Alt Title

Pemimpin Amanah Bukan Sekadar Berkuasa

Pemimpin Amanah Bukan Sekadar Berkuasa



Sudah saatnya negeri ini tidak hanya mencari pemimpin yang cakap secara administratif, 

tetapi juga memiliki ketakwaan, integritas, dan rasa takut kepada Allah Swt.

_______________________________


KUNTUMCAHAYA.com, SURAT PEMBACA- Kasus mundurnya seorang pejabat di Kabupaten Gayo Lues, Aceh, setelah anaknya viral memamerkan gaya hidup mewah hingga perjalanan ke Eropa menjadi pelajaran berharga bagi siapa pun yang memegang amanah kepemimpinan.


Sang pejabat memilih mengundurkan diri karena merasa polemik yang ditimbulkan keluarganya telah memengaruhi kepercayaan masyarakat terhadap institusi yang dipimpinnya. (detik.news.com, 23-07-2026)


Terlepas dari benar atau tidaknya seluruh persepsi publik terhadap harta yang dimiliki, satu hal yang tak bisa diabaikan adalah bahwa seorang pemimpin bukan hanya dinilai dari kebijakan yang dibuat, tetapi juga dari integritas, kesederhanaan, dan teladan yang ia tunjukkan. Jabatan publik adalah amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban, bukan hanya di hadapan manusia, tetapi juga di hadapan Allah Swt..


Rasulullah ï·º bersabda: "Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya." (HR. Bukhari dan Muslim)


Hadis ini menegaskan bahwa kepemimpinan bukan sekadar mengelola birokrasi. Seorang pemimpin juga bertanggung jawab menjaga kepercayaan rakyat, membina keluarganya, serta menghindarkan diri dari segala hal yang dapat menimbulkan syubhat (keraguan) di tengah masyarakat.


Fenomena flexing yang kerap dipertontonkan di media sosial semakin menunjukkan bagaimana budaya materialisme telah menggerus nilai-nilai kesederhanaan. Kekayaan dipandang sebagai ukuran kehormatan, sementara kerendahan hati justru dianggap biasa. Padahal dalam Islam, kemuliaan seseorang bukanlah karena banyaknya harta, melainkan karena ketakwaannya.


Lebih memprihatinkan lagi, ketika rakyat masih berjuang menghadapi berbagai kesulitan ekonomi, pamer kemewahan oleh keluarga pejabat tentu melukai rasa keadilan masyarakat. Tidak mengherankan jika kepercayaan publik terhadap para pemimpin terus menurun. Seorang pemimpin seharusnya menjadi pelayan rakyat, bukan simbol kemewahan.


Kepemimpinan Umar bin Khattab: Teladan Amanah


Islam telah memberikan contoh nyata melalui kepemimpinan Khalifah Umar bin Khattab ra. Beliau memandang jabatan sebagai beban, bukan kehormatan. Umar hidup sangat sederhana meskipun memimpin wilayah Islam yang sangat luas. Pakaiannya sering bertambal, makanannya sederhana, bahkan beliau pernah memikul sendiri karung gandum untuk rakyat yang kelaparan pada malam hari.


Umar bin Khattab juga sangat berhati-hati terhadap harta negara. Beliau memisahkan dengan tegas urusan pribadi dan urusan pemerintahan. Keluarganya pun tidak diberi keistimewaan hanya karena memiliki hubungan dengan seorang khalifah. Inilah makna amanah yang sesungguhnya: kekuasaan digunakan untuk melayani rakyat, bukan untuk mencari keuntungan pribadi atau keluarga.


Dalam sistem pemerintahan Islam, pemimpin dipilih karena ketakwaan dan kemampuannya mengurus urusan umat. Ia diawasi oleh syariat, dikontrol oleh masyarakat, dan sadar bahwa setiap keputusan akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah Swt.. Dengan landasan akidah inilah lahir pemimpin-pemimpin yang zuhud, adil, dan amanah seperti Umar bin Khattab.


Sudah saatnya negeri ini tidak hanya mencari pemimpin yang cakap secara administratif, tetapi juga memiliki ketakwaan, integritas, dan rasa takut kepada Allah. Sebab hanya pemimpin yang amanah yang akan menghadirkan keadilan, menjaga kehormatan jabatan, dan mengembalikan kepercayaan rakyat. Wallahualam bissawab. [EA/MKC]


Rina Herlina