Alt Title

Awal Hijrahku: Ketika Memanggilku dalam Mimpi

Awal Hijrahku: Ketika Memanggilku dalam Mimpi


Untuk teman-teman yang masih menunda hijrah

jangan tunggu mimpi seperti aku jangan tunggu dipanggil baru sadar

___________________


Penulis Ummu El

Kontributor Media Kuntum Cahaya 


KUNTUMCAHAYA.com, INSPIRASI - Dulu aku pikir hidup ini masih panjang. Aku masih sibuk dengan dunia. Tertawa, lalai, menunda taubat. Aku pikir kematian itu masih jauh, ternyata tidak. Suatu malam, Allah menegurku dengan cara yang tidak pernah aku bayangkan. Aku bermimpi, aku meninggal.


Dalam mimpi itu sangat nyata. Aku melihat diriku sendiri terbujur kaku. Dingin. Tidak bisa bergerak. Aku melihat orang-orang memandikanku. Air itu disiramkan ke tubuhku, tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa. Aku melihat diriku dikafani. Kain putih yang dulu sering aku hindari untuk membicarakan kematian, kini membungkus seluruh tubuhku.


Dan yang paling membuatku gemetar, saat aku hendak dimasukkan ke liang lahat. Gelap. Sempit. Sendirian. Di saat itulah aku terbangun. Nafasku sesak, keringat membasahi seluruh tubuh, jantungku berdegup kencang. Aku menangis, lama sekali.


Di kamar yang sepi itu, baru aku sadar. Ternyata kain kafan itu tidak butuh ukuran badan. Ia selalu siap. Ternyata liang lahat itu tidak menunggu kita siap. Ia selalu terbuka. Malam itu Allah masih memberiku kesempatan kedua. Aku yang tadinya mati dalam mimpi, Allah bangunkan kembali dalam nyata. Bukan untuk kembali ke maksiat yang sama, tapi untuk pulang.


Sejak malam itu, aku berjanji. Aku ingin pulang sebelum dipulangkan. Aku ingin berhijab sebelum dikafani. Aku ingin mengaji sebelum dimandikan. Aku ingin taat sebelum dishalatkan. Itulah awal hijrahku. Bukan karena aku baik, tapi karena Allah masih sayang padaku. Allah menegurku dengan mimpi, karena mungkin jika dengan musibah, aku tidak akan sanggup.


Untuk teman-teman yang masih menunda hijrah, jangan tunggu mimpi seperti aku. Jangan tunggu dipanggil baru sadar. Karena belum tentu setelah mimpi itu kita masih diberi kesempatan terbangun. Hijrahlah, selagi Allah masih beri kita napas untuk bertaubat.


Tapi ternyata, hidayah itu tidak berhenti di air mata malam itu. Beberapa hari setelah mimpi itu, dalam keadaan hati yang masih goncang, Allah kirimkan seorang teman yang namanya Teh Ause. Dia datang dan mengajak dengan lembut, "Teh, ikut ngaji yuk ke DTA Al-Fatih,"


Tanpa pikir panjang aku ikut. Langkah kaki terasa berat, tapi hati terasa ditarik. Dan disanalah takdir indah itu Allah pertemukan. Aku dipertemukan dengan ustazah-ustazah pengemban dakwah Islam kaffah. Awalnya ku kira ngaji itu hanya tentang halal-haram, tentang memperbaiki salat dan bacaan Qur'an. Ternyata lebih dari itu.


Mereka bukan hanya memberi ilmu. Mereka membina. Mereka merangkul. Mereka tidak menghakimi masa laluku yang berantakan. Mereka sabar menuntunku, menemukan jati diri yang selama ini hilang. Di kajian itu aku baru paham, ternyata Islam itu tidak setengah-setengah. Islam itu kafah. Islam itu tidak hanya mengatur cara memandikan jenazah, tapi juga mengatur bagaimana seharusnya hutan dijaga, bagaimana negara diurus, bagaimana hidup ini harusnya ditata dengan syariat secara menyeluruh.


Dari yang awalnya aku hanya takut mati, kini aku jadi paham untuk apa aku hidup. Dulu aku mencari jati diri di tempat yang salah. Di fashion, di validasi manusia, di dunia yang semu. Di DTA Al-Fatih, bersama ustazah-ustazah itu, aku menemukan jati diriku yang sebenarnya: aku adalah hamba Allah, seorang muslimah yang punya peran besar untuk dakwah.


Jika malam itu Allah membangunkan ku dari kematian dalam mimpi, maka di DTA Al-Fatih Allah benar-benar membangunkanku dari kematian hati yang sesungguhnya. Terima kasih ya Allah. Telah Kau pertemukan aku dengan mimpi itu, dan Kau pertemukan aku dengan orang-orang salih yang menuntunku pulang. Wallahualam bissawab. [Dara/MKC]