Alt Title
Penulisan Judul dalam Naskah

Penulisan Judul dalam Naskah


                                         


Judul artikel yang baik dan menarik itu mudah diingat pembaca

Artinya, ketika pembaca dihadapkan dengan fenomena tertentu, mereka langsung teringat judul artikel yang kita tulis

_______________________________


Penulis Desi Titis Sukraeni, M.Pd.

Mentor PUEBI AMK 


KUNTUMCAHAYA.com, SHARING KEPENULISAN - Supaya judul yang disusun tidak hanya menarik, melainkan juga sesuai dengan ketentuan di dalam EYD (https://ejaan.kemdikbud.go.id/), maka penting untuk memahami dan mematuhi aturan penulisan judul yang baik dan benar seperti apa. 


Dikutip melalui berbagai sumber, berikut adalah aturan-aturan umum untuk menuliskan judul artikel (opini) atau karya ilmiah yang lain:


1. Setiap Huruf di Awal Kata Ditulis dengan Huruf Kapital

2. Gunakan Huruf Kecil untuk Preposisi, Konjungsi, dan Interjeksi

3. Perhatikan Kaidah Huruf Kapital pada Kata Ulang


Ingat juga bahwa:

1. Judul bukan kalimat 

2. Memperhatikan kelogisan

3. Tidak boros kata


Contoh Penulisan Judul


Contoh 1


Pemanfaatan Daun Sirih Sebagai Obat


Judul dalam artikel opini harus dibuat lebih menarik. Salah satu syarat dari judul adalah tidak panjang dan tidak menggunakan kata-kata klise.


Judul opini itu ibarat iklan promosi. Konsumen akan terpengaruhi membeli produk setelah menyukai iklan produk tersebut. Pembaca akan tertarik dengan isi tulisan, ketika mereka terkesan dengan judul yang kita buat.


Judul itu ibarat kunci pembuka, sekaligus menjadi penghias tulisan agar menarik. Karena fungsinya sebagai penarik, maka judul juga ibarat magnet atau daya tarik bagi tulisan kita. Oleh karena itu, judul harus dibuat semenarik mungkin, sehingga tulisan kita dilirik, dan selanjutnya dibaca orang.


Penulis pemula maupun yang sudah senior sekalipun, sering kesulitan membuat judul, tentunya judul yang menarik.


Judul yang disajikan hanya terkesan biasa saja, tentu tidak akan mengundang minat pembaca. Namun perlu diingat, judul juga harus mencerminkan isi tulisan kita.


Jangan sampai hanya agar menarik, judul dibuat bombastis, tetapi jauh dari isi tulisan kita. Pembaca akan merasa dibohongi. Sudah dapat dipastikan bahwa pembaca yang kecewa, mereka tidak akan tertarik untuk membaca opini-opini yang kita tulis selanjutnya.


Banyak penulis senior dan sumber rujukan yang  merekomendasikan membuat judul itu tidak lebih dari 65 karakter, bahkan lebih bagus lagi hanya terdiri dari 6 kata. Hal ini berdasarkan kebiasaan orang, di mana mereka hanya akan membaca 3 kata pertama saja.


Selain tidak terlalu panjang dan pendek, judul yang mengandung pertanyaan, biasanya akan menarik pembaca. Misalnya, opini berjudul ”Quovadis Pendidikan Bangsa?” atau “Membuat Artikel Opini itu Mudah?”


Berbeda bila kita membuat judul artikel hasil penelitian. Judul tersebut hendaknya berimplikasi pada deskripsi problem, teori, metodologi, dan rekomendasi. Artinya, kita harus dapat merumuskan problem yang bersifat akademik dan yang bersifat praktis melalui judul itu.


Kita juga perlu mencocokkan judul itu dengan teori yang ada. Jika kita tidak menemukan teorinya, maka kita akan kesulitan memberikan argumentasi kita terhadap judul kita sendiri itu. Secara metodologis, judul itu harus dapat diteliti dengan cara yang telah lazim di dunia ilmiah.


Judul artikel yang baik dan menarik itu mudah diingat pembaca. Artinya, ketika pembaca dihadapkan dengan fenomena tertentu, pembaca langsung teringat judul artikel yang kita tulis.


Sebagaimana telah diuraikan sebelumnya, judul tidak hanya berguna untuk menangkap perhatian pembaca, tapi juga menyebarluaskan berita tentang karya kita. Kata-kata yang terlalu sulit tidak akan menarik bagi penjaga rubrik (jabrik), editor, agen buku, dan para pembaca tidak akan mampu mengingat atau menjual judul ini kepada orang lain. Tentu teman-teman ingin muncul dengan sesuatu yang menyenangkan, menempel di kepala, dan mudah diingat.


#Preposisi itu kata depan 

Contoh: di, ke, dari, oleh, dll.


#Interjeksi merupakan kata seru yang berfungsi untuk mengungkapkan perasaan batin misalnya perasaan ketika terkejut, terharu, kagum, marah, atau sedih.


Buat tidak terlalu panjang, mudah diingat dan menggambarkan isi.


Contoh:

Bertopeng Budaya  Kemaksiatan Dipelihara 


Indonesia dalam Dekapan Syahwat


Awas Remaja Terancam Miras


Jaga Generasi dari Krisis Jati Diri


Mencegah Generasi Preman


Begitulah sekelumit tentang penulisan judul, semoga bermanfaat. [By/MKC]

Materi PUEBI tentang Ejaan

Materi PUEBI tentang Ejaan

                                        


                                       

Memahami ejaan yang benar penting untuk memastikan pesan tertulis kita dapat dipahami 

dan memengaruhi cara orang lain memandang diri kita

______________________________________


Penulis Desi Titis Sukraeni, M.Pd.

Mentor PUEBI AMK


KUNTUMCAHAYA.com, SHARING KEPENULISAN - PUEBI (https://puebi.js.org/) adalah satu hal yang dibutuhkan dalam proses penulisan dan swasunting suatu naskah. Satu di antaranya yakni mengenai ejaan. Mengapa seorang penulis harus belajar dan menguasai ejaan?


Memahami ejaan yang benar penting untuk memastikan bahwa pesan tertulis kita dapat dipahami dengan jelas, dan dapat memengaruhi cara orang lain memandang diri kita.


Penerapan Ejaan


Ejaan yang perlu diperhatikan pada sebuah tulisan terdiri atas pemakaian huruf, penulisan huruf, penulisan kata, penulisan unsur, serta penulisan tanda baca.


Beberapa cara yang dapat membantu meningkatkan keterampilan ejaan:


1. Pelajari Aturan Ejaan


Pelajari aturan ejaan bahasa Indonesia, seperti aturan penggunaan huruf kapital, penggunaan tanda baca, dan penulisan kata-kata yang sulit diucapkan. Baca buku panduan ejaan resmi bahasa Indonesia dan praktikan dengan mengerjakan latihan-latihan ejaan.


2. Baca dan Tulis secara Teratur


Membaca dan menulis secara teratur akan membantu meningkatkan keterampilan ejaan Anda. Baca buku, artikel, dan teks lainnya dalam bahasa Indonesia, dan tulis catatan, surat, atau cerita pendek dengan ejaan yang benar.


3. Gunakan Kamus 


Gunakan kamus untuk memeriksa ejaan dan arti kata yang tidak diketahui (https://kbbi.web.id/). Kamus juga dapat membantu Anda memperluas kosakata dan memahami penggunaan kata yang tepat dalam konteks yang berbeda.


4. Berlatih Mengeja


Berlatih mengeja kata-kata yang sulit diucapkan dan sering salah eja. Anda dapat mencatat kata-kata ini dan mengulanginya berulang-ulang hingga benar-benar menguasai ejaannya.


5. Gunakan Alat Bantu


Gunakan alat bantu seperti aplikasi pemeriksa ejaan atau kamus daring untuk membantu memeriksa dan memperbaiki ejaan kita 


6. Periksa Kembali Pekerjaan Kita


Setelah menulis, pastikan untuk memeriksa kembali ejaan dan tata bahasa. Baca pekerjaan kita dengan hati-hati dan perbaiki kesalahan yang ditemukan.


Simpulan


Dengan praktik dan ketekunan, keterampilan ejaan dapat meningkat. Ingatlah bahwa ejaan yang benar tidak hanya penting untuk menghindari kesalahan, tetapi juga untuk memastikan pesan kita tersampaikan dengan jelas dan efektif.


Nah, demikian materi pengingat atau refresh malam ini ya. Semoga yang secuil ini bermanfaat. Afwanminkum. [By/MKC]

Tips Editing Naskah Opini

Tips Editing Naskah Opini

 




Inilah tips-tips bagi para penulis agar meminimalisir kesalahan dalam menulis 

sehingga para penulis bisa terus berkembang menjadi lebih baik

______________________________

 

Penulis Mahganipatra

Kontributor Media Kuntum Cahaya


KUNTUMCAHAYA.com, SHARING KEPENULISAN - Sebagai seorang penulis ideologis, kegiatan menulis merupakan aktivitas yang senantiasa selalu membersamai kita setiap saat. Mulai dari proses tatabu fakta, cek and ricek berita-berita di media yang berhubungan dengan fakta yang tengah diangkat. Bahkan sampai pada upaya untuk mencari teman diskusi atau terkadang juga membaca opini-opini milik penulis lain yang mengangkat tema yang sama.


Upaya-upaya tersebut menjadi bahan pertimbangan sekaligus menjadi masukan bagaimana pandangan Islam terkait tema yang tengah diangkat. Tentunya, ini membutuhkan waktu juga energi untuk melaluinya.

Tips Tatabu Fakta  


Teman-teman, menurut bunda Yuliyati Sambas, kalau menulis opini itu kadang membutuhkan beberapa tulisan atau video yang harus disimak. Hal ini dilakukan agar dapat mendukung isi naskah, supaya lebih menarik dan tajam saat membuat analisis tulisan opini kita.

Terkadang, ketika kita hanya membaca sumber berita dari link yang ada dan mencukupkan diri hanya berdasarkan pada sumber link yang diberikan oleh TOR saja. Hal tersebut, bisa jadi akan mendorong kita pada kemungkinan bahwa opini yang kita tulis akan dangkal dan analisisnya pun akan tumpul. Oleh karena itu beliau pun menyarankan, untuk melakukan pendalaman mafhum kita, terkait tema yang akan kita angkat. Apa saja fakta-fakta yang harus kita baca yang sekiranya berkaitan, serta melingkupi tema yang ingin kita angkat.

Ini bisa kita lakukan agar makin banyak yang kita tahu dan pahami, sehingga kita akan terhindar dari kemungkinan sesat opini dan arah analisisnya. Terutama ketika teman-teman punya banyak agenda lain yang cukup padat, sementara tatabu fakta dan analisis butuh sekali kita jalani. Maka, tips ini bisa jadi solusi, di antaranya:

1. Baca isi link berita yang diangkat;
2. Dari link pertama, catat dan ingat apa saja yang menjadi kata kunci dan membutuhkan pendalaman yang harus kita ketahui;
3. Misal tentang "Utang Negara" kira-kira apa saja yang harus kita detili? Contohnya kita butuh tahu tentang:
- Apa itu arti dari utang negara;
- Lantas rasio utang negara terhadap GDP/PDB;
- Apa itu PDB;
- Apa pengaruh dan untuk tujuan apa rasio utang terhadap PDB itu dihitung;
- Bagaimana cara para ekonom memandang terkait utang negara;
- Adakah payung hukum yang membahas rakit utang negara
- dan seterusnya;

4. Dari semua yang butuh kita ketahui, tidak mesti sumbernya harus dari sumber tulisan saja. Jika kita cukup sibuk, misal tidak sempat baca karena harus memasak, cuci piring, menyetrika, mencuci baju lalu harus menjemurnya, menyuapi anak, dan lain-lain. Kita bisa siasati dengan menonton youtube, dengan mencari kata kunci dari pertanyaan-pertanyaan yang kita butuh ketahui tadi.

Poin 4 ini bisa menjadi salah satu uslub agar proses memahami fakta dan apa-apa yang melingkupinya bisa dipahami dengan benar dan dapat memudahkan kita untuk mendalami fakta. Alhasil, tidak ada lagi alasan seperti: "Bunda, aku punya kebiasaan suka lupa. Aku mah tipenya harus yang langsung dicatat atau dicopas."
 
Maka, setidaknya hal tersebut bisa menjadi salah satu uslub dalam menjawab bagaimana sebenarnya solusi mudah untuk menyelesaikan kendala dalam tatabu fakta. Tatabu bisa tetap dilakukan lewat video ketika kita dalam kondisi repot sekalipun. Kita tetap berupaya untuk memasukkan maklumat dalam benak kita terkait fakta dan analisis yang melingkupi tema yang sedang kita angkat.

Tips Edit Naskah Opini agar Tidak Terdeteksi Plagiat

 
Ketika kita sudah punya cukup waktu, barulah sumber yang berbentuk tulisan bisa mulai kita cari. Tentunya dengan kondisi maklumat di dalam benak kita yang sudah cukup "terisi" sehingga proses tatabu berikutnya akan lebih mudah dilakukan.
 
Ini sekilas tentang salah satu uslub dalam mendalami analisis berita untuk proses penulisan opini. Berikutnya terkait urusan editing naskah. Apakah selama ini ada yang pernah mengirim naskah ke suatu media, lantas mendapat masukan untuk diedit ulang?

Jika belum, saya mau bertanya. Kira-kira bagian mana yang paling sulit? Apakah terkait self editing yang dirasa cukup sulit buat teman-teman? Kalau jawabannya iya, coba teman-teman buat beberapa contoh, misalnya:
1. Bagian judul dan subjudulkah?
2. Parafrase agar didapat angka plagiat rendahkah?
3. PUEBI-kah
4. Kalimat baku dan tidak bakukah?
5. Analisis yang kurang tajamkah?
6. Solusi/pandangan Islam yang kurang detailkah?
7. Atau adakah hal lainnya?

Nah, kira-kira dari ke 7 poin tersebut, mana yang biasanya menjadi perihal yang mendapat perhatian seorang penulis plus editor?
Pastinya, setiap penulis memiliki beberapa kendala, salah satunya dalam masalah penulisan dalil. Maka ada 2 cara untuk menyiasatinya, yaitu:

1. Penulisan secara langsung. Caranya agar tidak terdeteksi plagiat maka tuliskan antara kalimat pengantar paragraf sebelum dalil dengan dalilnya disimpan di baris yang sama. Lalu keterangan hadis riwayat siapanya dituliskan sebelum dalil.

2. Pengutipan secara tidak langsung. Dilakukan dengan cara menjelaskan isi dari dalil tersebut. Hanya saja untuk teknik ini butuh kehati-hatian, agar jangan sampai menjelaskannya menjadi tidak tepat seperti yang dimaksudkan dalil itu sendiri.

Contoh poin 1: ... Sebagaimana hadis Rasulullah saw.  dengan jalur periwayatan Imam Bukhari, "Imam (khalifah) adalah raa'in, ..."
 
Contoh poin 2: Rasulullah saw. telah memberi gambaran tentang seorang penguasa, di dalam hadis riwayat Imam Bukhari bahwa seorang penguasa itu adalah raa'in (pengurus), di mana ia bertanggung jawab terhadap rakyat yang dipimpinnya.

Solusi untuk Mendeteksi Angka Plagiat dalam Naskah Opini


Namun, jika ternyata masalahnya ada di fakta, maka solusinya cek dengan aplikasi. Cek plagiatnya di link https://smallseotools.com/plagiarism-checker/

Biasanya aplikasi ini akan memberikan tanda pada konten apa saja yang terdeteksi sebagai plagiat, pada tiap kalimatnya. Jadi, akan memudahkan bagi kita untuk membuat parafrase fakta yang terdeteksi plagiat tersebut.

Kemudian untuk solusi masalah terkait cara penulisan kata baku atau tidak baku. Apakah tulisan kita sudah benar cara penulisannya? Maka kita harus rajin untuk membuka aplikasi https://ejaan.kemdikbud.go.id/.

Sebab, aplikasi ini bisa membantu kita mengurangi kesalahan cara penulisan kata yang harus ditulis baku, ternyata justru kita menulisnya dalam kata yang tidak baku.

Jadi, inilah tips-tips bagi para penulis agar meminimalisir kesalahan dalam menulis, sehingga para penulis bisa terus berkembang menjadi penulis yang lebih baik lagi ketika menulis. Seorang penulis ideologis hendaklah ketika menulis senantiasa melibatkan Allah di dalam dirinya dan senantiasa yakin. Sekecil apa pun upaya kita dalam membuat tulisan, maka Allah akan memberikan balasannya.

Hal ini termaktub di dalam Al-Qur'an surah Al-An'am ayat 160, Allah Swt. akan membalas setiap perbuatan seorang hamba sesuai dengan firman-Nya: "Siapa yang berbuat kebaikan, dia akan mendapat balasan sepuluh kali lipatnya. Siapa saja yang berbuat keburukan, dia tidak akan diberi balasan melainkan yang seimbang dengannya. Mereka (sedikit pun) tidak dizalimi (dirugikan)."

Wallahualam bissawab. [MGN/MKC]

Penggunaan Kata Baku dalam Naskah

Penggunaan Kata Baku dalam Naskah

 


Jadi, kalau menulis jika kita khawatir keliru apakah baku atau tidak kata yang dipilih solusinya buka KBBI

Sering dibuka, sering dipakai, lama-lama akan terbiasa mengenali mana yang seharusnya baku dan mana yang tidak baku

_________________________


Penulis Desi Titis Sukraeni, M.Pd. 

Mentor PUEBI AMK 


KUNTUMCAHAYA.com, SHARING KEPENULISAN - Bismillahirrahmanirrahim


Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.


Alhamdulillah, malam ini masih diberi kesempatan untuk KulWa PUEBI kembali.


Selawat dan salam semoga tetap tercurahkan untuk junjungan kita Nabi Muhammad saw. beserta keluarganya, sahabatnya, tabiit  tabiin dan orang-orang yang berjuang di jalan Islam hingga akhir zaman.


Baiklah, tema malam hari ini apa ya?


Kata Baku


Nah, tentu teman-teman penulis sudah tidak asing lagi. Mari berkenalan lebih dekat dengan Kata Baku yuk.


Pengertian Kata Baku


Kata baku adalah kata yang sesuai dengan kaidah-kaidah yang berlaku di dalam Bahasa Indonesia, yaitu sesuai Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI)


Bahasa Baku


Sedangkan bahasa baku merupakan ragam bahasa yang digunakan dalam situasi formal atau resmi. Bahasa baku biasanya menggunakan kaidah bahasa yang baik dan benar sesuai dengan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).


Fungsi Ragam Baku 


1. Pemersatu

Pemakaian bahasa baku dapat mempersatukan sekelompok orang menjadi satu kesatuan masyarakat bahasa. Seseorang dapat dikatakan bansa Indonesia antara lain ditandai oleh kemampuannya dalam menggunakan bahasa Indonesia secara baik dan benar.


2. Pemberi kekhasan

Pemakaian bahasa baku dapat menjadi pembeda dengan masyarakat pemakai bahasa lainnya.


3. Pembawa kewibawaan

Pemakaian bahasa baku dapat memperlihatkan kewibawaan pemakainya.


4. Kerangka acuan

Bahasa baku menjadi tolok ukur bagi benar tidaknya pakaian bahasa seseorang atau sekelompok orang. Kadang kata baku sering menjadi momok bagi para penulis.


Bagaimana kita membedakan atau mengenali kata baku? Mari kita pahami ciri-cirinya.


Ciri-Ciri Bahasa Baku:

1. Tidak dipengaruhi bahasa daerah

2. Tidak dipengaruhi bahasa asing

3. Bukan merupakan ragam bahasa percakapan

4. Imbuhan secara eksplisit

5. Pemakaian yang sesuai dengan konteks kalimat

6. Tidak rancu


Contoh:

1. Tidak dipengaruhi bahasa daerah


Baku:

saya

ibu

dilihat


Tidak baku:

sayah

nyokap

dilihatin


Contoh:

2. Tidak dipengaruhi bahasa asing


Baku:

itu benar

banyak sarjana

kesempatan lain


Tidak baku:

itu adalah benar

banyak sarjana-sarjana 

lain kesempatan


Contoh:

3. Bukan merupakan ragam bahasa percakapan 


Baku:

dengan

memberi

tidak


Tidak baku:

sama

kasih

nggak


Contoh:

5. Pemakaian yang sesuai dengan konteks kalimat 


Baku:

disebabkan oleh

lebih besar daripada


Tidak baku:

disebabkan karena

lebih besar dari


Contoh:

4. Pemakaian imbuhan secara eksplisit 


Baku:

Ia bekerja keras.

Petinju itu menyerang lawannya.


Tidak baku:

Ia kerja keras.

Petinju itu serang lawannya.


Contoh:

6. Tidak rancu 


Baku:

mengesampingkan

berkali-kali 


Tidak baku:

mengenyampingkan

berulang kali


Kaidah standar bahasa  yang dimaksud adalah:

1. PUEBI

2. Tata bahasa baku

3. Kamus Umum


Jadi, kalau menulis jika kita khawatir keliru apakah baku atau tidak kata yang dipilih solusinya buka KBBI ya. Sering dibuka, sering dipakai, lama-lama akan terbiasa mengenali mana yang seharusnya baku dan mana yang tidak baku.


Nah, demikian materi Kata Baku yang bisa saya sampaikan, semoga bermanfaat. [By]

Editing, Ilmu Penting dalam Menyunting

Editing, Ilmu Penting dalam Menyunting

Editing ini meliputi: memperbaiki bentuk tulisan, merapikan kata dari typo, memilih diksi yang tepat

Sehingga tulisan enak dibaca, tepat makna dan maksud yang akan disampaikan penulis kepada pembaca

____________________________________


Penulis Sofie Ummu Farizahrie

Kontributor Media Kuntum Cahaya dan Member Kelas Editing Praktis AMK 



KUNTUMCAHAYA.com, SHARING KEPENULISAN - Editing adalah salah satu cabang ilmu kepenulisan yang sangat penting. Mengapa? Karena dengan kemampuan tersebut, seorang penulis mampu menyajikan sebuah tulisan yang enak dibaca dan dipahami.


Editing berasal dari bahasa  Inggris, namun kata 'edit' ada dalam KBBI yang artinya yaitu memperbaiki/menyunting naskah. Seorang penulis penting memiliki kemampuan self editing sebelum naskah tulisannya diterbitkan. 


Editing ini meliputi: memperbaiki bentuk tulisan, merapikan kata dari typo, memilih diksi yang tepat. Sehingga tulisan enak dibaca, tepat makna dan maksud yang akan disampaikan penulis kepada pembaca.  


Seseorang yang melakukan aktivitas editing disebut editor. Kabar gembiranya, editor ini ternyata bisa dijadikan profesi. Apalagi kalau kemampuan ini digunakan untuk kebaikan, yaitu menjadi editor naskah tulisan dengan konten-konten dakwah. Tentunya insya Allah pahala menanti para editor.


Maka tunggu apalagi? Yuk, semangat menambah skill editing kita. Karena selain memudahkan dalam meloloskan tulisan kita untuk terbit di media online maupun offline, juga membantu kerja para editor dalam menyunting naskah yang kita kirimkan ke meja-meja redaksi. [By]


Wallahualam bissawab.

How About Editing?

How About Editing?

Kemampuan editing seorang penulis sangatlah urgent. Berdampak ketika penulis berkeinginan terjun ke dunia literasi, media bahkan jika merambah ke dunia percetakan

Mengingat hari ini berjamur jasa produk digital termasuk di dalamnya content writer

______________________________________


Penulis Jusniati Dahlan

Member Kelas Editing Praktis AMK 



KUNTUMCAHAYA.com, SHARING KEPENULISAN - What is editing? Editing adalah aktivitas mengedit atau menyunting naskah oleh seorang editor. Tujuan pengeditan naskah ialah agar naskah tulisan tersebut layak untuk dibaca khalayak ramai, tayang di media bahkan diterbitkan menjadi sebuah buku.


Penyampaian ide lewat tulisan oleh seorang penulis, dituntut untuk memahami target pembaca. Maka seorang penulis urgent untuk memperhatikan kerapian tulisan, tidak jumping paragraf, tepat dalam pemilihan diksi bahasa, inti poin dari tulisan (titik fokus) dan target konten tulisan tersampaikan.


Kemampuan editing seorang penulis sangatlah urgent. Berdampak ketika penulis berkeinginan terjun ke dunia literasi, media bahkan jika merambah ke dunia percetakan. Mengingat hari ini berjamur jasa produk digital termasuk di dalamnya content writer.


Who is editor?


Editor ialah seseorang yang melakukan pengecekan naskah tulisan yang meliputi komposisi tulisan, penggunaan bahasa yang sesuai KBBI, no typo, plagiat, dll.


Kesimpulan


Kemampuan self editing oleh seorang penulis melatih penulis untuk tidak sekadar menulis naskah mentah. Kemampuan memahami komposisi tulisan dan target konten ke pembaca membantu naskah agar dapat dipress hingga tidak kepanjangan, yang jatuhnya mengambang. Serta melatih diri untuk mampu mengirim tulisan secara mandiri ke media. Sekaligus menyelam dan mengenal dunia media. Syukur-syukur bisa tambah circle anak editor dan redaksi. The end. Wallahualam bissawab. [SJ]

Menjadi Editor, Why Not?

Menjadi Editor, Why Not?

Benar, belajar tentang apa pun, jika diawali dengan niat yang lurus karena Allah dan kesenangan

Maka ilmu yang diperoleh akan mudah dipahami dan tugas yang diberikan oleh guru akan terasa ringan dan tidak menjadi beban di tengah kesibukan kita sebagai ibu rumah tangga, pekerja, dan pengemban dakwah

_____________________________________


Penulis Nining Sarimanah

Member Kelas Editing Praktis AMK 



KUNTUMCAHAYA.com, SHARING KEPENULISAN - Di tahun ajaran baru 2024, Akademi Menulis Kreatif (AMK) membuka program baru, yaitu kelas editing praktis. Kelas ini keren, karena dengan bergabungnya di kelas tersebut, kita akan diasah untuk memiliki skill dalam mengedit sebuah naskah dan skill ini, mutlak dibutuhkan oleh kita, sebagai penulis. 


Kulwa perdana dilaksanakan pada 8 Januari 2024, yang diikuti oleh puluhan peserta. Tepat pukul 19.30 WIB, kelas dimulai yang dipandu oleh Teh Siska. Selanjutnya, pemaparan materi oleh Bunda Yuli Sambas.


Sebelum masuk pada materi, beliau mengingatkan kepada semua peserta bahwa jika ilmu editing sudah menjadi sebuah kesenangan, maka hati kita akan dipenuhi bunga-bunga indah ketika belajarnya dan akan semakin mekar bunga-bunga di hati kita di saat menjalankan tugas-tugasnya.


Masya Allah, kalimat beliau sangat menggugah jiwa dan harus selalu kita ingat. Benar, belajar tentang apa pun, jika diawali dengan niat yang lurus karena Allah dan kesenangan, maka ilmu yang diperoleh akan mudah dipahami dan tugas yang diberikan oleh guru akan terasa ringan dan tidak menjadi beban di tengah kesibukan kita sebagai ibu rumah tangga, pekerja, dan pengemban dakwah.


Kembali pada materi, kali ini Bunda Yuli akan membahas tentang editing dan hal-hal yang berkaitan dengannya.


 Apa Itu Editing?


Editing itu, berasal dari bahasa Inggris yang berarti aktivitas mengedit atau menyunting. Karena kita berada di komunitas kepenulisan, maka fokus editing kita ada di tulisan atau naskah. Sementara, kalau orang yang melakukan aktivitas editingnya disebut editor. 


Kenapa Penulis Butuh Ilmu dan Skill Editing?


Pertama, karena dalam proses menulis itu, bukan hanya tok menulis. Tapi, ada harapan bahwa naskah tulisan kita layak untuk dibaca dan ditayangkan di media online atau offline, bahkan bisa diterbitkan menjadi sebuah buku. 


Kedua, bahwa kita pun menyadari dengan kita menulis, itu dalam rangka menyampaikan ide kebaikan agar menjadi sarana edukasi bagi pembaca. Salah satu syarat agar proses edukasi tersebut sampai di diri pembaca, maka butuh penyampaian ide dalam bentuk tulisan yang rapi, tepat diksi, tepat makna, dan tepat maksud.


Ketiga, penulis sangat membutuhkan ilmu dan skill editing dalam menggeluti jenis tulisan apa pun. Misalnya, fiksi, nonfiksi, puisi, opini, jurnal, makalah, artikel, bahkan buku kita sangat membutuhkan ilmu dan skill editing.


Manfaat Ilmu Editing bagi Penulis


Pertama, minimal menjadikan kita bisa self editing untuk naskah sendiri dan maksimalnya ilmu ini, bisa bermanfaat untuk pihak lain. Support di media dakwah online misalkan, yang saat ini banyak menjamur di tengah dunia maya. Insyaallah ilmu dan skill-nya nanti akan semakin berkah karena ada nilai jariyah yang bisa kita petik di titik ini.


Kedua, penulis yang menerapkan skill self editing maka yakin akan ada 'hati-hati' tim media, khususnya para editornya yang berbunga-bunga. Itu karena, beban kerja mereka dalam proses mengedit naskah akan menjadi lebih ringan dan naskah akan lebih cepat tayang


Ketiga, jika kita serius mempelajari skill editing naskah ini dan ingin menggunakannya untuk tujuan meraih materi alias cuan, itu bisa kita dapatkan. Ini karena, ilmu editing sebagai editor sangat dicari di internet yang mengumpulkan ahli-ahli di bidangnya untuk membuka jasa penulisan dan pengeditan, di laman-laman freelancer misalnya.


Siapa Itu Editor?


Ringkasnya bahwa editor itu adalah mereka yang bertugas memeriksa kesalahan-kesalahan yang ada dalam sebuah tulisan. Editor itu bisa bekerja untuk diri sendiri atau untuk pihak lain. 


Untuk diri sendiri, ketika penulis akan mengirim naskah opini, misalkan ke sebuah media, maka media akan memeriksanya. Biasanya media itu, memiliki syarat-syarat tertentu agar tulisan kita bisa tayang dan satu di antaranya adalah ketika kualitas tulisannya bagus dan penunjang kualitas suatu naskah itu, salah satunya adalah self editing penulis.


Di sisi lain, penulis yang sudah punya skill editing kemudian ingin menerbitkan buku misalnya, maka penulis tidak perlu menggunakan jasa editor dari penerbitnya. Sampaikan ke penerbit bahwa penulis sudah mampu self editing. Ini artinya, biaya penerbitan akan berkurang, lumayan bukan? Apalagi, dana untuk penerbitan buku yang kita miliki pas-pasan, tentu skill editing harus dimiliki.


Alhamdulillah, materi pertama sudah dipaparkan dengan jelas oleh Bunda Yuli. Masyaallah ilmunya sangat mencerahkan, terutama bagi saya. Selanjutnya, moderator mempersilakan kepada peserta kulwa untuk bertanya.


Penanya pertama, Mbak Evi Susanti, "Assalamu'alaikum Bunda Yuli, izin bertanya, setiap selesai nulis saya jarang melakukan self editing. Karena terkadang, ketika saya melakukan selft editing hasilnya tulisan itu bisa berubah total dari awalnya dan akhirnya tidak selesai dan tidak jadi dikirim. Bagaimana untuk mengatasi masalah ini?"


Jawaban Bunda Yuli, tahapan pertama ketika menulis naskah baik opini, surat pembaca, artikel, reportase, maupun tulisan lainnya adalah menentukan tema. Contohnya opini, dalam opini biasanya ada tor yang sudah dikirim dari pusat, maka tor itu harus dipahami dengan baik dari sisi fakta, analisis, hingga solusi dalam Islam.


Kedua, apa pun yang ada dalam benak kita, maka tuliskan saja dan jangan berpikir bagus atau nggak dan jangan self editing dulu. Proses self editing dilakukan ketika sudah beres menulis, kemudian naskah itu dibaca ulang dengan cara bersuara.


Dalam proses membaca itu, kita akan menemukan hal-hal yang ganjil atau kok begini atau begitu? Di sanalah, letak proses editing. Sebelum dikirim ke media, baiknya naskah kita terlebih dahulu dikirim ke guru menulis untuk memastikan, apakah sudah benar atau masih perlu perbaikan? Tersebab, guru adalah pembaca pertama, dia akan memberikan masukan secara objektif, maka penulis harus mengikuti arahannya jangan baperan.


Terlebih, jika di dalam hati kita tersimpan niat yang kuat bahwa naskah ini harus selesai, tidak boleh berhenti di tengah jalan atau mangkrak di tengah jalan karena aku sudah meluangkan waktu yang demikian panjang untuk proses menyelesaikan dan merampungkan naskahku. Jika naskah itu, hanya teronggok di handphone atau di file komputer, sayang sekali bukan? Segera selesaikan naskah itu, jika sudah fix dari guru, lanjut kirim ke media dan tunggu kabar dari media.


Itulah materi yang disampaikan oleh guru kita, Bunda Yuli. Semoga ilmu yang kita terima bisa dipraktikkan sehingga tulisan kita bisa lebih baik lagi. Teruntuk Bunda Yuli, semoga ilmu yang diberikan menjadi amal jariyah, aamiin. Wallahualam bissawab. [SJ]

Mengenal Self Editing (Bagian 1)

Mengenal Self Editing (Bagian 1)

Terlebih ketika apa yang kita sampaikan adalah bagian dari aktivitas mulia yaitu dakwah

Tentu kita akan memberikan yang terbaik sebagai uslub agar dakwah bil kalam dapat tersampaikan dengan baik dan diterima oleh pembaca. Sehingga apa yang kita tulis dapat menjadi opini umum di tengah masyarakat

_________________________________________


Penulis Siska Juliana 

Tim Media Kuntum Cahaya 



KUNTUMCAHAYA.com, SHARING KEPENULISAN - Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Teman-teman pada kesempatan kali ini saya akan sharing tentang self editing. Ada yang pernah dengar sebelumnya? 


Jadi, istilah self editing ditujukan bagi para penulis agar mau melakukan swasunting bagi naskahnya yang akan dikirimkan ke penerbit atau media massa. Self editing perlu dilakukan, karena makin minim kesalahan, makin baik dan meningkatkan kredibilitas sang penulis. Itulah mengapa self editing perlu dilakukan.


Terlebih ketika apa yang kita sampaikan adalah bagian dari aktivitas mulia yaitu dakwah. Tentu kita akan memberikan yang terbaik sebagai uslub agar dakwah bil kalam dapat tersampaikan dengan baik dan diterima oleh pembaca. Sehingga apa yang kita tulis dapat menjadi opini umum di tengah masyarakat. 


Lalu, bagaimana cara melakukan self editing? Apa saja yang dilakukan dalam self editing? Yuk kita bahas bersama. 


Cara Melakukan Self Editing:


1. Tidak ada salah ketik alias typo


2. Sesuaikan dengan kaidah penulisan PUEBI (Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia).


Apakah ditulis dengan huruf besar, apakah dispasi atau tidak, dan lain sebagainya.


Kata-katanya juga harus diperhatikan. Apakah analisis atau analisa, kokoh atau kukuh, antri atau antre. Coba cek di KBBI yaa. Ada yang versi daringnya, kok.


3. Cek arti dari kata yang kita maksudkan


Misalkan kasus yang paling sering adalah "bergeming". Bergeming itu artinya diam. Tidak bergeming artinya tidak diam. 


Nah, cek lagi kata-kata yang kita gunakan, apakah sudah sesuai maksud atau belum. Cek KBBI lagi. 


Jangan membuat malu diri karena kita salah memilih kata, padahal inginnya sok keren.


4. Periksa lagi apakah masih ada kata yang disingkat


Seperti "yg", "knp" dan lain-lain. Mungkin saking terbiasanya menulis chat, maka jadi seperti itu.


5. Apakah ada kata yang terlalu sering diulang


Misalnya: "saya", "kita", dan kata-kata yang lain. 


Contoh Kalimat: Saya tidak tahu saya harus ke mana setelah acara ini selesai. 


Bisa diubah menjadi: Saya tidak tahu harus ke mana setelah acara ini selesai. 


Nah, tahu kan perbedaannya? 


6. Perhatikan tanda baca


Jangan menggabungkan tanda seru dan tanda tanya. Adakah titik yang berlebihan? Adakah tanda koma yang terlalu sering digunakan? 


Coba cek lagi.


7.Jangan sampai hambur kata


Bila bisa menggunakan delapan kata saja, mengapa harus dua puluh kata dalam satu kalimat. 


Jadikan padat, efektif, dan bermakna.


8. Cek lagi hubungan antarparagraf, kata penghubung antarkalimat, dan sudahkah maksud tertuangkan dalam tulisan? 


Bila belum, rangkai lagi hingga maksud tersampaikan namun naskah tetap enak dibaca.


Itulah cara melakukan self editing. Self editing itu harus dimiliki dan dilakukan oleh semua penulis. Jadi jangan beres nulis, langsung kirim, jangan ya. Lakukan dulu self editing


Adapun tahap dalam mengedit naskah, yaitu: 


1. Merapikan format naskah


2. Membaca cepat


3. Mengecek paragraf


4. Merapikan tanda baca


5. Memperbaiki salah ketik


6. Membaca secara urut untuk menemukan kesalahan dan mengoreksi setiap kesalahan


7. Mengendapkan naskah yang sudah diedit 


8. Melakukan cek ulang


Dalam menulis, terkadang kita melakukan kesalahan. Apa saja sih biasanya kesalahan dalam menulis? Yuk kita simak. 


Kesalahan Umum


1. Tanda baca terpisah dari huruf terakhir pada akhir kalimat 


2. Pemakaian kata depan di atau ke yang tertukar dengan awalan 


3. Penggunaan partikel pun yang disatukan 


4. Pemisahan kata ganti ku, mu, dan nya 


5. Preposisi di dan pada 


6. Titik-titik


7. Penggunaan kata baku 


8. Pembuatan dialog/kutipan/kalimat langsung 


9. Spasi ganda 


10. Penulisan gelar


Supaya tulisan kita minim kesalahannya, ada beberapa panduan yang harus kita perhatikan. 


Panduan Menulis


1. Kata per ditulis terpisah 


Misal: satu per satu 


Tetapi ditulis serangkai pada kata persen dan persepuluhan


2. Awalan a-, antar-, anti-, infra-, ultra-, ditulis serangkai 


Misal: asosial, antikorupsi, ultraviolet, inframerah 


3. Kata si dan sang ditulis terpisah dari yang mengikutinya 


Misal: sang kancil, si pengirim


4. Kata ganti ku, kau, mu, dan nya ditulis serangkai dengan kata yang mengikuti atau mendahuluinya 


Misal: Apa pun yang kumiliki boleh kauambil 


Bukuku, bukumu, dan bukunya tersimpan di perpustakaan


5. Kata depan di, ke, dan dari ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya 


Misal: di dalam lemari, di luar, di sini, ke luar, dari rumah


6. Partikel lah dan kah ditulis serangkai dengan kata yang mendahuluinya 


Misal: 

Bacalah buku itu baik-baik

Apakah yang tersirat dalam surat itu?


7. Partikel pun ditulis terpisah dari kata yang mendahuluinya 


Kecuali yang sudah padu dengan partikel pun ditulis serangkai yaitu,

adapun, andaipun, ataupun, bagaimanapun, biarpun, betapapun, kalaupun, sekalipun, meskipun, sungguhpun, walaupun, kendatipun, maupun, sementangpun.


8. Preposisi di dan pada 


Aturan kata depan bahasa Indonesia: di digunakan untuk tempat, pada digunakan untuk selain tempat. 


Misal: di rumah, di sekolah, pada kesempatan ini, pada tahun lalu.


Itu materi yang bisa saya sampaikan pada sharing kali ini. Semoga bermanfaat ya. 


Tanya Jawab: 


1. Elfia Prihastuti 


• Apakah kita diwajibkan menggunakan bahasa baku dalam menulis terutama menulis opini?

• Kita tidak mungkin kan menghafal semua aturan-aturan penulisan. Pedoman apa yang dipunyai seorang penulis?

• Aturan kepenulisan selalu berkembang dan berubah-ubah apa yang bisa kita lakukan untuk meng-update-nya?


Jawaban: 

- "Iya Bu, untuk menulis opini memang harus menggunakan kata baku. Harus sesuai dengan PUEBI dan KBBI." 

- "Skill mengedit adalah salah satu skill yang harus dimiliki penulis. Kalau yang saya rasakan, makin banyak kita membaca ulang naskah, maka kita bisa mengasah skill mengedit tersebut. Posisikan kalau diri kita adalah pembaca ketika mengedit naskah." 

- "Salah satu caranya dengan mengikuti kelas menulis. Dengan begitu, kita akan selalu mengupdate aturan kepenulisan." 


2. Rosita 


• Untuk awalan di dan ke masih suka salah antara digabung atau dipisah, jadi kalau kata awalan itu berarti dipisah ya?


Jawaban: 

- "Kalau kata awalan berarti digabung, kalau kata depan baru ditulis terpisah." Contohnya: 

Cara penulisan di-

 - Di + kata kerja > penulisan disambung, tanpa spasi (contoh: diserahkan, diatur, didengarkan, dipaparkan, dll). Salah satu ciri kata kerja itu ketika bisa dibuat kata aktif; diserahkan > menyerahkan, diatur > mengatur, didengarkan > mendengarkan.

- Di + nonkata kerja > penulisan dipisah menggunakan spasi (contoh: di alam kapitalisme, di teras, di tengah, di dalam, di rumah, dll.)


3. Melta


• Kalo Melta masih suka bingung dengan tanda koma dan titik di penggunaan kata kerja

• Bagaimana cara mengurangi plagiat dalam naskah? 

• Cara melihat plagiatnya kayak gimana dalam tulisan kita? 

• Kalo kata lah dan kah mengikuti yang disampingnya apakah itu harus dipisahkan?


Jawaban: 

- "Penggunaan titik dan koma tidak boleh berlebihan. Posisikan diri kita sebagai pembaca, lalu gunakan intonasi saat kita membaca. Apakah kira-kira sudah pas kalau kita menyimpan tanda titik atau koma di bagian tersebut. Itulah salah satu manfaat self editing.

- "Agar plagiasi tidak terlalu besar, parafrase-kan referensi bacaan yang kita ambil. Jangan mencontoh 100% apa yang ada dalam naskah tersebut. Ingat prinsip ATM (Amati, Tiru, dan Modifikasi).

- "Untuk mengecek plagiat bisa gunakan link ini https://www.duplichecker[dot]com/. Sebelum dikirim ke media, silakan cek dulu plagiatnya." 

- "Untuk partikel lah dan kah penulisannya digabung dengan kata yang mendahuluinya." 


Alhamdulillah seluruh materi telah tersampaikan dan sesi tanya jawab pun sudah selesai. Artinya kegiatan sharing kita juga telah selesai. Saya ucapkan terima kasih atas perhatiannya. Mohon maaf apabila ada kesalahan. 


Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. 


Sumber: 

https://fachmycasofa[dot]com/panduan-self-editing/

Mengenal Anatomi Tulisan Opini Islam

Mengenal Anatomi Tulisan Opini Islam

 


Karena dalam menulis opini kita mempunyai misi yaitu menyebarkan pemikiran Islam, maka yang diungkap adalah bagaimana pandangan-pandangan Islam dalam menanggapi fenomena-fenomena yang terjadi

______________________________


Penulis Elfia Prihastuti, S.Pd 

Kontributor Tetap Media Kuntum Cahaya dan Praktisi Pendidikan  


KUNTUMCAHAYA.com, SHARING KEPENULISAN - Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Mungkin tulisan opini Islam sudah tidak asing lagi buat teman-teman. Karena sekarang ini telah banyak kita jumpai di media-media online.


Bagi teman-teman yang sudah biasa menulis opini tidak ada salahnya jika ingin mengulik kembali hal apa saja yang ada pada tulisan opini. Siapa tahu ada yang lupa atau ada bagian yang tidak pernah didapatkan. Bagi teman-teman yang ingin mencoba menulis opini, mungkin apa yang saya bagikan ini bisa bermanfaat.


Kali ini saya akan mencoba sharing tentang anatomi tulisan opini Islam. Namun sebelumnya perlu kita ketahui terlebih dahulu apa sih tulisan opini itu? simak baik-baik, ya.


Pengertian Tulisan Opini 


Opini adalah pendapat, tanggapan, pengetahuan, dan pola pikir yang dimiliki seseorang dalam menanggapi suatu fenomena yang belum terjadi, sedang terjadi, atau sudah terjadi yang didukung dengan fakta-fakta atau data-data dan bisa disampaikan secara lisan atau tulisan. 


Karena dalam menulis opini kita mempunyai misi yaitu menyebarkan pemikiran Islam, maka yang diungkap adalah bagaimana pandangan-pandangan Islam dalam menanggapi fenomena-fenomena yang terjadi.


Apa, sih, yang penting untuk di-tatabu kemudian dianalisis dan diberikan pandangan menurut Islam dalam sebuah berita atau fakta?


1. Nilai/pemikiran


Nilai yang tidak sesuai dengan nilai Islam saat ini begitu masif diembuskan, mengacaukan pemikiran dan pemahaman umat. Contoh ide feminisme, Islam moderat, Islam nusantara, HAM dan lain-lain. Umat dicekoki berbagai nilai rusak yang dibalut dengan kata-kata manis dan indah oleh mereka agar umat jauh dari nilai Islam yang sesungguhnya.


2. Kebijakan penguasa


Hal ini patut disimak dan kita kritisi karena erat sekali kaitannya dengan rakyat dan kita semua tentunya mengetahui apa pun kebijakan yang lahir dari sistem kapitalisme sekuler tidak berbanding lurus dengan kebaikan, kemuliaan, dan kesejahteraan umat. Contohnya naiknya iuran BPJS, kebijakan impor, kebijakan pelarangan cadar dan lain-lain.


3. Peristiwa Politik


Segala sesuatu yang terjadi dan berkaitan dengan urusan umat dan peristiwa politik. Ini jangan hanya kita fokuskan pada peristiwa lokal tapi juga internasional karena umat Islam tidak terpisahkan oleh sekat negara. Kita juga patut mengetahui peristiwa yang terjadi pada umat di belahan dunia lainnya.


Anatomi Naskah Artikel Opini


1. Head/judul

2. By Name/ Nama Penulis dan Aktivitas/Latar belakang

3. Intro-Lead/Pendahuluan

4. Penyajian fakta

5. Bridge/Pengantar Masalah (Boleh dipakai, boleh diskip)

6. Body/Inti Analisa (Analisa dengan angle pilihan, analisa dengan sub-sub judul). 

7. Closing/Penutup


Penjelasan:


1. Judul


Judul lebih baik ditentukan setelah tulisan sudah selesai, yang perlu ditentukan di awal adalah tema bukan judul. Karena judul adalah cerminan dari isi tulisan, alangkah baiknya kalau judul ditentukan di akhir.

- Buatlah judul seeksotis mungkin. 

- Usahakan keluar dari kebanyakan judul yang sudah ada.

- Kita juga bisa bermain rima.

Contoh: 

"Harga Kebutuhan Kian Tak Terukur, Rakyat Kian Tersungkur"

"Ancaman Ritel Menganga Prahara Minyak Goreng Membahana"

"Se-Amin Tak Se-Iman Meminta Pengakuan"


2. By Name/Nama Penulis dan Aktivitas/Latar belakang


Biasanya setelah judul di bawahnya kita tuliskan nama kita beserta aktivitas/latar belakang. Sebaiknya aktivitas atau latar belakang kita tidak berubah-ubah menyesuaikan apa yang menjadi latar belakang kita tersebut. Boleh kita tuliskan satu sampai dua aktivitas/latar belakang. Jangan lebih dari 2. Pilih yang paling sesuai dengan kita dan yang paling keren atau menjual.


3. Paragraf lead/strategi pembuka tulisan, bisa berupa,


a. Kutipan menarik dari tokoh, peribahasa, analogi, ungkapan, jargon, tagline dan lain-lain

b. Narasi sajak, puisi, lirik sebuah lagu

c. Deskripsi sepenggal kisah (menggelitik, nyentrik, humanis)

d. Kesimpulan penulis (logis, sindiran)

e. Survei terbaru, pertanyaan umpan fakta faktual, fakta miris/ironis


Seberapa penting lead atau strategi pembuka tulisan?


Strategi pembuka tulisan merupakan hal yang penting pada naskah opini. Bagaimana kesan tulisan kita terlihat eye catching salah satunya ada di strategi ini.


Targetnya untuk redaktur media adalah agar tulisan kita dimuat. Karena ini adalah salah satu faktor pendukung selain poin body/inti analisa dan lainnya yang menjadi penentu dimuatnya tulisan kita.


Targetnya untuk pembaca, tentu agar menarik dibaca. Ketika tatapan matanya menangkap sesuatu yang menarik di awal maka mereka akan terdorong untuk membaca lebih lanjut.


4. Penyajian fakta


- Fakta merupakan sesuatu yang benar-benar ada atau terjadi sedangkan kalimat fakta merupakan kalimat yang di dalamnya mengandung hal atau peristiwa yang benar-benar terjadi. Fungsinya, membuat pembaca percaya bahwa artikel yang ditulis itu benar.


- Sebuah fakta yang diangkat dan ditelaah merupakan hal yang esensial dalam penulisan artikel opini karena tulisan opini menceritakan sudut pandang dari seorang penulis terhadap fakta yang ia kaji dan diuraikan/dianalisa di dalam penulisan opini tersebut.


- Faktor dalam penulisan opini adalah item berita dan sebaiknya adalah berita yang sedang aktual atau up to date/bisa juga disebut berita yang sedang in/tren dan menjadi perhatian atau dialami dan dekat dengan masyarakat.


- Ketika menulis fakta hindari meng-copy, gunakan strategi ATM (Amati, Tiru, Modifikasi). 


5. Bridge/Pengantar Masalah (Boleh dipakai, boleh di-skip)


Biasanya berisi kalimat yang dapat mengantarkan pada masalah yang kita bahas, bisa berupa kalimat-kalimat tanya atau berupa kalimat-kalimat yang kita ramu.


6. Body/inti Analisa (Analisa dengan angle pilihan, analisa dengan sub-sub judul).


- Analisa bisa dilakukan dengan angle pilihan. Angle ekonomi, politik, sosial dan lainnya. Bisa juga dengan sub-sub judul.


- Dalam sub-sub judul, hal-hal yang sebaiknya kita lakukan adalah mengkritisi hal-hal yang tidak sesuai fakta, membongkar keburukan sistem kapitalisme (Setidaknya ada 3 sisi yang bisa kita bongkar, penguasa tidak berperan sebagai pelayan rakyat, sekuler, dan ide kebebasan). 

Hal ini perlu kita detili. Baru setelah itu kita ungkapkan solusi Islam.


Jangan setelah fakta, ujug-ujug "begitulah jika sistem yang diterapkan sistem kapitalisme, berbeda dengan Islam...." (sisi ketidaksesuaiannya perlu kita ungkap).


7. Closing/Penutup


Berisi simpulan dari tulisan opini kita.


Setelah tulisan opini selesai, jangan lupa dibaca ulang untuk dilakukan self editing.


Tanya jawab


Rosita


Alhamdulilah udah paham, teh, cuman mau nanya kalau untuk judul apakah harus sama dengan yg ada di analisa, ga


Jawab


Judul mencerminkan isi tulisan, apa yang tertuang dalam judul akan digambarkan pada isi tulisan. Begitu intinya. Kalau kata-katanya boleh saja berbeda, yang penting  maksud yang akan disampaikan antara isi dan judul sama. 


Alhamdulillah seluruh materi telah tersampaikan dan sesi tanya jawab pun sudah selesai. Artinya, kegiatan sharing kita juga sudah selesai. Saya ucapkan terima kasih atas perhatiannya. Mohon maaf apabila ada kesalahan. 


Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Trik Mudah Menulis Resensi dari Video (Bagian 3)

Trik Mudah Menulis Resensi dari Video (Bagian 3)

 


Jangan lupa kalau niat kita menulis adalah untuk menyebarkan pemikiran dan pemahaman Islam di tengah umat, agar mendapatkan keridaan dari Allah, sehingga itu akan menjadi penyemangat bagi kita

______________________________


Penulis Siska Juliana 

Tim Media Kuntum Cahaya


KUNTUMCAHAYA.com, SHARING KEPENULISAN - Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.


Teman-teman, pada materi sebelumnya kita sudah membahas tips menulis resensi dan struktur resensi. Nah, kali ini saya akan sharing trik mudah dalam menulis resensi, supaya kita makin lancar dalam menulisnya.


Berikut ini beberapa triknya, yaitu: 


Pertama, pilih video yang durasinya tidak terlalu lama. Sekitar 10-15 menit. 


Kedua, pilih judul video yang sedang up to date atau viral.  


Ketiga, tuliskan poin-poin penting dari video tersebut. 


Keempat, tuliskan pula sumber video yang kita ambil. 


Kelima, untuk mempermudah penulisan naskah resensi, pernyataan-pernyataan dari narasumber ditulis saja terlebih dahulu seperti biasa. Baru ketika self editing, kita tambahkan pernyataan tersebut mau menggunakan kalimat langsung atau tidak langsung.


Mungkin segitu saja dulu materi yang saya sampaikan pada sharing kali ini. Semoga bermanfaat ya.


Tanya Jawab


1. Siti Nurtinda


• Minta tips untuk tetap semangat nulis mbak


Jawaban: 


- "Pertama-tama kita harus punya target dulu. Misalkan dalam satu pekan kita harus menghasilkan 1 naskah, jadi nanti akan terbentuk habbit. Dan jangan lupa kalau niat kita menulis adalah untuk menyebarkan pemikiran dan pemahaman Islam di tengah umat, agar mendapatkan keridaan dari Allah, sehingga itu akan menjadi penyemangat bagi kita." 


Alhamdulillah seluruh materi telah tersampaikan dan sesi tanya jawab pun sudah selesai. Artinya, kegiatan sharing kita juga sudah selesai. Saya ucapkan terima kasih atas perhatiannya. Mohon maaf apabila ada kesalahan. 


Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh 


Sumber:

www[dot]brainacademy[dot]id/blog/teks-resensi