Ledakan Kecerdasan AI dan Akal Manusia
OpiniMaka dari itu, ChatGPT sangat cocok digunakan sebagai alat bantu seperti kalkulator atau kamus
Ia bukan sumber kebenaran, apalagi dalam isu krusial seperti pendidikan, riset, keuangan, dan terlebih lagi agama
_________________
Penulis Desti Sundari
Kontributor Media Kuntum Cahaya dan Muslimah Ibu Generasi
KUNTUMCAHAYA.com, OPINI- Gempar tahun ini tidak datang dari film fiksi ilmiah, melainkan dari laboratorium yang membuatnya. Riset yang baru diterbitkan Cambridge Programme on AI Science & Policy (CASP) pada 28 September lalu, ditandatangani 22 peneliti termasuk Geoffrey Hinton dan Yoshua Bengio, mendesak pembuat kebijakan untuk bertindak sekarang.
Pemicunya adalah skenario "ledakan kecerdasan" ketika AI yang mengotomatisasi riset dan pengembangan AI itu sendiri memanfaatkan kemajuan bertahun-tahun menjadi hitungan bulan atau minggu. (cnnindonesia.com, 30-09-2026)
Walaupun AI memberikan manfaat besar terutama di sektor medis dan teknologi, ia juga membawa tiga ancaman serius, yakni serangan biologis dan siber, terpinggirkannya peran manusia, hingga memicu konflik dan perang antarnegara.
Perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau AI hari ini telah memberikan kemudahan yang luar biasa bagi kehidupan manusia. Mulai dari membantu pekerjaan, pendidikan, kesehatan, hingga dakwah. Namun, pada saat yang sama ia juga menyimpan bahaya yang tidak kalah besarnya.
AI pada hakikatnya adalah alat yang netral, ia bisa digunakan untuk kebaikan seperti menyebarkan ilmu yang bermanfaat, memudahkan urusan umat, dan mempercepat inovasi. Namun, pada sisi yang lain sangat mungkin juga diselewengkan untuk kejahatan, seperti penipuan, penyebaran fitnah dan hoaks, pembajakan privasi, pornografi, hingga senjata untuk menindas dan merusak. Karena itulah, ledakan kecerdasan buatan yang tumbuh tanpa kendali akidah dan tanpa dibingkai oleh syariat Islam sangat berisiko menyeret manusia pada kehancuran.
Ketika AI dilepaskan dari nilai tauhid, dari rasa takut kepada Allah dan dari etika halal-haram. Maka, AI bukan lagi menjadi pelayan manusia, melainkan berpotensi menjadi tuhan baru yang menyesatkan, yang mengikis empati, mematikan keberkahan kerja, dan menjauhkan manusia dari tujuan penciptaannya.
Padahal Allah telah memuliakan manusia dengan anugerah akal, bukan agar akal itu menciptakan sesuatu yang melampaui dan melawan Penciptanya, melainkan agar dengan akal tersebut manusia mampu membaca, memahami, dan merenungi tanda-tanda kekuasaan Allah di langit dan di bumi.
Akal adalah amanah untuk menjalankan peran agung sebagai khalifah fil ardhi, yakni mengelola bumi dengan adil, maslahat, dan penuh tanggung jawab di hadapan Allah. Maka, teknologi apapun termasuk AI, harus tunduk pada misi kekhalifahan itu, bukan sebaliknya memperbudak dan menghancurkan kehidupan manusia itu sendiri.
Dalam Islam, hasil karya manusia dibagi menjadi hadharah (terikat ideologi) dan madaniyah (teknologi netral). AI pada dasarnya adalah madaniyah, tapi dalam praktiknya tidak netral karena ia memproses informasi yang sarat dengan ideologi sehingga menyerap hadharah. Maka, kebaikan atau keburukan AI tergantung siapa yang mengendalikannya.
Di tangan muslim yang berakidah kokoh dan tunduk pada syariat, AI menjadi wasilah kemaslahatan untuk peran manusia sebagai khalifah fil ardhi. Sementara, di tangan manusia kafir, AI justru akan menjadi alat kerusakan dan kehancuran.
Sistem Kehidupan Manusia Harus diatur Syariat Islam agar Selamat
Inilah yang terjadi dalam penerapan sistem hidup kapitalis sekuler saat ini. Sistem sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan, menjadikan AI bukan lagi sekadar madaniyah netral, melainkan telah dikunci oleh hadharah kapitalisme. Sebagai sebuah paham liberalisme yang berpijak pada manfaat dan konsep ekonomi murni yang sering dikaitkan dengan pandangan kapitalisme klasik.
Karena itu, wajar jika AI hari ini lahir dari rahim korporasi transnasional seperti OpenAI, Google, dan Meta. Tujuannya bukan riayah (pengurusan umat), melainkan akumulasi modal, kontrol data, dan hegemoni narasi. AI dipakai untuk surveillance capitalism, manipulasi perilaku konsumen, deepfake politik, dan otomatisasi yang merampas lapangan kerja demi efisiensi kapital.
Akibatnya, kerusakan AI menjadi sistemik, bukan sekadar oknum. Kepercayaan buta masyarakat terhadap ChatGPT adalah buah dari sistem sekuler yang menciptakan kekosongan ruhiyah dan ketergantungan pada teknologi sebagai "tuhan baru."
Orang-orang punya tingkat kepercayaan yang sangat tinggi terhadap ChatGPT, yang sebenarnya cukup mengejutkan. Hal ini disebabkan AI itu masih sering ‘berhalusinasi’ pernyataan ini bukan datang dari kritikus teknologi, melainkan dari Sam Altman, CEO OpenAI sendiri. Pernyataan ini justru membuktikan pengakuan dari dalam sistem itu sendiri bahwa produk kapitalisme sekuler ini cacat dan berbahaya ketika dijadikan sebagai rujukan kebenaran, karena kebenaran dalam kapitalisme ditentukan pasar, bukan wahyu.
Fakta ini menjadi sangat penting untuk disadari. Di tengah gelombang pemanfaatan AI untuk menulis artikel, membuat keputusan, bahkan memahami agama. Justru banyak pengguna tidak memahami apa sebenarnya yang mereka minta dari AI. Mereka hanya mengetik perintah, menelan hasilnya mentah-mentah, tanpa bekal literasi dasar yang cukup, atau keilmuan agama yang memadai. Bahayanya bukan hanya pada informasi yang keliru, melainkan pada disinformasi yang dapat membelokkan pemahaman dan menyesatkan umat.
Bayangkan ketika seseorang menyuruh ChatGPT menjawab soal tafsir Al-Qur’an atau hukum fikih, tetapi pengguna tersebut tidak paham konteks syariat, tidak bisa membedakan antara dalil qat’i dan zhanni, atau antara ijmak sahabat dan pendapat ulama kontemporer. Maka AI bisa menjadi “guru palsu” yang justru membelokkan pemahaman agama.
Kita perlu pahami bahwa ChatGPT dan AI serupa hanya bekerja berdasarkan prediksi pola bahasa, bukan karena memahami substansi. Sam Altman sendiri menegaskan, “Teknologi ini belum benar-benar bisa diandalkan 100 persen.” AI memproduksi kata demi kata dari data pelatihan, bukan dari pemahaman seperti manusia.
Maka dari itu, ChatGPT sangat cocok digunakan sebagai alat bantu, seperti kalkulator atau kamus. Ia bukan sumber kebenaran, apalagi dalam isu krusial seperti pendidikan, riset, keuangan, dan terlebih lagi agama.
Dalam soal agama, bahaya AI jauh lebih besar. Jawaban AI mungkin benar secara tekstual, tetapi kosong secara kontekstual dan spiritual. Ia tidak bisa menggantikan peran guru, ulama, dan sanad keilmuan yang sahih.
Itulah sebabnya Allah berfirman: “Janganlah engkau mengikuti sesuatu yang tidak kau ketahui. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawaban.” (QS. Al-Isra: 36)
AI boleh dipakai untuk cari referensi keislaman, tapi untuk hukum, fatwa, dan pemahaman agama yang mengikat, rujukan tetap harus ulama. Teknologi hanya alat bantu, bukan pengganti otoritas ulama. Wallahualam bissawab. [EA/MKC]


