Alt Title

Curahan Hati Mirisnya Menjadi Guru Ngaji

Curahan Hati Mirisnya Menjadi Guru Ngaji

Ironis memang, sebuah dilema menjadi guru ngaji di sistem saat ini. Dipandang sebelah mata karena dianggap tak memiliki peran apa-apa hanya selingan semata. Bahkan saat anak-anak mengaji pun tak ada bahasa

Hal ini seharusnya dilakukan karena bagian dari adab mencari ilmu, menitipkan seperti yang dilakukan salafus saleh dahulu

______________________________


Penulis Heni Ummu Faiz

Kontributor Media Kuntum Cahaya 



KUNTUMCAHAYA.com, KISAH - Sebagai manusia kita pasti pernah mengalami saat-saat lelah yang sangat lelah. Merasa tidak dihargai, dianggap remeh dan bodoh. Perasaan seperti itu memang wajar dan normal karena pada hakikatnya merupakan naluri yang ada pada manusia. Pada titik ini  memerlukan seseorang yang mengerti, mengayomi, melindungi, serta menghargai. Itulah perasaan yang dirasakan oleh seorang guru ngaji.


Mengajar setiap hari tanpa kenal lelah siang dan malam. Bertujuan hanya ingin memberikan sedikit manfaat bagi umat dengan setitik ilmu dari diri yang dhaif ini. Namun, terkadang ada masa perasaan merasa tak dihargai saat salam tak dijawab, mengajari anak-anak mengaji malah mengobrol tak karuan belum ditambah saat orang tuanya yang terkadang tidak memiliki adab, menggunjing keburukan para guru ngaji. Celah sedikit dan kekurangan diri dibicarakan. Bahkan, ketika menegur anak-anak remaja untuk tidak nongkrong saat magrib di pos ronda  malah MCB listrik dimatikan saat tengah malam tiba. Cibiran saat mendidik dan mengajarkan para emaknya untuk menutup aurat dan menjaga dari riba. Padahal jika tak ada yang berdakwah lantas ridakah kemaksiatan di kampung merajalela? Subhanallah, luar biasa. Ber-amar makruf nahi mungkar pun seolah-olah melanggar norma. 


Ironis memang, sebuah dilema menjadi guru ngaji di sistem saat ini. Dipandang sebelah mata karena dianggap tak memiliki peran apa-apa hanya selingan semata. Bahkan saat anak-anak mengaji pun tak ada bahasa. Hal ini seharusnya dilakukan karena bagian dari adab mencari ilmu, menitipkan seperti yang dilakukan salafus saleh dahulu. Ini pula yang dilakukan para orang tua dahulu. Apa yang dirasa ini pun ternyata banyak dialami oleh para guru ngaji di kampung yang kutemui. Tidak digaji, kurang diapresiasi, apalagi diberi. Inilah hidup di alam kapitalis. Guru ngaji laksana butiran debu di tengah padang tandus.


Jika pun disuruh bayar infak, dengan nominal yang sangat kecil pun kadang masih terdengar menggerutu. Sedangkan untuk hal yang lain justru lebih mementingkan.


Jika bukan karena niat ingin melahirkan generasi Islam, mungkin akan mudah menyerah dan pudar dalam mengajar. Akan luntur saat hati futur. Mungkin akan iri saat guru-guru lain lebih diapresiasi hingga diberikan kado dengan berbagai pernak-pernik yang warna-warni.


Dilematis, melepaskan mereka tanpa didikan tak ada yang mau melanjutkan. Terlebih guru ngaji di tempat kami sangatlah langka. Mereka lebih memilih berhenti bahkan mungkin menjadi kuli saja yang menjanjikan cuan berlimpah. 


Namun, bagi mereka yang punya tekad besar akan terus menguatkan. Berusaha meluruskan niat dan hanya meredam emosi untuk tidak mendengki. Karena lebih memikirkan nasib generasi di masa nanti.


Ingatlah selalu firman Allah Swt. dalam Al-Qur'an Surah Muhammad ayat 7, "Wahai orang-orang yang beriman! Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu."


Dan di surah Al-Baqarah mengingatkan pula yakni, "Ataukah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) seperti (yang dialami) orang-orang terdahulu sebelum kamu. Mereka ditimpa kemelaratan, penderitaan dan diguncang (dengan berbagai cobaan), sehingga Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya berkata, “Kapankah datang pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat." (QS. Al-Baqarah: 214)


Wahai hati belajarlah untuk ikhlas, jangan iri apalagi mendengki. Taburi jiwa dengan rasa rida terhadap semua kondisi ini. Jika pun harus menangis, menangislah, agar engkau merasa tenang dan nyaman.


Yakinlah engkau kelak pasti bahagia. Atas segala usaha yang dilakukan dalam mendidik generasi. Jika lelah maka berhenti sejenak, rebahkan badanmu agar penat yang menghinggapi pergi. Leburkan rasa penat dengan zikir. Senyumlah karena engkau tak sendiri.  Ada Allah yang menyertai.


Ya Rahman jagalah hati ini jangan biarkan setan meracuni. Jangan biarkan hati yang tulus mengabdi ternodai oleh berbagai tipu daya dunia. Ya Allah Yang Maha Alim luruskan ilmu dalam mengabdi kepada-Mu, agar tetap makrifat kepada-Mu. [GSM]