konflik yang terjadi antara SAF yang dipimpin oleh Jenderal Abdel Fattah al-Burhan, dan RSF yang dipimpin oleh Jenderal Mohamed Hamdan Dagalo (Hemedti), mengakibatkan masyarakat mengalami krisis, baik krisis kemanusiaan, kelaparan, dan keamanan. Kondisi ini memaksa rakyat untuk pergi dari tempat tinggalnya, para wanita diperkosa, anak anak dibantai dan kelaparan melanda. 


Keterlibatan AS dalam Konflik Sudan


Jika ditelik lebih dalam kondisi ini bukan hanya terjadi karena perebutan kekuasaan dan SDA semata melainkan ada 2 kekuatan besar dibalik 2 pihak yang berkonflik. Sudan merupakan bagian dari wilayah Daulah Khil4fah, setelah keruntuhannya Sudan dikuasai oleh Inggris. 


Inggris mempertahankan kekuasaannya dengan membagi Sudan menjadi dua bagian, yaitu Sudan Utara yang lebih kepada etnis Arab dan beragama Islam, wilayah ini menjadi lebih maju dari wilayah Sudan Selatan yang mayoritas merupakan etnis Afrika yang berkulit hitam dengan kepercayaan Kristen dan animisme. Kondisi ini menyebabkan Sudan terpecah belah.


Namun, kekuasaan Inggris mulai melemah setelah PBB yang diusung oleh Amerika Serikat  ikut serta dalam kancah perpolitikan internasional. AS menjadikan Hemedt (RSF) sebagai agennya untuk menguasai Darfur, sementara Burhan sebagai militer Sudan yang menguasai wilayah el-Fasyir juga merupakan agen AS dari kubu yang berbeda. Sebelumnya, kedua Jenderal ini adalah sekutu yang bekerjasama untuk mengkudeta pemerintahan transisi pada tahun 2021.


Jelaslah konflik yang terjadi di Sudan merupakan agenda yang dirancang oleh AS untuk kepentingannya dalam menguasai negeri Kaum muslimin. Tampak dari apa yang disampaikan oleh Hamedti dalam pidatonya terkait 'Gencatan Senjata sepihak' pada malam 24-11-25 "Menanggapi upaya internasional, terutama dari Yang Mulia Presiden AS Donald Trump... Saya mengumumkan gencatan senjata kemanusiaan termasuk penghentian permusuhan selama tiga bulan,". Sementara pihak Burhan menentang keras. (CNBCIndonesia.com, 25-11-25)


Penolakan yang dilakukan Burhan menimbulkan friksi diplomatik dari negara mediator seperti Uni Emirat Arab dan lainnya.


Dengan ini konflik akan terus berlangsung dan kondisi negeri negeri muslim disekitar Sudan juga 'seolah-olah'  tidak mampu membantu rakyat Sudan dikarenakan perbedaan wilayah dan sekat-sekat nasionalisme. Ditambah lagi AS yang telah merancang dan mengancam negeri muslim tersebut dengan kekuatan diplomatiknya sehingga AS akan lebih mudah dalam melakukan intervensi terhadap kekayaan alam di sana, dan memecah belah rakyat dengan perbedaan agama dan etnis agar sulit untuk bersatu dan bangkit untuk menegakkan hukum Islam. 


Saatnya Umat Islam Bersatu


Intervensi yang dilakukan Amerika Serikat dan ketidakmampuan negeri Islam  dalam menolong saudaranya adalah bukti lemahnya persatuan umat. Hal ini dikarenakan ketiadaan institusi negara yang mampu menjaga dan melindungi seluruh umat Islam, yaitu Daulah Khil4fah Islam, karena sesungguhnya Khil4fah adalah perisai sebagaimana sabda Nabi saw.: "Sesungguhnya Imam (Khalifah) adalah perisai; orang-orang berperang di belakangnya dan berlindung kepada dirinya." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)


Untuk itu, maka wajiblah kita sebagai seorang muslim untuk menegakkan Khil4fah dengan upaya menyadarkan umat bahwa kita adalah satu. Umat Islam memiliki ikatan yang satu dan kuat yaitu ikatan akidah, umat Islam itu bersaudara dan diharamkan untuk berpecah belah sebagaimana firman Allah Swt. dalam surah Al-Imran 103 yang artinya:


"Dan berpegang teguhlah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliah) bermusuh-musuhan, lalu Allah mempersatukan kalbu-kalbu kalian sehingga karena nikmat Allah kalian menjadi orang-orang yang bersaudara."


Maka sudah saatnya kita kembali kepada sistem Islam yang mampu menjaga persatuan dan kesatuan umat dalam bingkai Khil4fah dengan meggencarkan dakwah yang sesuai dengan metode dakwah Rasulullah. Wallahualam bissawab. [GSM/MKC]

Normalisasi dan Legalisasi Penjajahan atas P4lestina

Normalisasi dan Legalisasi Penjajahan atas P4lestina




Kapitalisme membuat pandangan politik luar negeri mereka berorientasi pada kepentingan ekonomi

Menolong saudara-saudaranya adalah sebuah kerugian 


_______________________


Penulis Harisagustinawati

Kontributor Media Kuntum Cahaya 


KUNTUMCAHAYA.com, ANALISIS - Sudah dua tahun sejak dimulainya Badai Al Aqsha, Oktober 2023, dunia masih menonton Zion*s memborbardir G4za, P4lestina.


Konferensi terus berlanjut tapi tidak ada satupun yang mampu menggerakkan militer negara di dunia untuk menghentikan genosida.


Kondisi negeri-negeri muslim justru menunjukkan wajah sebaliknya. Ternyata para penguasa negeri muslim hanya boneka Amerika dan Zion*s. Satu persatu dari mereka berlomba-lomba menunjukkan keberpihakan kepada Zion*s Isra*l.


Uni Emirat Arab, Sudan, Bahrain, dan Maroko menyusul, Kazakhstan adalah daftar negara Arab yang sudah bergabung dengan Abraham Accords. Keikutsertaan Kazakhstan bergabung dalam Abraham Accords ditunjukkan langsung tanpa malu-malu. Abraham Accords adalah Agenda yang diinisiasi Amerika dan Isra*l sejak tahun 2020 yang berisi perjanjian normalisasi hubungan antara Isra*l dengan beberapa negara Arab di Timur Tengah.


Terdengar janggal, apa fungsinya normalisasi dan pengakuan kemerdekaan atas P4lestina jika G4za tetap dibantai. Tidak aneh jika dalam beberapa waktu ke depan, negeri-negeri Arab atau pun muslim lain yang bergabung dengan aliansi pembela Zion*s Isra*l.


Pemerintah Turki pada awal November lalu mengumumkan penerbitan surat penangkapan terhadap 37 tersangka atas dugaan genosida dan kejahatan terhadap kemanusiaan di G4za. Termasuk di antaranya Perdana Menteri Isra*l Benjamin Netanyahu Menteri Pertahanan Israel Katz, Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben Gvir, dan Kepala Staf Angkatan Bersenjata Letnan Jenderal Eyal Zamir. (tvonenews.com, 09-11-2025)


Sikap yang seolah menunjukkan drama dari penguasa negeri muslim. Karena berapa pun surat perintah dan kecaman yang dikeluarkan tetap tidak menunjukkan keseriusan Turki menolong Palestina. Tidak satupun pasukan dan senjata yang dikirim Turki sebagai konsistensi dari pernyataan. Turki hanya mampu mengeluarkan kecaman basi bagian dari retorika.


Perangkap Penjajahan Atas G4za


Melihat seriusnya Amerika Serikat memfasilitasi beberapa negara Arab untuk melakukan normalisasi hubungan dengan Isra*l. Seharusnya penguasa negeri-negeri tersebut menyadari bahwa agenda Abraham Accords adalah salah satu perangkap AS dan sekutunya sehingga genosida dan penjajahan atas P4lestina adalah hal yang legal dan biasa.


20 poin proposal Trump pasca gencatan senjata bulan lalu adalah bukti bahwa Amerika adalah penyokong utama genosida. Namun anehnya, banyak penguasa negeri muslim justru menyatakan keberpihakan dengan alasan menuju langkah perdamaian. Begitu juga dengan pengakuan kemerdekaan P4lestina pada KTT Perdamaian Sharm al-Sheikh yang digelar di Mesir pada 13 Oktober 2025 lalu.


Pertemuan sejumlah pemimpin dunia dalam penandatanganan perjanjian perdamaian dan penghentian perang di G4za. Akan tetapi, hasil dari pertemuan ini justru menyudutkan posisi para pejuang G4za. Justru semakin membuka kesempatan bagi Zion*s penjajah untuk terus menghancurkan G4za tanpa perlawanan. Penguasa muslim malah mendukung penyerahan kendali Palestina ke tangan penjajah. 


Dalam pandangan Islam terkait perjanjian internasional, jika penerapan atau pun ide itu berasal dari sekelompok kecil negara adidaya atau negara besar, hal tersebut adalah bentuk permusuhan. Jika negara adidaya tersebut melakukan pelanggaran terhadap perjanjian tersebut, negara lain tidak akan mampu menerapkan sanksi kepada negara adidaya tersebut. (Telaah Kitab, Perjanjian-Perjanjian Internasional dalam Pandangan Islam dalam Muslimah News.net)


Sebaliknya, jika negara-negara selain negara adidaya yang melanggar perjanjian, akan mudah sekali diberikan sanksi. Artinya, perjanjian yang dinisiasi oleh Amerika apapun bentuknya  merupakan jebakan bagi negara-negara yang terlibat perjanjian tersebut. Sudah jelas, jika penguasa negeri muslim secara sadar menjalin perjanjian damai dengan negara pelaku genosida.


Hal tersebut membuktikan bahwa sesungguhnya penguasa negeri-negeri muslim sedang menunjukkan pengkhianatan nyata terhadap G4za. Mereka memilih setia menjadi budak Amerika dan Zion*s padahal rakyat di negeri-negeri mereka sudah menuntut pembebasan P4lestina. Mereka sebenarnya paham dan tahu diri bahwa mereka mendapatkan kekuasaan karena dukungan dari sang majikan, yaitu Amerika.


Nasionalisme Penyebab Penjajahan P4lestina Terus Berlanjut


Penguasa negeri muslim layaknya budak yang melayani kepentingan Zion*s dan Amerika. Mereka tunduk pada kepentingan penjajah, tak peduli berapa nyawa yang sudah dihabisi. Apa yang terjadi hari ini di P4lestina adalah cerminan nasionalisme, ide rusak yang memisahkan umat Islam dalam sekat semu.


Karena berbeda budaya, suku bangsa, dan negara, seakan akan persoalan G4za, P4lestina bukanlah urusan umat Islam. Bagaimana penguasa muslim hari ini memandang persoalan P4lestina? Sungguh mengenaskan ada penguasa muslim yang justru menjalin kerjasama dengan Zion*s padahal jelas membantai umat Islam. Persenjataan hebat dan tentara yang disebut terlatih hanya disimpan di gudang militer, dipamerkan ketika peringatan hari nasional. 


Hati mereka bahkan tidak tergerak untuk mengirim pasukan dan persenjataan ke arah penjajah Zion*s yang mereka lakukan mengutuk dan mengecam, retorika palsu tanpa tindakan nyata. Ini merupakan bencana yang sangat besar bagi umat Islam. Membiarkan nyawa saudara seiman dihabisi penjajah.


Padahal umat Islam itu laksana satu tubuh, Rasulullah saw. bersabda: “Perumpamaan orang-orang yang beriman dalam hal saling mengasihi, mencintai, dan menyayangi bagaikan satu tubuh. Apabila ada salah satu anggota tubuh yang sakit maka seluruh tubuhnya akan ikut terjaga dan panas (turut merasakan sakitnya).” (HR. Bukhari dan Muslim)


Jika melihat kekuatan militer di negeri-negeri muslim, membebaskan G4za dan P4lestina dari negara penjajah sebenarnya bukan hal yang mustahil. Namun, nasionalisme membuat negeri-negeri muslim menjadi pengecut yang hanya mampu berdiam diri di wilayah masing-masing. Mereka membesarkan jiwa takut mati seakan-akan mengirimkan tentara ke G4za adalah hal yang tidak mungkin karena mengancam stabilitas negeri mereka.


Kapitalisme membuat pandangan politik luar negeri mereka berorientasi pada kepentingan ekonomi. Menolong saudara-saudara mereka adalah sebuah kerugian dan tidak akan menghasilkan keuntungan apapun. Amerika dengan sistem sekuler kapitalismenya mencengkram negeri-negeri muslim dengan berbagai perjanjian agar pembebasan P4lestina tidak akan terealisasi.


Begitupun mengharapkan pembebasan palestina dari diplomasi PBB yang jelas lembaga dominasi Amerika. Sangat jelas, bahwa menggantungkan harapan pada negeri-negeri muslim yang berideologi kapitalisme adalah mimpi. Butuh negara adidaya baru yang terlepas dari hegemoni AS dengan ideologi kapitalismenya.


Solusi Islam Atas Genosida dan Penjajahan P4lestina


Umat Islam tidak boleh diam atas penjajahan dan genosida di P4lestina, apalagi melakukan normalisasi dan menyerahkan urusan P4lestina pada perjanjian yang dibuat oleh Amerika sebagai penyokong utama penjajahan. Penyelesaian masalah penjajahan G4za, P4lestina sudah sangat mendesak.


Solusi seharusnya dikembalikan pada cara pandang Islam. Allah berfirman: “Diwajibkan atas kalian berperang.” (QS. Al-Baqarah [2]: 216)


Berdasarkan ayat ini, solusi satu-satunya membebaskan P4lestina adalah jihad, mengirimkan tentara untuk mengusir penjajah. Jihad membutuhkan dana dan persiapan militer yang besar dan persenjataan lengkap.


Sebagaimana firman Allah: “Persiapkanlah untuk (menghadapi) mereka apa yang kamu mampu, berupa kekuatan (yang kamu miliki) dan pasukan berkuda. Dengannya (persiapan itu) kamu membuat gentar musuh Allah, musuh kamu, dan orang-orang selain mereka.” (QS. Al–Anfal [8]: 60)


Artinya, umat Islam harus mempersiapkan kekuatan militer terbaik untuk berjihad membela saudaranya di P4lestina. Kekuatan militer terbaik itu hanya mampu dikerahkan oleh negara yang berfungsi sebagai junnah (perisai) dan ra’in (pelindung) bukan negara dengan konsep nasionalisme.


Negara yang dimaksud adalah negara Islam. Sebagai langkah awal, negara Islam akan menyatukan seluruh kekuatan negeri-negeri muslim di bawah satu naungan. Kemudian, memobilisasi militer lengkap dengan menyiapkan dana yang berasal dari baitul mal.


Kaum muslim seharusnya menyambut seruan untuk berjihad dengan gembira dan meyakini bahwa Allah akan memberikan pertolongan dan kemenangan pada kaum muslim. Bukankah firman Allah dalam QS. Muhammad ayat 7: “Wahai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.”  


Mengembalikan Kehidupan Islam dengan Dakwah


Selama Amerika dengan ideologi kapitalisme masih mencengkeram, dunia Islam tetap terpecah belah dalam sekat nasionalisme. Penguasa sibuk dengan agenda mempertahankan kekuasaan dan acuh dengan kondisi umat. P4lestina akan terus mengalami krisis berulang jika tidak ada kekuatan adidaya baru yaitu negara independen yang terlepas dari hegemoni Amerika.


Sudah saatnya umat Islam menyadari penting dan mendesaknya mengembalikan kehidupan Islam dalam wujud negara sebagai solusi hakiki pembebasan P4lestina dari penjajahan Zion*s dan sekutunya, yaitu Amerika. Tidak ada cara lain, umat Islam sudah saatnya berjuang untuk kembali menerapkan sistem Islam dalam bernegara dan meninggalkan ideologi kapitalisme. 


Umat Islam harus terus meyakini bahwa perjuangan menjemput pertolongan Allah semakin dekat. Firman Allah: “Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat.” (QS Al-Baqarah [2]: 214)


Agenda utama umat hari ini adalah mewujudkan persatuan dalam satu naungan. Mewujudkan hal tersebut tentu harus mengikuti metode yang shahih yaitu dengan metode yang telah dicontohkan Rasulullah. Metode tersebut adalah dakwah.


Dakwah yang bersifat pemikiran tanpa kekerasan dan politis. Syaikh Taqyuddin An-Nabhani dalam kitab At-Takattul al-Hizbiy menjelaskan ada tiga tahap mengembalikan Islam sebagai sistem bernegara. Tahapan pertama adalah pembinaan (tatsqif), menanamkan tsaqafah Islam pada umat sehingga terjadi perubahan pemikiran. Tahapan kedua yaitu berinteraksi dengan masyarakat (tafa’ul ma’al ummah). Tahapan terakhir pengambilalihan kekuasaan (istilamulhukmi) dengan dukungan umat sehingga diterapkannya syariat Islam.


Hal tersebut adalah satu-satunya jalan untuk kebangkitan umat Islam menantang kekuatan penjajah yang mampu membebaskan P4lestina. Perjuangan mengembalikan kehidupan Islam harus dilakukan secara bersama-sama karena ini adalah kewajiban syariat yang diperintahkan Allah Swt.. Wallahualam bissawab. [Dara/MKC]

Benarkah Mapan Dulu Baru Menikah?

Benarkah Mapan Dulu Baru Menikah?



Dalam lslam, menikah adalah suatu ibadah terpanjang yang mengharapkan rida Allah Swt.

dan jalan mencari kecukupan hidup dari karunia Allah Swt.

_______________________


Penulis Yuli Ummu Raihan 

Kontributor Media Kuntum Cahaya dan Muslimah Peduli Generasi


KUNTUMCAHAYA.com, OPlNl- "Nikah dulu atau mapan dulu?" 

Satu kalimat yang belakang banyak dijadikan konten di media sosial. Hal ini terjadi karena adanya fenomena generasi muda yang lebih takut miskin daripada takut tidak menikah. Alhasil, banyak generasi muda yang menunda pernikahan karena ketidakpastian ekonomi serta tingginya biaya hidup. 


Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain pula ikannya, begitu pun generasi hari ini. Beda generasi beda pula tantangannya. Kondisi ini melahirkan cara pandang yang berbeda pula dalam memandang sesuatu misalnya pernikahan.


Dahulu pernikahan dijadikan tonggak kedewasaan yang harus dicapai. Mereka yang sudah kepala tiga, tetap melajang dianggap sebagai keterlambatan. Maka label perawan tua atau bujang lapuk kerap disematkan oleh masyarakat. Sekarang sepertinya telah terjadi pergeseran pandangan. Banyak generasi muda hari ini justru menunda untuk menikah karena takut belum mapan secara ekonomi. (Kompas.id, 27-11-2025)


Generasi muda atau gen Z menempatkan pernikahan bukan lagi sebagai prioritas utama yang harus dicapai.  Ketakutan akan hidup miskin terjadi seiring dengan besarnya dorongan dari beragam  faktor fundamental yang menyertainya, terutama realita perekonomian hari ini. 


Dunia kerja hari ini penuh dengan ketidakpastian, gen Z merasa penghasilan mereka secara rata-rata jauh lebih rendah jika dibandingkan dengan generasi sebelumnya pada usia yang sama. Ini erat kaitannya dengan economic scarring atau luka ekonomi, yaitu kondisi yang merujuk pada kerusakan sistem perekonomian dalam jangka menengah atau jangka panjang sebagai akibat dari krisis ekonomi. 

 

Pandemi 2019 adalah salah satu penyebab luka tersebut. Saat ini gaji relatif rendah, sementara harga kebutuhan hidup semakin tinggi. Standar kebahagiaan diukur dengan pencapaian materi, punya rumah yang nyaman, kendaraan terbaru, gadget yang tercanggih, jabatan atau pekerjaan yang bergengsi. Hal ini memicu kecemasan akan kemiskinan semakin nyata.


Keputusan menunda pernikahan dianggap sebagai strategi bertahan paling rasional. Hasil jajak pendapat yang dilakukan Litbang Kompas mengenai pernikahan pada 10-13 November 2025 menghasilkan 73,5 persyaratan responden memilih fokus pada pekerjaan dan makan secara ekonomi sebagai alasan utama belum dan menunda pernikahan. BPS menyimpulkan dalam lima tahun terakhir jumlah pemuda yang belum menikah meningkat hingga hampir 10 persen.


Fenomena generasi takut menikah juga disebabkan adanya perubahan nilai. Dulu wanita tidak bekerja itu biasa, tetapi hari ini sebaliknya. Wanita merasa dipandang berharga ketika ia bisa mandiri secara ekonomi dengan bekerja atau berkarya. Banyak wanita yang malu dan insecure ketika hanya menjadi ibu rumah tangga saja. Mereka berlomba mencari validasi. 


Generasi muda lebih memilih stabilitas psikologis, kesehatan mental, dan kualitas hidup sehari-hari sebagai prioritas yang lebih penting dari pada sekadar status pernikahan. Ada semacam pembenaran ketika seorang wanita memiliki uang, ia tidak membutuhkan pria (suami) lagi. Sementara pria yang memiliki uang justru menginginkan wanita lagi.

 

Belum lagi drama yang sering terjadi dalam pernikahan menjadikan pernikahan itu menakutkan. KDRT, perselingkuhan, perceraian dan perebutan harta gono gini, serta hak pengasuhan adalah momok menakutkan bagi generasi muda. Apalagi jika mereka korban dari semua itu. Bahkan setelah menikah generasi hari ini masih berpikir ribuan kali untuk memiliki atau menambah anak. Ada yang bilang memiliki anak dalam kondisi ekonomi yang belum stabil adalah sebuah bencana. 


Data dari BPS menunjukkan sepanjang tahun 2024 kasus perceraian di Indonesia mencapai 400.000 kasus. Faktor ekonomi menjadi faktor terbesar dari begitu banyaknya kasus perceraian. Banyak dari kasus perceraian itu merupakan gugat cerai dari pihak perempuan. 


Negara sebagai regulator cenderung lepas tangan dalam menjamin kesejahteraan rakyat. Beban hidup harus dipikul sendiri oleh rakyat. Belum lagi pengaruh pendidikan sekuler dan media liberal telah menumbuhkan gaya hidup hedonis dan materialis. Pernikahan tidak lagi dipandang sebagai ladang kebaikan dan ibadah, melainkan sebuah beban dan momok menakutkan.


Hal ini akan berbeda ketika negara hadir secara langsung menjamin kebutuhan dasar rakyat. Ketika negara membuka lapangan pekerjaan yang banyak melalui penerapan sistem ekonomi Islam. 


Dalam Islam, ada pembagian kepemilikan, salah satunya kepemilikan umum. Pengelolaannya menjadi tanggung jawab negara. Hasilnya digunakan untuk menyejahterakan rakyat. Dengan begitu, tekanan hidup akan berkurang. Pendidikan dalam Islam akan melahirkan generasi yang berkepribadian Islam. Tidak terjebak menjadi individu yang materialis dan hedonis.


Penerapan sistem pergaulan Islam akan memperkuat institusi keluarga. Pernikahan menjadi lahan kebaikan, ibadah, penjagaan keturunan, dan mendapat sakinah, mawadah, warahmah. Suami istri paham hak dan kewajiban masing-masing. Suami akan berusaha optimal agar kewajiban nafkah keluarga terpenuhi. Sebaliknya, istri didorong untuk qanaah terhadap pemberian suami, tidak menuntut sesuatu di luar kemampuan suami. 


Rasulullah saw., bersabda: "Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian yang mampu menikah, maka menikahlah, karena itu lebih  menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan." (HR. Muslim)


Dalam Islam, pernikahan itu yang penting sah bukan mewah. Apalagi sampai berutang dan terlibat riba. Ketika menikah dianjurkan sekufu (sepadan) agar tidak jadi masalah di kemudian hari. Misalnya seorang pemuda yang punya penghasilan rendah tentu tidak akan cocok menikah dengan wanita yang gaya hidupnya terbiasa mewah. Islam juga menganjurkan wanita untuk memudahkan mahar, sementara pria didorong untuk memberikan mahar terbaik dan memenuhi kewajiban nafkah dengan optimal.


Allah berfirman dalam QS An-Nuur ayat 32: "Dan Kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (kawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan perempuan. Jika mereka miskin maka Allah akan mampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha Luas pemberianNya lagi Maha Mengetahui."


Hadis riwayat Ibnu Mas'ud juga mengatakan: "Carilah kekayaan dalam pernikahan."


Jadi, pernikahan adalah jalan mencari kecukupan hidup dari karunia Allah, jangan jadikan kemiskinan penghalang pernikahan. Apalagi menunda menikah, tetapi melakukan maksiat dengan pacaran atau bahkan kumpul kebo. Nauzubillahi min zalik. Wallahualam bissawab. [Luth/MKC]

Ketika Ruang Digital Melemahkan Karakter Generasi

Ketika Ruang Digital Melemahkan Karakter Generasi



Penegakan syariat Islam kafah di setiap aspek kehidupan

akan mengeliminasi bekembangnya praktik rusak di ruang digital

______________________________


Penulis Aksarana Citra 

Kontributor Media Kuntum Cahaya 


KUNTUMCAHAYA.com, ANALISIS - AI bukan sekadar aplikasi, tetapi sebuah teknologi atau sistem yang memungkinkan computer robot atau pun perangkat digital bisa melakukan tugas seperti manusia, seperti berpikir memahami bahasa, mengenali gambar, dan lain-lain.


Teknologi digital kini makin meresap ke diri remaja dan generasi penerus kita. Seperti halnya api, teknologi bagai dua sisi yang bisa memberi manfaat dan di sisi lainnya malah bisa merusak sebagaimana manusia memanfaatkannya. Konten-konten di media sosial tiap hari tidak ada habisnya memenuhi jagad maya. Dari hal positif bahkan hal negatif seakan silih berganti tanpa ada filter atau pengawasan dari pemerintah


Di era digital kini manusia dipermudah dalam mencari informasi dan ilmu, tetapi yang menjadi pertanyaan mengapa di era digital yang makin maju, tetapi berbanding terbalik dengan akhlak generasi kita. Banyaknya tindak perundungan daring, manipulasi seksual dengan memanfaatkan teknologi AI, kecanduan narkoba, kecanduan konten pornografi, tindakan arnarkisme, dan lain-lain. Ruang digital kini telah berubah menjadi medan rawan bagi generasi muda.


ARB 19 tahun seorang remaja di Gresik yang mengedit foto teman perempuannya dengan memanfaatkan teknologi AI kini telah berubah statusnya menjadi tersangka utama dalam peredaran foto tak senonoh tersebut. Dia tidak menyangka karena kejahilannya, membuatnya gagal berkuliah bahkan sekarang mendekam di balik jeruji besi Polres Gresik.


Ia mengakui segala perbuatannya dan foto tersebut menjadikan alat pemuas hasrat seksualnya. Semua itu karena terinspirasi dari platform Twitter. Ia merekayasa foto tersebut sejak tahun 2023, setelah mengedit foto tersebut disebarkan di media sosial. (detikjatim, 15-07-2024)


Dua remaja meregang nyawa setelah melakukan challenge terjun ke sungai dari jembatan di Kabupaten Tegal. Satu ditemukan meninggal dan satu lainnya sedang proses pencarian. Aksi nekat tersebut terjadi pada Kamis (17-10) di atas jembatan sungai Gung desa Kaligayam Kecamatan Talang Kabupaten Tegal. 


Menurut kesaksian teman korban, nyatanya mereka berdua tidak bisa berenang, tetapi nekat terjun. Awalnya mereka berlima hendak membuat konten dua orang terjuan dan yang lainya merekam, tetapi naas karena tidak bisa berenang membuat mereka tenggelam dan tidak bisa terselamatkan. (detikBali, 17-10-2025)


Konten-konten yang merusak berseliweran setiap detiknya dan memengaruhi cara berpikir dan sikap bahkan memengaruhi cara beragama. Belum lama ini istilah agnostic dilontarkan secara terang-terangan oleh seorang influencer muda. Pandangannya tersebut didasari oleh argumen bahwa bukti-bukti yang ada mengenai keberadaan tuhan belum cukup baginnya.


Ia merasa ada di posisi yang abu-abu antara percaya atau tidak. Selain itu, paham ateis pun sering dilontarkan oleh para idol Kpop. Tidak aneh kalau di Korea karena sebagian besar penduduknya memang ateis atau tidak beragama. Namun, cara pemikiran itu yang bisa memengaruhi para remaja muslim kita.


Belum lagi banyak konten yang memojokkan agama Islam. Bukan karena ajarannya, tetapi karena oknum yang berlindung di balik agama. Hal hal itu makin membuat remaja kebingungan karena di satu sisi mereka muslim, tetapi di sisi lain cara pandang yang salah telah memengaruhi mereka dalam berpikir dan bertindak. Agama hanya sebuah kolom saja di KTP tidak lebih, dan cara berpikir mereka sudah jauh dari Islam. 


Akhirnya, lahirlah generasi yang split personality rapuh dan sekuler. Dulu zaman orang tua kita seperti generasi milenial, Gen X, dan generasi babyboomers tampak lebih kuat personalitynya karena tidak hidup di era digital hidup mereka lebih real nyata, tidak maya atau semu.


Mereka belajar mengahadapi realitas secara langsung bukan melalui layar, maka mental dan personality mereka lebih kuat, ritme hidup lebih stabil, tantangan yang mereka hadapi membentuk karakter kuat karena terdidik dari perang kesulitan ekonomi dan keterbatasan informasi dan transportasi, pergaulan secara langsung tatap muka yang membentuk empati, keberanian sosial dan kemapuan komunikasi yang baik.


Generasi spilt personality (kepribadian terpecah, labil, atau tidak stabil) lahir karena pengaruh ruang digital dan media sosial. Generasi sekarang hidup dalam dua dunia, yakni dunia nyata dan maya atau digital yang penuh tekanan dan berstandar serta tekanan dari timpangnya perbandingan sosial. Informasi yang mereka dapat pun terlalu cepat.


Anak muda kini di bombardir berita, drama, standar kecantikan, gaya hidup, dan tren baru setiap harinya yang membuat mental mereka menjadi lelah, sulitnya untuk fokus dan kepribadian yang tidak stabil karena lingkungan berubah sangat cepat.


Selain itu, keluarga dan sosial yang melemah. Dulu keluarga solid karena peran orang tua sangat kuat dalam mendidik anak-anak, dan nilai-nilai spiritual, moral, norma masih menjadi landasan dalam mendidik anak. Sekarang banyak keluarga yang sibuk, ayah ibu bekerja siang malam. Pertemuan hanya sekilas saja, anak-anak dibesarkan oleh gadget. Interaksi antara anggota keluarga berkurang dan tidak secara langsung karena diganti oleh gadget.


Krisis role model, dulu figur panutan jelas orang tua, guru, Rasulullah, tokoh ulama, sekarang berganti menjadi influencer yang tidak jelas. Konten-konten sensasional yang sekadar viral dan idola instan. Split personality bukan gangguan psikologis klinis, tetapi lebih ke kepribadian yang terpecah antara dua sisi. 


Satu sisi ingin terlihat kuat, pintar, dewasa, dan percaya diri. Di sisi lain, ternyata rapuh, mudah terpancing, dan bingung menentukan jati diri. Mereka hidup dengan dua kepribadian yang ditampilkan di online dan yang ditampilkan di dunia nyata berbeda.


Spilt personality rapuh tidak timbul di generasi sekarang. Semua itu timbul karena paham sekuler yang merambah ke pemikiran anak-anak. Sistem yang memisahkan kehidupan dengan nilai-nilai spiritual, konsep moral, agama tidak diterapkan dalam keseharian anak-anak.


Akhirnya, mereka hidup seakan tanpa jiwa. Badan mereka kuat, cara berpikirnya cerdas, tetapi jiwanya rapuh dan lemah. Mereka percaya diri di dunia maya, tetapi introvert di dunia nyata. Terlihat tangguh di luar, tetapi lemah secara mental.


Negara sekuler nyatanya tidak bisa hadir sebagai penjaga, malah menjerumuskan masyarakat ke dalam kehancuran. Sistem yang lahir dari memisahkan kehidupan dengan agama nyatanya gagal dalam menciptakan ekosistem ruang digital aman bagi generasi muda.


Generasi yang terjajah pemikirannya menjadikan mereka jauh dari keimanan. Ditambah pendidikan yang tidak didasari oleh nilai-nilai agama menjadikan generasi sekarang minim akhlak. Mereka bebas berbicara, bertindak, karena tidak ada akidah yang mengikatnya.


Daulah atau Khil4fah Islam berfungsi sebagai raa’in sebagai pemimpin, pengurus, dan penanggung jawab bagi masyarakat. Memastikan kebutuhan dasar terpenuhi dan sebagai pengurus rakyat, khalifah akan memfilter segala sesuatu yang bisa merusak mental dan akhlak karena penyelamatan generasi adalah visi utamanya, menutup platform digital yang disinyalir berkonten negatif, menutup akses judol maupun pinjol, perbuatan maksiat riba akan di berantas sampai akar-akarnya, dan memberikan pendidikan kepada generasi bukan sekadar pendidikan duniawi, tetapi pendidikan moral, akhlak dan memperkuat akidah dan ketakwaan kepada islam.


Khalifah hadir sebagai junnah atau perisai, khalifah akan melindungi masyarakat terutama generasi muda dari ancaman eksternal dan internal, menjaga akidah, kehormatan, dan harta. Menghentikan perbuatan zalim dan menidak tegas kepada masyarakat yang berbicara, atau melakukan cyberbulliying.


Khalifah akan melakukan pengawasan ketat agar tercipta ruang digital yang ramah bagi generasi muda. Alhasil, mereka tidak akan mudah terjerumus dan terciptanya ruang aman serta membentuk generasi yang kuat. Mereka akan tumbuh di lingkungan yang benar-benar terlindungi sehat secara moral, sosial, dan mental.


Selain memfilter konten-konten negatif, khalifah juga akan memaksimalkan kemajuan teknologi untuk sarana pendidikan bagi generasi dan penguat dakwah Islam. Hal-hal positif akan menjadi konten di keseharian, masyarakat akan disajikan meteri materi dakwah sehingga dapat memperkuat pemahaman pada Islam.


Penegakan syariat Islam kafah di setiap aspek kehidupan akan mengeliminasi bekembangnya praktik rusak di ruang digital. Ketika negara menerapkan hukum Allah secara sempurna, maka segala bentuk penyimpangan dari konten yang merusak akhlak berita hoax dan lain-lain akan dicegah melalui mekanisme pengawasan, edukasi serta memberikan saksi yang tegas kepada siapa pun yang melanggar.


Penerapan syariat secara total akan membentuk masyarakat yang bertakwa dan terciptanya suasana masyarakat yang amar makruf nahi mungkar jauh dari mental yang lemah dan kerusakan akhlak. Dengan demikian, memperjuangkan Islam menjadi tugas kita bersama agar terciptanya ruang yang aman dan berjalan sesuai petunjuk Allah Swt. serta membawa kemaslahatan bagi seluruh umat.


“Wahai orang-orang beriman masuklah kalian ke dalam Islam secara keseluruhan (kafah).“ (QS. Al-Baqarah: 208)


Wallahualam bissawab

Bahaya Konten Soft Porn di Media Sosial

Bahaya Konten Soft Porn di Media Sosial




Fenomena soft porn memberikan gambaran yang jelas

bahwa berbagai bentuk ekspresi tubuh dan sensualitas bisa menjadi peluang yang mendatangkan keuntungan dalam sistem sekularisme


_______________________


KUNTUMCAHAYA.com, SURAT PEMBACA - Media sosial hadir sebagai salah satu bentuk perkembangan teknologi dalam perjalanan hidup manusia. Media sosial memiliki  pengaruh positif dan negatif. (Jurnal Media Sosial Dalam Masyarakat, vol. 12 no.1/2023)


Tentu saja hal ini sangat tergantung pada landasan berpikir penggunanya. Salah satu dampak negatifnya adalah konten yang berisi soft-core pornografi (soft porn). Menurut situs Meriam-Webster soft-core pornografi adalah berisi deskripsi atau adegan tindakan seksual yang kurang eksplisit dibandingkan hard core


Beberapa bentuk soft porn yang bisa ditemui di media sosial di antaranya adalah foto atau video influencer yang berpose erotis, berpakaian sensual. Selain itu, streamer dan konten kreator live yang berbicara menggoda atau bercanda sensual. Sementara itu di segmen drama, saat ini banyak drama romantis, gestur sensual, dan berpakaian minim. (kompas.com, 26-11-2025)


Semua itu menjadi strategi untuk mendapatkan perhatian pengguna media sosial sehingga bisa mendatangkan keuntungan yang diharapkan. Karena itu, konten soft-porn menjadi magnet yang menarik banyak pihak yang berkepentingan. Kehadirannya kadang tidak disadari oleh pengguna media sosial dan dianggap sebagai sesuatu hal yang biasa.


Jika dulu, konten yang mengandung pornografi hanya bisa ditemukan di media khusus. Dengan adanya konsep soft porn, dia bisa hadir di ruang mana pun. Tentu saja hal ini harus diwaspadai.


Fenomena soft porn memberikan gambaran yang jelas bahwa berbagai bentuk ekspresi tubuh dan sensualitas bisa menjadi peluang yang mendatangkan keuntungan dalam sistem sekuler. Rasa ketertarikan pada lawan jenis adalah salah satu naluri manusia yang bisa  menarik perhatian lebih cepat. 


Dalam sekularisme, tidak ada kata haram jika suatu aktivitas mendatangkan keuntungan secara ekonomi. Meskipun aktivitasnya mengarah pada seksualitas, yang penting mendatangkan keuntungan, nilai agama dan moral tidak jadi pertimbangan utama. Parahnya, makin lama akan dinormalisasi aktivitas yang mengarah pada seksualitas. 


Hubungan Soft Porn pada Remaja


Apa yang terjadi pada remaja jika soft porn dibiarkan? Dampaknya tentu sangat buruk. Karena remaja seringkali menjadikan media sosial sebagai rujukan dalam hidupnya. Apalagi jika peran dan kontrol orangtua lemah. Remaja akan mulai memperhatikan konsep tubuh ideal. Bagaimana tubuh ideal sebagai seorang laki-laki? Bagaimana tubuh ideal sebagai seorang perempuan?


Tatkala media sosial menjadi rujukan, mereka akan melakukan penyesuaian tubuhnya dengan gambaran yang didapat di media sosial. Walhasil, mereka akan menganggap tubuhnya tidak ideal karena tidak sesuai yang di media sosial. Lebih berfokus pada penampilan tanpa meningkatkan kualitas diri dalam aspek lainnya. 


Padahal dalam Islam kedudukan seseorang hanya dilihat dari aspek ketakwaannya saja bukan dari penampilan fisik. Dalam surah Al-Hujurat ayat 13: "Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu."


Sementara itu, hadis riwayat Muslim: ”Sesungguhnya Allah tidak melihat pada bentuk dan rupa dan harta kalian, akan tetapi Allah melihat kepada hati dan amalan kalian.”


Selain itu, dalam konsep Islam ada peran negara yang berlandaskan ketakwaan dalam menyaring konten-konten negatif. Konten yang ada akan difilter secara ketat berdasarkan syariat Islam. Di mana konten yang berbau sensual akan dilarang.


Penggunaan media sosial diarahkan pada tujuan pendidikan dan dakwah. Tentu saja hal ini sangat kontras dengan sekularisme yang berorientasi pada materi. Karena sistem Islam hanya berorientasi pada pahala Allah. Wallahualam bissawab. [Dara/MKC]

 

Riri Rikeu

Dana Difabel Dikorupsi, Islam Solusi Hakiki

Dana Difabel Dikorupsi, Islam Solusi Hakiki



Sistem hukum yang lemah, sanksi yang tidak menjerakan, politik biaya tinggi

serta mentalitas yang didorong oleh kepentingan materi membuat korupsi menjadi "tradisi baru"

_____________________


Penulis Diyani Aqorib S.Si

Kontributor Media Kuntum Cahaya dan Aktivis Muslimah Bekasi


KUNTUMCAHAYA.com, OPINI- "Korupsi adalah perilaku pejabat publik menyimpang dari norma-norma yang diterima masyarakat untuk memenuhi kepentingan pribadi." (Samuel Huntington)


Lagi-lagi korupsi. Seakan kasus korupsi di negeri ini tak ada habisnya. Perkataan Samuel Huntington di atas agaknya cocok untuk menggambarkan perilaku pejabat-pejabat tak bermoral di negeri ini. Fakta menunjukkan korupsi terjadi mulai dari level paling rendah hingga level tertinggi di pemerintahan. Hampir setiap hari berita tentang korupsi berseliweran di media sosial maupun portal berita.


Lebih miris, kasus terbaru terjadi di Kabupaten Bekasi. Dana hibah untuk pembinaan atlet difabel pun dikorupsi. Dana sebesar 7,1 miliar rupiah diselewengkan demi kepentingan pribadi. Bahkan beberapa atlet difabel mengalami penundaan gaji, sesuatu yang sangat memprihatinkan dan menyayat hati.


Dikutip dari oto.detik.com, (30-11-2025) Polres Metro Bekasi menetapkan dua pengurus inti National Paralympic Committee of Indonesia (NPCI) Kabupaten Bekasi sebagai tersangka kasus korupsi dana hibah tersebut. Mereka adalah Ketua NPCI Kardi Leo (KD) dan mantan bendahara Norman Julian (NY). Dana yang seharusnya digunakan untuk pembinaan atlet disabilitas malah digelapkan untuk kepentingan yang tak semestinya.


Modus penyimpangan mulai terungkap setelah penyidik menelusuri aliran dana dari rekening NPCI. Kardi diduga menggunakan sekitar Rp2 miliar untuk kepentingan pribadi dan politik, terutama biaya kampanye sebagai caleg. Sementara Norman diduga menerima sekitar Rp1,79 miliar untuk membeli dua unit mobil Toyota Innova Zenix menggunakan identitas anggota keluarganya. Dari keseluruhan dana yang terindikasi diselewengkan, baru sekitar Rp319 juta yang dapat ditelusuri secara rinci penggunaannya. (kumparannews.com, 2-12-2025)



Akar Masalah: Sistem yang Rusak Melahirkan Korupsi Tanpa Henti


Korupsi yang terus berulang bukanlah sekadar masalah oknum. Ia adalah buah dari sistem yang membuka peluang selebar-lebarnya bagi praktik penyalahgunaan kekuasaan. Sistem hukum yang lemah, sanksi yang tidak menjerakan, politik biaya tinggi, serta mentalitas yang didorong oleh kepentingan materi membuat korupsi menjadi “tradisi baru”.


Sistem kapitalis dengan akidah sekulernya telah membuat orang-orang yang tidak kuat iman menjadi manusia-manusia serakah. Perilaku hidup hedonis dan konsumtif merajalela. Pada akhirnya mendorong mereka untuk melakukan hal-hal di luar batas, seperti korupsi. Apa pun akan mereka lakukan demi gengsi dan eksistensi. 


Dalam sistem seperti ini, rakyat selalu menjadi korban terutama mereka yang berada dalam kondisi rentan, termasuk para atlet difabel yang seharusnya mendapatkan pembinaan terbaik dari negara.


Sudah saatnya masyarakat menyadari kerusakan-kerusakan ini. Karena sistem yang memang sudah salah dari akarnya hanya akan mendatangkan masalah yang bertubi-tubi. Masyarakat harus menyadari bahwa ada sistem yang sahih yang akan memberikan solusi bagi semua persoalan kehidupan. Termasuk di dalamnya solusi untuk mencegah dan memberantas korupsi.


Islam Hadir dengan Solusi Hakiki


Islam telah melarang manusia untuk mencari rezeki dengan cara yang batil.


Seperti yang tercantum dalam firman Allah Swt.


وَلَا تَأْكُلُوْٓا اَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ وَتُدْلُوْا بِهَآ اِلَى الْحُكَّامِ لِتَأْكُلُوْا فَرِيْقًا مِّنْ اَمْوَالِ النَّاسِ بِالْاِثْمِ وَاَنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ


Artinya: Janganlah kamu makan harta di antara kamu dengan jalan yang batil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada para hakim dengan maksud agar kamu dapat memakan sebagian harta orang lain itu dengan jalan dosa, padahal kamu mengetahui. (QS. Al-Baqarah: 188)


Islam menawarkan solusi komprehensif dalam memberantas korupsi. Bukan hanya melalui hukuman, tetapi juga melalui sistem tata kelola yang bersih dan akidah yang menumbuhkan ketakwaan. Tidak hanya ketakwaan individu, tapi juga kontrol masyarakat yang kuat dapat mencegah seseorang dalam melakukan kemaksiatan.


Beberapa prinsip penting dalam sistem Islam antara lain:

 

1. Pemimpin sebagai pelayan rakyat, bukan penguasa yang bebas mengambil keuntungan.


2. Hukum yang tegas, termasuk sanksi yang memberi efek jera bagi pelaku korupsi.


3. Transparansi pengelolaan harta milik umum, dengan mekanisme pengawasan yang ketat.


4. Budaya amanah, karena setiap pejabat dipandang akan dimintai pertanggungjawaban bukan hanya oleh manusia, tetapi juga oleh Allah pada Hari Pembalasan.


Jika prinsip-prinsip ini diterapkan, maka peluang korupsi akan tertutup. Negara akan berjalan dengan kejujuran dan keteraturan yang menyejahterakan semua pihak, termasuk rakyat dengan kebutuhan khusus seperti para difabel.


Kasus korupsi dana difabel di Bekasi menunjukkan betapa rusaknya sistem yang ada. Saat dana untuk kelompok rentan saja dapat dengan mudah digelapkan, maka jelas bahwa sistem ini membutuhkan perubahan mendasar. Islam, dengan aturan yang sempurna dan terpadu, menawarkan solusi hakiki untuk memberantas korupsi hingga ke akarnya.


Semua solusi Islam yang berasal dari penerapan syariah Islam  hanya akan bisa dirasakan ketika diterapkan secara kafah dalam naungan Daulah Khil4fah Islamiah. Inilah solusi hakiki yang berasal dari Islam. Sebuah ideologi sahih yang akan menyebarkan rahmat ke seluruh umat manusia dan seisinya. Wallahualam bissawab. [SM/MKC]