Alt Title
Tips Editing Naskah Opini

Tips Editing Naskah Opini

 




Inilah tips-tips bagi para penulis agar meminimalisir kesalahan dalam menulis 

sehingga para penulis bisa terus berkembang menjadi lebih baik

______________________________

 

Penulis Mahganipatra

Kontributor Media Kuntum Cahaya


KUNTUMCAHAYA.com, SHARING KEPENULISAN - Sebagai seorang penulis ideologis, kegiatan menulis merupakan aktivitas yang senantiasa selalu membersamai kita setiap saat. Mulai dari proses tatabu fakta, cek and ricek berita-berita di media yang berhubungan dengan fakta yang tengah diangkat. Bahkan sampai pada upaya untuk mencari teman diskusi atau terkadang juga membaca opini-opini milik penulis lain yang mengangkat tema yang sama.


Upaya-upaya tersebut menjadi bahan pertimbangan sekaligus menjadi masukan bagaimana pandangan Islam terkait tema yang tengah diangkat. Tentunya, ini membutuhkan waktu juga energi untuk melaluinya.

Tips Tatabu Fakta  


Teman-teman, menurut bunda Yuliyati Sambas, kalau menulis opini itu kadang membutuhkan beberapa tulisan atau video yang harus disimak. Hal ini dilakukan agar dapat mendukung isi naskah, supaya lebih menarik dan tajam saat membuat analisis tulisan opini kita.

Terkadang, ketika kita hanya membaca sumber berita dari link yang ada dan mencukupkan diri hanya berdasarkan pada sumber link yang diberikan oleh TOR saja. Hal tersebut, bisa jadi akan mendorong kita pada kemungkinan bahwa opini yang kita tulis akan dangkal dan analisisnya pun akan tumpul. Oleh karena itu beliau pun menyarankan, untuk melakukan pendalaman mafhum kita, terkait tema yang akan kita angkat. Apa saja fakta-fakta yang harus kita baca yang sekiranya berkaitan, serta melingkupi tema yang ingin kita angkat.

Ini bisa kita lakukan agar makin banyak yang kita tahu dan pahami, sehingga kita akan terhindar dari kemungkinan sesat opini dan arah analisisnya. Terutama ketika teman-teman punya banyak agenda lain yang cukup padat, sementara tatabu fakta dan analisis butuh sekali kita jalani. Maka, tips ini bisa jadi solusi, di antaranya:

1. Baca isi link berita yang diangkat;
2. Dari link pertama, catat dan ingat apa saja yang menjadi kata kunci dan membutuhkan pendalaman yang harus kita ketahui;
3. Misal tentang "Utang Negara" kira-kira apa saja yang harus kita detili? Contohnya kita butuh tahu tentang:
- Apa itu arti dari utang negara;
- Lantas rasio utang negara terhadap GDP/PDB;
- Apa itu PDB;
- Apa pengaruh dan untuk tujuan apa rasio utang terhadap PDB itu dihitung;
- Bagaimana cara para ekonom memandang terkait utang negara;
- Adakah payung hukum yang membahas rakit utang negara
- dan seterusnya;

4. Dari semua yang butuh kita ketahui, tidak mesti sumbernya harus dari sumber tulisan saja. Jika kita cukup sibuk, misal tidak sempat baca karena harus memasak, cuci piring, menyetrika, mencuci baju lalu harus menjemurnya, menyuapi anak, dan lain-lain. Kita bisa siasati dengan menonton youtube, dengan mencari kata kunci dari pertanyaan-pertanyaan yang kita butuh ketahui tadi.

Poin 4 ini bisa menjadi salah satu uslub agar proses memahami fakta dan apa-apa yang melingkupinya bisa dipahami dengan benar dan dapat memudahkan kita untuk mendalami fakta. Alhasil, tidak ada lagi alasan seperti: "Bunda, aku punya kebiasaan suka lupa. Aku mah tipenya harus yang langsung dicatat atau dicopas."
 
Maka, setidaknya hal tersebut bisa menjadi salah satu uslub dalam menjawab bagaimana sebenarnya solusi mudah untuk menyelesaikan kendala dalam tatabu fakta. Tatabu bisa tetap dilakukan lewat video ketika kita dalam kondisi repot sekalipun. Kita tetap berupaya untuk memasukkan maklumat dalam benak kita terkait fakta dan analisis yang melingkupi tema yang sedang kita angkat.

Tips Edit Naskah Opini agar Tidak Terdeteksi Plagiat

 
Ketika kita sudah punya cukup waktu, barulah sumber yang berbentuk tulisan bisa mulai kita cari. Tentunya dengan kondisi maklumat di dalam benak kita yang sudah cukup "terisi" sehingga proses tatabu berikutnya akan lebih mudah dilakukan.
 
Ini sekilas tentang salah satu uslub dalam mendalami analisis berita untuk proses penulisan opini. Berikutnya terkait urusan editing naskah. Apakah selama ini ada yang pernah mengirim naskah ke suatu media, lantas mendapat masukan untuk diedit ulang?

Jika belum, saya mau bertanya. Kira-kira bagian mana yang paling sulit? Apakah terkait self editing yang dirasa cukup sulit buat teman-teman? Kalau jawabannya iya, coba teman-teman buat beberapa contoh, misalnya:
1. Bagian judul dan subjudulkah?
2. Parafrase agar didapat angka plagiat rendahkah?
3. PUEBI-kah
4. Kalimat baku dan tidak bakukah?
5. Analisis yang kurang tajamkah?
6. Solusi/pandangan Islam yang kurang detailkah?
7. Atau adakah hal lainnya?

Nah, kira-kira dari ke 7 poin tersebut, mana yang biasanya menjadi perihal yang mendapat perhatian seorang penulis plus editor?
Pastinya, setiap penulis memiliki beberapa kendala, salah satunya dalam masalah penulisan dalil. Maka ada 2 cara untuk menyiasatinya, yaitu:

1. Penulisan secara langsung. Caranya agar tidak terdeteksi plagiat maka tuliskan antara kalimat pengantar paragraf sebelum dalil dengan dalilnya disimpan di baris yang sama. Lalu keterangan hadis riwayat siapanya dituliskan sebelum dalil.

2. Pengutipan secara tidak langsung. Dilakukan dengan cara menjelaskan isi dari dalil tersebut. Hanya saja untuk teknik ini butuh kehati-hatian, agar jangan sampai menjelaskannya menjadi tidak tepat seperti yang dimaksudkan dalil itu sendiri.

Contoh poin 1: ... Sebagaimana hadis Rasulullah saw.  dengan jalur periwayatan Imam Bukhari, "Imam (khalifah) adalah raa'in, ..."
 
Contoh poin 2: Rasulullah saw. telah memberi gambaran tentang seorang penguasa, di dalam hadis riwayat Imam Bukhari bahwa seorang penguasa itu adalah raa'in (pengurus), di mana ia bertanggung jawab terhadap rakyat yang dipimpinnya.

Solusi untuk Mendeteksi Angka Plagiat dalam Naskah Opini


Namun, jika ternyata masalahnya ada di fakta, maka solusinya cek dengan aplikasi. Cek plagiatnya di link https://smallseotools.com/plagiarism-checker/

Biasanya aplikasi ini akan memberikan tanda pada konten apa saja yang terdeteksi sebagai plagiat, pada tiap kalimatnya. Jadi, akan memudahkan bagi kita untuk membuat parafrase fakta yang terdeteksi plagiat tersebut.

Kemudian untuk solusi masalah terkait cara penulisan kata baku atau tidak baku. Apakah tulisan kita sudah benar cara penulisannya? Maka kita harus rajin untuk membuka aplikasi https://ejaan.kemdikbud.go.id/.

Sebab, aplikasi ini bisa membantu kita mengurangi kesalahan cara penulisan kata yang harus ditulis baku, ternyata justru kita menulisnya dalam kata yang tidak baku.

Jadi, inilah tips-tips bagi para penulis agar meminimalisir kesalahan dalam menulis, sehingga para penulis bisa terus berkembang menjadi penulis yang lebih baik lagi ketika menulis. Seorang penulis ideologis hendaklah ketika menulis senantiasa melibatkan Allah di dalam dirinya dan senantiasa yakin. Sekecil apa pun upaya kita dalam membuat tulisan, maka Allah akan memberikan balasannya.

Hal ini termaktub di dalam Al-Qur'an surah Al-An'am ayat 160, Allah Swt. akan membalas setiap perbuatan seorang hamba sesuai dengan firman-Nya: "Siapa yang berbuat kebaikan, dia akan mendapat balasan sepuluh kali lipatnya. Siapa saja yang berbuat keburukan, dia tidak akan diberi balasan melainkan yang seimbang dengannya. Mereka (sedikit pun) tidak dizalimi (dirugikan)."

Wallahualam bissawab. [MGN/MKC]

 Zionis Makin Bengis

Zionis Makin Bengis


Untuk melawan Zionis, negara muslim harus berani mengambil risiko

dan menunjukkan bahwa mereka tidak hanya peduli pada Palestina dalam kata-kata, tetapi juga dalam perbuatan


______________________________


Penulis Rini Sulistiawati

Kontributor Media Kuntum Cahaya dan Muslimah Pemerhati Sosial Kemasyarakatan


KUNTUMCAHAYA.com, ANALISIS - Israel terus meningkatkan serangannya di Lebanon, dengan meluncurkan roket ke Beirut pada Jumat (28-9-2024).

Al Jazeera juga melaporkan bahwa lebih dari 12 kali ledakan terjadi di Dahiyeh dan telah menghancurkan tujuh bangunan di Haret Hreik. Sementara pertahanan sipil terus berusaha memadamkan kebakaran dan meminta warga untuk menyumbangkan darah karena kemungkinan akan banyak korban akibat serangan tersebut. (CNBC Indonesia, 28-09-2024)

Diwartakan oleh bbc.com (27-09-2024), Israel dan Hizbullah, mereka berjanji akan melanjutkan serangan. Israel akan menggempur lokasi militer di Lebanon selatan, sementara Hizbullah memilih menyerang dengan roket ke wilayah utara Israel.

Akibat dari serangan tersebut, Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan bahwa di Nabatieh 800 orang tewas akibat serangan Israel, termasuk perempuan hamil dan dua anak-anak. PBB juga melaporkan lebih dari 30.000 orang keluarga di Lebanon selatan telah mengungsi dan melarikan diri ke Suriah dalam tiga hari terakhir.

Diamnya Dunia dan Arogansi Zionis: Saatnya Umat Muslim Bangkit dari Retorika


Arogansi Zionis terus menguat dari tahun ke tahun. Serangan demi serangan terhadap rakyat Palestina makin brutal dan tak kenal henti. Ironisnya, dunia tampak diam. Negara-negara besar sibuk dengan agenda masing-masing, seolah tutup mata terhadap kejahatan kemanusiaan yang terus terjadi. Bahkan, penguasa negeri-negeri muslim, yang seharusnya menjadi pelindung dan pembela saudara mereka di Palestina, justru memilih untuk merespons dengan retorika yang hampa. Ini bukan hanya masalah kegagalan diplomasi, tetapi mencerminkan sekat-sekat nasionalisme yang memutus persaudaraan Islam.

Retorika Kosong dan Tanggung Jawab yang Hilang


Kita sering mendengar seruan dari pemimpin negara muslim tentang "Solidaritas dengan Palestina." Tetapi kenyataannya, tindakan mereka tak sebanding dengan kata-kata yang diucapkan. Retorika solidaritas sering kali diikuti dengan langkah-langkah diplomatik yang minimal, sekadar untuk menunjukkan keterlibatan, tetapi tidak berani mengambil risiko lebih besar. Saat sebagian besar dunia muslim hanya berani bicara tanpa melakukan aksi nyata, Israel makin berani menunjukkan dominasi dan terus menginjak-injak hak-hak bangsa Palestina.

Padahal jika kita mau jujur, potensi yang dimiliki negara-negara muslim, sebenarnya mampu melakukan lebih dari sekadar mengutuk. Dengan populasinya yang besar, sumber daya alam yang melimpah, dan potensi militer yang tak bisa diremehkan. Kekuatan negara-negara muslim seharusnya bisa memberikan tekanan yang berarti pada Israel dan sekutunya. Namun kenyataannya, upaya tersebut selalu terhalang oleh sekat-sekat nasionalisme yang membuat negara-negara muslim sulit bersatu.

Sekat Nasionalisme: Penghalang Persaudaraan Islam


Nasionalisme telah menjadi biang penyakit yang memecah belah kekuatan umat Islam. Seharusnya, prinsip dasar Islam yang menekankan persaudaraan dan solidaritas antarsesama muslim dapat menyatukan negeri-negeri muslim dalam memperjuangkan keadilan bagi Palestina. Namun kenyataannya, kepentingan politik dan ekonomi masing-masing negara lebih diutamakan dibandingkan penderitaan saudara mereka di Palestina.

Negara-negara muslim sibuk menjaga hubungan baik dengan negara-negara besar, lebih khawatir kehilangan dukungan politik dan ekonomi dari Barat daripada berdiri teguh membela Palestina. Misalnya Lebanon, sebagai negara yang berbatasan langsung dengan Israel, seharusnya bisa menjadi basis perlawanan yang kuat.

Namun, alih-alih bergerak dengan kekuatan penuh, mereka hanya mengandalkan kelompok milisi yang terbatas sumber dayanya. Sementara itu, negara-negara yang lainnya lebih memilih untuk mendukung dari jauh, tanpa berani terlibat langsung dalam pertempuran diplomasi ataupun militer. Padahal, jika kekuatan muslim disatukan, walaupun tanpa senjata dan hanya melalui tekanan politik dan ekonomi yang terorganisir, Israel tidak akan terus menerus bertindak semena-mena.

Potensi yang Terpendam dan Solusi Nyata


Apa yang sebenarnya ditunggu oleh negara-negara muslim? Mungkinkah mereka menanti negara-negara besar bertindak? Harapan itu jelas tidak realistis. Negara-negara besar, terutama Barat, memiliki kepentingan mereka sendiri dalam mendukung Israel, baik dari segi ekonomi, politik, maupun strategi. Oleh karena itu, solusi penjajahan Palestina tidak mungkin bisa diharapkan dari mereka.

Justru, negara-negara muslim harus mengakui kekuatan mereka sendiri. Dengan memanfaatkan Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) dan forum-forum internasional lainnya, mereka bisa mendorong agenda Palestina secara lebih serius. Misalnya, melakukan embargo ekonomi, memutus hubungan diplomatik dengan Israel, atau bahkan membangun aliansi militer yang fokus pada pembelaan Palestina. Potensi ini ada, namun terkubur oleh ketidakmampuan secara politik dan ketakutan dalam menghadapi risiko.

Selain itu, langkah lain yang bisa dilakukan adalah menyatukan suara dunia muslim dalam forum internasional seperti PBB. Tekanan yang kuat dari koalisi negara-negara muslim dalam bentuk resolusi yang tegas dan tindakan nyata bisa mempermalukan negara-negara besar yang selama ini melindungi Israel di panggung internasional. Kampanye global untuk menekan Israel melalui sanksi ekonomi juga dapat menjadi langkah strategis yang efektif.

Mengubah Retorika Menjadi Aksi


Sudah saatnya dunia muslim bangkit dari retorika kosong. Palestina membutuhkan lebih dari sekadar kata-kata dukungan, mereka membutuhkan tindakan nyata yang bisa mengubah dinamika politik internasional. Masing-masing negara muslim harus berani mengambil risiko dan menunjukkan bahwa mereka tidak hanya peduli pada Palestina dalam kata-kata, tetapi juga dalam perbuatan.

Perpecahan yang disebabkan oleh nasionalisme harus ditinggalkan demi persatuan umat. Sejarah Islam penuh dengan kisah bagaimana persatuan umat bisa mengalahkan musuh yang lebih besar. Kini, saatnya kita kembali pada nilai-nilai tersebut, dengan menyatukan seluruh kekuatan umat Islam untuk membela Palestina dan melawan arogansi Zionis.

Hanya dengan aksi kolektif yang berani dan terorganisir, kita bisa menghentikan penjajahan ini. Dunia muslim memiliki kekuatan, tetapi apakah mereka berani menggunakannya? Sebab Palestina tidak bisa bertahan lebih lama lagi.

Sistem Islam: Solusi Jangka Panjang untuk Membebaskan Palestina dari Penjajahan Zionis


Muslim Palestina membutuhkan lebih dari sekadar retorika dan bantuan kemanusiaan, mereka membutuhkan kekuatan nyata yang mampu melawan penjajah Zionis Yahudi. Kekuatan tersebut hanya bisa terwujud jika tentara-tentara dari negeri-negeri muslim memiliki kesadaran akan tanggung jawab mereka dalam membela saudara-saudara mereka yang tertindas. Umat Islam harus bersatu dan menyerukan para tentara muslim untuk turun tangan melawan penindasan yang terus berlanjut.

Di dalam Al-Qur'an surah Al-Baqarah ayat 190, Allah Swt. telah memerintahkan umat Islam membela saudaranya. Allah berfirman:
"Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas."

Demikianlah, ayat ini menegaskan bahwa untuk menegakkan keadilan dengan membela diri dan berperang terhadap mereka yang menindas umat Islam merupakan sebuah kewajiban. Dalam konteks Palestina, umat Islam memiliki tanggung jawab untuk bangkit melawan penjajahan yang tak berkesudahan.

Namun, perjuangan ini tidak bisa hanya bersifat jangka pendek tetapi membutuhkan solusi
dalam jangka panjang yaitu dengan cara menegakkan sistem Islam. Negara Islam akan berperan sebagai junnah (perisai) bagi umat Islam di seluruh dunia. Sistem Islam bukan hanya sistem pemerintahan, tetapi sebuah entitas yang bertanggung jawab atas keselamatan, keamanan, dan kesejahteraan seluruh muslim, termasuk di Palestina.

Melalui hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim, Rasulullah telah menegaskan bahwa: "Sesungguhnya Imam (Khalifah) itu adalah perisai (junnah), di mana orang-orang akan berperang di belakangnya dan berlindung kepadanya."

Hadis ini menunjukkan bahwa khalifah adalah pelindung bagi umat, yang akan memimpin mereka dalam melawan musuh dan menjaga mereka dari kehancuran. Saat ini tanpa sistem Islam, umat Islam berada dalam situasi terpecah-belah dan tidak memiliki kekuatan kolektif yang cukup untuk melawan agresi Zionis.

Tegaknya sistem Islam harus menjadi perjuangan kolektif  bagi seluruh umat Islam. Sebab, masalah Palestina bukan hanya sekadar konflik politik, tetapi masalah eksistensi Israel sebagai entitas penjajah. Hal ini telah Allah kabarkan di dalam Al-Qur'an surah As-Saff ayat 4: "Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur, seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh."

Ayat ini mengajarkan bahwa perjuangan harus dilakukan secara terorganisir dan solid, seperti bangunan yang kokoh. Umat Islam akan dapat menghadapi dan melawan dominasi Israel secara efektif  hanya dengan membangun tegaknya sistem Islam.

Oleh karena itu, penting untuk membangun kesadaran umat bahwa solusi untuk Palestina adalah dengan memperjuangkan tegaknya sistem Islam, sebagai satu-satunya kekuatan yang dapat membebaskan mereka dari penjajahan. Hanya dengan sistem Islam, umat Islam akan memiliki perlindungan dan kekuatan untuk melawan ketidakadilan dan penindasan yang dialami saudara-saudara kita di Palestina. Wallahualam bissawab. [MGN/MKC]

 Tawuran, Kriminalitas yang Terus Berulang

Tawuran, Kriminalitas yang Terus Berulang



Sistem Islam akan memberlakukan kurikulum yang berbasis akidah Islam.  

Pendidikan ini akan mampu menghasilkan generasi yang menjanjikan Rasulullah sebagai sosok teladan.

__________________________________________


Penulis Nurul Bariyah 

Kontributor Media Kuntum Cahaya 


KUNTUMCAHAYA.com, OPINI - Tawuran antar pemuda semakin hari semakin menakutkan. Tak hanya terjadi di perkotaan, kini di daerah atau pedesaan pun marak terjadi. Jalanan seringkali menjadi arena pertarungan sehingga membuat warga sekitar menjadi takut dan resah.


Seperti yang terjadi di Cianjur, hari Minggu 22-9-2024 sekitar pukul 00.15 WIB, dari rri.com.id diberitakan adanya tawuran antar geng motor di Jalan Raya Cibuntu Desa Cisalak Kecamatan Cidaun Kabupaten Cianjur. Dari tangan para pelaku berhasil diamankan sejumlah barang bukti, yaitu satu bilah pisau, satu buah pisau, dan sebilah golok, serta kendaraan roda dua.


Tidak hanya di Cianjur, aksi tawuran juga terjadi di tempat lain, seperti di Semarang tawuran antar geng motor marak terjadi. Mereka biasanya saling tantang lewat media sosial lalu tawuran menggunakan senjata tajam. Hanya karena ingin disebut jagoan, mereka dengan mudahnya melukai sesama. 


Tentu saja ini sangat menakutkan, terutama bagi warga yang kebetulan sedang lewat maupun yang tinggal dekat lokasi tawuran. Berawal dari ajang sok jagoan, berujung pada tindak kriminalitas karena menyebabkan orang lain terluka parah bahkan meninggal.


Di kalangan pelajar juga sudah tidak asing lagi perihal tawuran. Dilansir dari radartangsel.com (26-09-2024), polisi mengamankan 10 remaja yang diduga melakukan tawuran dengan bersenjata tajam, di wilayah Ciputat Timur, Kota Tangsel, Banten.


Sekularisme Penyebab Kriminalitas 


Fenomena apa ini? Mengapa semakin hari semakin mengkhawatirkan? Mengapa anak seusia itu sudah tega berbuat jahat, sengaja melukai sesama. Tawuran membawa senjata tajam berarti sengaja ingin melukai lawannya bahkan bisa jadi membunuhnya. Hanya demi kebanggaan diri sendiri ataupun kelompok mereka. Alasan mencari identitas seringkali dilontarkan, tetapi mengapa harus dengan cara yang buruk. Apakah tidak ada jalan yang lebih baik dalam mencari jati diri?


Masa remaja memang masa penuh kekuatan, dimasa ini biasanya para pemuda mulai mencari jati diri dan mengaktualisasikannya dalam kehidupan. Namun sungguh disayangkan, dalam proses pencarian jati diri ini banyak yang salah. Sosok-sosok yang diikuti atau ditiru justru sosok yang salah. Bahkan hanya sebuah kartun atau tokoh fiktif seperti Avengers. Mereka memang indah secara fisik, tetapi secara akidah, akhlak, dan lainnya sungguh rapuh dan rusak.


Sosok-sosok yang seharusnya diikuti justru ditinggalkan, seperti Rasulullah saw. dan para sahabat. Inilah buah sistem kapitalis-sekuler. Sistem yang menjauhkan agama dari kehidupan. Agama tidak dijadikan sebagai pijakan dalam berperilaku dan mengatur kehidupan justru manusia yang lemah, yang memiliki banyak batasan dan hawa nafsu yang mengatur kehidupan ini. 


Kehidupan yang sekuler ini menimbulkan kekacauan juga kerusakan. Sistem yang telah terbukti gagal dan eror, sehingga melahirkan human error. Dalam kapitalisme, peran negara juga dimandulkan. Negara, dalam hal ini, terbukti abai mengenai tugasnya yaitu membentuk generasi berperadaban mulia, menyia-nyiakan potensi besar para pemuda dan pelajar itu sendiri.


Sebagian besar pemuda sekarang ini, hanya memikirkan kesenangan, hawa nafsu belaka, tidak memiliki tujuan ke depan dalam hidupnya. Kebanggaan dan kesenangan dunia menjadi prioritas mereka meskipun dengan cara yang tidak baik. Adab, budaya, apalagi agama tak lagi berperan, jauh ditinggalkan di belakang. Hidup mereka tidak mau lagi diatur oleh semua itu. 


Tak hanya tawuran, kasus kriminalitas lain pun banyak ditemukan di kalangan remaja. Seperti seks bebas, kasus aborsi, jual beli narkoba, bunuh diri, judi online dan lainnya. Kasusnya kian hari kian bertambah besar. Seperti benang kusut, sulit sekali diuraikan.


Solusi dalam Islam 


Bagaimana nasib bangsa kita ke depan, jika pemudanya dalam keadaan rusak seperti ini. Siapa yang akan meneruskan kehidupan ke depan? Sejatinya pemudalah yang diharapkan meneruskan peradaban baru.


Oleh karenanya, kita tidak boleh lelah untuk terus berbenah. Diantara hal yang bisa diupayakan, yaitu pertama, memperbaiki ketakwaan individual. Generasi muda atau remaja harus didekatkan dengan agama sebab agamalah yang menuntun manusia agar hidup lurus sesuai dengan aturan Allah agar tidak berbuat maksiat juga kesalahan. 


Di sini, peran keluarga juga amat dibutuhkan. Pendidikan agama harus ditanamkan kepada anak-anak sejak dini dalam keluarga. Dimulai ketika dalam perut ibu, bayi diajak untuk mendengarkan lantunan ayat suci Al-Qur'an, salat, dan lainnya sehingga bayi mengenal Allah. Begitu pun ketika lahir ke dunia, suara azan, menyebut nama Allah adalah yang pertama kali didengarkan bayi. 


Perintah ini sebagaimana firman Allah Swt.: “Wahai orang-orang yang beriman! Pelihara ah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At-Tahrim: 6)


Kedua, kontrol masyarakat. Adanya kontrol ini akan memberikan perlindungan siapa pun termasuk remaja untuk bermaksiat. Kontrol di sini adalah saling peduli dan saling mengingatkan satu sama lainnya. Inilah karakteristik masyarakat Islam yang sebenarnya, tidak bersifat individualistis dan melaksanakan amar makruf nahi mungkar.


Ketiga, hadirnya negara dalam pengurusan umat. Negara berperan melindungi dan menjaga masyarakat dari kerusakan baik fisik maupun psikis. Negara akan memberikan pemenuhan atas kebutuhan pokok masyarakat seperti sandang, pangan, dan papan. Begitu pula dengan pendidikan, kesehatan dan keamanan akan diberikan secara percuma dan berkualitas baik untuk seluruh warga tanpa memandang kaya miskin atau muslim dan non muslim. Semua berhak mendapatkannya.


Sistem ini tentu bukanlah sistem demokrasi yang terjadi saat ini sebab dalam demokrasi negara dilemahkan perannya dalam kehidupan ini. Pemimpin yang mampu menjadi pelayan umat hanyalah dalam sistem Islam. 


Penutup


Sistem Islam akan memberlakukan kurikulum yang berbasis akidah Islam.  Pendidikan ini akan mampu menghasilkan generasi yang menjanjikan Rasulullah sebagai sosok teladan. Sehingga jati diri mereka menyerupai rasul. Taat, kuat fisik dan mentalnya serta pemberani melawan kebenaran termasuk siap berjihad.

 

Individu, lingkungan, baik keluarga juga masyarakat yang kondusif dan kebijakan tepat dari negara akan menumbuhkan generasi bertakwa, yang siap menghadapi ujian di masa depan, berprestasi di bidangnya, dan siap memimpin peradaban cemerlang.


Demikian bagaimana Islam memiliki solusi atas problem kehidupan. Maka sudah selayaknya umat Islam kembali pada penerapan syariat secara kafah.


Wallahualam bissawab. [GSM-MKC]

Kementerian Makin Banyak, Mungkinkah untuk Kepentingan Rakyat?

Kementerian Makin Banyak, Mungkinkah untuk Kepentingan Rakyat?



Wacana kementerian gemuk sejatinya hanya memperbanyak pos-pos strategis. 

Para elit politik dan ekonomi untuk menjalankan agenda pribadinya memanfaatkan kekuasaannya


__________________________________


Penulis Irmawati

Kontributor Media Kuntum Cahaya 


KUNTUMCAHAYA.com, OPINI - Wacana kementerian gemuk mulai jadi perbincangan publik.  Direktur Riset dan Komunikasi Lembaga Survei Kedai Kopi Ibnu Dwi Cahyo menilai bahwa pemerintahan Prabowo dan Gibran memiliki susunan kabinet gemuk. Diketahui bahwa jumlah jajaran kementerian menjadi 44. Jumlah ini bertambah dari sebelumnya yang hanya berjumlah 34 kementerian saja. (antaranews.com, 18-09-2024)


Adapun kabinet gemuk harus diisi orang-orang yang memiliki kemampuan dan latar belakang pengalaman yang sama dengan kementerian yang akan dipimpin. Termasuk tokoh dengan latar belakang partai politik juga layak dipilih sebagai menteri jika memiliki pengalaman profesional di bidang yang sama dengan kementerian yang akan dipimpin.


Kebijakan Tak Layak


Kementerian yang gemuk akan membutuhkan banyak orang untuk mengisi posisinya. Konsekuensinya,  keputusan ini semakin menambah utang dan naiknya pajak karena kebutuhan untuk dana menteri semakin besar. 


Disisi lain, gemuknya jumlah kementerian memungkinkan jobdesk tiap kementerian tidak jelas. Lebih dari itu, besar kemungkinan dalam membuat kebijakan akan tumpang tindih. Akibatnya, pemerintahan tidak efektif dan efisien. 


Selain itu, gemuknya kementerian memperbesar celah terjadinya korupsi. Pasalnya, para pemegang kekuasaan ekonomi yang dominan dalam pengambilan keputusan politik sering kali memiliki kepentingan besar bahkan lebih mementingkan bisnis pribadi semata. Sementara itu, kepentingan rakyat terabaikan. 


Oleh karena itu, wacana kementerian gemuk sejatinya hanya memperbanyak pos-pos strategis para elit politik dan ekonomi untuk menjalankan agenda pribadinya dengan memanfaatkan kekuasaannya. Ini akan membebani negara tanpa memberikan solusi nyata terhadap permasalahan yang dihadapi masyarakat. Tentu saja ini sangat mengkhawatirkan karena rakyat yang menjadi korban. 


Akar Masalah


Inilah manifestasi sistem kapitalisme yang telah mencekram kuat negeri ini. Sistem kapitalisme meniscayakan keputusan jauh dari kepentingan rakyat. Sementara itu, kepentingan oligarki dan pemodal menjadi salah satu hal yang selalu diutamakan dalam setiap keputusan. 


Dalam sistem ini,  penguasa menjadi pemalak bagi rakyatnya. Hubungan antara penguasa dan rakyatnya ibarat hubungan tuan dan budak. Dengan demikian, kekuasaan hanya dijadikan alat untuk mengejar keuntungan pribadi dan kelompoknya bukan untuk kepentingan rakyat. Dengan berbagai pajak yang mencekik dan aneka pungutan yang memberatkan, negara memalak rakyatnya. Negara melepaskan tanggung jawabnya dalam urusan pendidikan dan kesehatan. Mengharamkan subsidi meski rakyatnya jelas-jelas sengsara dan menderita. 


Selain itu, memaksa rakyatnya untuk berkompetisi yang menunjukkan rakyatnya lemah. Sungguh sangat miris. Oleh karena itu, alih-alih regulasi dalam sistem ini memberikan kemaslahatan rakyat, berbagai regulasi yang dikeluarkan jauh dari kemaslahatan rakyat.


Solusi Islam 


Islam sebagai agama yang sempurna mengatur seluruh kehidupan manusia dalam berbagai aspek. Termasuk masalah pemerintahan. Islam membentuk secara efisien dan efektif sehingga pelaksanaan tugas negara berjalan secara maksimal. 


Dalam Islam, pemimpin adalah pelindung bagi rakyatnya dan orang-orang yang dipimpinnya. Kelak ia akan mempertanggungjawabkan di hari kiamat atas amanah kepemimpinannya. 


Adapun pemerintahan dalam Islam dijalankan berdasarkan prinsip-prinsip yang menjunjung tinggi keadilan, transparansi, dan akuntabilitas. Selain itu, pejabat pemerintah dipilih bukan karena afiliasi politik atau kepentingan ekonomi melainkan berdasarkan kriteria amanah dan kompetensi yang dimiliki. 


Penguasa dalam Islam menjadikan negara sebagai riayah (Pengayom). Penguasa melakukan pengayoman dan pelayanan terhadap rakyatnya. Penguasa laksana pengembala (rain). Sebagaimana Rasul bersabda: "Sesungguhnya seorang pemimpin itu adalah perisai. Orang-orang berperang dibelakang dia dan berlindung kepada dia." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)


Disisi lain, jumlah kementerian tidak berlebihan karena pemerintah fokus pada efektivitas dan efisiensi melayani rakyat. Terbukti dalam catatan sejarah pada masa Umar Bin Khattab mampu menjalankan pemerintahan dengan efektif meski dengan struktur yang sederhana. 


Setiap jabatan dalam sistem Islam memiliki fungsi yang jelas. Agar tidak terjadi penyalahgunaan kekuasaannya maka diawasi dengan ketat. Apabila terbukti menyalahgunakan kekuasaan atau melakukan korupsi akan dihukum secara tegas. 


Penutup


Islam menghendaki setiap pemimpin menjadi suri teladan bagi rakyatnya. Seperti halnya Nabi saw. yang ditauladani oleh umatnya. Nabi saw. tidak akan disebut sebagai suri teladan yang baik jika tidak memiliki akhlak yang luhur. Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur'an. 


"Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya) dan Ulil Amri di antara kamu. Lalu jika kalian berbeda pendapat terhadap suatu hal, kembalilah kepada Allah (Qur'an) dan Nabi (Sunnah) jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan Hari Akhir. Itu lebih penting (bagimu) dan konsekuensinya lebih baik." (Q.S An-Nisa: 59)


Demikianlah pengaturan sistem pemerintahan dalam Islam. Dengan sistem yang benar yakni penerapan Islam secara kafah mampu  menciptakan kehidupan masyarakat yang adil dan berkah. Bukan sistem lain yang hanya memberikan kerusakan. Wallahualam bissawab [Dara/MKC]

Membangun Rumah Sendiri, Mengapa Kena Pajak?

Membangun Rumah Sendiri, Mengapa Kena Pajak?



 


Kesulitan membangun rumah muncul karena penerapan sistem kapitalis yang berlaku di negara ini

di mana politik digunakan untuk meraih kekuasaan

______________________________

 

KUNTUMCAHAYA.com, SURAT PEMBACA - Dilansir dari Kompas.com, Pajak Pertambahan Nilai (PPN) akan naik menjadi 12 persen pada tahun 2025. Hal ini sesuai dengan ketentuan dalam Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2021 tentang Harmonisasi Peraturan Perpajakan, di mana tarif PPN telah disesuaikan menjadi 11 persen pada 2022.


Dalam UU tersebut diatur bahwa tarif PPN akan dinaikkan menjadi 12 persen paling lambat pada 1 Januari 2025. Pasal 7 (1) menyebutkan, Tarif PPN adalah: a. Sebesar 11 persen yang mulai berlaku pada 1 April 2022; b. Sebesar 12 persen yang berlaku paling lambat pada 1 Januari 2025.

Ketentuan ini berlaku untuk pembelian rumah hingga pembangunan rumah secara mandiri tanpa menggunakan jasa kontraktor. Oleh karena itu, pajak membangun rumah sendiri saat tarif PPN masih 11 persen adalah 2,2 persen. Sedangkan jika naik menjadi 12 persen pada 2025, pajaknya akan menjadi 2,4 persen.


Rumah: Antara Sulit dan Mudah


Saat ini, memiliki rumah menjadi tantangan yang cukup berat. Banyak masyarakat belum memiliki rumah, sementara sebagian yang sudah memiliki rumah kondisinya belum memadai.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa belasan juta rumah tangga tidak memiliki rumah sendiri dalam lima tahun terakhir. Mereka tinggal di rumah kontrakan, rumah orang tua, atau menumpang di rumah keluarga lainnya.

Jakarta menjadi daerah dengan tingkat kepemilikan hunian terendah di Indonesia. BPS mencatat pada tahun 2022 hanya 56,13 persen rumah tangga di Jakarta yang memiliki hunian sendiri. Data ini mencerminkan ketimpangan yang tajam dalam kepemilikan rumah di Indonesia.

Fenomena ini terjadi karena kapitalisme yang membebaskan pemilik modal besar untuk menguasai lahan secara luas, sementara masyarakat kecil kesulitan memiliki rumah. Harga tanah dan bahan bangunan seperti semen, batu bata, pasir, kayu, dan cat terus meningkat, membuat biaya membeli atau membangun rumah sangat tinggi.


Kapitalisme sebagai Penyebab


Kesulitan membangun rumah muncul karena penerapan sistem kapitalis yang berlaku di negara ini. Di mana politik digunakan untuk meraih kekuasaan, dan kekuasaan digunakan untuk mengejar keuntungan materi.

Kapitalisme juga tidak dapat menyediakan lapangan pekerjaan dengan gaji yang memadai bagi masyarakat, sehingga rakyat kecil sulit membangun rumah yang layak. Ironisnya, mereka yang mampu membangun rumah malah dikenakan pajak tinggi. Hal ini menunjukkan kurangnya upaya pemerintah untuk meringankan beban rakyat.

Besaran pajak untuk pembangunan rumah dihitung dari total biaya yang dikeluarkan untuk membangun hingga rumah tersebut selesai, kecuali biaya perolehan tanah sesuai ketetapan negara.

Kenyataannya, negara seolah lepas tangan dalam memenuhi kebutuhan perumahan rakyat. Pengenaan pajak adalah konsekuensi dari sistem ekonomi kapitalis yang bergantung pada pajak sebagai sumber utama pendapatan negara.


Solusi Islam


Penerapan sistem ekonomi Islam akan menjamin kesejahteraan rakyat. Negara akan menyediakan lapangan pekerjaan dengan gaji layak serta menjamin kebutuhan perumahan melalui penerapan hukum-hukum terkait tanah. Seperti larangan penelantaran lahan, ihya al mawat (menghidupkan lahan mati), tahjir (pembatasan hak milik), dan iqtha' (pemberian lahan), serta larangan pajak yang memberatkan.

Negara Islam memiliki sumber pendapatan dari kepemilikan umum, sehingga tidak memerlukan pajak dari rakyat, kecuali dalam kondisi tertentu dan hanya berlaku untuk orang kaya. Wallahualam bissawab. [AS/MKC]

Siti Saidah

 Kriminalitas Tanpa Batas, Islam Solusi Tuntas

Kriminalitas Tanpa Batas, Islam Solusi Tuntas




Dalam sistem Islam, anak akan dibentuk dengan kepribadian Islam

yang mengarahkan potensinya untuk kebaikan

______________________________

 

Penulis Tsabita

Kontributor Media Kuntum Cahaya dan Pegiat Literasi


KUNTUMCAHAYA.com, OPINI - Menjalani kehidupan dengan rasa aman tanpa kejahatan adalah impian bagi semua orang, sekaligus menjadi kebutuhan dasar yang harus dipenuhi negara untuk menjamin ketenteraman hidup masyarakatnya.

Namun fakta hari ini menunjukkan bahwa rasa aman yang mulai memudar di lingkungan masyarakat. Mengingat maraknya masalah kriminal. Tidak hanya dilakukan oleh orang dewasa saja, melainkan sudah menjadi tren di kalangan  pelajar. Tawuran seolah menjadi tradisi pemuda Indonesia saat ini.

Dilansir dari detik.com (20-9-2024), Polrestabes Semarang merilis terkait tawuran. Para pelaku mengaku tawuran karena ada yang menantang di medsos. Tantangan itu dipenuhi demi pamor. Mereka juga selalu beraksi dalam kondisi terpengaruh minuman keras.

Terbaru, tawuran antargangster menyebabkan mahasiswa Udinus bernama Tirza Nugroho Hermawan (21) meninggal akibat salah sasaran. Salah satu pelaku tawuran itu, Rico Sandova (23) warga Bulu Lor Semarang Utara, mengatakan tawuran itu berawal dari saling tantang di instagram.

Satu orang anggota geng motor ditangkap polisi saat hendak melakukan tawuran di Jalan Durung, Kelurahan Terjun, Kecamatan Medan Marelan. Remaja yang masih di bawah umur tersebut berinisial WW, mengaku sebagai anggota geng motor MCE Boys. Remaja tersebut akhirnya ditangkap oleh personel gabungan Polres Pelabuhan Belawan pada dini hari.

 Akar Masalah


Meskipun kasus kriminalitas marak di tengah masyarakat, tetapi kriminalitas seolah dianggap biasa, sehingga pelaku kejahatan merasa aman dengan tindakannya. Karena menganggap perilakunya tidak berisiko tinggi dan hukuman yang berlaku pun tidak memberi efek jera.

Inilah buah dari negara menerapkan sistem kapitalis sekuler, yang menjauhkan agama dari kehidupan. Akibatnya membentuk manusia yang tidak memahami jati diri sebagai seorang hamba yang senantiasa bertakwa kepada Allah Swt..

Lemahnya keimanan dan ketakwaan menjadi penyebab terjadinya kriminalitas di tengah masyarakat, sehingga masyarakat dengan bebas melakukan apa saja tanpa menjadikan syariat sebagai standar dalam berperilaku. Tidak memedulikan lagi halal haram, pahala dan dosa, sehingga melukai bahkan menghilangkan nyawa sudah dianggap hal yang biasa.

Selain itu, hilangnya peran keluarga dalam mendidik para anak juga menjadi salah satu faktor maraknya kriminalitas di kalangan masyarakat, tidak kecuali kalangan remaja. Karakter anak tidak dibentuk dengan kepribadian yang mulia. Keluarga yang kurang memperhatikan anak dan memiliki pola asuh yang buruk akan berdampak pada perilaku anak.

Apalagi berselancar di medsos telah menjadi rutinitas di kalangan remaja, mengingat kecanggihan teknologi hari ini yang mampu mempermudah penggunanya dalam mengakses apa saja dan tidak adanya filter yang membatasi. Ditambah dengan kurangnya pengawasan dari orang tua yang memfasilitasi gadget kepada anaknya dengan tujuan mempermudah komunikasi dan untuk keperluan sekolah, semakin membuat mereka bebas melakukan apa saja.

Berawal dari saling menantang di medsos hingga terjerumus masalah kriminalitas. Medsos ibarat seperti mata pisau yang memiliki dua sisi, yaitu jika tidak dimanfaatkan dengan baik, maka akan berpotensi menjadikan hal-hal negatif terjadi.

Diperparah lagi dengan masyarakatnya yang memiliki sifat individualis. Membiarkan anak-anak dengan kebiasaan buruknya, tanpa menegur atau mengingatkan. Padahal jika anak tidak dikontrol, maka mereka bisa mengakses apa saja yang mereka senangi. Seperti konten kekerasan hingga  kriminalitas.

Di sisi lain, kurikulum pendidikan sekuler telah membentuk generasi jauh dari aturan agama. Pelajaran agama hanya sekali dalam seminggu, itu pun tidak lebih dari 2 jam. Apalagi materi yang didapatkan bukan materi yang membangun kepribadian mulia. Dengan begitu dalam sistem kapitalis, pendidikan hanya mencetak calon pekerja untuk industri, karena tujuan pendidikan hanya berfokus pada capaian materi.

Belum lagi lemahnya penegakan hukum dan hukuman yang diberikan tidak mampu memberikan efek jera bagi pelaku kriminal, bahkan pelaku kriminalitas makin lihai dalam aksinya. Rasa aman yang sudah menjadi kebutuhan dasar manusia tidak mampu diwujudkan pada sistem ini, akibatnya masyarakat selalu waswas terhadap keselamatan karena tidak mendapatkan rasa aman dalam kehidupannya.

Solusi Islam


Sangat jauh berbeda dengan itu, dalam sistem Islam, generasi dididik dengan pola pikir dan perilaku yang islami. Alhasil, terbentuk generasi mulia yang memahami jati dirinya sebagai seorang muslim yang bertakwa.

Negara juga berperan dalam mengatur media dengan mengontrol informasi yang beredar di tengah masyarakat, sehingga yang diakses hanyalah konten kebaikan dan dakwah. Tontonan yang memberi dampak negatif akan dihilangkan, apalagi pada tayangan yang merusak mental dan moral generasi.

Selain itu, pendidikan dalam Islam akan memberi edukasi, baik formal maupun informal untuk mencegah terjadinya masalah kriminal. Peran masyarakat dalam beramar makruf nahi mungkar juga sangat berpengaruh agar generasi terlindungi dari perbuatan yang merusak. Adanya kontrol sosial seperti ini mampu menjaga pergaulan dari tindakan kriminal. Yang mana tanpa pendidikan dan informasi yang terarah, mereka akan mudah terjerumus dalam perilaku penyimpangan.

Negara akan menerapkan sistem pendidikan dengan kurikulum yang berbasis akidah Islam, melahirkan kepribadian generasi yang berpola pikir dan perilaku yang islami, termasuk mengontrol media massa yang beredar di tengah masyarakat dengan membentuk informasi yang membangun ketakwaan.

Dalam sistem Islam, anak akan dibentuk dengan kepribadian Islam yang mengarahkan potensinya untuk kebaikan Islam. Bukan menjadikan materi sebagai tujuan pendidikan.

Di sisi lain, negara akan memberikan sanksi tegas bagi pelaku sesuai tingkat kejahatannya, yang tentunya mampu memberi efek jera. Sanksi yang diberikan berfungs sebagai jawabir (penebus dosa pelaku) dan zawajir (mencegah orang lain berbuat serupa). Dengan begitu masyarakat akan mengerti terhadap risiko yang besar jika melakukan tindak kejahatan. Dengan kata lain akan berpikir ratusan kali jika akan melakukan tindakan yang melanggar syariat.

 

Demikianlah, rasa aman bagi rakyat akan mampu terwujudkan dengan penerapan sistem Islam secara kafah. Wallahualam bissawab. [EA/MKC]

Harga Beras Terus Naik

Harga Beras Terus Naik

 



Saat ini masyarakat membeli beras dengan harga yang tinggi

dan petani mendapat keuntungan rendah

______________________________


Penulis Siti Rahmawati 

Kontributor Media Kuntum Cahaya


KUNTUMCAHAYA.com, OPINI - Berdasarkan catatan Bank Dunia, harga beras di Indonesia lebih mahal 20 persen daripada pasar global. Ini merupakan harga tertinggi di ASEAN. 


Kepala Perwakilan Bank Dunia untuk Indonesia dan Timor-Leste Carolyn Turk menilai tingginya harga beras terjadi karena beberapa hal, seperti kebijakan pemerintah terkait pembatasan impor dan kenaikan biaya produksi hingga pengetatan tata niaga melalui nontarif. (Kompas.com, 20-9-2024)


Pendapatan rata-rata harian petani kurang dari 1 dollar AS setara dengan Rp15.199 per hari. Dalam setahun hanya mencapai 341 dollar AS atau Rp5,2 juta. 


Dibanding tahun lalu, pada Agustus 2024, harga beras naik 11,19 persen. Bank Dunia mencatat saat ini hanya 31 persen penduduk Indonesia yang mampu mendapatkan makanan sehat lantaran sulit membeli makanan bergizi seperti daging, telur, ikan, dan sayuran khususnya beras. 


Kapitalisme Penyebab Mahalnya Harga Beras 


Seperti yang kita ketahui negara Indonesia adalah negara agraris, tetapi negaranya malah tidak berlimpah ruah dengan bahan pangan yang mudah didapatkan dan mudah ditemukan oleh seluruh rakyat. Karena negara Indonesia menggunakan sistem kapitalis yang kebijakannya lebih banyak menguntungkan penguasa atau pengusaha dibandingkan kesejahteraan seluruh rakyatnya.


Pemerintah lebih banyak mengurus urusan yang bermodal besar dan yang menguntungkan baik individu atau golongan tertentu, tanpa memperhatikan permasalahan yang terjadi di masyarakat.


Padahal beras merupakan kebutuhan pokok sebagian masyarakat Indonesia yang mau tidak mau harus dipenuhi. Saat ini masyarakat membeli beras dengan harga yang tinggi, dan petani mendapat keuntungan rendah.


Petani pun selalu dibuat kecewa ketika modal yang dikeluarkan untuk memanen lebih mahal daripada harga jual gabah. Tidak sedikit petani membeli pupuk dengan harga mahal dan waktu perawatan yang lama.


Ini makin membuat petani tidak sejahtera, akhirnya banyak lahan kosong yang tidak dikelola karena tidak ada modal dan dukungan dari pemerintah. Alhasil, tidak sedikit para petani yang menjual lahan pertanian untuk menyambung kebutuhan hidup sehari-hari.


Lahan pertanian pun kini banyak disulap menjadi lahan untuk sektor industri, menjadi bisnis properti, dan menjadikan profesi petani pun kian langka. Dengan begitu, Indonesia banyak kehilangan lahan pertaniannya dan slogan Indonesia sebagai negara dengan lumbung padi terbesar pun menjadi sebuah mimpi masa lalu.


Butuh Peran Negara


Keseriusan negara harusnya bisa dilakukan dalam pengawasan stok beras dan kebijakan distribusi pangan di setiap kebutuhan rakyatnya, sehingga setiap kepala keluarga bisa terpenuhi kebutuhannya.


Untuk memenuhi kebutuhan pokok di dalam negeri, negara tidak perlu melakukan ekspor. Negara pun menghentikan impor untuk meningkatkan peran para petani, bekerja kembali mengelola lahannya, dan semakin meningkatkan kualitas serta kuantitas yang baik. Disertai dukungan dari pemerintah yang selalu memasok kebutuhan untuk bisa menghasilkan panen beras yang berlimpah dan berkualitas baik.


Negara pun tidak akan ketergantungan kepada negara lain untuk memenuhi kebutuhan pokok rakyatnya. Semua ini bisa dilaksanakan oleh sistem yang benar dan sempurna yaitu sistem Islam. Hingga mampu menciptakan kesejahteraan yang merata ke seluruh rakyatnya.


Stabilitas harga pangan dapat dicapai dengan menerapkan beberapa kebijakan seperti menghindari penimbunan stok barang. Pelaku penimbun barang dapat dikenai sanksi. Jika terjadi kenaikan harga secara drastis, maka pengendali seperti bulog dapat menyeimbangkan dengan cara mendatangkan pasokan barang dari daerah lain. Jika melakukan impor itu tidak merugikan negara dan rakyat.


Maka dari kasus kenaikan harga beras yang terus meroket, perlu keseriusan dari pemerintah untuk mewujudkan ketahanan pangan dan pengelolaannya. Seharusnya itu berada di bawah kendali negara, bukan diserahkan pada swasta apalagi pengusaha.


"Apabila suatu urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah masa kehancurannya." (HR. Bukhari dan Muslim)


Wallahualam bissawab. [SJ/MKC]

Pemuda Bermental Kriminal Lahir dari Sistem Sekuler

Pemuda Bermental Kriminal Lahir dari Sistem Sekuler

 


Pemuda yang seharusnya menjadi tumpuan negara rusak tak terkendali akibat sistem yang tidak mampu mengarahkan pemuda pada hal yang positif.

____________________________


Oleh Emi Kartini 

Kontributor Media Kuntum Cahaya 


KUNTUMCAHAYA.com, OPINI - Tawuran, kata ini sudah tak asing lagi di telinga kita, bahkan sudah dianggap sebagai tradisi. Hal ini disebabkan oleh berbagai faktor, diantaranya lemahnya kontrol diri, krisis identitas pemuda, disfungsi keluarga, lemahnya ekonomi, lingkungan rusak termasuk lemahnya hukum dan penegakkan nya. Sebagian orang menganggap hal ini sebagai kenakalan remaja, namun apa jadinya jika kenakalan remaja seperti ini mengakibatkan adanya korban harta bahkan jiwa akibat senjata tajam yang mereka gunakan sebagai alat untuk tawuran. 


Remaja Pelaku Kriminal?

Terkadang orang yang tak berdosa pun bisa terkena dampaknya karena salah sasaran, hal ini terjadi bukan hanya sekali atau dua kali, akan tetapi hampir setiap hari berita tawuran selalu hadir di televisi dan medsos. Mereka kerap kali berulah dan pasti akan selalu ada korban luka, bahkan meninggal dunia. Sungguh ini sangat meresahkan warga, lantas apakah hal ini masih disebut sebagai kenakalan remaja? 


Beberapa kasus sangat meresahkan masyarakat saat ini, seperti tawuran yang dilakukan oleh anak sekolah maupun remaja yang tidak bersekolah. Tawuran sering terjadi dengan alasan yang tidak jelas bahkan tak masuk di akal, seperti pemerkosaan secara bergilir, geng motor mabuk-mabukan bahkan pencurian dan perampokan. Seperti tawuran yang terjadi baru-baru ini di Medan. Salah satu anggota geng motor ditangkap ketika akan tawuran di Medan Kecamatan Marelan. Seorang remaja yang berusia di bawah umur mengakui sebagai anggota geng motor Mce boys dan mengaku bahwa dia beserta teman-temannya berencana akan melakukan tawuran di Hamparan perak (Tribunnews.com, 22/9/2024). 


Ini hanya salah satu contoh dari rusaknya remaja saat ini, sehingga membutuhkan penanganan serius dan harus diselesaikan hingga ke akarnya. 


Hancurnya Estafet Peradaban

Sungguh miris pemuda yang seharusnya menjadi generasi yang akan memegang estafet peradaban hancur tak bisa diharapkan. Pemuda yang seharusnya menjadi tumpuan negara rusak tak terkendali akibat sistem yang tidak mampu mengarahkan pemuda pada hal yang positif. Pemuda saat ini muncul sebagai penerus dari kebobrokan sistem. Tak ada harapan yang bisa digantungkan pada pemuda saat ini. Mereka yang seharusnya melahirkan prestasi-prestasi yang dapat dibanggakan oleh keluarga, masyarakat bahkan negara justru memperlihatkan kerusakan akhlak. Banyak sekali perbuatan-perbuatan mereka yang justru merugikan, selain merugikan keluarga, masyarakat negara bahkan dirinya sendiri. 


Peran Negara Pada Generasi Bangsa

Peran negara amatlah penting dalam menyelesaikan setiap permasalahan yang dihadapi, umat salah satunya adalah menghadapi kenakalan remaja. Apa yang saat ini terjadi tidak dapat dikategorikan sebagai kenakalan yang wajar tapi sudah masuk ke dalam tindakan kriminal yang meresahkan masyarakat banyak.


Di sini seharusnya negara hadir sebagai pelindung bagi umat yang akan membentuk pemuda berkepribadian Islam dan memiliki pola pikir yang Islami. Anak disiapkan bukan sebagai pengejar materi tetapi sebagai generasi yang hebat, cemerlang dan juga berakhlak mulia. Sebab pada dasarnya anak memiliki fitrah baik yang tentu bisa diarahkan dengan baik. Hanya saja sistem saat ini tidak mampu melaksanakan hal tersebut.


Bahkan peran negara saat ini sudah hilang dan seolah berlepas tangan mengenai permasalahan anak kepada orang tua, sekolah, lembaga-lembaga yang mengurusi anak-anak dan kepolisian. Hal ini merupakan dampak pemisahan agama dari negara, yang menghilangkan peran-peran negara dalam mengurusi umat.


Sistem Islam Melahirkan Generasi Cemerlang

Islam hadir untuk mewujudkan generasi yang siap menjadi generasi yang cemerlang dan berakhlak mulia. Islam akan menyelesaikan segala permasalahan yang menyangkut kebutuhan pemuda agar siap menjalani kehidupan sebagai generasi penerus bangsa. Dimulai dari keluarga yang harmonis dan ideologis yang di dalamnya ada madhrasatul al ula yakni peran ibu dalam mendidik anak-anak nya yang akan memperkenalkan identitas dirinya sebagai seorang muslim.


Islam akan menyediakan sarana pendidikan dengan menggunakan kurikulum Islam sehingga akan tercipta generasi unggul yang berakhlak mulia serta berkepribadian islami. Kemudian Islam akan menyediakan kebutuhan hidup yang murah dan mudah dijangkau bahkan gratis, demi mencukupi kebutuhan gizi untuk tumbuh kembang anak.

 

Tak lupa Islam akan menciptakan lingkungan yang kondusif dan Islam akan memberikan sanksi bagi siapa saja yang melanggar hukum dengan sanksi yang membuat siapa pun jera. Sehingga takkan ada orang yang berani mengulang atau mengikuti perbuatan yang melanggar hukum. Seperti Firman Allah dalam surat Al-Maidah ayat 38:

وَالسَّارِقُ وَالسَّارِقَةُ فَاقْطَعُوْٓا اَيْدِيَهُمَا جَزَاۤءًۢ بِمَا كَسَبَا نَكَالًا مِّنَ اللّٰهِۗ وَاللّٰهُ عَزِيْزٌ حَكِيْمٌ


“Laki-laki maupun perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya sebagai balasan atas perbuatan yang mereka lakukan dan sebagai siksaan dari Allah. Allah Maha perkasa lagi Maha bijaksana".


Begitulah cara Islam menciptakan generasi yang unggul dan berakhlak mulia dan terbukti ketika diterapkan aturan Islam selama 13 abad, dalam kurun waktu tersebut hanya terjadi dua ratus kasus. 

Wallahualam bisshawab. [AS]

Perseteruan Ibu vs Anak, Bagaimana Seharusnya Peran Negara?

Perseteruan Ibu vs Anak, Bagaimana Seharusnya Peran Negara?

 


Apapun kasusnya, peran negara menjadi tonggak utama

_________________________


Penulis Tya Ummu Zydane

Kontributor Media Kuntum Cahaya 


KUNTUMCAHAYA.com, FAMILY - Viral, seorang ibu yang berprofesi sebagai selebritis tanah air melaporkan pacar dari anak perempuannya yang masih di bawah umur. Sang ibu berinisial NM tidak terima anak gadisnya hamil dan dipaksa aborsi oleh pacarnya berinisial VB. Sampai saat ini tuduhan tersebut belum bisa di pertanggung jawabkan kebenarannya karena masih dalam penyelidikan dan pengumpulan barang bukti.Seperti yang dilansir Jakarta, CNNIndonesia.com (Kamis 19/09/2024)


Mirisnya sang anak berinisial LM, tidak terima tuduhan ibunya serta sangat murka atas tindakan yang ibunya lakukan pada dirinya dan pacarnya. Yang lebih miris lagi hubungan ibu dan anak ini selama dua tahun belakangan sangat buruk. Sampai sang ibu tega menyatakan tidak lagi menganggapnya anak, telah mengeluarkan LM dari kartu keluarga, dan mencabut hak waris untuk anak perempuannya. LM tidak kalah sengit mencerca wanita yang telah melahirkannya dengan kata-kata yang sangat tidak pantas. LM lebih membela pacar dan orang yang berpihak padanya daripada menghargai sang ibu yang telah melahirkannya.


Bagaimana pandangan Islam atas permasalahan perseteruan ibu dan anak seperti ini? Dan mengapa anak sulit sekali dididik menjadi baik?


Muliakanlah Ibumu

Dalam Islam seorang ibu tiga kali lebih mulia derajatnya daripada ayah. Karena ibu telah melewati tiga kesulitan saat  mengandung, melahirkan dan menyusui anaknya. Yang tidak bisa di gantikan peran berat tersebut oleh sang ayah.


"Dan kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada ibu bapaknya. Ibunya telah mengandungnya dengan keadaan lemah yang bertambah-tambah. Dan menyapihnya dalam dua tahun." (QS Luqman ayat 14)


Kewajiban anak berbuat baik pada orang tua terutama ibu adalah perintah Allah. Maka meskipun terlahir dari ibu yang buruk perangainya bahkan tidak seiman pun, anak tetap berkewajiban berbuat baik pada ibu. Perihal kesalahan yang ibu lakukan adalah tanggung jawabnya kelak kepada Allah. Sebagai anak jangankan membentak, berkata "ah" saja di larang oleh Allah.


"Dan janganlah kamu sekali-kali mengatakan "uf" (ah) kepada kedua orang tua" (QS Al-Isra' 23) 


Setiap bentuk sikap yang menyakiti hati ibu semisal tidak mematuhinya, mengabaikan, meremehkan, memandang dengan marah dan mengucapkan kata-kata yang menyakiti perasaannya adalah dosa besar. 


Pengaruh Harta Haram Bagi Anak

Jika ada anak yang sulit dididik menjadi baik, sebagai orang tua juga harus bijaksana. Tidak langsung sepenuhnya menyalahkan anak apalagi mengeluarkan kata-kata yang menjatuhkan harga dirinya. Cari tau akar permasalahannya. Jika ibu merasa sudah memberi perhatian, memenuhi semua kebutuhan anak, di tempatkan di sekolah terbaik bahkan sudah memasukkan anak ke pondok pesantren tapi anak tetap sulit diatur, mohonlah ampun kepada Allah sebanyak-banyaknya. Sucikan harta dari penghasilan yang haram, jadilah ibu yang baik agar bisa dicontoh oleh anak. Orang tua jangan hanya menuntut anak untuk salih tapi orang tua masih banyak salahnya, tidak nyambung tentunya.


Salah satu penyebab anak sulit diatur adalah anak yang dinafkahi dengan harta yang didapat dari pekerjaan yang haram. Maka orang tua segeralah tinggalkan pekerjaan haram tersebut dan beralih menafkahi anak dengan penghasilan yang halal. Melakukan taubat nasuha serta mendoakan juga mensupport anak untuk menjadi baik.


Begitu pun pakaian, pergaulan, cara berbicara, dan semua tingkah laku ibu akan di-foto copy oleh anak. Maka jangan salahkan anak yang berpakaian seksi jika ibunya juga demikian. Jangan menunjuk anak yang bergaul bebas sampai hamil di luar nikah jika ibunya juga bebas bergaul dengan banyak laki-laki. Jangan katakan anak kurang ajar saat berbicara jika sebagai ibu seringkali berkata kasar.


Maka dari itu jadilah ibu yang salihah untuk mendapatkan anak yang saleh/ah pula. Ibu adalah guru pertama bagi anak, jika ibu tidak cerdas ilmu agama bagaimana menanamkan nilai-nilai dasar agama pada putra-putrinya. Jangan memandang sempit agama, karena Islam tidak sebatas salat dan bersedekah saja seperti yang di pahami banyak kaum muslimin hari ini. Terlahir Islam tapi tidak mengkaji bagaimana Allah mengatur kehidupan dengan sangat detil, maka tidak akan paham apa hak dan kewajiban ibu juga anak, serta syariat Islam yang lainnya.


Jadi, orang tua tidak cukup hanya memenuhi sandang, papan dan pangan anak saja. Ada juga  kewajiban orang tua untuk menjaga keluarga dari api neraka. (Lihat QS At-Tahrim ayat 6)


Peran Penting Negara menjaga Kesalihan

Apapun kasusnya, peran negara menjadi tonggak utama. Negara menjadi motor penggerak pelaksanaan syariat Islam secara menyeluruh. Karena baiknya pemimpin dan umat di sebabkan negara yang diatur dengan peraturan dari sang pencipta alam semesta. 


Dalam QS Al-A'raf: 96 Allah Swt. berfirman:

"Jikalau sekiranya penduduk suatu negeri beriman dan bertakwa, pastilah kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, akan tetapi mereka mengingkari (ayat-ayat kami itu) maka kami siksa mereka atas perbuatannya."


Untuk itu agar janji indah dari Allah terwujud, bersatulah wahai umat Islam. Bersatu untuk bersama-sama memperjuangkan hukum Al-Qur'an di terapkan oleh negara. Tidak rindukah hidup kembali dalam limpahan  keberkahan dari pemilik bumi? Sebagaimana yang dirasakan oleh umat Islam terdahulu, saat dalam naungan Daulah Islam yang di pimpin Rasulullah saw., dan dalam naungan khilafah yang dipimpin oleh sang Khalifah .


Cukup sudah semua kekacauan yang disebabkan oleh individu, dalam rumah tangga, masyarakat sampai negara merusak tatanan negeri. Kita ikhtiarkan pertolongan Allah yang telah dijanjikan dalam QS. An-Nur ayat 55. Wallahualam bissawab. [GSM-MKC]

Bupati Bandung Dukung Pendirian Perguruan Tinggi Berbasis Pesantren

Bupati Bandung Dukung Pendirian Perguruan Tinggi Berbasis Pesantren

 


Visi dari sistem pendidikan Islam adalah mencetak generasi dengan pola pikir dan pola sikap Islam

_________________


Oleh Ummi Arif

Kontributor Media Kuntum Cahaya 


KUNTUMCAHAYA.com, OPINI- Di tengah kondisi perekonomian masyarakat yang semakin menurun, masyarakat dihadapkan lagi dengan biaya pendidikan yang semakin mahal. Alhasil semakin bertambahlah beban hidup masyarakat pada saat ini. Sejatinya masyarakat menginginkan pendidikan yang berkualitas untuk putra-putrinya, akan tetapi di era kapitalis ini pendidikan yang berbasis agama dirasakan mahal biayanya oleh masyarakat. 


Bupati Bandung Dadang Supriatna mengungkapkan bahwa, dirinya sangat mendukung pendirian perguruan tinggi berbasis pesantren di Kabupaten Bandung. Pernyataan dukungan itu disampaikan ketika beliau hadir di acara Doa Bersama Mengenang 42 Tahun Wafatnya KH Asep Syahroni, pendiri dan sesepuh Yayasan Mathla’ul Anwar, Pesantren Palgenep sekaligus moment memperingati maulud Nabi Muhammad saw. 1446 H. Bersamaan dengan  peresmian dan perbaikan Masjid Al Mukhlisin, di Ponpes Palgenep, Kecamatan Margahayu, Selasa (17/9/2024).


Dalam sambutannya Bapak bupati menyampaikan bahwa di sana ada SD IT, SMP, SMA, dan beliau pun menyampaikan keinginan dan dukunganya untuk mendirikan perguruan tinggi. "Insya Allah ke depannya kita dirikan perguruan tinggi, hal tersebut disampaikan sebagai tanda support keberlangsungan Pesantren Palgenep."


Menurut Bapak Bupati yang akrab disapa kang DS ini, mengenang 42 tahun wafatnya pendiri dan sesepuh yayasan Mathla’ul Anwar, merupakan usia yang sangat dewasa bagi Pesantren Palgenep.

Maka dari itu sebagai generasi harus bisa melanjutkan demi kemajuan Pesantren Palgenep agar bisa mencetak anak-anak bangsa yang berkarakter dan berakhlakul karimah." ucap Kang DS.


Sistem Pendidikan Sekuler Tidak Bersahabat 

Di dalam sistem kapitalis, biaya pendidikan sangat mahal. Masyarakat yang tidak mampu tidak bisa melanjutkan pendidikan, banyak anak-anak putus sekolah karena biaya pendidikan tidak terjangkau, hanya orang-orang berduit saja yang bisa mengenyam pendidikan sampai perguruan tinggi. 


Inilah salah satu bukti kegagalan dari sistem kapitalis, di mana pendidikan pun menjadi lahan bisnis. Di sisi lain kurikulum sistem kapitalis sekuler ini memisahkan agama dari pendidikan, alhasil melahirkan generasi yang minim dari segi akidah dan akhlak. 


Pendidikan Tanggung jawab Pemerintah 

Sejatinya pemerintah adalah sebagai ra'in yang bertugas mengurusi umat. Begitupun dalam masalah pendidikan. Pemerintah bukan hanya sekedar mendukung pendirian sekolah atau perguruan tinggi oleh pihak swasta, akan tetapi pemerintah seharusnya memberikan sarana dan prasarana pendidikan, mulai dari tingkat SD sampai perguruan tinggi. Hal ini disebabkan pendidikan merupakan kebutuhan dasar manusia untuk mengarungi kehidupan, baik laki-laki maupun perempuan. Negara wajib menyelenggarakan pendidikan untuk seluruh warga negara secara gratis dan berkualitas. 


Seluruh warga negara harus diberi kesempatan untuk melanjutkan pendidikan sampai ke perguruan tinggi secara gratis, dan pemerintah harus menyediakan transportasi bagi warga yang ada di pelosok atau daerah terpencil sehingga mereka mudah mengaksesnya.


Pelayanan Pendidikan dalam Sistem Islam

Sistem pendidikan Islam melahirkan generasi cemerlang, yang lahir dari peradaban gemilang. Sistem pendidikan Islam berhasil membentuk karakter dan kepribadian para terdidik. Perpaduan keimanan dan ilmu pengetahuan adalah metode yang ditempuh oleh sistem pendidikan Islam, sehingga berpengaruh besar pada setiap amal perbuatan. 


Pendidikan yang melahirkan generasi cemerlang ini pernah ada pada masa peradaban Islam selama 13 abad lamanya. Banyak cendikiawan dan ilmuwan yang lahir pada masa itu. Seperti Al khawarizmi, seorang ahli matematika yang dikenal sebagai penemu Aljabar, Ibnu Hayyan seorang ahli kimia, Ibnu Sina dikenal sebagai bapak kedokteran dunia, dan sampai sekarang dunia kedokteran merujuk kepada karyanya, dan masih banyak lagi para cendikiawan muslim yang menjadi perintis kemajuan ilmu pengetahuan, sains dan teknologi. 


Bahkan dunia Barat berutang budi atas sumbangsih yang begitu besar yang diberikan oleh peradaban Islam. Peradaban Islam yang telah berkontribusi dalam ilmu pengetahuan, sains dan teknologi, sehingga manusia mencapai kemajuan teknologi seperti yang sekarang ini dan dirasakan oleh dunia. 


Visi dari sistem pendidikan Islam adalah mencetak generasi dengan pola pikir dan pola sikap Islam. Kurikulum disusun berlandaskan akidah Islam telah terbukti melahirkan generasi yang berakhlak mulia, cerdas dan memiliki keimanan yang kuat.


Ditopang dengan sistem ekonomi Islam yang diterapkan oleh negara dijamin akan mampu menyejahterakan masyarakat. Khalifah sebagai pemimpin negara dengan penuh keimanan, dan ketakwaan akan menjalankan amanah sebagai ra'in. Yaitu mengurusi seluruh urusan umat termasuk dalam hal pendidikan. 


Rasulullah saw. pernah melepaskan satu tawanan badar dengan syarat mengajarkan 10 orang kaum Muslim di Madinah. Inilah bukti betapa besarnya perhatian Islam terhadap dunia pendidikan, sehingga banyak melahirkan manusia-manusia yang berkualitas, cerdas dan berakhlak tinggi.


Khalifah sebagai ra'in dengan penuh keimanan dan ketakwaan, benar-benar menjalankan amanah untuk mengurusi seluruh urusan umat.


Inilah urgensi diterapkannya sistem Islam, agar para penguasa benar-benar mengurusi umat dengan amanah, penuh ketakwaan terhadap Allah Swt.. Sehingga masyarakat terpenuhi semua kebutuhan dasar nya termasuk pendidikan yang berkualitas. Dari pendidikan yang berkualitas ini akan melahirkan generasi yang cemerlang yang berlandaskan pada keimanan dan ketakwaan terhadap Allah Swt. 

Wallahualam bissawab. [EA/MKC]