Alt Title
Kala Jaminan Pangan Hanya Sebatas Harapan

Kala Jaminan Pangan Hanya Sebatas Harapan



Rakyatnya tidak bisa tanpa tercukupi kebutuhan pangannya

terutama beras dengan jumlah pasokan yang sangat besar 


__________________________


Penulis Siti Nurtinda Tasrif 

Kontributor Media Kuntum Cahaya


KUNTUMCAHAYA.com, OPINI - Pangan Akan Terjamin
Pada dasarnya, setiap makhluk hidup tidak akan terlepas dari kebutuhan. Dalam hal ini tidak satupun yang terlepas termasuk manusia. Setiap manusia diberikan potensi hidup dalam dirinya yaitu naluri dan kebutuhan jasmani. Di mana naluri ini sesuatu yang bisa dibendung namun pengaruhnya menjadikan orang tersebut gelisah apabila tidak terpenuhi.


Berbeda halnya dengan kebutuhan jasmani. Apabila tidak dipenuhi akan menyebabkan kematian. Salah satu hal terpenting yang menjadi bagian kebutuhan jasmani adalah makan. Tentu semua pasti sadar tidak ada yang benar-benar mampu menahan dirinya dari rasa lapar selama berhari-hari tanpa makan atau minum. Penting untuk memahami kebutuhan pangan bagi diri sendiri. Terutama dalam lingkup negara, di mana negara harus memahami kebutuhan pangan rakyatnya.


Indonesia merupakan negara yang kebutuhan pangan paling besar terletak pada berasnya karena bagi orang Indonesia beras adalah kebutuhan pokok dan tidak bisa dijauhkan apalagi dihilangkan. Selain itu, Indonesia juga negara yang memiliki pasokan beras terbanyak sehingga bisa saja rakyat Indonesia hidup dengan tenang di dalamnya.


Namun, apa yang terjadi jika pasokan berasnya mencapai obesitas dan distribusinya tidak bagus? Sebagaimana yang penulis kutip dari Media ekonomi.bisnis.com (19-08-2025) bahwasanya Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) mewanti-wanti tumpukan stok beras di gudang Perum Bulog untuk segera disalurkan agar tidak menimbulkan kerugian negara.


Sekretaris Jenderal Kemendagri Tomsi Tohir mengatakan tingkat penyaluran beras stabilisasi pasokan dan harga pangan (SPHP) Bulog masih terbilang rendah. Dia menjelaskan lambatnya penyaluran beras Bulog akan berdampak pada kenaikan harga beras yang kini telah terjadi di lapangan. Sungguh ironis sistem distribusi pangan di negeri tercinta ini.


Menyebabkan banyak sekali masalah bagi rakyat padahal rakyatnya tidak bisa tanpa tercukupi kebutuhan pangannya. Terutama beras dengan jumlah pasokan yang sangat besar, tetapi pendistribusian yang buruk menyebabkan ketimpangan pangan yang sangat besar. Di samping itu, Indonesia terus menerima impor beras yang menjadikan masalah makin rumit. Wajar apabila rakyat merasa diabaikan dan dipinggirkan.


Materialisme Menjamur 


Perlu diketahui bahwa masyarakat saat ini tidak sadar terhadap masalah yang menjeratnya. Bahkan kesulitan dalam masalah pangan, rakyat tetap tidak mengerti di mana masalahnya padahal itu sangat dekat dan bisa jadi lebih dekat dari urat nadi. Masalah datang apabila persepsi manusia bermasalah.


Kebanyakan manusia pada saat ini, bahkan pada alam bawah sadar memiliki persepsi yang penting hidup keluarga baik, urusan orang lain tidak perlu dipikirkan. Segala hubungan hanya boleh terjalin apabila saling membawa keuntungan. Inilah yang disebut dengan materialisme. Di mana setiap orang hanya menganggap bahwa materi yang terpenting didunia bukan yang lain. Begitu pun dengan hubungan, tanpa adanya materi untuk apa dipertahankan.


Tanpa umat sadari, persepsi tersebut dilandasi oleh asas pemikiran yang bersumber dari kejeniusan manusia yakni kapitalisme sekularisme. Asas ini memengaruhi seluruh pandangan hidup yang baik dalam diri manusia berubah menjadi buruk dan lucunya masyarakat mengira asas ini membawa banyak kebaikan padahal asas ini mengisap darah penganutnya perlahan-lahan hingga mengalami kematian yang tidak wajar.


Masalah yang diderita umat semata karena menganut kapitalisme sekularisme. Sebuah sistem yang menjadikan manusia bebas mengambil keputusan tanpa perlu terikat kepada Tuhannya. Wajar apabila para kapital beras bisa sesuka hati melakukan tarik ulur terhadap harga beras. Bahkan di titik yang menyia-nyiakan kerja keras para petani yang sebenarnya mayoritas di negeri ini.


Inilah hasil yang diciptakan oleh sistem buatan manusia ini. Di mana kehidupan yang serba cukup hanya berhak dirasakan oleh orang yang berada saja. Adapun yang di bawah itu harus menelan pil pahit kemiskinan yang tiada akhir bahkan merenggut seluruh hak-hak yang harusnya dimiliki baik pangan, papan, dan sandangnya.


Islam Menjamin Pangan 


Berbeda dengan kapitalisme, Islam mengutamakan kemaslahatan dalam memenuhi seluruh kebutuhan. Bukan dengan asas materi namun asas kemaslahatan karena di dalam Islam, penguasa adalah pengurus dan ia bertanggung jawab akan hal tersebut. Sebagaimana sabda Rasulullah saw.:


Ingatlah, setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian bertanggung jawab untuk apa yang dipimpinnya. Imam yang memimpin manusia adalah pemimpin dan dia bertanggungjawab atas apa yang dipimpinnya...." (HR. Al-Bukhari)


Karena itu, perlu adanya negara yang menerapkan Islam kafah agar tatanan kehidupan berdasarkan hukum-hukum dari yang Maha Pencipta. Bukan dari ciptaan yang serba kurang dan terbatas. Di samping itu, dalam Islam pendistribusian pangan juga jelas, dan tidak semuanya diberikan instan. Di mana setiap kepala keluarga akan diberikan tanah berikut biji-bijian serta pupuk untuk membantu kebutuhan hidupnya.


Dalam hal ini, tidak ada pembayaran pajak, iuran atau yang serupa dengan itu. Bahkan dalam Islam pemimpin itu adalah pelayan sehingga pemimpin harus benar-benar memberikan perhatian ekstra kepada rakyat agar tidak terjadi kezaliman apalagi tidak meratanya pendistribusian pangan. Sungguh luar biasa pengaturan Islam untuk menjamin kebutuhan pangan.


Khatimah


Begitulah potret Islam dalam mengurusi umat. Hal ini makin menguatkan bahwa umat butuh akan tegaknya negara Islam yakni negara dengan sistem Islam yang menjadikan Kitabullah dan Sunah Rasulullah sebagai sumber hukumnya. Karena dengan itu, harapan akan terjaminnya pangan bisa segera terwujud. Di samping itu, para pengemban Islam juga harus tetap teguh terhadap aktivitasnya agar tercapainya tujuan dalam hidup baik dunia maupun akhirat. Wallahualam bissawab. [Dara/MKC]

Tren Kumpul Kebo Menyasar Generasi Kembali kepada Aturan Ilahi

Tren Kumpul Kebo Menyasar Generasi Kembali kepada Aturan Ilahi



Masyarakat harus peduli kepada urusan orang lain dan itu adalah bagian dari syariat yang wajib dilakukan

yakni dakwah menyeru kepada kebaikan dan mencegah dari kemungkaran

______________________________


Penulis Rahmatul Aini

Kontributor Media Kuntum Cahaya dan Aktivis Dakwah


KUNTUMCAHAYA.com, OPINI - Berita pilu dari seorang wanita muda, Tiara Angelia Saraswati (25) tewas mengenaskan di tangan kekasihnya Alvi Mulana (24) sampai saat ini sudah ada 554 potongan tubuh korban. Kasat Reskrim Polres Mojokerto AKP Fauzy Pratama mengatakan, kasus mutilasi Alvi sangat sadis karena tersangka mengalami anomi sehingga tega melakukan dehumanisasi terhadap korban. (detikjatim.com, 15-09-2025) 


Alvi tega membunuh sang kekasih yang sudah hidup selama 5 tahun dalam satu atap. Puncak kemarahannya ketika tidak dibukakan pintu kos dan kesal atas tuntutan gaya hidup sang pacar. Dari kisah ini tren yang menjadi fomo kaum muda adalah living together hidup bersama tanpa ikatan yang sah (kumpul kebo). 


Bahkan hal ini sudah menjadi sesuatu yang biasa terjadi di tengah generasi muda. Dengan alasan ajang memahami pasangan masing-masing sebelum ke tahap lebih serius, mampu untuk mengefisiensi biaya hidup dan masih banyak lagi.


Lebih miris lagi adalah jika terjadi seperti ini, kemana orang tua mereka? Apa selama 5 tahun anaknya tidak pernah dikunjungi atau sekadar memberikan perhatian yang lebih. 


Kehidupan Sekuler Biang Kerusakan 


Paham sekularisme terus mendarah daging di semua kalangan, termasuk pada diri kaula muda. Pemisahan agama dengan kehidupan membuat hidup rasanya makin terimpit dan sesak tanpa aturan. Lihat saja bagaimana cara mereka menyalurkan fitrah kasih sayang, tak ada sama sekali aturan Allah.


Kumpul kebo asal bisa memuaskan nafsu birahi semata, tidak lagi peduli rambu syariat. Bagaikan hewan yang tidak punya akal dan moral, bahkan mereka lebih hina. Memutilasi dengan ratusan potongan, dan membuang seperti sampah biasa, sungguh perbuatan yang biadab dan hina. 


Tren kumpul kebo seolah-olah sudah dinormalisasikan, bahkan fomo yang tidak boleh ketinggalan. Punya pacar bisa living together, making love, test drive apa pun istilahnya harus bisa mereka rasakan. Orang yang tidak pernah melakukan itu dibilang kuno, kulot, kudet. Sementara mereka berbangga ria berbuat zina.


Ditambah lagi dengan tidak ada rasa peduli masyarakat mencegah hal-hal yang bersifat mungkar. Apalagi dengan aktivitas pacaran bukanlah sesuatu hal yang tabu di tengah masyarakat. Seringnya masyarakat sendiri yang mengajak kaum muda bebas bergaul. Misal seperti istilah perawan tua, yang tidak menikah sampai tua biasanya dapat sebutan demikian, atau menuntut anak-anak mereka untuk segera mencari pacar agar bisa menikah dan masih banyak lagi. 


Culture sosial individualisme, merasa urusan orang lain bukanlah menjadi bagian dari urusan kehidupan mereka. Asal bukan mereka yang bermaksiat, maka tidak perlu risih memikirkan maksiat yang dilakukan orang lain.


Terkikisnya rasa kepedulian dan empati melakukan amar makruf juga dipengaruhi oleh sistem kapitalis sebab sistem ini menganut kebebasan yakni kebebasan berpendapat, berekspresi, berkepemilikan, beragama sehingga sangat wajar jika hidup dalam lingkaran individualisme. 


Negara Berlepas Tangan

 

Jika permasalahan maksiat sebegitu parah lalu kemana peran negara? Negara tidak hadir dalam meriayah rakyat seutuhnya. Ini baru kasus mutilasi terhadap pacar apalagi kasus hamil di luar nikah, aborsi, seks bebas, narkoba, dan lain-lain yang kebanyakan menyeret anak-anak muda. 


Negara tidak membentuk rakyat agar memiliki pemahaman yang benar tentang visi hidup padahal kehidupan yang manusia jalani itu ada maksud Allah menciptakan mereka, yakni beribadah. Bukan karena hidup hanya sekali dan melakukan sepuas hati, tetapi hidup hanya sekali maka pergunakanlah untuk beribadah tanpa tapi dan nanti. 


Bahkan mirisnya negara mendukung aktivitas maksiat. Buktinya banyak kafe atau tempat hiburan yang menjadi wadah para pemuda bisa bebas melakukan maksiat. Bahkan pacaran dan zina tidak termasuk dalam tindak pidana jika suka sama suka, akan dipidana jika ada korban. Sungguh sangat memprihatinkan. 


Islam Way Of Life 


Dalam sistem Islam, memperhatikan ketakwaan individu wajib dan perlu sebab benteng pertama seseorang bermula pada personal atau pribadinya, bertindak sesuai dengan pemahaman yang lahir dalam seseorang. Oleh karena itu, Daulah Islam akan membentuk pribadi yang bertakwa, menjauhi hal yang diharamkan oleh Sang Pencipta, seperti pacaran dan pembunuhan serta aktivitas maksiat yang lainnya. 


Tak hanya ketakwaan individu, kontrol masyarakat juga harus hadir untuk mengingatkan dan mencegah kemungkaran sebab ketakwaan individu ada batasnya. Istilah individualisme tidak ada dalam kacamata Islam. Masyarakat harus peduli kepada urusan orang lain dan itu adalah bagian dari syariat yang wajib dilakukan, yakni dakwah menyeru kepada kebaikan dan mencegah dari kemungkaran. 


“Barang siapa yang melihat kemungkaran maka ubahlah dengan tangannya, jika tidak mampu ubahlah dengan lisan, jika tidak mampu maka tolaklah dengan hati. Maka hal tersebut adalah selemah-lemahnya iman.” (HR. Muslim)


Hal yang paling penting adalah peran negara, yakni sebagai pilar yang kokoh harus bisa menerapkan syariat Islam secara kafah.


Islam tidak hanya hadir sebagai ibadah ritual, tetapi juga sebagai perangkat aturan manusia. Negara akan berperan aktif membentuk individu rakyat agar bertakwa, melalui sistem pendidikan akidah Islam, serta menerapkan aturan pergaulan Islam dan melaksanakan berbagai sistem sanksi islam bagi para pelanggar syariat. 


Maka antara pilar individu, masyarakat, dan negara harus saling bahu-membahu dalam rangka menciptakan kehidupan Islam dalam naungan Daulah Islamiah yang diatur oleh syariat Islam secara kafah. Wallahualam bissawab.

Kasus Mutilasi Bukti Hilangnya Hati Nurani Generasi

Kasus Mutilasi Bukti Hilangnya Hati Nurani Generasi




Sungguh miris melihat potret kehidupan saat ini

kini manusia seperti tak memiliki rasa belas kasihan bahkan hilang hati nuraninya

_________________________________


Penulis Sarinah 

Kontributor Media Kuntum Cahaya 


KUNTUMCAHAYA.com, OPINI- Beginilah malapetaka yang akan terjadi ketika Islam tidak dijadikan sebagai pengatur kehidupan manusia.


Tentu akan selalu ada konsekuensi yang harus diterima, mau tidak mau-suka tidak suka jika manusia tidak menjadikan Islam sebagai pemutus dalam setiap perkara, pasti akan ada malapetaka yang niscaya akan timbul.


Baru-baru ini terjadi kasus pembunuhan yang sangat sadis. Sungguh menyayat hati pelaku tega memutilasi jasad korbannya hingga menjadi ratusan potong bagian tubuh. Begitulah kebiadaban yang akan timbul jika manusia menjadi budak hawa nafsu, perbuatannya akan lebih buruk melebihi bintang.


Mengutip dari laman detiknews.com pada 8 September 2025, kasus pembunuhan dengan memutilasi korbannya terjadi di Jalan Raya Lidah Wetan, Kelurahan Lidah Wetan, Lakarsantri Surabaya. Tersangka bernama Alvi Maulana (24 tahun) dan korban berinisial TAS (25 tahun).


Pelaku dan korban adalah sepasang kekasih yang tinggal bersama dalam satu kos di Jalan Raya Lidah Wetan, Kelurahan Lidah Wetan Lakarsantri Surabaya.


Kronologi pembunuhan sadis ini berawal dari rasa kesal yang berlebihan yang dirasakan pelaku ketika ada tuntutan dari korban yang meminta pelaku memenuhi ekonomi.


Adegan pembunuhan sadis ini dimulai dari pelaku yang menusuk korban di bagian fatal. Pelaku menusuk korban dengan pisau dapur di bagian leher sehingga membuat korban kehabisan darah lalu tewas.


Tak cukup sampai disitu, pelaku kemudian membawa jasad korban ke dalam kamar mandi kos, lalu jasad korban dimutilasi hingga menjadi ratusan potongan. Bagian tubuh korban sebagian ada yang dibuang di semak-semak Dusun Pacet Selatan Mojokerto, Jawa Timur, dan sebagian lain bagian tubuh korban ada yang disimpan di laci lemari kamar kosnya, dan sebagian lagi dikubur di depan kos.


Kronologi ini sungguh sadis dan menyayat hati. Bagaimana tidak, seorang manusia lebih buas dari pada binatang. Dengan biadab pelaku menghabisi nyawa korban dan menyincangnya bak cincangan daging yang hendak dimasak.


Sungguh miris melihat potret kehidupan saat ini, kini manusia seperti tak memiliki rasa belas kasihan bahkan hilang hati nuraninya. Menjadi budak hawa nafsu dan lalai terhadap dunia, seakan dunia tempat mencari kesenangan belaka. Sama sekali tidak ada pertimbangan terhadap hari penghisaban dan pertanggung jawaban dihadapan Allah Swt. kelak.


Menyoroti tindak kriminal sadis yang terjadi di atas, menunjukkan bahwasanya generasi saat ini mengadopsi hukum kebebasan (liberal) sehingga merasa bahwa kehidupan ini bebas dan bertindak apa yang dia mau. Kebebasan adalah hukum yang diadopsi oleh sistem kapitalisme. Alhasil, wajar jika generasi saat ini berkarakter individualis, liberal, dan mati hati nuraninya. 


Kisah mutilasi ini menunjukkan busuknya sistem sekularisme kapitalis. Hal ini menyisakan catatan buram dan fakta tren dari kehidupan bebas generasi muda saat ini. Living together (kumpul kebo) kini menjadi tren di kalangan generasi muda, dengan berbagai alasan untuk menghemat biaya  pengeluaran kos, listrik, dan sebagainya menjadi alasan yang mereka buat untuk membenarkan perbuatan mereka.


Hal tersebut jelas bertentangan dengan sudut pandang Islam. Dalam Islam perbuatan kumpul kebo jelas adalah suatu yang benar-benar dilarang (haram). Dengan alasan apa pun laki-laki dan perempuan yang bukan mahram (ikatan darah atau ikatan pernikahan) tidak diperbolehkan tinggal dalam satu rumah.


Apa yang terjadi dalam kasus di atas, maka wajar jika tindakan kriminal (karimah) terjadi. Hal ini terjadi karena telah melanggar hukum yang Allah Swt. buat. Ada batasan yang harus dijaga dalam sistem pergaulan Islam, yakni tidak boleh ikhtilat (campur baur) antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahram.


Dalam pandangan Islam, hukum asal pergaulan antara laki-laki dan perempuan adalah infisal (terpisah) tidak boleh berkumpul di satu tempat bagi laki-laki dan perempuan yang bukan mahram. 


Hal itu adalah hukum yang Allah tetapkan dalam mengatur pergaulan laki-laki dan perempuan sehingga mereka terjauhkan dari perbuatannya zina.


Allah Swt. berfirman dalam surah Al-Isra' ayat 32 yang artinya: "Dan jangnlah kamu mendekati zina, sungguh zina adalah perbuatan keji dan (satu jalan) yang buruk."


Dengan menaati perintah Allah dan menjauhi apa yang dilarang-Nya niscaya kehidupan manusia akan jauh dari perbuatan kerusakan dan tindak kriminal. Keberhakan akan senantiasa menyelimuti bagi manusia yang rida merealisasikan hukum-Nya.


Maka adalah keniscayaan yang akan terjadi jika hukum Allah tidak diterapkan. Kerusakan terjadi di mana-mana, tindak kriminal akan senantiasa dijumpai. Fakta miris di atas menunjukkan bahwasanya betapa umat harus kembali kepada hukum Allah Subhanahu wa taala, satu-satunya hukum yang sahih (benar) hukum yang Allah buat untuk mengatur segala aspek kehidupan manusia agar keberkahan senantiasa menaungi. Wallahualam bissawab. [EA/MKC]

Solusi Dua Negara: Kabar Gembira atau Petaka?

Solusi Dua Negara: Kabar Gembira atau Petaka?



Resolusi dua negara terdengar manis, tetapi kenyataannya pahit

Ia hanya jebakan politik yang meninabobokan umat

_________________________


Penulis Mommy Hulya

Kontributor Media Kuntum Cahaya


KUNTUMCAHAYA.com, OPINI - Majelis Umum PBB baru saja mengesahkan resolusi solusi dua negara untuk konflik Isra*l-P4lestina. Sidang pada 12 September 2025 menghasilkan 142 suara mendukung, 10 menolak — termasuk Isra*l dan Amerika Serikat — serta 12 abstain.


Reuters menyebut momen ini sebagai dorongan besar menuju pengakuan internasional atas solusi dua negara. Sekilas, keputusan ini tampak menjanjikan. Banyak yang berharap Palestina segera merdeka dan rakyat Gaza keluar dari penderitaan panjang. (Detik.com, 13-09-2025)


Namun, apakah benar demikian? Di balik resolusi itu ada syarat: H4mas diminta menyerahkan otoritas kepada P4lestina di bawah pengawasan internasional. Al Jazeera menulis bahwa Isra*l menolak resolusi tersebut.


Kita pun tahu PBB selama ini tidak pernah mampu menundukkan Isra*l. Berkali-kali hanya mengeluarkan kecaman, tanpa tindakan tegas. Lebih ironis lagi, dunia lebih sering mengungkit serangan H4mas 7 Oktober 2023, seolah melupakan bahwa itu adalah bentuk perlawanan terhadap penjajahan. Bukankah Isra*l yang sejak awal merampas tanah P4lestina?


Janji Palsu dan Resolusi yang Mandul


Sejarah membuktikan, hampir semua resolusi PBB soal P4lestina berakhir tanpa hasil. Resolusi 242 tahun 1967 dan Resolusi 338 tahun 1973 menyerukan penarikan Israel dari tanah jajahan. Kenyataannya? Hingga kini pendudukan tetap berlangsung. WAFA mencatat, resolusi hanya menjadi dokumen indah di atas kertas tanpa konsekuensi nyata.


Penyebab utamanya jelas: Amerika Serikat. Negara itu terlalu sering menggunakan hak veto untuk melindungi Isra*l. Jadi wajar bila publik meragukan efektivitas resolusi kali ini.


Lebih dari itu, solusi dua negara berpotensi membuat P4lestina makin terpecah. Wilayahnya akan terfragmentasi menjadi kantong-kantong kecil, terisolasi, seperti pulau-pulau tanpa jembatan. Apa gunanya sebuah negara jika udara, perbatasan, dan keamanannya tetap dikendalikan pihak lain? Itu bukan kemerdekaan, melainkan ilusi.


G4za: Luka yang Tak Pernah Sembuh


Sementara itu, penderitaan G4za masih jauh dari kata usai. Anadolu Agency melaporkan lebih dari 65 ribu jiwa syahid sejak agresi Isra*l dimulai pada 7 Oktober 2023, dengan 166 ribu orang lainnya luka-luka. Angka itu bukan sekadar statistik, melainkan wajah-wajah manusia: anak, ibu, ayah, orang tua. Lebih dari 360 orang meninggal karena kelaparan, termasuk 130 anak. Bayangkan, anak-anak mati bukan karena peluru, tetapi karena perut kosong.


WHO menegaskan G4za Utara telah memasuki fase kelaparan. Tragisnya, sekitar 2.300 warga P4lestina tewas saat berebut bantuan kemanusiaan. Dunia modern, abad ke-21, tetapi orang masih mati hanya karena ingin sekadar makan.


Allah ﷻ berfirman:


> وَمَا لَكُمْ لَا تُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَالْمُسْتَضْعَفِينَ مِنَ الرِّجَالِ وَالنِّسَاءِ وَالْوِلْدَانِ

“Mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah, baik laki-laki, wanita-wanita maupun anak-anak...” (QS. An-Nisa: 75).


Ayat ini seakan berbicara langsung kepada kita. Apakah kita rela membiarkan mereka sendirian?


Jejak Sejarah Pembebasan P4lestina


P4lestina pernah bebas, bukan karena PBB, tetapi karena kepemimpinan Islam. Khalifah Umar bin Khattab membebaskan Al-Quds tanpa pertumpahan darah, bahkan menjamin keselamatan penduduknya. Ratusan tahun kemudian, Shalahuddin al-Ayyubi mengusir tentara Salib dengan keberanian dan kepemimpinan.


Mereka tidak menunggu resolusi. Mereka memimpin dengan iman. Rasulullah ﷺ bersabda:


> إِنَّمَا الْإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ

“Sesungguhnya imam (khalifah) itu laksana perisai, di belakangnya kaum Muslimin berperang, dan dengan dirinya mereka berlindung.” (HR. Bukhari dan Muslim)


Hadis ini menegaskan betapa pentingnya pemimpin yang melindungi umat.


Khil4fah: Bukan Mimpi tetapi Kenyataan


Dari sini jelas solusi dua negara hanyalah fatamorgana. P4lestina tidak akan merdeka bila masih tunduk pada skenario Barat. Hanya dengan kembali pada Islam kafah, umat memiliki kekuatan politik, militer, dan persatuan untuk benar-benar membebaskan tanah suci.


Khil4fah Islamiah selama lebih dari 13 abad pernah menjaga peradaban. Andalusia, Baghdad, hingga Al-Quds berada dalam naungan Islam. Warga non-muslim mendapatkan hak-haknya secara adil, sebagaimana dicatat banyak sejarawan Barat. Itu bukan utopia. Itu sejarah.


Maka, sampai kapan kita berharap pada PBB atau Amerika Serikat? Bukankah sejarah dan kenyataan sudah cukup menunjukkan kegagalannya?


Penutup


Resolusi dua negara terdengar manis, tapi kenyataannya pahit. Ia hanya jebakan politik yang meninabobokan umat. Fakta hari ini, ditambah sejarah panjang kegagalan resolusi, sudah cukup membuka mata kita.


P4lestina bukan sekadar sebidang tanah. Ia simbol kehormatan umat. Membebaskannya bukan isu regional, tetapi kewajiban kolektif.


Kini saatnya bangkit. Saatnya bersatu. Saatnya bergerak. Dengan Khil4fah, kemerdekaan sejati bukan sekadar harapan, melainkan janji yang bisa diwujudkan. Wallahualam bissawab. [GSM/MKC]

G4za Makin Menderita Kebangkitan Umat Harus Disegerakan

G4za Makin Menderita Kebangkitan Umat Harus Disegerakan



Derita warga G4za tidak hanya diserang senjata dan dibombardir

tetapi mereka dilaparkan pula karena Zi*nis lsra*l memblokade masuknya bantuan logistik

________________________


Penulis Rismawati Aisyahcheng

Kontributor Media Kuntum Cahaya dan Pegiat Literasi


KUNTUMCAHAYA.com,OPINI- Penduduk G4za makin memprihatinkan. Penderitaan mereka saat ini bukan telah usai melainkan makin meningkat disebabkan kekejian Isra*l yang tak ada hentinya. Yang paling sadisnya lagi militer Isra*l meminta warga G4za untuk segera meninggalkan kotanya sebab Netanyahu saat ini telah memerintahkan para militer untuk mengambil alih G4za. 


Sebagaimana yang dilansir news.republika.co.id (6-9-2025) militer Isra*l meminta seluruh warga di kota G4za untuk segera mengungsi ke daerah selatan karena operasi atau penyerangan akan berlangsung di seluruh G4za. Selain itu, ternyata pasukan militer Isra*l telah melancarkan serangannya di pinggiran kota bagian utara selama berminggu-minggu. Hal itu terjadi ketika Perdana Menteri Isra*l Benjamin Netanyahu memerintahkan para militernya merebut kota tersebut. 


Derita warga G4za tak berhenti hanya di penyerangan saja. Selama ini warga G4za juga dilaparkan karena donasi dari luar negara banyak yang tak sampai bisa dibilang hampir semua logistik di blokade oleh Isra*l. Yang mengejutkan lagi saat ini adalah militer Isra*l berniat untuk mengambil alih G4za. Hal ini sama saja Isra*l memaksakan untuk merampas negara milik warga G4za. Namun, yang paling miris adalah negara-negara Islam di sekitarnya tak ada yang berani melawan perkataan Netanyahu yang ingin merebut kota G4za. Bahkan negara Arab pun hanya terdiam dan tak memberi pertolongan untuk kaum muslim yang ada di G4za. 


Benar bahwa selama ini G4za selalu mendapatkan bantuan berupa logistik walaupun kadang juga tetap kekurangan. Akan tetapi, melihat kondisi G4za yang seolah terdesak dan makin menderita karena perlakuan militer Isra*l. Seharusnya kaum muslim tak boleh lagi hanya sekadar menjadi penonton termasuk para pemimpin negeri yang beragama Islam.


Jika pemimpin negara adidaya Amerika bisa menjadi pendorong atau pendukung kejahatan Isra*l, maka seharusnya sudah saatnya pemimpin kaum muslim dan seluruh umat muslim di dunia juga bergerak untuk mendukung kebebasan P4lestina dan menyelamatkan mereka dari kekejaman Zion*s Isra*l karena warga P4lestina tidak hanya membutuhkan logistik melainkan juga butuh kebebasan dari penyiksaan kaum Zion*s si laknatullah. 


Oleh karena itu, jika ingin membebaskan negara P4lestina, umat harus bersatu dan memahami konsep kepemimpinan Islam ala Rasulullah saw., Sebagaimana kejayaan Islam di masa Rasulullah dan para sahabatnya telah tercatat dalam buku-buku sejarah bahwa mereka telah banyak melalukan pembebasan terhadap negeri-negeri yang dipimpin oleh kaum kafir dan pemimpin-pemimpin yang zalim. 


Adapun negara-negara yang Rasulullah saw. dan sahabatnya bebaskan saat beliau menjadi pemimpin dan menggunakan sistem Islam dalam kepemimpinannya adalah negeri Arab yang saat itu dipimpin oleh para petinggi-petinggi kafir Quraisy, kemudian ada negeri Mesir yang kala itu masih menjadi bagian dari kekuasaan Kekaisaran Bizantium atau Imperium Romawi Timur dan setelah di taklukan oleh kaum Muslim maka negeri itu ada di bawah kepemimpinan Rasulullah saw., dan masih banyak lagi negeri-negeri tetangga yang di taklukkan oleh Rasulullah saw., dibawa kepemimpinannya. 


Negara-negara yang ditaklukan oleh kaum muslim warganya di perlakuan dengan baik dan tidak mendapatkan penindasan sebagaimana yang kadang mereka dapatkan dari para pemimpin mereka sebelumnya sebab begitulah Rasulullah saw., memerintahkan kaum muslim untuk berlaku baik terhadap warga negara yang telah ditaklukan oleh mereka. 


Sebagaimana pesan Rasulullah saw. kepada kaum muslim ketika hendak menaklukkan atau membebaskan negeri Mesir;


“Sungguh kalian akan membebaskan Mesir. Ia adalah sebuah negeri yang juga dinamakan Al-Qirath. Ketika kalian membuka negeri itu, bersikap baiklah kepada penduduknya, sebab mereka memiliki dhimmah dan hubungan rahim.” (HR. Hakim).


Oleh karena itu, sebagai kaum muslim kita harusnya menjadikan Rasulullah saw., sebagai suri tauladan bukan hanya dalam perkara akhlak semata melainkan juga dalam perkara kepemimpinan dan jihadnya dalam membebaskan negeri-negeri yang dipimpin oleh pemimpin kafir serta zalim.


Jika kaum muslim bersatu dan beralih pada sistem Islam maka seruan jihad tidak akan diabaikan dan pada saat itu percayalah jangankan negeri P4lestina, negara-negara muslim lainnya yang saat ini sedang menderita karena kekejian musuh-musuh Allah pasti bisa dibebaskan. Wallahualam bissawab. [Luth/MKC]

Bebaskan G4za dengan Jihad dan Khil4fah

Bebaskan G4za dengan Jihad dan Khil4fah



 

Kewajiban tersebut bisa terlaksana jika umat bersatu dalam satu komando kepemimpinan

yakni aktivitas jihad fisabilillah dalam komando seorang khalifah


______________________


Penulis Sunarti

Kontributor Media Kuntum Cahaya 


KUNTUMCAHAYA.com, OPINI - Persoalan G4za masih terus berlanjut. Kecaman terus disuarakan oleh berbagai pihak di seluruh dunia. Seperti Kementerian Luar Negeri Turki yang mengecam para Zion*s bahwa perbuatan mereka adalah bagian dari genosida yang menjadi ancaman serius bagi perdamain dunia.


Tak ketinggalan Keir Starmer sebagai Perdana Menteri Inggris, begitu juga Penny Wong Menteri Luar Negeri Australia, dan Cina yang sama-sama menunjukkan kecamannya terhadap kebiadaban Zionis Yahudi. (8-8-2025)


Meski kecaman demi kecaman tengah digaungkan, tetap saja tak membuahkan hasil untuk warga Palestina. Terlebih setelah putusan solusi dua negara, dianggap sebagai jawaban atas persoalan G4za yang disetujui oleh beberapa negara termasuk Indonesia. (Kumparannews.com, 10-07-2025)


Narasi dan Propaganda Zion*s Yahudi


Kecaman dunia atas tindakan Zion*s terhadap warga G4za menuntut mereka agar bertindak lebih cepat. Semua itu dilakukan demi meraih simpati dunia padahal negeri-negeri muslim sudah sangat paham bagaimana watak para penjajah tersebut. Mereka sangat munafik hingga pernyataan tak ingin mengambil alih G4za dari penguasaan H4mas disampaikan demi sebuah pencitraan.


Pernyataan tersebut hanya narasi demi membela diri. Mereka berlagak layaknya korban akibat serangan 7 Oktober 2023 lalu padahal dari dulu hingga kini mereka aktor utama dibalik penderitaan warga G4za.


Bukan hanya itu, pelaparan sistematis di Jalur G4za juga disangkal oleh Zion*s. Seolah dunia khususnya kaum muslim akan percaya padahal mereka yang melakukan blokade total atas bantuan kemanusiaan sejak awal Maret 2025. Hal ini telah disampaikan oleh Lembaga Internasional.  


Kejahatan lainnya adalah mengaburkan fakta, bahkan membenarkan kebijakan distribusi bantuan melalui GHF yang kontroversial. GHF merupakan perangkat maut yang didesain oleh Amerika Serikat dan Zion*s Yahudi untuk menghancurkan penduduk G4za.


Di mana jutaan warga yang tersebar luas hanya memiliki empat titik distribusi yang berakibat pada kepanikan, kepadatan, dan kekerasan. Parahnya, demi mendapatkan bantuan masyarakat sipil yang kelaparan terpaksa menempuh perjalanan berbahaya dengan melintasi zona militer aktif.


Demikian narasi dan propaganda yang disebarkan oleh Zion*s juga negara penyokongnya seperti Amerika Serikat. Fakta yang menimpa G4za adalah pembantaian, krisis kemanusiaan, kelaparan, penjajahan, dan pendudukan atas tanah milik umat Islam P4lestina. Beraneka kecaman, kutukan, upaya diplomasi di berbagai forum diskusi internasional, kenyataannya tak mampu menundukkan kebengisan Zion*s.


Solusi dua negara tak berarti apa-apa terhadap warga G4za sebab sama saja melegalisasi perampokan tanah atas kaum muslim dan sukarela menyerahkan P4lestina kepada Zion*s Yahudi. Inilah cita-cita mereka, semakin memperluas pendudukannya atas wilayah P4lestina. Hingga kini hanya G4za yang tidak berhasil diduduki.


Sebelum tahun 1948 sejarah telah membuktikan bahwa Zion*s bukan pemilik tanah P4lestina dan tidak punya hak atas tanah tersebut. Mereka hanya entitas yang numpang hidup disaat tak satu pun negara yang mau menerima mereka.


Namun, pertolongan tersebut kini bagaikan air susu dibalas air tuba karena mereka mendapat dukungan dari Amerika Serikat dan Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB). Atas dukungan tersebut Zion*s dengan congkak mengklaim tanah P4lestina, menjajah secara brutal, dan berani melakukan pengusiran kepada penduduk asli di sana.


Jihad dan Khil4fah Solusinya


Dibutuhkan hanya kekuatan militer untuk melawan para penjajah. Tentu dengan sarana dan fasilitas yang memadai hingga para Zion*s takluk dan menyerah. Inilah solusi yang tepat untuk mengakhiri penjajahan atas persoalan P4lestina. Sebagaimana firman Allah Swt.,


”Dan persiapkan dengan segala kemampuan untuk menghadapi mereka dengan kekuatan yang kamu miliki dan dari pasukan kuda yang dapatmenggetarkan musuh Allah, musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahui, tetapi Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu infakkan di jalan Allah, niscaya akan dibalas dengan cukup kepadamu, dan kamu tidak akan dizalimi/dirugikan.” (QS.Al- Anfal: 60)


Rasulullah saw. dalam tafsir Jalalain menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan kekuatan adalah ar-ramyu atau pasukan pemanah. Saat ini dimaknai sebagai kekuatan pasukan (tentara), serta persenjataan yang dapat membuat musuh takut dan gentar. Hal itu menjadi kewajiban dan tanggung jawab kaum muslim. 


Kewajiban tersebut bisa terlaksana jika umat bersatu dalam satu komando kepemimpinan, yakni aktivitas jihad fisabilillah dalam komando seorang khalifah. Untuk itu, umat harus memiliki kesamaan pemikiran, perasaan, dan aturan yang hendak diterapkan agar dapat mewujudkan hadirnya perisai umat (Khil4fah) dan jihad fisabilillah. 


Dalam tafsir Ibnu Katsir disebutkan bahwa Allah Swt. menyatakan kecintaan-Nya kepada hamba-hamba-Nya yang beriman. Apabila mereka bersatu menghadapi musuh-musuh di medan pertempuran, mereka berperan di jalan Allah melawan orang-orang kafir terhadap Allah agar kalimat Allah-lah yang tertinggi dan Agama-Nyalah yang menang berada di atas agama-agama lainnya.


Rasulullah saw. bersabda : ”Sungguh (sebagian) mukmin kepada (sebagian) mukmin lainnya seperti bangunan yang menguatkan sebagian dengan sebagian lainnya. Dan Beliau menyilangkan jari- jarinya. (HR. Bukhari dan Muslim)


Inilah pentingnya persatuan umat. Umat harus terus berjuang bersama kelompok dakwah ideologis yang mengikuti thariqah (metode) dakwah Rasulullah saw. dengan keteguhan, kesabaran, keikhlasan terhadap metode dakwah ini, berharap pertolongan Allah makin dekat, dan Palestina segera dibebaskan dengan kemerdekaan hakiki. Wallahualam. Bebaskan G4za dengan jihad dan Khil4fah. Wallahualam bissawab. [Dara/MKC]

Nasib Para Penghuni Jalanan

Nasib Para Penghuni Jalanan




Maraknya anak jalanan dan sejenisnya menjadi bukti bahwa

sistem hari ini tidak mampu memberikan kehidupan yang layak bagi mereka

______________________


Penulis Ummu Fadiya

Kontributor Media Kuntum Cahaya 


KUNTUMCAHAYA.com, OPINI- Dari dulu hingga sekarang, kehadiran para penghuni jalanan selalu menjadi masalah yang tak pernah terselesaikan. Mereka dianggap sebagai penyakit masyarakat karena sering dikejar-kejar oleh pihak yang berwenang atas nama ketertiban umum.


Para penghuni jalanan juga belum bisa dipisahkan sepenuhnya dari tempat mereka mengais rezeki. Pasalnya, masyarakat masih memiliki kepedulian untuk berbagi. Kondisi tersebut membuat aktivitas para pengguna jalan menjadi terganggu saat mereka sedang beraksi.


Dikutip dari radarbanyumas.co.id (10-9-2025) di beberapa daerah yang terjaring razia, keberadaan para penghuni jalanan terdiri dari anak jalanan, pengamen, anak punk, dan pengemis sepertinya susah untuk ditertibkan. Aktivitas mereka masih saja memenuhi ruas-ruas jalan. Fenomena yang sama juga terjadi di wilayah Kecamatan Banyumas meskipun jumlahnya tidak sebanyak tahun 2024.


Berdasarkan informasi dari Kasi Operasi dan Pengendalian (Opsdal) Satpol PP Banyumas Catur Wahyono jumlah anak jalanan dan pengamen yang terjaring razia sekitar 50–60 orang di pertengahan tahun 2025. Namun, aktivitas mereka masih terlihat di sekitar Jalan Jendral Sudirman, Kalibagor, Tanjung, Simpang Karangpucung, dan Simpang Santen. 


Sementara itu, keberadaan para pengemis bisa ditemui di Karangbawang sampai Bancarkembar. Sedangkan di titik Simpang Pasar Manis dan Alun-alun Purwokerto terpantau lebih tertib karena anak jalanan sudah jarang terlihat. Kondisi yang demikian karena pengaruh dari adanya razia yang rutin dilakukan oleh pihak berwenang.


Solusi yang Tak Tuntas


Keberadaan anak jalanan dan semacamnya yang menggangu aktivitas para pengguna jalan, sebenarnya sudah sering ditertibkan. Namun, pada faktanya, setelah diberi pengarahan dan dibina, mereka tetap kembali lagi dengan berbagai macam alasan. Mengutip laman Jurnal DPR RI, maraknya anak jalanan dipicu oleh beberapa faktor, di antaranya:

1. Kondisi ekonomi keluarga yang lemah.

2. Minimnya perhatian orang tua kepada anaknya.

3. Hubungan antar anggota keluarga yang kurang harmonis.

4. Lingkungan pergaulan yang salah.

5. Kualitas pendidikan yang rendah.


Hal-hal di atas menjadi masalah besar yang harus diselesaikan dengan segera. Jika tidak, keberadaan anak jalanan tentu akan menimbulkan masalah sosial yang lebih besar ke depannya.


Kondisi yang sama juga menimpa para pengamen dan pengemis. Kedua kelompok ini juga tak luput dari sasaran petugas Satpol PP. Sayangnya, kehadiran mereka pun sering luput dari patroli karena berhasil kabur demi menghindari razia. Masalah tersebut diperparah dengan kebiasaan para pengguna jalan yang masih memberikan uang. Hal itu tentu makin menyulitkan  penertiban yang dilakukan.


Butuh Peran Berbagai Pihak


Kesulitan yang dihadapi oleh para petugas Satpol PP memang cukup besar. Pasalnya, keberadaan para penghuni jalan yang dikategorikan sebagai penyakit masyarakat tersebut belum mendapatkan jalan keluar. Hal tersebut harus segera diatasi agar mereka tidak kembali ke jalanan.


Upaya di atas tentu membutuhkan kerja tim yang saling mendukung satu sama lain. Di sini, peran keluarga dan masyarakat mutlak diperlukan. Selain itu harus ada juga sebuah institusi global yang akan memberikan pengurusan dan perlindungan yang maksimal. Tanpa itu, masalah yang datang dari anak jalanan tidak akan pernah terselesaikan. 


Keberadaan institusi yang dimaksud tentu tidak akan pernah didapatkan dalam sistem hari ini. Sebab, penyelesaian yang diberikan tak menyentuh semua sisi. Hal itu bisa dilihat dari keberadaan anak jalanan yang tetap kembali ke jalan meskipun sudah dilakukan razia berulang kali.


Berada di Sistem Rapuh


Maraknya anak jalanan dan sejenisnya menjadi bukti bahwa sistem hari ini tak mampu memberikan kehidupan yang layak bagi mereka. Di sistem ini, mereka dipaksa untuk berjuang sendiri dalam memenuhi kebutuhannya tanpa kehadiran negara. Padahal, peran negara merupakan sebuah penopang utama setelah keyakinan diri, keluarga dan masyarakat sekitarnya.


Rapuhnya sistem yang dianut sejatinya salah dari lahirnya. Pasalnya sistem tersebut merupakan buatan manusia. Maka, menjadi sesuatu yang wajar karena pembuatnya juga makhluk rapuh yang banyak kekurangannya. Tentunya bukan hal yang mengherankan ketika sistem tersebut tak bisa memberikan solusi yang sempurna.  


Lebih dari itu, sistem rapuh ini juga mengabaikan aturan kehidupan yang ditetapkan oleh Allah Swt. Pasalnya, di sistem tersebut, manusia merasa lebih berhak dari Sang Pencipta saat mengatur urusan hidupnya. Alhasil, mereka pun merasa lebih tahu apa yang dibutuhkannya. 


Pemikiran itu berimbas kepada kepengurusan negara terhadap rakyatnya. Sebab, negara juga mengambil hukum yang berasal dari aturan manusia. Kondisi itu pula yang membuat nasib para penghuni jalanan akan tetap merana karena negara tak mampu hadir sebagai pelindung baginya.


Ketika Negara Berdasarkan Islam


Berbeda cerita ketika Islam dibawa di ranah urusan negara. Di sini peran negara akan terlihat nyata. Pasalnya, Islam memerintahkan agar negara memberikan pelayanan yang benar kepada seluruh rakyat di setiap ranah kebutuhannya. Untuk kebutuhan utama, negara akan menyediakan kebutuhan yang berhubungan dengan makanan, pakaian, dan tempat tinggal.


Untuk masalah pendidikan, negara akan memberikan secara gratis kepada semua kalangan. Di sini, pendidikan yang berbasis akidah Islam menjadi hal yang sangat diperhatikan. Sebab, pendidikan yang demikian akan membuat rakyat mampu membedakan baik buruk dan halal haram. Bukti dari keseriusan negara di bidang pendidikan telah dicontohkan oleh Rasulullah saw.


Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas, saat itu Rasulullah saw. memberikan syarat pembebasan bagi tawanan Perang Badar. Syarat tersebut adalah setiap tawanan mengajari 10 anak-anak kaum muslim agar bisa baca tulis. Hal itu diberikan kepada tawanan yang tidak mampu memberikan tebusan.


Negara Menjamin Kebutuhan Rakyatnya


Sementara itu, untuk bisa memenuhi kebutuhan hidup dan keluarga, negara akan memfasilitasi rakyatnya terutama laki-laki untuk bisa mengakses pekerjaan yang layak dan memadai. 

Dengan begitu, para lelaki tidak akan kengalami kesulitan dalam memenuhi kebutuhan diri dan keluarganya. Mereka tak perlu mencari nafkah dengan menjadi meminta-minta di jalanan karena balasannya di akhirat sungguh mengerikan.


Rasulullah saw. dalam sebuah hadis bersabda, "Orang yang selalu meminta-minta kepada orang lain sampai tiba hari kiamat sedang di wajahnya tidak ada lagi tersisa sepotong daging pun.” (HR. Bukhari)


Hal yang sama juga berlaku di semua aspek termasuk kesehatan, keamanan, dan semua fasilitas pendukungnya. Lantas, dari mana biaya untuk itu semua? Di sini, negara akan memanfaatkan kekayaan sumber daya alam dengan sebaik-baiknya. Setelah itu, hasilnya akan diberikan kepada rakyat dalam bentuk berbagai macam kebijakan.


Namun untuk mewujudkan hal itu, dibutuhkan adanya negara yang menerapkan sistem Islam. Tanpanya, kesejahteraan secara menyeluruh tidak akan bisa dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat. Di sini dibutuhkan perjuangan tak kenal menyerah agar semua umat muslim mau menerapkan hukum syariat.


Dengan begitu semua orang bisa menikmati kesejahteraan tanpa syarat. Yakinlah, hanya Islam yang mampu mencegah para anak jalanan untuk tidak kembali lagi hidup di jalanan. Wallahualam bissawab. [SM/MKC]

Keracunan MBG Terulang Kembali Program Membahayakan Keselamatan Rakyat

Keracunan MBG Terulang Kembali Program Membahayakan Keselamatan Rakyat



Dengan jaminan kesejahteraan sistem kepemimpinan Islam serta edukasi tentang gizi, 

kasus stunting akan dapat dicegah demikian juga masalah gizi lainnya


_______________________


Penulis F.H Afiqoh

Kontributor Media Kuntum Cahaya 


KUNTUMCAHAYA.com, OPINI - Berbicara tentang MBG (Makanan Bergizi Gratis) akan berbicara janji kampanye presiden. MBG adalah salah satu program unggulan yang pernah di sampaikan pada saat kampanye untuk mengatasi masalah malnutrisi dan stunting pada anak-anak dan ibu hamil, serta meningkatkan kualitas SDM juga mendorong pertumbuhan ekonomi lokal. Namun yang terjadi, bukan mengatasi masalah melainkan menambah masalah dan menggerus anjloknya ekonomi. 


Program ini bertujuan memberikan akses makan bergizi bagi pelajar dari jenjang PAUD hingga SMA/Sederarajat dengan alokasi anggaran yang cukup besar. Namun, dari program ini bukan memberikan nutrisi yang baik melainkan banyaknya yang keracunan. Kembali terjadi, keracunan MBGi di berbagai daerah: di Kabupaten Lebong, Bengkulu (427 anak), Lampung Timur (20 anak). di SMP 3 Berbah Sleman (135 siswa) dll. Sebelumnya juga terjadi di Sragen. Hasil uji laboratorium di Sragen ditemukan bahwa sanitasi lingkungan tersebut menjadi permasalahan utama. (tirto.id)


Dilansir dari kompas.com pada Jumat, 29 September 2025, memberitakan bahwa Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana menyatakan keprihatinan dan menginstruksikan penghentian sementara operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) menyusul kasus keracunan massal yang terjadi di Bogor akibat program Makan Bergizi Gratis (MBG). 


Abainya Pengawasan Negara sehingga Nyawa Menjadi Taruhan


Terjadinya keracunan berulang, menunjukkan adanya ketidakseriusan dan kelalaian negara, khususnya dalam menyiapkan SOP dan mengawasi SPPG. Kesehatan bahkan nyawa siswa terancam. Harusnya pemerintah belajar dari kesalahan sebelumnya karena keracunan bukan sekali dua kali terjadi, tetapi sudah berulang kali di berbagai daerah.


Dari awal sudah begitu banyak kritikan dari masyarakat atas proogram ini untuk dihentikan karena akan menghabiskan banyak dana negara dan menimbulkan berbagai masalah lainnya. Namun, pemerintah terus melanjutkan program ini bahkan MBG selalu digembar-gemborkan dengan dalih program utama pemerintah dalam janji kampanye saat itu. Akan tetapi, apalah janji hanya dilaksanakan yang penting berjalan dan terpenuhi tidak melihat serta memperhatikan bagaimana kualitas kesehatan juga pengawasannya yang tidak ketat.


Selain itu, MBG yang diberikan tiap sekolah dan daerah berbeda-beda porsinya. Ada yang banyak ada yang sedikit, ada yang sudah basi, berlendir dan bahkan berulat. Ini menunjukkan ada kecurangan, ketidak adilan yang dilakukan sehingga keracunan terjadi karena tidak ada perhatian dan pengawasan yang ketat dalam memperhatikan MBG yang akan dikonsumsi oleh siswa maupun guru.


Inilah mirisnya sistem peraturan demokrasi kapitalis pemerintah yang harusnya memberikan tanggung jawab penuh pada rakyat namun tidak serius dalam menanganinya. Program yang penting berjalan tanpa melihat dan mempertimbangkan apa konsekuensi yang akan terjadi. Apa lagi ini menyangkut masalah nyawa manusia yang sangat berharga untuk dijaga.


Programnya terlihat sangat populis dan kebijakannya membuka jalan untuk para kapitalis dalam meraih keuntungan, terlebih lagi jika program ini berjalan dengan rutin selama setahun. Betapa banyak yang akan didapatkan oleh pelaku bisnis. Inilah paradigma dalam sistem kapitalis sering ditandai dengan kebijakan yang mengedepankan para kapital.


MBG juga bukan solusi untuk menyelesaikan persoalan gizi pada anak sekolah dan ibu hamil. Apalagi mencegah stunting dan mendorong naiknya ekonomi lokal karena masalahnya bukan pada persoalan itu melainkan ada pada tata aturan dan sistem kepemimpinan demokrasi yang kepentingan diatas segalanya. Sedangkan rakyat hanya korban yang terus menjadi korban dalam kebijakan dan program pemerintah, termasuk dalam program MBG ini yakni keracunan yang terjadi sudah berulang kali di berbagai daerah.


Islam Solusi Kesejahteraan Rakyat


Inilah perlunya Islam dalam mengatur hidup manusia karena Islam menetapkan negara sebagai raain, bertanggung jawab mewujudkan kesejahteraan rakyat, di antaranya dengan memenuhi kebutuhan pokok masyarakat sebagai tanggung jawab negara. Dengan berbagai mekanisme sesuai syariat secara langsung maupun tidak langsung.


Dengan jaminan kesejahteraan sistem kepemimpinan Islam serta edukasi tentang gizi, kasus stunting akan dapat dicegah, demikian juga masalah gizi lainnya karen visi dan misi dari Islam adalah melayani dan mengurusi urusan rakyat. Rakyat yang paling utama diperhatikan dengan melayani setiap kebutuhan rakyat serta diperlakuan dengan baik.


Islam mampu menjamin kesejahteraan semua rakyatnya karena memiliki sumber pemasukan yang besar sesuai ketentuan syara dan dikelola dengan sistem ekonomi Islam yang jelas. Berbeda dengan sistem kapitalisme yang bertentangan dengan prinsip-prinsip Islam sebab mengabaikan hukum Allah Swt. dan Rasul-Nya yang mengatur segala aspek kehidupan serta mewajibkan manusia untuk menaatinya. 


Dalam sejarah sistem Islam, dengan kejayaannya selama 13 abad lamanya dengan 2/3 dunia yang dikuasai, Daulah Islamiah terbukti mampu menyejahterakan masyarakatnya secara jasmani dan rohani dengan memberikan sarana pemuas kebutuhan hidup baik kebutuhan sandang, pangan, papan, pendidikan, kesehatan dan lainnya.


Islam datang mengatur seluruh aspek kehidupan manusia, tidak ada permasalahan hidup yang tidak bisa dipecahkan oleh Islam karena Allah telah menurunkannya dengan sempurna dan kesempurnaanya itulah Islam menjadi solusi segala permasalahan hidup, termasuk masalah MBG. Wallahualam bissawab. [Dara/MKC]

Stop Normalisasi Tren Living Together

Stop Normalisasi Tren Living Together

 


Pengaruh liberalisasi Barat menjadi faktor utama dalam membibitnya tren living together ini

Alhasil, menyebabkan pergeseran nilai sosial yang mengedepankan kebebasan individu

______________________________


Penulis Penti Herdiani

Kontributor Media Kuntum Cahaya 


KUNTUMCAHAYA.com, OPINI - Kasus pembunuhan berujung mutilasi wanita muda hingga ratusan potong terjadi pada minggu (31-8) sekitar pukul 02.00 WIB di sebuah rumah kos di jalan raya Lidah Wetan, Kelurahan Lidah Wetan, Surabaya. (DetikNews.com, 08-09-2025)


Pelaku pembunuhan mutilasi ini adalah pacarnya sendiri yang telah tinggal bersama dalam satu atap tanpa ikatan pernikahan. Motif pembunuhan tersebut dilatari karena pelaku merasa kesal dan sakit hati dengan sikap korban selama berhubungan.


Selain mutilasi sadis, yang menjadi point of view adalah tren living together yaitu hidup bersama atau kumpul kebo (kohabitasi) yang ternyata banyak dipilih oleh generasi muda saat ini. 


Fenomena living together belakangan makin membudaya seiring dengan kemajuan zaman. Mereka yang mendukung berargumen atas dasar hak asasi manusia dan privasi individu menyatakan bahwa setiap orang berhak menjalani hidup sesuai keinginan selama tidak mengganggu orang lain.


Pengaruh liberalisasi Barat menjadi faktor utama dalam membibitnya tren living together ini. Alhasil, menyebabkan pergeseran nilai sosial yang mengedepankan kebebasan individu. Selain itu, mereka menjadikan alasan ingin lebih mengenal pasangan sebelum melangkah ke jenjang lebih serius, bahkan sampai pertimbangan praktis seperti efisiensi biaya hidup. 


Living Together Ide Liberalisme


Menjamurnya gaya hidup bebas living together ini tidak lepas dari ide liberalisme atau kebebasan yang muncul dari sistem kapitalis sekuler. Ide liberalisme ini berhasil menguasai pola pikir generasi muslim, menjadikan kebebasan sebagai gaya hidup yang menyatu dengan kehidupan sehari-hari. 


Dalam sistem sekuler kapitalisme, kehidupan mengutamakan pencapaian materi dengan memisahkan aturan agama. Hubungan antara lawan jenis dianggap kebebasan individu di mana mengesahkan hubungan tanpa ikatan pernikahan. Salah satunya dengan hidup bersama dalam satu atap. Akhirnya, pintu zina pun terbuka lebar. 


Di sisi lain, maraknya living together menjadi alasan atas mahalnya ongkos sebuah pernikahan dalam sistem ekonomi kapitalis ini. Kawula muda yang dilanda jatuh cinta terimpit tuntutan sosial dan akhirnya terbawa tren gaya hidup harus melaksanakan pesta mewah pernikahan yang menjamur di masyarakat.


Masyarakat yang individualistis tidak peduli dengan kebebasan dari gaya pacaran anak muda saat ini. Bahkan mereka seolah menutup mata melihat pergeseran nilai sosial terkait hubungan lawan jenis yang syarat dengan kebebasan berperilaku. Alhasil, kontrol masyarakat tidak terjadi sehingga generasi muda makin menikmati kebebasan. 


Di samping itu, negara tidak berperan aktif dalam membentuk akhlak dan kepribadian rakyatnya sebab hukum negara berasaskan pada sekularisme yang aturannya justru menghasilkan kebebasan individu tidak terkendali. Kebebasan media ikut membawa pengaruh masyarakat mewajarkan tren living together yang syarat dengan pergaulan bebas menjadi sesuatu yang tidak tabu lagi. Selain itu, hukum terkait perzinaan di negara ini tidak akan menjerat pelaku yang melakukan living together selama dilakukan atas dasar suka sama suka.


Islam Mengatur Pergaulan


Islam telah mengatur dengan detail terkait interaksi pergaulan antara laki-laki dan wanita. Dalam Islam, naluri melestarikan keturunan atau gharizah nau atau identik dengan naluri seksual dipandang merupakan anugerah yang diberikan Allah Swt. kepada seluruh makhluk-Nya. Ketika naluri tersebut muncul, maka wajib terikat dengan hukum syarak dalam pemenuhannya. 


Perihal tren living together ini, sistem Islam akan menjadi solusi tuntas. Negara berupaya maksimal dalam menutup semua celah masuknya ide-ide di luar dari Islam seperti ide liberalisme yang mengusung kebebasan berperilaku. 


Negara dengan sistem Islam akan menerapkan sanksi hukum yang adil terhadap siapa pun yang melakukan kejahatan, baik itu kohabitasi dan perzinaan sebagai upaya kuratifnya. Selain itu, negara pun akan melakukan upaya preventif sebagai berikut:


Pertama, penerapan sistem pergaulan Islam yang berfungsi menjaga pergaulan antara laki-laki dan perempuan sesuai dengan syariat Islam. Negara mengedukasi sekaligus memastikan masyarakat paham untuk melaksanakan sistem pergaulan antara lawan jenis.


Kedua, pendidikan berbasis akidah Islam. Dalam hal ini, masyarakat harus diajarkan sejak dini tentang tujuan hidup dan memosisikan Islam sebagai pedoman hidup. Memberikan motivasi ruhiyah dan menghindarkan mereka dari pergaulan bebas. 


Ketiga, pengaturan media harus disusun dengan baik agar hanya menyiarkan kebaikan serta mendukung peningkatan keimanan dan ketakwaan masyarakat. Media sosial, khususnya, harus digunakan untuk menjaga akidah dan menyebarkan tsaqafah Islam. 


Semua upaya kuratif dan preventif dari negara ini akan optimal jika memfungsikan tiga pilar, yakni ketakwaan individu, kontrol masyarakat, dan negara yang menerapkan syariat Islam secara sempurna dalam bingkai Khil4fah. Wallahualam bissawab. [SJ/MKC]

Hubungan Tanpa Ikatan Berakhir Duka

Hubungan Tanpa Ikatan Berakhir Duka




Islam mengatur hubungan antara wanita dan pria dalam batasan

agar sesuai dengan prinsip menjaga kehormatan, kesucian, dan ketertiban sosial

______________________________


Penulis Aksarana Citra 

Kontributor Media Kuntum Cahaya 


KUNTUMCAHAYA.com, OPINI - Jatuh cinta berjuta indahnya
Dipandang, dibelai, amboi rasanya
Jatuh cinta berjuta nikmatnya
Menangis, tertawa karena jatuh cinta


Saat jatuh cinta dunia memang terasa indah dunia serasa milik berdua yang teringat hanya wajah si dia. Secara medis, jatuh cinta itu bukan cuma soal perasaan “berbunga-bunga”, tetapi ada proses biologis dan neurokimia yang nyata di otak dan tubuh.


Aktivasi otak yang aktif ada area VTA pusat “reward system”, maka timbul rasa senang dan ketagihan. Ada hormon dopamin yang membuat perasaan euforia semangat bahagia. Hormon adrenalin yang membuat jantung berdebar, telapak tangan berkeringat, napas cepat.


Respons tubuh yang dirasakan jantung berdebar karena akibat peningkatan adrenalin. Wajah memerah karena vasodilatasi pembuluh darah. Aktivasi sistem saraf simpati juga memengaruhi pencernaan. Tidur & nafsu makan bisa terganggu mirip gejala “stres”, tetapi dengan nuansa positif.


Itulah respons yang dialami oleh tubuh kita. Jatuh cinta bagaikan candu untuk manusia. Candu yang bisa membuat para pencintanya lupa diri bahkan lupa norma dan agama. Mereka terbuai dengan kenikmatan duniawi yang hanya sementara. Mirisnya, cinta tidak selamanya indah, banyak cinta yang berujung sakit hati, duka bahkan bencana.


Akhir-akhir ini banyak berita yang menggegerkan. Kasus mutilasi hampir terjadi di setiap bulannya di tahun 2025. Motif yang melatarbelakanginya adalah asmara. Ironi saat cinta dari dua orang yang saling mencintai berujung petaka di tangan sang jagal.


Cinta Berujung Petaka 


Contohnya saja pada kasus mutilasi di Pacet, Jawa Timur. Ratusan potongan tubuh jasad wanita ditemukan di semak-semak dusun Pacet Selatan. Seorang pria berusia 24 tahun ditangkap usai membunuh dan memutilasi kekasihnya, wanita berumur 25 tahun secara keji.


Kapolres Mojokerto menjelaskan pelaku dan kekasihnya tinggal satu kos di daerah Kelurahan Lidah Wetan, Surabaya. Keduanya belum menikah secara resmi maupun siri. Korban dipastikan tidak hamil. Mereka hidup layaknya suami istri tanpa menikah sah, (nikah siri) itu juga tidak dilakukan,” dilansir detikJatim.com, Selasa (09-09-2025).


Pembunuhan disertai mutilasi yang dilakukan pelaku kepada korban dilakukan pada Minggu (31-8) dini hari. Pelaku awalnya menusuk leher korban dengan memakai pisau dapur. Setelah memastikan korban tewas, pelaku memutilasi jasad pacarnya itu di kamar mandi kos.Tersangka memotong daging dan tulang belulang korban menjadi ratusan potongan.


Sebagian potongan jasad korban dibuang tersangka di semak-semak Dusun Pacet Selatan, Desa/Kecamatan Pacet, Mojokerto. Sebagian lainnya disimpan pelaku di balik laci lemari di kamar kosnya, serta dikubur di depan kosnya. Alasan pelaku membunuh pacarnya karena kesal tidak dibukakan pintu kos. Selain itu, pelaku kesal karena tuntutan ekonomi dari korban. (detiknews.com, 09-09-2025)


Kohabitasi Buah Sekularisme 


Living together kumpul kebo atau kohabitasi menjadi tren di kalangan anak muda bahkan menjadi gaya hidup. Ini menjadi hal biasa karena terpengaruh budaya global, film, media sosial, dan pergaulan karena ditinjau dari efisiensi praktis dan fleksibilitasnya. Misalnya, untuk berbagi biaya sewa listrik dan kebutuhan sehari-hari. 


Selain itu, banyak pasangan yang menunda menikah karena alasan karier, pendidikan atau ketidakstabilan ekonomi. Jadi, memilih kohabitasi sebagai jalan tengah sebelum melangkah ke jenjang yang lebih serius.


Pandangan  bahwa kebebasan pribadi lebih penting dari aturan norma dan agama, dan lingkungan sosial menjadikan sebagian orang menganggapnya wajar terutama di kota besar sudah tidak lagi dianggap tabu.


Masyarakat sudah banyak meninggalkan aturan norma agama karena sistem sekularisme yang sudah berakar dan tumbuh subur di masyarakat. Paham sekuler yang memisahkan agama dan kehidupan nyatanya menjadi momok besar dalam rusaknya moral generasi penerus bangsa.


Liberalisasi seksual menjadikan aktivitas seksual dipandang sebagai kebutuhan biologis, bukan lagi aktivitas yang harus terikat pada institusi pernikahan. Karena sekularisme masyarakat kini merasa bebas bertindak, berekspresi dalam melampiaskan suasana hati mereka. Tanpa memperhitungkan halal dan haramnya. 


Normalisasi kumpul kebo dan aktivitas pacaran bukan lagi hal tabu di negara yang menganut sistem sekuler liberalis dan menganggap wajar living together before maried. Di negara yang tidak berlandasan hukum Islam, menjadikan aktivitas kumpul kebo dan pacaran menjadi wajar dan tidak masuk pada tindakan pidana, tetapi kalau sudah timbul korban baru dikatakan tindakan pidana.


Nyatanya sudah banyak kasus seperti kehamilan di luar nikah dan keluarga tanpa legalitas yang jelas dan munculnya ketidakpastian hak anak dan perlindungan hukum. Sudah pasti yang menjadi korban itu wanita dan anak. Namun, dari sekian banyak contoh kasus, kohabitasi melenggang bebas di tengah masyarakat.


Pandangan Islam


Islam mengatur hubungan antara wanita dan pria dalam batasan agar sesuai dengan prinsip menjaga kehormatan, kesucian, dan ketertiban sosial. Ini bukan bentuk pengekangan, tetapi bentuk perlindungan negara terhadap masyarakatnya dari kerusakan moral dan dampak pergaulan bebas.


Ikhtilat atau campur baur antara laki-laki dan perempuan dibatasi. Islam tidak melarang interaksi, tetapi membatasi agar sesuai dengan syariat Islam. Wanita wajib menutup auratnya sesuai dengan syariat Islam yang terkandung di QS. An-Nur ayat 31 Allah Subhanahu wa taala berfirman:


“Dan katakanlah kepada para perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali yang (biasa) terlihat......"


Selain itu, laki-laki dan perempuan diwajibkan menjaga pandangannya (QS. An-Nur:30) 


Islam melarang berdua-duaan (khalwat) lawan jenis yg nonmahram karena bisa menimbulkan fitnah.


Khatimah


Menegakkan syariat Islam di tengah masyarakat tidak hanya akan mengantarkan pada kestabilan kodisi moral masyarakat, tetapi juga menggapai rida Allah Swt. agar terjaganya kehormatan (iffah) dan kesucian diri, menjaga nasab dan keturunan, menutup jalan menuju perbuatan zina, dan menciptakan masyarakat yang bersih dari fitnah kerusakan moral dan pelecehan. Tujuannya agar manusia bisa hidup sesuai fitrahnya dan hukum syarak. Wallahualam bissawab. [SJ/MKC