Alt Title

Ketika Peringatan Maulid Nabi Terpapar Pemikiran Liberal

Ketika Peringatan Maulid Nabi Terpapar Pemikiran Liberal




Pemikiran di atas merupakan imbas dari sistem kapitalisme sekuler liberal yang memisahkan agama dari kehidupan

Di sistem ini, kaum muslim tidak mau menjadikan agama sebagai aturan kehidupan

_________________________


Penulis Ummu Fadiya

Kontributor Media Kuntum Cahaya


KUNTUMCAHAYA.com, OPINI - Peringatan Maulid Nabi Muhammad saw. merupakan salah satu momen yang istimewa bagi kaum muslim. Di momen itu, seluruh kaum muslim patut bersyukur karena memiliki seorang Rasulullah saw.  yang membawa risalah mulia. Dengan risalah tersebut, kehidupan seorang hamba menjadi terarah dan tertata.


Peringatan Maulid Nabi juga menjadi sebuah renungan diri atas rasa cinta kita terhadap beliau. Di momen itu, suasana keimanan sekaligus kecintaan kepada Rasulullah saw. pastinya akan sangat terasa dengan adanya berbagai aktivitas keagamaan seperti pembacaan salawat, Sirah Nabawiyah, dan hikmah Maulid Nabi yang penuh ibrah. 


Sayangnya suasana yang demikian tidak ada di dalam gelaran Simbang Kulon Night Carnival (SKNC) yang diselenggarakan pada Kamis malam, (10-9) di Kelurahan Simbang Kulon, Kecamatan Buaran, Pekalongan, Jawa Tengah. Sebaliknya, yang muncul di SKNC justru rangkaian karnaval para peserta berbalut busana dan simbol-simbol khusus yang dikaitkan dengan ritual pemujaan setan hingga menciptakan suasana menyeramkan. 


Pasalnya, di dalam tayangan video yang beredar, beberapa peserta berkostum monster membawa peti mati dan menampilkan ritual penyembelihan kambing di atas altar yang dibarengi dengan gerakan menari dari peserta yang lainnya. (Kompas.com, 24-9-2026) 


Ritual yang tak lazim tersebut akhirnya viral di media sosial. Kegaduhan pun terjadi dengan berbagai macam spekulasi di tengah-tengah masyarakat. Kondisi yang demikian tentu tak boleh dibiarkan berlarut- larut agar tidak menimbulkan keresahan berkepanjangan. Pasalnya acara itu berhubungan dengan syiar Islam yang seharusnya mampu memahamkan masyarakat agar hidupnya sesuai dengan aturan syariat. 


Respons Ulama


Viralnya video di perhelatan SKNC juga langsung mendapatkan respon serius dari Majelis Ulama Indonesia (MUI). Respon tersebut disampaikan oleh KH. M. Cholil Nafis selaku Wakil Ketua Umum MUI. Cholil mengatakan bahwa isi dari kegiatan SKNC tidak sesuai dengan esensi dari perayaan Maulid Nabi Muhammad saw. 


Nafis juga menambahkan bahwa semua aktivitas di dalam acara tersebut seharusnya berisi hal-hal yang mampu mengarahkan masyarakat kepada sesuatu yang mengedukasi, menentramkan, dan penggambaran sosok Rasulullah saw. sebagai pembawa risalah Islam. (CNBC Indonesia, 15-9-2026) 


Apa yang terjadi di SKNC tentu membuat kita bertanya-tanya, mengapa pengakuan cintanya kepada Rasulullah saw. direalisasikan dengan menampilkan keunikan yang bukan dari Islam? Benarkah hal itu merupakan kebebasan berekspresi dalam memperingati Maulid Nabi? 


Sejarah Simbang Kulon Night Carnival


Adanya perhelatan SKNC ke-61 di Kelurahan Simbang Kulon sejatinya tak bisa dilepaskan dari sejarahnya di masa lalu. Saat itu, puluhan tahun lalu, sebelum menjadi SKNC, acara tersebut merupakan tradisi khitanan massal masyarakat Simbang Kulon. Seiring berjalannya waktu, tradisi di atas dikembangkan sebagai karnaval malam yang menampilkan ide-ide kreatif warga setempat. 


Kini khitanan massal masih terus diselenggarakan sebagai bagian dari tradisi dan sejarah masa lalu. Hal itu tentu dimaksudkan untuk menjaga kerukunan, kebersamaan, dan gotong-royong di antara warga Simbang Kulon. Dengan begitu, kebersamaan tersebut nantinya bisa terus dilestarikan dan diwariskan ke generasi berikutnya.

 

Sekadar Ikut-Ikutan


Namun, sangat disayangkan tradisi di atas terpapar oleh sesuatu yang diambil atas nama keunikan dari sebuah event tertentu. Artinya, apa yang dilakukan hanya berdasarkan kekaguman tanpa memperhatikan aturan agama sebagai panduan kehidupan. Lebih parahnya lagi, acara tersebut juga menghadirkan ritual yang tidak diperintahkan di dalam Islam dan hanya meniru-niru tanpa disertai dengan ilmu. 


Di samping itu, para peserta juga hanya melihat kostum yang dipakai dari sisi keunikannya saja. Padahal keunikan tersebut belum tentu sesuatu yang dibolehkan di dalam aturan agama. Sebaliknya, atribut dan adegan yang ada justru memicu kontroversi di tengah-tengah masyarakat hingga menimbulkan kegaduhan belaka. 


Paparan Slogan Kebebasan


Ketika bicara Maulid Nabi yang tergambar seharusnya semua hal tentang sejarah lahirnya Rasulullah saw., perjalanan, dan perjuangan dakwah beliau dalam menyebarkan Islam hingga masa kejayaannya.


Di samping itu, umat muslim juga harus dipahamkan bahwa rasa cinta kepada Nabi Muhammad saw. adalah dengan cara mengikuti semua yang beliau lakukan dan meninggalkan apa yang dilarangnya tanpa terkecuali. 


Apa yang terjadi di pagelaran SKNC adalah bukti, betapa pemikiran umat muslim hari ini sudah sedemikian memprihatinkan. Pasalnya, acara tersebut sama sekali tidak menyentuh tentang siapa, apa, dan bagaimana kehidupan Rasulullah saw. Sebaliknya, yang ditampilkan justru ritual yang mengarah kepada sesuatu yang menyesatkan. Hal itu juga menggambarkan seakan-akan mereka tak mengenal sosok nabinya sendiri. 


Pemikiran di atas merupakan imbas dari sistem kapitalisme sekuler liberal yang memisahkan agama dari kehidupan. Di sistem ini, kaum muslim tidak mau menjadikan agama sebagai aturan kehidupan. Baginya agama hanya cukup diamalkan di tataran pribadi semata. Sedangkan untuk mengatur kehidupan bermasyarakat dan bernegara, manusia merasa lebih berhak dan lebih tahu dari Sang Pencipta.


Hal itu membuatnya merasa bebas untuk berekspresi sekehendak hati dalam mengadakan sebuah perayaan termasuk peringatan hari besar keagamaan. Alhasil, amalan yang dilakukan justru menjadi ajang untuk melegalkan adanya kebebasan. 


Islam Mengatur Semua Aktivitas Kehidupan


Peristiwa yang terjadi di perhelatan SKNC seharusnya bisa dijadikan renungan oleh kaum muslim. Mereka harus menyadari bahwa setiap aktivitasnya harus selalu memperhatikan aturan Islam. Hal itu sesuai dengan kaidah syara yang berbunyi;


“Hukum asal amal perbuatan adalah terikat dengan hukum syariat. “


Di samping itu, sebagai seorang muslim tentu sangat berharap agar amalannya menjadi amalan yang bernilai pahala di hadapan Allah swt. Maka, amalan tersebut harus memenuhi dua syarat yaitu;


Pertama; Niat yang ikhlas karena Allah Swt.


Hal itu sesuai dengan sabda Rasulullah saw. yang artinya:

“Sesungguhnya, setiap amal perbuatan itu tergantung niatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim) 


Kedua; Sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya. 


Itu artinya semua yang kita lakukan hendaklah menyesuaikan dengan aturan Islam. Jika tidak, nantinya amalan tersebut akan sia-sia. 


Pemahaman tersebut telah dijelaskan oleh Rasulullah saw. yang artinya:


"Barangsiapa mengerjakan sebuah amalan yang tidak Kami perintahkan, maka amalan tersebut tertolak." (HR. Muslim) 


Islam dan Perwujudan Cinta yang Hakiki


Demikianlah kesempurnaan Islam sebagai aturan kehidupan. Dengan aturan tersebut kehidupan manusia menjadi tertata dan terkondisikan. Lebih dari itu, semua masalah yang muncul akan bisa terselesaikan secara tuntas karena aturan itu datang dari Zat Yang Maha Sempurna, yaitu Allah Swt..


Namun, semua itu hanya bisa dirasakan dan diwujudkan dengan pemahaman Islam yang benar, penerapan aturannya yang menyeluruh di tiap aspek kehidupan, dan kehadiran institusi mulia yang akan mengedukasi seluruh rakyat agar paham aturan syariat. Tanpa itu semua, kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya hanya akan menjadi sebuah tema tanpa terealisasi dengan sempurna. Wallahualam bissawab. [GSM/MKC]