Alt Title
Ini Kisah Hijrah Ku, Bulan Maret Tahun 2019

Ini Kisah Hijrah Ku, Bulan Maret Tahun 2019


Banyak sekali pengalaman yang membuat saya menjadi lebih dewasa, lebih beramal lagi, dan lebih sabar

yang penting barisan dakwah membina semua orang menjadi lebih baik sesuai syariat Islam

__________________


Penulis Ema

Kontributor Media Kuntum Cahaya 


KUNTUMCAHAYA.com, INSPIRASI - Berawal dari mimpi bertemu Nabi Muhammad Shalallahu 'alaihi wassalam. Lalu hari kedua, mimpi mempunyai kerudung yang warnanya bagus cerah. Suatu ketika saya masih kerja di perusahaan textile. Saya dulu suka ngobrol dengan lawan jenis padahal saat itu saya sudah berkeluarga.


Berawal dari ngobrol lalu saya penasaran dengan Islam. Karena laki-laki yang saya ajak ngobrol terlihat islami. Setelah ngobrol lama terbukalah pikiran saya. Saya tersadar oleh ucapannya bahwa riba itu haram dan tidak boleh dilakukan karena akibatnya dan ancaman yang sangat mengerikan.


Pada saat itu, awalnya saya hendak meminjam uang ke koperasi. Namun, dengan disadari oleh laki-laki tadi, saya memutuskan untuk tidak jadi meminjam. Dari awal saya dapat hidayah bahwa riba itu haram, saya sedikit demi sedikit mengajak kepada rekan-rekan kerja yang lain untuk tidak meminjam ke koperasi lagi. Namun, apa yang saya dapat? Niat baik saya justru dibalas oleh mereka dengan kemarahan. Mungkin saat itu saya tidak bisa menyampaikan dengan makruf.


Beberapa lama kemudian saya berpikir. Ooh, ternyata mimpi itu bertujuan memberi saya hidayah dan sedikit demi sedikit saya mencari ilmu di media sosial. Singkat cerita, saya punya niat untuk mengkhitan anak pertama saya. Karena dulu saya dan suami bekerja, jadi uang masih banyak, tetapi kami tidak riba. 


Acara khitanan anak saya diadakan dengan meriah. Saya undang ustaz ternama pada saat itu. Saya mengundang Ibu Entin tetangga saya yang ternyata sekarang menjadi awal saya mengkaji Islam. Setelah acara khitanan selesai, saya punya niat untuk mendaftarkan ngaji anak saya ke DTA terdekat dan gurunya adalah Ibu Entin. Setelah beberapa waktu, saya melihat perilaku baik dari Ibu Entin tadi. 


Bawaannya sejuk adem dan berpenampilan sopan. Nah, di sanalah saya memberanikan diri untuk menghubungi beliau untuk mengajak saya ngaji. Dulu saya niatnya ingin bisa tajwid, tetapi Alhamdulillah setelah sekian tahun bukan hanya tajwid, tetapi ilmu-ilmu yang lain juga saya dapat. Karena saat saya menghubungi beliau, lalu beliau bikin grup majelis taklim ibu-ibu. Alhamdulillah waktu itu baru ada tujuh orang. Kami mengkaji Islam di rumah salah seorang bergilir setiap Minggu.


Kemudian sejak kenal Bu Entin, saya diajak mengkaji Islam lebih dalam. Saya jadi lebih tahu bagaimana indahnya Islam, kasih sayangnya Allah pada umatnya. Bagaimana perjuangan nabi, dan banyak lagi, sehingga tujuan hidup saya lebih terarah lagi.


Meski grupnya sempat bubar, lalu saya berinisiatif membuat grup ibu-ibu lagi yang mau bisa membaca Al-Qur'an. Saya adakan gratis. Ada tiga orang yang mau ikut. Alhamdulillah dari tiga orang, ada satu orang yang awalnya tidak bisa baca menjadi bisa baca Al-Qur'an. Meski panjang pendeknya belum sempurna tapi saya hargai mereka sangat semangat untuk belajar walau panas atau hujan mereka setiap hari Senin-Jumat hadir.


Akhir Cerita 


Dulu saya yang tidak tahu apa-apa. Namun, sekarang saya tahu sedikit demi sedikit ilmu Allah. Ternyata ilmu Allah itu banyak, dan Allah sayang kepada semua makhluknya. Selain itu, kebahagiaan terbesar saya adalah Allah memilih saya untuk berada di barisan dakwah.


Alhamdulillah setelah beberapa tahun saya ikut barisan dakwah, sedikit demi sedikit saya mulai memahami dan bagaimana cara bersosialisasi dengan lingkungan sekitar, bagaimana mengurus anak sesuai syariat, dan banyak lagi. Malah keluarga bangga dengan saya karena bisa sampai saat ini menjauhi riba, bisa menjadi contoh baik buat keluarga. 


Setelah ikut barisan dakwah saya belajar banyak hal. Dari mengatasi kemalasan, agar tidak malas kita harus bergaul dengan teman yang mengajak pada kebaikan yang selalu menghadiri kajian, dan sopan santun. Saya menjadi tahu cara bagaimana bertanya yang baik, bagaimana berbicara dengan orang yang usianya di atas atau di bawah kita.


Disiplin pun diajarkan karena setiap kajian kita ditugaskan untuk tepat waktu. Bahkan barisan dakwah mengajarkan saya untuk bertanggung jawab karena setiap apa yang kita lakukan di dunia pasti akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah Swt..


Senangnya ikut barisan dakwah ini. Saya jadi mempunyai banyak pengalaman yang awalnya hanya hadir kajian, tapi di sini kita ditugasan bergilir menjadi panitia kajian. Saya pernah menjadi pembawa acara, menjadi pembaca doa, menjadi pembaca Al-Qur'an. Adapun yang paling seru adalah menjadi panitia kids corner yang dimana ditugaskan untuk menjaga anak-anak sampai selesai acara agar acara majelis taklim kondusif. Saya jadi tahu skala prioritas, mana yang penting dan mana yang tidak penting. Contohnya mendahulukan yang kita butuhkan, bukan yang kita inginkan dan banyak lagi.


Banyak sekali pengalaman yang membuat saya menjadi lebih dewasa, lebih beramal lagi, dan lebih sabar, yang penting barisan dakwah membina semua orang menjadi lebih baik sesuai syariat Islam. Yang mana hari ini sudah banyak ditinggalkan. Barisan dakwah ini mencakup semua hal secara menyeluruh sesuai aturan Allah. Bahwa semua aturan Islam harus diamalkan bukan sebagian tetapi secara menyeluruh atau kafah. Wallahualam bissawab. [Dara/MKC]

Si Paling Aku

Si Paling Aku


Sahabat, pernahkah kita menjadi AKU?

Menatap DIA dengan begitu buruk, seolah-olah kita sudah mengetahui seluruh kisah hidupnya?
Tanpa mendengar.
Tanpa bertanya.
Tanpa mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.


________________


Penulis Dyah Pitaloka

Tim Media Kuntum Cahaya 


KUNTUMCAHAYA.com, INSPIRASI- Siapa sih yang tidak kenal aku?


Kebaikanku?

Betapa terhormatnya aku karena agamaku?


Tutur kataku terjaga. Sirkel pertemananku baik.


Auratku tertutup sempurna, sesuai titah Allah Swt. dan sabda Rasulullah saw.


Ya, itulah AKU.


Jangan tanya sudah berapa lama diriku melangkah dalam kebaikan.


Bukan sebulan.

Bukan setahun.


Sepuluh tahun? Lebih!


Ya, itulah AKU.


Aku terlindung dari kemaksiatan dan keburukan.


Aku menghapal ayat suci.

Aku rutin mengkaji.

Aku tahu batas antara kebaikan dan keburukan.


Itu AKU.


Lalu, apa?


Si Fulanah yang “kotor” itu?


Aku tahu dia.


Duh, buat apa aku bicara seolah-olah aku tahu dirinya? Tidak. Bahkan lisan dan hatiku harus suci dari pikiran buruk tentang dia.


Tetapi...


Siapa sih dia?


Dia memang sekotor itu, kan?


Hartanya? Jalan yang dia tempuh untuk mendapatkannya? Ya, aku sudah menduganya. Ternyata dugaanku benar, kan?


Memalukan.


Seharusnya dia tidak berteman denganku.


Setiap kali melihatnya, betapa alerginya aku terhadapnya.


Dia masih terlalu ego seperti dahulu, ya?


Dasar si paling angkuh dan tidak mau menurut.


Padahal sudah berkali-kali kubilang, dia harus menuruti apa kataku.


Huh.


Sok cantik. Sok banyak memilih.


Paling-paling dia akan hidup sendiri nantinya.


Tuh, kan?


Benar dugaanku selama ini!


Dia berpacaran, kan?


Menjijikkan. Memalukan.


Itu kan zina?


Astagfirullah.


Huh, dia sudah sedemikian jauh tersungkur.


Tidak layak.


Bukan levelku.


Tak pantas rasanya dia terus berputar di sekitarku.


Aku menatap bayanganku di cermin.


Aku yang cantik luar dalam.


Aku yang rupawan dalam hati dan pikiran.


Aku yang terjaga dari keburukan.


Aku yang tahu mana yang benar dan mana yang salah.


Aku yang sudah bertahun-tahun berjalan dalam kebaikan.


Lalu aku melihat dia.


Astagfirullah.


Aku sungguh geram!


Dia tidak setara denganku.


Dia bukan AKU.


---


Sahabat, pernahkah kita menjadi AKU?


Menatap DIA dengan begitu buruk, seolah-olah kita sudah mengetahui seluruh kisah hidupnya?


Tanpa mendengar.


Tanpa bertanya.


Tanpa mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.


Namun kita sudah begitu cepat menjatuhkan penilaian.


Kita merasa sudah berdiri di tangga yang tinggi dalam perjalanan menuju Allah.


Sedangkan dia?


Seolah sedang berada di dasar jurang.


Saking tingginya tangga kita, mungkin kita merasa terlalu repot untuk mengulurkan tangan kepada saudara yang hampir terjatuh.


Atau jangan-jangan...


Kita justru mendorongnya.


Sebab kita tidak ingin ia berada di tangga yang sama dengan kita.


Tidak perlu mendengar ceritanya.


Tidak perlu bertanya apa yang sedang ia hadapi.


Toh, kita sudah merasa sedemikian baiknya.


Biarlah dia jatuh.


Biarlah dia tersungkur semakin dalam.


Buat apa mengulurkan tangan?


Buat apa merangkulnya?


Bukankah kita sudah jauh lebih baik darinya?


Bukankah kita lebih alim?


Lebih terjaga?


Lebih tahu tentang agama?


Lebih pantas?


Lalu, perlahan kita lupa satu hal:


Kebaikan yang membuat kita merasa lebih tinggi daripada orang lain, sedang mengajarkan kita sesuatu tentang diri kita sendiri.


Mungkin kita memang sudah menjaga lisan.


Tetapi apakah hati kita juga terjaga?


Kita mungkin sudah menutup aurat.


Tetapi apakah kita juga menutup pintu kesombongan?


Kita mungkin telah menghapal banyak ayat.


Tetapi apakah ayat-ayat itu telah membuat kita lebih lembut kepada manusia?


Kita mungkin rajin menghadiri kajian.


Tetapi apakah ilmu membuat kita semakin takut menghakimi orang lain?


Sebab bisa jadi...


Orang yang selama ini kita anggap sedang berjalan menuju jurang, justru sedang berjuang bangkit dengan cara yang tidak pernah kita ketahui.


Dan bisa jadi, orang yang kita anggap paling kotor itu justru memiliki satu amal tersembunyi yang begitu dicintai Allah.


Sementara kita?


Sibuk menghitung dosa orang lain.


Sibuk mengukur ketinggian tangga kita.


Sibuk memastikan bahwa kita lebih baik darinya.


Hingga lupa bertanya:


Jangan-jangan, saat aku sibuk menunjuk siapa yang jatuh, justru aku sedang jatuh tanpa kusadari?


Maka jika aku boleh bertanya kepada diriku sendiri—dan kepada siapa pun yang merasa telah begitu sempurna—sebetulnya, di mata Allah Swt., siapa yang benar-benar sedang berada di dasar jurang?


Aku?


Atau dia?


Sebab manusia hanya mampu melihat apa yang tampak.


Sedangkan Allah mengetahui apa yang tersembunyi di balik dada.


Dan barangkali...


orang yang paling perlu kita selamatkan dari jurang bukanlah dia yang sedang kita hakimi, melainkan diri kita sendiri. Wallahualam bissawab. [EA/MKC]

Menegakkan Kepemimpinan Islam, Fardhu Kifayah yang Tak Boleh Diabaikan

Menegakkan Kepemimpinan Islam, Fardhu Kifayah yang Tak Boleh Diabaikan

 


Menegakkan institusi yang menerapkan seluruh hukum Allah

dipandang sebagai kewajiban kolektif (fardhu kifayah)


_________________________


Penulis Desi Arisandi

Kontributor Media Kuntum Cahaya dan Aktivis Muslimah


KUNTUMCAHAYA.com, INSPIRASI- Kesultanan Utsmaniyah atau Kekaisaran Turki Ottoman pernah menjadi kekuatan besar dan menguasai wilayah yang luas di Timur Tengah, Eropa Timur, dan Afrika Utara. 


Namun, kekuasaan yang besar tersebut akhirnya runtuh. Peristiwa keruntuhannya terjadi pada 3 Maret 1924, setelah Turki dinyatakan sebagai negara republik dengan presiden pertama Mustafa Kemal Ataturk.(Kompas.com, 29-08-2023)


Sejak institusi Khil4fah berakhir pada tanggal 3 Maret 1924, tidak lagi terdapat satu kepemimpinan politik yang menyatukan umat Islam sebagaimana pernah dikenal dalam sejarah. Setelah itu, negeri-negeri muslim terpecah belah menjadi negara-negara yang berdiri sendiri dengan sistem pemerintahan yang beraneka ragam. Fakta sejarah ini menjadi salah satu alasan, mengapa pembahasan tentang kepemimpinan Islam terus muncul di tengah-tengah umat hingga saat ini.


Tidak sedikit kaum muslim yang belum memahami, atau bahkan memiliki pemahaman yang berbeda-beda, mengenai makna fardhu kifayah dalam persoalan kepemimpinan Islam. Sebagian memaknai fardhu kifayah hanya sebatas kewajiban ibadah, seperti mengurus jenazah. Perbedaan penafsiran inilah yang membuat diskusi mengenai kewajiban menegakkan kepemimpinan Islam terus menjadi perdebatan di kalangan ulama dan berbagai kelompok pemikir Islam. 


Makna fardhu kifayah dalam konteks menegakkan Khilafah merupakan konsep yang harus diluruskan. Karena selama ini, banyak kaum muslim membatasinya pada ibadah-ibadah sosial, seperti mengurus jenazah, mengumandangkan azan, atau memenuhi kebutuhan profesi tertentu. Padahal, fardhu kifayah juga mencakup kewajiban yang berkaitan dengan tegaknya hukum Allah dalam kehidupan. 


Khil4fah dipandang sebagai institusi yang menjadi sarana penerapan syariat Islam secara kafah. Oleh sebab itu, selama institusi tersebut belum tegak, kewajiban fardhu kifayah itu belum gugur dari umat. Kesalahan memahami konsep ini dinilai menyebabkan umat kehilangan orientasi perjuangan dan menganggap persoalan kepemimpinan Islam bukan lagi bagian dari kewajiban syariat.


Pelurusan pemahaman ini tidak cukup dilakukan melalui penyampaian hukum semata, tetapi harus disertai pembinaan pemikiran dan pembentukan kesadaran politik Islam. Umat perlu memahami bahwa Islam bukan sekadar mengatur ibadah individual semata, melainkan juga mengatur pemerintahan, ekonomi, pendidikan, peradilan, hubungan luar negeri, dan seluruh aspek kehidupan. 


Oleh karena itu, keberadaan institusi yang menerapkan syariat dipandang sebagai kebutuhan syar'i. Ketika umat memahami hal tersebut, mereka akan menyadari bahwa perjuangan menegakkan Khil4fah bukan sekadar pilihan dakwah, melainkan bagian dari pelaksanaan kewajiban kolektif yang harus diupayakan hingga terwujud.


Sesungguhnya, umat Islam memiliki potensi yang sangat besar untuk merealisasikan kewajiban tersebut. Potensi itu terlihat dari jumlah kaum muslim yang besar, kekayaan sumber daya alam di negeri-negeri Islam, keberadaan para ulama, intelektual, akademisi, pemuda, serta berbagai elemen masyarakat yang memiliki kemampuan untuk menjadi penggerak perubahan. 


Namun, potensi tersebut dinilai belum terarah karena masih terpecah oleh nasionalisme, kepentingan politik praktis, serta dominasi pemikiran sekuler yang memisahkan agama dari urusan pemerintahan. Oleh karena itu, umat harus disadarkan kembali terhadap identitasnya sebagai satu umat manusia (ummah wahidah) yang memiliki tanggung jawab bersama dalam mengemban risalah Islam.


Adapun makna 'fardhu kifayah' itu sendiri adalah kewajiban yang dibebankan kepada seluruh umat Islam secara kolektif. Kewajiban tersebut baru gugur apabila telah terlaksana. Jika sudah dilaksanakan, tetapi belum selesai, maka kewajiban tersebut belum gugur.


Jadi, bisa dinyatakan gugur, saat benar-benar telah berhasil diwujudkan. Bila tidak, maka fardhu tersebut kembali kepada seluruh umat Islam. Jika belum terlaksana, maka dosa akan tetap ditanggung oleh seluruh umat Islam sesuai kadar kemampuan dan peran masing-masing.


Maka, keberadaan khalifah yang menerapkan syari'at Islam secara kafah merupakan bagian dari fardhu kifayah. Karena Khilafah belum terwujud, maka kewajiban tersebut dipandang belum gugur untuk saat ini. Oleh sebab itu, umat Islam tidak cukup hanya mengetahui hukumnya saja. Akan tetapi, harus berupaya untuk mewujudkannya melalui aktivitas dakwah yang sesuai tuntutan syariat.


Menegakkan Khil4fah tidak ada cara lain yang lebih shahih, kecuali dengan mengikuti metode (thariqah) yang telah dicontohkan Rasulullah saw. diambil dari kajian menyeluruh terhadap perjalanan dakwah Rasulullah saw. Jalan dakwah beliau inilah yang wajib diteladani. 
Firman Allah Swt.:


قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي


Katakanlah, “Inilah jalan (agama)-Ku, dan orang-orang yang mengikuti-Ku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata.” (QS. Yusuf [12]: 108)


Terkait ayat ini, Imam Ibnu Katsir menjelaskan: “Artinya, (menyalahi) perintah Rasulullah saw. dalam caranya, manhaj-nya, syariatnya, thariqahnya, sunnahnya.


Berdasarkan penelaahan perjalanan dakwah Rasulullah saw. di Makkah hingga keberhasilannya mendirikan negara di Madinah, tampak jelas bahwa ia menjalankan aktivitas dakwahnya melalui beberapa tahapan yang sangat jelas ciri-cirinya juga tujuannya.
 

Adapun tiga tahapan atau marhalah yang dijalankan oleh Rasulullah saw. adalah:
Tahapan pertama, melakukan pembinaan individu melalui pembentukan kepribadian Islam dan penguatan akidah serta tsaqafah Islam. 


Tahapan kedua, berinteraksi dengan umat (tafa'ul ma'a al-ummah) untuk membentuk opini umum yang mendukung penerapan syariat Islam di tengah-tengah umat.


Pada fase interaksi dengan umat inilah, akan muncul secara alami pergolakan pemikiran berupa kritik dan penentangan terhadap ide-ide kufur, seperti demokrasi, nasionalisme, mengkritik riba, membongkar rencana jahat negara kafir, mengkritik, mengoreksi penguasa yang tidak menerapkan hukum-hukum Islam, serta mengkritik kebijakan-kebijakan yang merugikan rakyat. 


Tahapan ketiga, adalah memperoleh dukungan dari pihak yang memiliki kekuatan (thalab an-nushrah) sehingga memungkinkan tegaknya pemerintahan Islam. Metode ini bersifat syar'i dan tidak boleh diganti dengan cara-cara yang bertentangan dengan syariat, seperti perjuangan bersenjata, memberontak terhadap pemerintahan yang sah atau sekadar mengikuti mekanisme demokrasi sebagai jalan utama.


Perubahan hakiki tidak cukup diwujudkan melalui perbaikan individu semata, tetapi harus mengarah pada perubahan menyeluruh dalam kehidupan masyarakat melalui penerapan syariat Islam secara kafah. Karena itu, menegakkan institusi yang menerapkan seluruh hukum Allah dipandang sebagai kewajiban kolektif (fardhu kifayah). Kewajiban tersebut tidak gugur hanya karena umat belum memiliki kemampuan. 


Sebaliknya, selama kemampuan itu belum terwujud, umat justru berkewajiban menyiapkan seluruh sarana yang diperlukan agar tujuan tersebut dapat dicapai. Kaidah fikih:

 "مَا لَا يَتِمُّ الْوَاجِبُ إِلَّا بِهِ فَهُوَ وَاجِبٌ 

Kaedah fiqih tersebut menjadi landasan, bahwa suatu kewajiban, tidak akan terlaksana atau sempurna kecuali dengan adanya suatu perantara, maka perantara tersebut hukumnya menjadi wajib."


Perjuangan untuk menerapkan syari'at Islam secara kafah ini tidak bisa dilakukan sendiri, melainkan memerlukan seluruh eleman masyarakat termasuk di dalamnya para mubalighah dan aktivis dakwah yang memiliki posisi strategis dalam mengemban risalah Islam. 


Agenda besarnya bukan sekadar menyampaikan nasihat keagamaan, tetapi membangun kesadaran umat terhadap kewajiban menerapkan Islam secara kafah, termasuk pentingnya institusi Khilafah sebagai pelaksana syariat.


Mereka dituntut untuk menjadi pendidik umat, pelurus pemikiran, pembentuk opini umum Islam, sekaligus penggerak dakwah yang istikamah di tengah berbagai tantangan. 


Keberhasilan dakwah tidak hanya diukur dari banyaknya majelis ilmu atau aktivitas sosial, tetapi dari sejauh mana dakwah mampu mengubah cara berpikir umat, mengikat mereka kepada hukum Allah, serta mengarahkan potensi umat menuju perjuangan kolektif untuk menegakkan kehidupan Islam sesuai metode Rasulullah saw.. Wallahualam bissawab. [EA/MKC]

Menjalankan Kewajiban agar Meraih Mahkota di Akhirat

Menjalankan Kewajiban agar Meraih Mahkota di Akhirat




Kesabaran dalam menjalankan kewajiban merupakan jalan menuju ampunan

mendapatkan keridaan Allah Swt., dan balasannya pun surga

______________________________


Penulis Umma Alula

Kontributor Media Kuntum Cahaya dan Aktivis Muslimah


KUNTUMCAHAYA.com, INSPIRASI- Seorang Muslim wajib menekankan pentingnya istikamah dalam menjalankan perintah Allah Swt. sebagai jalan menuju kemuliaan yang abadi. Ketaatan terutama dalam situasi sulit, dianggap sebagai bentuk perjuangan (jihad) yang berbuah pahala besar dan balasannya ialah surga. 


Bertahan untuk melaksanakan kewajiban berarti, konsisten menunaikan amanah terhadap Allah. Seperti menutup aurat, salat lima waktu, puasa Ramadan, zakat, dan menjauhi seluruh larangan-Nya, meskipun di tengah ujian atau godaan. Hanya orang-orang yang memiliki keimanan yang kuat, yang mampu menunaikan kewajiban dan istikamah. 


Terkait Aurat


Menutup aurat hukumnya wajib bagi setiap muslim dan muslimah yang telah baligh, berdasarkan dalil Al-Qur'an sebagai bentuk ketaatan kepada Allah Swt.. Batasan aurat perempuan adalah seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan, sedangkan aurat laki-laki adalah antara pusar hingga lutut. Bagi seorang muslimah, dilarang untuk menampakkan perhiasan atau aurat kepada selain mahramnya. Ini adalah bentuk kasih sayang Allah untuk menjaga kehormatan muslimah dan menjauhkan mereka dari fitnah atau keburukan. 


Hal ini sesuai dalam surah An-Nur ayat 31, yang artinya:


"Dan katakanlah kepada para perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali yang (biasa) terlihat."


Pakaian muslimah ada dua. Bagian atas yang disebut khimar atau kerudung, yaitu untuk menutup aurat bagian kepala, leher, dan dada. Ada juga pakaian bagian bawah yang khusus dipakai saat hendak ke luar rumah atau ketika ada laki-laki asing. Pakaian bagian bawah inilah yang disebut jilbab. Jilbab adalah pakaian lorong yang tidak terputus.


Hal ini sesusi dengan surah Al-Ahzab ayat 59 yang artinya:


"Wahai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang mukmin, "Hendaklah mereka menutupkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka." Yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk dikenali, sehingga mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang."


Terkait Salat 


Salat merupakan rukun Islam yang kedua. Salat wajib dilaksanakan, baik dalam keadaan sehat maupun sakit (sesuai dengan kemampuannya). Hukumnya adalah fardu 'ain (wajib individu) untuk setiap muslim yang mukallaf (baligh dan berakal). Meninggalkannya termasuk dosa besar, sementara mengerjakannya adalah kebutuhan dan kewajiban utama untuk mendapatkan surga.


Sungguh, sangat disayangkan banyak kaum muslim yang mengabaikan kewajiban salat ini hingga mereka melalaikannya. 


Allah Swt. berfirman dalam surah An-Nisa' Ayat 103, yang artinya: "Selanjutnya, apabila kamu telah menyelesaikan salat(mu), ingatlah Allah ketika kamu berdiri, pada waktu duduk dan ketika berbaring. Kemudian, apabila kamu telah merasa aman, maka laksanakanlah salat itu (sebagaimana biasa). Sungguh, salat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman."


Terkait Puasa 


Hukum puasa Ramadan adalah fardu 'ain (wajib) bagi setiap muslim yang memenuhi syarat: baligh, berakal sehat, mampu (tidak sakit/dalam perjalanan), dan suci dari haid/nifas. Puasa bertujuan menahan diri dari makan, minum, dan hal yang membatalkan dari terbit fajar hingga terbenam matahari, sebagaimana diatur dalam surah Al-Baqarah: 183-184.


Selain itu, juga berupaya menahan hawa nafsu dari hal-hal yang dapat merusak pahala ibadah puasa. Ramadhan akan membawa pada harapan atau kebangkitan jiwa berupa ketakwaan. Tentu bukan takwa yang sesaat, namun takwa yang paripurna, sebenarnya dan selamanya hingga akhir hayat kita. Surah Al-Baqarah ayat 183, yang artinya:


"Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa." 


Terkait Zakat 


Hukum zakat adalah wajib (fardhu) bagi setiap muslim yang memenuhi syarat, merupakan salah satu rukun Islam yang krusial. Zakat terbagi menjadi zakat fitrah (jiwa) dan zakat mal (harta), yang wajib dikeluarkan jika mencapai nisab (batas minimum) dan haul (kepemilikan satu tahun) untuk menyucikan jiwa dan harta.  


Allah Swt. berfirman dalam surah At-taubah 103, yang artinya: “Ambillah zakat dari harta mereka (guna) membersihkan dan menyucikan mereka.”


Itulah beberapa kewajiban yang sudah Allah tetapkan. Semestinya kita sebagai muslim sudah sepantasnya melaksanakan kewajiban dan menjauhi segala larangannya. 


Kesabaran dalam menjalankan kewajiban ialah jalan menuju ampunan dan mendapatkan keridhaan Allah dan balasannya pun surga. Pahala bagi orang yang bersabar dalam ketaatan disebutkan tanpa batas.


Hanya keimananlah yang akan mengantarkan seorang hamba mendapatkan rida Allah dan kemuliaan tertinggi (mahkota) di akhirat. Wallahualam bissawab. [EA/MKC]

Bertahan dalam Taat di Era Globalisasi Media

Bertahan dalam Taat di Era Globalisasi Media

 


Cukup dengan keyakinan bahwa

kamu masih bertahan dalam ketaatan di era tren viral saat ini


___________________


Penulis Irma Oktaviana

Kontributor Media Kuntum Cahaya 


KUNTUMCAHAYA.com, INSPIRASI - Langkah awal ketaatan harusnya didasari oleh keimanan. Kemudian membuat komitmen dengan sungguh-sungguh. Dimulai dari hal kecil hingga bisa mengarah kepada hal yang lebih besar.


Namun, perlu disadari bahwa untuk menjalaninya, kita harus mempunyai ilmu yang bersumber dari Al-Qur'an. Seperti dalam An-Nisa ayat 59: "Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu."


Tidak mudah, tetapi insya Allah bisa mengapa? Karena setiap langkahnya adalah pembelajaran. Karena itulah kita tidak nikmati saja setiap ritmenya. Ilmu itu memang banyak, tetapi tidak semuanya mampu. Bersyukurlah jika kita dianugerahi rasa syukur itu walaupun masih bertahap. 


Karena, "Aku juga punya tujuan seperti yang lain hanya saja jalanku tak semudah itu". Terkadang ada beberapa orang yang harus kita beri jarak, agar hati kita menjadi nyaman. Ada beberapa orang yang harus kita 'silent' dan 'skip' agar pikiran kita jauh lebih tenang, mental kita pun lebih aman. Bukan untuk memutus ukhuwah atau silaturahmi. Hanya saja menghindari adanya penyakit hati dan menutup peluang mereka kembali menzalimi. 


Letakkan juga seluruh hatimu pada semua takdir Allah. Bahkan di saat kamu tidak mengerti akan rencananya. Kamu boleh menangis. Bahkan kamu bisa berdoa. Kamu tunggu langkah selanjutnya, hikmah apa yang sudah Allah siapkan. But deep down, you believe, apa yang Allah simpan, selalu lebih baik dari apa yang kamu minta.


Bahkan, "Janganlah kau meremehkan kehidupan seseorang, hanya karena takdirmu itu lebih baik dari mereka." Tidak semua perjuangan perlu disaksikan orang lain, cukup Allah yang jadi saksi. 


Adapun proses yang memang sangat diciptakan untuk sunyi, supaya kamu bisa belajar mengenal dirimu sendiri tanpa harus ada tepuk tangan dan tanpa ada validasi dari orang lain. Cukup dengan keyakinan bahwa kamu masih bertahan dalam ketaatan di era trend viral saat ini, yaitu "di saat orang-orang berlomba dengan fashionnya, prinsip yang di luar syariat, pemahaman yang jauh dari Al-Qur'an. Bahkan pergaulan yang di luar kendali sehingga terjadi permasalahan yang makin rumit, contohnya judol, zina, dan pembunuhan. 


Pada akhirnya semua hanya perihal waktu saja yg masih menjadi tanda tanya.  Selalu ada hikmah di setiap kejadian yang terjadi. Selain itu, ada maksud  baik di setiap pertemuan. Tidak ada yang kebetulan, semuanya digerakkan oleh Allah, penulis skenario terbaik. (@rickyy.ramadhani, Ig threads, 12-01-2026)


Kadang kita diberi ujian agar kita bisa tumbuh lebih baik dari sebelumnya. Allah pun akan beri kebahagiaan agar kamu mampu kembali ingat gimana caranya tersenyum kembali. Lalu kita diberi kehilangan agar kamu mampu kembali menemukan diri sendiri dengan jalan yang baik.  


Dengan perlahan, waktu akan menjawab semuanya. Bahkan waktu akan merawat dan menyembuhkan segalanya dengan kehendak Allah. Wallahualam bissawab. [Dara/MKC]

Futur Jangan Dijadikan Tolok Ukur untuk Mundur

Futur Jangan Dijadikan Tolok Ukur untuk Mundur




Jangan jadikan futur itu menjadi tolok ukur untuk mundur

karena sejatinya tidak semua orang memberi solusi

______________________


Penulis Irma Oktaviana

Kontributor Media Kuntum Cahaya dan Aktivis Muslimah


KUNTUMCAHAYA.com, INSPIRASI -

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ


Semangat Istikamah Menuju Keridaan Allah


Berawal dari suatu ujian, godaan di mana saat itu keimanan mulai diuji terus menerus. Maka dari situ juga awal mula dimana cerita ini terbentuk. Bahkan tidak terlihat arah akan menuju kemana tujuannya.


Lalu, aku memulai semuanya perlahan. Mulai dari segi waktu dan cara aku berbicara hingga berinteraksi. Kemudian suatu hari di mana akhirnya semua terjawab yang awal mulanya meragukan, bahkan sulit untuk dipercaya hingga akhirnya aku mengatakan "oke aku bisa."


Dari situ aku sudah mulai merasa bahwa apa gunanya menjalankan, tetapi tanpa arti yang sesungguhnya. Rasanya ingin bangkit, tetapi ternyata sulit. Berhari-hari, berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan, tidak selamanya berjalan dengan baik. Keimanan pun stuck di situ saja.


Bahkan, belum sama sekali menunjukkan adanya kemajuan untuk mempertahankan rasa ingin bangkit dari arah yang sudah tak teraba oleh jiwa. Bahkan, aku seolah-olah membiarkan pikiran ini diam tanpa memberikan kontribusi yang pasti. Bagaikan daun yang terbawa oleh angin lalu, hinggap entah di mana mereka terjatuh. Hingga suatu saat aku tersadarkan di mana ada hal yang nampak menunjukkan bahwa aku harus melakukannya, bukan tanpa paksaan tapi dengan niat dari hati, atau keinginan yang kuat.


Hingga akhirnya aku kembali bertanya pada diri sendiri, aku akan mulai kapan?


Namun, semuanya terjawab ketika mendengar perintah akan suatu kewajiban tanpa memaksa karena semuanya sudah tertulis dalam Al-Qur'an yang mulia didalam surah An-Nur ayat 30-31:

Ayat ini menjelaskan tentang perintah untuk menjaga pandangan, dan menjaga kemaluan, serta menutup aurat dengan mengenakan khimar (kerudung). Di Al-Qur'an surah lainnya yakni Al-Ahzab ayat 59, Allah Swt. memerintahkan kaum wanita untuk menutup jilbab ke seluruh tubuh mereka.


Kemudian aku memulainya secara perlahan, meskipun awalnya tidak sempurna. Akan tetapi, pada akhirnya aku bisa memilih pilihan yang terbaik untuk mempertahankan keimananku. Walaupun terkadang masih ada saja hawa nafsuku yang masih terjerat dalam pikiran, tetapi setidaknya aku sudah berani memilih pilihan yang pada dasarnya belum tentu semua orang sanggup.


Aku harus terus melangkah, meski harus terjatuh, lalu bangkit lagi, dan terus menerus seperti itu. Semangat harus terus membara, jangan jadikan futur itu menjadi tolok ukur untuk mundur karena sejatinya tidak semua orang memberi solusi.


Begitulah perjuangan hijrah dalam istikamah tidak selalu berjalan mulus pasti. Tentunya, semua itu ada prosesnya karena Allah menginginkan kita itu berjuang. Pastinya dengan proses yang tidak mudah. Namun, Allah jadikan kamu hamba yang kuat dengan proses yang cukup sulit sehingga tidak ada yang bisa membuat kita menjadi manusia yang paling banyak futurnya atau tidak pandai bersyukur.


Ingatlah akan satu hal, Allah tidak mungkin memberikan seorang hamba suatu ujian tanpa memberikan hamba itu balasan. Allah akan berikan limpahan pahala, kebahagiaan dan keberkahan hidup. Pintu ampunan dan taubat selalu Allah mudahkan bagi seseorang yang memang ingin Allah mudahkan. Lebih besar dibandingkan dengan dosa-dosa yang sudah kita lakukan dari sebelumnya. Selagi masih diberikan kesempatan hidup, teruslah berusaha untuk kembali ke jalan-Nya untuk meraih keridaan-Nya.


Walaupun masih dalam tahap perlahan, Allah akan selalu menerima tanpa syarat selagi kita ada niat kuat. Maka dari situ juga Allah akan selalu ada untukmu merangkulmu dengan kasih dan sayangnya yang tak terhingga sepanjang masa. Wallahualam bissawab. [SM/MKC]

Maryam: Role Model Menjaga Kehormatan Muslimah

Maryam: Role Model Menjaga Kehormatan Muslimah

 



Saat ini, banyak sekali tantangan yang dihadapi oleh muslimah

Pergaulan bebas dan berbagai godaan yang ada di sekitar 

_____________________


Penulis Najwa Zalfa, S.Pd

Kontributor Media Kuntum Cahaya dan Aktivis Pemuda Jagakarsa


KUNTUMCAHAYA.com, INSPIRASI - Maryam ibunda Nabi Isa adalah sosok yang sangat dihormati dalam Islam.


Kisahnya diabadikan dalam Al-Qur'an sebagai wanita yang menjaga kehormatannya dengan penuh keteguhan iman. Maryam dikenal sebagai seorang yang suci dan menjaga kesuciannya, meskipun menghadapi berbagai ujian dan tantangan yang sangat berat.


Kehormatan Maryam diabadikan dalam Al-Qur'an. Salah satu ayat yang menceritakan tentang Maryam adalah surah Maryam ayat 16-21:


"Dan ceritakanlah (Muhammad) kisah Maryam di dalam Al-Qur'an, ketika ia menjauhkan diri dari keluarganya ke tempat yang ke arah timur, lalu ia mengadakan tabir (yang melindunginya) dari mereka. Maka Kami mengutus roh Kami (Jibril) kepadanya, lalu ia menampakkan diri kepadanya sebagai seorang laki-laki yang sempurna. Maryam berkata, 'Sesungguhnya aku berlindung kepada Tuhan Yang Maha Pemurah dari kamu, jika kamu seorang yang bertakwa.' Laki-laki itu berkata, 'Sesungguhnya aku hanyalah seorang utusan Tuhanmu untuk memberikan kabar gembira kepadamu dengan seorang anak laki-laki yang suci.' Maryam berkata, 'Bagaimana akan ada anak laki-laki bagiku, padahal tidak pernah seorang manusia pun menyentuhku dan aku bukan pula seorang pezina."


Ayat ini menunjukkan betapa Maryam sangat menjaga kehormatan dan kesuciannya. Hingga Allah Ta'ala memberikan rahmat kepadanya seorang anak laki-laki. Putra tersebut ialah Nabi Isa ‘Alaihissalam. 


Saat ini, banyak sekali tantangan yang dihadapi oleh muslimah. Pergaulan bebas dan berbagai godaan yang ada di sekitar membuat posisi wanita menjadi sangat rentan. Media sosial, hiburan, dan budaya sering kali menampilkan gaya hidup yang tidak sesuai dengan syariat Islam sehingga tidak jarang wanita yang terjerumus ke dalam pergaulan yang dilarang oleh Allah Taala.


Lantas, bagaimana kita menjaga kehormatan di tengah gempuran zaman yang kian jauh dari naungan Islam?


Pertama, menguatkan iman dan akidah. Akidah adalah fondasi utama dalam menjaga kehormatan. Dengan iman yang kuat, seorang muslimah akan memiliki kekuatan untuk menolak godaan dan pergaulan yang tidak sesuai dengan syariat Islam.


Kedua, menghindari pergaulan bebas. Seorang muslimah harus berhati-hati dalam memilih teman dan lingkungan pergaulan. Menghindari pergaulan bebas dan menjauhi tempat-tempat yang dapat menjerumuskan ke dalam perbuatan yang dilarang oleh Allah Swt. adalah langkah penting.


Ketiga, mendapatkan pendidikan dan pengetahuan dengan mengkaji Islam secara mendalam dan menyeluruh. Hal ini dapat menjadi senjata yang sangat penting dalam menjaga kehormatannya. Dengan pengetahuan dan pemahaman yang cukup, seorang muslimah akan mampu membedakan yang baik dan yang buruk.


Keempat, bergaul dengan orang-orang salih yang memiliki visi misi yang sama sehingga akan membantu dalam menjaga kehormatan muslimah sekaligus menyiarkan Islam. Lingkungan islami dapat menjaga dan menghormati posisi wanita. Selain itu, lingkungan yang baik dalam Islam akan memberikan dukungan dan motivasi untuk tetap menjaga diri dari hal-hal yang tidak semestinya.


Begitulah sepatutnya meneladani sikap Maryam. Kita sebagai muslimah hendaknya menjaga kehormatan diri. Membuka pikiran kita untuk bersikeras menjaga kesucian di tengah kehidupan pergaulan yang sudah jauh dari naungan Islam.


Jangan sampai hanya semata memuaskan hawa nafsu dunia, kita rela terjerumus ke dalam perbuatan-perbuatan keji. Na'udzubillahi min dzaalik. Wallahualam bissawab. [Eva-Dara/MKC]

Siapa Pahlawan yang Sebenarnya?

Siapa Pahlawan yang Sebenarnya?

 



Siapa saja yang telah berjasa pada Islam untuk meninggikan kalimat Allah

dengan niat semata karena Allah dan dengan cara yang benar menurut syariat Islam

_______________________


Penulis Aila Puspita Sari Panjaitan

Santriwati dan Kontributor Media Kuntum Cahaya 


KUNTUMCAHAYA.com, INSPIRASI - Siapakah pahlawan yang sebenarnya dalam pandangan Islam? Jasa apa yang menjadikan mereka pantas disebut sebagai pahlawan?


Pahlawan adalah pejuang yang gagah berani dalam membela kebenaran. la rela mengorbankan tenaga, pikiran, waktu, bahkan nyawa. Sebutan pahlawan juga ditujukan bagi siapa saja yang berjasa meski 'tanpa tanda jasa' seperti guru atau yang lainnya.


Dalam pandangan Islam, seluruh aktivitas manusia harus dibangun atas dasar niat yang lurus untuk meraih keridaan Allah Swt., meninggikan kalimat-Nya, dan dengan cara yang benar atau sesuai syariat. Dua hal inilah yang menjadi syarat amal seseorang diterima atau tidak.


Allah Swt. berfirman yang artinya: "Mahasuci Allah yang menguasai (segala) kerajaan dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS. Al-Mulk [67]:1-2)


'Ahsanu amala' merupakan amal yang paling sempurna yakni amal yang diterima oleh Allah Swt.. Para ulama pun menjelaskan ukurannya yakni:


Pertama, harus ikhlas (akhlashuhu).


Kedua, harus benar (ashwabuhu).


Adapun yang maksud 'ikhlas' adalah suatu amal yang dilakukan hanya karena Allah dan mengharap rida-Nya. Sedangkan yang dimaksud dengan 'benar' adalah mengikuti ketentuan hukum syariat dan sesuai dengan apa yang dicontohkan oleh Rasulullah saw., bukan mengikuti syariat yang lain.


Inilah yang harus diperhatikan oleh seseorang dalam beramal dan sebagai standar dalam menilai amal perbuatan manusia, apakah diterima atau tidak?


Maka dari pemaparan di atas dapat disimpulkan siapa saja yang telah berjasa pada Islam untuk meninggikan kalimat Allah, dengan niat semata karena Allah dan dengan cara yang benar menurut syariat Islam, maka dia layak disebut sebagai pahlawan. 


Pada zaman permulaan Islam, Nabi saw. dan para sahabat r.a. adalah pahlawan yang berjasa dalam mendakwahkan Islam. Berjasa dalam membangun umat dan mencetak umat terbaik. Mereka adalah para pahlawan yang telah berjasa mendirikan negara Islam. Sebuah institusi yang mampu menjaga dan menerapkan syariat Islam secara sempurna, hingga Islam tersebar ke seluruh penjuru dunia.


Sepak terjang mereka sebagai pahlawan pun nampak dalam peperangan mempertahankan wilayah Islam maupun dalam menghilangkan rintangan di hadapan dakwah. Pada masa Rasulullah saw. para sahabat terlibat langsung dalam menyebarkan Islam ke seluruh Jazirah Arab dan negeri Syam. Dalam kurun waktu 9 tahun, waktu yang relatif singkat bisa mempersatukan wilayah Jazirah Arab dan negeri Syam menjadi wilayah Daulah Islam dan mengislamkan penduduknya.


Jasa para sahabat yang agung lainnya adalah keberhasilan mereka dalam mengumpulkan dan membukukan Al-Qur'an. Mengumpulkan dan membukukan hadis nabi Muhammad saw..


Penyebaran Islam pun terus dilanjutkan dari generasi ke generasi. Semuanya dilakukan dalam rangka memenuhi perintah Allah Swt. dan meneladani jalan yang ditempuh oleh Rasulullah saw. sehingga Islam bisa diterima di seluruh penjuru dunia.


Dalam berdakwahnya, mereka membawa Al-Qur'an di tangan kanan dan bahasa Arab di tangan kirinya. Tak heran wilayah-wilayah yang awalnya tidak berbahasa Arab, tetapi setelah penduduknya memeluk Islam mereka pun menjadi fasih berbahasa Arab.


Kegemilangan sejarah Islam telah mencatat para pahlawan semisal Khalid Bin Walid dan Saad Bin Abi Waqash. Sejarah pun telah mencatat bagaimana kiprah Mus'ab bin Umair yang berhasil mengislamkan penduduk Madinah hanya dengan waktu 1 tahun. Dia adalah pemuda yang tidak takut kehilangan harta dan keluarganya, ia lebih memilih Islam sebagai jalan hidupnya.


Mereka semua adalah pahlawan Islam yang telah berjasa mengemban, menjaga, dan menerapkan Islam di tengah-tengah kehidupan. Umat Islam adalah umat terbaik yang pernah dihadirkan dimuka bumi ini dengan akidah dan syariat Islam yang sempurna.


Setelah Rasulullah saw. wafat, syariat Islam terus ditegakkan oleh para khalifah pengganti Rasulullah saw. dalam kepemimpinan. Sebut saja Abu bakar As-Sidiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib. Sepanjang sejarah, umat tidak pernah kehabisan para pahlawan yang senantiasa menjaga dan menyebarkan Islam.


Semoga senantiasa kita bisa meneladani para pahlawan dan kembali melihat kegemilangan Islam. Berusaha untuk melanjutkan kehidupan Islam dan menerapkan aturannya secara kafah dalam bingkai Daulah Islamiah. Wallahualam bissawab. [EA/MKC]

Namaku Jalan Hijrahku

Namaku Jalan Hijrahku




Nama itu bisa jadi doa

untuk anak ketika dipanggilkan oleh lisan


_____________________________


Penulis Siti Aminah

Kontributor Media Kuntum Cahaya dan Aktivis Dakwah


KUNTUMCAHAYA.com, INSPIRASI - Hai guys kenalin nama aku Ami. Begitu sapaan orang-orang terdekat memanggilku. Kalau nama panjangku Siti Aminah hehe.


Pada tahu kan nama Aminah dalam agama Islam adalah nama seorang ibu mulia yang melahirkan nabi terakhir yaitu nabi Muhammad saw.. 

Okey guys aku mulai ceritanya dari sini ya...


Keluargaku


Nama aku Ami. Aku anak perempuan terakhir alias bungsu yang mempunyai dua orang kakak laki-laki. Aku terlahir dari seorang ibu dan ayah yang sangat luar biasa dalam membesarkan aku juga kedua kakakku.


Kami sekeluarga berasal dari keluarga yang sedang-sedang saja yang penting hidup bahagia eaaa... Tentunya hidup dalam rida Allah Swt. ya guys aamiin... Kalau kata orang, keluarga besar aku itu kayak paham agama banget gitu. Alhamdulillah dua paman aku seorang ustaz hihii.


Tapi kalau keluarga kecilku bukan yang paham agama banget hehe... Alhamdulillah ayahku bisa membina jadi imam yang baik bagi keluarga kecilnya eaaaa... Nah! begitulah singkatnya silsilah keluargaku guyss hihii...


Dikatain Alim


Awal cerita dimulai dari aku Sekolah Dasar guys...


Saat aku sekolah dasar, aku dikenal sama teman-temanku di sekolah kayak alim banget. Mungkin karena ada beberapa teman sepermainanku yang mengaji di tempat pamanku. Jadi kesannya aku anak yang agamis karena aku pernah mendengarkan perkataan temanku yang berkata, 


"Ami itu pintar ngaji loh!" "Ami itu anak ustaz" dan lain-lainnya yang seakan-akan mengartikan aku itu agamis, pintar agama banget huhuuu, gimana gitukan rasanya tuh...


Ada juga yang berpikir karena aku suka ikut perlombaan agama waktu SD, salah satunya pidato agama. Jadi, teman-temanku berpikir aku alim banget gitu.


Ditambah nama aku yang Siti Aminah kesannya kayak nambah banget alimnya huhuu... Awalnya aku biasa aja kalem-kalem aja eaaaa...


Tetapi saat kelas 6, mulailah aku ngerasa kayak nggak nyaman aja kalo dipandang alim, pintar agama banget. Nah! aku gak mau dipandang kayak gitu... Akhirnya aku memutuskan, "Pokoknya saat aku ke SMP nanti aku gak mau dipandang pintar agama dan lain-lainnya."


Akhirnya saat nginjak 1 SMP berubahlah aku. Berubah jadi Spiderman haha... Nggak guys sorry canda... krikk maaf kalo garing.


Tapi, kayaknya bener deh berubah jadi Spiderman hihii. Karena aku kayak mengubah diriku yang asalnya anggun eaaa jadi kayak ke tomboy-tomboy gitu guyss.


Nah! berhasillah aku mengubah diri aku dari pandangan orang-orang yang asalnya mandang aku pintar agama dan lain-lainnya, menjadi mandang ya biasa aja hehe.. Sesuai sasaran deh pokoknya. 


Tapi disclaimer dulu nih. Berubahnya aku itu kayak berubah jadi tomboy, agar orang-orang nggak mandang aku alim aja. Nggak macem-macem aku tuh karena takut dimarahin orang tua gitu kalo macam-macam hehehe.


Karena alhamdulillah dulu dan sampai sekarang aku masih diberi rasa takut kepada orang tua. Coba anak muda zaman sekarang kayaknya nggak ada takut-takutnya sama orang tua sendiri upssss... yang terjadi apa? Membantah dan lain-lainnya.


Mulai Berhijrah


Singkat cerita, naiklah aku ke kelas 2 SMP. Kayak nggak nyaman aja gitu kalo gaul sama cowok deket-deket walau hanya ngobrol. Akhirnya, aku hijrah lagi ke jalan yang benar eaaa. Tapi disini, aku banyak downnya juga guyss. Kadang tobat, kadang enggak gitu aja terus. Sekarang tobat besok lupa, tobat lagi lupa lagi wkk, Astaghfirullah tidak untuk ditiru ya guys!


Sampai pada akhirnyaa ada salah satu temanku yang berkata kayak gini, "Percuma nama Siti Aminah kayak nama ibu nabi, tapi tidak mencerminkan seperti halnya ibu Aminah."


Deg, aku bener-bener tertampar banget sama perkataan temenku yang satu ini guys, rasanya kepikiran terus, bikin aku melamun memikirkan perkataan temenku itu.


Jujur, guys aku benar-benar kerasa deg banget, malu banget, tertampar banget dengan perkataan temenku yang satu itu. Karena ya, yang dia bilang ke aku itu bener adanya gitu. Umi aku pernah berkata kalo beliau memberi nama siti Aminah karena ingin aku menjadi wanita terbaik layaknya ibunda Aminah yang baik akhlaknya, anggun perkataannya, taat akan perintah-Nya dan semoga kelak aku dapat melahirkan keturunan-keturunan yang baik, saleh salihah nantinya aamiin...


Ya, karena aku takut sama umi aku dan nggak mau buat umi aku kecewa. Aku harus buat beliau bangga dong ya kan.


Nah! Sejak saat itu akhirnya di kelas 2 SMP menginjak semester 2, aku bener-bener bertekad untuk hijrah beneran guys. Alhamdulillah, dari sana aku mulai mencari-cari temen hijrah, kajian-kajian Islam untuk men-support hijrahku.


Alhamdulillah, sampai sekarang akhirnya aku bisa menemukan temen-temen taat yang bisa saling menguatkan agar terus istikamah. Karena jujur aja guys dulu aku hijrah sendiri banyak banget downnya. Tapi saat menemukan temen satu tujuan hijrah, menemukan guru yang bener-bener bisa mendampingi, mengajarkan kita, jadinya kita gak ngerasa sendiri. Terus dikuatin disemangatin pokoknya Masya Allah, makanya yuk hijrah


Ending


Begitulah guys cerita dari namaku jalan hijrahku yang berawal dari perkataan seorang teman yang perkataannya menampar tapi membuatku sadar untuk menjadi lebih baik lagi. Nah! untuk ibu dan ayah terutama calon ibu dan ayah berikanlah nama-nama yang baik untuk anak-anaknya. Karena nama itu bisa jadi doa untuk anak ketika dipanggilkan oleh lisan. Lisan yang berkata baik akan menjadi doa yang baik pula. 


Sebaliknya, jangan sampai memberikan nama yang buruk untuk anak karena akan menjadi doa keburukan juga. Na’udzu billah... Misalnya karena ketidaktahuan kita atau ikut-ikutan nama idola yang tidak sepatutnya diidolakan oleh seorang muslim guys. Sepakat? Terima kasih sahabatku yang sudah menampar tapi membuatku sadar. Wallahualam bissawab [Dara/MKC]

Maulid: Meneladani Kepemimpinan Nabi saw.

Maulid: Meneladani Kepemimpinan Nabi saw.

 



Nabi saw. adalah role model terbaik 

yang terus dilanjutkan oleh para khalifah selanjutnya

______________________________


Penulis Siti Aisyah, S. Pd. I

Kontributor Media Kuntum Cahaya dan Guru RA di Rancaekek


KUNTUMCAHAYA.com, INSPIRASI - Pilkada serentak akan dilaksanakan, semua komponen mencari pemimpin terbaik bagi wilayahnya. Mungkinkah lahir pemimpin-pemimpin yang memberikan perbaikan bagi rakyat, atau justru rakyat yang dijadikan alat kekuasaan?


Saat mereka membutuhkan suara, mereka datang kepada rakyat, tetapi ketika menjadi penguasa, rakyat ditinggalkan. Alih-alih ada perbaikan, justru ada kerusakan di mana-mana. Rakyat hanya dianggap ada ketika dibutuhkan.


Saat ini, kita kehilangan figur kepemimpinan yang diharapkan. Alih-alih menjadi contoh bagi rakyatnya, para pemimpin malah menjadi pelaku kejahatan, mulai dari pelaku korupsi hingga keburukan lainnya.


Sebagai muslim, kita ingin keluar dari permasalahan ini. Namun, bagaimana caranya agar kita bisa keluar dari masalah ini, mengubah kerusakan menjadi kebaikan?


Sebagai seorang muslim, kita sudah diberikan pedoman oleh Allah Swt.. Jika kita ingin hidup selamat dunia dan akhirat, maka kita harus menjadikan Rasulullah sebagai teladan, sebagaimana firman Allah Swt. dalam QS. Al-Ahzab ayat 21 yang artinya: "Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu."


Berdasarkan ayat ini, kita harus menjadikan Rasulullah sebagai panutan, mulai dari kepemimpinannya. Rasulullah adalah contoh terbaik dalam memimpin umatnya.


Saat ini, role model kepemimpinan ideal adalah Rasulullah saw. yang sangat bertanggung jawab dalam menjalankan tugas dan amanah yang diberikan kepadanya, baik dalam konteks kepemimpinan politik maupun spiritual.


Pemimpin yang amanah akan dihormati dan diikuti karena masyarakat merasa yakin bahwa kepentingan mereka akan dijaga dan dilindungi.


Salah satu contoh kepemimpinan Rasulullah saw. adalah ketika beliau mengajarkan nilai-nilai luhur dalam memimpin, termasuk dalam urusan yang tampaknya sepele. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa pada suatu hari, seorang sahabat datang terlambat ke majelis Rasulullah saw., dan saat itu seisi masjid sudah penuh sesak oleh jemaah. 


Mereka duduk berdesak-desakan. Sahabat yang datang terlambat itu kemudian meminta izin kepada sejumlah jemaah agar kiranya memberikan tempat duduk. Namun, tak satu pun yang bersedia. 


Hingga akhirnya, Rasulullah saw. memanggil sahabat yang kebingungan itu dan mempersilakannya duduk di dekat beliau. Nabi Muhammad saw. bahkan melipat serbannya dan memberikannya kepada sahabat tersebut untuk digunakan sebagai alas duduk.


Sahabat itu sangat terkejut sekaligus bahagia. Serban Rasulullah diterimanya bukan sebagai alas duduk, melainkan kain dari sosok paling mulia itu diciumnya dengan penuh perasaan haru.


Cerita tersebut menunjukkan kepemimpinan Nabi saw. yang mengayomi dan melayani. Corak kepemimpinan beliau adalah bijaksana serta mengembangkan sebanyak mungkin solusi. Oleh karena itu, para pemimpin muslim saat ini hendaknya menerapkan apa yang diistilahkan sebagai 3M, yaitu Melayani, Menyelesaikan, dan Mengembangkan Solusi.


Sejak tahun pertama Nabi saw. berdakwah di Madinah, persoalan-persoalan kemasyarakatan mulai mendapatkan kepastian, sejalan dengan datangnya wahyu Allah yang secara berangsur-angsur menjawab berbagai persoalan yang dihadapi beliau dalam membimbing umatnya. Rasulullah saw. juga menjadikan masjid sebagai pusat pendidikan.


Beliau kerap menjelaskan berbagai aspek ajaran Islam di Masjid Nabawi. Tradisi ini terus berlanjut sampai sekarang. Di Masjid Nabawi, sesudah salat magrib dan sesudah salat subuh, biasanya terdapat halaqah-halaqah yang mengkaji Al-Qur'an. Forum tersebut dipimpin oleh seorang syekh atau guru.


Dari contoh di atas, dapat disimpulkan bahwa kepemimpinan Nabi saw. adalah role model terbaik yang terus dilanjutkan oleh para khalifah selanjutnya. Saat ini, ketika Islam tidak dijadikan landasan dalam kepemimpinan, banyak pemimpin hanya menjadikan kekuasaan sebagai alat untuk meraih uang.


Oleh karena itu, saatnya kita menerapkan Islam secara kafah agar kepemimpinan menjadi jalan kemaslahatan bagi masyarakat secara umum.


Hal ini bisa diterapkan melalui sistem Islam dalam bingkai Daulah Islamiyah, sehingga akan lahir pemimpin ideal yang sejalan dengan kepemimpinan Nabi saw.. Wallahualam bissawab. [SJ/MKC]

Perencanaan Sistemis untuk Mengatasi Pengangguran di Indonesia

Perencanaan Sistemis untuk Mengatasi Pengangguran di Indonesia


 


Kemandirian ekonomi suatu negara adalah kunci untuk mengurai berbagai masalah sosial,

termasuk pengangguran

______________________________


Penulis Neni Maryani

Kontributor Media Kuntum Cahaya dan Pendidik


KUNTUMCAHAYA.com, INSPIRASI - Indonesia saat ini menghadapi tantangan besar dalam hal ketenagakerjaan. Ketimpangan antara jumlah pencari kerja dan ketersediaan lapangan kerja ibarat bumi dan langit, terlalu jauh berbeda. Data menunjukkan jumlah pengangguran saat ini mencapai 10 juta jiwa berada pada kelompok usia produktif, hal ini menjadi ancaman serius terhadap masa depan ekonomi. (detik.com, 21-05-2024)


Dilansir dari media jabar tribunnews.com 27/08/2024, Dinas Ketenagakerjaan (Disnaker) Kabupaten Bandung telah menyelenggarakan Job Fair Mini sebanyak 10 kali sepanjang tahun 2024, termasuk salah satunya yang digelar di Thee Matic Mall Majalaya, Kabupaten Bandung. Kegiatan ini bertujuan untuk mengurangi tingkat pengangguran yang saat ini mencapai 6,52 persen.
 

Tingkat pengangguran tertinggi di Kabupaten Bandung berasal dari lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang mengalami kesulitan dalam mencari pekerjaan. Meskipun begitu, angka pengangguran ini sudah turun dari 8,58 persen pada tahun 2021, dan Disnaker menargetkan penurunan lebih lanjut hingga 4 persen pada tahun ini.

Tingginya angka pengangguran ini adalah sinyal gagalnya negara menciptakan lapangan kerja. Meskipun job fair sering diadakan sebagai upaya untuk mengurangi pengangguran, kenyataannya tidak selalu memberikan solusi yang efektif. Banyak pencari kerja yang masih kesulitan mendapatkan pekerjaan meskipun telah berpartisipasi dalam berbagai job fair.

Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, seperti ketidaksesuaian antara kualifikasi pelamar dengan kebutuhan perusahaan, jumlah lowongan yang terbatas dibandingkan dengan jumlah pencari kerja, serta kurangnya pelatihan atau keterampilan tambahan yang diperlukan untuk bersaing di pasar kerja.
Akibatnya, meskipun job fair dapat memberikan peluang sementara, mereka tidak selalu mampu mengatasi masalah pengangguran secara menyeluruh.

Pemerintah seharusnya memiliki visi jangka panjang yang matang dan memetakan kebutuhan tenaga kerja, seperti jumlah guru, dokter, tentara, dan mekanik yang diperlukan. Dengan demikian, dunia pendidikan dapat diarahkan untuk menghasilkan tenaga kerja yang sesuai dengan kebutuhan tersebut. Kolaborasi antara pemerintah dan lembaga pendidikan sangat diperlukan agar lulusan-lulusan yang dihasilkan benar-benar siap dan sesuai dengan kebutuhan industri serta sektor-sektor lainnya yang krusial bagi pembangunan bangsa.

Kemandirian ekonomi suatu negara adalah kunci untuk mengurai berbagai masalah sosial, termasuk pengangguran. Tanpa kemandirian ekonomi, masalah ini akan terus berlarut-larut dan menghambat kemajuan bangsa. Oleh karena itu, pemerintah harus segera bertindak untuk mencegah bertambahnya angka pengangguran dan memastikan bahwa setiap kebijakan yang diambil dapat memberikan manfaat jangka panjang bagi seluruh rakyat Indonesia.

Penting untuk disadari bahwa akar persoalan dari pengangguran ini adalah sebagai dampak dari kapitalisme yang diterapkan. Tenaga kerja dianggap sebagai komoditas dan peluang kerja ditentukan oleh dinamika pasar dan profitabilitas perusahaan. Dalam sistem ini, tujuan utama perusahaan adalah memaksimalkan keuntungan, sehingga efisiensi dan pengurangan biaya produksi, termasuk pengurangan tenaga kerja, sering kali menjadi prioritas.

Selain itu, ketimpangan ekonomi yang dihasilkan oleh kapitalisme menyebabkan distribusi kekayaan yang tidak merata, menciptakan kesenjangan sosial dan menghambat akses yang adil terhadap kesempatan kerja. Akibatnya, sistem ini sering kali tidak mampu menyediakan lapangan pekerjaan yang cukup bagi semua orang, terutama bagi mereka yang berasal dari kelompok rentan atau kurang terampil.

Berbeda dengan Islam yang secara sempurna mampu menyelesaikan berbagai persoalan dalam segala aspek kehidupan, termasuk di dalamnya masalah pengangguran. Negara Islam akan bertanggung jawab memastikan tersedianya lapangan kerja bagi rakyatnya. Sebagaimana dalam hadis dijelaskan:

"Imam adalah raa'in (pengurus rakyat) dan ia bertanggung jawab atas pengurusan rakyatnya." (HR. Al-Bukhari)

Islam menganjurkan agar negara tidak hanya bergantung pada sektor industri atau perusahaan besar untuk menciptakan lapangan kerja. Sebaliknya, Islam menekankan pentingnya pengembangan sektor pertanian, perdagangan, dan kewirausahaan, yang merupakan sumber-sumber penghidupan yang stabil dan berkelanjutan. Selain itu, Islam juga mendorong pengembangan kemampuan individu (skill) yang bermanfaat, baik dalam hal keterampilan teknis maupun dalam bidang ilmu agama.

Adapun solusi terperinci berdasarkan syariat Islam antara lain:

 
Pertama, reformasi pendidikan berbasis syariah. Sistem pendidikan harus disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat dan pasar kerja. Pemerintah harus bekerja sama dengan lembaga pendidikan untuk mengarahkan kurikulum yang lebih aplikatif dan berfokus pada pengembangan keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja, terutama dalam sektor-sektor yang dianjurkan dalam Islam seperti pertanian, perdagangan, dan manufaktur.

Kedua, pengembangan wirausaha islami. Islam sangat menganjurkan umatnya untuk berdagang dan berwirausaha. Bahkan dalam sejarahnya Rasulullah saw. dulu membuat pasar di Madinah yang membawa kemajuan pesat bagi kaum muslimin. Pasar dalam sistem ekonomi Islam harus beroperasi dengan prinsip keadilan dan transparansi. Praktik penipuan, monopoli, dan eksploitasi dilarang. Pasar bebas tetap diatur untuk memastikan bahwa semua transaksi dilakukan dengan kejujuran.

Maka dari itu, pemerintah bisa memberikan pelatihan kewirausahaan berbasis syariah kepada lulusan SMK. Dengan demikian, mereka tidak hanya bergantung pada lowongan pekerjaan di perusahaan, tetapi juga mampu menciptakan lapangan pekerjaan baru melalui bisnis yang halal dan berkah.

Ketiga, pemberdayaan sumber daya alam dan pertanian. Sektor pertanian yang diberdayakan secara optimal bisa menjadi solusi jangka panjang dalam mengatasi pengangguran. Islam memandang pentingnya pengelolaan sumber daya alam secara adil dan berkelanjutan. Pemerintah harus mendorong para pemuda untuk terlibat dalam sektor ini dengan menyediakan akses modal, teknologi, dan pasar yang memadai.

Keempat, sistem ekonomi berbasis syariah. Sistem ekonomi yang didasarkan pada prinsip-prinsip syariah, yang berasal dari Al-Qur'an dan Hadis. Sistem ini mengedepankan keadilan sosial, distribusi kekayaan yang adil, serta larangan terhadap praktik-praktik ekonomi yang dianggap eksploitatif atau tidak etis, seperti riba (bunga) dan gharar (ketidakpastian yang berlebihan).
Islam menawarkan solusi menyeluruh melalui sistem ekonomi yang berbasis pada keadilan, keberlanjutan, dan keseimbangan.

Pemerintah bisa mengadopsi model ekonomi berbasis zakat, wakaf, infak, dan sedekah, serta mendorong pengembangan usaha yang bisa menjadi sarana distribusi kekayaan dan penciptaan lapangan kerja bagi masyarakat. Pemerintah memiliki peran aktif dalam mengatur perekonomian, memastikan distribusi kekayaan yang adil, dan mengelola sumber daya alam untuk kepentingan publik. Negara juga bertanggung jawab dalam menjaga stabilitas harga dan memastikan bahwa kebutuhan dasar masyarakat terpenuhi.

Contoh nyata ada pada zaman Kekhalifahan Abbasiyah, sistem ekonomi Islam ini berhasil menciptakan masyarakat yang sejahtera dengan perekonomian yang berkembang pesat. Kota-kota seperti Baghdad menjadi pusat perdagangan, ilmu pengetahuan, dan budaya, yang menunjukkan betapa efektifnya prinsip-prinsip ekonomi Islam jika diterapkan dengan benar.

Dengan menerapkan solusi sesuai syariat Islam, Insya Allah, angka pengangguran bisa ditekan lebih efektif, sekaligus membangun masyarakat yang mandiri secara ekonomi dan taat kepada Allah Swt.. Hal yang demikian pastinya hanya bisa terwujud dalam negara yang menerapkan sistem Islam kafah. 

Karena di dalam Islam, negara memiliki tanggung jawab penuh dalam menciptakan lapangan kerja dan meriayah masyarakat dengan baik dan benar agar tercipta kesejahteraan yang akan membawa keberkahan dari Allah Swt.. Wallahualam bissawab. [AS-DW/MKC]

Because You Worth It

Because You Worth It

 


Dengan dalih kebebasan individu dan hak asasi manusia, maka wanita tak mau diatur oleh syariat

Padahal syariat ada untuk meninggikan derajatnya di hadapan Allah

______________________________


Penulis Arda Sya'roni

Kontributor Media Kuntum Cahaya


KUNTUMCAHAYA.com, INSPIRASI - Because you worth it merupakan sebuah jargon merek kecantikan internasional yang berasal dari Paris. Merek ini mengusung bahwa kecantikan memang layak dimiliki oleh seorang wanita, karena wanita begitu berharga.


Demikian pula dalam Islam, wanita begitu dimuliakan. Namun sayangnya, dalam kenyataan yang terjadi saat ini begitu banyak wanita yang justru merendahkan dan menghinakan dirinya. Dengan dalih kebebasan individu dan hak asasi manusia, maka wanita tak mau diatur oleh syariat dan menganggap bahwa aturan itu mengikat dirinya untuk berekspresi. Padahal aturan dalam syariat justru untuk meninggikan derajatnya di hadapan Allah. 


Wanita dalam Islam 

Ya, wanita merupakan makhluk ciptaan Allah yang begitu dimuliakan. Banyak ayat di Al-Qur'an yang menceritakan keistimewaan wanita.


Adapun posisi wanita yang tercantum di dalam Al-Qur'an di antaranya adalah:

1. Sebagai pendamping atau pasangan dari seorang pria. Hal ini tertulis dalam QS Al-Hujurat ayat 13, “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang lelaki dan seorang wanita.”


2. Perempuan mendapat kepercayaan dari Allah untuk bisa mengandung, melahirkan, dan menyusui, termaktub dalam QS Al-Ahqaf ayat 15, “Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan."


3. Wanita sebagai ibu kedudukannya lebih tinggi dari seorang ayah. (HR Bukhari)


4. Perempuan berhak mendapat mahar ketika dinikahi laki-laki, terdapat dalam QS An-Nisa ayat 4, “Berikanlah mas kawin (mahar) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan. Kemudian, jika mereka menyerahkan kepada kamu sebagian dari mas kawin itu dengan senang hati maka, makanlah (ambillah) pemberian itu (sebagai makanan) yang sedap lagi baik akibatnya.”


5. Kehormatan perempuan dilindungi dalam Islam, termaktub dalam QS Al-Ahzab ayat 59, “Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. "Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”


6. Seorang perempuan dapat memasuki surga lewat pintu mana pun. Hal ini terdapat dalam hadis, ”Jika seorang wanita menunaikan salat lima waktu, berpuasa di bulan Ramadan, menjaga kehormatannya dan menaati suaminya, niscaya akan dikatakan padanya: Masuklah ke dalam surga dari pintu mana pun yang kau mau.” (HR Ahmad)


MasyaAllah, begitulah cara Allah memuliakan wanita. Bahkan, perintah menutup aurat pun bertujuan untuk memberikan kemuliaan dan penjagaan diri dari mata-mata durjana. Namun sayangnya, saat ini justru banyak wanita yang menghinakan dan merendahkan dirinya sendiri. Mereka mengumbar nafsunya, mereka merelakan kemolekan tubuhnya dipandang mata yang lelaki yang tak halal.


Hal ini karena mereka terayu bujukan iblis dan terlena gemerlap dunia. Mereka rela menukar akhirat dengan manisnya dunia. 


Wanita Tonggak Peradaban 

Wanita juga dianggap sebagai warabbatul bait, ratu di rumahnya. Wanita juga sebagai madrasatul ula, madrasah pertama sekaligus utama bagi anak. Dari didikan seorang wanita tonggak suatu bangsa tercipta.


Wanita sebagai ibu juga merupakan teladan bagi anaknya karena anak bukanlah seorang pendengar yang baik, melainkan seorang peniru ulung. Anak akan cenderung menirukan setiap tindakan, tutur kata, serta sikap ibunya.


“Jika ingin merusak sebuah keluarga, maka rusaklah terlebih dahulu Ibunya," demikianlah ilustrasi percakapan iblis dengan setan. Dari ilustrasi ini dapat dipahami bahwa wanita sebagai ibu memegang peranan penting buat ketahanan sebuah rumah tangga. Dengan demikian, dibutuhkan seorang wanita yang cerdas dan berilmu untuk mencipta keluarga sakinah mawaddah warahmah. 


Dibutuhkan ibu yang  berilmu pula untuk mencetak anak saleh yang mampu berpikir cemerlang. Sebaliknya, bila wanita fakir ilmu dan tak memiliki adab akan melahirkan anak-anak yang rusak dan merusak, maka akan hancur pula peradaban.


Jika keistimewaan dan kemuliaan telah dianugerahkan Allah kepada setiap wanita, lantas masihkah kita mengabaikannya? Masihkah kita menganggap batasan syariat sebagai sebuah pembatasan aktualisasi diri? Masihkah kita menganggap menutup aurat sebagai bentuk kungkungan? 


Karena wanita begitu berharga. Dan karena engkau adalah wanita. Mari kita segera berlari menegakkan syariat-Nya dan kita cetak generasi gemilang dari rahim kita demi masa depan yang lebih baik. Wallahualam bissawab. [SM-SJ/MKC]

Hijrah, Sinergi Untuk Kemaslahatan

Hijrah, Sinergi Untuk Kemaslahatan

 

Hijrah adalah moment diawalinya kemaslahatan umat

Kemaslahatan umat sempurna dirasakan dengan diterapkannya syariat Islam secara menyeluruh dalam bingkai negara

_______________________


Penulis Inge Oktavia Nordiani

Kontributor Media Kuntum Cahaya 


KUNTUMCAHAYA.com, INSPIRASI - Saat ini kita telah memasuki Bulan Muharram 1446 Hijriah, artinya telah memasuki awal tahun baru yang sarat dengan perubahan. Sejatinya, perubahan itu harus dari suatu kondisi yang buruk kepada kondisi yang lebih baik.


Perenungan dan evaluasipun harus dilakukan. Rencana-rencana disusun lalu diupayakan agar perubahan yang diimpikan teralisasi di masa yang akan datang.


Muharram adalah bulan pertama dalam perhitungan kalender hijriah. Bulan ini termasuk ke dalam bulan haram yang penuh kemuliaan. Di mana, terjadi peristiwa bersejarah yaitu hijrahnya Rasulullah saw. dari kota Mekkah ke kota Madinah. Moment hijrah ini yang mengawali langkah perubahan secara spektakuler dalam sejarah peradaban Islam. 


Lalu muncul pertanyaan. Apa misi yang dibawa Rasulullah saw. ketika hijrah ke Madinah? Dan teladan apa yang dapat kita ambil dari hijrahnya Rasulullah saw. ini?


Hijrah berasal dari akar kata hajara yang berarti berpindah (tempat, keadaan atau sifat), meninggalkan dari yang pertama menuju yang kedua. Secara syar'i makna hijrah adalah perpindahan Rasulullah saw bersama sahabat-sahabatnya dari Mekkah menuju Madinah. Tepatnya tahun ke-13 dari masa kenabian.


Sebagaimana kita ketahui, kondisi Mekkah ketika Rasul di utus sangat terbelakang. Terkenal dengan sebutan zaman jahiliyah. Kehidupan masa itu jauh dari akal sehat. Pergaulan yang bercampur baur antara laki-laki dan perempuan, merajalela pelacuran, budaya pertumpahan darah, lumrah mengawini dua bersaudara sekaligus bahkan mengawini mantan istri dari bapak mereka baik dengan talak atau ditinggal mati, merajalela perbuatan zina di semua lapisan masyarakat, kebodohan, khurafat di mana-mana, mengubur hidup-hidup bayi perempuan dan segala perilaku binatang terjadi pada masa itu.


Rupanya, kondisi-kondisi di atas ditemui juga pada saat ini. Bisa jadi saat ini kita berada pada kondisi jahiliyah modern. Ditandai dengan perilaku zina dan riba menjadi praktik yang lumrah, gaya hidup hedonisme dan materialisme telah menjadi budaya yang mendarah daging, merajalelanya praktik-praktik korupsi, generasi pecandu narkoba, budaya tawuran dan judi online, bahkan kasus pembunuhan sadis sudah menjadi sarapan varian baru kita sehari-hari.


Inilah konsekuensi logis ketika diterapkan sistem sekular kapitalistik. Kebijakan-kebijakan pemerintah cenderung menomorsatukan pengusaha daripada kepentingan rakyat.  Misalnya, pengesahan Undang-undang (UU) cipta kerja, UU minerba, UU omnibus law kesehatan dan lainnya. Hal itu semua merupakan produk dari sistem demokrasi yang sangat bertentangan dengan Islam.


Oleh karena itu, sudah saatnya segenap kaum muslimin mengambil pelajaran di balik hijrahnya nabi. Moment hijrah nabi saw. bukan dalam rangka melarikan diri, tetapi memiliki misi yaitu menegakkan institusi negara yang menjalankan sistem Islam secara kafah. 


Pasca Rasul hijrah ke Madinah kota ini menjadi sentral kekuasaan dan titik sentral dakwah Islam. Madinah menjadi negara Islam pertama yang didirikan Rasulullah saw. Ketika Rasulullah saw. wafat kepemimpinan dilanjutkan oleh para khulafaur rasyidin dan khalifah-khalifah seterusnya. Hingga kekuasaan Islam tersebar luas menembus 2/3 dunia. 


Hijrah adalah moment diawalinya kemaslahatan umat. Kemaslahatan umat sempurna dirasakan dengan diterapkannya syariat Islam secara menyeluruh dalam bingkai negara. sebagaimana yang dicontohkan oleh Nabi saw..


Meneladani Rasulullah saw. dalam hijrah dibutuhkan sinergisitas antara individu masyarakat dan negara:

Pertama, hijrah sebagai individu ditandai dengan peningkatan ketaqwaan dan menjauhi segala larangan Allah. Sebagaimana dalam sabda Rasulullah saw.: "Orang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan segala larangan Allah" (HR Al Bukhari)


Hijrahnya sebagai individu adalah berupaya semaksimal mungkin untuk menjadi pribadi bertakwa, senantiasa mengerjakan seluruh apa yang diperintahkan dan menjauhi seluruh apa yang dilarang.


Salah satu pedoman keimanan seorang muslim yaitu QS Al-Baqarah: 216:  "... boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu padahal itu baik bagimu Dan boleh jadi kamu menyenangi sesuatu padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui."


Kedua, hijrah sebagai masyarakat. Masyarakat merupakan kumpulan individu yang hidup bersama di dalamnya. Untuk menjadi masyarakat yang baik dibutuhkan satu perasaan, satu pemikiran dan satu aturan. Betapa indahnya ketika di tengah-tengah kehidupan bermasyarakat tercipta hubungan yang saling nasihat-menasihati, saling mengingatkan satu sama lain dan saling berlomba-lomba di dalam kebaikan.


Rasulullah telah menggambarkan masyarakat seperti dalam hadis berikut: "Perumpamaan orang yang mengingkari kemungkaran dan orang yang terjerumus dalam kemungkaran adalah bagaikan suatu kaum yang berundi dalam sebuah kapal. Sebagian mereka berada di bagian atas Dan sebagiannya lagi di bagian bawah kapal tersebut. Yang berada di bagian bawah ketika ingin mengambil air, tentu ia harus melewati orang-orang di atasnya. Mereka berkata, 'Andaikata kita membuat lubang saja sehingga tidak mengganggu orang yang berada di atas kita'. Seandainya yang berada di bagian atas membiarkan orang-orang yang berada di bawah dan menuruti kehendaknya, niscaya semuanya akan binasa. Namun jika orang di bagian atas melarang orang di bagian bawah berbuat demikian, niscaya mereka akan selamat dan selamat pula semua penumpang kapal itu." (HR Bukhari no. 2493)


Ketiga, hijrah sebagai negara dengan menerapkan syariah Islam secara total dan sempurna. Pelaksanaan hukum Islam secara kafah tidak mungkin terlaksana tanpa institusi negara. Berbagai kemungkaran tidak akan hilang tanpa adanya kekuatan hukum yang dijalankan oleh negara. Di sinilah, pentingnya negara Islam yang menerapkan aturan secara menyeluruh.


Dengan demikian, sudah saatnya seluruh element kaum muslimin bersinergi dalam hijrah untuk terciptanya kemaslahatan umat. [EA-Dara/MKC]

Bertumbuh dari Rasa Kecewa

Bertumbuh dari Rasa Kecewa

 


Sesakit apa pun kecewa yang kita punya, Allah punya obatnya

Kembali pada-Nya, adukan semuanya

______________________________


Penulis Ummu Zhafira

Kontributor Media Kuntum Cahaya


KUNTUMCAHAYA.com, INSPIRASI - Wahai hati, memiliki rasa kecewa itu hal biasa. Semua orang juga pernah merasakannya. Kadang kecewa datang pada diri sendiri. Sebab, merasa belum bisa berproses seperti yang diharapkan. 


Ada juga kecewa pada manusia. Sebab, ketidaksempurnaan yang mereka punya. Wajar saja, kita ini manusia bukan malaikat bersayap. Segala rasa yang ada, semestinya jadi pupuk. Untuk bertumbuh menjadi lebih baik tentunya.


Meski merasa kecewa adalah hal biasa, tetapi berlarut dalam kecewa itu jadi masalah. Kita harus memahami bahwa, kita manusia yang tentu saja tak sempurna. Dalam perjalanannya, kita juga tetap melakukan salah. Tak apa, asal kita segera menyadari, hingga kemudian berusaha memperbaiki diri. Kadang kita juga membutuhkan kesalahan untuk bisa melakukan perubahan dan perbaikan.


Begitu pun dia dan mereka. Tak ada bedanya dengan kita. Manusia yang tak pernah luput dari salah dan dosa. Lantas, bagaimana bisa kita berharap mereka sempurna? Atau setidaknya, kita tuntut mereka sepenuhnya bisa mengerti kita? Allah telah titipkan potensi terbaik di satu sisi. Tentu saja ada kurang di sisi lainnya. Kita pun begitu, bukan?


Rasa kecewa ini bisa jadi alarm cinta. Bahwa Allah sedang cemburu pada kita. Kadang kita ini lupa, tanpa sadar menyandarkan harapan pada selain-Nya. Entah harapan itu kita sandarkan pada upaya kita, pada sahabat, suami, anak atau bahkan pada pemimpin. Kita menganggap bahwa semua itu akan benar-benar berjalan seiring dengan harapan kita. Akhirnya, kita terjebak pada rasa kecewa. Karena telah bersandar pada tempat yang salah.


Sedikit menyelinap dalam hati. Kalau kita sudah berusaha begini, maka sudah semestinya hasilnya begitu. Kalau kita telah memberikan ini, maka harusnya dia membalasnya dengan itu. Ketika diri sudah berusaha mengabdi sebagaimana tuntunan Ilahi, semestinya mereka juga bisa lebih peduli. Allahu Rabbi, kita ini tanpa sadar telah tergelincir pada maksiat besar. Ampunilah kelalaian kami, Ya Allah!


Padahal sungguh, hanya Allah yang pantas menjadi sandaran kita. Allah berfirman dalam Al-Qur'an, surah Al Insyirah ayat 8, "Dan hanya kepada Tuhanmulah (Allah Swt.) hendaknya kamu berharap.”


Segala puji bagi-Nya yang telah menitipkan rasa kecewa. Dari rasa ini kita akhirnya memahami, bahwa Allah begitu mencintai. Sampai-sampai Dia tak rela kita menduakan-Nya dengan apa pun. Kita diminta untuk kembali lagi pada-Nya. Membersihkan lagi niat untuk benar-benar melakukan segalanya karena taat. Menyandarkan semuanya hanya untuk meraih rida-Nya semata. Kalaupun kita harapkan balasan, maka balasan itu biar Allah saja yang berikan.


Sedang tentang kita dan mereka, maka luaskanlah penerimaan. Terima bahwa, diri kita tak sempurna. Maka kesalahan bukanlah akhir dari segalanya. Esok masih ada kesempatan untuk melakukan perbaikan. Kuncinya mau terbuka untuk bertumbuh. Pun dengan mereka, makhluk tak sempurna. Jika kita terima kelebihannya, maka kita pun berupaya memaafkan kekurangannya.


Semoga keridaan yang kita sandarkan pada-Nya dalam menerima segala kondisi yang mungkin tak kita suka, justru jadi sebab Allah mengubah keadaan. Dia melembutkan hati yang keras, Dia memudahkan suatu yang sulit. Bahkan Dia mendatangkan keajaiban yang mungkin tak sedikit pun pernah terpikirkan dalam benak kita yang terbatas.


Maka tenanglah hati, kita punya Allah yang Maha Tinggi lagi Maha Peduli. Sesakit apa pun kecewa yang kita punya, Allah punya obatnya. Kembali pada-Nya, adukan semuanya. Minta Dia memenuhi cinta di rongga dada kita. Dengan begitu, kita bisa senantiasa bertumbuh menjadi pribadi yang penuh cinta. Meski luka dan kecewa kerap mampir dalam kehidupan kita. Karena sejatinya, kita sudah penuh dengan cinta dari Allah dan Rasul-Nya. Alhamdulillah.


"Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka jawablah bahwasanya Aku dekat. Aku mengabulkan doa orang-orang yang memohon kepada-Ku. Maka bermohonlah kepada-Ku dan berimanlah kepada-Ku agar mereka selalu berada dalam kebenaran." (QS Al-Baqarah: 186)

Wallahualam bissawab. [SH-SJ/MKC]

Life Begins at Forty

Life Begins at Forty

 


Secara khusus Al-Qur'an telah menyinggung usia 40 tahun sebagai usia untuk lebih banyak mensyukuri nikmat

Namun jika masih terbiasa dengan perbuatan maksiat dan masih lalai dengan amalan yang berorientasi pada akhirat, jalan hidup menuju ketaatan pun jadi makin sulit

______________________________


Penulis Arda Sya'roni 

Kontributor Media Kuntum Cahaya


KUNTUMCAHAYA.com, INSPIRASI - ‘Life begins at forty’ merupakan istilah yang sudah familiar terdengar di telinga kita. Sebuah pepatah yang menyatakan bahwa hidup yang sesungguhnya dimulai sejak usia 40 tahun. Istilah ini termasuk salah satu American Idiom yang biasa digunakan untuk menyemangati mereka yang telah memasuki usia 40 tahun. 


Sebenarnya, apa sih istimewanya umur 40 tahun? Pertanyaan ini sesungguhnya pernah terlontar dan membayangi benakku juga. Hingga mendorongku untuk mencari tahu, dan akhirnya sampai pada kesimpulan bahwa usia 40 tahun memang istimewa. Apa istimewanya? Okay, let’s check it out bestie.


Pada usia 40 tahun manusia mencapai puncak kehidupannya baik dari segi fisik, intelektual, emosi maupun spiritualnya. Dari sisi perubahan fisik, mulai tampak tumbuhnya uban, pandangan mulai rabun, penyakit dalam tubuh mulai bermunculan misalnya rematik, asam urat, kolesterol, darah tinggi, bahkan gigi pun mulai tanggal satu per satu. 


Beberapa orang di usia ini juga mulai agak pelupa, pikiran mulai lola alias loading lambat dan sedikit sensitif. Namun, pada usia ini kebanyakan dari mereka juga sudah mulai memiliki kestabilan dalam ekonomi dan emosi, sehingga lebih bijaksana dalam bertindak dan mengambil keputusan.


Usia 40 Tahun dalam Pandangan Islam

Dalam agama Islam, usia 40 tahun juga menjadi sorotan. Secara khusus Al-Qur'an telah menyinggung mengenai usia 40 tahun sebagai usia untuk memperbanyak mensyukuri nikmat.


Di dalam surah Al-Ahqaf ayat 15, Allah Swt. berfirman yang artinya: “Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: "Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri." (QS. Al-Ahqaf: 15)


Oleh karena itu, maka usia 40 tahun juga bisa terkategori sebagai usia yang patut untuk menjadi ‘warning’ alias masa yang harus menjadi perhatian utama untuk mempersiapkan bekal di akhirat. Jadi hidup jangan hanya memikirkan tentang keduniawian saja. Jika sebelum usia 40 tahun sudah terbiasa dengan amalan baik, maka jalan hidup akan lebih mudah dan semakin mendekat menuju keridaan Allah Swt.. 


Namun, jika usia telah memasuki 40 tahun, tetapi masih terbiasa dengan perbuatan maksiat dan masih lalai dengan amalan yang berorientasi pada akhirat, jalan hidup menuju ketaatan pun jadi makin sulit. Terutama yang berhubungan dengan usaha agar lebih dekat dengan Allah Swt.. Karena mengubah kebiasaan di usia ini bukanlah hal yang mudah. 


Akan tetapi, tidak ada kata terlambat untuk bertaubat. Selama hayat masih dikandung badan, walaupun harus berjalan tertatih. Semestinya kesadaran akan kewajiban untuk bertaubat dan memohon ampunan atas semua dosa-dosa yang pernah kita lakukan menjadi sebuah keniscayaan. 


Hal ini seperti wasiat yang disampaikan oleh Imam Ghazali, ”…usia 40 tahun adalah sebuah pertanda, sebuah isyarat. Seperti sebuah ikhtisar masa depan, jika di usia ini kebaikan lebih mendominasi maka itu sebuah pertanda baik untuk kehidupannya nanti.”


Sedangkan menurut sahabat Abdullah bin Abbas, "Siapa pun yang telah memasuki usia 40 tahun dan amal baiknya tidak dapat mengalahkan amal buruknya, maka hendaklah ia bersiap-siap menuju ke neraka."


Demikian pula dengan Imam Malik, beliau pernah mengatakan bahwa dirinya, pernah mendapati para ulama di berbagai negeri. Para ulama itu sibuk dengan aktivitas dunia dan bergaul bersama manusia. Namun, ketika mereka sampai usia 40 tahun, mereka menjauh dari manusia dan mulai lebih tekun mendekat kepada Allah Swt..


Muhasabah Diri

Masya Allah, semoga keistimewaan usia 40 tahun menjadi alarm buat kita untuk sadar diri untuk terus berlomba meraih kebaikan. Sesungguhnya beruntunglah bagi mereka yang sebelum menginjak usia 40 tahun, mereka sudah mulai berbenah diri menyiapkan bekal akhirat. Sementara bagi kita yang telah menginjak 40 tahun, tapi belum memiliki bekal dalam mempersiapkan menghadap Allah Swt., maka sudah saatnya bagi kita untuk segera muhasabah.


Apakah sudah cukup bekal kita untuk persiapan kita di akhirat nanti? Sudahkah kita berbenah diri dan menyiapkan diri? Hingga saat maut datang menjemput, bekal yang kita miliki akan dapat meringankan hisab kita di hadapan Allah Swt..


Sobat, waktu akan terus bergulir menuju titik akhir. Ajal pun tak akan menunggu kita sempurna dalam bertaubat. Ajal juga tak pernah memandang usia apalagi bentuk fisik kita. Tak peduli tua atau muda, sehat atau sakit, kaya atau miskin. Bila ajal telah tiba, bisa apa kita? Setiap detik yang kita lalui pun kelak akan dipertanggungjawabkan. Kita akan ditanya, untuk apa waktu yang telah kita gunakan? 


Maka, selagi jantung masih berdetak, marilah kita saling berlomba dan mulai mengatur langkah agar segera taat kepada syariat. Saatnya bagi kita untuk memperbaiki sisa umur yang telah Allah berikan kepada kita. Agar kita mampu mengejar setiap ketertinggalan dan bisa terus belajar menghapus noktah hitam di hati kita.


Yakinkan diri kita, bahwa masih ada kesempatan bagi kita untuk terus taubat, meski kita sudah melewati 40 tahun. Agar kita termasuk ke dalam orang-orang yang beruntung di sisi Allah Swt..


Selama hati kita terus yakin  dan terus bergerak untuk mendekat kepada Allah Swt., insyaallah akan ada jalan yang lapang dan terbentang untuk kita semua meraih keistimewaan di hadapan Allah Swt.. Wallahualam bissawab. [MP-SJ/MKC]