Korban Gempa NTT Meninggal di Pengungsian, di mana Keadilan?
OpiniNegara yang menganut ideologi kapitalismetidak serius dalam mengurus rakyatnya
adapun yang menjadi orientasinya hanyalah materi belaka
___________________
Penulis Ledy Ummu Zaid
Kontributor Media Kuntum Cahaya
KUNTUMCAHAYA.com, OPINI- Sudah lebih dari sebulan bencana gempa di provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) berlalu. Sayangnya, ratusan korban gempa masih tinggal di pengungsian.
Mereka belum dapat kembali ke rumah lantaran harta benda sudah tak tersisa. Sedangkan, hidup di bawah tenda-tenda pengungsian pun makin mencekam. Banyak ancaman yang mengintai hingga kejadian fatal pun tak terelakkan.
Puluhan Korban Gempa Meninggal di Pengungsian
Dilansir dari laman mediaindonesia.com (25-09-2026), Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) mencatat sebanyak 156 orang meninggal dunia dalam bencana gempa NTT. Adapun 48 orang meninggal akibat gempa secara langsung dan 108 orang lainnya meninggal pascagempa. Usut punya usut, ratusan orang yang meninggal dunia ini diduga tidak mendapatkan pelayanan kesehatan yang layak selama di pengungsian.
Umbu Wulang Tanaamah Paranggi selaku Kepala Divisi Penguatan Organisasi Walhi Nasional mengatakan bahwa banyak pengungsi yang tengah menghadapi ancaman baru pascagempa. Lebih lagi, kondisi pengungsian yang jauh dari kata aman dan nyaman bagi para penyintas. Di satu sisi, mereka sangat membutuhkan dukungan nilai dan materi.
Anak-anak dan orang lanjut usia (lansia) sangat rentan terkena penyakit, baik penyakit biasa maupun penyakit kronis yang telah lama diderita. Inilah bukti kebutuhan dasar dan keselamatan mereka seharusnya menjadi perhatian besar. Jadi, mereka yang termasuk kelompok rentan ini seharusnya memperoleh hak perlindungan utama dalam penanggulangan bencana.
Di sisi lain, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengklarifikasi terkait meninggalnya 94 orang di pengungsian pascagempa NTT, seperti yang dilansir dari laman tvonenews.com (17-09-2026).
Berdasarkan data yang didapat dari Kementerian Kesehatan, mayoritas korban memang termasuk kategori kelompok rentan, yakni lansia dan yang memiliki penyakit bawaan sebelumnya. Banyak pihak yang akhirnya menyayangkan kejadian ini dan mempertanyakan bagaimana upaya pemerintah dalam penanggulangan bencana.
Negara Lemah dalam Penanggulangan Bencana
Miris, banyak pengungsi gempa NTT meninggal dunia lantaran tidak mendapatkan pelayanan yang layak pascabencana. Kelompok rentan harus meregang nyawa karena penyakit kronis yang dideritanya kambuh ketika di pengungsian. Persoalan kian kompleks menghampiri, mulai dari tempat pengungsian yang tidak layak hingga terbatasnya fasilitas umum dan kesehatan. Tak hanya itu, krisis air bersih di tengah kemarau panjang ini juga menjadi salah satu tantangan yang harus dihadapi para pengungsi.
Inilah bukti negara lemah dalam penanganan bencana. Negara yang menganut ideologi kapitalisme tidak serius dalam mengurus rakyatnya. Adapun yang menjadi orientasinya hanyalah materi belaka. Para pemangku kebijakan hanya memikirkan bagaimana kebijakan yang ada dapat melonggarkan mekanisme investasi. Kemudian, para investor dapat meraup keuntungan sebanyak-banyaknya. Begitu juga pemerintah yang dengan mudah menarik pajak dari rakyatnya.
Sistem kapitalisme sekuler meniscayakan keberadaan negara hanya sebagai alat untuk mencapai keuntungan yang besar. Sedangkan, kepentingan rakyat hanya dikerjakan semaunya, bahkan dengan anggaran seminimal mungkin.
Terbukti pascabencana gempa NTT pada 15 Agustus 2026 lalu, tenda-tenda pengungsian tidak mampu melayani seluruh warga yang terdampak. Belum lagi, fasilitas sanitasi dan kesehatan yang akhirnya berujung fatal.
Penanggulangan Bencana dalam Islam
Hal ini jauh berbeda dengan sistem Islam yang sangat menjaga harta dan jiwa manusia. Tidak hanya muslim yang dijaga, tetapi juga non muslim yang tidak memerangi Islam juga mendapat kesejahteraan.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Imam (Khalifah) adalah raa’in (pengurus rakyat) dan ia bertanggung jawab atas pengurusan rakyatnya.” (HR. Bukhari)
Oleh karenanya, khalifah akan bertindak sebagai raa’in (pengurus) dan junnah (perisai) yang akan melindungi kaum muslimin di berbagai lini kehidupan. Daulah (negara) akan memenuhi segala kebutuhan rakyat dengan optimal melalui pengelolaan sumber daya alam (SDA) secara mandiri, hasilnya sudah pasti akan dikembalikan ke rakyat.
Akhirnya, ekonomi daulah akan stabil dengan baitul maal sebagai lembaga keuangannya. Adapun kesehatan dan pendidikan akan diberikan secara gratis kepada setiap individu rakyat. Tak heran, Islam memang merupakan agama yang menjunjung tinggi ilmu dan menjaga jiwa manusia.
Karena sistem Islam menaruh perhatian besar pada pendidikan, maka tenaga ahli dalam bidang kesehatan tentu akan diperbanyak. Fasilitas kesehatan beserta dokter dan perawatnya akan tersebar luas di seluruh penjuru daulah. Yang menarik dalam sistem kesehatan Islam, bahkan pasien dapat memilih dokter atau perawat sesuai gender-nya. Sebagai contoh, seorang pasien perempuan akan lebih terjaga auratnya jika ditangani oleh dokter dan perawat perempuan.
Dalam penanggulangan bencana seperti gempa NTT ini, khalifah niscaya akan memerintahkan seluruh wali untuk segera mengirimkan bantuan berupa kebutuhan pokok dan memenuhi kebutuhan dasar korban. Kemudian, banyak tenaga ahli yang dikerahkan untuk melayani korban dan pengungsi. Dengan demikian, pascagempa rakyat tetap mendapat kehidupan yang layak dan penanganan yang baik.
Khatimah
Berita ratusan korban gempa meninggal di pengungsian gempa NTT ini sungguh menyayat hati. Ibarat pepatah “sudah jatuh tertimpa tangga pula”, lantas dimana keadilan bagi mereka yang terdampak bencana ini?
Jika dalam sistem Islam dengan kepemimpinannya, yakni Khil4fah Islamiah, maka daulah akan menjadi garda terdepan yang akan melindungi dan menyelamatkan rakyatnya. Kemudian, setiap individu muslim dituntut memiliki kepribadian Islam, apalagi seorang khalifah yang akan mengambil kebijakan. Dengan demikian, syariat Islam akan diterapkan secara kafah (menyeluruh) untuk mengurus segala lini kehidupan umat. Wallahualam bissawab. [SM/MKC]











