Alt Title

Menggantung Asa di Langit Istanbul

Menggantung Asa di Langit Istanbul

 


Diam-diam David mengikuti jalannya aksi sampai di tempat yang dituju. 

David tidak menyangka langkah kakinya yang tidak punya arah mengantarkannya ke tempat ini. Sementara, di seberang sana, peserta sudah berbaris di depan Gedung Sate

_________________________


Penulis Rumaisha

Kontributor Media Kuntum Cahaya 


KUNTUMCAHAYA.com, CERBUNG - Seorang laki-laki yang berperawakan kekar berkulit kuning, turun di stasiun bis tanpa membayar. Sopir bis itu mengeluarkan sumpah serapah kepada orang tersebut yang berlalu begitu saja. "Dasar Sinting!" kutuknya. Para penumpang lain yang turun berbarengan memandangnya dengan rasa iba. Ada juga yang memandang acuh tak acuh bahkan mencibir.


Lelaki itu berjalan gontai. Sekali-kali wajahnya menunduk. Matanya merah saga. Dari mulutnya menyeruak bau minuman keras. Ia merasakan tenggorokannya kering dan pahit sementara perutnya terasa perih menahan lapar.


Semua orang yang berpapasan dengannya memandang jijik dan memalingkan muka. Ia mengepalkan tangannya kepada seorang bapak tua yang memperhatikannya dengan senyuman sinis. Bapak tua itupun lari menghindar karena takut.


Sepasang mata diam-diam memperhatikannya sejak lama. Laki-laki itu memandang dan berdiri di sebuah warung tegal, ia tidak berani masuk ke dalam. Hampir dua hari tidak ada sebutir nasi pun masuk kerongkongan. Sisa air mineral sudah ia habiskan beberapa jam yang lalu. Sementara, uangnya tidak satu sen pun tersisa di kantong celananya.


"Bung, ini! makanlah"


Laki-laki itu mengambil bungkusan yang disodorkan kepadanya dengan cepat. Ia langsung melahap isinya tanpa memperhatikan sekelilingnya. Orang yang berlalu lalang di sekitar, memperhatikan dengan tatapan aneh.


Setelah menghabiskan isi bungkusan, laki-laki itu mencari sosok dewa penolongnya. Namun, ia tidak menemukan jejaknya.


Kini, ia merasa lebih kuat. Lalu, ia meninggalkan tempat itu. Melangkah, dan terus melangkah tanpa arah dan tujuan yang pasti. 


*****


Umar baru saja sampai di tempat penginapannya. Sudah dua hari, ia berada di kota kembang ini. Ia sedang mengikuti pelatihan yang ditugaskan dari sekolah tempatnya mengajar. Umar merebahkan badan di atas tempat tidurnya. Hari ini, cuaca begitu panas. Pemanasan global ternyata berefek juga kepada Kota Bandung yang dulu terkenal sejuk. 


Umar teringat kepada laki-laki asing yang ia belikan nasi bungkus. Umar meninggalkannya begitu saja, sampai ia lupa menanyakan nama dan nomor ponselnya. 


"Siapakah?" Umar yakin, laki-laki itu sedang terbius dengan minuman keras atau obat-obatan sampai ia seperti itu. Tidak heran, di sistem yang menganut kapitalisme sekuler seperti saat ini, narkoba tidak dianggap sebagai sebuah kejahatan. Padahal, dalam Islam jelas-jelas narkoba atau zat lainnya yang memabukkan haram hukumnya.


Umar spontan menolong laki-laki tadi tanpa mempedulikan statusnya, siapa dan apa agamanya. Pelajaran ini yang pernah ia dapatkan di kelompoknya. Inilah yang disebut nilai insaniyah. Di mana seseorang secara refleks akan menolong orang lain tanpa melihat statusnya, tergerak secara langsung untuk membantu. 


"Harusnya aku lebih bersyukur kalau dibandingkan dengan dia. Dikelilingi oleh orang-orang yang mencintai karena Allah. Ada di sebuah kelompok dakwah yang di dalamnya senantiasa melakukan amar makruf nahi mungkar. Tidak terbayangkan olehku, apa jadinya kalau ada di luar jamaah. Keras dan menakutkan. Ya, Rabb ... maafkan hamba yang berniat futur dari jalan dakwah ini," gumamnya. Hati kecilnya terus berkata-kata.


Umar mendapat kabar dari Ustaz Lutfi, bahwa besok akan ada aksi damai menolak kenaikan BBM yang sering kali terjadi. Karena Umar lagi berada di Bandung, Ustaz Lutfi memberikan amanah untuk menjadi salah satu orator, perwakilan dari kaum muda.


Peserta aksi berkumpul di Pusdai, pada pukul tujuh dan mulai bergerak dengan berjalan tertib menuju Gedung Sate, ikonnya Kota Bandung sekitar pukul delapan. Aparat kepolisian sudah bersiap-siap mengawal peserta aksi. Mereka membersamai jalannya aksi dengan penuh gembira, karena aparat tahu, bahwa aksi kami tidak pernah membuat kerusuhan.


"Bung, apa kabar?" seorang laki-laki tiba-tiba menyapa Umar.


"Oh, alhamdulillah, baik. Apakah kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya Umar.


"Masih ingat kemarin, ketika Anda memberikan sebungkus nasi kepada seseorang? Orang itu adalah saya.


"Masyaallah, akhirnya kita dipertemukan kembali," kata Umar.


"Saya senang berkenalan dengan Anda. Kenalkan, nama saya David Borg. Nenek moyang saya, yahudi, tapi sudah lama tinggal di Bali.


Umar menyambut uluran tangannya, hangat.


"Saya Umar. Umar bin Ahmad, asli dari Garut." 


David menatap wajah Umar yang berseri-seri dan bersih. Bahkan, ia melihat dalam diri teman barunya itu terlihat seperti ada cahaya yang memancar dari raut mukanya. Wajah yang menampakkan kedamaian dan bersahabat. Tidak terlihat kesan yang buruk, seperti banyak diberitakan, bahwa seorang muslim itu radikal dan intoleran.


"Maaf, saya harus ikut mobil terbuka itu dan berjalan sampai Gedung Sate," kata Umar. 


"Oh, iya iya, silahkan," kata David.


Mobil mulai bergerak pelan. Kalimat tauhid dan takbir berkumandang sepanjang perjalanan, membuat gemetar bagi yang mendengarnya. Teriakan yel-yel melalui pengeras suara semakin membakar para peserta aksi. Ar-Rayah menghitam. Spanduk bertulisan, "Tolak BBM," dan lainnya ikut dibawa oleh para aksi. 


BBM naik, tolak! 

Islam kafah, terapkan!

Khilafah, tegakkan!

Kapitalisme, campakkan!


Diam-diam David mengikuti jalannya aksi sampai di tempat yang dituju. David tidak menyangka langkah kakinya yang tidak punya arah mengantarkannya ke tempat ini. Sementara, di seberang sana, peserta sudah berbaris di depan Gedung Sate.


David terkesiap dan mematung sebentar, mendengar teriakan dari atas mobil terbuka. David tidak mengerti apa yang diucapkan Umar dan kawan-kawannya. Tetapi, yang pasti semua orang mengikuti kata-kata Umar ketika mengucapkan yel-yel. Semangat mereka begitu luar biasa, seperti air yang dipanaskan dalam tungku, mendidih, dan menggerakkan semua orang yang hadir.


David terus memperhatikan acara yang digelar di gedung kantor Gubernur Jawa Barat itu. Sampai acara beres, David menyimak dan mendengarkan, walaupun kata-katanya tidak dipahami secara utuh, sebagian besar malah asing di telinganya.


Selepas acara, diam-diam David menghampiri Umar. "Anda tadi berbicara apa? Apa yang dilakukan bersama yang lainnya?"


"Oh, Anda, masih di sini?"


"Iya, saya mengikuti Anda dari belakang," sahut David.


"Oh, tadi saya sedang melakukan aksi damai, melakukan muhasabah kepada penguasa. Mengingatkan kepada mereka agar tidak mengeluarkan kebijakan yang menzalimi rakyat. Penguasa bersikeras menaikkan BBM, padahal rakyat sedang menghadapi persoalan ekonomi yang semakin hari semakin mencekik leher. Apa yang kami lakukan itu adalah bentuk cinta rakyat kepada pemimpinnya, agar pemimpin tidak melanggar ketetapan Allah dan Rasul-Nya."


"Oh, seperti itu ya, bentuk cinta dalam Islam terhadap pemimpinnya. Acayip!" [GSM]


-Bersambung-