Alt Title
Perempuan Bekerja Ibu dan Anak Sejahtera, Benarkah?

Perempuan Bekerja Ibu dan Anak Sejahtera, Benarkah?

 


Sejatinya, mendorong perempuan untuk bekerja dan berkarya ala kapitalis tidak lain hanya upaya untuk menjauhkan perempuan dari peran sesungguhnya

Ini tentu akan membawa dampak buruk bagi generasi

__________________


Penulis Ni'matul Afiah Ummu Fatiya

Kontributor Media Kuntum Cahaya dan Pemerhati kebijakan publik


KUNTUMCAHAYA.com, OPINI - RUU KIA telah disahkan menjadi UU KIA (kesejahteraan ibu dan anak) oleh DPR RI pada 4 Juni 2024 lalu. Turut hadir dalam rapat paripurna itu Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI, Rieke Diah Pitaloka. Rieke menjamin bahwa UU KIA yang sudah disahkan tidak akan mendiskriminasi perempuan. Bahkan, Kewajiban cuti tiga bulan bagi perempuan melahirkan dinilai sudah sangat bagus.(https://apps.detik.com)


Hal senada diungkapkan oleh Dirjen PHI dan Jamsos Kemnaker Indah Anggoro Putri. Menurutnya, UU KIA diyakini akan makin meningkatkan perlindungan dan kesejahteraan bagi pekerja atau buruh. Dari keterangan resminya pada Jum'at, 7/6/2024 lalu Beliau mengatakan bahwa pengesahan RUU kIA menjadi UU KIA merupakan wujud konkret dari komitmen DPR dan Pemerintah untuk mensejahterakan ibu dan anak menuju Indonesia emas. 


Penulis sendiri tidak yakin dengan jaminan kesejahteraan yang ditawarkan. Masalahnya sudah sering pemerintah mengeluarkan aturan terutama yang berkaitan dengan perempuan dan anak mulai dari perlindungan, kesehatan, pendidikan dan lain-lain. Namun nyatanya, sampai saat ini perempuan dan anak-anak Indonesia masih banyak yang hidupnya menderita. Seperti gizi buruk, stunting, putus sekolah dan pelecehan seksual yang sebagian besar menimpa perempuan dan anak-anak. 


Lalu kesejahteraan seperti apa yang dimaksud? 

Tak bisa dipungkiri, dalam sistem hidup yang diterapkan saat ini, perempuan bekerja dianggap sebagai sebuah kemajuan, emansipasi, bahkan prestasi yang membanggakan ketika seorang perempuan bisa menduduki posisi yang lebih tinggi dari laki-laki. Meski, ada juga perempuan yang bekerja karena terpaksa, misalnya karena tidak ada yang menanggung nafkahnya atau untuk menerapkan ilmu yang sudah didapat seperti dokter atau guru. 


Namun sayangnya, dalam sistem demokrasi kapitalis saat ini, perempuan juga dianggap aset yang bisa menghasilkan uang. Dengan dalih pemberdayaan ekonomi dan kemandirian, perempuan didorong untuk bekerja dan menghasilkan uang.


Justru ketika seorang perempuan bekerja di luar rumah, padahal ketika di rumah dia harus melakukan pekerjaan rumah, mengasuh anak dan setumpuk pekerjaan ibu rumah tangga, ini adalah bentuk penindasan bagi perempuan. Karena, perempuan dipaksa untuk memainkan peran ganda, sebagai ibu rumah tangga dan sebagai pencari nafkah. 


Lalu, bolehkah perempuan bekerja? 

Islam tidak melarang seorang perempuan untuk bekerja, selama tidak melanggar hukum syarak, seperti tidak melalaikan tugas utama sebagai ummun warobbatul bait, tidak ber-khalwat dan tentunya harus berpakaian sesuai dengan yang ditetapkan oleh agama. 


Selain itu, Islam punya aturan sendiri yang berkaitan dengan laki-laki dan perempuan. Tugas mencari nafkah dibebankan di pundak laki-laki. Karena itu, Negara sebagai pemelihara dan pengatur urusan rakyat harus menjamin seluruh warga laki-laki (kepala keluarga) mendapatkan pekerjaan. Negara harus menyediakan lapangan pekerjaan untuk warganya, sehingga tidak ada laki-laki yang nganggur atau bertukar peran dengan istrinya seperti yang banyak terjadi saat ini. 


Allah telah menciptakan karakter yang lemah lembut pada perempuan supaya bisa memainkan peran utama sebagai ibu dan pengatur rumah tangga dengan baik. Sebagaimana yang disebutkan dalam hadits Rasulullah saw. bahwa setiap anak dilahirkan dalam keadaan suci, maka orang tuanya yang menjadikan ia Yahudi, Nashrani, atau Majusi. 


Peran utama perempuan sebagai ibu dan pengatur urusan rumah tangga tentu tidak mudah untuk dijalankan. Akan banyak rintangan dan kesulitan yang dihadapi. Oleh karena itu, Allah akan menjamin dengan Surga. Dalam sebuah hadits, Rasulullah saw. bersabda, "Barang siapa yang mendapat ujian atau menderita karena mengurus anak-anak, kemudian ia berbuat baik kepada mereka maka anak-anak nya akan menjadi penghalang baginya dari siksa neraka. " (HR Bukhori, Muslim dan Tirmidzi). 


Seorang perempuan harus senantiasa menjaga dan mendampingi anak-anak mereka dari sejak dilahirkan. Sungguh, tidak cukup hanya 3 bulan cuti atau paling lama 6 bulan. Itupun masih bersyarat. Anak-anak berhak untuk mendapatkan ASI eksklusif, bukan 6 bulan saja tapi disempurnakan sampai usia 2 tahun. Hak pengasuhan ini tidak bisa dilakukan dengan sempurna ketika perempuan (ibunya) bekerja. 


Sejatinya, mendorong perempuan untuk bekerja dan berkarya ala kapitalis tidak lain hanya upaya untuk menjauhkan perempuan dari peran sesungguhnya. Ini tentu akan membawa dampak buruk bagi generasi. Perempuan hanya bisa merasakan kesejahteraan ketika dijamin nafkahnya dengan baik dan layak. Sehingga, ia bisa fokus dalam mengasuh dan mendidik anak. 


Semua itu tidak bisa terwujud dalam sistem yang ada saat ini. Maka, solusinya adalah kembali kepada aturan Sang Pencipta Manusia, yakni aturan Islam yang akan mampu menyejahterakan Ibu dan anak sesuai fitrah mereka secara nyata bukan hanya janji belaka. Wallahuallam bissawab. [Dara]

Fordok 44: Sengkarut Ekonomi Nasional dan Masa Depan Bangsa

Fordok 44: Sengkarut Ekonomi Nasional dan Masa Depan Bangsa

 


Focus Group Discussion kali ini memberikan atensi penting bagi ekonomi bangsa ke depan

Terbukti gamblang sistem ekonomi kapitalisme memorakporandakan kehidupan rakyat. Miskin bertambah miskin dan terasa berat


_____________________


KUNTUMCAHAYA.com, REPORTASE - FDMPB—Kondisi ekonomi nasional menjadi perhatian dari guru besar dan intelektual di Forum Doktor Muslim Peduli Bangsa. Forum Doktor ke-44 hadir bertema “Sengkarut Ekonomi Nasional dan Masa Depan Bangsa”, Sabtu (15/6/2024). Hadir Assoc. Prof. Dr Fahmi Lukman, M.Hum (Direktur INQIYAD), Prof. Dr. Firman Menne (Guru Besar Ilmu Ekonomi), Dr Erwin Permana, dan Dr Rizal Taufiqurrahman (Ekonom INDEF).


Dr Fahmi Lukman menilai aspek krisis ekonomi terkait dengan system kapitalistik. Pertumbuhan ekonomi kapitalisme bertumpu pada sistem mata uang kertas, utang piutang berbasis bunga (riba), dan sistem investasi berbasi spekulasi.


“Satu sisi pilar ekonomi kapitalisme mempercepat pertumbuhan ekonomi, pada sisi lain sebenarnya bersifat bubble economic.” tambah Dr Fahmi.


“Jadi pertumbuhan ekonomi dalam kapitalisme bersifat fatamorgana,” tambahnya.


Dr Fahmi menawarkan perbaikan ekonomi dengan Islamic value. Sebuah tatanan yang negara menjamin pengelolaan sumber daya alam dan potensi pendapatan dengan syariah Islam. Tanggung jawab negara dalam pengurusan rakyat menjadi sangat penting.


Isu IKN mendapat sorotan tajam dari Dr Rizal Taufiqurrahman. IKN dari awalnya sudah menjadi polemik. Kebijakan ini tidak didasari kekuatan urgensitas dan budgeting.


“Urgensinya tidak fundamental dan anggarannya sangat tidak siap. Berkaca dari situ, kebijakan IKN gegabah dan terlalu berani. Bahkan, mengambil resiko terlalu tinggi terkait berjalannya ekonomi, khususnya fiskal,” paparnya.


Tambahnya, “Masalah besar IKN tidak hanya dari sisi ranah kepastian kepemilikan lahan, tapi juga daya tarik investmenya atau investmen attrancion-nya itu sangat minim.”


Dr Erwin Permana mengritisi Tapera dan UKT yang menyinggung kantong semua orang. Banyak menuai penolakan publik. Tapera yang sebelumnya hanya untuk orang tertentu, kini dipukul rata baik yang punya rumah atau tidak punya rumah. 


“Nah, ini kan sangat membeakan bagi masyarakat. Misalnya besaran tarikan iuran sebesar 3% itu sangat signifikan bagi penghasilan rumah tangga menegah ke bawah,” tandasnya.


Tambahnya, “Kebijakan penarikan UKT tidak selaras dengan upaya menyerdaskan anak bangsa. Hal itu jika dikatikan dengan pembukaan UUD 45 maka beban pada negara tidak boleh dialihkan kepada masyarakat.


“Mestinya pendidikan diupayakan gratis atau murah. Sehingga pendidikan bisa dinikmati oleh semua orang. Masyarakat Indonesia bisa menempuh pendidikan dasar sampai tinggi,” imbuhnya.


Berkaitan dengan defisit anggaran, Prof Dr Firman Menne menyayangkan jika untuk menutupinya dengan utang. Beliau menjelaskan sumber pemasukan negara lebih banyak dari pajak.


“Makanya masyarakat menjerit dengan kenaikan pajak di sana sini,” tegasnya.


Prof Firman mendorong negara memanfaatkan sumber daya alam agar berkontribusi signifikan. Potensi SDA yang luar biasa baik di darat maupun di lautan, serta pertambangan. 


“Kita tidak bisa berbuat apa-apa untuk memanfaatkan migas, batu bara, dan emas. Ini karena kita mengadopsi sistem ekonomi kapitalisme yang memberikan keleluasaan kepada pemilik modal,” bebernya. 


Tambahnya, “Sehingga keuntungan-keuntungan yang diperoleh dari sektor tambang tadi hanya mengalir kepada individu. Celakanya lagi dari pengelolaan SDA ini hampir 85% dikeola asing maupun aseng.”


Focus Group Discussion kali ini memberikan atensi penting bagi ekonomi bangsa ke depan. Terbukti gamblang sistem ekonomi kapitalisme memorakporandakan kehidupan rakyat. Miskin bertambah miskin dan terasa berat. Maka, solusi kembali kepada ekonomi Islam yang berasal dari Allah bukan hanya pilihan, tapi kewajiban menuju keberkahan.


Forum ini mendapatkan etensi luar biasa dari pemirsa online dan offline. Kehadiran Forum Doktor Muslim Peduli Bangsa diharapkan mampu memberikan kontribusi positif bagi Indonesia lebih baik. Wallahuallam bissawab. [Hnf/MKC - Dara]

Aksi Damai Bela Palestina di Yogyakarta: Merespon #AllEyesOnRafah

Aksi Damai Bela Palestina di Yogyakarta: Merespon #AllEyesOnRafah

 


Sepanjang aksi, para orator menyampaikan keprihatinannya dan menyatakan dukungan untuk warga Palestina yang tengah dijajah oleh zionis Israel

Para peserta aksi juga menyerukan agar negeri-negeri muslim segera mengerahkan pasukan militernya untuk bersatu mengusir penjajah di Palestina

_________________________


KUNTUMCAHAYA.com, REPORTASE - Pada hari Senin, 3 Juni 2024 diselenggarakan aksi damai bela Palestina di titik 0 KM Yogyakarta. Aksi tersebut diprakarsai oleh Forum Masyarakat Muslim Yogyakarta. Aksi damai ini diikuti oleh ratusan peserta dari berbagai kalangan seperti mahasiswa, tokoh masyarakat, kelompok pekerja, dan dijaga oleh tim Kepolisian dari Satlantas Polresta Yogyakarta. Aksi tersebut diawali dengan long march yang diikuti oleh peserta laki-laki dari Masjid Gedhe Kauman menuju titik 0 KM pada pukul 15.30 waktu setempat. Saat long march, para peserta berjalan sambil mengibarkan bendera umat Islam yang berwarna putih dan hitam yaitu bendera Liwa dan Rayah. Sementara itu, jamaah nisa’ (peserta perempuan) sudah bersiap di depan Gedung Agung titik 0 KM.


Aksi ini diselenggarakan untuk merespon kondisi yang makin memanas di jalur Gaza, tepatnya pada tanggal 26 Mei 2024, terjadi tragedi memilukan di mana zionis melakukan penyerangan dan membakar camp pengungsian di Rafah. Tagar All Eyes on Rafah pun trending di platform X selama beberapa hari pasca serangan tersebut. 


Kekejian zionis ini membangkitkan kemarahan masyarakat internasional khususnya umat Islam. Sepanjang aksi, para orator menyampaikan keprihatinannya dan menyatakan dukungan untuk warga Palestina yang tengah dijajah oleh zionis Israel. Para peserta aksi juga menyerukan agar negeri-negeri muslim segera mengerahkan pasukan militernya untuk bersatu mengusir penjajah di Palestina. Tak lupa, para peserta juga mendoakan saudara-saudara di Palestina yang diaminkan bersama dan disaksikan oleh para pengguna jalan yang melewati area tersebut. Aksi berjalan dengan lancar dan damai hingga selesai pada pukul 17.00 WIB.


Sebagaimana yang kita ketahui, Taufan Al-Aqsa telah berlangsung sejak tanggal 7 Oktober 2023 dan menewaskan penduduk sipil Gaza dengan total korban yang meninggal mencapai 36.550 jiwa selama 8 bulan penyerangan, ditambah ada 10.000 korban yang hilang dan diasumsikan meninggal di bawah reruntuhan bangunan (TheIMEU, 8/6/2024). Bahkan sejatinya penjajahan oleh Israel di tanah Palestina sudah terjadi sejak tahun 1948 pada peristiwa Nakba atau sekitar 76 tahun lalu. Wilayah Palestina yang tadinya luas menjadi terus berkurang hingga menyisakan jalur Gaza dan Tepi Barat. Berbagai upaya telah ditempuh oleh dunia internasional untuk menghentikan serangan Israel seperti kecaman keras dari negara-negara yang mendukung Palestina, konferensi di PBB, ataupun sidang tuntutan di ICJ (International Court of Justice). Akan tetapi, semua upaya itu tak membuahkan hasil. Israel tetap pada pendiriannya untuk terus menyerang Gaza dengan alibi menangkap Hamas ataupun membebaskan tawanan perang. Namun, yang sebenarnya terjadi justru mereka melakukan pengeboman pada fasilitas umum, membunuh warga sipil, dan bahkan menyerang area pengungsian yang seharusnya aman dari serangan. Tak cukup di situ, Israel juga memblokade wilayah perbatasan dengan Mesir yang menjadi pintu masuk bantuan pangan untuk warga Gaza. Alhasil, ribuan truk berisi bantuan kemanusiaan tak dapat melintas masuk dan warga Gaza harus mengalami kesulitan pangan hingga kelaparan. Beberapa anak dilaporkan meninggal akibat gizi buruk pasca serangan Israel ini. Penderitaan juga dirasakan oleh para tawanan perang yang ditahan oleh Israel. Mereka menerima siksaan, pelecehan, dijadikan objek percobaan medis, dan dibiarkan kelaparan. 


Sungguh tindakan yang tak manusiawi dan tak masuk akal. Penjajah Yahudi merasa jumawa untuk terus melancarkan serangannya karena mereka didukung penuh oleh Amerika Serikat yang berperan dalam pendanaan maupun penggunaan hak veto di PBB.


Masyarakat dunia menaruh simpati yang begitu dalam terhadap genosida yang terjadi di Gaza. Berbagai aksi unjuk rasa untuk membela Palestina telah diselenggarakan di berbagai negara di tahun 2023 lalu seperti di Amerika Serikat, Kanada, Inggris, Irlandia, Norwegia, Finlandia, Swiss, Swedia, Belgia, Jerman, Belanda, Denmark, Austria, Bulgaria, Italia, Perancis, Spanyol, Portugal, Turki, Maroko, Libya, Mesir, Irak, Yunani, Australia, Selandia Baru, Indonesia, Malaysia, Korea Selatan, dan Jepang. Di tahun 2024 ini, para mahasiswa di berbagai wilayah juga menggelar aksi solidaritas bela Palestina seperti yang dilakukan oleh mahasiswa Harvard University, Columbia University, Universitas Indonesia, Universitas Gadjah Mada, dan lain-lain. Masyarakat sipil pun mulai berbondong-bondong melakukan boikot produk yang terafiliasi zionis, menggalang donasi bantuan kemanusiaan, ramai menyuarakan pemberitaan tentang Palestina di media sosial, hingga masjid-masjid menggelar doa bersama untuk Palestina. Upaya ini tentu sangat baik karena menunjukkan keberpihakan dan kepeduliaan kita terhadap Palestina, Namun, langkah-langkah itu belum cukup untuk benar-benar mengusir penjajah sebab Israel adalah entitas yang kuat dengan persenjataan militer yang memadai dan didukung oleh negara adikuasa. Maka dari itu, diperlukan langkah-langkah strategis untuk menghentikan penjajahan Israel. Tentunya bukan dengan solusi dua negara ataupun perjanjian gencatan senjata yang sifatnya temporer. Warga Palestina harus mendapatkan kembali tanah mereka secara utuh dan Israel harus angkat kaki dari negara tersebut. 


Langkah-langkah yang harus diambil oleh para penguasa Muslim yaitu pertama, batalkan seluruh perjanjian damai ataupun hubungan bilateral dengan zionis serta usir semua duta/konsulat mereka dari negeri kaum muslimin sebab haram hukumnya untuk menjalin hubungan dengan negara kafir yang secara riil memerangi umat Islam (muhariban fi’lan).


Kedua, hentikan semua bentuk kerjasama intelijen dengan negara zionis dan tutup semua akses darat, laut, maupun udara agar mereka terisolasi dari dunia internasional. 


Ketiga, hentikan pasokan minyak bumi untuk zionis termasuk menghentikan jalur pengirimannya yang melintasi negeri muslim.


Keempat, memboikot semua bentuk kerja sama ekonomi dengan zionis termasuk ekspor impor agar efektif menghancurkan perekonomian mereka. Kelima, memblokade jalur laut Mediterania Timur dan Teluk Aqaba untuk mencegah suplai persenjataan ke zionis.


Keenam, membuka semua perbatasan negeri-negeri muslim menuju Palestina agar pasukan militer kaum muslimin dapat mengepung zionis dari segala penjuru. 


Ketujuh, bekerja sama dengan Pakistan untuk memobilisasi dan menyebarkan senjata nuklir taktisnya agar menghentikan genosida di Gaza.


Kedelapan, kaum muslimin harus memisahkan perdagangan dari pasar internasional yang menggunakan dollar sebagai alat pembayaran agar melemahkan perekonomian Amerika Serikat.


Kesembilan, segera mengadakan pertemuan para pemimpin dunia Islam untuk merumuskan strategi geopolitik dan memaksa Amerika Serikat untuk menghentikan dukungannya terhadap zionis. Dan yang terakhir, negeri-negeri muslim harus melepaskan diri dari berbagai aturan internasional yang sering dipakai oleh Barat sesuka hati sesuai kepentingan mereka. Seluruh upaya ini hanya dapat terwujud jika kaum muslimin mau bersatu dan menghilangkan sekat nasionalisme yang membelenggu urusan mereka. Wallahualam bissawab. [MKC/Kurnia Solikhah]

Tapera, Tabungan atau Pemerasan?

Tapera, Tabungan atau Pemerasan?

 


Hidup yang sudah dalam keadaan sulit akan menjadi bertambah sulit

Derita rakyat seakan tak pernah berakhir, rakyat senantiasa dijadikan sumber pemasukan dana bagi pemerintah

______________________________


Penulis Siti Solechah

Kontributor Media Kuntum Cahaya dan Aktivis Muslimah


KUNTUMCAHAYA.com, OPINI - Tapera atau Tabungan Perumahan Rakyat baru-baru ini menjadi perbincangan masyarakat. Suatu kebijakan baru yang secara perlahan akan digulirkan kepada masyarakat baik Pegawai Negeri Sipil (PNS), swasta, ataupun mandiri. Kebijakan ini tentunya akan menambah beban bagi rakyat ataupun para pengusaha. Banyak penolakan yang terjadi di masyarakat.


Dilansir dari TEMPO.com, Sabtu (01/06/2024) bahwa Komisioner Pengelola Tapera Heru Pudyo Nugroho mengatakan, penetapan regulasi ini bertujuan untuk mengatasi backlog atau belum terpenuhinya unit perumahan bagi masyarakat. Heru juga menyatakan bahwa tujuan Tapera adalah untuk mengatasi masalah rumah layak huni.


Ada sekitar 29,6 juta rumah tidak layak huni saat ini. Namun menurutnya bukan hanya untuk mengatasi masalah backlog kepemilikan saja, ujarnya di Kantor Tapera. Ditemui di lokasi yang sama, Deputi Komisioner Bidang Pemanfaatan Dana BP Tapera Sid Herdi Kusuma mengatakan tujuan utama Tapera memang untuk mengatasi kebutuhan perumahan, kepemilikan, dan renovasi rumah.


Diharapkan nantinya pemenuhan kebutuhan rumah dapat dilakukan tanpa membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara atau APBN. “Beri kesempatan mekanisme tabungan ini berjalan agar para MBR (Masyarakat Berpenghasilan Rendah) bisa memiliki rumah ke depan," ujarnya.


Pemerintah membuat ketentuan baru tentang iuran Tabungan Perumahan Rakyat atau Tapera. Hal itu tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2024 tentang penyelenggaraan Tapera. Aturan tersebut mewajibkan tambahan beban bagi pekerja sebesar 2,5% dan pemberi kerja 0,5% dari gaji.


Alih-Alih Sejahtera, Rakyat Malah Merana

Rumah merupakan kebutuhan primer bagi setiap individu, sehingga kita berusaha untuk memilikinya. Karena rumah merupakan tempat paling nyaman setelah beraktivitas di luar. Seperti belajar, bekerja, bermuamalah, hingga aktivitas sosial lainnya.


Dengan adanya kebijakan pemerintah mengenai Tapera, maka rumah impian sulit terwujud. Bahkan kebijakan yang digulirkan pemerintah bahwa setiap PNS, pegawai swasta nantinya akan dikenakan pemotongan gaji yakni sebesar 2,5% bukan hanya menjadi beban, namun justru akan mempersulit terpenuhinya kebutuhan rumah.


Hidup yang sudah dalam keadaan sulit akan menjadi bertambah sulit. Derita rakyat seakan tak pernah berakhir, rakyat senantiasa dijadikan sumber pemasukan dana bagi pemerintah. Alih-alih  memberikan subsidi menyediakan hunian yang nyaman bagi rakyatnya, justru pemerintah memaksa rakyatnya menjadi konsumen dari setiap kebijakan yang digulirkan.


Pasalnya, rakyat dipandang hanya menjadi beban bagi pemerintah. Rakyat dibiarkan memenuhi kebutuhannya sendiri, baik primer ataupun sekunder. Padahal Rasulullah Shalallahu alaihi wasalam telah mengancam dalam sabdanya,


Kalian semuanya pemimpin (pemelihara) dan bertanggung jawab terhadap rakyatnya. Seorang raja adalah pemimpin bagi rakyatnya dan akan ditanya akan kepemimpinannya. Seorang suami memimpin keluarganya dan akan ditanya kepemimpinannya. Seorang ibu memimpin rumah suaminya dan anak-anaknya dan akan ditanya tentang kepemimpinannya. Seorang hamba (buruh) pemimpin harta milik majikannya akan ditanya tentang pemeliharaannya. Camkan bahwa kalian semua adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.” (HR Bukhari).


Mekanisme Pemenuhan Rumah dalam Islam

Dalam perspektif Islam, rumah merupakan kebutuhan pokok bagi setiap individu selain sandang dan pangan. Rasulullah saw. sebagai kepala negara hingga para khalifahnya telah menetapkan dan menjalankan kebijakan ini.


Ada beberapa cara dalam Islam untuk memenuhi kebutuhan rumah, di antaranya: 

1. Memerintahkan keluarga

Negara mewajibkan semua laki-laki (yang mampu) bekerja untuk memenuhi kebutuhannya secara mandiri. Negara akan memfasilitasi mereka dengan membuka lapangan pekerjaan seluas-luasnya.


2. Kewajiban kepala keluarga, ahli waris, dan kerabat 

Bagi mereka yang tidak mampu membeli, membangun, atau menyewa rumah sendiri, baik karena pendapatannya tidak mencukupi atau memang tidak mampu bekerja, maka pada gilirannya menjadi kewajiban kepala keluarga, ahli waris, dan kerabatnya sebagaimana hukum Islam dalam menyantuni makanan dan pakaian.


Allah Swt. berfirman dalam QS Ath-Thalaq ayat 6, yang artinya ”Tempatkanlah mereka (para istri) di mana kamu bertempat tinggal.”


Rasulullah saw. pun bersabda, “Mulailah memberi nafkah dari orang-orang yang menjadi tanggunganmu, ibumu, ayahmu, saudara laki-lakimu, dan saudara perempuanmu, kemudian kerabatmu yang jauh.” (HR An Nasa’i).


3. Kewajiban negara

Jikalau tahap 1 dan 2 tidak juga menyelesaikannya, maka negara berkewajiban menyediakan rumah. Dengan menggunakan harta negara atau harta milik umum dan berdasarkan pendapat atau hasil ijtihad untuk kemaslahatan umat.


Maka khalifah bisa menjual (secara kredit atau tunai dengan harga terjangkau), menyewakan, meminjamkan, atau bahkan menghibahkan rumah kepada orang yang membutuhkannya. Sehingga tidak ada lagi individu rakyat yang tidak memiliki atau menempati rumah, dan menjadi tunawisma.


Di negeri yang berasaskan liberal kapitalisme, hunian nyaman sulit terwujud. Kalau tidak mempunyai dana yang cukup, maka rumah menjadi hanya sebatas impian. Rumah pun dikapitalisasi hingga muncullah Tapera yang sejatinya tanggung jawab pemerintah bagi individu yang tidak mampu dalam pemenuhan kebutuhannya.


Untuk itu, hanya Islamlah yang mampu memberikan rumah bahkan secara gratis. Karena Islam memandang rakyat adalah tanggung jawab pemimpin yaitu khalifah. Tak ada harapan selain pada Islam kafah. Campakkan liberal kapitalisme, gantikan dengan Islam kafah. Sehingga rahmatan lil alamiin terasa dan terwujud bagi umat Islam di seluruh dunia. Wallahualam bissawab. [SJ]

Kisah Si Buaya

Kisah Si Buaya

 


Allah Swt. memang pencipta yang maha sempurna. Tubuh kami dirancang sedemikian rupa sehingga kami menjadi predator yang handal

Bentuk tubuhku memanjang dengan moncong dan ekor runcing, memudahkan meluncur ke air

_________________________


Penulis Fathimah Az Zahra Jais

Kontributor Media Kuntum Cahaya 


KUNTUMCAHAYA.com, RESENSI - Ssst... Assalamu’alaikum teman-teman. Namaku Timsaah, aku adalah seekor buaya (crocodylidae). Apa kamu bisa melihatku? Ssst, tapi jangan ramai kalau kamu sudah menemukanku. Aku sedang mengintai mangsaku.... tidak apa ya, aku bercerita sambil bisik bisik....


Aku adalah reptil besar yang hidup di perairan tropis Afrika, Asia, Amerika, dan Australia. 


Spesies buaya tinggal di air tawar seperti sungai, rawa, dan danau. Lalu, ada pula spesies buaya yang tinggal di perairan asin seperti muara sungai, hutan bakau, dan pantai. Spesies buaya di perairan asin banyak terdapat di Australia, Asia Tenggara, dan Kepulauan Pasifik.


Ukuran tubuh kami saat dewasa bervariasi, bergantung spesiesnya. Ukuran terbesar adalah spesies buaya air asin, panjangnya bisa mencapai 5-6 meter. Beratnya bisa mencapai 1200 kg! Besar kaaaan?


Kami berkembang biak dengan bertelur. Induk kami menggali lubang di tepi sungai atau di pantai dan menaruh telur telurnya di dalam lubang. Setelah selesai, ia menimbun lubang itu agar tidak di ketahui hewan pencuri telur. Lalu ia meninggalkan lubang tersebut sampai waktunya menetas.


Telur kami menetas sekitar 80 hari, bergantung suhu udara. Tidak seperti manusia, jenis kelamin kami bergantung dari suhu saat pengeraman telur di dalam lubang. Aneh yaa, hehe.


Saat mulai menetas, induk kami datang membantu kami keluar dari lubang dengan cara memecahkan telur itu secara hati-hati memakai gigi gigi tajam mereka. Baik sekali deh!


Setelah itu, ia membawa kami dengan cara memasukkannya ke dalam mulut. Sesampainya di sungai, kami berenang dan mencari makan di sekitar induk kami. Hal itu dilakukan sampai kami cukup kuat untuk menjaga diri. 


Saat kecil kami memakan ikan kecil, katak, ular dan sisa sisa makanan induk kami. Nah, sedangkan saat dewasa kami akan memakan ikan, kera, rusa dan hewan hewan lain yang berada di dekat air.


Allah Swt. memang pencipta yang maha sempurna. Tubuh kami dirancang sedemikian rupa sehingga kami menjadi predator yang handal. Bentuk tubuhku memanjang dengan moncong dan ekor runcing, memudahkan meluncur ke air. Saat meluncur di air, aku melipat rapat kaki kakiku ke sisi tubuhku untuk mengurangi tekanan air. Hal ini membuatku dapat meluncur semakin cepat.


Kakiku berselaput. Hal itu memudahkan dalam banyak hal. Membantuku berbelok dengan cepat, berjalan di lumpur ataupun di air dangkal.


Pssst... aku mengintai mangsaku diam diam. Aku mendekati mereka dengan perlahan tanpa menimbulkan riak di air sehingga mangsaku tidak menyadari kehadiranku.


Kadang aku berdiam diri di air dalam waktu yang lama atau menyamar menjadi kayu, dan penyamaranku sering berhasil. Yeey! Alhamdulillah...


Aku juga suka berdiam diri di tepi air untuk berjemur menghangatkan badan. Itu sangat mengasyikkan!


Saat sudah berada dalam jarak yang sangat dekat, aku langsung menerkam buruanku dengan cepat. Hewan yang sudah kujepit dengan rahangku pasti sulit untuk bisa melepaskan diri.


Jangan salah, kekuatan gigitan ku ini nomor satu di antara hewan hewan yang lain. Kekuatannya kira kira 6,25 kali lebih kuat dari gigitan hyena. 7,25 kali lebih kuat dari gigitan hiu putih dan 15 kali lebih kuat dari gigitan anjing rotweiler. Allah menciptakan aku dengan sangat hebat kan! 


Sebagai predator yang handal, kami sangat ditakuti di perairan. Hanya manusia yang sanggup mengalahkan kami. Manusia dikaruniai kecerdasan oleh Allah Swt. yang mampu mengatasi kekuatan dan kecepatan kami.


Selain menangkap kami di alam bebas, manusia juga bisa mendapatkan kami dari peternakan buaya. Manusia memburu kami untuk di ambil kulitnya yang indah dan kuat. Kulit kami dapat dibuat dompet, sepatu, ikat pinggang, tas, jaket, dan topi.


Eits, tapi jangan makan daging kami yaa, karena kami adalah hewan buas yang bertaring. Rasulullah saw. melarang manusia untuk memakan hewan yang bertaring sebagaimana sabdanya “Setiap binatang buas yang bertaring, maka memakannya adalah haram” (HR Muslim


Allah Swt. juga melarang manusia memakan makanan yang haram. Allah sudah mengabarkannya di Al-Qur'an surat Al Maaidah ayat 3. “Diharamkan bagimu memakan bangkai, darah (yang keluar dari dalam tubuh), daging babi, dan daging hewan yang disembelih bukan dengan nama Allah, yang tercekik, yang dipukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan yang di terkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu sembelih. Dan diharamkan pula yang di sembelih untuk berhala. Dan diharamkan pula mengundi nasib dengan anak panah karena itu termasuk perbuatan fasik.” Ceritanya aku lanjut lagi yaa hehe..


Peternak dan petugas taman suaka buaya mengikat moncong kami dengan tali karet saat memindahkan kami. Hal itu dilakukan untuk menghindari gigitan mematikan kami.  Kalau sudah diikat begitu, kami jadi susah membuka mulut. 


Hal yang sulit kami lakukan adalah menolehkan kepala kami ke kanan dan ke kiri karena leher kami yang besar dan keras. Karena itu para petugas akan berdiri di samping leher kami untuk menghindari gigitan. 


Eh, aku punya teman baik, yaitu burung plover. Burung plover suka mematuk makanan dan parasit yang menyangkut di gigiku, sehingga aku terhindar dari sakit gigi dan sariawan. Saat plover datang, aku akan membuka mulutku lebar lebar dan membiarkannya makan sampai puas.

Plover percaya padaku bahwa aku tidak akan menyakitinya saat ia berada di dalam mulutku. Harmonis kan teman! Nah... hubungan kami yang harmonis dan saling menguntungkan ini biasa disebut simbiosis mutualisme.


Walaupun aku kuat dan buas, tapi aku menyayangi keluargaku. Aku juga tak pernah mengkhianati sahabatku. Mudah mudahan kamu juga bisa meneladani kasih sayang dan kesetiakawananku yaa.          Wassalamu'alaikum. [GSM]


Sumber: penulis Orin, penerbit Gema Insani, judul Cerita Si Buaya

Perundungan Kian Menjadi, Kita Perlu Solusi

Perundungan Kian Menjadi, Kita Perlu Solusi

 


Dengan adanya pemahaman agama yang dimiliki berperan penting untuk membentuk pola pikir dan perilaku anak

Anak yang memiliki pemahaman agama bisa memilih mana yang baik dan yang buruk, senantiasa takut kepada Allah

___________________


Penulis Nur Indah Sari

Kontributor Media Kuntum Cahaya dan Penggiat literasi


KUNTUMCAHAYA.com, OPINI - Sudah tak terhitung lagi berapa banyak kasus perundungan yang terjadi di negeri ini. Kasusnya beragam dari yang ringan hingga yang berat bahkan ada yang sampai menghilangkan nyawa.  


Baru-Baru ini telah terjadi kasus perundungan yang disiarkan secara langsung lewat akun TikTok pada tanggal 24/4/2024. Perundungan tersebut terjadi di daerah Mekarwangi, Bandung dikutip dari www.jabar.idntimes.com, pelaku melontarkan kata-kata yang kasar dan tidak senonoh ke korban dengan logat bahasa Sunda dan melemparkan botol hingga korban menjerit kesakitan. Pelaku mengaku tidak takut jika dipidana. Korban merupakan seorang pelajar SMP.


Kejadian diatas memperlihatkan kepada kita bahwa kasus perundungan sudah sangat terbuka dan tak malu-malu lagi. Perbuatan jahat atau buruk sudah dianggap biasa, wajar bahkan dianggap keren oleh remaja.


Hal tersebut merupakan bentuk dari kesalahan berpikir, yang merupakan hasil dari sistem pendidikan yang rusak. Abainya peran serta individu, keluarga, masyarakat dan negara dalam membentuk perilaku para remaja, bebasnya media massa, serta sistem hukum atau sanksi yang lemah.


Asas pendidikan saat ini dibentuk dari sistem kapitalisme yang memisahkan agama dari kehidupan. Pelajaran agama memiliki porsi yang sangat sedikit dari jam belajar anak-anak tiap minggunya. Setidaknya hanya satu minggu sekali. Dan hanya satu sampai dua jam itupun kadang hanya sebagai formalitas belaka. 


Dengan adanya pemahaman agama yang dimiliki berperan penting untuk membentuk pola pikir dan perilaku anak. Anak yang memiliki pemahaman agama bisa memilih mana yang baik dan yang buruk, senantiasa takut kepada Allah. Sehingga, kasus perundungan tidak akan terjadi atau bisa diminimalisir.


Pelajar dalam sistem kapitalis berorientasi pada kepentingan ekonomi. Sebagai penopang utama dari ekonomi adalah penghasil cuan. Sehingga dalam sistem ini abai mengenai pembentukan pola pikir yang baik, perilaku serta akhlak yang baik. Sistem kapitalis membuat masyarakat jadi individualis. Tak jarang jika ada kasus perundungan atau pertikaian para pelajar hanya sebagai tontonan tidak ada peran untuk melerai, menasehati, dan menyudahi.


Negara juga abai dalam pembentukan generasi, sistem sanksi yang tidak tegas membuat perilaku buruk tidak terselesaikan kasusnya dan tidak bisa dicegah. Media sistem saat ini  bebas dalam menyajikan berbagai bentuk informasi. Baik itu konten keburukan dan konten kekerasan. Tidak adanya filter menjadikan semua boleh mengakses konten kekerasan tersebut. Sehingga kita jadi terbiasa melihat yang buruk dan aneh melihat sesuatu yang baik. Akibatnya, lahir generasi yang tega menyakiti orang lain dan minim empati.


Sudah saatnya kita memiliki solusi atas segala permasalahan yang terjadi pada generasi. Jika, generasi sudah rusak bagaimana nasib negeri ini ke depannya.


Solusi hanya dalam Islam

Rusaknya generasi akibat sistem kapitalis saat ini harus kita campakkan dan sudah saatnya kita melirik serta mengambil sistem terbaik untuk manusia, yakni Islam. Generasi terbaik hanya ada dalam Islam yang diterapkan oleh negara secara kafah dalam sistem pemerintahan Islam.


Asas pendidikan berakidah Islam bertujuan untuk membentuk pola pikir dan pola sikap yang bertakwa kepada Allah Swt., senantiasa menjalankan syariat Islam, menjalankan segala perintah dan menjauhi segala larangan-Nya. Aktivitas amar makruf nahi Munkar senantiasa dikondisikan. Seorang muslim akan selalu merasa diawasi oleh Allah, sehingga tidak akan ada yang berani berlaku buruk bahkan melakukan perundungan.


Dalam hadis Mutafaq 'alaih dari Ibnu Umar Rasulullah saw. bersabda, "Seorang muslim adalah saudara muslim yang lain ia tidak akan menzaliminya dan tidak meninggalkannya bersama orang-orang (hal-hal) yang menyakitinya"


Muslim juga harus senantiasa berkata yang baik dan tidak boleh berkata buruk bahkan mencemooh sesama muslim. Dalam riwayat Muslim dari 'Aisyah ra, "Sesungguhnya Rasulullah saw. bersabda, sesungguhnya Allah tidak menyukai kata-kata kotor dan perbuatan keji"


Sistem sanksi dalam Islam juga tegas, apabila sudah baligh akan diberikan sanksi kepada para pelaku perundungan baik yang ringan maupun berat. Sistem sanksi yang diterapkan akan mampu membuat jera para pelaku sehingga meminimalisir bahkan meniadakan kejahatan. Bahkan, sampai menghilangkan nyawa hukumannya akan dibayar dengan nyawa. Bila keluarga memaafkan hukuman akan diperingan. Hukuman di dunia sudah berat, sehingga membuat jera dan membuat takut yang lain untuk meniru. 


Media masa dalam sistem Islam akan diatur sedemikian rupa sehingga dapat memfilter konten yang unfaedah atau  membahayakan. Kerjasama antar individu, keluarga, masyarakat dan negara akan membentuk generasi terbaik yang senantiasa beramal saleh  dan bermanfaat bagi umat. Semua ini hanya dapat dilakukan dengan menerapkan sistem Islam secara kafah yang sesuai syariat. Wallahuallam bissawab. [Dara]

Mekanisme Islam dalam Menangani HIV/AIDS

Mekanisme Islam dalam Menangani HIV/AIDS

 


Pendekatannya tidak hanya mencakup aspek medis, akan tetapi harus disertai oleh sistem politik, ekonomi, sosial, dan pendidikan

Dengan begitu, maka diharapkan virus ini dapat berkurang hingga akhirnya umat terbebas dari persoalan tersebut

_________________________


Penulis Nurul Aini Najibah

Kontributor Media Kuntum Cahaya dan Aktivis Dakwah


KUNTUMCAHAYA.com, OPINI - Jumlah penderita HIV/AIDS terus meningkat. Para pegiat kesehatan di Yayasan Grapiks, yang berlokasi di Kompleks Binakarya, Kecamatan Cileunyi, Kabupaten Bandung, melakukan berbagai upaya untuk menekan, mengurangi, dan menghentikan penularan penyakit ini. Koordinator Lapangan Grapiks, Vika Nurdian, mengatakan bahwa tahun ini jumlahnya bertambah  menjadi 135 kasus. Yang mengejutkan, peningkatan ini sebagian besar disebabkan oleh perilaku menyimpang pada LSL (laki seks laki) dibandingkan pengguna narkoba, jarum suntik dan lainnya.


Vika juga menjelaskan, kasus-kasus penyimpangan seksual yang ditemuinya memiliki berbagai penyebab, misalnya karena orang tersebut pernah merasa sakit hati sehingga menjadi tidak suka pada wanita. Ada juga yang melakukannya karena pengaruh lingkungan misalnya, sejak kecil dikelilingi oleh perempuan di rumahnya, sehingga ia berperilaku layaknya wanita dan menyukai sesama jenis. Bahkan ada juga yang terpapar HIV/AIDS akibat menjual diri karena butuh uang (tribunjabar.id, 5/6/2024)


Fakta bahwa kasus HIV/AIDS meningkat tidak hanya terjadi di Kabupaten Bandung saja, tetapi juga merata di seluruh Indonesia. Sudah menjadi rahasia umum bahwa faktor terbesar penyumbang penyakit ini adalah perilaku seksual, termasuk bergonta-ganti pasangan dan hubungan sesama jenis. Penyebabnya jelas karena gaya hidup masyarakat yang makin tidak terkendali. Kebebasan bertingkah laku dijunjung tinggi dan bahkan dilindungi oleh negara atas nama Hak Asasi Manusia (HAM). Setiap individu bebas melakukan apa yang diinginkan selama tidak melanggar hak orang lain. 


Untuk menyolusikan peningkatan kasus HIV/AIDS ini, pemerintah telah melakukan berbagai upaya untuk mencegah penularan. Seperti program Si Eling (Promosi dan Edukasi Kesehatan Keliling) untuk memberikan edukasi di lingkungan sekolah mengenai penyakit tersebut, mencakup pencegahan penularan, perlakuan terhadap penyintas, dan kesehatan organ reproduksi. Selain itu, negara juga membuat regulasi seks sehat dengan penggunaan kondom, namun hal ini jelas tidak menyelesaikan masalah. Alih-alih mencegah penularan virus, sebaliknya justru para generasi muda diajarkan untuk berperilaku liberal, yang sebenarnya menyimpang dari aturan Sang Pencipta.


Kenyataannya, upaya pencegahan yang selama ini dilakukan pemerintah ternyata tidak efektif dalam menghentikan penyebaran virus HIV/AIDS. Berbagai program yang ditawarkan hanya merupakan solusi setengah hati dan tidak menangani masalah sampai ke akarnya. Padahal jika dilihat dari fungsinya, negara sangat berperan besar dalam  membentuk karakter termasuk kebiasaan yang mempengaruhi status kesehatan masyarakat. 


Umumnya manusia saat ini tidak mau mengikuti atura penciptanya, sehingga ketika ingin memuaskan nafsu syahwat, mereka bebas melakukannya sesuka hati selama tidak merugikan orang lain. Padahal sudah jelas dampak buruk pergaulan akan mengancam nasib generasi muda saat ini. Inilah dampak diterapkannya sekularisme dan liberalisme. Yang menolak campur tangan agama dalam mengatur perilaku manusia.


Fakta di atas seharusnya sudah cukup membuat kita sadar bahwa sekularisme ini tidak pantas dipertahankan lagi. Seharusnya kita beralih ke sistem alternatif yang mampu memberikan kepastian tanpa keraguan, yaitu Islam. Sistem ini datang bukan hanya untuk mengajarkan akhlak yang baik, tetapi juga untuk mengatur kehidupan manusia terhadap seluruh interaksinya. 


Sistem Islam berasal dari Allah Swt. sebagai Pencipta yang paling mengetahui tentang manusia dan memiliki kewenangan untuk membuat aturan. Semua masalah dapat ditemukan solusi di dalamnya, termasuk dalam mengatasi masalah HIV/AIDS dengan upaya pencegahan dan pengobatan. Ada beberapa langkah yang dilakukan untuk menghentikan penyebaran virus ini, yaitu:

Pertama, Islam menerapkan sistem pergaulan sesuai syariat. Yaitu mengatur interaksi antara laki-laki dan perempuan dengan melarang mereka ber-khalwat (berdua-duaan) dan melakukan ikhtilat (campur baur). Dalam bergaul, mereka diwajibkan untuk menundukkan pandangan dan menjaga kehormatan serta mewajibkan berpakaian yang menutup aurat sesuai dengan ketentuan saat berada di tempat umum atau ruang khusus.


Kedua, memberikan sanksi yang tegas bagi mereka yang melanggar batasan yang telah ditetapkan oleh Allah. Contohnya, sanksi bagi pelaku zina, baik yang sudah menikah atau belum, juga bagi pelaku seksual menyimpang. Tujuannya adalah untuk menimbulkan efek jera dan sebagai upaya tebusan bagi pelaku agar terhindar dari azab di akhirat akibat perbuatan dosa tersebut.


Ketiga, sistem Islam menyediakan fasilitas kesehatan gratis bagi warga yang membutuhkan. Negara juga melakukan riset untuk mencari obat bagi penyakit berat seperti HIV/AIDS. Selain itu, mereka diberikan dukungan mental untuk tetap optimis menghadapi masa depan dan bertaubat agar tidak mengulang perbuatan maksiat sebelumnya seperti penyimpangan seksual, zina, dan perbuatan keji lainnya. Karena hal itu diharamkan Allah Swt. Sebagaimana firmanNya:

Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.” (QS Al-Isra’ [17]: 32).


Demikianlah, gambaran bagaimana cara Islam memberikan solusi dalam mengatasi HIV/AIDS. Pendekatannya tidak hanya mencakup aspek medis, akan tetapi harus disertai oleh sistem politik, ekonomi, sosial, dan pendidikan. Dengan begitu, maka diharapkan virus ini dapat berkurang hingga akhirnya umat terbebas dari persoalan tersebut. 


Alhasil, sudah saatnya umat kembali kepada aturan yang ditetapkan oleh Allah Swt. yaitu menerapkan syariat  secara menyeluruh dalam semua aspek kehidupan. Dengan penerapannya, manusia dapat mencapai kesejahteraan dan menyelesaikan segala problematika dengan sempurna. Wallahualam bissawab. []

Benarkah dengan UU KIA, Kesejahteraan Ibu dan Anak Tercipta?

Benarkah dengan UU KIA, Kesejahteraan Ibu dan Anak Tercipta?

 


Berdalih suara kesetaraan, kaum ibu makin terombang-ambing kehilangan peran

Dieksploitasi atas nama karier dan kemandirian

__________________


Penulis Rizka Adiatmadja

Kontributor Media Kuntum Cahaya, Penulis Buku dan Praktisi Homeschooling


KUNTUMCAHAYA.com, OPINI - Di zaman yang serba sulit dan penuh tekanan, menjadi sebuah keniscayaan jika ibu terpaksa harus bekerja untuk menopang segala kebutuhan. Di bawah naungan demokrasi, betapa beratnya kaum perempuan mewujudkan aspirasi. Berharap menjadi sejahtera sepertinya hanya mimpi semata. 


Derita terus bertambah, padahal sudah berupaya tanpa lelah. Tuntutan demi tuntutan panjang disuarakan. Dari teriakan kaum feminis yang salah jalan hingga jeritan para ibu yang tulus karena Allah, hanya ingin haknya diberikan sepenuh keadilan. Uphill battle, ya juang demi juang yang teramat berat bahkan tak sedikit yang sekarat. Kaum perempuan mengais haknya di antara pilar demokrasi yang kental beraroma autokrasi.


Dikutip dari liputan6.com – Tuti Elfita sebagai Ketua Departemen Kajian Perempuan, Anak, dan Keluarga BPKK DPP PKS, menanggapi dan memberi respons baik atas pengesahan UU KIA pada Fase Seribu Hari Pertama Kehidupan oleh DPR, Selasa 4 Juni 2024 dalam rapat paripurna. 


Tuti menekankan bahwa pengesahan UU KIA adalah paradigma penyelenggaraan kesejahteraan ibu dan anak yang menjadi bagian penting dalam keluarga. Menurutnya, PKS juga memberi apresiasi pada peranan ayah yang aktif terkait perlindungan, dukungan, serta pendampingan untuk mengoptimalkan capaian kesejahteraan ibu dan anak. (9 Juni 2024)


Bagian utama di dalam UU KIA adalah mengenai cuti melahirkan bagi ibu pekerja selama 6 bulan. Namun, nyatanya ada persyaratan dan ketentuan. Cuti melahirkan jangka singkat adalah 3 bulan pertama dan jangka lama 3 bulan berikutnya. Untuk kondisi khusus harus dibuktikan dengan surat keterangan dokter. 


Ibu pekerja yang sedang cuti melahirkan memiliki hak upah secara penuh untuk 4 bulan pertama, 75% dari upah di bulan kelima dan keenam, tidak boleh diberhentikan dari pekerjaan. Seorang ayah berhak mendapatkan cuti 2 hari, bisa ditambah 3 hari berikutnya sesuai kesepakatan dengan pemberi kerja.


Apakah benar UU KIA bisa menyejahterakan ibu dan anak? 

Andy Yentriyani sebagai Ketua Komnas Perempuan menyatakan pendapatnya bahwa UU KIA rentan tidak memiliki daya implementasi. Andy mengatakan kondisi ini berdasarkan pada  pencermatan Komnas Perempuan.


Telah ada sejumlah UU dan kebijakan pemerintah mengenai kesejahteraan ibu dan anak yang dinyatakan tetap berlaku meski telah ada UU KIA. Ego sektoral yang sering kali diajukan sebagai hambatan dalam koordinasi dan kesulitan untuk pengawasan pelaksanaan kewajiban individu ibu dan ayah. (news.detik.com, 8 Juni 2024)


Apakah kebutuhan anak bisa tercukupi dalam enam bulan saja bersama ibunya tanpa jeda? Apakah urgensi pengasuhan hanya cukup dalam waktu sesingkat hitungan 180 hari? Selanjutnya, ibu harus kembali berkarier di luar rumah. Sejatinya, seorang ibu adalah pusat semesta buah hatinya.


Ibu adalah sekolah dan guru pertama buat anak. Betapa pengasuhan dan pendidikan butuh seorang ibu yang fokus sepanjang waktu. Ya, ibu adalah pencetak generasi terbaik untuk melanjutkan estafet peradaban. 


Telah menceritakan kepada kami Hasyim,menceritakan kepada kami Muhammad dari Abdullah bin Syubrumah dari Abu Zur'ah dari Abu Hurairah, dia berkata, Ada seorang laki-laki yang berkata : "Wahai Rasulullah, siapakah orang yang lebih berhak untuk saya berbuat baik kepadanya?" beliau bersabda, "Ibumu, " ia berkata, "Kemudian siapa?" beliau bersabda, "Ibumu, " ia berkata, "Kemudian siapa?" beliau bersabda, "Ibumu, " ia berkata, "Kemudian siapa?" Rasulullah bersabda, "Ayahmu." (HR Ahmad No. 7994, sanad sahih menurut Syu'aib al-Arna'uth)


Betapa mulianya kedudukan seorang ibu di dalam syariat Islam. Sebab, perjuangan dan pengorbanan yang begitu luar biasa. Ada banyak kesulitan yang dihadapi seorang ibu saat mengandung, melahirkan, menyusui, mengasuh, dan mendidik. 


Dari sejak kandungan hingga usia 7 tahun pertama, fase tamyiz buah hati yang tidak boleh terlewatkan. Harus ada fasilitator utama yang menuntun anak memahami perbuatan terpuji atau tercela.


Tak hanya cukup di 7 tahun pertama, 7 tahun kedua pengasuhan tak kalah pentingnya. Usia remaja harus ditempa agar menjadi insan yang bertakwa. Hingga di 7 tahun ketiga, tetap saja kehadiran ibu menjadi sosok utama yang diharapkan bisa mendampingi buah hati melewati fase kedewasaan hakiki dan insan sejati. 


Jika menilik upah yang diberikan selama masa cuti, tentu itu tidak sepadan dan hanya mencakup ranah parsial. Sejatinya, para ibu membutuhkan solusi integral. Bukan iming-iming sesaat yang sejatinya membuat beban semakin berat.


Perekonomian kapitalisme tidak pernah terbukti menyejahterakan rakyat. Tak terkecuali ibu dan anak. Bahkan, untuk kaum laki-laki yang sejatinya sebagai pencari nafkah saja, tidak pernah mendapatkan lapangan kerja yang luas dan cukupnya upah. 


Perekonomian kapitalisme senantiasa memberikan celah problematika yang dilematis. Ibu sebagai pendidik generasi dan ayah pencari nafkah terkadang tertukar peran. Bahkan, kedua peranan itu bisa sekaligus diambil alih oleh kaum ibu. Dengan keterpaksaan, semua beban harus ditanggung sendirian.


Berdalih suara kesetaraan, kaum ibu makin terombang-ambing kehilangan peran. Dieksploitasi atas nama karier dan kemandirian. Sejatinya, semua adalah siksaan yang teramat berat. Terus terpukul dan rentetan beban di pundak harus selalu dipikul. Pada akhirnya, peran dan fungsi agung seorang ibu terbengkalai karena negara abai dan lalai.


Berbeda dengan sistem Islam dalam mengatur kesejahteraan. Sistem Islam adil menempatkan peran kaum ayah atau ibu sesuai pedoman. Tidak ada yang dirugikan ataupun diuntungkan salah satu pihak. Semua tatanan berjalan sesuai aturan. 


Negara hadir seutuhnya dalam mengurusi urusan umat. Pencari nafkah ditetapkan sebagai tugas kaum laki-laki, di antara tugas mulia lainnya. Sehingga, lapangan kerja akan disediakan dengan leluasa. Perempuan tidak dibebankan untuk mencari nafkah baik untuk dirinya atau keluarga.


Sistem perekonomian Islam sigap dalam menangani kebutuhan dasar masyarakat seperti sandang, pangan, papan, kesehatan, keamanan, dan pendidikan. Semuanya bisa diakses gratis, jika harus membayar, tidak dikomersilkan, sebatas mengganti modal atau transport. 


Apakah di sistem Islam perempuan tidak boleh bekerja? Jawabannya tentu saja boleh, tetapi bukan untuk mencari nafkah. Tujuannya mulia untuk memanfaatkan ilmu tanpa harus mengorbankan kewajiban utama sebagai pendidik dan sekolah pertama untuk buah hatinya. 


Hanya Islam dengan sistemnya yang kompatibel dan mampu menjalankan syariat Islam secara kafah termasuk menyejahterakan kaum ibu dan anak. Seorang ibu dipandang dengan kemuliaan peranannya bukan seberapa hebat ia mampu mencari uang. Wallahualam bissawab. [Dara]

Tambang untuk Ormas, Siapa yang Diuntungkan?

Tambang untuk Ormas, Siapa yang Diuntungkan?

 


Sejatinya, menyerahkan urusan pengelolaan tambang kepada ormas keagamaan adalah keputusan yang sangat zalim

Menunjukkan abainya pemerintah terhadap nasib rakyatnya

______________________________


Penulis Tinah Ma'e Miftah 

Kontributor Media Kuntum Cahaya dan Pegiat Literasi AMK 


KUNTUMCAHAYA.com, OPINI - Keputusan Presiden Joko Widodo terkait pemberian izin pengelolaan usaha pertambangan kepada ormas keagamaan masih saja menuai tanggapan yang beragam. Beberapa ormas pun mulai bersuara menyatakan sikapnya. Di antara mereka ada yang langsung setuju, ada yang menolak, namun ada juga yang pikir-pikir dulu.


Diberitakan sebelumnya jika Presiden Joko Widodo secara resmi telah memberikan ruang bagi organisasi keagamaan untuk ikut dalam mengelola Wilayah Izin Usaha Pertambangan Khusus (WIUPK). Keputusan itu termaktub dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 25 Tahun 2024 tentang Perubahan atas PP Nomor 96 Tahun 2021 tentang Pelaksanaan Kesatuan Usaha Pertambangan Mineral dan Batu Bara. (CNN Indonesia, 11/06/2024)


Adapun ormas yang setuju adalah, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Persatuan Islam (Persis), dan Parisada Hindi Dharma Indonesia (PHDI).


Bahkan Ketua PBNU Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) langsung mengajukan izin untuk bisa mengelola usaha tambang kepada pemerintah khususnya tambang batu bara. Menurut Gus Yahya, NU sangat layak mendapatkan kesempatan, sebab NU tak hanya mengurusi hajat di bidang keagamaan saja, tetapi juga mengurusi hajat di bidang lainnya seperti, bidang kemasyarakatan, ekonomi, pendidikan, dan lain-lain. 


Sedangkan ormas yang menolak di antaranya adalah, Konferensi Wali Gereja Indonesia (KWI), Persatuan Gereja Indonesia (PGI), dan Huria Kristen Batak Protestan (HKBP). Mereka tidak berminat dan berpendapat mengelola tambang bukan bagian dari bidang pelayanan. Mereka hanya ingin fokus pada bidang pewartaan dan pelayanan masyarakat untuk mewujudkan tata kehidupan yang lebih bermartabat.


Sejatinya, menyerahkan urusan pengelolaan tambang kepada ormas keagamaan adalah keputusan yang sangat zalim. Menunjukkan abainya pemerintah terhadap nasib rakyatnya. Sejatinya, ormas keagamaan tidak memiliki kemampuan mengeksploitasi tambang, sehingga mau tidak mau harus menggandeng pihak-pihak yang memiliki kompeten di bidangnya.


Maka di sinilah potensi tawar-menawar antara ormas dan pemilik modal akan terjadi. Dan, lagi- lagi kesempatan bagi korporasi untuk mengeruk keuntungan pun terbuka lebar. Sementara rakyat kecil sebagai pemilik tambang yang sesungguhnya, dibiarkan begitu saja tanpa mendapatkan apa-apa.


Padahal, hal ini sudah diingatkan oleh Rasulullah di dalam hadisnya. Rasulullah saw. bersabda:

"Apabila suatu urusan diserahkan bukan kepada ahlinya, maka tunggulah kehancurannya."(HR Imam Bukhari)


Pemerintah seakan sengaja ingin mencari kambing hitam. Membenturkan ormas pada konflik nasional yang mungkin saja terjadi, mengingat banyaknya ormas keagamaan di negeri ini. Tak sampai di situ, pemerintah pun seolah ingin lepas dari tanggung jawab. Tidak peduli dengan nasib rakyat.


Melegitimasi dengan mengatasnamakan agama dan tokoh ulama terhadap kerusakan, dampak buruk yang akan ditimbulkan. Belum lagi lubang-lubang bekas galian yang dibiarkan menganga begitu saja, tanpa adanya perbaikan. 


Karut marut urusan tambang tidak akan terjadi jika negara mengadopsi sistem Islam secara kafah. Daulah Islam wajib menerapkan syariat Islam dalam seluruh aspek kehidupan, baik aspek ekonomi, politik, pendidikan, kesehatan, sosial budaya, pertahanan keamanan, dan lain sebagainya.


Semua dilakukan karena dorongan ketakwaan kepada Allah Swt.. Mengamalkan apa yang Allah perintahkan, yang tertulis di dalam Al-Qur'an Nur Kariim.

"Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara menyeluruh, dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan. Sungguh setan itu musuh yang nyata bagi kalian." (QS Al-Baqarah (2): 208)


Ekonomi Islam membagi kepemilikan harta menjadi tiga kategori, milik pribadi/individu, kepemilikan umum, dan kepemilikan negara. Sumber daya alam berupa tambang masuk dalam kategori kepemilikan umum. Namun manfaatnya tidak bisa dinikmati oleh masyarakat secara langsung.


Diperlukan peran negara dalam pengelolaannya, sementara hasilnya sebesar-besarnya untuk kepentingan rakyat. Negara akan mengalokasikan hasil tambang untuk memenuhi kebutuhan rakyat di bidang pendidikan, kesehatan, keamanan, dan pembangunan infrastruktur melalui mekanisme baitulmal.


Negara tidak boleh menyerahkan tanggung jawab pengelolaan tambang ataupun menjualnya kepada siapa pun, baik individu, swasta, apalagi asing. Sebagaimana yang Rasulullah saw. lakukan, yaitu menarik kembali tambang garam yang sebelumnya telah beliau berikan kepada Abyad bin Hammal, setelah beliau mengetahui depositnya yang melimpah.


Seandainya tidak ada larangan dalam hal ini, niscaya Rasulullah pun tidak akan menarik kembali apa yang telah beliau berikan. Sebab dalam hadis lain, Rasulullah saw. melarang seseorang untuk menarik kembali barang yang telah diberikan kepada orang lain, kecuali pemberian orang tua kepada anaknya. (HR Abu Dawud, An- Nasa'i, Ibn Majah dan At-Tirmidzi)


Dengan penerapan syariat Islam secara kafah dalam bingkai Daulah Islam, karut marut pengelolaan tambang bisa dihindari. Khalifah sebagai kepala negara wajib melindungi hak-hak rakyatnya, mengelola tambang sesuai syariat Islam dan hasil secara keseluruhan untuk kepentingan rakyat.


Sehingga manfaat tambang akan bisa dirasakan oleh seluruh rakyat tanpa memandang suku, ras, agama baik itu muslim maupun nonmuslim. Wallahualam bissawab. [SJ]

Tapera, benarkah untuk rakyat?

Tapera, benarkah untuk rakyat?

 


Ini adalah bentuk pemaksaan kepada rakyat dengan mewajibkan seluruh pekerja menjadi anggota Tapera

Lebih ke pemalakan gaya baru dengan iming-iming perumahan

____________________


Penulis Tuti Sugiyatun S.Pd I

Kontributor Media Kuntum Cahaya, Praktisi pendidikan dan Aktivis dakwah


KUNTUMCAHAYA.com, OPINI - Baru-baru ini ramai di media berita Tapera (tabungan perumahan rakyat). Dirancang oleh pemerintah untuk memenuhi kebutuhan rakyat yaitu perumahan. Tabungan Perumahan Rakyat (Tapera) ini menjadi polemik setelah Presiden Joko Widodo (Jokowi) resmi menandatangani Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 21 Tahun 2024 tentang Tapera.


Gelombang penolakan terus terjadi, lantaran PP tersebut akan mewajibkan perusahaan memotong gaji pekerja swasta. Artinya, para karyawan akan mendapatkan potongan gaji sebesar 3% sebagai iuran Tapera, dengan rinciannya 2,5% ditanggung pekerja dan 0,5% menjadi tanggung jawab perusahaan pemberi kerja.

        

Presiden partai buruh Said Iqbal juga ikut menyoroti PP tersebut, menurutnya iuran Tapera 3% itu tidak masuk akal. Ia juga mempertanyakan kejelasan terkait dengan program Tapera, terutama tentang kepastian apakah buruh dan peserta Tapera akan otomatis mendapatkan rumah setelah bergabung. “Secara akal sehat dan perhitungan matematis, iuran Tapera sebesar 3% itu tidak akan mencukupi bagi buruh untuk membeli rumah pada usia pensiun atau saat di PHK,” tegasnya. (SINDOnews.com 30/5/24) 

          

Dengan potongan Rp105.000 per bulan, ketika dikumpulkan selama 20 tahun hanya terkumpul kurang lebih 25 jutaan. Maka timbul pertanyaan, apakah dengan uang itu seseorang akan mendapatkan rumah? Tentu saja hal itu sangat tidak masuk akal. Karena, tidak akan ada perumahan seharga kisaran 25 juta.

        

Selidik punya selidik ternyata dari seluruh pekerja maupun pekerja mandiri, tidak terkecuali ojol juga harus menjadi peserta Tapera dan wajib membayar iuran. Lalu bagi peserta Tapera yang tidak membayar iuran, maka sanksi telah disiapkan. Sungguh tragis, di saat rakyat kesusahan karena di bebani berbagai macam iuran mulai dari Jamsostek, BPJS kesehatan, pajak penghasilan, malah sekarang ditambah lagi iuran Tapera yang tidak tahu kemana arahnya.

        

Inilah salah satu bentuk kezaliman negara yang dilegalkan dengan aturan resmi berupa PP Nomor 25 Tahun 2020. Di dalam peraturan itu disebutkan bahwa apabila pemberi kerja tidak mendaftarkan pekerjanya menjadi peserta Tapera, kemudian tidak membayar iuran yang sesuai dengan ketentuan, maka akan mendapatkan sanksi berupa peringatan tertulis, denda administratif, pembekuan izin usaha, bahkan sampai pencabutan izin usaha.

         

Ini adalah bentuk pemaksaan kepada rakyat dengan mewajibkan seluruh pekerja menjadi anggota Tapera, atau lebih ke pemalakan gaya baru dengan iming-iming perumahan. Seharusnya, yang bertanggungjawab atas hajat hidup rakyat itu adalah negara, salah satunya dengan menyediakan perumahan bagi rakyat, bukan memotong secara paksa gaji para pekerja. Hal ini sama saja memiskinkan para pekerja secara perlahan. Pada akhirnya rakyat tak bedaya, atau dengan kata lain menghisap darah rakyat untuk kepentingan tertentu.

         

Setiap kebijakan baru, muncul proyek baru pula, dan dari proyek baru itu selalu berpotensi munculnya peluang korupsi. Masih ingatkah dengan kasus Korupsi Asabri, Jiwasraya, Taspen, apakah itu tidak cukup bukti agar pemerintah belajar dari kasus tersebut. Bukan malah membuka peluang munculnya masalah baru, dengan simpanan yang begitu panjang. Siapa yang bisa menjamin dana simpanan Tapera itu diam dan tenang di tempatnya? Justru akan berpotensi munculnya tindak korupsi.

             

Minimnya kepedulian pemerintah menjadi sebab ketidakpekaaan terhadap pokok permasalahan yang sedang dihadapi rakyat. Pemerintah tidak merasakan bagaimana kesulitan dan beban rakyat yang kian hari kian menghimpit. Rakyat harus bekerja keras, membanting tulang mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, karena tidak adanya jaminan dari pemerintah.

         

Seharusnya, setiap kebijakan yang akan dijadikan PP itu di kaji dengan benar. Apakah kebijakan itu akan  menzalimi rakyat atau tidak? Seperti halnya Tapera ini yang ternyata kebijakannya sangat menzalimi rakyat. Lantas, kenapa hal seperti ini sering kali terjadi? Pastinya semua hal yang terjadi adalah akibat dari sistem yang dijalankan oleh pemerintah saat ini yaitu sistem Sekularisme yang tidak sesuai dengan fitrah manusia.

          

Sungguh, sekularisme yang mendasari sistem kehidupan hari ini benar-benar mengabaikan halal dan haramnya suatu perbuatan. Bahkan, selalu mengagungkan nilai materi dan manfaat saja. Sehingga, melahirkan jiwa-jiwa individualisme yang tidak peka terhadap keadaan di sekitarnya. Serta jiwa yang egois yang menjadikan nilai akhlak dan kemanusiaan itu jauh dari kehidupan mereka.

          

Dengan begitu, Tapera sejatinya bukan untuk rakyat, akan tetapi kebijakan yang dibuat untuk melancarkan sebuah proyek. Di mana, rakyat digiring untuk melakukan riba. Akhirnya, yang diuntungkan adalah pengusaha dan rakyat yang menanggung akibatnya. Lantas, bagaimana pandangan Islam tentang hal ini?. 


Dalam Islam pemimpin wajib hadir dalam memberi layanan terbaik untuk rakyat. Tugasnya adalah mengurus urusan rakyat, bukan mengeruk keuntungan dari rakyat sehingga menyengsarakan rakyat.  Sebagaimana Rasulullah ﷺ bersabda, “pemimpin adalah pengurus dan ia bertanggung jawab atas (urusan) rakyatnya.” (HR Bukhari)

       

Penyediaan kebutuhan perumahan untuk rakyat sepenuhnya menjadi tanggung jawab negara, tanpa harus ada pungutan iuran wajib, semua akan ditanggung oleh negara. Negara yang akan mencukupi kebutuhan baik sandang, pangan.maupun papan dengan menetapkan harga yang murah. Negara juga harus memberikan kemudahan dalam pembelian tanah dan bangunan dengan harga yang terjangkau. Kemudian, para pencari nafkah akan mudah dalam mengakses dan mencari pekerjaan sebab negara berkewajiban menyediakan lapangan kerja bagi masyarakat.

         

Tugas dari seorang pemimpin adalah memberikan kenyamanan bagi rakyatnya, termasuk dalam perkara kebutuhan rumah. Jangan sampai kebijakannya justru menyusahkan rakyat. Sebagaimana sabda Rasulullah saw., “Ya Allah, barang siapa  yang mengurusi urusan umatku, lantas ia membuat susah mereka, maka susahkanlah ia. Dan barang siapa yang mengurusi urusan umatku, lantas ia mengasihi mereka, maka kasihilah ia.” (HR Muslim)

          

Untuk mewujudkan agar pemenuhan kebutuhan papan masyarakat bisa terselenggara dengan tepat dan benar, harus kembali kepada syariat Islam yang menerapkan sistem Islam secara kafah dan kembali pada aturan Allah Swt.. Dengan begitu masyarakat tidak akan khawatir dan menderita  dengan aturan buatan manusia yang terangkai dalam sistem sekular kapitalisme saat ini.  Wallahuallam bissawab. [Dara]

Judol Meresahkan Masyarakat, Buah Sistem Kapitalisme

Judol Meresahkan Masyarakat, Buah Sistem Kapitalisme

 


Maraknya masyarakat yang terjerat judi online karena kita menerapkan sistem sekulerisme liberal

Menjadikan masyarakat jauh dari agama hingga mereka tidak bisa membedakan halal dan haram

__________________


Penulis Ai Heni

Kontributor Media Kuntum Cahaya


KUNTUMCAHAYA.com, SURAT PEMBACA - Judi online semakin meresahkan masyarakat. Kemenkominpo Budi Arie Setiadi mengungkapkan judi online kini telah masuk ke situs-situs pendidikan tercatat hingga 18.877 laman, dan situs-situs pemerintahan telah tersusup sebanyak 22.000 judi online, pemerintah atau kemenkominpo telah melakukan take down situs-situs tersebut. (Sindo News 24-5-2024)


Kemenkominpo telah memberi teguran atau peringatan kepada Twiter, Google, Telegram hingga Tiktok untuk membersihkan judi online, jika tidak akan dikenakan denda hingga 500 juta. Budi juga mengajak kepada masyarakat agar tidak tergiur dengan judi online.


Judi online juga mempengaruhi dunia pendidikan, hingga banyak para pelajar atau mahasiswa yang terjerat judi online. Mayoritas yang bermain judi online adalah anak - anak muda di bawah 17 tahun. Akibatnya, dari kecanduan judi online pada anak-anak tidak hanya penyakit pisik dan mental yang kena, tapi perilaku buruk seperti tindakan kekerasan, perundungan hingga pembunuhan.


Indonesia menjadi negara tertinggi di dunia atas judi online. Di Indonesia sudah mencapai 2,7 juta orang yang bermain judi online. Perputaran uang sudah mencapai 327 triliun, tingginya judi online di Indonesia karena dua faktor yaitu literasi dan ekonomi. Literasi masyarakat yaitu kurangnya pengetahuan tentang agama Islam, karena dalam Islam judi jelas hukumnya haram.


Kemudian, faktor ekonomi akibat susahnya mencari pekerjaan dan banyaknya pekerja yang kena PHK. Pelaku judi online yang akhirnya akan melakukan tindakan kriminal seperti mencuri hingga membunuh. Buktinya, baru-baru ini terjadi pembunuhan seorang istri oleh suaminya, karena tidak bisa membayar sebesar 100 juta, karena anaknya terjerat judi slot dan seorang mahasiswa UI membunuh temannya karena judi slot juga.(Muslimah News)


Maraknya masyarakat yang terjerat judi online karena kita menerapkan sistem sekularisme liberal, yang menjadikan masyarakat jauh dari agama hingga mereka tidak bisa membedakan halal dan haram. Pelaku judi online juga terjadi pada ibu rumah tangga yang awalnya hanya coba-coba main judi online untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Judi online akan mengakibatkan ketagihan layaknya narkoba, di mana kalau menang seperti narkoba saat " fly" kenikmatan sesaat .


Kapitalis menjadikan penguasa tidak bisa berbuat apa-apa dalam menghadapi judi online. Hanya sedikit yang bisa pemerintah berantas konten judi online. Hilang satu tumbuh 1000, pada sistem kapitalis ibarat menampung air di bawah atap yang bocor, selama hulunya tidak ditutup maka tidak akan selesai pula masalah judol ini. 


Dalam sistem sekarang, bayak judol yang di-backing oleh aparat dan penguasa sehingga susah untuk dihentikan. Inilah konsekuensi negara di bawah kendali oligarki. Dalam sistem sekuler, iman masyarakat kian lemah karena memisahkan agama dari kehidupan sehingga masyarakat sangat mudah terjerat judol dengan alasan untuk mendapat rezeki mudah dan cepat. Mereka tidak nyakin bahwa Allah Maha pemberi rezeki.


Hanya dengan menerapkan syariat Islam segala permasalahan masyarakat bisa diselesaikan. Ketika syariat Islam diterapkan dalam skala negara maka negara akan menjadikan akidah sebagai pondasi utama dalam pendidikan. Akan lahir generasi yang imannya kuat tidak mudah tergoda dengan kemaksiatan termasuk judol, mereka juga yakin bahwa Allah Swt. telah mencukupkan rezeki untuk seluruh umatnya. Wallahuallam bissawab. [Dara]

Susahnya Istiqamah di Masa Adjusment

Susahnya Istiqamah di Masa Adjusment

 


Terasa sulit, ingin mengembalikan jati diri remaja muslim saat ini

Sebab mereka diasuh oleh sistem yang tidak diridai Allah Swt. yaitu kapitalis sekularisme


____________________


Penulis Tati Ristianti

Kontributor Media Kuntum Cahaya dan Komunitas Ibu Peduli Generasi


KUNTUMCAHAYA.com, OPINI - Orang tua bilang, kita tidak boleh berkata susah dalam segala hal. Namun melihat fakta yang ada, untuk istikamah memang sangat susah. Kesusahan ini, tidak hanya menimpa orang tua yang lansia, remaja sekalipun sangat sulit untuk Istiqamah. Seolah-olah perbuatan buruk selalu menghantui para remaja kita baik yang sudah dilakukan maupun yang akan direncanakan. Untung kalau masyarakat peka dan langsung menginformasikan ketika ada kejahatan, kalau tidak terjadilah benturan antar remaja yang sering kita dengar.


Dilansir dalam media online, bahwa dua remaja telah ditangkap polisi karena hendak melakukan tawuran di Kota Bekasi. Senjata tajam hingga airsoft gun ada di tangan para pelaku. Kasat Samapta Polres Metro Bekasi Kota Kompol Imam Syafii mengatakan kedua pelaku, FSP (19) dan FS (20), ditangkap pada Minggu (9/5/2024) oleh Tim Patroli Perintis Presisi Polres Metro Bekasi Kota. Sebelumnya, tim mendapatkan informasi dari masyarakat adanya sekelompok remaja yang sedang kumpul dan hendak melakukan tawuran. detik.com  (10/6/2024)


Informasi dari masyarakat membuahkan hasil, sedikit saja terlambat aksi tawuran bakal terjadi. Fenomena geng motor selalu meresahkan dan memprihatinkan. Pelaku geng motor tidak hanya singgah di sekolah biasa, tetapi bisa sampai pada sekolah kategori favorit. Bahkan, tak disangka-sangka pelakunya merupakan bagian dari teman sekolah anak-anak kita.


Padahal pelaku merupakan anak yang baik, sopan, kaya, humble yaitu orang yang mudah membentuk hubungan baik dengan siapapun. Siapa saja orangnya inilah bukti dari perilaku geng motor yang dibawa oleh peradaban barat, dan diterima dengan lapang oleh remaja juga pelajar. Sehingga, apa yang dari barat itulah yang harus ditiru. Sungguh, kesuksesan yang luar biasa dalam rangka merusak generasi muda.


Bergaul memang penting buat anak remaja. Masa remaja bakal melewati masa penyesuaian diri, itu yang guru biologi kita dulu bilang, adalah fase kemampuan beradaptasi. Atau bisa disebut dengan bahasa gaul adjusment, yaitu suatu proses untuk mencari titik temu antara kondisi diri sendiri dan tuntutan lingkungan.


Nongkrong sudah dipatok menjadi wajib dan harga mati, harus tidak boleh terlewatkan. Remaja, yang terjebak pada tuntutan lingkungan yang salah seperti, pergaulan bebas, candu akan alkohol, free sex, gabung geng motor, tawuran, bahkan sampai kemaksiatan tingkat yang paling nista. Perilaku yang dulunya tabu, sekarang ini menjadi hal yang biasa.


Keterpurukan yang menimpa remaja muslim, bukan tanpa rencana. Mereka yang memusuhi Islam menjadikan generasi muda sebagai sasaran tembak agar lengah, lemah, dan kehilangan jati diri. Karena mereka tahu, kalau remaja muslim tidak dibikin keok, bisa-bisa masa depan Islam kembali bangkit dan memimpin dunia. Itulah agenda peradaban barat, yang senantiasa harus dihindari. 


Terasa sulit, ingin mengembalikan jati diri remaja muslim saat ini. Sebab mereka diasuh oleh sistem yang tidak diridai Allah Swt. yaitu kapitalis sekularisme, penampakannya membuat mereka melanggar perintah Allah Swt.. Terkadang untuk Istikamah di jalan kebaikan sangat sulit. Maka kesalahan atas semua ini berawal dari sistem. Yang setiap kebijakannya, berasal dari Barat yang notabene kafir. Karena kebaikan menurut mereka adalah apa kata teman, dan orang-orang.


Sebagai remaja muslim, sudah saatnya berubah dari perilaku rendah menjadi luhur. Menjadi pemuda dambaan umat, dan pembela Islam harga mati. Sebab, estafet kepemimpinan sebuah bangsa ada di tangan remaja atau generasi muda yang bakal memimpin umat ke arah kebangkitan yang dirindukan.


Namun semua itu butuh pemimpin yang akan membela dan menjaga mereka dari pemahaman Barat yang merusak akal sehat. Siapa lagi kalau bukan sistem Islam yang dipimpin oleh seorang khalifah yang akan menjaga generasi. Sehingga tidak akan ada kata susahnya istikamah di masa adjusment. Wallahualam bissawab. [Dara]

Cara Islam Atasi Tingginya Harga Beras

Cara Islam Atasi Tingginya Harga Beras

 


Indonesia masih terombang-ambing di antara kepentingan politik pangan dan politik dagang

Sayangnya, kontrol politik telah bercampur dengan kontrol ekonomi oleh oligarki, menyebabkan konflik kepentingan

______________________________


Penulis Ummu Hanan 

Tim Media Kuntum Cahaya


KUNTUMCAHAYA.com, OPINI - Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), harga beras kemungkinan akan naik lagi karena produksi padi setelah puncak panen raya pada April-Mei 2024 menurun. Berdasarkan Kerangka Sampel Area BPS, produksi padi setara gabah kering giling (GKG) pada April dan Mei 2024 masing-masing mencapai 9,23 juta ton dan 6,21 juta ton.


Produksi padi pada Juni 2024 diperkirakan menurun menjadi 3,49 juta ton dan pada Juli menjadi 3,73 juta ton. Dengan demikian, produksi padi diprediksi turun sekitar 40-50 persen pada Juni-Juli 2024 dibandingkan dengan produksi pada puncak panen raya padi. (Kompas, 12/06/24)


Untuk mengatasi masalah ini, pemerintah melalui Badan Pangan Nasional (Bapanas) telah menetapkan Peraturan Badan Pangan Nasional (Perbadan) tentang Harga Eceran Tertinggi (HET) untuk beras medium dan premium, dengan tujuan menjaga harga tetap wajar di tingkat konsumen.


"Melalui Perbadan No 5 Tahun 2024 yang mengubah Perbadan No 7 tahun 2023 tentang Harga Eceran Tertinggi Beras, harga beras medium dan beras premium diatur berdasarkan wilayahnya," kata Kepala Bapanas, Arief Prasetyo Adi.


Dampak dan Penyebab Tingginya Harga Beras

Menanggapi fenomena ini, Pusat Kajian Pengentasan Kemiskinan dan Ketimpangan (EQUITAS) Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) UGM menyampaikan hasil kajian terkait perberasan nasional.


Koordinator EQUITAS FEB UGM, Wisnu Setiadi Nugroho, Ph.D., menyatakan bahwa naiknya harga beras berpotensi menghambat kemajuan ekonomi. Banyaknya perantara antara petani dan konsumen secara signifikan akan berkontribusi pada naiknya harga beras di tanah air.


Wisnu memberi penjelasan bahwa terdapat berbagai faktor yang memengaruhi kenaikan harga beras, seperti kelangkaan pasokan dan meningkatnya permintaan. Di Indonesia, volatilitas juga menjadi faktor penyebab naiknya harga. Ketidakstabilan pasokan sering kali dilatarbelakangi oleh tantangan logistik dan produksi yang tidak mencukupi.


Sebagai negara berkembang, Indonesia menghadapi tantangan logistik yang serius. Penelitian oleh Reardon dan Timmer (2012) menunjukkan bahwa di negara-negara berkembang, rantai pasokan ditandai oleh panjangnya jarak geografis dan sedikitnya jumlah perantara.


Wisnu kembali menegaskan bahwa banyaknya pihak perantara antara petani dan konsumen berkontribusi secara serius terhadap kenaikan harga beras yang cukup besar di wilayah Indonesia.


Fenomena ini menyebabkan harga beras di Indonesia lebih tinggi dibanding dengan negara-negara berkembang lainnya. Sebagai contoh, di India, harga beras berkisar antara Rp10.140-Rp32.136 per kilogram, sedangkan di Cina, harga berkisar antara Rp12.012-Rp23.868 per kilogram.


Menurut Wisnu, kesenjangan ini menunjukkan pengaruh kompleksnya rantai pasok terhadap keterjangkauan harga beras di Indonesia dibandingkan dengan harga beras di negara berkembang lainnya.


Cara Islam Atasi Tingginya Harga Beras

Indonesia masih terombang-ambing di antara kepentingan politik pangan dan politik dagang. Politik dagang yang dimaksud adalah membeli beras dari luar negeri dan menjualnya di Indonesia. Sayangnya, kontrol politik telah bercampur dengan kontrol ekonomi oleh oligarki, menyebabkan konflik kepentingan.


Berbeda dengan politik pangan dalam Islam, di mana negara berpihak pada rakyat. Negara tidak boleh kalah oleh pedagang yang mengejar keuntungan, sehingga politik pertanian dan pangan tidak berjalan dengan baik. Cara Islam Atasi Tingginya Harga Beras.


Selain itu, Islam menetapkan kebijakan untuk mengelola pangan demi melayani masyarakat. Pertama, memastikan pemenuhan pangan bagi setiap individu tanpa terkecuali. Negara mengoptimalkan penyediaan pasokan pangan dari dalam negeri dengan menerapkan konsep pertanian Islam.


Kedua, memaksimalkan potensi pertanian dalam negeri melalui modernisasi pertanian dan sinergi antarwilayah sehingga tidak perlu impor beras.


Hanya dengan sistem Islam, kebutuhan pangan dapat dipenuhi dengan harga terjangkau bahkan gratis, sehingga pemenuhan pangan dapat dinikmati oleh seluruh kalangan masyarakat. Wallahualam bissawab. [SJ]

Istri Bakar Suami, Malapetaka Akibat Judol

Istri Bakar Suami, Malapetaka Akibat Judol

 


Perintah yang telah Allah Swt. sampaikan itu benar adanya bahwa haram bertransaksi riba

Riba telah memunculkan malapetaka, baik pada seseorang, terlebih masyarakat, maupun negara

______________________________


Penulis Lia Haryati, S.Pd.i 

Kontributor Media Kuntum Cahaya dan Pengemban Dakwah Ideologis


KUNTUMCAHAYA.com, ANALISIS - Kembali jagad maya dihebohkan oleh seorang polisi wanita (Polwan) di Mojokerto, Jawa Timur, Briptu FN, yang telah membakar suaminya sesama polisi, Briptu RDW.


Aksi yang dilakukan oleh Briptu FN membakar Briptu RDW di kompleks Asrama Polisi Polres Mojokerto, tepatnya terjadi pada Sabtu (08/06/2024) pagi.


Korban Briptu RDW sebelumnya sempat dirawat di RSUD Wahidin dr Sulaiman Rosyid Mojokerto, korban dinyatakan meninggal dunia pada Minggu (09/06/2024).


Ungkap Kapolres Mojokerto Kota, AKBP Daniel S Marunduri "Benar, korban telah meninggal pada pukul 12.55 WIB dan akan dimakamkan di Jombang karena asal tempat tinggal Briptu RDW." Dikutip pada Minggu (tribunnews.com, 12/06/2024)


Kasus pembunuhan akibat judol bukan kali pertama terjadi, seperti yang dialami oleh sopir truk asal Kabupaten Pringsewu, Lampung yang ditemukan tewas tergantung di pintu kiri truk yang berhenti di pinggir menuju pintu tol Cikande, pada Selasa (viva.co.id, 12/02/2024)


Informasi ini didapat dari kernet, bahwa temannya yang sama-sama sopir truk itu awalnya berniat sejenak untuk berhenti tepatnya di km 52 menuju arah Balaraja.


Dari keterangan tepat sekitar 30 menit kondektur berada di dalam mobil untuk beristirahat. Sedangkan korban melakukan aktivitas keluar masuk mobil membawa ponselnya. 


Ditunggu kemunculannya sampai lewat 15 menit temannya sesama sopir itu pun, tidak juga muncul kehadirannya, sang kernet pun berinisiatif untuk melihat kemana sang sopir berinisial (MN) tersebut. Dengan histeris, sang kernet itu pun refleks meminta pertolongan sebab menemukan jasad temanya yang sudah meninggal dunia dengan tragis, yakni mati gantung diri.


Sopir truk berinisial MN yang merupakan warga Lampung itu nekat mengakhiri hidupnya lantaran kalah bermain judi online. (viva.co, 11/06/2024)


Saat ini makin banyak masyarakat yang terseret judol. Hal ini tak lepas karena urusan individu saja tapi ada faktor lain, salah satunya kondisi ekonomi negara ini yang kian hari kian mencekik rakyat. Perekonomian Indonesia benar-benar di ujung tombak.


Terparah sejak pandemi Covid-19 menyerang, negeri ini terus merosot dalam kubang resesi. Bagaimana tidak, berbagai barang kebutuhan pokok merangkak naik bersamaan. Belum lagi, saat ini makin parah, selain PHK besar-besaran tingkat pengangguran terjadi di mana-mana. 


Ini ancaman besar negara, di sisi lain, penguasa bukan membantu rakyat dari kubang kemiskinan, penguasa malah menambah beban rakyat dengan berbagai pajak di semua lini kehidupan.


Yang terbaru itu penguasa membuat keputusan untuk memungut pajak tabungan perumahan rakyat, dengan alasan membantu rakyat untuk memiliki rumah yang layak huni, yang diambil dari penghasilan rakyat sebesar 2,5% untuk Tapera. (tapera.go, 05/06/2024)


Perintah yang telah Allah Swt. sampaikan itu benar adanya bahwa haram bertransaksi riba. Sebab riba telah memunculkan malapetaka, baik pada seseorang, terlebih masyarakat, maupun negara. 


Hanya beberapa pihak yang diuntungkan dari praktik riba tersebut, yakni para pengusaha yang menikmati keuntungan dari bisnis riba berjalan. Parahnya, praktik riba seakan dibiarkan dan tepatnya dilegalkan oleh negara. Tak sedikit masyarakat yang terjerat judol. Sementara di luar sana, praktik riba ilegal bahkan marak dan bebas mencari mangsa tanpa khawatir akan sanksi yang menjerakan. 


Jelas hal ini telah dilegalkan penguasa, di mana praktik riba alias lintah darat telah memberikan bantuan dengan dalih investasi di bidang keuangan, pembangunan, bahkan perusahaan. Judol dibiarkan beroperasi dengan mudah di tengah-tengah masyarakat.


Jika negaranya saja tertarik memainkan praktik riba bahkan melindungi, bagaimana masyarakat bisa berharap masalah ini bisa terselesaikan secara sempurna.


Sebagai muslim kita tahu bahwa riba telah diharamkan Allah Swt. sejak 13 abad yang lalu. Sebagaimana dalam firmanNya: 


Artinya: “Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.” (TQS Al Baqarah: 275)


Bahkan Allah Swt. juga memerintahkan untuk seluruh manusia yang mengaku muslim untuk meninggalkan praktik riba ini. Sebagaimana dalam firman Allah Swt, “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman.”  (TQS Al-Baqarah: 278)


Inilah ancaman nyata dan siksa bagi pelaku riba tentu berat. Sebagaimana di dalam firmanNya: Yang mana Allah telah menghalalkan aktivitas jual beli dan melarang riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan) dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka mereka kekal di dalamnya.” (TQS Al-Baqarah: 275)


Naudzubillah, semua ayat di atas telah menjelaskan tentang keharaman riba. Sikap seorang mukmin berusaha untuk menjauhi riba dan segera meninggalkan riba jika telanjur terlibat.


Mewujudkan Kehidupan Tanpa Judol

Mewujudkan kehidupan tanpa riba tidak bisa dilakukan secara personal. Atau terbentuknya beberapa lembaga amal untuk membantu para gharimin (orang yang terlilit utang), jelas ini bukan solusi meski pun aktivitas tersebut mulia. Jelas, hal ini tidak akan membantu seluruh masyarakat yang berutang. 


Aktivitas ini tidak akan terselesaikan selama praktik riba masih ada bahkan dilegalkan negara, belum lagi kondisi ekonomi masyarakat yang sulit, tentu menjadi alasan utama orang untuk berutang riba. Sebab sistem ekonomi yang diterapkan negara ini masih bergantung pada aktivitas riba, dan selama itu pula rakyat akan tetap terjerat riba dan korban riba akan terus berjatuhan.


Jelas hal ini tidak cukup sebatas dilakukan individu, lembaga, artinya butuh peran negara. Di mana Daulah Islam sebagai sistem pemerintahan Islam tentunya akan menerapkan sistem Islam secara kafah. Dan dengan tegas Daulah Islam akan menghalangi berdirinya lembaga keuangan riba, baik berupa lembaga, perbankan, leasing, KPR dan lain sebagainya. 


Daulah Islam pun tidak akan melakukan utang riba, termasuk utang luar negeri. Bila terpaksa berutang, maka yang akan dibayar hanya pokoknya saja bukan bunganya. Sedangkan utang riba yang dilakukan individu rakyat, akan dihilangkan klausul ribanya, sehingga cukup membayar pokoknya. Bahkan penagihannya pun diatur sehingga selaras dengan Islam. 


Tentu hal ini, akan mencegah terjadinya teror di tengah-tengah umat. Bila ada masyarakat yang fakir atau miskin, maka mereka berhak mendapat bantuan berupa dana zakat dan bantuan dari Daulah Islam. Baik berupa bantuan maupun berupa sembako, pakaian, pekerjaan, modal usaha, pendidikan adab lain sebagainya.


Dan umat didorong untuk tolong menolong untuk meminjamkan saudara sesama muslim yang membutuhkan pinjaman dana tanpa ada riba di dalamnya. Sebab umat didorong untuk beramal saleh. Hadirnya baitulmal pun akan memberikan efek baik untuk umat baik masalah keuangan, zakat, santunan, hibah, atau pinjaman tanpa riba. 


Begitulah kesempurnaan sistem Islam yang mampu mewujudkan kehidupan tanpa riba, sehingga hidup masyarakat menjadi berkah sebab diselimuti dengan rida Allah Swt.. Wallahualam bissawab. [SJ]