Alt Title

Perundungan, Belajar dari persaudaraan Aus dan Khazraj

Perundungan, Belajar dari persaudaraan Aus dan Khazraj

 


Menelisik kisah persaudaraan Aus dan Khazraj sungguh seharusnya kita malu dengan kondisi kaum muslimin hari ini yang amat jauh dari nilai-nilai kemanusiaan yang diajarkan Rasulullah saw. Perundungan terjadi di mana-mana. Bukan hanya kalangan remaja, dewasa bahkan anak di bawah umur terkontaminasi hal tersebut

Ini sungguh suatu pelajaran berharga yang harus ditiru oleh kaum Muslim yang menginginkan kemuliaan. Bersatu dalam Islam, menjadikan insan yang memiliki ketinggian akhlak, bukan dalam isme-isme lainnya

___________________


Penulis Inge Oktavia Nordiani

Kontributor Media Kuntum Cahaya


KUNTUMCAHAYA.com, KISAH - Sebuah contoh terbaik tentang menghentikan permusuhan yang berlangsung sepanjang sejarah manusia, yaitu perdamaian yang terjadi antara suku Aus dan suku Khazraj yang dilakukan Rasulullah saw. yang mana keadaan awalnya sering terjadi pertumpahan darah, saling membunuh, Rasulullah saw. mampu mempersaudarakan mereka hingga perubahan 360 derajat. Kini, konflik menjadi sesuatu yang mereka benci. 


Sebelum Rasulullah saw. hijrah ke Yastrib (Madinah), suku Aus dan Khazraj telah bertempur puluhan tahun lamanya. Sebagaimana yang terjadi pada lima tahun sebelum hijrah Nabi yaitu Perang Bu'ats. Perang yang mengakibatkan tewasnya pemimpin kedua belah pihak. Dalam kondisi itu, Rasulullah saw. bertemu dengan enam orang dari suku Aus dan Khazraj. Rasulullah saw kemudian, menyampaikan kebenaran, mengajak beriman dan membela dakwah Islam dengan kekuatan. Respon kedua belah pihak langsung menyetujui ajakan Nabi. Mereka merindukan perdamaian untuk menyatukan masyarakat. Apalagi, kaum Yahudi tengah mengancam akan membinasakan mereka ketika sampai risalah nabi yang terakhir.


Setahun kemudian Rasulullah saw. mengutus seorang pemuda tampan bernama Mush'ab bin Umair ke Yastrib (Madinah). Tujuannya untuk mengajarkan Islam di sana. Mush'aib dengan gigihnya membentuk kepribadian Islam individu-individu di Yatsrib, menciptakan iklim persaudaraan, dan kecintaan dan kepatuhan hanya untuk Islam, bukan lagi kepada fanatisme kekabilahan atau kesukuan. Selain itu memperkuat semangat dan keberanian membela agama dengan jiwa dan harta. Tidak hanya membina perasaan dan pikiran Mush'ab juga mengajarkan mereka untuk selalu salat berjamaah, saling mengucapkan salam dan mendoakan kebaikan bila bertemu, membantu sesama muslim, serta mematuhi setiap syariat yang diajarkan Rasulullah saw..


Alhasil, ketika Rasulullah saw. hijrah mereka tergerak untuk menyambut dan siap selalu membela Islam. Kaum Anshor (penduduk asli Madinah) menolong kaum Muhajirin dengan harta bendanya, berbagi tempat tinggal, dan memberikan akses ekonomi, karena sebelumnya mereka telah terlatih membangun ukhuwah islamiyah dengan musuh bebuyutan. Walaupun sebagai manusia, sesekali mereka terpicu pertengkaran. 


Contohnya ketika seorang kafir bernama Syas bin Qais, mengingatkan kembali tentang terjadinya Perang Bu'ats. Namun, Allah SWT mengkritik dengan turunnya ayat Al-Qur'an surat Ali-Imran ayat 98-103 agar mewaspadai provokasi kaum kafir serta kewajiban bersatu dalam agama Allah, mereka langsung bertobat. Sempat ada pertengkaran kecil lantaran seorang warga Khazraj, yaitu tokoh munafik yang bernama Abdullah bin Ubay. Ia melakukan fitnah terhadap istri Rasulullah saw. ibunda Aisyah tengah berbuat serong. Setelah berdamai atas kesalahpahaman yang terjadi. Tidak pernah terjadi lagi permusuhan di antara mereka sampai generasi sesudahnya bahkan hari ini.


Menelisik kisah persaudaraan Aus dan Khazraj sungguh seharusnya kita malu dengan kondisi kaum muslimin hari ini yang amat jauh dari nilai-nilai kemanusiaan yang diajarkan Rasulullah saw.. Perundungan terjadi di mana-mana. Bukan hanya kalangan remaja, dewasa bahkan anak di bawah umur terkontaminasi hal tersebut. 


Ini sungguh suatu pelajaran berharga yang harus ditiru oleh kaum Muslim yang menginginkan kemuliaan. Bersatu dalam Islam, menjadikan insan yang memiliki ketinggian akhlak, bukan dalam isme-isme lainnya.


Hari ini tidak sedikit kasus-kasus yang terjadi beberapa tahun presentasenya semakin meningkat pesat. Tidak tanggung-tanggung hingga memakan korban jiwa. Tidakkah sebagai muslim kita merenung hadist nabi saw. yang menggambarkan siapakan orang yang kuat? Nabi saw. bersabda: "Bukanlah orang kuat (yang sebenarnya) dengan (selalu mengalahkan lawannya dalam) pergulatan (perkelahian), tetapi tidak lain orang kuat (yang sebenarnya) adalah yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah (HR. Bukhari no. 6114)


Begitu pula apa yang disampaikan oleh Allah Swt. dalam QS. Alhujarat: 11 berfirman "Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim."

 

Sungguh dalam islam telah termaktub rambu-rambu kehidupan. Pada dasarnya manusia bertindak bergantung pada apa yang ada dalam isi kepalanya (pola pikir). Apabila pola pikirnya tersambung dengan pencipta maka akan menumbuhkan iman. Dan iman itu yang akan menjadi pedoman. Namun, bila yang mendahului pola pikirnya adalah selain iman, maka tindakan manusia akan mudah goyah. Tentu harus ada upaya yang tersistematis untuk menciptakan sebuah pola pikir masyarakat yang kokoh agar mudah memenuhi panggilan ayat-ayat dalam Al-Qur'an. Negara memiliki peran yang vital dalam memenuhinya. Negara sebagai institusi terefektif dalam mengedukasi masyarakat hingga tertancap iman dan takwa.


Wallahualam bisssawab [Dara]