Alt Title

Menggantung Asa di Langit Istanbul (Bagian 10)

Menggantung Asa di Langit Istanbul (Bagian 10)


Yusuf teringat seseorang yang selama ini menginspirasinya. Sosoknya secara tidak langsung telah mengantarkan ia untuk bersyahadat. Mungkin dirinya tidak akan menjadi Yusuf Borg, bila tidak pernah bertemu dengan Umar

Setidaknya, keislamannya tidak akan secepat itu

_________________________


Penulis Rumaisha

Kontributor Media Kuntum Cahaya 


KUNTUMCAHAYA.com - CERBUNG, Hari telah petang. Langit di Desa Blimbingsari di Kabupaten Jembrana, Bali masih biru meski tidak sebiru siang tadi. Seorang wanita paruh baya berdiri di depan jendela dengan tatapan kosong. Ia menarik napas panjang seakan ingin melepaskan beban yang ada di dalam dadanya. Sudah dua dasawarsa lebih ia tinggal di desa ini. Desa yang secara adat berbeda jauh dengan kebiasaannya.


"Ravza, di mana Kau?"


"Ya, Aku di sini," yang dipanggil menyahut dan menghampiri ke arah suara.


"Kenapa, Kamu? Masih bersikeras dengan niatmu itu?"


"Iya, Pa. Mama tidak mau berbohong terus-menerus menyembunyikan rahasia ini. Kita tidak tahu, kapan ajal menjemput, sementara masih ada rahasia yang disembunyikan dan dibawa mati."


"Ah, Kamu terlalu lebay. Biarkan saja dia dalam agamanya sekarang, toh kita yang merawat dan membesarkannya," kata Samuel.


"Aku khawatir, Pa. Sudah beberapa bulan ia tidak pulang. Ditelpon pun tidak diangkat. Aku takut terjadi apa-apa," jawab Ravza. Wajahnya terlihat cemas.


Peristiwa itu berawal ketika adiknya berkunjung ke rumah. Ia kelepasan bicara tentang ibu kandungnya. Ketika ditanya lebih lanjut, semua gelagapan dan terkesan ada yang ditutupi. Ravza pun belum berani bercerita  tentang masalah sebenarnya.


Ravza sebenarnya seorang muslim sebelum ia pindah dan berubah kewarganegaraan mengikuti suaminya. Begitu pun suaminya, walaupun bukan muslim sejati. Entah sejak kapan tepatnya, suaminya itu berubah keyakinan kembali ketika pindah ke tempat asalnya, dan memaksa Ravza  untuk mengikutinya. Desa Blimbingsari sendiri penduduknya hampir 90 %  beragama Protestan. Nenek moyang Samuel secara turun-temurun juga memeluk keyakinan ini. Inilah, yang membuat Ravza tidak mempunyai pilihan lain, sekalipun dalam hatinya berontak.


*****


"Alhamdulillahirabbil 'alamin." Hadirin mengucapkan kalimat itu serentak ketika David Borg selesai mengikrarkan kalimat syahadat. Mengenakan Koko lengan panjang, serta peci putih, semua serba putih. David sangat bahagia. Seolah ia baru terbebas dari beban yang begitu berat. Matanya berkaca-kaca. Dua butir air mata bergulir, membasahi pipinya.


"Hadirin semuanya yang hadir di tempat ini, mulai saat ini saudara kita ini atas keinginannya sendiri mengganti namanya menjadi Yusuf. Yusuf Borg. Borg adalah nama turun-temurun di keluarganya. Ia menggunakan nama itu, sebagai bentuk kecintaan kepada leluhurnya," ucap Imam Anwar Ibrahim yang tadi membimbing David masuk Islam.


Imam Anwar menjabat tangan Yusuf. Imam Anwar mengucapkan selamat kepada Yusuf Borg. Lalu mereka berdiri. Hadirin yang hadir, satu persatu mengucapkan selamat kepada Yusuf.


"Semoga Allah melindungi Anda selalu, saudaraku." "Anda menjadi manusia baru yang terbebas dari segala dosa." "Jangan sungkan menghubungi kami jika Anda memerlukan bantuan." Itulah ucapan-ucapan dari saudara seiman yang menyalaminya. Semua yang hadir di Masjid Istiqomah larut dalam keharuan.


Inilah titik balik Yusuf, setelah sebelumnya ia mengalami perjalanan yang sangat berat. Kegalauan tentang tiga pertanyaan besar yang ada dalam dirinya terpecahkan. Selama 20 tahun dia gelisah. Walaupun keluarganya beragama Protestan, tetapi ia tidak pernah dipahamkan. Yusuf lebih menyerupai seorang atheis. Sejak kepergiaannya enam bulan yang lalu, ia hidup tak punya arah. Depresi, mabok, keluyuran. Bahkan ketika bekalnya habis, ia terpaksa menjadi kuli panggul di pasar. Terkadang juga menjadi buruh cuci piring untuk bisa makan satu piring sebagai pengganjal perut.


Sampai akhirnya ia bertemu dengan Imam Anwar di depan masjid. Entahlah, ia sering berlama-lama memandang masjid dari jarak yang agak jauh. Entahlah, hatinya serasa tenang ketika berada di dekatnya. Imam Anwar lah yang merangkulnya, menanyai, bahkan memberinya makanan, tanpa memperhatikan agama yang dipeluknya.


Yusuf teringat seseorang yang selama ini menginspirasinya. Sosoknya secara tidak langsung telah mengantarkan ia untuk bersyahadat. Mungkin dirinya tidak akan menjadi Yusuf Borg, bila tidak pernah bertemu dengan Umar. Setidaknya, keislamannya tidak akan secepat itu.


Tetapi, sampai hari ini, Yusuf belum bisa menghubunginya. "Ah, mungkin ia sibuk," pikirnya.


[Nak, pulanglah! Ada sesuatu yang ingin Mama sampaikan terkait keingintahuanmu selama ini. Mama tunggu. Peluk cium. Mamamu]


Yusuf melihat ponselnya. Ternyata dari Mamanya.


Yusuf berjanji, ia akan pulang menemui mamanya, dan memberi tahu tentang keIslamannya, apapun yang akan terjadi ia akan menerimanya. Bagaimanapun mereka adalah orang tua yang telah membesarkannya dan menyayanginya.


Esok hari, lembaran baru bagi Yusuf sebagai seorang muslim. Hatinya merasakan kedamaian yang luar biasa. Hari ini, ia akan pulang. Setelah pamitan kepada Imam Anwar dan menceritakan semuanya, ia berangkat menggunakan kereta malam menuju Gubeng dan meneruskan ke stasiun Banyuwangi. 


Pukul 22.00, Yusuf tiba di pelabuhan penyeberangan Gilimanuk. Untuk sampai ke rumahnya, ia harus menempuh jarak sekitar 15 km lagi. Ia melakukan salat Isya dulu sebelum melanjutkan perjalanan. Walaupun bacaan salatnya masih terbata-bata, semangat Yusuf untuk belajar patut diacungkan jempol.


"Assalamualaikum."


"Siapa, ya?" Orang yang berada di dalam rumah balik bertanya. Ravza terkejut melihat siapa yang datang.


"David, kamu kah itu?"


Seorang laki-laki dengan baju koko putih dan peci warna senada menganggukkan kepala. Laki-laki yang dipanggil David menyalami Ravza.


"Kamu, ada apa? Tiba-tiba bersikap seperti ini? Kamu ke mana aja selama ini?" Tanyanya dengan bertubi-tubi. Ravza memeluk erat David, seakan tidak mau melepaskan lagi.


"Nanti aku ceritakan, Ma. Apa yang sesungguhnya terjadi."


"Ya, sudah, istirahat dulu, kamu pasti lelah," sahut Ravza.


Di kamar tidurnya, Yusuf merebahkan diri. Ia berusaha untuk mengistirahatkan badan dan pikirannya. Hampir sehari semalam dalam perjalanan. Cuaca yang sangat panas sungguh telah membuatnya tak berdaya. Nyanyian jangkrik di luar bagai musik pengantar tidurnya.


"Nak, bangun sudah subuh!" Teriakan dari luar kamar mengejutkan Yusuf.


"Innaa lillahi, aku belum salat Subuh," gumamnya.


Yusuf cepat-cepat mengambil air wudhu dan melakukan salat dua rakaat. Ia, teringat pesan Imam Anwar agar senantiasa melafazkan doa ini sehabis salat, walaupun dengan terbata-bata.


La Ilaha Illa Anta subhanaka ini kuntu minadzolimin


Setelah salat, Yusuf menghampiri orang tuanya yang sedang berada di ruang makan, sambil menyantap sarapan pagi. Setelah menyalami papanya, ia pun duduk di sebelahnya.


"Ke mana aja, Boy? Kamu bikin Mamamu cemas," kata Samuel.


"Anak laki-laki kan harus mencari jati diri. Mencari jawaban atas segala kegundahanku selama ini, Pa. Di rumah aku tidak pernah mendapatkannya," jawab Yusuf tenang.


"Ooooohh." Hanya kata itu yang keluar dari mulut Samuel. Ia semakin sadar, anaknya kini bukan anak ingusan lagi.


"Ma, Pa, apa sesungguhnya yang ingin dibicarakan?"


"Nak, mungkin inilah saatnya kamu mengetahui yang sesungguhnya."


"Ada apa sebenarnya, Ma?" Tanya Yusuf semakin penasaran.


"Mama, dulu mempunyai sepupu namanya Ahmed Reyhan. Bapaknya adalah pengusaha minyak di Turki. Tapi sayang, karena dibesarkan dalam bergelimang harta, Reyhan tumbuh menjadi anak yang angkuh. Berkelakuan buruk, sering mabuk-mabukan dan main perempuan. Suatu saat, ia menyukai seorang gadis anak pegawai bapaknya. Tetapi, cintanya bertepuk sebelah tangan. Rupanya nasib baik masih berpihak kepadanya. Bapak gadis tadi terlilit utang kepada bapaknya. Kesempatan ini dipakai oleh Reyhan untuk bernegosiasi, yaitu utangnya lunas asal ia bisa menikah dengan gadis pujaannya. Singkat cerita, pernikahan pun terjadi tanpa cinta. Malang bagi si gadis, Reyhan meninggal karena over dosis obat. Padahal, pernikahannya baru seumur jagung. Terlebih lagi, di dalam rahim gadis itu ada bakal calon manusia.


Ravza berhenti sebentar, sambil menghela nafas panjang. Dengan perasaan campur aduk, ia melanjutkan ceritanya dengan deraian air mata. Sementara, Samuel hanya menjadi pendengar yang baik, dan perasaan was-was menghinggapinya.


"Jangan bilang bahwa janin itu aku, Ma?"


"Iya, Nak, kamu. Kami merahasiakannya sampai detik ini, khawatir setelah tahu yang sebenarnya kamu akan meninggalkan kami."


"Tapi, kenapa Mamaku sendiri membuangku?"


"Bukan membuang, Nak. Situasinya waktu itu sangat genting. Mama kamu yang masih belia, cara berpikirnya masih labil, ditambah lagi tidak lama kemudian orang tuanya meninggal. Jadi Mamamu menitipkan kamu kepada kami, karena kebetulan kami belum mempunyai anak."


Yusuf bersikap sangat tenang. Tidak ada air mata yang mengalir di pipinya. Tak ada luapan emosi.


"Apakah Mamaku muslim?"


"Iya, Nak."


"Ma, Pa, setelah mendengar riwayat hidupku, rasa hati semakin yakin akan sikap yang kuambil baru-baru ini."


"Apa maksudmu?" tanya Ravza. Ia menduga bahwa Yusuf (David) akan membencinya dan meninggalkannya.


"Ma, dengan kesadaran sendiri dan hasil pencarian yang selama ini dilakukan, aku sudah menemukan jawaban yang pasti tentang kegundahanku selama ini. Aku sekarang sudah menjadi muslim."


"Apa? Kamu?" Mata Ravza terbelalak.


"Iya, Ma. Aku sudah bersyahadat."


Ravza dan Samuel terdiam. Mereka tidak bisa memaksakan kehendaknya. Karena, mereka memahami, setiap orang bebas memeluk agama yang diyakininya, begitulah pemahaman sekuler yang diajarkan secara turun-temurun dari orang tuanya.


"Apakah kamu akan meninggalkan dan membenci kami, Nak?"


"Ma, Pa, bagaimanapun kalian adalah orang tua yang telah merawatku. Kita masih bisa bertemu dan berkabar. Dalam Islam, dari buku-buku yang ku baca, walaupun kita berbeda akidah, tapi ada ikatan nasab, kita tetap bisa menjalin hubungan. Tapi mungkin, aku tidak akan tinggal di sini lagi. Aku ingin mencoba hidup mandiri."


"Papa menghargai pendapat dan keputusanmu, Nak," kata Samuel.


"Oh, iya. Satu lagi yang belum kau ketahui. Keluargamu meninggalkan warisan untukmu, yaitu beberapa perusahaan dan sebuah hotel Grand Belish, Kusadasi di Turki," kata Ravza. [GSM]

Bersambung