Kesepian di Tengah Keramaian Potret Kelam Remaja Sekuler
OpiniRusaknya kesehatan mental remaja adalah bukti
betapa rapuhnya sistem sekularisme padahal remaja adalah tongkat estafet yang akan melanjutkan peradaban kehidupan
____________________________
Penulis Ermawati
Kontributor Media Kuntum Cahaya
KUNTUMCAHAYA.com, OPINI - Sungguh ironi sekali, kemajuan teknologi dan ramainya hiruk-pikuk kota, masih ada remaja yang merasakan kesepian dan seorang diri ditengah keramaian. Alhasil, banyak di antara mereka yang memilih jalan pintas untuk mengakhiri hidupnya.
Polisi menghentikan penyelidikan kasus mahasiswa Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Brawijaya (UB) berinisial RR (19) yang sebelumnya ditemukan dalam kondisi terluka setelah terjatuh dari gedung kampus. Kepala Kepolisian Sektor Lowokwaru Kompol Anang Tri Hananta mengatakan, penyelidikan dihentikan setelah polisi memeriksa sejumlah saksi untuk mengungkap peristiwa yang melibatkan mahasiswa semester tiga tersebut.
Hasil penyelidikan menyebutkan bahwa kasus tersebut murni aksi percobaan bunuh diri. Artinya, tidak ada pihak manapun yang mempengaruhi, atau menyuruh seperti isu yang beredar di media sosial, ucap Anang, Rabu (Kompas.com, 16-9-2026).
Fakta mengejutkan yang makin banyak terjadi di kalangan remaja menjadikan bunuh diri sebagai jalan pintas untuk mengakhiri masalahnya, seperti yang telah terjadi pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Brawijaya (UB). Bukankah ini adalah alarm bagi negara bahwa keadaan mental dan kesehatan piskologis remaja sedang tidak baik-baik saja. Rusaknya kesehatan mental remaja adalah bukti betapa rapuhnya sistem sekularisme padahal remaja adalah tongkat estafet yang akan melanjutkan peradaban kehidupan selanjutnya. Namun, apa jadinya jika mereka tak mampu menerima tekanan hidup.
Kehidupan sekularisme menjadikan persaingan individual begitu besar sehingga kesuksesan dan kekayaan menjadi hal yang paling penting dan utama dalam kehidupan kapitalisme. Tekanan dan persaingan yang begitu kuat dalam dunia digital, keluarga yang cuek, tetangga dan lingkungan yang tak ramah sibuk dengan aktivitas pekerjaan dan kehidupannya masing-masing membuat mereka selalu merasakan kesepian ditengah keramaian kota, membawa beban dan tekanan itu seorang sendiri serta rasa takut terhadap penilaian orang lain begitu besar. Membuat mereka lupa diri lalu mengakhiri hidup dengan jalan bunuh diri.
Memandang remaja saat ini yang jauh sekali dari akidah IsIam, masjid-masjid berdiri begitu megah dan kokoh hanya sebagai simbol. Karena agama hanya dijadikan sebagai ritual ibadah yang tidak boleh ikut campur dalam mengatur kehidupan manusia. Wajar jika remaja tidak siap dalam menerima ujian dan tekanan hidup yang begitu keras karena tidak memiliki benteng yang kokoh dan kuat dalam dirinya.
Semua itu hanya didapat dari pemahaman IsIam yang benar. Di mana hal itu akan melahirkan akidah yang kuat dan dapat membentengi diri dari pemikiran serta pemahaman sekularisme yang rusak.
Jiwa remaja yang rentan dan rapuh adalah buah dari sistem sekuler-kapitalisme negara yang telah gagal dan abai dalam memberikan pendidikan. Pendidikan sekularisme tidak dapat menumbuhkan rasa kesadaran kepada remaja tentang arti dan tujuan hidup sebenarnya. Pendidikan sekularisme hanya mengedepankan hasil, kesuksesan, dan gelar.
Sistem sekularisme menjadi bukti rusaknya mental remaja hari ini karena memisahkan agama dari kehidupan, selain itu sistem ekonomi sekularisme yang diterapkan oleh negara juga gagal sebab banyaknya penganguran, kemiskinan dan tekanan hidup yang semakin meningkat.
Q.S. Al-Baqarah Ayat 195 Allah Swt. berfirman : "Dan infakkanlah (hartamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu jatuhkan (diri sendiri) ke dalam kebinasaan dengan tangan sendiri, dan berbuat baiklah. Sungguh, Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik. (Sebagian ulama dan ahli tafsir mengaitkan frasa "menjatuhkan diri ke dalam kebinasaan" dengan tindakan yang mencelakakan fisik, termasuk bunuh diri atau melakukan perbuatan yang membinasakan keselamatan jiwa)."
Islam adalah agama yang sempurna. Setiap permasalahan ada solusinya. Pendidikan dalam sistem IsIam telah mengajarkan anak - anak sejak dini mengenai makna dari arti kehidupan yang sesungguhnya. Mereka dibekali pemahaman agama yang benar sehingga membentuk pola pikir dan akidah yang kuat. Tidak hanya sebatas dalam pencapaian kesuksesan. Namun, di sisi lain ada tujuan keridhoan dari perbuatan manusia terhadap Allah.
Karena itu, manusia harus bersabar atas segala ujian yang Allah berikan sebab Allah tidak akan menguji manusia di luar kemampuannya dan Allah mengetahui semuanya. Alhasil, kita mengerti mengenai batasan-batasan yang kita lakukan sebagai manusia dan membentuk benteng yang kuat agar tidak mudah goyang oleh ujian dan cobaan sebab tahu makna kehidupan yang sesungguhnya.
Maka dari itu, sudah saatnya umat berpikir cerdas dan mau dibawa kemana arah tujuan hidupnya hari ini. Jika bukan mencari rida Allah Swt., hanya dengan kembali menegakkan syariat IsIam dalam kehidupan sehari-hari umat akan selamat dan tidak ada lagi yang namanya remaja kesepian di tengah keramaian. Akhirnya, bunuh diri karena memahami makna dan tujuan hidup yang sesungguhnya dengan pemahaman yang keliru. Wallahualam bissawab. [Dara/MKC]


