Alt Title

Ketika Kapitalisme Mengubah Anak yang Amanah Menjadi Beban

Ketika Kapitalisme Mengubah Anak yang Amanah Menjadi Beban


Ketika kehidupan manusia hanya diukur dari sisi ekonomi

tanpa berlandaskan nilai‑nilai Islam secara menyeluruh, rasa amanah, kasih sayang, dan keyakinan kepada Allah akan makin melemah

_______________________


Penulis Fitri Yani

Kontributor Media Kuntum Cahaya 


KUNTUMCAHAYA.com, OPINI - Pada hari Sabtu, tanggal 31 Oktober 2026, di sebuah toilet umum di kawasan Pasar Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, terjadi peristiwa yang sungguh mengerikan dan menyayat hati.


Seorang bayi mungil yang baru berusia 20 bulan, yang seharusnya hidup dalam pelukan kasih sayang kedua orang tuanya, justru berakhir nyawanya di tangan ayah tirinya sendiri, sementara ibu kandungnya membiarkan hal itu terjadi.

 

Pelaku keji ini adalah AR, seorang pemuda berusia 22 tahun yang merupakan ayah tiri dari korban, dan JM, ibu kandung korban yang berusia 19 tahun. Pasangan ini sebenarnya memiliki dua orang anak, dan sayangnya anak yang paling kecil inilah yang menjadi korban kebrutalan mereka.

 

Dalam proses rekonstruksi yang dilakukan oleh pihak kepolisian, terungkaplah betapa kejamnya perlakuan tersebut. Dengan nada yang terasa begitu dingin, AR menceritakan bagaimana ia berulang kali menenggelamkan tubuh kecil si bayi ke dalam ember yang penuh berisi air. Ia bahkan menghitung dengan tenang, lalu menekan tubuh mungil itu ke dalam air, mengangkatnya kembali sesaat, dan melakukannya lagi berulang kali hingga si kecil yang tak berdaya itu akhirnya muntah-muntah dan tidak lagi berdaya.

 

Bayi itu belum bisa berbicara, belum bisa melawan, bahkan belum tahu apa-apa di dunia ini. Namun orang-orang yang seharusnya menjadi pelindungnya justru menjadi pembunuhnya sendiri. Setelah memastikan nyawa anak itu telah tiada, keduanya tidak berusaha mencari pertolongan, tidak menangis, dan tidak merasa bersalah.


Mereka hanya membungkus jenazah mungil itu dengan kantong plastik biasa, berjalan kaki cukup jauh hingga ke daerah Bendungan Hilir di Jakarta Pusat, lalu menguburkannya di sebidang tanah kosong tanpa penghormatan yang layak. (cnnindonesia.news, 20-11-2026)

 

Saat ditanya apa alasan yang membuat mereka tega melakukan hal yang tidak terbayangkan ini, jawabannya sungguh membuat siapa pun merasa sedih sekaligus marah. Mereka mengaku membunuh anak kandungnya sendiri karena merasa tidak sanggup membiayai kebutuhan hidup si kecil. Sebuah alasan yang sama sekali tidak dapat dibenarkan, baik di mata hukum maupun di sisi agama.

 

Kini, kedua pelaku telah ditetapkan sebagai tersangka oleh pihak kepolisian. Mereka dijerat dengan Undang-Undang Perlindungan Anak serta pasal-pasal terkait dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana. Proses penyelidikan masih terus berjalan untuk memastikan segala sesuatunya terungkap dengan jelas, dan jenazah korban telah dibawa ke rumah sakit untuk menjalani proses autopsi guna melengkapi berkas perkara ini.

 

Peristiwa kematian bayi 20 bulan bukan hanya kesalahan dua orang pelaku saja. Namun, menunjukkan titik lemah dari tatanan sosial‑ekonomi yang berjalan di bawah pengaruh sistem kapitalisme.

 

Pertama, sistem ini sangat menekankan bahwa kebutuhan hidup harus dibayar dengan uang. Bagi keluarga berpenghasilan rendah, biaya sehari‑hari, perawatan anak, dan biaya kesehatan terus terasa berat. Ketika negara tidak memberikan jaminan hidup yang cukup, beban seluruhnya jatuh ke pundak keluarga sendiri. 

 

Kedua, logika kapitalisme sering menilai manusia dari kemampuan menghasilkan uang. Anak yang belum bisa bekerja kadang dipandang sebagai beban, bukan amanah atau anugerah. Cara pandang ini perlahan‑lahan mengikis rasa tanggung‑jawab batin, sehingga muncul pikiran keliru, lebih baik dihilangkan daripada menambah biaya.

 

Ketiga, perlindungan sosial belum menjangkau secara cepat. Di dalam sistem yang lebih mengutamakan keuntungan, layanan bantuan seringkali menjadi pilihan kedua, bukan kewajiban utama negara. Keluarga yang tertekan ekonomi tidak mudah menemukan tempat meminta bantuan sebelum masalah menjadi darurat besar.

 

Menurut pandangan Islam, anak adalah amanah dari Allah dan rezeki anak sudah dijamin oleh‑Nya. Jika sistem membuat orang lupa hal itu, berarti sistem tersebut sudah menjauh dari nilai‑nilai keadilan.


Dalam sistem yang berpusat pada uang dan kemampuan ekonomi, manusia perlahan‑lahan terbiasa menilai hidup dari segi biaya dan keuntungan. Alhasil, muncul pikiran keliru bahwa anak yang belum dapat menghasilkan uang adalah beban yang harus dihindari. Padahal dalam Islam, anak adalah amanah suci yang dititipkan Allah kepada orang tua, bukan barang yang boleh dibuang ketika menghadapi kesulitan.


Selain akidah yang benar, Islam juga membangun sistem solidaritas antar sesama umat yang utuh, sebagaimana QS. Al‑Ma’idah ayat: 2 yang artinya: "Dan tolong‑menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan janganlah tolong‑menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran."


Dalam Islam, ketika ada keluarga yang tertekan ekonomi, kerabat, jamaah masjid, dan masyarakat sekitar seharusnya peka sejak awal, lalu membantu melalui zakat, infak, sedekah, serta memberikan bimbingan dan nasihat, bukan membiarkan mereka menanggung semuanya sendirian. Dalam sistem kapitalisme modern, bantuan sosial sering dianggap sebagai urusan pribadi atau sekadar amal sukarela saja, sedangkan dalam Islam, saling menolong adalah kewajiban yang harus berjalan secara teratur.


Lebih dari itu, negara dalam Islam memiliki peran penting melalui Baitulmal untuk menjamin kebutuhan dasar warga yang benar‑benar tidak mampu, melakukan pemantauan terhadap keluarga yang sedang tertekan, serta menyediakan akses konseling dan bantuan sebelum masalah menjadi darurat. Kemudian apabila sudah terjadi kejahatan. Negara wajib menegakkan hukum secara adil sesuai syariat.


Solusi Islam bukan hanya menghukum setelah tragedi terjadi, melainkan membangun jaring perlindungan menyeluruh. Mulai dari akidah yang benar di hati individu, tanggung jawab keluarga, solidaritas jamaah, peran Baitulmal negara, pencegahan dini, hingga penegakan hukum yang tegas.


Dengan demikian, tragedi ini menjadi pelajaran besar bahwa ketika kehidupan manusia hanya diukur dari sisi ekonomi, tanpa berlandaskan nilai‑nilai Islam secara menyeluruh, rasa amanah, kasih sayang, dan keyakinan kepada Allah akan makin melemah. Islam menawarkan sistem utuh yang menjaga nyawa manusia sejak awal, bukan hanya menangani setelah nyawa itu hilang. Wallahualam bissawab. [Dara/MKC]