Alt Title

Julaibib Sang Ahli Surga

Julaibib Sang Ahli Surga

Begitulah kisah Julaibib, Ia sangat mencintai Rasulullah shallallahu 'alaihi wa salam. Kita sebagai umat Muslim tentu harus cinta kepada Allah, Rasulullah dan agama kita sendiri. Karena, dalam Al-Qur’an disebutkan, “Hai orang-orang yang beriman! Taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya, dan janganlah kamu berpaling dari pada-Nya, sedang kamu mendengar perintah-Nya.”. (QS. Al–Anfal [8]: 20)

________________________


Penulis Fatimah az-Zahra Jais

Kontributor Media Kuntum Cahaya dan Aktivis Dakwah Remaja



KUNTUMCAHAYA.com, KISAH - Namanya tidak begitu dikenal.  Ia tidak tahu siapa orangtuanya, dari suku apa ia berasal. Tetapi, ia mengenal seorang lelaki mulia. Ia sangat mencintainya lebih dari apapun. Lelaki mulia itu adalah Nabiyullah Muhammad shallallahu 'alaihi wa salam bin Abdullah bin Abdul Muthalib. Julaibib mengenal Allah, Tuhan semesta alam,  juga mengenal Islam sebagai agama yang Allah ridai lewat Baginda Nabi Muhammad saw.. 


Julaibib bersyukur bisa mengenal ketiganya. Julaibib juga bersyukur atas semua pemberian Allah kepada dirinya. Walau ia menjadi sosok tersisih di masyarakat Madinah, disebabkan ia miskin, berkulit hitam, berbadan pendek,  bungkuk, dan tidak mempunyai apa-apa. Tapi cintanya kepada Allah, Rasul dan agamanya melebihi segalanya.


Suatu hari Julaibib dipanggil dan ditanya oleh Rasulullah.”Wahai Julaibib”, Rasul melanjutkan. “Tidakkah engkau mau menikah?”


“Orangtua mana yang mau menikahkan putrinya denganku, wahai Rasulullah?” jawab Julaibib dengan senyum khasnya. Rasulullah pun segera mencarikan istri untuk Julaibib. 


Awalnya, kedua orangtua  si calon istri Julaibib menolak. Keduanya tidak rela putrinya menikah dengan lelaki yang miskin dan buruk rupa. Tapi, sang putri justru ikhlas menikah dengan Julaibib. ”Apapun itu yang diperintahkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa salam pasti akan membawa kebaikan. Tidak akan membawa kehancuran dan kerugian,” ucap sang putri calon istri Julaibib seraya menyitir ayat ke36 dari surat Al-Ahzab. 


“Dan tidaklah pantas bagi laki-laki yang mukmin dan perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada pilihan (yang lain) bagi mereka tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh, dia telah tersesat, dengan kesesatan yang nyata.” (QS. Al Ahzab: 36)


Belum lama Julaibib dan istrinya menikah, Julaibib dipanggil untuk berjihad di jalan Allah. Julaibib melangkah gagah menuju medan laga. Saat peperangan telah usai, Rasulullah bertanya kepada para sahabat. “Apakah kalian kehilangan seseorang?”


“Tidak ya Rasulullah”, jawab mereka bersamaan.


Dengan menghela nafas dalam-dalam, beliau berkata, “Aku kehilangan Julaibib."


Para sahabat pun tersadar dan malu karena sudah melupakan Julaibib. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa salam lalu merawat jenazah Julaibib. Beliau pangku jenazahnya di paha, dan tangan beliau menjadi  bantal bagi Julaibib. Saat proses mengebumikan jenazahnya. Rasulullah pula yang membaringkannya di liang lahat, sembari berucap, "Ya Allah, dia (Julaibib) adalah bagian dariku, dan aku adalah bagian darinya.”


Begitulah kisah Julaibib, Ia sangat mencintai Rasulullah shallallahu 'alaihi wa salam. Kita sebagai umat Muslim tentu harus cinta kepada Allah, Rasulullah dan agama kita sendiri. Karena, dalam Al-Qur’an disebutkan, “Hai orang-orang yang beriman! Taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya, dan janganlah kamu berpaling dari pada-Nya, sedang kamu mendengar perintah-Nya.”. (QS. Al–Anfal [8]: 20)


Dan dalam Mutafaq ‘alaih juga dikabarkan dari Anas ra., sesungguhnya Nabi shallallahu 'alaihi wa salam bersabda: “Ada tiga perkara, siapa saja yang memilikinya, ia telah menemukan manisnya iman. Yaitu orang yang telah mencintai rasul-Nya lebih dari yang lainnya; orang yang mencintai seseorang karena Allah; dan orang yang tidak suka kembali kepada kekufuran sebagaimana ia tidak suka dilempar ke neraka."


Julaibib begitu bersyukur atas semuanya, ia adalah ahli surga karena telah taat dan bersyukur kepada Allah.


“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti kami akan menambah nikmat kepadamu, dan jika kamu mengingkari nikmat-Ku, maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim [14]: 7)


Allah ta'ala akan selalu menambahkan nikmat-Nya kepada orang Muslim yang bersyukur entah dari mana saja. Seperti Julaibib yang mendapatkan kenikmatan menjadi ahli surga. Julaibib ikhlas mengerjakan apa saja yang Allah, Rasul  dan agamanya perintahkan untuk dirinya. Semoga kita semua bisa menjadi ahli surga seperti Julaibib. Dan diberi ketaatan dan rasa syukur sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Julaibib. Aamiin. Wallahu a’lam bi ash-shawwab. []