Alt Title
Mencintai dan Menaati Nabi saw. secara Utuh

Mencintai dan Menaati Nabi saw. secara Utuh

 



Peringatan Maulid Nabi dilakukan setiap tahun

tetapi sayangnya politik di negeri ini adalah sistem demokrasi yang diajarkan oleh Montesquieu, Jhon Locke, dan para ahli Barat lainnya

______________________________


Penulis Dhini Sri Widia Mulyani

Kontributor Media Kuntum Cahaya dan Pegiat Literasi


KUNTUMCAHAYA.com, NAFSIYAH - Ingatkah saat ini kita berada di bulan apa? Ya, bulan Rabiulawal, salah satu bulan yang istimewa. Yang mana di bulan ini lahirlah seseorang yang begitu istimewa, yaitu baginda Rasulullah saw..


Tentu saja umat muslim beramai-ramai memperingati hari lahirnya Rasulullah dengan penuh sukacita. Allah memberikan nikmat agung bagi umat manusia atas terlahirnya Rasulullah saw.. (Buletin Dakwah Kaffah edisi 361, 20-09-2024)



Allah Swt. berfirman dalam Al-Qur'an surah Ali-Imran ayat 164 yang artinya, "Sungguh, Allah telah memberi kaum mukmin karunia ketika Dia mengutus seorang Rasul (Muhammad) di tengah-tengah mereka dari kalangan mereka sendiri. la membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan (jiwa) mereka, serta mengajari mereka Al-Kitab (Al-Qur'an) dan hikmah (as-sunah) meskipun sebelumnya mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata."

 

Salah satu wasilah untuk menjaga kecintaan kita terhadap Rasulullah yaitu dengan memperingati lahirnya Rasulullah. Hal ini sering disebut dengan 'Maulid Nabi.' Namun, mencintai beliau tentu harus lebih istimewa dibandingkan kecintaan kita kepada yang lainnya.

Wajib Hukumnya Mencintai Rasulullah


Kita selaku umatnya mencintai beliau hukumnya wajib. Di samping itu, wajib juga bagi kita menaati semua ajarannya secara utuh dan menyeluruh.

Dalam Al-Qur'an terdapat ancaman terhadap siapa pun yang cintanya kepada Allah dan Rasul-Nya, teralihkan dengan kecintaan kepada yang lain.

Sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur'an surah At-Taubah ayat 24,


"Katakanlah, 'Jika bapak-bapak kalian, anak-anak kalian, saudara-saudara kalian, istri-istri kalian dan keluarga kalian, juga harta kekayaan yang kalian usahakan, perniagaan yang kalian khawatirkan kerugiannya, dan tempat tinggal yang kalian sukai, adalah lebih kalian cintai daripada Allah dan Rasul-Nya, serta dari jihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan (azab)-Nya'. Allah tidak memberikan petunjuk kepada kaum yang fasik."

Di sisi lain, barang siapa yang mencintai Allah Swt. dan Rasul-Nya sampai akhir hayat pasti akan bersama dengan beliau di surga-Nya kelak. Sesuai sabda Nabi saw., "Engkau akan bersama dengan orang yang engkau cinta." (HR. Al-Bukhari)

Haram Menyakiti Hati Rasulullah


Ketika kita mencintai Rasulullah, tentunya kita haram menyakiti hati beliau. Barang siapa yang menyakiti beliau, Allah telah mengancam keras di dalam firman-Nya, "Orang-orang yang menyakiti Rasulullah itu bagi mereka azab yang pedih." (QS. At-Taubah [9]: 61)

Jika benar mencintai dan menaati Nabi saw. dengan sepenuh hati, seorang muslim tidak boleh sedikit pun membuat beliau marah. Sebagaimana hadis yang diriwayatkan melalui jalur Ummul Mukminin Aisyah r.a.. Hadis tersebut menegaskan bahwa bukti cinta hakiki kepada Nabi saw. adalah menaati beliau tanpa ragu.

Ketaatan pada Rasul Menghantarkan Menuju Surga


Ketaatan umat muslim terhadap beliau pun pada faktanya akan mengantarkan ke dalam surga. Ini ditegaskan dalam hadis yang diriwayatkan Al-Bukhari yang artinya, "Setiap umatku akan masuk surga, kecuali yang enggan," para sahabat bertanya, "Wahai Rasulullah, siapa yang enggan?" Beliau menjawab, "Siapa yang menaati aku pasti masuk surga dan siapa yang membangkang kepadaku berarti ia enggan (masuk surga)."

Tanda cinta kepada Rasulullah saw. adalah taat secara utuh kepada beliau. Seperti yang dikutip oleh Imam Al-Qusyairi dalam Risalah Al-Qusyairiyyah: "Sungguh di antara cinta itu adalah taat."

Dengan begitu, umat muslim wajib menaati Rasulullah secara keseluruhan pada aspek kehidupan beliau. Ketaatan yang tidak terbatas hanya pada aspek ibadah ritual dan akhlak beliau saja. Karena hal itu menjadi bukti cinta kepada Allah Swt..

Sebagaimana firman-Nya: "Katakanlah, "Jika kalian benar-benar mencintai Allah, ikutilah aku." (QS. Ali Imran [3]: 31)

Allah Swt. berfirman: "Sungguh engkau (muhammad) berada di atas khuluq yang agung." (QS. Al-Qalam [68]: 4)

Imam Jalalain menyatakan dalam tafsirnya bahwa kata khuluq dalam ayat di atas bermakna dîn (agama, jalan hidup) (Jalalain, Tafsîr Jalâlayn, 1/758). Ayat tersebut bisa dimaknai: "Sungguh engkau berada di atas agama/jalan hidup yang agung."

Mengamalkan Semua Ajaran Al-Qur'an


Meneladani Nabi Muhammad saw. berarti mengamalkan semua ajaran Al-Qur'an tanpa terkecuali. Bukan hanya ibadah ritual dan akhlak, tetapi juga semua aspek kehidupan. Mulai dari akidah, ibadah, serta berbagai muamalah dalam ekonomi, sosial, politik, pendidikan, hukum, dan pemerintahan.

Rasulullah saw. tidak hanya mengajarkan kita cara melaksanakan ibadah ritual, tetapi juga bagaimana berinteraksi sosial, menjalani transaksi ekonomi, serta mengatur pemerintahan sesuai syariat Islam.

Maka dari itu, mengapa saat ini kita tidak mau melepaskan riba dan transaksi-transaksi batil yang dibuat oleh sistem kapitalis sekuler? Mengapa sebagian dari kita ragu untuk memberlakukan sanksi-sanksi dalam hukum Islam seperti kisas, potong tangan bagi pencuri, rajam bagi pezina, hukuman mati bagi yang murtad, dan lain-lannya? Terlebih, mengapa juga umat enggan mengatur negara dengan aturan-aturan Islam? Bukankah semua itu pernah dilakukan oleh Rasulullah saw. di Madinah dalam kedudukannya sebagai kepala negara Islam (Daulah Islamiyah) selama bertahun-tahun?

Allah telah tegaskan bahwa: "Apa saja yang Rasul bawa kepada kalian, terimalah. Apa saja yang dia larang atas kalian, tinggalkanlah." (QS. Al-Hasyr [59]: 7)

Pada ayat tersebut terdapat kata "maa" (apa saja) yang memiliki makna umum, yakni meliputi semua aspek. Pada nyatanya saat ini justru banyak ironi di tengah-tengah kaum muslimin. Buktinya, Maulid Nabi diperingati setiap tahunnya, tetapi korupsi yang diharamkan oleh Allah dan Rasul malah makin merajalela. Negeri ini masih bertumpu pada sistem keuangan ribawi yang sudah jelas Rasulullah larang.

Maulid dalam Tataran Kapitalisme Sekuler


Jika ditelisik lebih dalam, semua hal di atas terjadi karena yang diterapkan ideologi kapitalisme sekuler. Ia bertentangan dengan tuntunan ideologi Islam yang dibawa oleh Rasulullah saw.. Bahkan Al-Qur'an dan As-Sunah yang seharusnya menjadi sumber hukum peninggalan beliau malah diabaikan. Umat justru menganggap hukum-hukum sekuler yang berasal dari proses demokrasi paling layak diikuti.

Peringatan Maulid Nabi dilakukan setiap tahunnya, tetapi sayangnya politik di negeri ini adalah sistem demokrasi yang diajarkan oleh Montesquie, Jhon Locke, dan para ahli Barat lainnya. Bukan sistem pemerintahan Islam yang diterapkan Nabi saw., yaitu Daulah Islamiyah.

Rasulullah saw. pun telah bersabda: "Kalian wajib berpegang pada sunahku dan sunah Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk. Berpegang teguhlah pada sunah itu dan gigitlah itu erat-erat dengan gigi geraham." (HR. Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah, dan At-Tirmidzi)

Wallahualam bissawab. [SM/MKC]

Dear Allah, I'm Done

Dear Allah, I'm Done

 


Keputusasaan terhadap diri dan penyerahan secara totalitas pada kekuasaan-Nya merupakan kunci dari sebuah pertolongan

Sesulit apa pun keadaan kita saat ini maka jangan pernah berputus asa pada rahmat Allah

______________________________


Penulis Althafunnisa

Kontributor Media Kuntum Cahaya 


KUNTUMCAHAYA.com, NAFSIYAH - Kadang kita harus berada pada situasi yang sangat sulit bahkan rumit. Sudahlah kita mencoba berlari mencari ujung solusi tetapi yang ada hanya sebuah ilusi. Kita juga telah menghabiskan waktu berjalan pelan, memperhatikan pola, mungkin akan ada jalan keluar yang bisa kita temukan.


Namun, lagi-lagi justru kita makin terkurung pada kegagalan yang mendalam. Apa pun kita coba, namun hasilnya tetap sama. Seolah tak ada lagi celah, tak ada lagi yang bisa kita lakukan selain menyerah. Dear Allah, i'm done.


Teka-teki kehidupan sering kali membuat kita payah dalam memberikan jawaban. Apalagi kita memang hidup dalam arena sistem sekuler kapitalisme yang menyengsarakan. Berbagai macam problematika hidup harus kita rasakan, hingga bahkan membuat kita terpaksa berhenti sejenak atau bahkan mungkin menyerah dan berputus asa. Nauzubillah.


Tanpa adanya bekal keimanan, maka wajar banyak kasus mengerikan di luar sana. Sedangkan harusnya kerumitan hidup yang membuat kita menyerah ini bukan menyerah dari pertolongan Allah, melainkan menyerah pada diri sendiri, menyadari bahwa kita ini hanya makhluk. Maka kita membutuhkan Dzat yang Maha Segalanya. Dialah Allah, Al-Khaliq Al-Mudabbir.


Ujian hidup yang Allah berikan ini sebenarnya adalah cara-Nya untuk menunjukkan kekuasaan-Nya atas kita. Saat kita telah bersusah-payah mencoba melakukan yang terbaik dalam hidup. Entah itu dalam perkara memperbaiki diri, mendidik anak-anak, menjalin keharmonisan dalam pernikahan, ekonomi bahkan kewajiban dakwah. Saat semua sudah kita lakukan, tapi ternyata kegagalan yang lagi-lagi kita telan. Maka di sanalah kita perlu menghisab diri. 


Sebagaimana kisah Nabi Musa as. dalam surah Al-Kahfi ayat 60 ketika Nabi Musa dan pembantunya mencari hamba Allah untuk mencari ilmu darinya. Saat keduanya tak kunjung menemukan hamba Allah tersebut dan malah kehilangan bekal, maka dalam ayat 64 di surah yang sama yang artinya Dia (Musa) berkata, “Itulah yang kita cari.” Lalu keduanya kembali dan menyusuri jejak mereka semula.


Belajar dari kisah Nabi Musa tersebut, mestinya kita mencoba untuk kembali, menyusuri jalan yang telah kita tempuh sebelumnya. Mungkin ada yang salah pada niat kita sejak awal. Mungkin ada yang kurang tepat dalam pilihan usaha kita. Mungkin kita terlalu fokus hanya pada usaha diri sebagai manusia bukan hamba yang mestinya senantiasa menyertakan Allah dalam setiap langkah atau yang lainnya. 


Jika semua sudah dirasa benar, tapi tetap Allah belum izinkan kemudahan itu hadir, maka bersyukurlah. Bisa jadi ini cara-Nya menyelamatkan kita dari kesombongan. Allah ingin kita lebih banyak meminta. Maka permintaan terbaik pada situasi seperti ini tak lain ialah rahmat-Nya. Sebagaimana doa Ashabul Kahfi,


رَبَّنَآ ءَاتِنَا مِن لَّدُنكَ رَحْمَةً وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا


"Wahai Tuhan kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini)." (QS. Al Kahfi: 10).


Sungguh, kita tak sendiri! Sepahit dan sesulit apa pun ujian kita dalam berbagai aspek kehidupan akan selalu ada Allah yang tak akan pernah meninggalkan. Pertanyaannya adalah seberapa bulat keyakinan kita bahwa Allah pasti menolong kita? Bahwa Allah menyayangi kita. Sebab hanya dengan keyakinan itulah kita mampu bertahan. 


Ingatkah kita pada kisah Nabi Musa as. saat dikejar pasukan Fir'aun? Di depannya terhampar lautan luas, sedang di belakangnya pasukan Fir'aun siap menghabisi. Dalam keadaan genting seperti itu, saat Nabi Musa tak lagi percaya pada kekuatannya, menyadari sepenuhnya kelemahannya. Maka dengan tenang sebagaimana dalam surah Asy-Syu'ara' ayat 62, Dia (Musa) berkata, “Tidak! Sesungguhnya Tuhanku bersamaku. Dia akan menunjukiku.” 


Di saat semua tak lagi bisa dilakukan dan Nabi Musa juga telah membulatkan keyakinan bahwa Allah pasti memberikan petunjuk, maka itulah awal dari sebuah pertolongan. Allah menolongnya dengan mukjizat yang luar biasa. Laut terbelah dan mereka pun selamat. Keputusasaan terhadap diri dan penyerahan secara totalitas pada kekuasaan-Nya merupakan kunci dari sebuah pertolongan.


Oleh karenanya, sesulit apa pun keadaan kita saat ini maka jangan pernah berputus asa pada rahmat Allah. Ketika kita sudah berusaha sebaik mungkin mengikuti jalan yang telah Dia gariskan, maka tak ada yang perlu kita risaukan. Boleh jadi ujung keberhasilan itu belum kita temukan, bisa saja kemudahan yang kita harapkan masih jauh dari pandangan, tak mengapa. 


Allah tak menghitung hasilnya, Dia menilai setiap proses yang kita jalani. Upaya-upaya yang telah lakukan sungguh tak akan disia-siakan. Semua akan ada balasan-Nya. Kesulitan ini, kekecewaan ini, luka ini dan semua kerumitan ini akan selalu bertalian dengan kemudahan. Fa inna ma'al-'usri yusraa, inna maal-usri yusraa. Wallahualam bissawab. [SJ]

Agar Saum Kita Berbekas dan Berkelas

Agar Saum Kita Berbekas dan Berkelas

 


Inilah yang disebut dengan saum berbekas dan berkelas

Manakala mampu mengubah dari pribadi biasa menjadi luar biasa, yakni pribadi takwa

______________________________


Penulis Ummu Bagja Mekalhaq 

Kontributor Media Kuntum Cahaya 


KUNTUMCAHAYA.com, NAFSIYAH - Saum Ramadan yang dilaksanakan serentak pada tanggal satu Ramadan oleh kaum muslim di seluruh dunia, hendaklah berdampak terhadap kepribadian seseorang. 


Untuk itu, agar saum kita  berdampak, maka  beberapa persiapan yang harus dilakukan, di antaranya:


Pertama, persiapkan keimanan selama sebelas bulan penuh. Artinya keimanan kita akan sangat berkualitas pada bulan ramadan. Manakala 11 bulan penuh, sudah terbiasa melakukan amalan saleh dengan ringan, tanpa beban tanpa paksaan. Karena keimanan itu bisa dilihat sejauh mana semangatnya dalam menghadapi hidup di berbagai situasi dan kondisi. 


Kedua, luruskan niat ikhlas saum berharap rida Allah Ta'ala saja.


Ketiga, langitkan doa agar kita dimampukan saum sebulan penuh dengan fisik prima, mental kuat dalam kondisi aman.


Keempat, tingkatkan kualitas ghirah tafakkuh fiddin memperdalam ilmu agama Islam. Agar semua ibadah ada dalil yang kuat berasal dari Al-Qur'an dan Sunnah. 


Kelima, bersihkan hati, jika hati kotor sulit untuk menerima kebenaran. Karena dari hati yang bersih kita mendapatkan ketenangan lahir dan batin. Dari hati yang bersih kita mendapatkan kebahagiaan saat menjalankan berbagai kewajiban, termasuk kewajiban saum yang akan dilaksanakan.


Dari hati yang bersih bisa nyaman di berbagai situasi dan kondisi. Maka seseorang yang memiliki hati bersih memberi rasa nyaman kepada orang di sekitarnya. Sebaliknya, hati kotor akan tidak nyaman bagi dirinya, apalagi bagi orang sekitarnya. 


Keenam, pastikan terlebih dahulu kita sudah saling memaafkan sesama teman, sahabat, kerabat sebelum saum dilaksanakan. Agar hati plong tidak ada dosa dan kesalahan di antara sesama.


Ketujuh, tidak kalah pentingnya perbanyak bekal makanan bahan pokok harian, agar bisa sahur dan buka sesuai gizi seimbang plus rezeki halalan thayyiban.


Nah, ketika semua persiapan sudah yakin bisa dilakukan, maka saum kita akan khusyuk dan fokus sebulan penuh mampu dijalankan. Dan, saum pun akan berbekas kepada diri sendiri saat saumnya sesuai syariat, saum pun akan berbekas saat tahu ilmunya. 


Pada akhirnya saum mampu menjadikan pribadi yang bertakwa sesuai yang disebutkan dalam Al- Baqarah ayat 183. Tujuan saum untuk membentuk pribadi takwa. Pada akhirnya saat saum tuntas berbekal ilmu tadi, maka banyak kaum muslim yang berhasil menjadi pribadi takwa.


Inilah yang disebut dengan saum berbekas dan berkelas. Manakala mampu mengubah dari pribadi biasa menjadi luar biasa, yakni pribadi takwa. Wallahualam bissawab. [SJ


Majalaya, 8 Maret 2024

Istikamah Itu Berat Tetapi Nikmat

Istikamah Itu Berat Tetapi Nikmat


Istikamah itu berat tetapi nikmat karena surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai sebagai balasan

Sob, tetaplah berproses dalam keistikamahan dan ketaatan. Semoga Allah berikan keridaan


_____________________


Penulis Fatmah Nuryamah

Kontributor Media Kuntum Cahaya


KUNTUMCAHAYA.com, NAFSIYAH - Istiqomah, satu kata yang ringan terdengar tetapi sangat sulit untuk dilaksanakan. Memang begitulah fitrahnya jika untuk sebuah kebaikan memang tak ada kata berat kalau menjalankannya dengan penuh keikhlasan. Ikhlas saat hanya Allah yang jadi tujuan. Bukan lagi menyandarkan pada keridaan manusia semata yang akhirnya menimbulkan kecewa. Manusia tak pernah sempurna sedangkan Allah sebaliknya, Maha Segalanya. 


"Sesungguhnya Kami menurunkan Kitab (Al-Qur'an) kepadamu (Nabi Muhammad) dengan hak. Maka, sembahlah Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya." (TQS. Az-Zumar: 2)


Dalam hal ini Rasullah saw. bersabda, "Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan hartamu, tetapi Dia hanya melihat hati dan amalmu." (HR Muslim)


Setiap manusia pasti melewati masa-masa di mana mereka akan berada pada fase yang tak mengenakkan. Ketika fakta tak sesuai harapan. Kalau kata anak zaman now adalah gabut, jenuh, sepi dalam kehampaan. Itulah hidup, tidak semuanya berjalan mulus. Namun semua harus dilalui dengan berbagai macam ujian. 


Apakah kalian mengira untuk masuk ke dalam surga sementara belum datang kepada kalian seperti yang menimpa orang-orang sebelum kalian? Mereka ditimpa kesulitan dan kesusahan, bahkan digoncang dengan berbagai macam ujian. Sehingga Rasul dan orang-orang yang beriman berkata: ‘Kapan datangnya pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala?’ Ketahuilah sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat.(TQS. Al-Baqarah: 214)


Pertanyaannya, apakah kita mampu untuk menjalankannya? Apakah kita bisa melewati semuanya? Dengan ikhlas dan sabar InsyaAllah pasti akan diringankan oleh Allah apa yang sudah kita usahakan. Memang tidak mudah, ya, Sob. Terkadang ujian dan cobaan itu datangnya bukan dari orang lain tetapi dari diri kita sendiri.


Keraguan sering kali datang menghinggapi. Ya Allah, ya Rabb begitu berat ujian ini? Sanggupkah kita menghadapi semua problematika yang terjadi? Nurani dan ucapan terkadang tak berjalan seirama. Sedangkan dalam hati membisikkan kalau kita sebenarnya mampu dan bisa menghadapinya.


Segala puji hanya bagi Allah. Seiring berjalannya waktu, Allah memberi kemudahan yang kita harapkan. Selalu ada jalan saat ada niat untuk berbenah. Sungguh, perubahan itu memang dimulai dari dalam diri sendiri. Sampai pada saatnya aku menemukannya. Ya, kumenemukan mereka, membersamai orang-orang pilihan-Nya. Itulah kebahagiaan yang aku rasakan pada saat itu. Saat di mana aku mencari perubahan kemudian dipertemukan jalan kemuliaan sebagai pengemban dakwah.


Di awal menjalaninya memang berat tetapi seiring berjalannya waktu aku merasakan nikmat yang luar biasa. Istikamah itu berat tetapi nikmat karena surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai sebagai balasan. Sob, tetaplah berproses dalam keistikamahan dan ketaatan. Semoga Allah berikan keridaan. Aamiin. Wallahualam bissawab. [Dara]

Healthy Inside Fresh Outside

Healthy Inside Fresh Outside

 


Ibarat sebuah teko dan isi di dalamnya. Sebuah teko hanya akan mengeluarkan apa isinya. Jika berisi teh tentu akan menuangkan teh, jika berisi kopi hanya menuangkan kopi

Itulah yang terjadi dengan diri kita. Apa isi dalam kepala kita pasti akan tertuang pada cara kita berbicara dan berperilaku

____________________


Penulis Arda Sya'roni 

Kontributor Media Kuntum Cahaya 


KUNTUMCAHAYA.com, NAFSIYAH - Healthy Inside Fresh Outside, jargon ini terdengar tak asing, bukan? Ya, jargon ini selalu mengisi iklan di salah satu produk minuman kesehatan. Adapun makna dari jargon ini adalah jika sehat di dalam maka akan terlihat segar di luar. Selaras dengan jargon ini kita juga mengenal idiom yang tak kalah asing dari bahasa Latin, yaitu Mens Sana In Corpore Sano, yang berarti di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat. Intinya kita harus sehat dulu di dalam diri kita, entah organ dalam tubuh, pikiran, jiwa dan hati, dengan demikian raga akan menjadi sehat. 


Segumpal Daging


Rasulullah saw. pernah bersabda, ”Ketahuilah bahwa dalam jasad manusia ada segumpal daging, jika baik maka baiklah seluruh anggota dan jika rusak maka rusaklah seluruh anggota. Ketahuilah itu adalah hati”. (HR. Bukhari dan Muslim).


Nah, segumpal daging ini adalah hati, ya, sobat salihah. Hati yang dipenuhi oleh hal negatif seperti iri, dengki, sombong, riya dan lain sebagainya akan membuat seseorang bertindak negatif pula. Perasaan negatif ini pastinya akan meninggalkan noktah hitam di hatinya. Bila noktah hitam itu semakin banyak, maka semakin pekatlah hatinya sehingga cahaya Allah akan sulit menembusnya.


Dalam ilmu kesehatan hati sebagai penetralisir racun dalam tubuh sehingga bila organ hati ini rusak atau tidak berfungsi dengan baik, maka racun dalam tubuh perlahan akan menyebabkan tidak optimalnya fungsi organ tubuh lainnya. Namun, dalam ilmu medis disebutkan bahwa organ hati adalah satu-satunya organ tubuh yang dapat melakukan regenerasi. Misal, dalam pelaksanaan donor hati, sebagian organ hati pendonor akan dipotong untuk diberikan pada donor. Nah, organ hati yang terpotong ini tak hanya mampu menyembuhkan dirinya, tapi perlahan akan kembali utuh seperti semula. MasyaAllah, begitu hebatnya Allah menciptakan manusia. 


Pola Pikir 


Selain hati, pola pikir turut berpengaruh bagi kesehatan tubuh dan kewarasan jiwa. Dalam menganalisa suatu fakta, indera kita berperan penting. Apa yang kita dengar, kita lihat, kita raba, kita cium, kita rasa akan tercerap dalam otak dan diolah berdasarkan informasi yang telah diterima sebelumnya. Dari sini otak akan menyampaikan hasil analisa pada seluruh anggota tubuh kita, sehingga hasil olah pola pikir kita akan terefleksi dalam pola sikap kita.


Ibarat sebuah teko dan isi di dalamnya. Sebuah teko hanya akan mengeluarkan apa isinya. Jika berisi teh tentu akan menuangkan teh, jika berisi kopi hanya menuangkan kopi. Itulah yang terjadi dengan diri kita. Apa isi dalam kepala kita pasti akan tertuang pada cara kita berbicara dan berperilaku. Pikiran negatif akan menghasilkan pemikiran yang negatif pula sehingga kerap timbul prasangka negatif kepada orang lain tanpa disertai data dan fakta akurat. Sebaliknya, pikiran positif tentu membawa afirmasi positif pula sehingga tubuh akan bereaksi positif terhadap respon dari luar.


Iman yang Kokoh


Bila hati yang bersih dan pola pikir yang benar telah dimiliki, InsyaAllah keimanan akan diraih. Dengan iman yang kokoh tertanam dalam dada akan menghadirkan kesadaran bahwa diri kita hanya hamba. Seorang hamba harus tunduk pada tuannya, bukan? Dengan demikian manusia sebagai makhluk tentu harus tunduk dan patuh pada segala perintah dan aturan Sang Pencipta. 


Iman yang kokoh pada diri seseorang akan memancarkan keindahan akhlak dalam setiap aktivitasnya. Apapun yang keluar dari lisannya adalah kebaikan. Asa yang ingin diraihnya hanya rida dan ampunan Allah semata. Segala aktifitasnya hanya kebaikan yang memberikan manfaat baik bagi dirinya, keluarganya, lingkungannya, agamanya dan negaranya. Wallahualam bissawab. [Dara]

Nilai Ikhlas

Nilai Ikhlas

 


Cukuplah Allah sebaik baik penilai, sebaik-baik pengharapan, dan sebaik-baik pemberi pemahaman sempurna

Pemberi balasan sempurna saat kita dihadapkan kepada satu hari yang tiada seorang pun dapat menolong kecuali amalan saleh bernilai ikhlaslah yang akan menyelamatkan kita sampai ke surga-Nya

_________________________


Penulis Ummu Bagja Mekalhaq

Kontributor Media Kuntum Cahaya 


KUNTUMCAHAYA.com, NAFSIYAH - Nilai ikhlas lahir dari  akidah Islam yang sahih, hingga semua perbuatan yang dilakukan betul-betul memiliki nilai ibadah, melakukan semua amalan saleh tanpa pamrih, berharap hanya ridha Allah Taala saja.


Pada setiap gerak yang dilakukan berniat lurus, ringan tanpa paksaan tanpa beban, bahkan hati senang melakukan kebaikan dengan ringan, tanpa ingin diperhatikan oleh manusia apalagi berharap pujian manusia, tidak!


Karena dari pemahaman dan pengetahuan ajaran Islam sahihlah, didapatkan nilai ikhlas dalam semua perbuatan yang dilakukannya.


Namun, bukan hal mudah untuk memahami dan mengetahui sumber ajaran Islam Kafah selain mau dan harus berusaha mengambil peran untuk mendapatkan pemahaman dan pengetahuan ajaran Islam kafah dari sumber dan rujukan yang jelas.


Adapun sumber dan rujukan yang jelas berasal dari sumber aslinya yakni Al-Qur'an dan sunnah melalui guru guru yang ahli di bidangnya.


Dengan diikuti kesungguhan belajar, kesungguhan mengamalkan ilmu yang dipelajari dan menyampaikan kepada yang lainnya, sehingga benar-benar, ilmu tersebut bermanfaat bagi dirinya dan bagi banyak orang, karena ia paham betul, sebaik baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain. 


Artinya ketika memahami sebuah ilmu langsung dipraktekkan bukan teori melulu tetapi ada pengamalan di setiap ilmu yang dipahaminya.


Tidak menunggu sempurna, saat mau beramal, yang terpenting saat ada perintah dari Allah sekuat tenaga semampu kita, lakukanlah! tanpa syarat apapun (sami'na wa atho'na), karena setiap manusia diberi kekurangan, diberi keterbatasan, lakukan semampunya saja, setelah ikhtiar maksimal. 


Selanjutnya, tidak ada kata berhenti untuk menambah ilmu, teruslah belajar sepanjang hayat, teruslah beramal baik yang benar tentu disertai nilai ikhlas dalam melaksanakannya. 


Tiada amalan yang mulia, tiada amalan yang berharga di sisi Allah Taala, kecuali amalan tersebut memiliki nilai ikhlas. 


Siapakah yang akan selamat dari tipuan godaan rayuan setan? Hanya mereka, orang orang yang ikhlas dalam beramal.


Siapakah yang pantas memasuki surga Allah? Hanya mereka, yang memiliki nilai ikhlas di setiap amal.


Cukuplah Allah sebaik baik penilai, sebaik-baik pengharapan, dan  sebaik-baik pemberi pemahaman sempurna. Pemberi balasan sempurna saat kita dihadapkan kepada satu hari yang tiada seorang pun dapat menolong kecuali amalan saleh bernilai ikhlaslah yang akan menyelamatkan kita sampai ke suga-Nya. Wallahualam bissawab. [GSM]

Mencoba Merayu Allah

Mencoba Merayu Allah

Tanpa kita sadari sering kali kita berlari jauh, berputar-putar tanpa arah yang jelas dalam hidup ini. Belajar ke sana kemari. Berharap Allah bukakan jalan atas segala kesempitan tapi pahit kembali harus kita telan

Kita bersusah payah merayu masalah agar bisa ditaklukkan. Sayangnya, kita lupa untuk merayu-Nya. Bukankah Dia yang menggenggam kehidupan ini?

_______________________________________


Penulis Ummu Zhafira

Kontributor Media Kuntum Cahaya 



KUNTUMCAHAYA.com, NAFSIYAH - Ada masa dimana kita merasa tidak lagi menemukan jalan keluar. Semuanya seperti buntu, gelap, dan akhirnya kita merasa lelah, sangat amat lelah.  Berbagai upaya yang kita lakukan seolah tidak ada lagi gunanya. Gagal lagi dan lagi, upaya itu justru semakin menyudutkan kita pada jurang ketidakberdayaan dalam menghadapi problematik kehidupan. 


Tanpa kita sadari sering kali kita berlari jauh, berputar-putar tanpa arah yang jelas dalam hidup ini. Belajar ke sana kemari. Berharap Allah bukakan jalan atas segala kesempitan yang pahit tapi kembali harus kita telan. Kita bersusah payah merayu agar masalah bisa ditaklukkan. Sayangnya, kita lupa untuk merayu-Nya. Bukankah Dia yang menggenggam kehidupan ini?


Ingatkah, pada sebuah doa indah yang acap kali kita baca sebelum belajar?


 رَضِيْتُ بِاللهِ رَبًّا، وَبِالإِسْلَامِ دِيْنًا، وَبِمُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَبِيًّا وَرَسُوْلًا


Artinya: “Kekasihku, aku sungguh rida Engkau sebagai Rabb-ku. Aku sungguh rida Islam sebagai agamaku, dan aku sungguh ikhlas Muhammad Rasulullah sebagai nabi dan rasul panutanku.” (HR. Ahmad)


Dari doa ini kita belajar bahwa Allah adalah Rabb kita. Dialah yang menciptakan kita dan menjadikan kita berada dalam dunia yang penuh tipu daya. Dia pula yang mengatur segalanya. Makhluk tanpa daya seperti kita bisa apa jika Allah telah memberikan ketetapan atas hidup kita?


Sebagai seorang yang beriman, ketika Allah berikan ujian maka hal utama yang harus kita lakukan adalah rida. Ini adalah kuncinya. Kita seringkali lupa, rida itu seolah cukup dengan ucapan di lisan, tapi sungguh keridaan letaknya ada di dalam hati. Penerimaan ini merupakan bentuk penghambaan kita yang lahir dari kekuatan iman.


Ketika kita rida, maka kita tidak akan menyalahkan keadaan atau pihak lain dalam menghadapi persoalan. Kita akan berusaha berlapang dada, tenang menghadapi berbagai macam kesempitan karena yakin Allah pasti akan memberikan pertolongan. 


Marilah kita kembali merenungi doa indah Nabi Musa yang juga sering kita panjatkan sejak kecil ini. 


 قَالَ رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي

وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي

وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي

يَفْقَهُوا قَوْلِي


Artinya: "Ya Rabb-ku, lapangkanlah dadaku, dan ringankanlah segala urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, agar mereka mengerti perkataanku." (QS. Thaha: 25-28)


Masyaallah, Nabi Musa mengajarkan kepada kita sebelum kita meminta dilapangkan urusan. Saat itu, kita terlebih dahulu harus meminta agar Allah melapangkan dada. Kelapangan ini merupakan makna dari penerimaan atau keridaan. Karena, ketika dada kita sudah lapang, maka tenanglah kita. Dan kita gantungkan harapan semata kepada-Nya. Tentu, akan mudah belajar memahami teka-teki hidup. 


Mari kita menghisab diri saat tengah merasa pada labirin masalah yang tidak berkesudahan. Padahal kita sudah berupaya melakukan bermacam cara. Benarkah kita telah menerima ketetapan-Nya dengan segenap hati? Sebuah penerimaan yang tidak lagi menyisakan kata tapi?  


Jika ketenangan dan keridaan telah kita miliki, insyAllah ini menjadi modal utama bagi kita untuk bisa merespon ujian. Sebagaimana respon yang Allah mau. Kita harus belajar untuk menjadi pribadi yang proaktif dengan memastikan bahwa kita telah memenuhi hak-hak Allah dalam menjalankan peran dalam kehidupan. 


Bukankah di dalam doa pertama di atas, setelah rida terhadap Allah, kita juga harus rida pada Islam sebagai agama kita dan Rasulullah Muhammad saw. sebagai teladan terbaik kita. Maka, di sinilah kita mengambil peran terbaik itu. Inilah bagian yang bisa kita upayakan.


Islam tidak mewajibkan kita harus ada pada kondisi tertentu. Misalnya, harus kaya atau miskin, punya suami idaman yang penuh pengertian atau suami yang memberikan kehidupan berkecukupan dan lain sebagainya. Namun, Islam mengajarkan agar kita merespon keadaan itu dengan cara-cara yang telah Allah tetapkan. 


Sebagai istri misalnya, sudahkah kita memosisikan diri menjadi makmum yang baik bagi suami kita? Benarkah kita telah mengupayakan yang terbaik untuk meraih ridanya sebagai jalan meraih keridaan Allah? Seberapa besar kesungguhan kita menerima kekurangannya dan tetap melayaninya sebab itu menjadi kewajiban yang telah Allah gariskan. 


Kita sering kali lupa. Kita pikir persoalan ini menemui titik terang, berharap orang lain melakukan perubahan. Tanpa kita sadari justru melakukan upaya yang menjauhkan kita dari pertolongan-Nya. Sebab, perubahan itu datangnya dari Allah saat kita merubah apa yang ada pada diri kita. 


Sebagaimana firman Allah Swt. dalam surah Ar-Ra'd ayat 11, "Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri."


Lelah memang, saat kita menggantungkan harapan pada manusia. Itu bentuk patah hati yang disengaja meski sering kali kita tidak menyadarinya. Kita tidak perlu fokus pada hal-hal di luar kendali kita. Sebab itu tidak akan pernah ada gunanya. Yang ada hanya menghabiskan energi kita secara sia-sia. 


Sekali lagi, tugas kita hanya memastikan bahwa kita menjalankan semua peran sebagaimana yang Allah minta. Sulit sekali pertolongan itu datang kalau kita mengkhianati-Nya. Bagaimana bisa kita mengaku beriman tapi enggan menjalankan hidup berdasarkan syariat-Nya? Bagaimana bisa kita mengharapkan pertolongan dari-Nya tapi hobi melalaikan kewajiban?


Ampuni kami, ya, Rabb. Kami begitu congkak karena tanpa sengaja menolak ketetapan-Mu dengan sikap-sikap kami.  Kami juga telah lama tidak menengadahkan tangan, meminta jalan atas setiap lika-liku hidup yang kami hadapi.


Kami lemah, ya, Rabb, teramat lemah tanpa daya yang Engkau beri. Maka kuatkanlah kami, lapangkanlah dada ini. Berikanlah kesempatan pada kami untuk berjalan pada milah yang Kau ridai. Bertumbuh di sana menjadi lebih baik dari hari ke hari agar dengan begitu, kemudahan hidup dunia dan akhirat juga menghampiri. Aamiin. Wallahualam bissawab. [Dara]

 Belajar dari Ketangguhan Anak-anak Palestina

Belajar dari Ketangguhan Anak-anak Palestina

Penanaman akidah yang kokoh sudah ditanamkan semenjak dini

Lantunan kalimat tahlil senantiasa ditancapkan sejak kecil

_____________________________________


Penulis Heni Ummufaiz 

Kontributor Media Kuntum Cahaya dan Pemerhati Umat



KUNTUMCAHAYA.com, NAFSIYAH - Palestina membara dunia pun ikut bersuara untuk membela. Tak terelakkan korban berjatuhan telah membukakan mata hati kita yang rentang wilayah begitu jauh. Mereka begitu tegar sekalipun tiap waktu anggota keluarga mereka meninggalkan.


Bahkan mereka rakyat Palestina dari mulai dewasa, pemuda dan anak-anak tak terlihat penyesalan ditakdirkan di negeri para Nabi yang terus digempur bom. Kita melihat mereka tegar, kuat dan tak sedikit wajah takut akan kesombongan Israel. Wajah-wajah tulus dan rida, ikhlas atas segala qada Allah yang akan menimpa. Karena dalam hati sudah terpatri keimanan yang kokoh dan syahid menjadi tujuan utama.


Kita bisa menyaksikan ucapan anak-anak Palestina yang dihantam serpihan bom, hingga sebagian tubuh mereka sakit saja terlantun adalah ucapan alhamdulillah. Lisan-lisan mereka tak henti dari zikir dan lantunan ayat suci Al-Qur'an. Keteguhan hati membuat kita di luar Palestina terkesima. Rasanya sungguh jauh kondisi dengan anak-anak kita di Indonesia. 


Bahkan sosok juru bicara Al-Qassam, Abu Ubaidah nyatanya telah menarik perhatian para muslimah di dunia akan ketaatan kepada Allah yang tak lepas dari Al-Qur'an. Sosok ini mampu mengalihkan para muslimah di dunia yang mengidolakan K-pop dan artis-artis Barat ke muslim yang taat.


Jika demikian, pasti kita akan bertanya apa yang membuat mereka begitu kuat dan kokoh dalam menghadapi berbagai macam penderitaan yang begitu dahsyat. Pendidikan apa yang mereka tanamkan oleh orang tuanya sehingga melahirkan generasi yang kuat dan sabar?


Pertama, penanaman akidah yang kokoh sudah ditanamkan semenjak dini. Lantunan kalimat tahlil senantiasa ditancapkan sejak kecil. Lihatlah bagaimana mereka saat keluar rumah senantiasa melafalkan kalimat tahlil terlebih mereka memahami kondisi negara mereka yang selalu diserang oleh Israel Laknatullah.


Kedua, pembiasaan dengan Al-Qur'an sejak dini sehingga mereka menjadi penghafal Al Qur'an. Dari negeri ini lahir orang-orang saleh nan militan seperti ulama-ulama di bawah ini: 

Imam Syafi'i.

Ibnu Qudamah.

Ibnu Ruslan.

Ibnul Muflih.

Ibnu Washif al-Ghazzi.

Zainuddin Yahya bin 'Alwi al-Hadhrami al-Andalusi.

Syamsuddin Muhammad bin Khalaf al-Ghazi.

Syamsuddin bin al-Ghazi.


Ketiga, karena kondisi yang terjajah, maka mereka anak-anak Palestina dewasa dan kuat karena keadaan. Tertancap kuat, sabar, qanaah, ikhlas atas kondisi yang dihadapinya sehingga ucapan syukur dan rida saat mereka menghadapi segala derita.


Keempat, Palestina yang di dalamnya ada Masjidil Aqsa dan termasuk negeri Syam yang senantiasa didoakan oleh Rasulullah saw. sangatlah wajar penduduknya termasuk di dalamnya anak-anak mendapatkan keberkahan.


Rasulullah pernah berdoa, “Ya Allah, berkahilah kami pada negeri Syam kami. Ya Allah, berkahilah kami pada negeri Yaman kami.” (HR. Bukhari)


Kelima, sejak dini orang tuanya sudah menanamkan jiwa berkorban untuk agamanya. Karena slogan yang mereka tanamkan adalah "hidup mulia atau mati syahid." Kita bisa melihat bagaimana mereka saat ada yang meninggal selalu terucap, "kapan giliranku ya Allah." Sebuah perkataan yang tulus dan ikhlas. 


Semoga dengan kita berkaca dari anak-anak, pemuda dan rakyat Palestina memberikan inspirasi untuk kita menjadi pribadi yang kuat, tangguh dan taat. Karena kita akan bersama menyongsong isyarah nubuwwah yakni Khilafah Islamiyyah yang memerlukan generasi militan dan bertakwa. Wallahualam bissawab. [SJ]

The Man Behind The Scene

The Man Behind The Scene

 


Ternyata wanita yang terkesan lemah gemulai tak berdaya dan seakan tak mampu berpikir panjang ternyata mempunyai peranan yang sangat penting, tak hanya berperan pada suami dan anak kandungnya, tapi juga bagi anak-anak generasi yang kelak akan turut mengubah peradaban.

_________________________


Penulis Arda Sya'roni 

Kontributor Media Kuntum Cahaya 


KUNTUMCAHAYA.com, NAFSIYAH - Dalam setiap gelar acara di atas panggung akan kita temui orang-orang yang bekerja di belakang panggung yang membantu suksesnya keberlangsungan acara tersebut. Mereka memang tak tampak, tapi kerja mereka sangat menentukan kesuksesan sebuah acara. Merekalah yang disebut orang-orang ”The man behind the scene” atau orang di belakang panggung. 


Selaras dengan orang-orang yang bekerja di balik panggung ini, kita pun sebagai wanita yang berperan baik sebagai istri sekaligus ibu adalah termasuk orang-orang di belakang panggung yang mendorong suksesnya orang-orang terkasih kita.


Wanita tercipta dari tulang rusuk pria, dimana tulang rusuk itu sendiri diciptakan bengkok untuk menjaga jantung tetap terlindungi. Karena sifatnya yang bengkok itulah, wanita cenderung untuk melangkah irasional, baper alias mudah terbawa perasaannya dan gegabah. Tak mudah untuk meluruskan rusuk yang bengkok ini, karena bila dipaksa maka akan patah, dan bila dibiarkan maka akan tetap bengkok. Dibutuhkan kesabaran dan kesalehan seorang pria untuk meluruskannya. 


Namun, dalam pepatah asing seringkali kita mendengar “Behind a great man, there is a great woman” yang artinya di belakang pria hebat terdapat seorang wanita yang hebat pula tentunya. Dengan demikian apakah arti seorang wanita bagi seorang pria?


Peran wanita sebagai istri


Wanita, mungkin secara fisik terlihat lemah dibandingkan pria, tetapi ternyata di balik kelemahan dan kelembutan wanita terdapat kekuatan yang sangat besar. Wanita bahkan memegang peranan penting bagi tumbuh kembang seorang anak pun bagi kesuksesan seorang suami. 


Sebagaimana telah diungkit sebelumnya bahwa di balik kesuksesan seorang pria, ada seorang wanita hebat yang senantiasa mendukungnya. Namun, sayangnya di balik kehancuran seorang pria pun, ternyata ada seorang wanita yang menyebabkan kehancuran itu. Bagaimana ini bisa terjadi?


Dalam sebuah hadis disebutkan, “Dunia adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah istri yang salehah.” (HR. Muslim dari Abdullah bin Amr)


Dalam hadis tersebut disebutkan bahwa istri salehah adalah sebaik-baik perhiasan dunia. Begitu berharganya istri salehah karena istri salehah bagaikan cahaya yang memberikan energi positif bagi suaminya. Istri salehah akan mendukung usaha suaminya dan membantunya untuk terus mengejar cinta Allah sehingga keluarga sakinah, mawadah, warahmah, insyaallah akan didapat.


Pernah ditanyakan kepada Rasulullah saw., “Siapakah perempuan yang paling baik?”

Jawab beliau, “Yaitu yang paling menyenangkan jika dilihat suaminya, menaati suami jika diperintah, dan tidak menyelisihi suami pada diri dan hartanya sehingga membuat suami benci.” (HR. An-Nasai dan Ahmad)


Dan seburuk-buruk perempuan di antara kalian adalah yang suka berdandan/berhias (ketika keluar rumah), sombong, merekalah perempuan-perempuan munafik. Mereka tidak masuk surga, kecuali seperti burung gagak bersayap putih (atau sangat langka).” (HR. Baihaqi dalam As-Sunan 7: 82)


Sebaliknya, wanita yang tak saleh hanya akan menyusahkan suaminya, menjerumuskan suami pada kemaksiatan dan kehancuran atau bahkan mengantarkan suami ke pintu neraka.


Peran wanita sebagai ibu


Selain berperan penting dalam kesuksesan suami, wanita sebagai ibu juga mempunyai peranan tak kalah penting. Ibu salehah tentu akan mencetak generasi saleh yang mampu berpikir cemerlang. Ibarat sebuah bayangan dan benda, maka bila benda lurus maka bayangan akan lurus, sebaliknya benda yang bengkok maka otomatis bayangannya pun akan menjadi bengkok. Ibu merupakan panutan yang akan ditiru sang anak. Hal ini karena anak bukanlah pendengar yang baik, melainkan peniru ulung yang akan meniru segala tingkah laku orang tuanya.


Berkata Syaikh Mahmud Al Basyir Al Ibrahimiy rahimahullah, “Apabila seorang wanita tidak mengetahui ilmu-ilmu agama niscaya dia akan menyusahkan suami, merusak anak dan membinasakan umat.” (Atsar Al Ibrahimiy, 4/49). 


Peran wanita bagi peradaban 


Wanita, yang kelak akan menjadi seorang ibu adalah pondasi bagi terwujudnya kebangkitan suatu peradaban. Ibu sebagai madrasah 'ula atau madrasah pertama dan utama bagi seorang anak tentu berpengaruh besar bagi terwujudnya anak yang saleh dan salehah. Maka, bila para ibu telah menjadi madrasah yang mencetak anak-anak saleh dan salehah, maka bisa dipastikan bahwa generasi gemilang dengan anak-anak saleh dan salehah yang memimpin umat akan bisa diwujudkan. Peradaban gemilang yang kita impikan akan terwujud nyata, bukan hanya cerita dongeng semata.


Ternyata wanita yang terkesan lemah gemulai tak berdaya dan seakan tak mampu berpikir panjang ternyata mempunyai peranan yang sangat penting, tak hanya berperan pada suami dan anak kandungnya, tapi juga bagi anak-anak generasi yang kelak akan turut mengubah peradaban.

Wallahualam bissawab. [SJ]

Don't Worry Be Happy

Don't Worry Be Happy

 


Setiap muslim pada hakekatnya akan selalu bahagia bila iman telah tertanam kokoh dalam hatinya. Bagaimana tidak bahagia, bila mampu bersabar akan takdirnya maka dosanya akan dihapus dan pahala akan didapat. Bila dia bersyukur atas segala nikmat yang diberikan maka pahala akan didapat. Dan bila dia rida akan ketetapan yang digariskan maka pahala pun akan didapat


Penulis Arda Sya'roni 

Kontributor Media Kuntum Cahaya 


KUNTUMCAHAYA.com, NAFSIYAH - Bahagia tentu merupakan hal yang didamba setiap manusia. Beberapa orang mencari kebahagiaan dengan bersenang-senang dan berfoya-foya, sebagian dengan mencari ketenaran berupa jabatan, prestasi ataupun sekedar membuat dirinya viral di media sosial. Namun, sebagian orang bahagia hanya dengan memberikan kebahagiaan kepada sesama, cukup sekedar hidup layak atau malah menjadi benalu bagi yang lain. 


Lalu, apa sih makna bahagia menurut sobat salehah? Apakah dengan menjadi kaya, tenar, mempunyai gelar berderet, mempunyai jabatan mentereng, bisa melakukan apapun sesuka hati tanpa ada yang melarang atau hanya sesederhana bisa hidup tenang dan damai?


Andaikata kekayaan, ketenaran, kecantikan, kepandaian bisa membuat kita bahagia, maka tentu saja tidak akan kita jumpai selebriti yang bunuh diri. Tidak pula kita temui tokoh ataupun ilmuwan yang berakhir di Rumah Sakit Jiwa karena stres. 


Lantas, apakah dengan liburan panjang maka stres akan hilang dan menjadi bahagia? Ataukah dengan berwisata ke berbagai wilayah bahkan hingga berkeliling dunia, hidup menjadi otomatis bahagia? Ataukah bahagia bisa diraih dengan kehidupan gemerlap dunia malam, kongkow dengan teman satu circle, juga menenggak minuman keras dan narkoba?


Jadi, apakah makna bahagia sesungguhnya itu?


Makna Bahagia


Bahagia tidak bisa dicari karena bahagia itu diciptakan. Kita sendirilah yang harus menciptakan bahagia itu. Adapun kesenangan dengan dalih untuk mencari kebahagiaan, hanyalah bersifat semu semata. Bahagia yang mereka cari dengan kesenangan dunia dan jauh dari rida Allah hanyalah sesaat saja mereka rasakan. Mereka hanya mencoba untuk lari dari permasalahan yang menimpa mereka dan tak pernah berusaha untuk menyelesaikan masalah tersebut. Hati mereka tetaplah terasa hampa. Kebingungan akan tetap melanda. Meski mungkin berbagai jalan kesenangan telah mereka tempuh.  


Andaikata manusia mau memahami setiap masalah yang menimpa, pastilah manusia akan menemukan pesan yang Allah sampaikan. Setiap muslim pada hakekatnya akan selalu bahagia bila iman telah tertanam kokoh dalam hatinya. Bagaimana tidak bahagia, bila mampu bersabar akan takdirnya maka dosanya akan dihapus dan pahala akan didapat. Bila dia bersyukur atas segala nikmat yang diberikan maka pahala akan didapat. Dan bila dia rida akan ketetapan yang digariskan maka pahala pun akan didapat. Enak, bukan?


Seorang muslim semestinya yakin bahwasanya setiap beban yang Allah berikan tidaklah mungkin di luar batas kemampuan masing-masing dari diri kita, seperti dalam firman Allah Swt. dalam surat Al-Baqarah: 286, yaitu:


لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya”


Sabar


Sabar merupakan salah satu kunci kebahagiaan. Saat seorang hamba telah rida akan takdir Allah dan bersabar dalam menghadapinya, maka rida Allah pun akan turun dan pahala didapat. Sabar, mungkin kata ini sering kita dengar saat kita berada dalam kesusahan. Sabar, memang mudah diucapkan, tapi terasa berat untuk dilaksanakan. Namun, meski berat dilakukan, inilah satu-satunya penolong bagi kita untuk terhindar dari kemaksiatan yang akan timbul dari ketidaksabaran kita. 


Bukankah Allah telah menegaskan dalam firmanNya dalam surat Al-Baqarah: 45, yaitu:


وَاسْتَعِينُواْ بِالصَّبْرِ وَالصَّلاَةِ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلاَّ عَلَى الْخَاشِعِينَ

“Jadikanlah sabar dan salat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu.”


Sedang dalam Al-Qur'an surat Al-Baqarah: 153 disebutkan,


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اسْتَعِينُواْ بِالصَّبْرِ وَالصَّلاَةِ إِنَّ اللّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

”Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan salat sebagai penolongmu. Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar”.


Syukur


Kunci lain dalam meraih kebahagiaan adalah dengan selalu bersyukur meski mungkin takdir tidak sesuai dengan ekspektasi. Yakin bahwa setiap takdir adalah sebuah kebaikan karena tidak mungkin Allah akan menzalimi hambaNya. Dalam Surat Ibrahim: 7 Allah berfirman,


وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmatKu), maka sesungguhnya azabKu sangat pedih.”


Istighfar 


Istighfar merupakan salah satu wujud seorang hamba mengakui dosa-dosanya dan mengharap pengampunan dari Sang Khalik. Istighfar akan mempermudah jalan kita dalam menempuh kehidupan yang penuh ujian ini. Salah satu dalil keutamaan istighfar adalah :


“Barangsiapa memperbanyak Istighfar (mohon ampun kepada Allah), niscaya Allah menjadikan untuk setiap kesedihannya jalan keluar, dan untuk setiap kesempitannya kelapangan, dan Allah akan memberinya rezeki (yang halal) dari arah yang tidak disangka-sangka.” (HR. Abu Daud)


Jadi, kenapa kita merasa tak bahagia bila kita telah mengetahui nikmat dan rahmat Allah yang begitu besar? Yuk, kita ciptakan bahagia kita sendiri dengan selalu sabar, syukur dan istighfar serta rida akan takdir Allah. Wallahualam bissawab. [MDEP]