Alt Title

Kebiadaban Isra*l akan Terus Berulang, Selama Umat Muslim Enggan Bersatu

Kebiadaban Isra*l akan Terus Berulang, Selama Umat Muslim Enggan Bersatu


Untuk menghentikan penjajahan yang ada di P4lestina

umat harus mampu menghadirkan kepemimpinan yang berpegang teguh pada Al-Quran dan As-Sunnah yakni seorang khalifah

__________________


Penulis Rosita

Tim Media Kuntum Cahaya dan Pegiat Literasi


KUNTUMCAHAYA.com, OPINI- Derita Rakyat P4lestina Seakan Tiada Akhir
Derita masyarakat P4lestina seakan tiada henti. Setelah menghancurkan bangunan dan fasilitas umum, kini penjajah Isra*l meratakan lahan pertanian buah zaitun di kota Beit Rima, Barat laut Ramallah.


Akibatnya, lebih dari 400 pohon zaitun hancur hanya beberapa hari sebelum dimulainya panen tahunan. Penghancuran ini sudah menjadi target operasi militer untuk menghancurkan sumber daya lokal dan perekonomian P4lestina.


Zaitun adalah tulang punggung pertanian Palestina karena banyak menyumbang lapangan pekerjaan dan juga sebagai simbol budaya. Pohon zaitun bukan hanya dihancurkan saat akan dipanen tetapi mereka mencabut pohon sampai ke akar-akarnya. Biadabnya lagi, mereka juga mencabuti pohon zaitun yang baru ditanam. Penyerangan ini bukan hanya dilakukan oleh tentara, melainkan dilakukan oleh sekelompok pemukim Isra*l, mereka menyerang warga lokal dengan semprotan merica. (CNN Indonesia, 25-09-2026)


Serangan Zion*s Isra*l ini bukan hanya kepada petani zaitun P4lestina saja, tetapi mereka juga melakukan tindakan kekerasan dan penyerangan terhadap delegasi dari sejumlah misi diplomat Eropa dan para jurnalis. Amerika Serikat dan Perwakilan Tinggi Uni Eropa untuk Urusan Luar Negeri dan Kebijakan Keamanan, Kaja Kallas mengecam dan menekan perlunya memastikan akuntabilitas penuh bagi pihak-pihak yang bertanggung jawab atas serangan tersebut. Namun sayangnya, kecaman ini tidak diikuti dengan tindakan apapun. (Antara.com, 19-10-2026)


Hanya Sebatas Kecaman Tidak Ada Wujud Nyata


Serangan ini memiliki tujuan tertentu yakni untuk menghancurkan perekonomian, akar budaya, tekanan psikologis dan fisik terhadap warga sipil P4lestina. Aksi perusakan ribuan pohon zaitun pun terus meningkat setiap tahunnya. Selain itu, mereka juga ingin memuluskan perluasan wilayah permukiman ilegal Israel.


Penyerangan dan penahanan terhadap jurnalis, aktivis, diplomat oleh pihak Isra*l merupakan rangkaian insiden berulang yang dilakukan untuk membungkam para jurnalis supaya penjajahan dan kejahatan yang ada di P4lestina tidak terekspos kepada dunia. 


Adapun kepedulian Amerika Serikat serta Uni Eropa terhadap perusakan pohon zaitun tidak lepas dari sebab adanya penyerangan pada warga negara AS dan para diplomat EU bukan semata-mata karena peduli pada warga sipil P4lestina. Kepedulian itu mustahil mengingat hampir puluhan tahun P4lestina dibombardir, mereka hanya bisa mengecam tanpa bertindak untuk mengusir penjajah dari bumi P4lestina. 


Padahal, kebrutalan Isra*l terhadap P4lestina telah banyak mengundang kebencian warga dunia. Namun, tetap saja tidak ada perubahan berarti terkait kondisi P4lestina. Buktinya, penindasan terhadap warga Palestina terus berlanjut. Ini semua disebabkan oleh sistem yang ada yakni kapitalisme sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan sehingga kaum muslim tersekat-sekat oleh negara dan bendera.


Diamnya para penguasa muslim terutama bangsa Arab serta pengkhianatan mereka dengan menjadi kaki tangan Isra*l, menandakan bahwa sistem kapitalisme sekuler sungguh sangat merusak bagi kehidupan dan persatuan kaum muslim dan juga alam semesta.


Pembebasan P4lestina: Menyatukan Kekuatan Kaum Muslim


Tanah P4lestina (kawasan Syam/Kan’an) sesungguhnya adalah tanah kaum muslim dan memiliki posisi istimewa dalam Islam yang harus dipertahankan. Ia merupakan tempat tinggal dan berdakwah bagi banyak nabi yang dihormati dalam Islam. Selain itu, wilayah P4lestina secara historis berada di bawah kekuasaan pemerintahan muslim selama berabad-abad, dimulai sejak pembebasan Baitul Maqdis pada masa Khalifah Umar bin Khattab sekitar tahun 637 M (16 Hijriah), serta pembebasan kembali oleh Shalahuddin al-Ayyubi pada tahun 1187 M dari Tentara Salib.


Kehancuran P4lestina saat ini menunjukkan bahwa umat Islam tidak memiliki kekuatan yang dapat menyatukan umat di seluruh dunia. Oleh karena itu, umat Islam tidak bisa menggantungkan nasib pada pembelaan siapapun. Buktinya, sampai saat ini dunia hanya mampu mengecam sebatas slogan-slogan. Namun, tidak ada tindakan yang nyata sehingga penjajah Isra*l makin hari makin menjadi.


Membebaskan P4lestina tidak cukup hanya dengan slogan-slogan, tetapi perlu dengan tindakan yang nyata. Berkaca kepada apa yang dicontohkan oleh Khalifah Umar bin Khattab dan juga Khalifah Shalahuddin al-Ayyubi. Kedua Khalifah ini menyatukan seluruh kekuatan kaum muslim yang terpecah-pecah di bawah satu komando. 


Negara yang menerapkan sistem kapitalisme sekuler mustahil akan mampu menyatukan kaum muslim di bawah satu kepemimpinan. Sebab pada dasarnya sistem kapitalisme sekuler hanya berlandaskan asas manfaat semata. Berbeda dengan sistem Islam yang memiliki tujuan untuk menyatukan umat di seluruh dunia yakni dengan menerapkan seluruh syariat Islam secara sempurna yang bersumber dari Al-Quran dan As-Sunnah. 


Allah Swt. berfirman, yang artinya: "Dan hendaklah engkau memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah engkau mengikuti keinginan mereka." (TQS. Al-Maidah ayat 49)


Oleh karena itu, untuk menghentikan penjajahan yang ada di P4lestina, umat harus mampu menghadirkan kepemimpinan yang berpegang teguh pada Al-Quran dan As-Sunnah yakni seorang khalifah. Di bawah kepemimpinannya akan dikirim tentara-tentara kaum muslim untuk mengusir penjajah Isra*l.


Semua itu hanya akan terwujud dalam naungan sistem kepemimpinan Islam, melalui tegaknya Daulah Khil4fah sebagaimana dicontohkan oleh para sahabat dan para pemimpin umat Islam. Wallahualam Bissawab.[EA/MKC]