Kesepian di Tengah Keramaian, Gambaran Generasi Sekuler
OpiniKetika penerapan sistem pendidikan hanya berfokus
untuk mencetak generasi yang pandai secara akademik tanpa dibekali penguatan iman dan akidah, maka terbentuklah generasi yang rapuh
___________________
Penulis Atika Ma’rifatuz Zuhro
Kontributor Media Kuntum Cahaya dan Muslimah Peduli Generasi
KUNTUMCAHAYA.com, OPINI- Di tengah bisingnya hiruk pikuk dunia dan semakin canggih serta mudahnya dunia digital, banyak remaja justru tumbuh dalam kesepian dan tekanan mental. Mereka dikelilingi banyak orang tetapi kehilangan ruang untuk dirinya sendiri.
Kesepian akhirnya bukan lagi sekadar persoalan tidak memiliki teman, melainkan krisis yang dialami manusia dalam kehidupan yang semakin jauh dari agama. Tekanan sosial, tuntutan pencapaian, serta budaya yang menjadikan popularitas dan materi sebagai ukuran kebahagiaan membuat mental generasi semakin rapuh. Fenomena ini menjadi potret kelam generasi saat ini.
Alhasil, keputusan untuk mengakhiri hidup dianggap sebagai satu-satunya jalan keluar instan dari setiap masalah. Seperti peristiwa yang terjadi pada mahasiswa fakultas kedokteran Universitas Brawijaya berinisial RR (19), diduga melakukan percobaan bunuh diri dengan melompat dari lantai 6 gedung kampus pada Kamis (kompas.id, 10-09-2026).
Selain itu, ada juga seorang pria berinisial FS (30) ditemukan meninggal dunia diduga bunuh diri di kawasan GBK, Jakarta Pusat, pada Minggu (06-09-2026) dini hari. Sebelumnya FS sempat mengunggah pesan perpisahan dan mendonasikan Rp40 juta kepada komunitas kesehatan mental. (kompas.id, 10-09-2026)
Hal yang lebih menghawatirkan adalah data pencegahan bunuh diri Healing 119.id mencatat dalam kurun waktu 1 tahun terdeteksi 15.976 layanan, yaitu sebanyak 3.036 memiliki keinginan untuk mengakhiri hidup. Kelompok usia 21–30 tahun mendominasi dengan 54.08 persen, didusul usia 10-20 tahun sebanyak 33.04 persen. Bahkan anak usia 8-10 menggunakan layanan ini. Hal ini menunjukkan krisis kesehatan mental paling banyak menimpa generasi muda.
Dalam sistem sekuler, agama cenderung dipisahkan dari kehidupan. Akidah ditempatkan sebagai urusan individu saja sehingga generasi kehilangan pegangan saat menghadapi tekanan hidup. Sementara pendidikan, ekonomi, dan tren saat ini memusatkan standar keberhasilan manusia hanya diukur pada kesuksesan duniawi.
Generasi hari ini didorong untuk selalu bekerja, mengejar prestasi, karier, popularitas, dan kekesuksesan tanpa dibekali ilmu untuk apa mereka hidup dan kemana mereka akan pergi setelah kematian. Maka ketika gagal mencapai standar tersebut banyak anak muda yang cenderung merasa putus asa dan tidak berharga. Tanpa iman sebagai benteng, kesulitan akan terasa lebih berat dan berujung pada keputusasaan.
Kapitalisme juga memperkuat pola tersebut, dalam sistem yang memusatkan segala kebahagiaan hanya kepada materi, sistem kapitalisme berhasil melahirkan masyarakat yang individualistik. Budaya individualistik membuat semua beban kehidupan dipikul sendirian. Setiap orang didorong untuk fokus pada kesuksesan pribadinya.
Tren yang menekankan pada branding kebahagiaan dan kesuksesan pencapaian di media sosial membuat banyak orang merasa harus selalu terlihat sempurna dan bahagia. Akibatnya, banyak dari generasi muda yang enggan bercerita karena takut dicap lemah, akhirnya ikatan keluarga dan masyarakat menjadi longgar. Bahkan, di antara mereka ada yang berkecukupan secara materi dan dikelilingi banyak followers di dunia maya. Namun, kenyataannya mereka merasa tidak memiliki tempat bersandar.
Semua itu adalah buah dari negara yang menerapkan kapitalisme sekuler yang menjauhkan kehidupan masyarakat dari nilai-nilai agama secara menyeluruh. Negara yang membentuk individu rapuh dan masyarakat individualistik melalui penerapan sistem pendidikan sekuler dan ekonomi kapitalisme. Ketika penerapan sistem pendidikan hanya berfokus untuk mencetak generasi yang pandai secara akademik tanpa dibekali penguatan iman dan akidah, maka terbentuklah generasi yang rapuh. Demikian pun ketika ekonomi hanya berorientasi pada persaingan maka terbentuklah masyarakat yang individualis.
Islam bukan sekadar mengajarkan manusia berpikir positif dalam menghadapi masalah. Islam juga membangun akidah sebagai benteng jiwa sejak dini. Islam membangun keyakinan yang kokoh bahwa setiap manusia diciptakan untuk beribadah kepada Allah Swt. dan dunia bukanlah sebagai tujuan akhir.
Kesulitan dan kegagalan bukanlah merupakan tanda bahwa dirinya sia-sia dan gagal. Justru, seorang muslim meyakini bahwa setiap kesulitan adalah ujian dari Allah yang akan mengangkat derajat dan manusia diperintahkan berikhtiar serta bersabar.
Allah Swt. berfirman yang artinya:
"Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya."(QS. Al-Baqarah: 286)
Keyakinan seperti ini menjadi pegangan ketika seseorang berada dalam titik terendah. Maka, tindakan mengakhiri hidup adalah haram.
Rasulullah saw. bersabda, yang artinya:
“Janganlah salah seorang di antara kalian mengharapkan kematian karena kesusahan yang menimpanya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini jelas menegaskan bahwa mengakhiri hidup adalah perbuatan yang diharamkan dalam Islam. Nyawa adalah amanah dari Allah Swt. dan hanya Allah Swt. yang berhak untuk menentukan akhir dari hidup seorang hamba.
Namun, Islam tidak berhenti pada penguatan individu. Islam juga membentuk masyarakat dan keluarga yang terikat dengan akidah. Keluarga menjadi tempat pertama untuk mendapat kasih sayang dan dukungan. Peran orang tua juga sangat penting mengajarkan anak-anak mereka kepada akidah Islam, sehingga tertanam pada diri mereka keimanan dan ketakwaan kepada Allah Swt..
Dengan begitu, cara berpikir, bersikap, dan gaya hidup mereka sesuai dengan Islam. Disisi lain, Islam juga membangun konsep masyarakat yang saling peduli, berempati, saling membantu, dan menghibur ketika ada yang menghadapi kesulitan. Jadi, tidak ada seorang pun yang dibiarkan menanggung beban hidupnya sendirian dan merasa kesepian.
Kemudian peran yang sangat penting adalah peran negara yang menerapkan sistem Islam secara menyeluruh. Negara memiliki peran besar dalam membentuk generasi. Negara menerapkan sistem pendidikan yang berbasis akidah untuk mencetak generasi yang memiliki kepribadian islam (Syakhshiyah Islamiyyah) yaitu pola pikir dan pola sikap yang sesuai syariat, dan memiliki ketahanan mental yang kuat. Kurikulum pendidikan tidak hanya terfokuskan pada nilai akademik, tetapi juga pada pembentukan karakter, empati, dan tanggung jawab sosial. Karena itu, pendidikan Islam menuntut keseimbangan antara akal, ruh, dan akhlak.
Sistem ekonomi Islam juga menjamin kesejahteraan bagi setiap lapisan masyarakat. Dengan mengelola kepemilikan umum untuk kemaslahatan masyarakat negara mampu memberikan lapangan pekerjaan yang layak, kesehatan dan pendidikan yang berkualitas, serta menyediakan kebutuhan pokok murah, maka tekanan hidup karena kesulitan ekonomi akan berkurang.
Dengan demikian, solusi Islam bukan sekadar motivasi atau donasi sesaat, melainkan membangun kehidupan yang melahirkan individu kokoh dan masyarakat yang saling peduli. Akidah menjadi benteng, keluarga menjadi tempat yang hangat, masyarakat saling mendukung, dan negara hadir sebagai pengurus yang bertanggung jawab. Dengan begitu, generasi muda tidak mudah merasa sendirian karena menyadari Allah selalu bersama mereka. Wallahualam bissawab.[EA/MKC]


