Alt Title

Santri, Pengemban Peradaban Islam Masa Depan

Santri, Pengemban Peradaban Islam Masa Depan


Dalam kerangka pendidikan Islam

santri berperan lebih luas dalam mengkoordinasikan potensi umat, melindungi masyarakat dari penindasan, dan menerapkan hukum Islam 

__________________


Penulis Nurhy Niha

Kontributor Media Kuntum Cahaya


KUNTUMCAHAYA.com, OPINI- Kamis, 22 Oktober 2026 diperingati sebagai Hari Santri. Tahun ini, tema Hari Santri Nasional yang ditetapkan Kementerian Agama RI adalah “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas.”


Tema ini menegaskan peran santri dalam membangun Indonesia sebagai generasi kreatif, berilmu, dan berakhlak mulia. Peringatan Hari Santri Nasional tidak boleh berhenti sekadar menjadi agenda rutinitas tahunan, melainkan harus menjadi momentum strategis untuk menegaskan kembali komitmen santri bagi masa depan bangsa.


Dilansir dari detik.com (22-10-2026), Menteri Agama meluncurkan lima program pesantren, termasuk SAFESANTRI untuk merespons kekerasan dan skema Rekognisi Ijazah untuk pengakuan hukum pendidikan santri. Selain itu, Kemenag menggulirkan program Pesantren Adaptif yang menekankan penguasaan AI, STEM, dan kemandirian ekonomi. 


Program Pesantren Adaptif dan SAFESANTRI diharapkan mampu menjawab tantangan era digital sekaligus menciptakan lingkungan belajar yang aman dari segala bentuk kekerasan. Penguasaan bidang STEM dan teknologi kecerdasan buatan (AI) menjadi instrumen penting agar santri dapat bersaing di tingkat global tanpa kehilangan pijakan moral keislamannya.


Potensi dan Ancaman Dakwah Digital


Kementerian Agama RI mencatat jumlah santri telah mencapai 4.634.406 jiwa. Jumlah ini merupakan modal sosial yang besar bagi masa depan bangsa sekaligus dasar dalam menyusun kebijakan yang tepat sasaran. Jumlah santri yang mencapai jutaan jiwa harus dikelola secara terstruktur agar mampu menjadi pendorong utama kemajuan sosial dan ekonomi masyarakat.


Di sisi lain, teknologi digital membantu para dai menyebarkan pesan Islam dan perdamaian kepada masyarakat luas. Namun, perkembangan tersebut perlu diarahkan agar tidak menggeser fungsi utama pesantren. Dorongan komersialisasi dan kurikulum modern yang terlalu padat berisiko mengurangi perhatian terhadap pendalaman kitab-kitab klasik dan penciptaan kader ulama. Integrasi kurikulum modern perlu dirancang secara seimbang agar fokus utama santri dalam mendalami ilmu-ilmu syariat (tafaqquh fiddin) tidak tergerus oleh tuntutan materialistis.


Masalah tersebut semakin rumit ketika peringatan Hari Santri lebih banyak diisi kegiatan seremonial. Padahal, momentum ini seharusnya menjadi kesempatan untuk mengenang perjuangan ulama dan mengevaluasi kualitas pendidikan santri. Evaluasi mendalam terhadap mutu pendidikan pesantren harus menjadi agenda utama agar momentum Hari Santri memberikan dampak nyata dan berkelanjutan.


Selain itu, kasus perundungan dan kekerasan yang masih terjadi menunjukkan perlunya penguatan sistem perlindungan serta pembinaan moral secara tegas. Penerapan aturan yang tegas serta pengawasan berkala di lingkungan pesantren sangat mutlak diperlukan untuk menjamin rasa aman dan kenyamanan para santri dalam menuntut ilmu. Tantangan santri juga mencakup pentingnya membangun wawasan kebangsaan yang selaras dengan kepekaan terhadap persoalan umat Islam secara global.


Pergeseran Fokus Pendidikan dan Tekanan Ekonomi


Saat ini, pendidikan cenderung diukur dari seberapa siap lulusannya masuk ke dunia kerja. Jika keberhasilan pendidikan hanya dinilai dari kebutuhan pasar, tradisi keilmuan Islam dan pembentukan karakter santri akan makin melemah. Padahal, tujuan utama pesantren bukan sekadar mencetak pekerja, melainkan membentuk kepribadian yang beriman dan berakhlak mulia.


Bahaya lain yang tidak kalah serius adalah arus sekularisme, yaitu paham yang memisahkan agama dari kehidupan sehari-hari. Paham ini membuat sebagian orang menganggap ilmu agama hanya berlaku di dalam bilik pesantren dan tidak perlu dipakai dalam mengatur kehidupan masyarakat atau bernegara. Akibatnya, santri rentan kehilangan arah perjuangan dan ikut-ikutan mengejar materi semata.


Masalah ini diperparah oleh realitas ekonomi. Saat ini, makin sedikit santri yang bercita-cita menjadi ulama atau ustadz karena kekhawatiran akan masa depan finansial. Profesi pendidik agama sering kali dipandang kurang menjanjikan secara ekonomi, sehingga banyak santri yang lebih memilih jalur karier populer demi memenuhi kebutuhan hidup. Jika masalah kesejahteraan ulama ini terus dibiarkan, kita akan krisis tokoh agama yang berkualitas di masa depan.


Mengembalikan Fungsi Utama Santri


Dalam Islam, santri dipersiapkan menjadi penuntut ilmu yang mendalam pemahamannya. Allah Swt. berfirman dalam surah Al-Mujadilah ayat 11, yang artinya: “Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”


Ulama memiliki tanggung jawab untuk menjaga ajaran Islam agar tetap dipahami serta diamalkan di tengah perubahan zaman. Pemahaman yang mendalam terhadap ajaran Islam akan mendorong santri untuk memiliki kepedulian sosial yang tinggi, baik terhadap isu-isu lokal maupun penderitaan umat Islam di tingkat internasional. 


Hal di atas selaras dengan sabda Rasulullah saw. dalam hadis yang diriwayatkan Muslim: “Perumpamaan orang-orang yang beriman dalam hal saling mencintai, menyayangi, dan mengasihi adalah bagaikan satu tubuh; apabila salah satu anggota tubuh sakit, maka seluruh tubuh akan ikut merasakannya dengan tidak tidur dan demam.”


Hadis tersebut mengajarkan pentingnya kepedulian terhadap sesama Muslim di berbagai belahan dunia. Cita-cita tersebut tentu akan sulit diwujudkan jika umat terus terpecah oleh batas-batas kebangsaan yang sempit.


Maka, menuju persatuan umat membutuhkan kepemimpinan umum yang menaungi seluruh umat sebagaimana ditegaskan dalam nilai-nilai Islam. Allah Swt. berfirman dalam Surah Al-Anbiya ayat 92, yangartinya: “Sungguh, agama tauhid ini adalah agama kamu, agama yang satu, dan Aku adalah Tuhanmu, maka sembahlah Aku.”


Dengan kerangka tersebut, santri dapat berperan lebih luas dalam mengkoordinasikan potensi umat, melindungi masyarakat dari penindasan, dan menerapkan hukum Islam. Melalui persiapan yang matang, santri tidak hanya siap bekerja, tetapi juga mampu menjaga ajaran Islam dan mewujudkan peradaban yang adil serta beradab.


Dengan perpaduan kuat antara penguasaan sains digital dan keteguhan karakter islami, santri siap tampil sebagai penggerak utama dalam mewujudkan peradaban dunia yang berkeadilan. Wallahualam bissawab. [EA/MKC]