Alt Title
Pengaruh Buruk Konten Quotes pada Kehidupan Seorang Muslim

Pengaruh Buruk Konten Quotes pada Kehidupan Seorang Muslim



Konten quotes yang berisi kata-kata mutiara dianggap memberikan harapan, inspirasi, dan petuah bijak

terhadap masalah hidup sehingga banyak yang menyukainya

______________________________


KUNTUMCAHAYA.com, SURAT PEMBACA-Media sosial sangat erat sekali dengan kehidupan. Berbagai konten dibuat semenarik mungkin. Salah satu konten yang sangat diminati berupa kata-kata mutiara atau quotes. 


Konten ini dianggap memberikan harapan, inspirasi, dan petuah bijak terhadap masalah hidup. Tentu saja dengan menambahkan desain menarik dan latar belakang lagu yang pas, membuat konten quotes sangat mudah disukai. Tak sedikit yang langsung membagikan karena dinilai mewakili dengan perasaan dan kondisi pembacanya. (Idxchanel.com, 25-02-2025)


Salah satunya adalah konten yang berisi quotes dengan tema kesepian. Memang patut diakui bahwa saat ini seringkali orang merasa kesepian. Secara umum, penyebabnya adalah akibat tatanan hidup yang sekuler. Di mana orang-orang menjadi lebih sangat individualis padahal fitrahnya manusia itu makhluk sosial. Alhasil, adanya quotes di media sosial seperti oase di padang pasir. 


Ditambah lagi, sistem alogaritma di media sosial seringkali menyuguhkan konten yang diminati oleh penggunanya berdasarkan dari lamanya video yang ditonton, disukai, dikomentari, dan dibagikan. Jika seseorang menonton video sampai selesai misalnya, maka kemungkinan besar alogaritma tersebut akan menyuguhkan konten yang serupa. Alhasil, jika ada yang menyukai konten yang berisi quotes kesepian maka dia akan terus disuguhkan konten-konten yang semisal. Sisi positifnya konten tersebut dinilai  memberikan harapan dan inspirasi, tetapi di sisi lain banyak efek negatif yang seringkali jarang disadari. 


Pertama, konten quotes tersebut seringkali tidak dibuat oleh orang yang memiliki keahlian di bidangnya. Seperti konten quotes psikologi yang bisa saja tidak dibuat oleh orang yang memiliki kepakaran dalam bidang psikologi. Kemudian dibaca oleh umum dengan beragam konteks hidup sehingga memiliki celah yang besar untuk disalahartikan, kebenarannya sulit dipertanggungjawabkan.


Kedua, seseorang akan mendapatkan validasi instan yang bersifat emosional ketika membaca dan meresapi konten quotes. Alih-alih mencari solusi dari masalah yang dihadapi, dia malah akan sibuk mencari di medsos kata-kata yang cocok dengan apa yang dia rasakan. Lama kelamaan akan merasa ketergantungan dan bias untuk menyelesaikan masalah di dunia nyata. 


Jika seseorang merasa kesepian misalnya, maka dia akan makin terjebak dalam kesepian tersebut. Merasa kesepiannya divalidasi oleh berbagai quotes sehingga makin nyaman dalam kesendirian, akhirnya teralienasi dan sedikit demi sedikit mengganggu kestabilan mentalnya. Hal tersebut bisa saja mendorong seseorang untuk membangun tembok yang tinggi dan makin terisolir dari realitas masyarakat.


Dalam konsep Islam, kepedulian terhadap sesama adalah bagian dari keimanan. Memang diakui bahwa kesepian bisa saja menghinggapi siapa pun. Hanya saja, Islam telah memberikan panduan yang jelas agar setiap muslim senantiasa mengaitkan amalnya dengan Allah Swt. sebagai Al-Khalik, sehingga jiwanya tidak merasa kosong dan sepi. Setiap amalnya selama mengarungi hidup senantiasa diawasi oleh Allah Swt.. Setiap mengalami kesedihan, dia kembali pada Allah. 


Saat seorang muslim merasa kesepian maka itu artinya adalah momen yang tepat untuk kembali pada Al-Qur'an. Salah satunya dengan mentadaburi ayat-ayat Al-Qur'an sehingga memberikan kekuatan besar untuk menghadapi berbagai masalah hidup.


Dalam surah Ar-Ra'd ayat 28 yang menyatakan bahwa, "(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, bahwa hanya dengan mengingat Allah hati akan selalu tenteram." 


Sayangnya, sekularisme membuat konsep keimanan sebagai sebuah konsep suci semata tanpa bisa diaplikasikan dalam hidup karena sejak awal sudah pesimis terhadap Al-Qur'an. Al-Qur'an dinilai tidak bisa menyelesaikan masalah hidup. Al-Qur'an hanya dibaca di momen tertentu saja. 


Sekularisme memang jahat karena merusak mental seseorang dalam menghadapi kehidupan. Sekularisme memandang kehidupan itu harus dipisahkan dari agama. Ditambah penggunaan medsos yang jauh dari keimanan memberikan pengaruh buruk pada peran seorang muslim dalam menjalani hidupnya baik secara individu ataupun bermasyarakat. 


Penggunaan medsos tanpa keimanan membuat seseorang terjebak dalam masalah pribadi dan enggan memberikan perhatian pada masyarakat. Dalam Islam, ada perintah untuk peduli pada sesama: "Barangsiapa yang bangun di pagi hari tetapi tidak memikirkan kepentingan umat Islam, maka dia bukan termasuk umatku." (HR. Muslim)


Wallahualam bissawab. [Luth/MKC]


Dien Kamilatunnisa

 Banjir Melanda Buah Degradasi Lingkungan di Pulau Dewata

Banjir Melanda Buah Degradasi Lingkungan di Pulau Dewata




Menguatnya dunia pariwisata di Bali yang berkaitan erat dengan alih fungsi lahan

menjadi penyebab utama degradasi lingkungan di pulau Dewata tersebut

_________________________


KUNTUMCAHAYA.com, SURATPEMBACA - Kawasan Bali dilanda banjir pada 9-9-2025 lalu. Banjir ini menyebar di 123 titik, di Denpasar, Gianyar, Tabanan, Karangasem, Jembrana, dan Badung. (Kompas.id, 11-09-2025)


Per 12 September 2025, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Bali mencatat 18 korban tewas, 5 orang hilang, dan 441 warga mengungsi. Banjir juga merusak banyak infrastruktur dan fasilitas publik lainnya. (kumparan.com, 14-09-2025)


Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq mengungkap sejumlah faktor penyebab banjir di Bali di antaranya adalah cuaca ekstrem, tutupan hutan rendah, tata kelola sampah yang belum maksimal dan dugaan alih fungsi lahan. (Kumparan.com, 13-09-2025)


Hanif Faisol Nurofiq juga menyoroti Daerah Aliran Sungai (DAS) di Bali yang hanya tersisa 3%. Luas DAS berpohon di Bali mencapai 45 ribu hektare. Dari jumlah itu, kini hanya tersisa 15 ribu hektare atau sekitar 3 persen padahal idealnya DAS yang mampu menampung atau menahan hujan mencapai 30 persen.


Bencana banjir yang melanda Bali juga memunculkan sorotan tajam terhadap tata ruang Pulau Dewata. Derasnya pembangunan hotel, vila, dan cottage disebut sebagai salah satu penyebab utama bencana hidrometeorologi yang merenggut korban jiwa dan menimbulkan kerugian besar. (beritasatu.com, 10-09-2025)


Pariwisata dan Degradasi Lingkungan


Bali sebagai destinasi wisata dunia mengalami lonjakan pembangunan hotel, vila, dan cottage. Pembangunannya seringkali tidak terkendali dan luput dari pengawasan pemerintah sehingga daerah-daerah terutama di kawasan lereng bukit, sawah, hingga daerah resapan air, terganggu fungsinya. Hal ini tentunya memperlemah daya dukung lingkungan dan meningkatkan risiko bencana di kawasan tersebut.


Menguatnya dunia pariwisata di Bali yang berkaitan erat dengan alih fungsi lahan menjadi penyebab utama degradasi lingkungan di pulau Dewata tersebut. Fakta ini memperlihatkan bahwa pembangunan dengan cara pandang kapitalistik yang mengabaikan dan merusak kelestarian ekologi serta keseimbangan alam akan membawa bencana bagi manusia, alam, dan makhluk hidup di sekitarnya.


Sementara itu, bencana banjir yang terjadi tidak menyurutkan wisatawan untuk datang ke Bali. Menteri Pariwisata (Menpar) Widiyanti Putri Wardhana menyebut peristiwa banjir yang melanda Bali tidak berpengaruh terhadap kunjungan wisatawan. Menurutnya, meskipun sejumlah negara sempat mengeluarkan travel warning (peringatan perjalanan)  merespons banjir di Bali, tidak ada wisatawan mancanegara yang membatalkan perjalanan ke Pulau Dewata. Bahkan, kondisi hotel-hotel saat ini dalam keadaan penuh dihuni wisatawan.


Pernyataan menpar tersebut memberikan kesan bahwa Bali pasca banjir baik-baik saja. Jumlah wisatawan tidak ada penurunan sehingga dampaknya pendapatan negara pun tidak berkurang dan aman. Pasalnya, Bali menyumbang hampir separuh dari total pendapatan pariwisata negara. Dampak ekonomi banjir terasa diprioritaskan daripada dampak bagi masyarakat dan lingkungan.


Lalu bagaimana Islam memandang pariwisata dan panduannya dalam penjagaan lingkungan?


Penjagaan Lingkungan dalam Sistem Islam


Dalam Islam, pariwisata tidak dijadikan sebagai sumber utama pemasukan negara. Pemasukan negara berasal dari mekanisme syariat sehingga pembangunan tetap selaras dengan kelestarian alam, dan bencana alam pun dapat dicegah.


Karena dalam Islam, alam adalah amanah Allah. Air, hutan, sungai adalah milik umum bukan objek komersialisasi. Kerusakan ekologis akibat ulah manusia dilarang oleh Allah. Dalam QS. Ar-Rum: 41 Allah menjelaskan kerusakan akibat ulah tangan manusia: 


“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia. (Melalui hal itu) Allah membuat mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar-Rum: 41)


Islam memiliki panduan dalam penanganan bencana yang harus dilakukan secara fundamental, yaitu dengan tindakan preventif dan kuratif. 


Pada aspek preventif, Islam akan menetapkan kebijakan pembangunan yang ramah lingkungan, pemanfaatan sumber daya alam untuk kemaslahatan umat manusia, serta politik ekonomi berbasis syariat Islam.


Pada aspek kuratif jika terjadi bencana, beberapa hal yang dilakukan : (1) melakukan evakuasi korban secepatnya, (2) membuka akses jalan dan komunikasi dengan para korban, (3) mengalihkan material bencana ke tempat-tempat yang aman atau tidak dihuni oleh manusia, (4) mempersiapkan lokasi-lokasi pengungsian, pembentukan dapur umum dan posko kesehatan.


Demikianlah kiat-kiat Islam dalam menjaga keseimbangan alam dan menangani bencana alam. Dengan pencegahan serta penanganan yang sigap berlandaskan Al-Qur'an dan hadis, niscaya masyarakat di bawah naungan aturan Islam akan merasakan keberkahan dari langit dan bumi. Wallahualam bissawab. [GSM/MKC]


Amriane Hidayati

G4za Kian Menderita Adakah Solusinya

G4za Kian Menderita Adakah Solusinya

 



Dalam konteks G4za, jihad berarti upaya nyata untuk membebaskan rakyat dari blokade dan pembantaian

Bukan hanya dengan diplomasi atau bantuan kemanusiaan semata, tetapi diperlukan dukungan militer yang sah yang dipimpin oleh otoritas yang legitim (sah)

_________________________


Penulis Vina

Kontributor Media Kuntum Cahaya


KUNTUMCAHAYA. com, OPINI - Kejahatan Isra*l terhadap P4lestina kian hari makin nyata dan belum menampakkan tanda akan berhenti. Serangan bom yang menargetkan warga sipil, penghancuran rumah, sekolah, dan rumah sakit, hingga blokade bantuan kemanusiaan, semuanya adalah bukti bahwa ini bukan konflik biasa, melainkan genosida yang direncanakan.

 

Perdana Menteri Isra*l Benjamin Netanyahu terang-terangan memerintahkan pasukan untuk merebut Kota G4za. Ia mendesak warga sipil segera mengungsi ke selatan, sambil memperingatkan adanya “badai dahsyat” bagi mereka yang bertahan di tempat tinggalnya (Republika, 2025). Pernyataan ini mengungkap dengan jelas tujuan Isra*l untuk mengusir penduduk G4za dari tanah mereka sendiri, sebuah praktik pembersihan etnis yang berkali-kali mereka lakukan sejak 1948.


Dukungan Trump dan Diamnya Penguasa Arab


Dalam lanskap geopolitik global, tidak bisa dimungkiri pengaruh Amerika Serikat sangatlah besar. Donald Trump dan pendukung garis kerasnya terus menyerukan agar Isra*l segera menguasai G4za dan melakukan operasi militer penuh tanpa kompromi. Dukungan ini menjadi angin segar bagi Isra*l yang mendorong mereka untuk melangkah lebih agresif karena merasa memiliki perlindungan politik. Mereka makin percaya diri untuk melanggar batas-batas moral, kemanusiaan, dan aturan internasional. Dunia pun kembali dibuat tidak berdaya menghadapi hegemoni politik global yang membiarkan genosida berlangsung di depan mata.


Kondisi ini diperparah oleh diamnya penguasa negeri-negeri Arab, negeri yang paling dekat dengan pusat konflik tersebut. Mereka sering kali memilih bersikap “netral” bahkan tak jarang malah bekerja sama secara politis atau ekonomi dengan Isra*l. Dalam banyak kasus, koridor evakuasi atau rute bantuan ke G4za ditutup oleh negara-negara Arab sendiri karena tekanan diplomatik atau dengan dalih menjaga stabilitas regional.


Diamnya dunia internasional pun tak kalah menyakitkan. PBB sebagai Dewan Keamanan dunia terlihat “macet” dan berkutat pada kecaman-kecaman lemah tidak berarti. Sikap ini pada akhirnya memberi “izin terselubung” kepada Isra*l untuk melanjutkan aksinya. Isra*l tahu bahwa tidak akan ada sanksi serius, tidak akan ada intervensi nyata. Justru keheningan itulah yang membuat mereka makin berani menambah tingkat kejahatan.


Solidaritas Global dan Kemanusiaan


Berbeda dari sikap para penguasa dunia, umat manusia di berbagai belahan dunia tidak lagi tinggal diam. Mereka mengumpulkan dana, bantuan medis dan pangan, lalu mengorganisir misi kemanusiaan yang berani seperti Global Sumud Flotilla. Misi ini melibatkan lebih dari 50 kapal dari sekitar 44 negara yang mencoba menembus blokade laut Isra*l dan menyampaikan bantuan langsung ke G4za. Kapal-kapal ini membawa makanan, obat-obatan, air bersih, dan tenaga medis, mereka berlayar dalam semangat perdamaian dan keteguhan terhadap penderitaan warga Gaza (RRI, 2025).


Misi ini menjadi simbol keberanian dan solidaritas rakyat dunia yang sudah tidak lagi bisa menoleransi kekejaman Isra*l. Namun perjalanan mereka tidaklah mudah, beberapa kapal dilaporkan mendapat gangguan drone hingga mendapat ancaman akan dicegat oleh pasukan Isra*l. Para penyelenggara mengecam keras upaya kriminalisasi tersebut dan menegaskan misi kemanusiaan mereka sesuai dengan hukum internasional dan Konvensi Jenewa (MINA News, 2025). Solidaritas ini menunjukkan bahwa ada hati-hati nurani manusia di berbagai negara yang masih hidup. 


Segala hal yang dibawa oleh misi tersebut mulai dari bantuan medis, pangan, hingga air bersih tentu sangat penting bagi warga G4za saat ini. Akan tetapi, mari kita mencoba jujur dan sadari bahwa itu semua hanya menunda penderitaan, bukan menghentikan akar masalah. Setiap kali bantuan masuk, jumlahnya jauh lebih kecil dibandingkan kerusakan yang ditimbulkan serangan Isra*l. Masalah G4za bukan sekadar kemanusiaan, ini masalah penjajahan, politik, dan militer. Kebrutalan Z*onis hanya bisa dihentikan dengan aksi tegas dan nyata dalam perlawanan.


Solusi Islam: Jihad Fii Sabilillah


Islam menawarkan solusi yang jelas terhadap kezaliman semacam ini. Allah Swt. berfirman: “Dan perangilah mereka hingga tidak ada lagi fitnah, dan (hingga) agama hanya untuk Allah.” (QS. Al-Anfâl: 39)


Ayat ini menunjukkan bahwa perlawanan terhadap penindasan adalah kewajiban. Jihad fii sabilillah bukan sekadar “perang fisik” dalam artian kasar, tetapi sebuah perjuangan terorganisir yang diizinkan dalam kerangka syariat untuk membela kaum tertindas, menjaga kehormatan umat Islam, dan menghentikan kezaliman. 


Dalam konteks G4za, jihad berarti upaya nyata untuk membebaskan rakyat dari blokade dan pembantaian. Bukan hanya dengan diplomasi atau bantuan kemanusiaan semata, tetapi diperlukan dukungan militer yang sah yang dipimpin oleh otoritas yang legitim (sah). Tidak sembarangan melakukan kekerasan dan tidak menyerang warga sipil yang tidak bersalah, melainkan sebuah perjuangan terukur yang berlandaskan syariat Islam.


Umat Harus Menuntut Lebih


Hari ini umat Islam di seluruh dunia masih banyak yang sebatas menggalang dana, mengirim bantuan, atau membuat aksi solidaritas. Itu semua baik, tetapi belum cukup. Umat harus meningkatkan tuntutannya, agar para pemimpin muslim tidak berhenti pada diplomasi lemah. Apa yang bisa umat perjuangkan?


1. Mendesak negara-negara muslim untuk memutus segala bentuk kerja sama dengan Isra*l dan memberikan tekanan militer kepada mereka.  

2. Boikot total secara ekonomi, politik, dan budaya terhadap Isra*l dan sekutunya.

3. Mobilisasi dakwah dan pendidikan agar umat memahami bahwa melawan kezaliman bukan pilihan, melainkan kewajiban.

4. Mendukung terbentuknya negara yang menerapkan syariat Islam (Khil4fah) sebagai pelindung umat Islam di seluruh dunia, agar tidak ada lagi yang menodai kehormatan kaum muslim. 


Jika tuntutan ini terus bergema dan makin besar, maka para penguasa tidak bisa lagi berlindung di balik alasan diplomasi semu. G4za hari ini adalah cermin kemanusiaan dunia. Zion*s terus melakukan genosida, Trump dan sekutunya memberi dukungan, penguasa Arab banyak yang berkhianat, dan dewan dunia memilih diam. Sementara itu, solidaritas global dan misi kemanusiaan menunjukkan harapan, meski belum cukup untuk menghentikan kebiadaban.

 

Kita harus menyadari solusi kemanusiaan saja tidak akan menyelamatkan G4za. Islam telah menawarkan jalan syar’i: jihad fii sabilillah. Umat harus menuntut lebih agar para pemimpin muslim berani mengambil langkah nyata karena membela G4za bukan sekadar urusan politik, tetapi kewajiban agama dan kemanusiaan. Wallahualam bissawab. [GSM/MKC]

Swasembada Beras Angan-angan atau Kenyataan?

Swasembada Beras Angan-angan atau Kenyataan?



Stabilisasi harga beras dengan bertumpu pada beras SPHP pun sebenarnya tidak efektif

karena persoalan harga beras bersifat sistemis

__________


Penulis Reka Putri Aslama

Kontributor Media Kuntum Cahaya 


KUNTUMCAHAYA.com, OPINI- Pada dua tahun terakhir pemerintah selalu mengimpor beras untuk meningkatkan Cadangan Beras Pemerintah (CBP). Namun, kali ini dengan tegas Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyatakan bahwa Indonesia tidak bakal impor beras hingga akhir 2025. Menurutnya, beras yang dimiliki saat ini kurang lebih 4 juta ton atau lebih tinggi dari tahun lalu yang mencapai 2 juta ton. (Kumparan.com, 06-09-2025)


Namun, di tengah stok beras yang berlimpah ini ada hal mengejutkan justru terjadi. Ternyata harga beras di 214 Kota/Kabupaten di Indonesia masih di atas Harga Eceran Tertinggi (HET). Lantas, apa yang dilakukan pemerintah untuk menekan harga yang melambung tinggi ini? 


Mengguyur Pasar dengan SPHP


Strategi pemerintah dalam menekan harga beras adalah dengan mengguyur pasar dengan beras SPHP. Menurut Mendagri (Menteri Dalam Negeri) Tito Karnavian, strategi ini akan efektif dalam menekan harga beras karena telah terbukti sebelumnya di 51 Kota/Kabupaten ada penurunan harga beras, meningkat menjadi 58 Kota/Kabupaten. Atas dasar ini Mendagri optimis strategi ini bisa menekan harga beras di 214 wilayah yang harga berasnya masih melambung tinggi. (Kumparan.com, 02-09-2025) 


Dalam rangka memperlancar distribusi, pemerintah menetapkan 7 saluran distribusi, yaitu para pengecer di pasar tradisional, koperasi, lembaga-lembaga pemerintah, bersinergi dengan TNI Polri, outlet pangan BUMN, outlet binaan Bulog, dan ritel modern. 


Fakta Pendistribusian Beras SPHP


Di lapangan, distribusi beras SPHP (Stabilisasi Pasokan Harga Pangan) nyatanya terjadi keterlambatan. Terdeteksi beberapa kendala, di antaranya mekanisme yang rumit. Dalam hal ini, pedagang wajib melaporkan penjualan dengan mengirim bukti pembelian melalui aplikasi klik SPHP. Di sisi yang lain, para pedagang belum semuanya mengerti digitalisasi. Kendala lainnya, kemasan beras tidak boleh dibuka dan hanya boleh dijual per 5 kilogram.


Faktanya, masyarakat tidak semua mampu membeli 5 kg, biasanya mereka membeli 1-2 kilogram beras. Walaupun harga beras SPHP ini tergolong murah, masyarakat masih kesulitan untuk membeli beras per 5 kilogram. Pada akhirnya pedagang memilih untuk tetap menjual beras medium dan premium yang bisa diecer, sekalipun harga lebih tinggi dari beras SPHP. Masyarakat pun terpaksa membeli beras yang bisa diecer sekalipun harga lebih mahal. (CNBC.com, 22-08-2025) 


Demikian pun dari sisi kualitas beras SPHP kerap kali dikeluhkan oleh masyarakat. Tak jarang masyarakat enggan membelinya meskipun harga relatif lebih murah. 


Angan-Angan Swasembada


Carut marutnya distribusi beras SPHP memperlambat upaya swasembada yang digalakkan pemerintah. Beras SPHP hanya menumpuk di gudang bulog, hingga gudang mengalami "obesitas" padahal penumpukan beras rawan membuat kualitas beras menurun. 


Stabilisasi harga beras dengan bertumpu pada beras SPHP pun sebenarnya tidak efektif karena persoalan harga beras bersifat sistemis, yakni terkait tata kelola perberasan nasional dari hulu hingga hilir. Terlebih adanya kesalahan tata kelola bulog yang membuat stok beras tertahan di gudang.


Praktik oligopoli oleh perusahaan-perusahaan besar dalam tata niaga beras yang berpengaruh kuat dalam mengerek harga beras menjadi tinggi. Mereka pemilik kendali atas harga beras sedangkan pemerintah seolah menjadi pahlawan yang hadir ketika harga beras tinggi. Dengan berupaya menekan harga beras dan menyiapkan stok beras aman. Namun, karena tata kelola yang buruk sehingga stok tetap melimpah sementara harga tidak berubah.


Semua itu merupakan hasil penerapan kapitalisme. Swasembada beras hanya akan menjadi angan-angan semata dalam sistem ini. Lalu, bagaimanakah Islam menuntaskan masalah perberasan ini? 


Solusi Islam

 

Pemimpin di dalam sistem Islam merupakan seseorang yang bertanggung jawab penuh terhadap rakyatnya.

 

Rasulullah saw. bersabda: 

الإِمَامُ رَاعٍ وَهُوَ مَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ


“Imam (khalifah) adalah pengurus rakyat dan ia bertanggung jawab atas pengurusan rakyatnya.” (HR. Bukhari)


Jelas dalam hadis tersebut Rasulullah mengatakan bahwa Imam/khalifah/pemimpin merupakan pengurus rakyat sehingga semua urusan rakyat menjadi tanggung jawabnya, termasuk dalam hal pangan.


Negara dalam sistem Islam akan memastikan ketersediaan pangan dalam hal ini beras. Negara akan membenahi jalur distribusi beras dari hulu hingga hilir sehingga beras bisa sampai ke tangan-tangan rakyat. Rakyat bisa mendapat beras dengan harga murah atau bahkan bisa saja digratiskan bagi masyarakat miskin. Hal itu karena kepemimpinan di dalam sistem Islam tidak mengambil keuntungan dari rakyat. Pelayanan penguasa murni untuk melayani rakyat dan anggaran pun akan selalu tersedia dari kas Baitulmal. 


Negara dalam sistem Islam juga akan memastikan agar tidak ada praktik yang haram dan merusak distribusi, seperti halnya praktik oligopoli. Dalam sistem Islam, swasembada beras dengan harga terjangkau akan nyata terwujud, bukan hanya sekadar angan-angan belaka. Tidakkah kita menginginkan hal tersebut?

 

Untuk itu, mari kita berupaya bahu membahu agar sistem Islam diterapkan dalam mengatur kehidupan. Hanya sistem Islam sajalah swasembada pangan akan terwujud. Wallahualam bissawab. [EA/MKC]

Teror Filisida Mengancam Perempuan Islam Pelindung Ternyaman

Teror Filisida Mengancam Perempuan Islam Pelindung Ternyaman



Kasus-kasus para ibu yang tega mengakhiri hidupnya dan darah dagingnya tentu tidak bisa dilepas dari 

rusaknya sistem kehidupan hari ini yang tidak berpihak kepadanya


________________________


Penulis Ummu Dida

Kontributor Media Kuntum Cahaya 


KUNTUMCAHAYA.com, OPINI - Realitas kehidupan kadang tak sesuai harapan. Begitu juga saat seorang insan memutuskan untuk hidup berumah tangga dengan seseorang yang dianggapnya mampu memberikan jaminan kebahagiaan di masa depan. Namun, ketika hal itu tak terpenuhi, haruskah diri ini putus asa dan memilih untuk pergi selamanya dari kehidupan?


Nyatanya, pilihan kedua itu yang diambil oleh seorang ibu muda berinisial EN (34). Warga desa Kampung Cae, Desa Kiangroke, Kecamatan Banjaran, Kabupaten Bandung. Ibu muda ini nekat mengakhiri hidupnya dengan alasan tak sanggup lagi hidup dengan suaminya. 


Tragisnya, perempuan yang dikenal pendiam ini membawa kedua buah hatinya untuk “ikut” bersamanya. EN diduga memberikan racun kepada kedua bocah tak berdosa itu karena tidak rela jika anaknya harus menderita. (ANTARA.com, 08-09-2025)


Fakta-Fakta Tragis Lainnya


Kasus ibu muda yang putus asa dan nekat mengakhiri hidupnya tak hanya terjadi di satu daerah saja. Diberitakan dari laman yang sama pada 4-8-2025, masyarakat di Kabupaten Batang, Jawa Tengah, dikejutkan dengan penemuan mayat dua bocah perempuan di Pantai Sigandu.


Dari keterangan yang berwajib kedua anak tersebut sengaja diajak oleh ibunya, VN (31) pergi ke pantai. VN kemudian mengajak mereka ke tengah laut. Tragis, keduanya tenggelam dan meninggal. Sementara dirinya justru selamat karena terseret ombak. 


Sebelumnya, di tahun 2024, modus mengakhiri hidup dengan gantung diri juga menghebohkan warga Kabupaten Karawang, Jawa Barat. Di sini, sang ibu dan anak perempuannya yang berusia 9 tahun ditemukan sudah tak bernyawa di kusen kamar. Sementara itu, anak lainnya bisa selamat karena tali yang mengikat lehernya tiba-tiba terlepas. (ANTARA.com, 24-10-2024)


 Tanggapan Para Pemerhati Anak dan Perempuan


Banyaknya kasus bunuh diri yang terjadi di tengah keluarga memaksa para pengamat perempuan untuk ikut angkat bicara. Salah satunya datang dari Komisi Perlindungan Anak dan Perempuan (KPAI) yang diwakili oleh Diah Puspitarini. Diah menyatakan bahwa kasus bunuh diri yang terjadi di Bandung masuk dalam kategori filisida maternal, yaitu pembunuhan anak oleh ibunya sebelum dirinya bunuh diri.  


Sementara itu, Psikolog Klinis Forensik A Kasandra Putranto memberikan penjelasan tentang filisida dan penyebabnya. Menurutnya faktor kejiwaan, tekanan ekonomi, pandangan masyarakat, dan terbatasnya akses kesehatan mental menjadi pemicunya. (Metrotvnews.com, 09-09-2025)


Ada Apa dengan Para Ibu?


Berkaca dari kasus di atas, tentu harus ada langkah nyata yang benar-benar mampu menjaga kaum perempuan terutama ibu rumah tangga. Pasalnya, mereka ini sangat mudah terbawa perasaan putus asa.


Lantas, apa sebenarnya yang tengah melanda para pendidik generasi? Mengapa mereka begitu mudahnya memutuskan untuk bunuh diri dan tega mengakhiri hidup sang buah hati? Lalu, bagaimana pandangan Islam terkait permasalahan ini?


Naluri yang Terkikis Keadaan


Tindakan filisida yang dilakukan oleh para ibu tersebut sejatinya sebuah pelarian dari masalah yang menderanya. Kondisi tersebut membuatnya begitu takut jika anaknya menderita. Semua itu menjadi penyebab seorang ibu merasa tidak rela hingga membuatnya gelap mata. 

 

Siapa pun pasti tidak akan pernah meragukan kasih sayang seorang ibu kepada anaknya. Pasalnya, kasih sayang yang dimilikinya selalu berlimpah sepanjang hayatnya. Menjadi sesuatu yang mengerikan saat ada kasus seorang ibu yang tega melakukan pembunuhan berencana. 


 Tumbal Sistem yang Sakit


Kasus-kasus para ibu yang tega mengakhiri hidupnya dan darah dagingnya tentu tidak bisa dilepas dari rusaknya sistem kehidupan hari ini yang tidak berpihak kepadanya. Sebaliknya, kaum perempuan termasuk para ibu justru jadi tumbal sistem sakit yang membuatnya selalu merasa panik dan menderita. 


Sakitnya sistem hari ini membuat para ibu kelimpungan. Mereka begitu pusing dalam menyiasati keuangan keluarga di tengah-tengah banyaknya kebutuhan rumah tangga yang terus mengalami kenaikan. Belum lagi biaya pelayanan yang harus dipenuhi dan dibayarkan. Hal itu makin diperparah dengan masalah rumah tangga yang melibatkan pasangan. 


Semua persoalan yang datang bukan karena faktor kebetulan. Namun, ada campur tangan dari akal manusia yang penuh kelemahan dalam membuat sebuah aturan. Hal itu yang menjadi sumber sakitnya jiwa seseorang karena tercekik berbagai macam persoalan. Alhasil, solusi yang ditawarkan justru memperparah keadaan. 


Islam Memuliakan Perempuan


Rentetan permasalahan yang membelenggu kaum perempuan tentu akan terselesaikan saat Islam dihadirkan sebab semua yang ada di dalamnya sudah meliputi semua aspek kehidupan. Di sini kaum perempuan dilindungi dan dijaga dengan sangat maksimal. 


Islam menetapkan bahwa kaum perempuan tidak wajib mencari nafkah sebab kewajiban tersebut dibebankan khusus kepada laki-laki termasuk kepala keluarga. Sesuai firman Allah Swt.: ”Kewajiban ayah menanggung makan dan pakaian mereka dengan cara yang patut." (TQS. Al-Baqarah [2]: 233)


Demikian, ketika ibu dalam kondisi hamil atau pun menyusui. Mereka akan diberi keringanan untuk tidak berpuasa di bulan Ramadan karena boleh menggantinya di bulan-bulan yang lain. Dalil di atas merupakan bentuk penjagaan Islam yang memuliakan kaum perempuan. Hal itu menunjukkan betapa aturan Islam yang datang dari Zat Yang Maha Penyayang sempurna dalam segala hal. 


Peran Negara dalam Islam


Islam sudah begitu sempurna dalam memberikan jaminan dan perlindungan kepada kaum perempuan. Hanya saja, dibutuhkan sebuah institusi hakiki yang akan merealisasikan semua itu dalam kehidupan. Institusi inilah yang akan memastikan kebutuhan semua orang. 


Negara akan menyediakan lapangan pekerjaan bagi semua laki-laki termasuk suami maupun ayah agar bisa memberikan nafkah kepada keluarganya. Dengan demikian, kaum ibu bisa nyaman dan maksimal dalam mendidik anak-anaknya karena tidak dipusingkan dengan tingginya biaya kebutuhan hidup.


Hal yang sama akan dipenuhi oleh negara terkait penyediaan pelayanan fasilitas kesehatan dan pendidikan. Semua itu akan disediakan secara mudah, murah, bahkan gratis agar rakyat tidak lagi kesulitan dalam mengakses semua bentuk pelayanan yang dibutuhkan.


Demikianlah peran dan fungsi negara yang sesungguhnya di dalam Islam sebab kepengurusan rakyat dan kesejahteraannya merupakan tanggung jawab negara yang dipimpin oleh seorang kepala negara atau imam. Sesuai sabda Rasulullah saw.: ”Imam (kepala negara) adalah pengurus rakyat. Dia akan diminta pertanggungjawaban tentang rakyatnya.” (HR. Bukhari)


Khatimah


Kehadiran negara yang menerapkan Islam menjadi begitu penting. Namun, keberadaannya hanya akan terlihat nyata saat seluruh hukum Islam diambil untuk mengatur kehidupan. Dengan demikian, beragam masalah yang menerpa umat muslim bisa cepat terselesaikan, termasuk fenomena filisida maternal yang mengancam kaum perempuan. 


Untuk mewujudkan hal itu, tentu dibutuhkan adanya perjuangan dan aktivitas dakwah sebagaimana yang telah ditetapkan oleh Sang Pencipta. Semoga kasus-kasus di atas tidak akan pernah ada. Dengan begitu, para ibu bisa fokus, maksimal, dan nyaman dalam mendidik generasi muda Islam yang tangguh serta bertakwa. Wallahualam bissawab. [Dara/MKC]

Maraknya Seks Bebas, Dampak Liberalisasi Pergaulan Sosial

Maraknya Seks Bebas, Dampak Liberalisasi Pergaulan Sosial



Banyaknya persoalan seks bebas yang berujung kepada kematian

harusnya menyadarkan kita bahwa kita membutuhkan perubahan mendasar dalam sistem pergaulan sosial yaitu sistem pergaulan Islam


__________________________


KUNTUMCAHAYA.com, SURAT PEMBACA - Kasus seks bebas tak kunjung selesai, bahkan makin marak dan tidak sedikit berujung pada kematian. Kasus tragis kembali terjadi di Lampung, tepatnya di perkebunan tebu PT GMP Lampung Tengah karena dipicu permintaan korban yang menginginkan telepon genggam seharga Rp8 juta, tetapi hanya diberikan Rp3 juta. 


Pelaku ditolak oleh korban untuk melakukan hubungan seksual dan menyulut emosi pelaku. Hingga korban yang seorang pelajar berusia 16 tahun dibunuhnya dan ditemukan tewas pada 15 September 2025. Korban sebelumnya dilaporkan hilang 14 September 2025 dan terakhir terlihat bersama seorang pria beristri asal Kampung Gunung Batin Baru di wilayah terusan nunyai. Hubungan ini sudah terjalin selama satu tahun terakhir. (RadarLambar.com)


Fenomena seks bebas terus berulang terjadi. Pelakunya makin merata dari kalangan anak-anak, dewasa hingga kakek–kakek. Jumlah kejadian terus bertambah. Sistem sekularisme yang memisahkan aturan agama dalam kehidupan membuat seseorang merasa bebas dalam bertindak dalam kehidupannya.


Tidak sedikit pula pelakunya adalah orang-orang yang notabane paham tentang agama. Inilah  dampaknya ketika aturan Allah Swt. hanya boleh untuk individu; salat, puasa Ramadan, zakat, haji (ibadah mahdah) sementara dalam ranah publik (kehidupan masyarakat dan bernegara) tidak memedulikan lagi halal atau haram. Hukuman bagi pelaku juga tidak menimbulkan efek jera, wajar jika kasus seks bebas makin merajalela.


Islam sebagai agama yang sempurna mengatur semua aspek kehidupan mampu menyelesaikan semua persoalan manusia, termasuk masalah seks bebas. Seorang muslim memahami betul bahwa tujuan Allah Swt. menciptakan manusia untuk beribadah sebagaimana firman Allah Swt. dalam surah Ad-Zariyat ayat 56 yang artinya: “Dan tidaklah aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.“


Seorang muslim ketika beramal akan senantiasa terikat dengan halal atau haram. Keluarga sebagai benteng pertama akan membentuk ketakwaan individu. Dikenalkan tentang batasan aurat, dipisahkan tempat tidurnya ketika berumur 7 tahun, tidak boleh tidur satu selimut, dan lain lain.


Seseorang akan menjauhi hal–hal yang dilarang oleh Islam, seperti pacaran dan membunuh. Masyarakat juga berperan penting dalam mengontrol ketakwaan individu dengan terus melakukan amar makruf nahi munkar. Negara harus menerapkan sistem Islam secara kafah. Negara berperan aktif dalam membentuk kepribadian Islam melalui sistem pendidikan berbasis akidah Islam, menerapkan sistem pergaulan Islam, serta melaksanakan sistem sanksi Islam pada pelaku jarimah (pelanggaran hukum syarak).


Banyaknya persoalan seks bebas yang berujung kepada kematian, harusnya menyadarkan kita semua bahwa kita membutuhkan perubahan mendasar dalam sistem pergaulan sosial yaitu, sistem pergaulan Islam. Wallahualam bissawab. [Dara/MKC]


Wiwid Ummu Suyuthi

Dentuman Kegelisahan

Dentuman Kegelisahan



Wahai jiwa-jiwa yang menggemuruh di atas langit

Kembalikan kebenaran di atas keadilan

______________________________


Penulis Siluet Senja Dakwah

Kontributor Media Kuntum Cahaya 


KUNTUMCAHAYA.com, PUISI - Suara azan berkumandang di setiap surau
Memanggil setiap jiwa-jiwa yang beriman
Untuk beribadah kepada Sang Khalik Pencipta semesta alam
Wahai negeri yang sedang terseok dengan semua kegelisahan


Di tengah lembaran pilu akan dekapan kebenaran

Ketika hitam menjadi putih bahkan abu-abu

Ketika putih menjadi hitam gelap tidak ada secercah cahaya


Wahai jiwa-jiwa yang menggemuruh di atas langit

Kembalikan kebenaran di atas keadilan

Jatuhilah kejahatan dengan hukuman yang setimpal 

Dalam dekapan doa yang teriring untuk negeriku 


Sembuhlah... Sembuhlah... dengan setiap napas Islam

Dekatlah dengan seruan dakwah kebenaran 

Genggamlah semua perjuangan dengan syariat yang taat [SJ/MKC]

Crowded Silence: Ironi Sunyi di Tengah Kemewahan Zaman

Crowded Silence: Ironi Sunyi di Tengah Kemewahan Zaman



Fenomena lonely in the crowd tidak bisa dilepaskan dari akar persoalan sistemik

yakni sekuler liberalisme


__________________________


Penulis Fitria Damayanti, M.Eng

Kontributor Media Kuntum Cahaya 


KUNTUMCAHAYA.com, OPINI - Kesepian di era digital bukan lagi isu teoretis. Melainkan kenyataan statistik yang mengejutkan. Survei global menunjukkan bahwa Generasi Z adalah generasi paling kesepian meski mereka adalah kelompok paling terhubung secara digital.


Data dari 4A’s (2023) menemukan bahwa 73% Gen Z merasa kesepian setidaknya sekali dalam seminggu (New study reveals struggles and desires of Gen Z). Sementara laporan Oxfam GB (2023) menyebut 47% dari mereka sering merasa kesepian (New survey finds nearly half of Gen Z are lonely).  (www.oxfam.org.uk)


Fakta ini mempertegas paradoks besar di tengah keberlimpahan konektivitas, manusia justru makin sulit menemukan kedekatan sejati. Riset akademik turut mendukung temuan ini. Studi yang diterbitkan di jurnal Computers in Human Behavior oleh Elsevier menunjukkan bahwa keterlibatan dalam identity bubbles media sosial hanya memberi perlindungan terbatas dari rasa sepi.


Alih-alih membangun relasi bermakna, interaksi digital sering kali memperburuk tekanan psikologis (Koivula, Kaakinen, & Oksanen, 2022). Dengan kata lain, keintiman yang dijanjikan media sosial lebih sering berakhir sebagai kebersamaan semu. Di mana, manusia tampak ramai secara kasat mata tetapi tetap hampa dalam makna.


Kesepian dalam Layar: Generasi Z dan Beban Psikologis


Generasi muda yang terus menggunakan media sosial mengalami tekanan psikologis yang serius. Survei 4A’s (2023) mengungkapkan bahwa 73% Gen Z merasa kesepian setidaknya sekali seminggu, dan Oxfam GB (2023) menambahkan bahwa 47% di antaranya sering merasa kesepian.


Ini menandakan bahwa masalah kesepian bukan sekadar soal kurang literasi digital atau manajemen waktu penggunaan gawai, melainkan berakar pada cara interaksi dan identitas diri dibentuk dalam ruang digital. Sistem sekuler liberal yang mengagungkan kebebasan ekspresi individu tanpa bingkai nilai transenden membuat manusia rentan merasa kosong ketika interaksi sosial hanya berfungsi sebagai pertunjukan citra.


Komunitas Semu: Ramai yang Justru Membuat Asing


Efek sosialnya jelas terlihat dalam melemahnya relasi antarmanusia. Media sosial yang didorong oleh algoritma kapitalis menciptakan identity bubbles dan ruang gema yang mempersempit pandangan serta mengikis empati (Koivula, Kaakinen, & Oksanen, Computers in Human Behavior, 2022).


Banyak anak muda memiliki ribuan koneksi virtual, tetapi tidak mampu menemukan kedekatan emosional yang sejati. Fenomena ini melahirkan generasi yang aktif berbagi konten, tetapi pasif dalam membangun komunitas nyata, bahkan sering kali merasa asing di tengah keluarga sendiri. Semua ini adalah konsekuensi logis dari sistem liberal yang menempatkan individualisme di atas nilai kebersamaan.


Kapitalisme Digital: Keramaian Bising, Kehidupan Sunyi


Secara struktural, kapitalisme digital menempatkan perhatian (attention) sebagai komoditas. Algoritma media sosial dirancang untuk memaksimalkan engagement, bukan memperkuat kesehatan sosial. Akibatnya, kebutuhan manusia terhadap kedekatan otentik, empati, dan spiritualitas dikorbankan demi profit.


Dengan lebih dari 70% Gen Z mengaku sering kesepian, jelas bahwa dampaknya bukan hanya pada individu, melainkan juga potensi generasi muda yang menjadi rapuh, tidak produktif, dan kurang peduli pada problematika umat (4A’s, 2023).  Sistem sekuler liberal dengan logika individualisme dan pasar bebasnya, telah melahirkan keramaian digital yang bising namun eksistensialnya sunyi.


Dengan demikian, fenomena lonely in the crowd tidak bisa dilepaskan dari akar persoalan sistemik, yakni sekuler liberalisme. Sistem ini merayakan kebebasan individu tanpa landasan nilai transenden, mendorong industri digital yang mengeksploitasi atensi, dan menciptakan masyarakat yang ramai secara artifisial, tetapi sepi secara makna. 


Data kesepian yang tinggi pada Gen Z hanya gejala dari krisis yang lebih dalam. Manusia modern kehilangan arah hidup, solidaritas sosial melemah, dan generasi muda kian rapuh. Selama sistem sekuler liberal terus mendominasi, media sosial akan tetap menjadi arena kebisingan semu—tempat orang tampak terhubung, tetapi sesungguhnya semakin terasing.


Solusi Islam atas Kesepian Modern


Pertama, solusi individu. Islam menawarkan orientasi hidup yang menegaskan bahwa manusia bukan sekadar makhluk sosial, melainkan hamba Allah. Identitas seorang muslim berakar pada akidah Islam sebagai asas berpikir dan berperilaku. Hal ini dijelaskan oleh Syekh Taqiyuddin an-Nabhani dalam Peraturan Hidup dalam Islam bahwa akidah Islam menjadi asas segala aturan kehidupan (an-Nabhani, Peraturan Hidup dalam Islam). 


Dengan menjadikan Islam sebagai identitas utama. Seorang muslim memiliki arah hidup yang jelas sehingga tidak terjebak dalam kehampaan eksistensial yang menjadi penyakit generasi muda di bawah sistem sekuler liberal.


Kedua, solusi sosial. Islam mengatur hubungan antarindividu bukan hanya sebatas interaksi instrumental, melainkan berbasis ukhuwah dan tanggung jawab moral. Penelitian Effect of Perceived Social Support on Self-care Agency and Loneliness Among Elderly Muslim People menemukan bahwa di antara 965 lanjut usia muslim, terdapat korelasi negatif yang kuat antara dukungan sosial yang dirasakan dan tingkat kesepian; semakin tinggi dukungan sosial, semakin rendah kesepian mereka (p < 0,05) (Dural, Kavak Budak et al., 2022).


Begitu juga penelitian di kalangan mahasiswa perantau menunjukkan bahwa dukungan sosial dan kesejahteraan psikologis secara bersama-sama menjelaskan sekitar 25,3% varians kesepian (Wijaya & Rozi, 2024). Fakta-fakta ini mempertegas bahwa ruang sosial yang kuat bukan hanya jumlah koneksi digital sangat dibutuhkan untuk meredam sunyi di tengah keramaian virtual.


Ketiga, solusi negara. Islam memerintahkan negara agar menjaga integritas sosial, moral, dan akidah masyarakat. Pemerintahan Islam bertanggung jawab menjaga agar ruang publik, termasuk digital, tidak menjadi tempat kerusakan moral.


Negara Islam dapat memanfaatkan data survei seperti yang disebutkan di atas untuk merancang kebijakan yang memperkuat dukungan sosial (social support). Contohnya: membangun fasilitas komunitas sosial, program penguatan interaksi keluarga, dan regulasi yang meminimalisasi aspek kompetitif dan komersial berlebihan di media sosial. 


Dengan dukungan negara, generasi muda memiliki ruang yang nyata untuk merajut ukhuwah dan kepedulian. Bukti bahwa solusi Islam tidak hanya ideal tetapi bisa diwujudkan berdasarkan data empiris. Wallahualam bissawab. [Dara/MKC]

Keamanan Publik Rapuh di Transportasi Umum

Keamanan Publik Rapuh di Transportasi Umum



Penjaminan keamanan bagi masyarakat akan sulit diimplementasikan

apabila negara kita masih menganut sistem sekularisme

_______________________


Penulis Ghayda Azkadina

Kontributor Media Kuntum Cahaya 


KUNTUMCAHAYA.com, OPINI- Kasus pencopetan tak henti-hentinya kembali mencuat di Kota Bogor. Entah sudah yang ke berapa kalinya kejadian pencopetan terjadi di transportasi umum. Masyarakat pun sudah kebal mendengar berita pencopetan dan lelah mengharapkan adanya jaminan keamanan saat sedang melakukan perjalanan dengan menggunakan transportasi umum. 


Beberapa waktu yang lalu, seorang pria berinisial S (43) ditangkap setelah melakukan aksi pencurian ponsel milik seorang guru di dalam angkot jurusan Empang–Pancasan, Kecamatan Bogor Barat. Ironisnya, pelaku bukan ditangkap karena patroli atau kecepatan respons aparat, melainkan berkat upaya korban sendiri.


Menurut laporan DetikNews.com (27-09-2025) korban melacak ponselnya menggunakan aplikasi pelacak lokasi. Ia kemudian mendatangi posisi tersebut. Dengan bantuan warga sekitar ia berhasil menangkap pelaku sebelum diserahkan ke polisi.


Pelaku diketahui merupakan warga Tangerang dan memiliki latar belakang pekerjaan sebagai sales makanan. (TribunnewsBogor.com, 27-09-2025)


Peristiwa penangkapan itu juga dibenarkan warga sekitar yang ikut membantu saat pelaku berhasil ditemukan. (Ceklissatu.com, 27-09-2025)


Dalam kasus ini menegaskan tidak adanya jaminan keamanan bagi masyarakat di ruang publik, khususnya di moda transportasi umum. Pencopetan, penjambretan, dan aksi kriminal lain di angkot atau bus memang bukanlah hal baru. Namun, hal yang memprihatinkan adalah masyarakat sering kali harus bertindak sendiri untuk melindungi diri dan hartanya. Negara tidak hadir dalam menjamin rasa aman bagi masyarakat.


Tingkat Kriminalitas Terus Meningkat


Data Kepolisian Republik Indonesia menunjukkan bahwa angka kriminalitas nasional mengalami tren peningkatan dalam beberapa tahun terakhir. Sepanjang tahun 2024, tercatat lebih dari 320 ribu kasus kejahatan di seluruh Indonesia. Meningkat sekitar 7% dibandingkan tahun sebelumnya. Kejahatan konvensional seperti pencurian, penipuan, dan perampasan masih mendominasi laporan masyarakat.


Khusus di Kota Bogor, catatan Polresta Bogor Kota menunjukkan bahwa selama tahun 2024 terjadi peningkatan kasus pencurian dan pencopetan di area transportasi umum dan ruang publik lainnya. Dalam laporan tahunan Polresta, kasus pencurian naik sekitar 12% dibandingkan tahun 2023. Lokasi yang paling sering terjadi aksi kriminal adalah di angkot, terminal, dan pasar tradisional.  Pihak kepolisian mengakui bahwa keterbatasan personel dan luasnya wilayah operasi menjadi tantangan dalam melakukan patroli secara rutin dan menyeluruh.


Meningkatnya tingkat kriminalitas ini menunjukkan adanya kesenjangan besar antara kebutuhan keamanan masyarakat dan kapasitas negara dalam memenuhinya. Situasi ini menciptakan ruang rawan, terutama di moda transportasi umum. Para pelaku kejahatan dapat beraksi dengan cepat dan kerap lolos tanpa hambatan.


Belajar dari Sistem Keamanan Khil4fah


Berbanding terbalik dengan kondisi saat ini. Sejarah Islam pernah menunjukkan sistem keamanan publik yang sangat efektif. Pada masa Khil4fah, keamanan rakyat dijaga secara aktif melalui patroli aparat yang berlangsung siang dan malam. Khalifah Umar bin Khaththab dikenal sering turun langsung melakukan ronda malam untuk memastikan masyarakat tidur dalam keadaan aman.


Pengawasan ketat di jalan raya dan pasar membuat kejahatan jalanan sangat jarang terjadi. Sejarawan bahkan mencatat pada masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz, seorang wanita bisa melakukan perjalanan sendirian dari Syam ke Yaman tanpa rasa takut. Hal ini menunjukkan gambaran tingkat keamanan publik yang sangat tinggi bisa dicapai tanpa teknologi modern. Sistem ini berhasil karena negara benar-benar menjalankan peran sebagai pelindung rakyat secara proaktif, bukan menunggu laporan atau insiden terjadi.


Penjaminan keamanan seperti masa kekhilafahan akan sulit dibayangkan, apalagi bisa diimplementasikan sebab negara kita masih menganut sistem sekularisme yang memisahkan agama dari kehidupan. Negara akan menerapkan seluruh hukum Islam seperti sistem ekonomi Islam, sistem sosial Islam, sistem sanksi, dan peradilan Islam.


Sistem peradilan Islam tegas dalam menindak seluruh tindak kriminalitas. Tidak tumpul ke atas dan tajam ke bawah. Sistem keamanannya kuat, secara komprehensif telah terbukti terjadi penurunan kriminalitas dan mampu menjaga masyarakat dari kejahatan-kejahatan di ruang publik.


Penutup


Kasus pencopetan di angkot Bogor seharusnya menjadi alarm bagi pemerintah dan aparat keamanan untuk melakukan perbaikan serius. Meningkatnya angka kriminalitas, baik secara nasional maupun lokal menunjukkan bahwa sistem keamanan publik kita masih lemah. Negara harus benar-benar hadir secara aktif dan preventif dalam menjamin keamanan warganya, termasuk di moda transportasi umum.


Sejarah telah menunjukkan bahwa sistem keamanan yang kuat hanya dapat tercipta bila negara benar-benar mengambil peran sebagai pelindung, sebagaimana yang pernah terjadi pada masa Khil4fah. Masyarakat tidak seharusnya dibiarkan berjuang sendiri karena keamanan adalah hak rakyat dan kewajiban negara. Wallahualam bissawab. [EA/MKC]

Mengatasi Masalah Perekonomian dengan Islam

Mengatasi Masalah Perekonomian dengan Islam



Untuk mencapai kesejahteraan yang merata dan adil

tidak akan didapatkan dari sistem yang sekarang diterapkan, yaitu sistem ekonomi kapitalisme

_____________________


KUNTUMCAHAYA.com, SURAT PEMBACA - Belum lama ini Presiden Prabowo memberikan lampu hijau atas kebijakan dari Menteri Keuangan (Kemenkeu) Purbaya Yudhi Sadewa yang mengucurkan dana pemerintah sebesar Rp200 triliun ke bank nasional mulai Jumat (12 September 2025).


Menurutnya, kebijakan ini dilakukan untuk meningkatkan likuiditas perbankan agar kredit dapat tumbuh dan mendorong pertumbuhan ekonomi. (Kompas.com, 13-09-2025)


Namun, para pakar ekonomi menilai kebijakan ini tidak akan efektif untuk menyelesaikan permasalahan ekonomi Indonesia saat ini karena dengan mengalirkan uang ke bank tidak langsung menyelesaikan pokok masalah ekonomi yang kompleks di Indonesia. 


Sistem Perekonomian yang Gagal


Perekonomian Indonesia telah mengalami kemerosotan yang serius. Semenjak pascapandemi perekonomian nasional belum stabil, konsumsi rumah tangga lemah, kemudian berimbas pada daya beli masyarakat yang menurun. Belum lagi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang terus melemah, dan diperparah dengan fenomena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) massal.


Jumlah utang ke luar negeri saat ini kian membengkak yang sudah jatuh tempo sekitar Rp800 triliun plus bunga utang Rp500 triliun juga beban pajak yang memberatkan masyarakat. Tak heran jika menurut standar Bank Dunia sekitar 60,3% masyarakat Indonesia kini tergolong miskin dan rentan miskin efek dari krisis ekonomi. 


Di sisi lain, bukti keberhasilan suatu negara sering kali dilihat dari angka pertumbuhan ekonomi. Di mana angka pertumbuhan yang tinggi sering dianggap perekonomian sedang sehat dan masyarakat yang sejahtera. Namun pada faktanya, penilaian itu hanya untuk ukuran makro yang bersifat rata-rata, bukan kondisi ekonomi masyarakat apalagi per individu yang sebenarnya. Jika itu dijadikan tolok ukur, yang ada hanya paradigma yang menyesatkan.


Maka dari itu, jika menggelontorkan dana sebesar Rp200 triliun yang berasal dari pajak rakyat, lalu mengharapkan kondisi ekonomi membaik itu jelas keliru, yang ada hanya kemubaziran, uang sebesar itu akan lenyap sia-sia. Hal itu tidak akan memberikan kesejahteraan pada masyarakat secara menyeluruh dan merata. 


Untuk mencapai kesejahteraan yang merata dan adil, tidak akan didapatkan dari sistem yang sekarang diterapkan, yaitu sistem ekonomi kapitalisme karena sudah terbukti gagal dalam hal menyejahterakan rakyat secara menyeluruh. Apalagi sistem ini menormalisasikan pajak dan utang ribawi.


Sungguh kesalahan yang sangat fatal padahal Indonesia telah diberi sumber daya alam yang melimpah, tetapi tidak dikelola oleh negara secara mandiri. Malah dikuasai oleh asing dan aseng. 


Islam Hadir dengan Keadilan dan Kesejahteraan 


Berbeda dengan sistem Islam yang mengatur roda perekonomian negara dan kepemilikan sumber daya alam. Dalam kitab An-Nizhâm al-Iqtishâdi fî al-Islâm (Sistem Ekonomi Islam) milik ulama dan pemikir Islam pada abad ke 20, yaitu Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani beliau menegaskan bahwa Islam menetapkan aturan tegas tentang kepemilikan, pengelolaan kekayaan dan peran negara dalam menjamin kesejahteraan rakyatnya.


Dalam kepemilikan dibagi menjadi tiga bagian, yaitu milkiyyah fardhiyyah (kepemilikan individu), milkiyyah ‘âmmah (kepemilikan umum), dan milkiyyah ad-dawlah (kepemilikan negara). Dengan begitu, Islam menutup celah privatisasi sumber daya alam bagi swasta, asing maupun aseng. 


Air, listrik, tambang atau yang lainnya adalah milik umum yang harus dikelola langsung oleh negara dan dimanfaatkan kembali untuk pemenuhan kebutuhan rakyat. Bukan diserahkan pada pihak swasta apalagi pihak asing atau aseng. 


Dalam Islam, untuk menyelesaikan persoalan ekonomi tidak terfokus pada pertumbuhan ekonomi secara angka atau memanfaatkan kekayaan alam setempat saja. Akan tetapi, dari pendistribusian kekayaan. Oleh karena itu, Islam melarang sumber kekayaan alam dimiliki oleh segelintir orang dan berputar hanya di orang-orang kaya saja.


Pemerintah yang seharusnya mengelola sumber daya alam sesuai prinsip Islam dan hasilnya disalurkan kembali kepada rakyat demi memenuhi hak-hak dasar rakyat berikut membuka peluang lapangan pekerjaan untuk warganya. Allah Swt. berfirman, yang artinya: “Supaya harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kalian.” (TQS. Al-Hasyr [59]: 7)


Islam juga melarang warganya untuk menimbun harta dan sebaliknya Islam mendorong warga, agar harta mereka berputar melalui berbagai macam muamalah dan investasi riil, bersedekah/infak, hibah, dan wakaf, serta mewajibkan zakat. Begitulah Islam, agama sekaligus sistem yang menawarkan solusi ekonomi yang sangat relevan untuk menjawab tantangan ketimpangan dan menciptakan sistem yang lebih adil dan berkeadilan sosial. Wallahualam bissawab. [Dara/MKC]


Ummi Qyu