Alt Title

Subsidi Dicabut Beban Rakyat Menumpuk

Subsidi Dicabut Beban Rakyat Menumpuk



Negara tidak rugi sekarang. Negara rugi nanti

Saat kualitas SDM turun. Saat kemiskinan struktural makin dalam. Saat kesenjangan makin menganga


_________________________


Penulis Heni Ummu Faiz

Kontributor Media Kuntum Cahaya 


KUNTUMCAHAYA.com, OPINI - Setiap awal bulan, grup WA orang tua murid di Lesabaca selalu sama isinya. Bukan jadwal les. Bukan PR anak, tetapi: "Bu, bulan ini boleh nunggak dulu nggak? Buat beras sama bayar listrik dulu." Dulu, alasan nunggaknya karena sakit. Sekarang, alasannya satu: harga-harga naik lagi.


Pemerintah bilang ini konsekuensi. Subsidi harus dicabut demi APBN sehat, demi transisi energi, demi masa depan. Katanya rakyat harus kuat, mandiri dan tidak tergantung. Saya diam. Lalu, saya lihat ibu-ibu yang antar anak les sambil gendong bayi, jalan kaki karena ongkos angkot dipangkas. Saya lihat bapak-bapak ojol yang narik dari subuh sampai malam, tapi setoran dan cicilan makin mencekik. Kuat? Mereka sudah kuat dari dulu yang belum kuat itu daya belinya juga napasnya. (kompas.com, 13-07-2026)


Ketika Efisiensi Jatuh di Dapur Rakyat


Alasan pencabutan subsidi selalu sama: biar tidak salah sasaran. Biar anggaran lebih tepat guna. Kedengarannya masuk akal di atas kertas. Tapi di lapangan, kertas tidak bisa dimakan. Harga beras naik. Minyak goreng naik. Gas melon langka. Tarif listrik naik. Sekolah masih bayar. Les masih bayar. Kebutuhan pokok naik semua. Sementara gaji? Segitu-gitu aja. Bahkan banyak yang di-PHK.


Lalu negara bilang: "Kuat ya." Kuat itu bukan sulap. Kuat itu butuh tenaga, butuh makan, butuh rasa aman. Bagaimana mau kuat kalau tiap malam orang tua mikir: besok masak apa? Bagaimana mau kuat kalau anak minta jajan 5 ribu saja harus ditunda?


Di Lesabaca, saya lihat sendiri. Ada anak yang tadinya rajin, sekarang sebulan sekali datang. Ditanya oleh gurunya dan ibunya jawab: "Buat bayar les apa buat beli telur, Bu." Hati saya sakit. Pendidikan jadi barang mewah.


Kuat Sampai Kapan?


Rakyat Indonesia ini bangsa yang paling ahli dalam kata kuat. Dari krisis 1998 kuat. Dari pandemi kuat. Dari harga BBM naik 3 kali lipat kuat. Namun, kuat bukan berarti tidak butuh bantuan. Kuat bukan berarti boleh dibiarkan sendiri. Ironisnya, di saat rakyat disuruh kuat. Di sisi lain kita lihat insentif pajak untuk perusahaan besar. Kita lihat proyek-proyek mercusuar. Kita lihat impor yang katanya demi efisiensi. 


Jadi pertanyaannya: yang harus kuat itu siapa? Hanya rakyat kecil? Negara ini ibarat orang tua, kalau anaknya jatuh, orang tua tidak bilang "kuat ya, bangkit sendiri". Orang tua mengulurkan tangan. Negara juga begitu. Fungsi negara salah satunya adalah melindungi yang lemah. Memberi jaring pengaman. Bukan mencabut pegangan lalu bilang "berenanglah."


Dampaknya Tidak Hanya Hari Ini


Cabut subsidi hari ini, efeknya 10 tahun lagi. Anak yang sekarang berhenti les karena orang tuanya tidak kuat, 10 tahun lagi jadi generasi yang tertinggal. Ibu yang sekarang milih beli beras daripada beli vitamin, 10 tahun lagi bebani BPJS. Bapak yang stres karena utang pinjol buat nutup kebutuhan, 10 tahun lagi rawan masalah sosial.


Negara tidak rugi sekarang. Negara rugi nanti. Saat kualitas SDM turun. Saat kemiskinan struktural makin dalam. Saat kesenjangan makin menganga. Indonesia Emas 2045 tidak akan tercapai kalau pondasinya, rakyat kecil, dibiarkan terseok-seok hari ini.


Lalu harusnya bagaimana? Saya tidak anti efisiensi. Saya paham APBN harus sehat. Namun, sehat itu bukan berarti kurus kering. Sehat itu artinya semua organ berfungsi. Kalau subsidi memang harus dicabut, cabutlah dengan pengganti. Data yang diperbaiki. Bantuan langsung yang tepat sasaran. Sekolah gratis yang benar-benar gratis. Kesehatan yang bisa diakses. Lapangan kerja yang layak.


Jangan sampai slogan mandiri jadi cara halus untuk lepas tanggung jawab. Rakyat sudah mandiri dari dulu. Jualan di pasar, ojol di jalan, bertani di sawah. Mereka tidak minta disuapi. Mereka hanya minta tidak dijatuhkan lagi.


Penutup


Saya ingat kata seorang ibu di Lesabaca: "Bu, kami bukan malas. Kami capek." Ya. Kami capek disuruh kuat terus. Negara kuat bukan karena rakyatnya dipaksa kuat sendirian. Negara kuat karena rakyatnya digandeng, dijaga, dipastikan tidak ada yang tertinggal.


Sebelum berteriak "rakyat harus kuat", tanya dulu: "Negara sudah hadir belum?" Karena kalau subsidi dicabut dan rakyat dibiarkan, maka yang kita lelang bukan cuma harga, tetapi masa depan satu bangsa. Wallahualam bissawab. [Dara/MKC]