Alt Title

Krisis Mental, Islam Solusinya

Krisis Mental, Islam Solusinya



Negara Islam akan menerapkan sistem pendidikan yang berasas akidah Islam

Dengannya akan menguatkan mental, melindungi generasi dalam berpikir positif dan mental yang kuat

_________________


KUNTUMCAHAYA.com, SURAT PEMBACA- Akumulasi masalah dan rasa terisolasi diduga melatarbelakangi lelaki berinisial FS (30) untuk mengakhiri hidupnya sendiri di Gelora Bung Karno, Jakarta Pusat.


Melalui media sosial, dia merasa hanya di sana bisa mencurahkan permasalahan yang sedang dialaminya, termasuk niatnya bunuh diri. Kisah luka di jantung Jakarta ini terkuak pada Minggu, 06-09-2026. Jasad FS ditemukan tergolek sendirian di sekitar Plaza Utara, pintu 10, Gelora Bung Karno. (kompas.com, 10-9-2026)


Menurut Wamenkes Danto Saksono Harbuwono, percobaan bunuh diri semakin meningkat. Peningkatan ini menunjukkan besarnya tekanan kehidupan yang melemahkan mental. Hal ini merupakan potret kelam kehidupan yang terjadi di berbagai segi kehidupan seperti bullying, KDRT, kriminalitas, kekerasan, perceraian, dan kemiskinan yang telah terjadi di mana-mana. Inilah yang menyebabkan generasi kehilangan rasa aman dan tempat aman.


Di tengah keadaan yang seperti ini, layanan kesehatan mental sangat sulit dijangkau oleh setiap individu, bahkan layanannya pun belum memadai. Di Indonesia masih sangat kekurangan SDM kesehatan mental. Saat ini hanya ada sekitar 1.053 psikiater, 3.049 psikolog, dan 5.330 perawat jiwa dengan jumlah rakyat Indonesia lebih dari 290 juta jiwa. Bahkan sekitar 71% tenaga kesehatan mental berpusat di Pulau Jawa sehingga layanan di luar Jawa sangat minim.


Selain itu, banyaknya puskesmas yang belum menyediakan layanan kesehatan mental yang menunjukkan buruknya pengurusan negara, begitulah potret yang terjadi dalam sistem kapitalisme. Negara tidak berfungsi sebagai pengurus dan penyedia layanan untuk rakyat. Dalam sistem ini, peran negara hanya sebagai regulator, sedangkan operatornya adalah badan yang dibentuk oleh negara dan swasta. 


Layanan kesehatannya pun dijadikan sebagai komoditas. Alhasil, dampaknya menjadi berlipat ganda dan dapat meningkatkan keinginan untuk bunuh diri. Walaupun tidak semua orang yang berniat bunuh diri akhirnya benar-benar bunuh diri, tetapi situasi ini menggambarkan buruknya ketahanan mental generasi saat ini.


Hal ini sangat berbeda dengan sistem Islam. Islam memandang kesehatan, termasuk kesehatan mental, adalah hak rakyat yang pemenuhannya menjadi tanggung jawab negara. Hal ini akan tercipta melalui perasaan tenang yang selalu dirasakan oleh setiap individu karena terpenuhinya kebutuhan jasmani dan naluri-naluri manusia.


Karena itu, negara wajib memenuhinya dengan cara yang benar dan sesuai dengan syariat Islam yang datang dari Allah Swt. Bahkan Allah Swt. melarang melakukan hal-hal yang membahayakan diri sendiri ataupun orang lain.


Allah Swt. melarang manusia meninggal generasi yang lemah seperti dalam QS An-Nisa ayat 9 yang artinya, "Hendaklah takut orang-orang yang andaikan meninggalkan keturunan yang lemah dibelakang (kematian) mereka, maka mereka mengkhawatirkannya. Maka hendaklah mereka juga takut kepada Allah Swt. dan hendaknya mereka berkata dengan perkataan yang benar."


Oleh karena itu, negara wajib menyediakan layanan kesehatan mental karena Islam memandang kesehatan, baik fisik ataupun mental adalah satu kesatuan. Penerapan Islam secara kafah akan menjamin pemenuhan kebutuhan jasmani dan naluri, termasuk pada generasi di semua level.


Bahkan dalam sistem pendidikan yang berasas akidah Islam, akan menguatkan mental generasi karena memahami tujuan penciptaan. Kehidupan dalam naungan Khil4fah akan mewujudkan lingkungan yang melindungi generasi untuk berpikir positif dan memiliki mental yang kuat. [EA/MKC]


Ummu Aufa