Alt Title
Mom and Dad or Whoever, Please Don't Confuse Me (Ibu dan Ayah atau Siapa pun, Tolong Jangan Membuatku Bingung) Part 2

Mom and Dad or Whoever, Please Don't Confuse Me (Ibu dan Ayah atau Siapa pun, Tolong Jangan Membuatku Bingung) Part 2

 


Jika niat dan tujuan kamu baik, maka Allah akan memberikan yang jauh lebih baik

Semangat terus buat kamu yang sedang berproses dalam hijrahnya

______________________________


Penulis Siti Aminah 

Kontributor Media Kuntum Cahaya dan Pegiat Literasi 


KUNTUMCAHAYA.com, KISAH - Obrolan ABCD kepada kedua orang tuanya.


Akila: "Maaf Ayah Ibu, Akila bingung. Akila tahu kalo pakaian Akila saat bekerja itu tidak menutup aurat secara sempurna, sehingga setiap kali Akila berangkat kerja, Ibu selalu menasihati Akila. Akila bingung karena selalu dipantau atasan kalo melanggar salah satu aturan dalam berpakaian. Akila juga bingung kalo Akila tidak bekerja siapa yang membantu Ayah dan Ibu. Tapi Akila ngerasa aneh kenapa kalau ibu suka marah sama Akila, tapi saat Akila menerima upah dan memberikan setengahnya kepada Ibu, Ibu itu seneng banget, Akila bingung Akila harus kayak gimana Ayah, Ibu?


Setelah perbincangan yang agak lama, ayahnya pun mengambil keputusan bahwa Akila berhenti bekerja saja.


Setelah berkomunikasi dan berbicara dengan baik kepada kedua orangtuanya, akhirnya Akila bisa menutup aurat secara sempurna lagi. Walaupun Akila harus kehilangan pekerjaan yang upahnya sangat luar biasa itu.


Tapi alhamdulillah Allah ganti pekerjaan Akila dengan pekerjaan yang lebih baik, yang bisa mengizinkan Akila berpakaian syar'i lagi. Walaupun upahnya tidak sebesar di tempat sebelumnya, alhamdulillah cukup untuk membantu meringankan perekonomian keluarga.


Bela: "Ayah, Ibu, maaf sebelumnya, Bela bingung harus mendengarkan perkataan Ayah atau Ibu karena menurut Bela keduanya sangat baik untuk Bela. Ayah membebaskan Bela berpakaian apa pun supaya Bela tidak dibully di kampus, supaya Bela tidak malu juga karena pakaian Bela berbeda dengan teman di kampus. Sedangkan Ibu takut dan khawatir dengan Bela. Bela pun sadar Bela ini salah. Bela juga sadar ini dosa besar karena menutup aurat secara sempurna itu kewajiban."


Setelah berkomunikasi, akhirnya ayah dan ibu Bela bekerja sama, tidak saling berdebat. Tapi saling mensupport satu sama lain terutama mensupport Bela, dan berusaha mengerti keadaan Bela.


Akhirnya ayah dan ibu Bela berbicara dan meminta izin kepada Bela untuk membakar pakaiannya yang ke barat-baratan itu dan Bela pun menyetujuinya. Seluruh pakaian Bela digantikan dengan pakaian yang tetap syar'i (ootd kece ala muslimah yang gak buat norak deh pokoknya). Sehingga Bela pun merasa nyaman dan tidak malu ketika bersama teman-temannya, dia masih bisa berpakaian syar'i sesuai perintah Allah.


Caca: "Ayah, Ibu, maaf kalo selama ini udah buat Ibu dan Ayah malu karena Caca yang memakai cadar. Maaf Ibu, Caca sama sekali tidak ada perasaan untuk menyakiti perasaan Ibu, Caca hanya merasa diri Caca itu nyaman kalo Caca menggunakan cadar, Caca ingin tetap memakai cadar Ayah, Ibu."


Setelah berkomunikasi, akhirnya Ayah dan Ibu Caca menemukan solusi untuk Caca dan untuk kenyamanan keluarga kecilnya. Solusinya Caca diperbolehkan memakai cadar kalo di luaran saja atau di kampus. Tapi jika masih di lingkungan kompleks, Caca cukup harus memakai masker saja.


Caca pun menyetujuinya walaupun sedikit penuh perjuangan, kenapa? Karena dari rumah menuju kampus menggunakan motor dan menggunakan masker. Sebelum sampai di kampus, di pertengahan jalan Caca harus berhenti dulu karena harus memakai cadarnya.


Dinar: "Ayah, Ibu maaf jika selama ini Dinar selalu membantah kepada Ayah dan Ibu. Ayah Ibu, Dinar ingin kalo Dinar sedang nugas bareng teman-teman, Ayah dan Ibu tolong jangan telepon-telepon Dinar, karena Dinar malu dan juga tidak enak sama teman-teman. Lagian Dinar nugas kok tidak ngapa-ngapain, dan juga Dinar belum siap seperti Ibu kalo Dinar harus memakai cadar."


Setelah berkomunikasi, akhirnya ayah dan ibunya Dinar menemukan solusi untuk Dinar. Membolehkan semua keinginan Dinar dengan syarat, boleh nugas bareng teman-teman dan tidak akan dihubungi asalkan ayah atau ibunya berada di lokasi tempat Dinar mengerjakan tugasnya dengan jarak yang agak jauh dari Dinar tapi masih bisa terpantau oleh mata ayah atau ibunya.


Tapi untuk berpakaian, Dinar harus tetap berpakaian syar'i seperti wanita muslimah yang seharusnya dan tidak apa-apa jika tidak ingin bercadar. Asalkan ketika Dinar berjalan di suatu tempat sendirian, Dinar harus memakai masker, karena ayahnya takut ada laki-laki yang suka ketika melihat Dinar dan takut berbuat sesuatu yang tidak diinginkan.


Dinar pun menyetujuinya. Jadi yang sangat effort itu orangtuanya ya guyss. Masya Allah perjuangan untuk anak perempuannya rela menunggu anaknya nugas di suatu cafe. Kata Dinar, ayahnya sering nunggu Dinar nugas dari jam 5 sore setelah pulang ayahnya kerja sampai jam 10 malam.


Jika kedua orang tua satu visi misi dan saling bekerja sama, maka gangguan pengaruh hal buruk dari luar, gak akan membuat down. Soalnya di-support dengan komunikasi yang baik sehingga kehangatan dan kenyamananlah hasilnya.


Masya Allah indah sekali yaa saat komunikasi itu berjalan di setiap keluarga.


Perjalanan komunikasi ABCD (Akila, Bela, Caca, Dinar) ini tidak semulus yang aku tulis ya, karena tentu saja ada ujian yang harus dilewati. Membutuhkan waktu dan juga kesabaran serta semangat hehe. Semangat ya buat kalian yang sedang berproses dalam hijranya.


Kesimpulan dari cerita ini.

Seorang ayah, ibu harus tegas jika ingin anaknya benar-benar menjadi lebih baik lagi, alias jangan setengah-setengah mendukungnya. Jika ingin anaknya menutup aurat tapi tetap teguh ingin anaknya kerja yang bagus, padahal kerjaan yang bagus ya kayak cerita Akila tadi tidak bisa membuat Akila bisa berpakaian syar'i. Jadi, seorang ayah dan ibu harus tegas mengikhlaskan dan berani bilang kepada anak perempuannya bahwasanya,


"Nak gak apa-apa kok gaji kamu kecil atau tidak bekerja asalkan kamu menutup aurat." Karena kata sesingkat itulah yang Akila inginkan.


Peran ketegasan ayah sangat penting dalam keluarga, tidak bagus jika seorang ayah hanya diam saja.


Ayah ibu akan dilihat dan dinilai oleh anaknya. Untuk itu ayah, ibu haruslah berkata jujur. Jika seorang anak itu salah, maka katakanlah yang sebenarnya tanpa harus membelanya. Jika ternyata perkataan ayah dan ibulah yang salah, dan anak yang benar maka jangan malu untuk meminta maaf kalo tindakan ayah dan ibu tadi itu salah. Apalagi dengan seorang anak, kalo salah wajib meminta maaf kepada kedua orang tua.


Cobalah memahami setiap perasaan dan kondisi anak. Anak pun harus menaati apa yang dikatakan oleh kedua orang tuanya jika itu adalah kebaikan.


Pentingnya peran ayah, ibu dalam rumah tangga terutama dalam berkomunikasi dengan visi misi yang sama untuk menyampaikannya secara baik kepada anak, memahamkan dengan penuh kelembutan dan ketegasan kepada anak.


Seorang ayah, ibu harus saling menguatkan untuk mensupport anaknya dalam kebaikan. Jika anak mempunyai aktivitas kebaikan, orang tua harus mendukungnya. Selain men-support anak, ayah ibu harus memberikan solusi terbaik untuk anak yang membuat anak nyaman.


Jangan takut kehilangan pekerjaan, jabatan atau teman sekalipun. Jika niat dan tujuan kamu baik, maka Allah akan memberikan yang jauh lebih baik. Jangan takut meninggalkan pekerjaan, jabatan atau teman yang tidak mendukung kamu dalam hal ketaatan, karena Allah pasti menggantinya dengan hal yang jauh lebih baik.


Semangat terus buat kamu yang sedang berproses dalam hijrahnya dan semangat terus buat para ayah, ibu dalam membimbing dan memberitahu anak-anak perempuannya tentang pentingnya menutup aurat. Insya Allah lelah kalian terbayar dengan nikmatnya keindahan surga kelak, aamiin. 

Tamat. Wallahualam bissawab. [SJ]

Mom and Dad or Whoever, Please Don't Confuse Me (Ibu dan Ayah atau Siapa pun, Tolong Jangan Membuatku Bingung) Part 1

Mom and Dad or Whoever, Please Don't Confuse Me (Ibu dan Ayah atau Siapa pun, Tolong Jangan Membuatku Bingung) Part 1

 


Sebenarnya, Akila punya pendapat dan keinginannya sendiri

Namun, Akila tidak bisa mengungkapkan kepada kedua orang tuanya

______________________________


Penulis Siti Aminah 

Kontributor Media Kuntum Cahaya dan Pegiat Literasi


KUNTUMCAHAYA.com, KISAH - "Jangan membuatku bingung" adalah kata dari 4 orang sahabatku yang sedang berproses dalam hijrahnya. Btw, aku menulis ini sudah mendapatkan izin dari 4 sahabatku ini ya guyss. Siapa tahu jadi inspirasi buat kamu yang sedang membacanya, aamiin.


Sebut saja nama temen-temenku itu Akila, Bela, Caca, Dinar (biar ABCD hehe). Ini nama samaran ya, guyss kalo ada kesamaan nama atau tempat, tidak bermaksud untuk menyinggung pihak mana pun, hehe.


Nah kisah yang pertama, kita mulai dari kisah berprosesnya hijrah Akila.


Akila ini anak yang baik, penurut, ibunya pun baik (agamis), ayahnya juga baik. Dulu waktu Akila SMA, pakaiannya itu syar'i. Dia seperti itu karena Akila nurut kepada orangtuanya dan ia pun sadar akan kewajiban menutup aurat.


Namun saat Akila lulus dari SMA, Akila tidak melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi. Akila memilih untuk bekerja karena faktor ekonomi yang mengharuskan dia bekerja, juga karena melihat kondisi kedua orang tuanya. Ayahnya, seorang buruh harian yang berpenghasilan tidak menentu setiap bulannya. Sedangkan, ibunya seorang ibu rumah tangga.


Akila bekerja di sebuah pabrik yang di mana di pabrik itu kebanyakan tidak boleh memakai baju syar'i dan khimar (kerudung) yang panjang. Alias bajunya itu ada seragamnya sendiri seperti kemeja tetapi tangannya pun pendek, dan celananya juga harus jeans. Akhirnya, Akila saat bekerja itu tidak memakai pakaian sesuai aturan Islam.


Seiring berjalannya waktu, ibunya Akila yang (agamis) mulai sering memarahi Akila karena dia saat bekerja tidak memakai pakaian sesuai aturan Islam. Belum lagi ayahnya yang hanya mendiamkannya jika sang ibu sedang memarahinya.


Akila merasa bingung harus seperti apa, kenapa? Karena setiap bulan pasti saja ibunya memarahi atau menasihati dia dengan nada yang sedikit menyindir. Namun ketika akhir bulan tiba saat Akila menerima upah kerjanya, ibunya sangat senang karena Akila memberikan setengah uang upahnya untuk ibunya, dikarenakan bisa membantu perekonomian keluarga.


Nah, Akila merasa bingung kenapa respon ayah dan ibunya seperti itu. Bahkan uang upah hasil jerih payahnya dinikmati. Terkadang pula pergi berlibur dari uang yang Akila berikan. Namun, saat Akila berangkat bekerja, dia suka disindir sang ibu karena pakaiannya. Akila berpikir, dia rela berpakaian kaya gini juga untuk bantu dan nyenangin ayah ibunya. 


Sebenarnya, Akila punya pendapat dan keinginannya sendiri. Namun, Akila tidak bisa mengungkapkan kepada kedua orang tuanya.


Kita next dulu ke cerita Bela yaa.

Bela anaknya baik, tapi agak keras kepala, egonya sedikit tinggi, dan dia selalu punya pendapat sendiri, tidak mau kalah deh. Walaupun begitu, jika mendapatkan nasihat dan support yang baik sehingga membuatnya nyaman, dia bisa jadi penurut bangettt lohhh. Ya walaupun harus agak digertak dikit sih baru nurut, hihi.


Untuk ibunya Bela, beliau seorang yang agamis banget dan guru ngaji juga. Ayahnya seorang pekerja kantoran yang berangkat pagi, pulangnya malam.


Bela udah belajar memakai kerudung sejak kecil, karena diajarkan oleh ibunya. Waktu SMA juga, dia paling semangat banget dalam memberitahu teman-temannya tentang pentingnya menutup aurat.


Saat Bela melanjutkan ke perguruan tinggi, Bela gak lagi menutup aurat secara sempurna. Bela pun menyadarinya karena pengaruh lingkungan dari sirkel perkuliahannya.


Ibunya sering marah karena dia sangat berubah dalam berpakaian, yang asalnya Bela gamisan sekarang jadi ikut tren pakaian ke Korea-koreaan. Ibunya pun sangat tegas sampai membuang dan membakar pakaian Bela yang ke barat-baratan itu. Namun, sang ayah sering datang dan membela Bela sehingga sebagian pakaian Bela yang ke barat-baratan itu tidak dibakar semuanya.


Waktu terus berlalu, ibunya Bela terus ingin membuang dan membakar pakaian Bela yang tidak pantas digunakan oleh wanita muslimah. Sang ayah sering kali membela Bela, sehingga membuat orang tua Bela sering berdebat perihal anaknya yang tidak menutup aurat.


Ibunya ingin agar Bela menutup aurat, sedangkan ayahnya membebaskannya asalkan Bela bisa menjaga diri. Namun ibunya khawatir karena itu semua bisa memancing kepada kemaksiatan. Perdebatan itu sering didengar oleh Bela. Bela bingung harus bertindak seperti apa, harus mendengarkan pendapat ayah atau ibunya.


Kita lanjut dulu ke cerita Caca.

Caca itu anak yang baik banget, rajin pintar dan salihah. Wah pokoknya perempuan idaman banget deh


Saat SMA, Caca ini sangat syar'i banget, bahkan saat lulus SMA itu dia berkeinginan masuk pesantren, tetapi keinginannya tidak terpenuhi, karena kedua orang tuanya menginginkan Caca untuk melanjutkan kuliah.


Caca pun menuruti permintaan kedua orang tuanya dengan syarat kalo Caca kuliah, Caca ingin memakai cadar. Sontak saja, orang tuanya sangat syok saat mendengarnya, karena menurut kedua orang tuanya dengan berkerudung panjang dan pakai baju gamis saja udah cukup. Jadi gak perlu memakai cadar. Namun demi sang anak melanjutkan ke jenjang perkuliahan karena untuk masa depannya, akhirnya kedua orang tuanya mengizinkannya. 


Btw, kedua orang tua Caca ini berpendidikan tinggi dan sangat bekerja keras. Mereka selalu berangkat pagi untuk bekerja dan pulang malam. Sehingga Caca tidak punya tempat untuk menyampaikan keluh kesahnya.


Meski begitu, Caca selalu ikut kajian agar dirinya tidak merasa sendiri dan tentunya Caca mempunyai banyak teman-teman taat.


Seiring berjalannya waktu, kedua orang tua Caca mendengar bisik-bisik tetangga, eaaa. Para tetangga itu bergosip yang terdengar langsung oleh ibu Caca sendiri. Salah satu perkataan para tetangganya itu, "Lihat tuh orang tua Caca pakaiannya gak kaya anaknya, masa anaknya agamis, ibunya enggak." Mulai dari sanalah Caca dilarang memakai cadar oleh ibunya. 


Dan yaa Caca bingung harus kaya gimana.


Sedangkan Dinar

Dinar adalah anak yang berasal dari keluarga yang sangat harmonis, agamis dan berpendidikan tinggi yang senang untuk saling berkomunikasi. Perjalanan hijrah Dinar sangat didukung oleh kedua orang tuanya. Namun Dinar sering kali down karena terkadang terpengaruh oleh lingkungan pergaulannya.


Sesekali Dinar sangat ingin bergaul, ingin kaya teman-temannya yang dibebaskan dalam segala hal. Padahal Dinar juga tahu kalau hal-hal itu tidak baik ketika Dinar ingin melakukannya.


Dinar bingung karena orang tuanya terlalu kurang update dalam memahami anak muda zaman sekarang.


Solusinya komunikasi. Yups komunikasi hanya ngobrol dengan enjoy, santai nyaman.

Bersambung [SJ]

Muhammad saw. Sang Idola

Muhammad saw. Sang Idola

 


Engkau ajarkan pula kami untuk bertakwa, sebab takwa seorang hamba yang Allah nilai

Bukan kaya miskin, baik buruk rupa

______________________________


Penulis Inge Oktavia Nordiani

Kontributor Media Kuntum Cahaya 


KUNTUMCAHAYA.com, KISAH - Sejak kecil telah nampak tanda-tanda akan menjadi orang yang paling utama di muka bumi ini. Akhlak dan perangainya terjaga. Kejujurannya tiada celah sehingga digelari Al Amin. Terhormat keluarganya dan memiliki kelebihan mampu mereda pertikaian.


Masih teringat kala orang-orang di Mekah berselisih untuk menempatkan Batu Hajar Aswad ke tempatnya kembali, terjadi banjir besar di sana.


"Aku yang layak, tidak, akulah yang layak, akulah yang pantas," begitulah emosi semua pihak.


Maka datang tuntunan pada mereka bagi siapa saja yang pertama kali melewati pintu Ka'bah maka dialah yang berhak untuk meletakkan Batu Hajar Aswad tersebut dan orang yang pertama kali melewati pintu Ka'bah tersebut adalah Muhammad. 


Dengan bijaknya Muhammad mengambil kain sorbannya dan meletakkan batunya tersebut di tengah-tengah kain dan semua pemimpin suku dapat membawa batu tersebut dengan memegang ujung pada masing-masing kain. Subhanallah


Muhammad, engkau ajari kami untuk meng-esa-kan Tuhan yang satu, Allah Subhanahu wa Taala penguasa alam semesta dan jagad raya. 


Dengan apa yang dibawa Muhammad mampu menjadikan seorang Bilal bin Rabbah menjadi kokoh imannya. Bilal mampu untuk menahan sakitnya batu besar yang menimpa dadanya, yang dari lisan Bilal hanya terucap Ahad.


Dengan ajaran Islam, mampu mewujudkan keimanan yang kokoh pada Ibunda Sumayyah, yang rela ditusuk oleh besi dari depan hingga belakang tubuhnya, daripada harus mengorbankan keimanannya kepada orang-orang Quraisy.


Dengan Islam, mampu mengubah seorang Umar bin Khattab dari yang keras hingga tegas membawa kebenaran.


Dengan hadirmu kami mengetahui arti dari hijrah. Engkau memahamkan kami bahwa Islam sebagai tuntunan kehidupan di segala aspek.


Dengan Islam ini aku dapat menjadi pribadi baik dan luhur. Rasulullah mengajari kami tidur di tiga waktu. Menghabiskan sepertiga malam dengan bermunajat pada Allah Swt..


Engkau ajarkan pula kami untuk bertakwa, sebab takwa seorang hamba yang Allah nilai. Bukan kaya miskin, baik buruk rupa. 


Dengan Islam kami tahu bahwa seorang anak tidak boleh mengucapkan kata 'uh', 'ah' kepada kedua orang tuanya. Engkau pun mengajari kami bagaimana laki-laki dan perempuan bergaul.


"laa taqrobuzzina."


Merupakan lampu merah pergaulan remaja yang menunjukkan bukti rusaknya pergaulan hari ini, tersebab laki-laki dan wanita melanggar rambu-rambu tersebut.


Engkau ajarkan kami tentang kemuliaan seorang laki-laki dan wanita. Engkau ajarkan kami untuk tidak sekadar menjaga masalah kebersihan, melainkan arti dari sebuah kesucian. 


Engkau ajarkan kami betapa tingginya ikatan suci pernikahan. Engkau ajarkan kami untuk bertakwa di mana pun berada, tidak hanya di masjid atau di musala.


Engkau mengajarkan kami untuk selalu merasa diawasi oleh Allah Swt., sehingga ramai dan sepi ini tidak membedakan perbuatan kami. 


Ya Nabi Ya Rasulullah, cahaya hati kami Kekasih Allah

Anta syamsun, anta Badrun 

Anta nurun fawqa nuri


Engkaulah surga yang menyinari kelamnya hati manusia

Engkaulah purnama penenang gelapnya jiwa manusia 

Engkaulah cahaya di atas cahaya

Ya Rasulullah berilah syafa'atmu pada kami. Wallahualam bissawab. [SJ]

Kisah Mush'ab bin Umair Sebagai Duta Dakwah

Kisah Mush'ab bin Umair Sebagai Duta Dakwah

 


Kesungguhan Mush'ab bin Umair dapat terlihat ketika beliau meninggalkan semua kenikmatan dunianya dari mulai tahta, kedudukan, serta kenikmatan material

Beliau lebih memilih apa yang ada di sisi Allah Swt.


____________________


Penulis Widdiya Permata Sari

Kontributor Media Kuntum Cahaya dan Komunitas Muslimah Perindu Surga


KUNTUMCAHAYA.com, KISAH - Mush'ab bin Umair merupakan sosok laki-laki tampan dan kaya. Beliau merupakan orang yang terkenal di Makkah. Tidak hanya itu, beliau merupakan seorang pemuda yang hidup dalam kemewahan karena beliau masih keturunan dari suku yang paling terhormat di antara orang-orang Quraisy. 


Kemudian, Mush'ab bin Umair masuk Islam. Namun, beliau memutuskan untuk merahasiakan keislamannya terutama kepada orangtuanya. Rahasia tersebut tentu saja tidak bertahan lama, ibunya mengetahui bahwa Mush'ab bin Umair telah memeluk agama Islam. Akhirnya, orang tuanya menentang dan tidak mendukungnya. Beliau meninggalkan semuanya termasuk kesenangan serta kemewahan yang selama ini beliau nikmati.


Sampai ketika Mush'ab bin Umair diutus oleh baginda Rasulullah saw. ke Madinah dan dinobatkan sebagai duta dakwah. Beliau diutus ke Madinah untuk berdakwah. Tidak hanya berpikir sekedar membacakan serta mengajarakan Al-Quran tetapi beliau memahami misi yang diembannya yang bersumber dari Rasulullah saw. yaitu menyiapkan orang-orang yang beriman yang ada diantara para penduduk kota Madinah agar mereka siap menerima kepemimpinan Islam serta bisa melindungi Rasulullah saw. serta dakwahnya. 


Mush'ab bin Umair melakukan dakwahnya dengan cara mendatangi orang-orang di rumah-rumah serta di kabilah-kabilah mereka. Beliau begitu semangat mendatangi setiap rumah para penduduk Madinah agar bisa masuk Islam. Setelah berada di rumah-rumah mereka Mush'ab bin Umair mengajak mereka untuk masuk Islam serta membacakan Al-Quran kepada mereka. 


Kemudian, satu persatu dari penduduk Madinah masuk Islam. Lalu, mulai nampaklah Islam yang tersebar di rumah-rumah kaum Anshar. Tidak hanya itu, Mush'ab bin Umair mengajarkan kepada orang-orang agar selalu bersikap lemah lembut serta selau bersabar dalam beriman. 


Bahkan beliau selalu menanamkan pada diri mereka agar memiliki rasa cinta kepada Allah Swt. serta rasa cinta untuk terus berkorban demi Islam. Setahun berlalu Mush'ab bin Umair berdakwah di Madinah, dakwah beliau begitu dahsyat karena hasil dari dakwahnya Islam menyebar ke seluruh penjuru Madinah. 


Alhasil pemilik kekuasaan Madinah menyerahkan kekuasaannya kepada Rasulullah saw. Bahkan daulah Islam pertama tegak di kota Madinah. Karena, Mush'ab bin Umair benar-benar memberikan semuanya untuk Islam serta dakwahnya. Dari mulai mengerahkan semua pikiran, tenaga, waktu serta kemampuannya hanya untuk menyiapkan penduduk Madinah dari Bai'at Aqabah I hingga terjadinya Bai'at Aqabah II. 


Kesungguhan Mush'ab bin Umair dapat terlihat ketika beliau meninggalkan semua kenikmatan dunianya dari mulai tahta, kedudukan, serta kenikmatan material, beliau lebih memilih apa yang ada di sisi Allah Swt.. 


Rasulullah saw. pernah berkata tentang Mush'ab bin Umair, engkau benar-benar tidak pernah meninggalkan apapun karena sesungguhnya engkau mengutamakan Allah Azza wa Jalla, Allah pun tidak akan pernah mengantikanmu, kecuali dengan yang lebih baik dari-Nya. Wallahuallam bissawab. [Dara]

Perundungan, Belajar dari persaudaraan Aus dan Khazraj

Perundungan, Belajar dari persaudaraan Aus dan Khazraj

 


Menelisik kisah persaudaraan Aus dan Khazraj sungguh seharusnya kita malu dengan kondisi kaum muslimin hari ini yang amat jauh dari nilai-nilai kemanusiaan yang diajarkan Rasulullah saw. Perundungan terjadi di mana-mana. Bukan hanya kalangan remaja, dewasa bahkan anak di bawah umur terkontaminasi hal tersebut

Ini sungguh suatu pelajaran berharga yang harus ditiru oleh kaum Muslim yang menginginkan kemuliaan. Bersatu dalam Islam, menjadikan insan yang memiliki ketinggian akhlak, bukan dalam isme-isme lainnya

___________________


Penulis Inge Oktavia Nordiani

Kontributor Media Kuntum Cahaya


KUNTUMCAHAYA.com, KISAH - Sebuah contoh terbaik tentang menghentikan permusuhan yang berlangsung sepanjang sejarah manusia, yaitu perdamaian yang terjadi antara suku Aus dan suku Khazraj yang dilakukan Rasulullah saw. yang mana keadaan awalnya sering terjadi pertumpahan darah, saling membunuh, Rasulullah saw. mampu mempersaudarakan mereka hingga perubahan 360 derajat. Kini, konflik menjadi sesuatu yang mereka benci. 


Sebelum Rasulullah saw. hijrah ke Yastrib (Madinah), suku Aus dan Khazraj telah bertempur puluhan tahun lamanya. Sebagaimana yang terjadi pada lima tahun sebelum hijrah Nabi yaitu Perang Bu'ats. Perang yang mengakibatkan tewasnya pemimpin kedua belah pihak. Dalam kondisi itu, Rasulullah saw. bertemu dengan enam orang dari suku Aus dan Khazraj. Rasulullah saw kemudian, menyampaikan kebenaran, mengajak beriman dan membela dakwah Islam dengan kekuatan. Respon kedua belah pihak langsung menyetujui ajakan Nabi. Mereka merindukan perdamaian untuk menyatukan masyarakat. Apalagi, kaum Yahudi tengah mengancam akan membinasakan mereka ketika sampai risalah nabi yang terakhir.


Setahun kemudian Rasulullah saw. mengutus seorang pemuda tampan bernama Mush'ab bin Umair ke Yastrib (Madinah). Tujuannya untuk mengajarkan Islam di sana. Mush'aib dengan gigihnya membentuk kepribadian Islam individu-individu di Yatsrib, menciptakan iklim persaudaraan, dan kecintaan dan kepatuhan hanya untuk Islam, bukan lagi kepada fanatisme kekabilahan atau kesukuan. Selain itu memperkuat semangat dan keberanian membela agama dengan jiwa dan harta. Tidak hanya membina perasaan dan pikiran Mush'ab juga mengajarkan mereka untuk selalu salat berjamaah, saling mengucapkan salam dan mendoakan kebaikan bila bertemu, membantu sesama muslim, serta mematuhi setiap syariat yang diajarkan Rasulullah saw..


Alhasil, ketika Rasulullah saw. hijrah mereka tergerak untuk menyambut dan siap selalu membela Islam. Kaum Anshor (penduduk asli Madinah) menolong kaum Muhajirin dengan harta bendanya, berbagi tempat tinggal, dan memberikan akses ekonomi, karena sebelumnya mereka telah terlatih membangun ukhuwah islamiyah dengan musuh bebuyutan. Walaupun sebagai manusia, sesekali mereka terpicu pertengkaran. 


Contohnya ketika seorang kafir bernama Syas bin Qais, mengingatkan kembali tentang terjadinya Perang Bu'ats. Namun, Allah SWT mengkritik dengan turunnya ayat Al-Qur'an surat Ali-Imran ayat 98-103 agar mewaspadai provokasi kaum kafir serta kewajiban bersatu dalam agama Allah, mereka langsung bertobat. Sempat ada pertengkaran kecil lantaran seorang warga Khazraj, yaitu tokoh munafik yang bernama Abdullah bin Ubay. Ia melakukan fitnah terhadap istri Rasulullah saw. ibunda Aisyah tengah berbuat serong. Setelah berdamai atas kesalahpahaman yang terjadi. Tidak pernah terjadi lagi permusuhan di antara mereka sampai generasi sesudahnya bahkan hari ini.


Menelisik kisah persaudaraan Aus dan Khazraj sungguh seharusnya kita malu dengan kondisi kaum muslimin hari ini yang amat jauh dari nilai-nilai kemanusiaan yang diajarkan Rasulullah saw.. Perundungan terjadi di mana-mana. Bukan hanya kalangan remaja, dewasa bahkan anak di bawah umur terkontaminasi hal tersebut. 


Ini sungguh suatu pelajaran berharga yang harus ditiru oleh kaum Muslim yang menginginkan kemuliaan. Bersatu dalam Islam, menjadikan insan yang memiliki ketinggian akhlak, bukan dalam isme-isme lainnya.


Hari ini tidak sedikit kasus-kasus yang terjadi beberapa tahun presentasenya semakin meningkat pesat. Tidak tanggung-tanggung hingga memakan korban jiwa. Tidakkah sebagai muslim kita merenung hadist nabi saw. yang menggambarkan siapakan orang yang kuat? Nabi saw. bersabda: "Bukanlah orang kuat (yang sebenarnya) dengan (selalu mengalahkan lawannya dalam) pergulatan (perkelahian), tetapi tidak lain orang kuat (yang sebenarnya) adalah yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah (HR. Bukhari no. 6114)


Begitu pula apa yang disampaikan oleh Allah Swt. dalam QS. Alhujarat: 11 berfirman "Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim."

 

Sungguh dalam islam telah termaktub rambu-rambu kehidupan. Pada dasarnya manusia bertindak bergantung pada apa yang ada dalam isi kepalanya (pola pikir). Apabila pola pikirnya tersambung dengan pencipta maka akan menumbuhkan iman. Dan iman itu yang akan menjadi pedoman. Namun, bila yang mendahului pola pikirnya adalah selain iman, maka tindakan manusia akan mudah goyah. Tentu harus ada upaya yang tersistematis untuk menciptakan sebuah pola pikir masyarakat yang kokoh agar mudah memenuhi panggilan ayat-ayat dalam Al-Qur'an. Negara memiliki peran yang vital dalam memenuhinya. Negara sebagai institusi terefektif dalam mengedukasi masyarakat hingga tertancap iman dan takwa.


Wallahualam bisssawab [Dara]

Aisyah binti Abu Bakar r.a. (Muslimah pelopor keilmuan umat Islam)

Aisyah binti Abu Bakar r.a. (Muslimah pelopor keilmuan umat Islam)

 


Nama Aisyah menjadi harum semerbak dan ditulis dengan tinta emas sejarah. Beliau berperan besar dalam mentransmisikan hadis-hadis Rasulullah saw. kepada umat Islam

Beliau adalah pelopor yang memiliki peran besar dalam memajukan keilmuan umat Islam. Dalam hal ini beliau mengatakan, "Sebaik-baik wanita adalah wanita Anshar. Mereka tidak malu untuk belajar agama."


_____________________


Penulis Risa Fitriyanti. S, S.Pd

Kontributor Media Kuntum Cahaya


KUNTUMCAHAYA.com, KISAH - Pernikahan baginda Rasulullah saw. dengan Aisyah binti Abu Bakar yang masih belia, menyimpan sejuta hikmah bagi umat Islam. Aisyah merupakan salah satu di antara istri Rasulullah saw. yang banyak memperoleh pendidikan langsung dari Rasulullah saw., menerima ilmu, hikmah, dan petunjuk dari beliau. Karena,  setelah Rasulullah wafat, Aisyah menjadi sumber rujukan ilmu, terutama berkenaan dengan kepribadian Rasul dan keadaan rumah tangga beliau yang tidak banyak diketahui oleh khalayak.  


Dalam hal ini, Abu Musa al-Asy'ari, "Bila kami para sahabat mengalami kesulitan dalam suatu perkara, maka kami menanyakan jawabannya pada Aisyah."


Diriwayatkan dari 'Atha Bun Rabah, "Adalah Aisyah yang paling faqih dan paling alim serta paling baik pendapatnya mengenai permasalahan hukum. Aisyah adalah tempat berguru kaum pria dan banyak muridnya yang kemudian hari terkenal menjadi guru dan panutan generasi berikutnya."


Oleh sebab itu, nama Aisyah menjadi harum semerbak dan ditulis dengan tinta emas sejarah. Beliau berperan besar dalam mentransmisikan hadis-hadis Rasulullah saw. kepada umat Islam. Beliau adalah pelopor yang memiliki peran besar dalam memajukan keilmuan umat Islam. Dalam hal ini beliau mengatakan, "Sebaik-baik wanita adalah wanita Anshar. Mereka tidak malu untuk belajar agama."


Begitu banyak hadis yang diriwayatkan oleh Aisyah r.a.  Pada masa Khulafaur Rasyidin aktivitas publik Aisyah terus berlanjut. Ia sering menyampaikan gagasan atau ide-idenya kepada para penguasa dalam urusan kenegaraan dan dihadirkan dalam rapat-rapat kenegaraan baik di masa Abu Bakar, Umar dan Utsman. Termasuk manuver Aisyah mengoreksi penguasa di masa kekhilafahan Ali bin Abi Thalib.


Inilah potret muslimah pada masa peradaban Islam. Saat Islam diterapkan dalam segala lini kehidupan. Sehingga melahirkan generasi yang memberikan pengaruh besar dalam kehidupan. Mereka adalah intelektual peradaban, penggerak opini dakwah dan ibu bagi generasi pemimpin umat yang menyadari keberhasilan terbesarnya adalah berkarya mendidik generasi dan menyiapkan peradaban prestasi menjulang.


Mereka bukan wanita karier yang hanya mengejar kesenangan dunia yang bersifat sementara seperti yang terjadi hari ini. Mengejar kesuksesan semu dengan capaian materi, hanya memikirkan kesuksesan diri, atau mereka yang berhasil duduk di bangku parlemen karena memenangkan pemilu ala demokrasi sekuler. Bahkan, tidak jarang mereka abai terhadap pendidikan agama pada anak-anaknya dan lalai dalam menjalankan kewajiban kepada pasangannya. 

Wallahualam bisssawab [Dara]


Sumber: Fika Komara (2016). Menjadi Muslimah Negarawan (Cita-cita Besar yang Memuncaki Peran Muslimah Ideologis) 


Qari Cilik Bersuara Merdu

Qari Cilik Bersuara Merdu

 


Dari kisah Abdullah bin Mas’ud, kita bisa mencontoh banyak hal, pintar memahami kejadian, berani meninggalkan kampung halaman demi belajar, tak takut menyampaikan kebenaran dan masih banyak lagi

Betapa beruntungnya kita apabila menjadikan Rasulullah dan para sahabatnya sebagai suri tauladan yang baik

_________________________


Penulis Fathimah Az Zahra Jais

Kontributor Media Kuntum Cahaya 


KUNTUMCAHAYA.com, KISAH - Namanya Abdullah bin Mas’ud. Sejak kecil, ia sudah menunjukkan ketekunannya, dan bagaimana ia berbakti kepada orang tua membuatnya menjadi sosok yang patut dikagumi bahkan meski masih muda.  Usianya masih berkisar 8 tahun, tetapi ia sudah bisa bekerja membantu orang tuanya. Setiap hari, Abdullah Bin Mas’ud menggembalakan kambing di padang rumput. Abdullah bin Mas’ud melaksanakan tugas dengan baik. Kambing-kambing itu tak ada yang hilang. Dia telah berhasil menjaga kambingnya dari terkaman binatang buas.


Siang itu, cuaca sangatlah panas. Abdullah bin Mas’ud istirahat di bawah pohon yang rindang. Tak lama, datang dua pria yang tampak kehausan. Kedua pria itu sangat istimewa. Mereka adalah Nabi Muhammad Salallahu alaihi wasallam dan Abu Bakar r.a. Saat itu, Abdullah Bin Mas’ud belum mengenali keduanya. Ia mempersilahkan dua orang istimewa itu untuk ikut duduk di bawah pohon rindang. 


Rasulullah pun berkata kepada Abdullah bin Mas’ud, “Bawalah anak kambingmu itu kemari. Aku akan memerah susunya.” 


Betapa heran Abdullah bin Mas’ud mendengarnya. Bagaimana bisa anak kambing menghasilkan susu? Dengan ragu-ragu, ia menyerahkan anak kambingnya kepada Rasulullah.


Rasulullah mengusap lembut badan si anak kambing dan berkata, “Bismillahirrahmanirrahim.


Setelah itu Nabi mulai memerah. Dengan begitu deras, mengalirlah air susu. Abdullah bin Mas’ud dibuat tercengang oleh kejadian itu. Mereka bertiga meminum susu yang segar. Itulah salah satu mukjizat nabi Muhammad yang tidak bisa dilakukan manusia biasa. Kejadian itu membuat Abdullah bin Mas’ud penasaran. 


Akhirnya ia pun berkata, “Tuan, ajarilah aku bacaan yang tuan baca tadi.” 


Rasulullah tersenyum ramah, “Kamu anak yang pintar. Tentu aku akan mengajarkanmu.”


Sejak saat itu. Abdullah bin Mas’ud mempunyai sahabat yang begitu istimewa yaitu Nabi Muhammad. Rasulullah juga menyukai Abdullah bin Mas’ud. Dia anak yang pintar, bersifat jujur, cerdas, dan juga bertanggung jawab. Abdullah bin Mas’ud pergi meninggalkan kampungnya menuju Mekah, dia menemui Rasulullah untuk memeluk Islam dan mengajukan permohonan agar bisa menjadi pelayan Rasul.


Ia diizinkan oleh Rasulullah untuk tinggal di rumah Beliau saw. Hingga penggembala itu diamanahkan menjadi orang kepercayaan Rasul, pemegang rahasia Rasul atau shahibbus sirri Rasulullah. Abdullah bin Mas’ud memiliki kelebihan tersendiri. Yaitu suara yang sangat merdu. Dia juga sangat menguasai ilmu membaca Al-Qur’an. Dengan sangat tekun, ia mempelajari kitab suci itu sehingga dia bisa membacanya dengan benar tanpa tajwid yang salah. 


Dalam suatu perjalanan Rasulullah, Abu Bakar dan Umar bin Khattab melihat seseorang yang sedang salat di dalam masjid. Orang itu salat dengan bacaan yang dikeraskan. 


Rasulullah berhenti untuk menyimaknya dan berkata “Siapa yang ingin bacaannya baik, maka bacalah seperti Abdullah bin Mas’ud.”


Anak muda itu hafal Al-Qur’an berkat ketekunannya sejak kecil. Abdullah bin Mas’ud juga dikenal sebagai qari atau orang yang mahir dalam membaca Al-Qur’an walau demikian Abdullah bin Mas’ud belum puas. Dia terus berusaha meningkatkan kemampuannya. Abdullah bin Mas’ud juga mendalami tafsir dari ayat Al-Qur’an. 


Abdullah berkata, ”Seandainya ada orang yang lebih tahu daripada saya, niscaya saya akan belajar kepadanya.” Itulah salah satu bukti bahwa ia sangat gigih mencari ilmu.


Abdullah bin Mas’ud adalah seorang pemberani. Kala itu, Mekah masih dikuasai kaum kafir Quraisy. Dia mendatangi Ka’bah dan membaca surah Ar Rahman ayat 1 sampai 4. 


Salah satu kaum Quraisy bertanya “Apakah yang dibaca Abdullah bin Mas’ud itu?” 


Yang lain menjawab, “Dia membaca apa yang diajarkan Muhammad!” kemudian mereka memukulinya ramai-ramai.


Setelah dewasa Abdullah bin Mas’ud menjadi orang penting, ulama yang disegani masyarakat. Dia juga diangkat menjadi pejabat negara. 


Menjelang wafatnya, Khalifah Utsman bin Affan mendatanginya lalu berkata, ”Kamu tak pernah mengambil gaji selama jadi pejabat, maukah aku ambilkan sekarang?”


Abdullah bin Mas’ud menggeleng. Dia menyedekahkan uang itu kepada rakyat, kepada umat Islam.


Begitulah kisah Abdullah bin Mas’ud. Sang pemberani, begitu sabar dengan segala cobaan, tekun belajar, dan dermawan. Rasulullah  memerintahkan kita umat Islam untuk belajar Al-Qur’an dalam sebuah hadis, “Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari Al-Qur'an dan mengajarkannya”. (HR. Bukhori)


Dan Allah juga memerintahkannya dalam Al Qur’an surat Al Qamar ayat 17, 22, 32 & 40. ”Dan sungguh telah kami mudahkan Al Quran sebagai peringatan, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran?

 

Dalam Al-Qur’an surat Al-Mujadilah ayat 11 pun Allah mengatakan, “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan mengangkat orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.


Allah memerintahkan kita untuk bersabar. Dalil itu ada dalam Al-Qur’an surat Qaf ayat 39.  “Bersabarlah kamu terhadap apa yang mereka katakan”. Dalam hadis juga mengatakan, “Sesungguhnya sabar itu adalah pada awal kedatangan musibah.


Dari kisah Abdullah bin Mas’ud, kita bisa mencontoh banyak hal, pintar memahami kejadian, berani meninggalkan kampung halaman demi belajar, tak takut menyampaikan kebenaran dan masih banyak lagi. Betapa beruntungnya kita apabila menjadikan Rasulullah dan para sahabatnya sebagai suri tauladan yang baik. Selama kita masih memiliki kesempatan, berbuat baiklah. Tingkatkan keimanan kepada Allah Swt. dan belajar dengan tekun sebagaimana yang dilakukan Abdullah bin Mas’ud, karena Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum kecuali kaum tersebut sendiri yang mengubahnya. Semoga Allah meridai segala sesuatu yang kita perbuat di dunia sehingga kita dapat bertemu dengan Rasulullah di surga kelak. Aamiin. 

Wallahualam bissawab. [GSM]

Curahan Hati Mirisnya Menjadi Guru Ngaji

Curahan Hati Mirisnya Menjadi Guru Ngaji

Ironis memang, sebuah dilema menjadi guru ngaji di sistem saat ini. Dipandang sebelah mata karena dianggap tak memiliki peran apa-apa hanya selingan semata. Bahkan saat anak-anak mengaji pun tak ada bahasa

Hal ini seharusnya dilakukan karena bagian dari adab mencari ilmu, menitipkan seperti yang dilakukan salafus saleh dahulu

______________________________


Penulis Heni Ummu Faiz

Kontributor Media Kuntum Cahaya 



KUNTUMCAHAYA.com, KISAH - Sebagai manusia kita pasti pernah mengalami saat-saat lelah yang sangat lelah. Merasa tidak dihargai, dianggap remeh dan bodoh. Perasaan seperti itu memang wajar dan normal karena pada hakikatnya merupakan naluri yang ada pada manusia. Pada titik ini  memerlukan seseorang yang mengerti, mengayomi, melindungi, serta menghargai. Itulah perasaan yang dirasakan oleh seorang guru ngaji.


Mengajar setiap hari tanpa kenal lelah siang dan malam. Bertujuan hanya ingin memberikan sedikit manfaat bagi umat dengan setitik ilmu dari diri yang dhaif ini. Namun, terkadang ada masa perasaan merasa tak dihargai saat salam tak dijawab, mengajari anak-anak mengaji malah mengobrol tak karuan belum ditambah saat orang tuanya yang terkadang tidak memiliki adab, menggunjing keburukan para guru ngaji. Celah sedikit dan kekurangan diri dibicarakan. Bahkan, ketika menegur anak-anak remaja untuk tidak nongkrong saat magrib di pos ronda  malah MCB listrik dimatikan saat tengah malam tiba. Cibiran saat mendidik dan mengajarkan para emaknya untuk menutup aurat dan menjaga dari riba. Padahal jika tak ada yang berdakwah lantas ridakah kemaksiatan di kampung merajalela? Subhanallah, luar biasa. Ber-amar makruf nahi mungkar pun seolah-olah melanggar norma. 


Ironis memang, sebuah dilema menjadi guru ngaji di sistem saat ini. Dipandang sebelah mata karena dianggap tak memiliki peran apa-apa hanya selingan semata. Bahkan saat anak-anak mengaji pun tak ada bahasa. Hal ini seharusnya dilakukan karena bagian dari adab mencari ilmu, menitipkan seperti yang dilakukan salafus saleh dahulu. Ini pula yang dilakukan para orang tua dahulu. Apa yang dirasa ini pun ternyata banyak dialami oleh para guru ngaji di kampung yang kutemui. Tidak digaji, kurang diapresiasi, apalagi diberi. Inilah hidup di alam kapitalis. Guru ngaji laksana butiran debu di tengah padang tandus.


Jika pun disuruh bayar infak, dengan nominal yang sangat kecil pun kadang masih terdengar menggerutu. Sedangkan untuk hal yang lain justru lebih mementingkan.


Jika bukan karena niat ingin melahirkan generasi Islam, mungkin akan mudah menyerah dan pudar dalam mengajar. Akan luntur saat hati futur. Mungkin akan iri saat guru-guru lain lebih diapresiasi hingga diberikan kado dengan berbagai pernak-pernik yang warna-warni.


Dilematis, melepaskan mereka tanpa didikan tak ada yang mau melanjutkan. Terlebih guru ngaji di tempat kami sangatlah langka. Mereka lebih memilih berhenti bahkan mungkin menjadi kuli saja yang menjanjikan cuan berlimpah. 


Namun, bagi mereka yang punya tekad besar akan terus menguatkan. Berusaha meluruskan niat dan hanya meredam emosi untuk tidak mendengki. Karena lebih memikirkan nasib generasi di masa nanti.


Ingatlah selalu firman Allah Swt. dalam Al-Qur'an Surah Muhammad ayat 7, "Wahai orang-orang yang beriman! Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu."


Dan di surah Al-Baqarah mengingatkan pula yakni, "Ataukah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) seperti (yang dialami) orang-orang terdahulu sebelum kamu. Mereka ditimpa kemelaratan, penderitaan dan diguncang (dengan berbagai cobaan), sehingga Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya berkata, “Kapankah datang pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat." (QS. Al-Baqarah: 214)


Wahai hati belajarlah untuk ikhlas, jangan iri apalagi mendengki. Taburi jiwa dengan rasa rida terhadap semua kondisi ini. Jika pun harus menangis, menangislah, agar engkau merasa tenang dan nyaman.


Yakinlah engkau kelak pasti bahagia. Atas segala usaha yang dilakukan dalam mendidik generasi. Jika lelah maka berhenti sejenak, rebahkan badanmu agar penat yang menghinggapi pergi. Leburkan rasa penat dengan zikir. Senyumlah karena engkau tak sendiri.  Ada Allah yang menyertai.


Ya Rahman jagalah hati ini jangan biarkan setan meracuni. Jangan biarkan hati yang tulus mengabdi ternodai oleh berbagai tipu daya dunia. Ya Allah Yang Maha Alim luruskan ilmu dalam mengabdi kepada-Mu, agar tetap makrifat kepada-Mu. [GSM]

Julaibib Sang Ahli Surga

Julaibib Sang Ahli Surga

Begitulah kisah Julaibib, Ia sangat mencintai Rasulullah shallallahu 'alaihi wa salam. Kita sebagai umat Muslim tentu harus cinta kepada Allah, Rasulullah dan agama kita sendiri. Karena, dalam Al-Qur’an disebutkan, “Hai orang-orang yang beriman! Taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya, dan janganlah kamu berpaling dari pada-Nya, sedang kamu mendengar perintah-Nya.”. (QS. Al–Anfal [8]: 20)

________________________


Penulis Fatimah az-Zahra Jais

Kontributor Media Kuntum Cahaya dan Aktivis Dakwah Remaja



KUNTUMCAHAYA.com, KISAH - Namanya tidak begitu dikenal.  Ia tidak tahu siapa orangtuanya, dari suku apa ia berasal. Tetapi, ia mengenal seorang lelaki mulia. Ia sangat mencintainya lebih dari apapun. Lelaki mulia itu adalah Nabiyullah Muhammad shallallahu 'alaihi wa salam bin Abdullah bin Abdul Muthalib. Julaibib mengenal Allah, Tuhan semesta alam,  juga mengenal Islam sebagai agama yang Allah ridai lewat Baginda Nabi Muhammad saw.. 


Julaibib bersyukur bisa mengenal ketiganya. Julaibib juga bersyukur atas semua pemberian Allah kepada dirinya. Walau ia menjadi sosok tersisih di masyarakat Madinah, disebabkan ia miskin, berkulit hitam, berbadan pendek,  bungkuk, dan tidak mempunyai apa-apa. Tapi cintanya kepada Allah, Rasul dan agamanya melebihi segalanya.


Suatu hari Julaibib dipanggil dan ditanya oleh Rasulullah.”Wahai Julaibib”, Rasul melanjutkan. “Tidakkah engkau mau menikah?”


“Orangtua mana yang mau menikahkan putrinya denganku, wahai Rasulullah?” jawab Julaibib dengan senyum khasnya. Rasulullah pun segera mencarikan istri untuk Julaibib. 


Awalnya, kedua orangtua  si calon istri Julaibib menolak. Keduanya tidak rela putrinya menikah dengan lelaki yang miskin dan buruk rupa. Tapi, sang putri justru ikhlas menikah dengan Julaibib. ”Apapun itu yang diperintahkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa salam pasti akan membawa kebaikan. Tidak akan membawa kehancuran dan kerugian,” ucap sang putri calon istri Julaibib seraya menyitir ayat ke36 dari surat Al-Ahzab. 


“Dan tidaklah pantas bagi laki-laki yang mukmin dan perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada pilihan (yang lain) bagi mereka tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh, dia telah tersesat, dengan kesesatan yang nyata.” (QS. Al Ahzab: 36)


Belum lama Julaibib dan istrinya menikah, Julaibib dipanggil untuk berjihad di jalan Allah. Julaibib melangkah gagah menuju medan laga. Saat peperangan telah usai, Rasulullah bertanya kepada para sahabat. “Apakah kalian kehilangan seseorang?”


“Tidak ya Rasulullah”, jawab mereka bersamaan.


Dengan menghela nafas dalam-dalam, beliau berkata, “Aku kehilangan Julaibib."


Para sahabat pun tersadar dan malu karena sudah melupakan Julaibib. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa salam lalu merawat jenazah Julaibib. Beliau pangku jenazahnya di paha, dan tangan beliau menjadi  bantal bagi Julaibib. Saat proses mengebumikan jenazahnya. Rasulullah pula yang membaringkannya di liang lahat, sembari berucap, "Ya Allah, dia (Julaibib) adalah bagian dariku, dan aku adalah bagian darinya.”


Begitulah kisah Julaibib, Ia sangat mencintai Rasulullah shallallahu 'alaihi wa salam. Kita sebagai umat Muslim tentu harus cinta kepada Allah, Rasulullah dan agama kita sendiri. Karena, dalam Al-Qur’an disebutkan, “Hai orang-orang yang beriman! Taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya, dan janganlah kamu berpaling dari pada-Nya, sedang kamu mendengar perintah-Nya.”. (QS. Al–Anfal [8]: 20)


Dan dalam Mutafaq ‘alaih juga dikabarkan dari Anas ra., sesungguhnya Nabi shallallahu 'alaihi wa salam bersabda: “Ada tiga perkara, siapa saja yang memilikinya, ia telah menemukan manisnya iman. Yaitu orang yang telah mencintai rasul-Nya lebih dari yang lainnya; orang yang mencintai seseorang karena Allah; dan orang yang tidak suka kembali kepada kekufuran sebagaimana ia tidak suka dilempar ke neraka."


Julaibib begitu bersyukur atas semuanya, ia adalah ahli surga karena telah taat dan bersyukur kepada Allah.


“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti kami akan menambah nikmat kepadamu, dan jika kamu mengingkari nikmat-Ku, maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim [14]: 7)


Allah ta'ala akan selalu menambahkan nikmat-Nya kepada orang Muslim yang bersyukur entah dari mana saja. Seperti Julaibib yang mendapatkan kenikmatan menjadi ahli surga. Julaibib ikhlas mengerjakan apa saja yang Allah, Rasul  dan agamanya perintahkan untuk dirinya. Semoga kita semua bisa menjadi ahli surga seperti Julaibib. Dan diberi ketaatan dan rasa syukur sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Julaibib. Aamiin. Wallahu a’lam bi ash-shawwab. []

Kegiatan Pasca Syawalan

Kegiatan Pasca Syawalan

“Sesungguhnya Allâh menulis kebaikan-kebaikan dan kesalahan-kesalahan kemudian menjelaskannya. Barangsiapa berniat melakukan kebaikan namun dia tidak (jadi) melakukannya, Allâh tetap menuliskannya sebagai satu kebaikan sempurna di sisi-Nya. Jika ia berniat berbuat kebaikan kemudian mengerjakannya, maka Allâh menulisnya di sisi-Nya sebagai sepuluh kebaikan hingga tujuh ratus kali lipat sampai kelipatan yang banyak. Barangsiapa berniat berbuat buruk namun dia tidak jadi melakukannya, maka Allâh menulisnya di sisi-Nya sebagai satu kebaikan yang sempurna. Dan  barangsiapa berniat berbuat kesalahan kemudian mengerjakannya, maka Allâh menuliskannya sebagai satu kesalahan.” (HR. Al-Bukhâri dan Muslim dalam kitab Shahih mereka)

__________________________


Penulis Dewi Kusuma

Kontributor Media Kuntum Cahaya dan Pemerhati Umat





KUNTUMCAHAYA.com, KISAH - Rasanya sudah lama enggak naik motor ke jalan raya. Sejak anak bujangku lulus dari pondok enggak naik motor ke jalan raya. Sementara dia sudah lulus kuliah dan bahkan sudah merintis kehidupannya, bekerja sudah tiga tahunan. Praktis sudah 8-9 tahun tidak naik motor ke jalan raya. 


Hari ini pergi naik motor sendirian cari ayam kampung. Di pasar dekat rumah hanya ada satu ekor ayam, sementara aku pingin beli lebih dari satu ekor. Akhirnya pulang dengan tangan hampa. Hanya beli bumbu untuk membuat opor saja. Pulang ke rumah rasa masih tak tenang karena sudah berjanji mau bikinin opor ayam kampung untuk acara silah ukhuwah kawan-kawan masa kecil di kampung halaman dulu. Keluar rumah lagi muter-muter di perumahan cari tetangga yang pelihara ayam kampung. Ternyata, ya, susah juga, selain sudah pada keluar kandang juga sudah habis untuk lebaran Fitri kemarin. Nilih juga tanpa hasil.


Nah harus pergi ke pasar yang lain nih. Akhirnya pergi ke pasar yang berjarak kurang lebih10 km dari rumah. Wow, rasa deg-deg ser saja naik motor ke jalan raya lagi. Jalanan ramai penuh dengan kendaraan orang-orang yang.hendak rekreasi, juga orang-orang yang pulang kerja shift 3. Wis nekat saja naik motor, 'Bismillahirrahmanirrahim'. Dah tancap gas ke pasar. Kalau enggak menyamai mereka-mereka yang pada naik motor, ya, khawatir malah mengganggu, karena pelan naik motor. Ya sudah akhirnya ngiringin mereka naik motor rada-rada kenceng gitu. 


Sampailah ke pasar, langsung ketemu pedagang yang jual ayam. Saya lihat ayamnya gemuk-gemuk. Aku beli 3 ekor, dua babon dan satu jago. Semoga saja cukup untuk makan siang 25 orang. Kubeli dengan harga.Rp380 ribu, sudah langsung dipotong dan dibawa pulang dalam kondisi bersih. Ya namanya pasar di pinggir jalan raya, jadinya ngeri-ngeri sedap transaksinya. Khawatir kesenggol motor atau mobil yang lalu-lalang. 


Setelah dapat ayam kampung, daripada nunggu ayam yang sedang dipotong dan antre juga, akhirnya aku bilang, "Tinggal dulu ya Mang, mau cari kelapa parut."


Aku tanyakan ke tukang parkir di mana kira-kira yang jualan kelapa parut. Si bapak parkir mengatakan, "Nanti masuk aja ke gerbang pasar Bu. Nah, setelah masuk belok ke kiri, di situ ada yang jual," katanya.


"Titip dulu motornya, ya Mang," kataku.


Setelah cari-cari, tengok sana-sini akhirnya dapat juga kelapa parut. Aku beli 3 butir dengan harga Rp20 ribu sudah diparut. Di sana kubeli tambahan bumbu juga, khawatir kurang bumbu yang sudah dibeli.


Setelah beres dalam pasar, aku pun kembali lagi ke pemotongan ayam. Alhamdulillah sudah selesai dipotong dan dibersihkan, tinggal menunggu dipotong-potong. Yah biar tidak ribet langsung.minta dipotong-potong saja.


"Sudah beres, Bu?" kata tukang parkir.


"Ya, sudah nih," kataku. "Eh tapi tunggu saya bayar ayamnya dulu bentar."


Kuserahkan uang ke pedagang ayam. "Coba cek, Mang, uangnya sudah pas belum?" kataku.


Setelah dihitung oleh pedagang ayam, "Ya, Bu, sudah pas."


"Ok. Makasih ya, Mang," jawabku.  


Belanjaan pun dirapikan oleh tukang parkir setelah diikat di motor. Saat itu kuminta tukang parkir untuk menyeberangkan motor. Mau menyeberang sendiri takut, soalnya ramai sekali lalu lintasnya. Aku juga sekalian meminta di-slahin motor oleh tukang parkir. Rasanya capai harus ngengkol motor karena staternya mati. Maklum motor sudah tua, yang menaiki pun sudah senja. Wis pokok men pas lah cocok. Daku pun sudah lumayan capai muter-muter pasar. 


Alhamdulillah sekali engkol langsung nyala. Maklum tenaga laki-laki sama tenaga perempuan beda juga. 


Setelah naik motor dan berjalan, aku lihat ada ibu-ibu pulang dari pasar dan membawa tentengan kanan kiri. Aku berhenti sejenak dan kutawarkan untuk naik motorku. Maksud aku, untuk dibonceng.


"Ayo Bu saya boncengin, kebetulan saya arah yang sama," tawaranku untuk ibu itu. Eh ternyata beliau tak mau. 'Ya sudah', pikirku.


"Makasih nanti juga ketemu sama anak," katanya.


Padahal ketika berangkat tadi aku lihat ibu itu ke pasar jalan kaki sendirian. Nah saat pulang dari pasar, kok aku lihat ibu tadi. Namun kutawari untuk dibonceng, eh ibu itu tak mau, segan atau apa barangkali, aku pun tak tahu.


Akhirnya kutancap gas pulang ke rumah. Tetap waspada karena lama tidak naik motor, rasa nano-nano itu ada. Kendaraan truk gede-gede, motor pun pada kencang-kencang. Akhirnya ketularan naik motor agak kenceng juga. Eh ternyata lupa kalau usia telah senja.


Alhamdulillah selamat sampai rumah. Akhirnya rehat sebentar, minum, makan buah dan kue. Kebetulan puasa Syawal sudah beres. Jadi menikmati hari lebaran setelah beres puasa Ramadan dan Syawalan, kulanjut masak opor dan bikin bumbu pecel. Hemh lumayan kemringet juga.


Ya dikerjakan pelan-pelan saja. Habis masak sendirian yo wis nyantai wae. Alhamdulillah beres juga jam 1 siang. Lanjut salat Zuhur, gosok baju dan tidur. Semoga barakah semata mencari rida Allah. Lahaula wala quwwata Illa billah.


Dari Ibnu ‘Abbâs radhiyallahu anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang hadis yang beliau riwayatkan dari Rabb-nya 'Azza wa Jalla. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allâh menulis kebaikan-kebaikan dan kesalahan-kesalahan kemudian menjelaskannya. Barangsiapa berniat melakukan kebaikan namun dia tidak (jadi) melakukannya, Allâh tetap menuliskannya sebagai satu kebaikan sempurna di sisi-Nya. Jika ia berniat berbuat kebaikan kemudian mengerjakannya, maka Allâh menulisnya di sisi-Nya sebagai sepuluh kebaikan hingga tujuh ratus kali lipat sampai kelipatan yang banyak. Barangsiapa berniat berbuat buruk namun dia tidak jadi melakukannya, maka Allâh menulisnya di sisi-Nya sebagai satu kebaikan yang sempurna. Dan  barangsiapa berniat berbuat kesalahan kemudian mengerjakannya, maka Allâh menuliskannya sebagai satu kesalahan.” (HR. Al-Bukhâri dan Muslim dalam kitab Shahih mereka)


Wallahualam bisawwab. []