Alt Title

Menggantung Asa di Langit Istanbul

Menggantung Asa di Langit Istanbul

 


Setelah penolakannya untuk pindah agama, Rafael berubah sikap. Nurul diperlakukan layaknya pembantu

 Ia tidak pernah diberi uang untuk keperluannya, bahkan ia dilarang untuk keluar rumah, semuanya diatur. Tetapi, ia tetap tegar demi anaknya yang masih membutuhkan perhatian

_________________________


Penulis Rumaisha

Kontributor Media Kuntum Cahaya 


KUNTUMCAHAYA.com, CERBUNG - "Apa? Kita menikah di gereja? Bukankah kamu berjanji akan masuk Islam dan menikah sesuai agama Islam?" teriak Nurul.


"Santai aja. Setelah menikah di gereja, nanti aku pikirkan tawaranmu, yang penting kita menyelamatkan bayi yang ada dalam kandunganmu dulu. Agar kelak ketika lahir punya orang tua," jawab Rafael dengan tenang.


Tadinya Nurul ragu. Tetapi, ia tidak punya pilihan lagi selain mengikuti apa kata Rafael.


Dengan cepat, Rafael mempersiapkan segala sesuatunya, agar mereka segera menyatukan janji suci di gereja. Dengan dihadiri kerabat dari Rafael, pernikahan beda agama itu berlangsung tanpa restu kedua orang tua Nurul. Nurul benar-benar telah lupa akan jati dirinya sebagai seorang muslimah. Seorang muslimah haram hukumnya menikah dengan laki-laki kafir.


Setelah menikah, mereka tinggal di sebuah rumah kontrakan di Kota Jakarta. Malam pertama yang dinanti oleh pasangan yang baru menikah, tidak mereka nikmati, karena sudah dihabiskan di malam yang lain atas desakan syahwat yang bejat. Ranjang pengantin tak seindah yang diimpikan. Mereka menikah karena semata menyelamatkan benih yang sudah ada dalam kandungan Nurul.


Hari berganti hari. Bulan berganti bulan. Sudah hampir tujuh purnama Nurul lewati. Tanda-tanda Rafael untuk masuk Islam belum nampak. Sampai akhirnya, bayi mungil tanpa dosa itu pun terlahir ke dunia. Nurul berharap, semoga saja kelahiran buah hatinya akan mempercepat Rafael untuk mengucap syahadat.


Berbeda dengan Rafael. Menurutnya, kelahiran bayi mungilnya justru akan semakin mengikat Nurul untuk tetap bertahan di sisinya, sedangkan dia sendiri tidak ada niat untuk berpindah keyakinan.


Sampai suatu hari, dengan terus terang Rafael mengajak Nurul untuk pindah agama, mengikutinya.


"Tidak, aku tidak mau pindah agama. Kamu telah membohongiku, telah menipuku." Nurul memukul dada Rafael bertubi-tubi.


"Aku juga kalau kamu tidak hamil, ogah tahu. Masih muda sudah menikah, untung ada orang tuaku yang membiayai kebutuhan kita."


Setelah penolakannya untuk pindah agama, Rafael berubah sikap. Nurul diperlakukan layaknya pembantu. Ia tidak pernah diberi uang untuk keperluannya, bahkan ia dilarang untuk keluar rumah, semuanya diatur. Tetapi, ia tetap tegar demi anaknya yang masih membutuhkan perhatian.


Ketika Rafael tidak di rumah, Nurul rajin kembali belajar Islam. Ia juga kembali melakukan salat tanpa sepengetahuan suaminya. 


“Hai kamu, lagi apa? buang-buang waktu saja, cepat aku mau makan,” kata Rafael sambil menjambak mukena Nurul.


“Aku kan masih muslim, tidak bolehkah aku menjalankan agamaku sendiri?”


“Tidak boleh. Awas ya, sekali lagi aku lihat kamu salat, aku akan tendang kamu keluar.”


Nurul, hanya bisa meneteskan air mata. Kalaulah penyesalan itu bisa ia ganti dengan air mata darah, maka ia akan melakukannya dan bersujud di depan orang tuanya. 


“Ya Allah, kini aku datang menghadap kepada-Mu. Menyampaikan pengakuan dan penyesalan dengan hati yang hancur luluh. Kalaulah, masih ada kesempatan untuk bertobat, berilah hamba jalan keluar yang terbaik menurut-Mu. Aamiin.”


Dengan tergopoh-gopoh, Nurul membereskan mukenanya dan menyimpan di tempat rahasia. Ia tidak mau Rafael menemukannya. Setelah itu, Nurul menyiapkan makan seperti permintaan Rafael. 


Satu-satunya yang memberikan kekuatan agar ia terus bertahan adalah anaknya, Kania. Nurul berjanji akan menjaga anaknya itu dari pengaruh bapaknya dan keluarga besar Rafael. 


Apa yang menimpanya, enggak mungkin ia bercerita kepada keluarga. Abah, ibu, dan adik satu-satunya pasti membencinya. Cukuplah mereka menanggung malu akibat perbuatannya. 


“Besok, aku akan keluar kota selama dua hari. Awas kalau kamu macam-macam. Akan ada seseorang yang mengawasimu,” kata Rafael sambil membawa tas.


Nurul tidak menjawab. Ia sibuk mengurus si kecil yang baru saja mandi. Batinnya berkecamuk, apakah ini waktu yang tepat agar bisa terlepas dari neraka dunia? Tapi bagaimana caranya, Rafael telah menempatkan bodyguard di rumahnya.


Hari pertama tanpa Rafael, ia mencari cara agar bisa keluar dari sarang setan ini. Di luar sang bodyguard sedang berdiri sambil mengawasi keadaan rumah.


Dengan perasaan yang gemetar, Nurul menguatkan diri menjalankan strategi yang telah disusunnya. 


"Hai, kamu. Mom Monika sakit dan tidak ada orang di rumah. Tolong kamu antar ke dokter, kasihan dia," ujar Nurul. 


Monika adalah mertuanya yang selama ini membiayai segala kebutuhannya. 


"Tapi, Nyonya, saya disuruh jaga di sini. Saya tidak berani melanggar perintahnya." 


"Kamu takut saya kabur? yang benar saja, pagi buta bawa anak, mau kabur ke mana?" sentak Nurul. 


"Baik, Nyonya, kalau begitu. Saya pergi. 


Kesempatan ini dipakai Nurul untuk kabur dari rumah terkutuknya. Hanya tas baju anaknya dan pakaian yang menempel di badan, yang dibawa. Bak dikejar hantu, secepat kilat ia sudah duduk di atas angkutan kota menuju terminal bis. 


“Ya Allah, lindungi hamba dan selamatkan hamba untuk sampai di rumah Ibu dengan selamat,” pintanya dalam hati.


Hampir setahun Nurul meninggalkan rumah yang di dalamnya penuh cinta. Tidak banyak yang berubah. Hanya saja, siang itu terlihat banyak orang yang berdatangan. Di sudut pagar terlihat bendera kuning tertancap. Hatinya mulai berkecamuk. Ada apa? Siapa yang telah meninggal? 


Nurul menyibakkan kerumunan orang yang ada di depannya. Ia melihat Umar sedang menerima bela sungkawa dari para tamu. Matanya sembab. 


“Mar, ada apa ini?”


“Alhamdulillah, Teteh pulang. Abah ... Abah meninggal.” Umar tak kuasa menahan haru. Ia  memeluk Nurul dengan deraian air mata. Dengan sigap, ia mengambil anak yang berada dalam gendongan Nurul yang hampir jatuh.


“Abah, maafkan Nurul. Nurul telah berdosa,” teriaknya sambil menubruk jasad Abahnya.”


"Kamu masih berani datang, gara-gara kamu, Abahmu meninggal. Pergi kamu!" teriak Irma dari dapur.  


Umar menghampiri dan menenangkan ibunya. Semua orang yang hadir terlihat kaget dengan pemandangan yang ada di depannya. 


Nurul memeluk Ahmad yang sudah terbujur kaku, diciuminya wajah abahnya tak henti-hentinya. Penyesalan merasuki jiwanya, geletar duka yang mencabik-cabik sanubari. Air mata darah sekalipun tak akan mampu mengembalikan abahnya. Semoga saja kepulangannya ke rumah dengan tobat yang dilakukannya akan membuat abahnya tenang menuju keabadian. [GSM]

- Bersambung -