Alt Title
Pinjol dan Paylater Solusi Instan Penuh Risiko

Pinjol dan Paylater Solusi Instan Penuh Risiko

 



Pinjol ataupun paylater nyatanya bukan tanpa risiko.

Telat bayar, utang makin bertambah.

______________________________


Penulis Umi Lia

Kontributor Media Kuntum Cahaya dan Member Akademi Menulis Kreatif


KUNTUMCAHAYA.com, OPINI - Pada lebaran 2025 lalu, ada penurunan jumlah pemudik. Demikian yang dikatakan Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi. Turunnya sekitar 4,69% dari 162,2 juta orang menjadi 154,6 juta jiwa. Hal ini tentu berdampak pada aspek akomodasi seperti hotel dan restoran. Diduga penyebabnya adalah karena daya beli masyarakat yang turun. Sementara menurut Sekretaris Jenderal Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Yusran turunnya jumlah pemudik ini terlihat dari penumpang alat transportasi dan pemerintah juga menyatakan memang berkurang 30%. (Pikiran-Rakyat.com, 13-4-2025)


Daya beli masyarakat yang turun terjadi di berbagai daerah termasuk di DKI Jakarta. Penyebabnya macam-macam, di antaranya banyak PHK. Banyak orang yang tidak bekerja, sementara harga kebutuhan terus merangkak naik dan lain sebagainya.


Bukan hanya di Indonesia, secara global ekonomi sedang melemah. Maka wajar saja, tidak sedikit yang terjerat pinjol (pinjaman online). Menurut Yusran, hal itu membuktikan situasi di Indonesia sedang tidak baik-baik saja sehingga sebagian masyarakat memutuskan untuk tidak mudik.


Transaksi Ribawi


Jangankan untuk mudik, untuk menutupi kebutuhan sehari-hari saja masih harus memutar otak. Adanya pinjol maupun BNPL (buy now pay later) atau paylater dianggap sebagai solusi cepat atau praktis menutupi kebutuhan yang sifatnya mendesak. Paylater digunakan masyarakat bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan pokok, melainkan juga untuk gaya hidup. Sebagian masyarakat merasa bahagia dan merasa lebih bergengsi ketika uangnya banyak dan memiliki barang-barang branded. Terutama di saat menjelang hari raya atau kumpul keluarga.


Meski begitu, faktanya terlihat dari catatan OJK (Otoritas Jasa Keuangan) bulan Februari 2025 utang rakyat negeri ini lewat paylater naik menjadi Rp21,98 trilyun. Meski angka ini sedikit turun dari posisi Januari 2025 yang berada di Rp22,57 trilyun, secara tahunan justru terlihat kenaikan yang cukup signifikan yakni sebesar 36,6%. 


Pinjol ataupun paylater nyatanya bukan tanpa risiko. Telat bayar, utang makin bertambah. Makin besar utang makin sulit untuk melunasi. Gagal bayar bisa menimbulkan beban psikologis. Muncullah kasus bunuh diri karena stres, hingga rumah tangga jauh dari kata harmonis. 


Kapitalisme Mendorong Konsumerisme


Keadaan ini terjadi karena pengaruh sistem kapitalisme yang menomorsatukan kepentingan pemilik modal dibanding kebutuhan masyarakat luas. Negara lebih berperan sebagai regulator yang sekadar mengatur jalannya roda  ekonomi, bukan sebagai pelayan sekaligus penanggung jawab utama dalam memenuhi kebutuhan asasi warga. Termasuk dalam hal penyediaan lapangan pekerjaan. Rakyat dibiarkan berusaha keras dalam kondisi yang tidak kondusif. Karenanya, terjadilah ketimpangan yang lebar antara yang kaya dan yang miskin. Sementara kesejahteraan justru menjadi hak istimewa bagi mereka yang berada di lingkungan kekuasaan dan memiliki modal.


Selain itu, kapitalisme yang menilai kebahagiaan hanya dari sisi materi terus mendorong sikap konsumerisme hingga menjadi budaya. Tidak peduli utang berbunga tinggi, yang penting bisa memenuhi hasrat belanja demi kepuasan. Lebih parah lagi pengguna pinjol dan paylater 70 persennya adalah kalangan anak muda. 


Tingginya nilai pinjaman masyarakat, jelas bukan sebuah prestasi yang harus dibanggakan. Apalagi pinjaman ribawi yang diharamkan. Tapi itulah kapitalisme yang mengabaikan peran agama dalam kehidupan. Negara memfasilitasi dan menyuburkan berbagai transaksi yang melanggar aturan Tuhannya. Orientasinya hanyalah keuntungan. 


Islam Mengharamkan Riba


Berbeda dengan Islam, agama ini sudah mengharamkan muamalah ekonomi yang mengandung riba, apa pun bentuk dan modelnya, serta berapa pun jumlahnya. Allah Swt. berfirman dalam QS. Al-Baqarah ayat 275:

"... Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu berhenti, maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan) dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali mengambil (riba) maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya."


Dalam perspektif Islam, persoalan seperti jerat utang paylater, ketimpangan ekonomi, dan kesejahteraan rakyat yang terabaikan tidak hanya dianggap sebagai masalah teknis keuangan. Namun sebagai konsekuensi dari diterapkannya ideologi yang rusak secara struktural seperti yang terjadi saat ini. Jadi solusinya adalah mengubah sistem, bukan memperbaiki sistem yang rusak. Yaitu menggantinya dengan sistem Islam, menerapkan hukum Allah Swt. dalam seluruh aspek kehidupan.


Hidup Sejahtera dalam Sistem Islam


Negara yang menerapkan syariat Islam, penguasanya akan bertanggung jawab menyejahterakan seluruh rakyat, tanpa kecuali. Pemimpin akan melaksanakan kewajibannya dalam menjamin pemenuhan kebutuhan pokok setiap individu seperti sandang, papan, pangan, kesehatan, pendidikan, dan keamanan tanpa membebani masyarakat dengan biaya yang tidak terjangkau. Penguasa juga bertanggung jawab menyediakan lapangan kerja yang layak agar seluruh warganya dapat hidup dengan mandiri tanpa bergantung kepada utang.


Sistem ekonomi Islam sepenuhnya bebas dari riba, karena pada  seluruh bentuk transaksi utang piutang diwajibkan bebas dari bunga dan denda. Sebagai gantinya negara akan mengelola sistem keuangan berbasis akad-akad syariah.


Selain itu negara juga akan menjaga distribusi kekayaan agar tidak terpusat di tangan segelintir elit, dengan mengelola harta milik umum seperti sumber daya alam (SDA) untuk kemaslahatan seluruh umat. Hasilnya kembali lagi kepada rakyat dalam bentuk pendidikan dan kesehatan gratis, pelayanan transportasi murah, juga berbagai kemudahan akses terhadap pelayanan lainnya.


Dengan demikian, masyarakat tidak akan terdorong untuk mencari solusi instan melalui paylater atau bentuk ribawi lainnya. Karena kebutuhan pokok dan dasarnya telah terjamin. Secara otomatis masyarakat akan menghindari riba. Karena penguasa melarangnya dan memberi sanksi bagi siapa pun yang melanggarnya.


Oleh karena itu, negara tidak membolehkan adanya lembaga atau aplikasi yang menggunakan transaksi ribawi atau yang tidak sesuai syariat. Semua ini akan dijalankan oleh khalifah yakni pemimpin kaum muslim yang amanah, yang memang telah diberi mandat oleh rakyat untuk mengurus umat dengan hukum Allah. Wallahualam bissawab.[GSM-MKC]

Korupsi Tumbuh Subur Petanda Buruknya Kualitas Demokrasi

Korupsi Tumbuh Subur Petanda Buruknya Kualitas Demokrasi



Menjamurnya kasus korupsi diakibatkan oleh diterapkannya sistem sekulerisme.

Sebuah sistem yang menjauhkan agama dari kehidupan

__________________________

 

KUNTUMCAHAYA.com, SURAT PEMBACA - Salah satu Aparatur Sipil Negara (ASN) di Pemerintahan Kota Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra) menampilkan gaya dengan pose dua jari usai ditetapkan sebagai tersangka kasus korupsi. Tak tanggung-tanggung jumlah yang dikorupsi cukup besar hingga merugikan negara senilai Rp444 juta rupiah. Wanita berinisial ANL itu mengumbar senyuman ketika dibawa ke mobil tahanan. (detikSulsel.com, Kamis, 17-04-25)


Tak tahu malu, itulah kata yang tepat untuk menggambarkan pejabat-pejabat yang melakukan tindak pidana korupsi. Seolah urat malunya telah putus akibat memakan uang haram hasil mencuri dari rakyat. Sungguh miris, kasus korupsi terus saja mengagetkan tanah air. Para pemangku kebijakan tak bisa lagi dipercaya, mereka sejak awal tak punya integritas dan kredibilitas. 


Dari tahun ke tahun kasus korupsi di Indonesia kian meningkat, bahkan tak terlihat tanda-tanda kasus korupsi akan menurun. Laporan ICW (Indonesia Corruption Watch) mencatat peningkatan kasus korupsi ada 731 kasus sepanjang tahun 2023, dengan jumlah tersangka mencapai 1.695 orang. Selain itu, menurut ICW rata-rata hukuman penjara pelaku korupsi hanya 3 tahun 4 bulan penjara. 


Tak bisa dimungkiri, salah satu sebab maraknya kasus korupsi karena lemahnya hukum di Indonesia. Para koruptor dipenjara hanya dalam waktu singkat dan denda yang rendah. Ditambah lagi, sudah menjadi rahasia umum bagaimana fasilitas elit yang koruptor dapatkan di penjara, membuat para pejabat merasa tidak takut jika harus ketahuan korupsi.


Selain itu, menjamurnya kasus korupsi diakibatkan oleh diterapkannya sistem sekularisme. Sebuah sistem yang menjauhkan agama dari kehidupan. Manusia yang hidup dalam negara yang menerapkan sistem ini sering kali mencampakkan agama sebagai aturan. 


Bukan halal dan haram yang menjadi standar perbuatan manusia, melainkan benefit (manfaat) dan materi belaka. Sekularisme telah menghasilkan masyarakat yang meniadakan self control untuk menjaga dirinya dari perbuatan yang merusak diri sendiri dan orang lain. Juga menghilangkan social control yang membuat masyarakat menjadi individualis. Mereka hanya fokus pada urusan pribadinya dan tidak peduli dengan urusan orang lain. Hubungan yang terjalin antar manusia hanya berlandaskan manfaat semata. Budaya tutup mulut pun lebih menjadi pilihan dibandingkan saling melapor.


Oleh sebab itu, tidak ada harapan korupsi akan musnah melihat buruknya kualitas demokrasi. Malah korupsi terus meningkat, dampak diterapkannya sistem yang lemah layaknya sistem politik demokrasi yang sekuler yang jauh dari pondasi agama. Dalam landscape politik seperti ini, para pejabat tidak pernah berpikir bagaimana mengurus urusan rakyat. Selama pondasi, standar, dan cara pandang politik masih dibangun berdasarkan sekularisme, selama itu pula korupsi akan terus hidup dan tumbuh subur. 


Untuk melenyapkan kasus korupsi, harus membutuhkan perubahan mendasar. Akidah sekularisme harus dibuang dan diganti dengan Islam. Praktik yang menghalalkan segala cara untuk meraih tujuan harus dihilangkan dan diganti dengan keterikatan terhadap Syariah Islam. Akidah Islam yang berlandaskan aturan Allah akan membentuk ketakwaan dan kesadaran spiritual baik secara individual maupun kolektif.


Kesadaran ini yang akan membentuk kedisiplinan masyarakat dalam hal penegakkan hukum. Sebab seringan atau seberat apapun pelanggarannya, tetap saja hal demikian adalah sebuah kemaksiatan yang menimbulkan dosa.


Selain itu, Islam juga akan menutup semua celah yang bisa menghantarkan pada tindakan korupsi. Amar makruf nahi mungkar akan ditegakkan. Hal ini sekaligus menjadi kontrol di tengah-tengah masyarakat. 


Islam akan memberikan efek jera bagi para koruptor. Sebab korupsi adalah perbuatan haram berapa pun jumlahnya.


Rasulullah saw. bersabda, "Siapa saja yang kami beri tugas melakukan sesuatu pekerjaan dan kepada dia telah kami berikan rezeki (gaji), maka yang diambil oleh dia selain itu adalah kecurangan (ghulul).” (HR. Abu Dawud)


Islam tidak ragu-ragu memberi hukuman pada tindakan kejahatan sekalipun dia seorang pejabat. Rasulullah bersabda, “Demi Allah, sungguh jika Fatimah binti Muhammad mencuri, aku sendiri yang akan memotong tangannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)


Tindakan korupsi masuk dalam kategori takzir, yaitu uqubat (sanksi-sanksi) yang dijatuhkan atas pelanggaran syariat yang tidak ada had dan kafarat di dalamnya. Kadar sanksi takzir berada di tangan khalifah. Sanksi takzir bisa ditetapkan berupa hukuman mati jika khalifah menetapkan demikian. Koruptor juga mendapatkan sanksi sosial (tasyhir) dan sanksi ekonomi seperti dimiskinkan.


Inilah realitas hukum dalam aturan Islam. Tidak ada toleransi sedikit pun terhadap tindakan korupsi. Para pelaku akan mendapatkan sanksi yang sangat tegas. Keadilan pun akan terwujud sehingga menghadirkan rasa aman dan nyaman di tengah-tengah masyarakat. Wallahuallam bissawaab.[Dara/MKC]


Penulis Wa Ode Sukmawati, S.E.

Kontributor Media Kuntum Cahaya

Petaka Judi Online Buah Rusaknya Sistem Kapitalisme

Petaka Judi Online Buah Rusaknya Sistem Kapitalisme

 


Terungkapnya berbagai kasus Judol yang terjadi tak terlepas dari penerapan paradigma hidup yang rusak dan menyesatkan yakni kapitalisme

_________________________


Penulis Irmawati 

Kontributor Media Kuntum cahaya 


KUNTUMCAHAYA.com, OPINI - Fenomena judol seolah-olah menjadi masalah yang tidak ada ujung penyelesaiannya. Di tengah perekonomian yang sulit, sebagai jalan pintas banyak masyarakat melakukannya. Tak hanya melibatkan remaja, anak-anak, dewasa bahkan wakil rakyat. Judi online terjadi selain faktor ekonomi juga coba-coba hingga ketagihan ingin mendapatkan hasil yang lebih besar. Akan tetapi, justru membawa diri mereka pada kekalahan.


Di lansir dalam CNNIndonesia.com (21-11-2024), Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Menko Polkam) Budi Gunawan mengatakan di Indonesia sepanjang tahun 2024 perputaran uang judi online mencapai Rp900 triliun dengan jumlah pemain mencapai 8,8 juta. Mayoritas di antaranya kalangan menengah ke bawah. 


Selain itu, terdapat 97 ribu anggota TNI-Polri, 1,9 juta pegawai swasta, dan 80 ribu pemain judi online yang usianya di bawah 10 tahun. Jika tidak melakukan upaya-upaya masif, angka ini diprediksi akan terus bertambah. 


Negara Tidak Mampu Memberantas Judol


Sungguh menyayat hati, sebagai negeri muslim terbesar di dunia, negeri ini justru marak perjudian. Pemberantasan judol seolah ilusi semata. Masyarakat untuk mendapatkan kekayaan menghalalkan berbagai cara sehingga makin jauh dari harapan. Terlebih para aparatur negara memanfaatkan wewenangnya untuk memperkaya diri.


Sebagai pihak yang berperan dalam menanggulangi penyalahgunaan teknologi seperti judol, para pejabat justru menjadi yang terdepan dalam menggunakan teknologi digital untuk kemaksiatan. Padahal untuk menutup segala situs judi online hingga pusatnya bagi negara mudah saja. 


Adapun solusi yang dilakukan pemerintah tidak menyentuh akar persoalannya. Pemerintah dalam berperang melawan judol tidak berdaya. Terbukti dengan pemerintah menganggap para pemainnya sebagai “korban” sehingga langkah yang dilakukan bukan penangkapan, melainkan pemulihan.


Pelaku judol tidak akan dikenai hukuman. Jika pelakunya dianggap korban. Tak hanya itu, bagi  korban judol diusulkan mendapat bansos pada keluarga yang terdampak imbas pelaku judol. Adapun yang mendapat bansos adalah kategori miskin. Dengan demikian, alih-alih memberikan efek jera, faktanya judol makin merajalela.


Kapitalisme Sumber Masalah Judol


Terungkapnya berbagai kasus Judol yang terjadi tak terlepas dari penerapan paradigma hidup yang rusak dan menyesatkan yakni kapitalisme. Pemisahan agama dari kehidupan atau sekuler sebagai asasnya. Menjadikan masyarakat semakin menjauh dari aturan Islam, lemah iman, dan tidak paham dengan syariat. Tolak ukurnya dalam melakukan perbuatan pun bukan lagi halal dan haram.


Terlebih dengan asasnya yang berlandaskan materi telah banyak menimbulkan berbagai kerusakan termasuk di bidang perekonomian. Sistem ekonomi kapitalis telah menyebabkan ketimpangan ekonomi di tengah masyarakat. Kekayaan dan kesejahteraan hanya berputar pada segelintir golongan saja. Yang kaya semakin jaya, si miskin makin menderita. Karena itu, perbuatan haram tersebut semakin marak.


Padahal realitas judol memiliki dampak yang sangat berbahaya untuk generasi muda yang berperan sebagai pelaku atau penikmat judi. Karena judol mengakibatkan terjadinya permusuhan dan kemarahan yang cepat. Tidak jarang pula judol menimbulkan tindakan kriminal, bahkan pembunuhan.


Tak hanya itu, akibat judi bisa menghilangkan rasa persahabatan dan solidaritas sesama teman. Karena adanya rasa dendam untuk saling mengalahkan. Meski judol berbahaya, tetapi menjadi keniscayaan dalam sistem ini. Selama masih mendatangkan keuntungan, perbuatan tersebut merusak, bahkan haram, pasti akan tetap dipelihara. 


Ditambah sistem sanksi yang diberlakukan tidak memberikan efek jera pada pelaku judol. Di antaranya hukuman penjara. Selama dalam penjara sesama napi belajar berbuat kriminal. Akibatnya, banyak mantan narapidana menjadi pelaku kejahatan yang lebih buruk saat mereka meninggalkan penjara. Begitu juga untuk pidana denda, bisa langsung selesai ketika denda sudah dibayar lunas.


Solusi Islam 


Islam sebagai agama dan seperangkat aturan kehidupan mampu memecahkan problematika kehidupan manusia. Termaksuk masalah judi online. Dalam Islam segala bentuk judi diharamkan. Termaksuk harta yang haram untuk dimiliki hasil yang diperoleh dari judi. Karena itu, untuk menutup celah terjadinya judol negara melakukan melalui tiga pilar. 


Pertama, taraf individu. Generasi Islam akan dididik atas dasar akidah Islam.  Sehingga tumbuh individu  yang fakih dalam beragama. Serta tidak akan akan melakukan kemaksiatan karena menjadi individu yang bertakwa, taat perintah Allah.


Kedua, taraf masyarakat yang bertakwa akan melakukan kontrol agar tidak marak perjudian dengan amar makruf nahi mungkar. Saat ada pihak yang melanggar hukum syarak akan langsung ditegur oleh masyarakat dan tidak dibiarkan begitu saja. Dengan mekanisme ini, kejahatan tidak akan menjamur dan merajalela. Hal ini dikarenakan kontrol masyarakat berjalan dengan baik.


Ketiga, taraf negara. Dalam Islam, negara adalah pelindung dan pengayom bagi rakyat dengan penerapan Islam secara kaffah. Negara berperan dalam menjamin urusan rakyatnya. Untuk memberantas judol, negara melalukan pemblokiran atau menetapkan peraturan parsial. Sistem ekonomi yang sahih diberlakukan agar mampu menghapus total pengembangan bisnis tidak syar'i yang mengambil keuntungan dari praktik haram.


Islam akan memberikan hukuman bagi para penjudi online. Dalam hukum Islam, perjudian termasuk dalam sistem sanksi takzir yang memiliki efek jera. Pelaku tidak akan mengulangi perbuatannya dan orang lain terhalang untuk mengulangi kejahatannya, apabila masih ada pihak-pihak yang melanggar.


Agar tercipta masyarakat yang mapan, makmur, dan sejahtera, negara dalam Islam membuka lowongan pekerjaan kepada rakyat. Khususnya kepada laki-laki sebagai kepala rumah tangga. Sedangkan ibu rumah tangga (IRT) bertugas sebagai al-umm wa rabbatul bait (menjadi seorang ibu dan pengurus rumah tangga) serta madrasatul ula bagi anak-anaknya yang merupakan generasi bangsa kelak.


Allah Swt.  berfirman yang artinya, "Sesungguhnya setan itu adalah musuh kalian, maka perlakukanlah dia sebagaimana adanya, karena setan tidak lain hanyalah mengajak kaumnya untuk menjadi penghuni api neraka yang menyala-nyala." (QS. Fathir: 6)


Wallahuallam bissawab.[Dara/MKC]

Kelaparan di Gaza: Kebutuhan Jihad dan Khilafah Makin Mendesak

Kelaparan di Gaza: Kebutuhan Jihad dan Khilafah Makin Mendesak


Palestina hanya bisa diselamatkan dengan jihad dan Khilafah.

Umat harus berjuang untuk mewujudkannya

_____________________


Penulis Aini Rahmalia, S.Si.

Kontributor Media Kuntum Cahaya


KUNTUMCAHAYA.com-OPINI-Kondisi kaum muslim di Gaza saat ini makin memperihatinkan. Bagaimana tidak, serangan demi serangan tak henti dilakukan oleh kaum Zionis Israel. Serangan terus dilakukan tak mengenal waktu dan tempat maupun kondisi di Gaza. bahkan di saat kaum muslim sedang melakukan ibadah puasa di bulan Ramadhan sampai di hari perayaan Idul Fitri korban terus berjatuhan akibat teror genosida Yahudi. Mulai dari para mujahidin, wanita, anak-anak bahkan bayi, para tenaga medis, jurnalis dan para relawan kemanusiaan tak luput menjadi korban.  


Bahkan saat ini kaum Yahudi pun telah memblokade jalur bantuan kemanusiaan menuju Gaza. Akibatnya 2,4 juta jiwa penduduk Gaza terancam kelaparan.  Dilansir dari Antara (24-4-2025), World Food Program/WFP (Program Pangan Dunia) PBB pada Jumat (25-4-2025) menyatakan bahwa perlintasan perbatasan Gaza masih ditutup oleh Israel, sehingga pihaknya di Jalur Gaza telah kehabisan stok makanan.  


“Hari ini. Pikah WFP telah mengirimkan stok makanan yang tersisa ke dapur-dapur makanan siap saji di Jalur Gaza. Namun diperkirakan stok ini akan habis dalam jangka beberapa hari kedepan saja,” menurut Pikah WFP. Padahal organisasi ini yang selalu konsisten memberikan bantuan bagi warga Gaza selama beberapa pekan.


Selain itu, media Antara.com (Istanbul) pada Senin (28-4-2025) mewartakan Komisaris Jendral UNRWA Philippe Lazzarini, anak-anak Palestina di Gaza mengalami kelaparan yang sangat parah akibat dicegah masuknya pasokan kebutuhan makanan dan kebutuhan pokok lainnya oleh Israel.  Bahkan penutupan pintu penyeberangan ke Gaza telah ditutup sejak 2 Maret lalu. Maka bantuan berupa makanan, obat-obatan maupun lainnya tidak bisa masuk, sehingga kondisi ini makin memperparah kondisi kaum muslim di sana. 


Muslim Gaza Membutuhkan Pertolongan


Fakta di atas menggambarkan kondisi kaum muslim di Gaza semakin mengerikan. Makanan tidak tersedia, yang ada hanyalah pasta dan nasi yang jumlahnya sangat sedikit, tidak mencukupi meski hanya untuk setengah jumlah penduduk. Terlebih setelah pengeboman pada pabrik roti satu-satunya yang masih berdiri di Gaza. Harga bahan-bahan makan di pasaran sangat melambung tinggi dan itupun sudah hampir habis. Ketersediaan air juga semakin langka, dan dapur-dapur umum sudah tidak bisa beroperasi karena habisnya bahan baku yang akan diolah. 


Maka tak heran, demi menyambung hidup kaum muslim Gaza terpaksa memakan rumput bahkan tanaman-tanaman mentah. Jangankan untuk mandi sekadar untuk mencari air setetes saja sulit demi menghilangkan rasa haus yang berkepanjangan.


Solusi Tuntas, Jihad dan Khilafah


Sebagai seorang muslim sepatutnya kita merasakan apa yang dirasakan oleh kaum muslim di Gaza, karena setiap muslim bagaikan satu tubuh. Jika satu muslim terluka maka muslim yang lain akan merasakan sakit dan berusaha untuk mencari solusi kesembuhan. Penderitaan yang dialami kaum muslim di Gaza mendorong bagi setiap muslim untuk mencari solusi untuk menyelamatkan saudaranya. Namun solusi yang dilakukan haruslah solusi tuntas, bukan sekadar kecaman ataupun solusi yang sifatnya parsial. 


Allah Swt. telah menetapkan solusi atas penjajahan Palestina adalah jihad. Sebagaimana perintah Allah Swt. dalam surah Al-Baqarah ayat 190,


وَقَاتِلُوْا فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ الَّذِيْنَ يُقَاتِلُوْنَكُمْ وَلَا تَعْتَدُوْاۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِيْنَ


“Perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, dan janganlah melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.”


Jelaslah, bahwa seruan (perintah) Allah adalah jihad, karena kaum muslim di Gaza adalah saudara yang patut untuk dibela dan diselamatkan. Maka ketika solusi ini tak kunjung dilakukan maka kondisi Gaza semakin mengerikan. Apalagi telah diketahui penguasa negeri-negeri muslim yang seharusnya terdepan  dalam membela justru berkhianat pada umat.


Solusi tuntas Palestina membutuhkan upaya untuk mengakhiri pengkhianatan yang dilakukan oleh penguasa negeri-negeri muslim. Hal itu hanya bisa dilakukan dengan persatuan umat dalam naungan Khilafah. Sebagaimana telah dicontohkan oleh Rasulullah Shalallahu 'alaihi wasallam dalam mengahadapi kaum Yahudi dalam naungan Daulah Khilafah Islamiyyah. Palestina hanya bisa diselamatkan dengan jihad dan Khilafah. Umat harus berjuang untuk mewujudkannya demi persatuan umat dan keselamatan kaum muslim Gaza. Perjuangan ini membutuhkan adanya dakwah yang dipimpin oleh jamaah ideologis yang istikomah menyerukan jihad dan tegaknya Khilafah.


Wallahualam bissawab. [EA/MKC]

Palestina di Ambang Kehancuran, Patutkah Kita Diam?

Palestina di Ambang Kehancuran, Patutkah Kita Diam?




Pengaruh nasionalisme yang dinarasikan Barat

telah menjadikan ruh jihad dan aksi pembelaan antara umat Islam terhalang teritorial.

_________________________


Penulis Reni Rosmawati

Kontributor Media Kuntum Cahaya dan Pegiat Literasi Islam Kafah 


KUNTUMCAHAYA.com, OPINI - Beragam penderitaan terus mendera muslim Palestina tanpa henti. Tak hanya diintai kematian genosida, mereka pun harus menahan rasa lapar berkepanjangan akibat krisis pangan karena ditutupnya perbatasan. 


Sebagai alternatif untuk menghilangkan rasa lapar sementara, daging kura-kura pun terpaksa mereka konsumsi. Program Pangan Dunia Perserikatan Bangsa-bangsa (WFP) telah membunyikan alarm atas hal ini. Menurut WFP, kondisi tersebut akan membuat Gaza runtuh. Gaza membutuhkan aliran makanan yang tanpa henti agar bisa terhindar dari kehancuran. (cnnindonesia.com, 21-04-2025)


Sementara itu, penjajah zionis laknatullah alaihim makin brutal berbuat kejahatan di luar nalar dan batas kemanusiaan. Berbagai kecaman dunia tak dihiraukan. Dikutip dari (Kompas.com, 10-04-2025) sejak perang pertama pecah pada 7 Oktober 2023 lalu, hampir 61 ribu orang tewas termasuk anak-anak dan jurnalis, ratusan ribu rumah hancur, serta jutaan orang harus mengungsi.


Gaza Menderita, di Manakah Umat Islam? 


Fakta di atas mengindikasikan bahwa Palestina sudah di ujung tanduk dan di ambang kehancuran. Bagaimana bisa kaum muslim diam menyaksikan hal ini? Semestinya hal tersebut menjadi alasan kuat bagi umat muslim untuk segera menolong Palestina.


Sebagai umat muslim yang memiliki ikatan akidah yang sama tak patut jika membiarkan Palestina menderita, sementara dirinya hidup dipenuhi ketenangan dan kesenangan dunia. Apalagi, semua umat muslim diibaratkan satu tubuh, yang jika ada satu saja bagian tubuh yang sakit maka anggota tubuh lainnya ikut merasakan rasa sakit itu. Karenanya masalah Palestina adalah masalah umat muslim di seluruh dunia. Menolong Palestina merupakan kewajiban yang Allah bebankan pada setiap jiwa muslim. 


Sayangnya, sejauh ini upaya yang dilakukan negara-negara muslim dan lembaga internasional sekelas PBB hanya sebatas melakukan serangkaian perundingan negosiasi damai yang menghasilkan solusi pragmatis. Gencatan senjata dan solusi dua negara, tak berpengaruh apa pun terhadap warga Palestina kecuali semakin mengukuhkan keberadaan Zionis.


Hal tersebut karena saat ini negara-negara di dunia mengadopsi ide nasionalisme yang menjadikan umat Islam tersekat-sekat dalam negara bangsa. Pengaruh nasionalisme yang dinarasikan Barat telah menjadikan ruh jihad dan aksi pembelaan antara umat Islam terhalang teritorial. Apa yang dialami muslim Palestina seolah bukan tanggung jawab umat muslim di luar Palestina.


Maka selama ide nasionalisme masih diterapkan, negara-negara muslim tidak akan mampu menolong Palestina sebab semuanya akan terus terikat oleh nasionalisme dan nation state yang merupakan buah pemikiran kapitalisme. Kapitalismelah yang menjadikan para pemimpin muslim tunduk patuh pada kesombongan Barat. Bukannya mengirimkan tentara untuk jihad menolong Palestina, malah merendahkan diri menawarkan perdamaian.


Islam Solusi Tuntas bagi Palestina 


Sejatinya, hanya Islam satu-satunya solusi atas Palestina. Ini karena Islam dan syariatnya memiliki aturan komprehensif untuk menghilangkan penjajahan, di antaranya:


Pertama, Islam satu-satunya sistem yang melarang umat muslim lemah di hadapan orang kafir. Islam pun tidak membolehkan berdamai dengan kafir harbi fi’lan (kafir yang memusuhi Islam) ataupun sekutunya.


Firman Allah Swt. dalam Al-Qur'an surah Muhammad ayat 35: “Janganlah kalian lemah dan meminta untuk berdamai, padahal kalian lebih unggul di atas mereka." Juga dalam ayat lainnya: “Sungguh, Allah melarang kalian berdamai dengan orang-orang yang mengusir kalian dari negeri kalian. Siapa saja yang menjadikannya teman, maka ia termasuk orang yang zalim.” (QS. Al-Mumtahanah: 9)


Kedua, Islam mewajibkan jihad fii sabilillah untuk membebaskan negeri-negeri yang terjajah. Islam pun meniscayakan umat bersatu dalam satu ikatan akidah yang kuat. Islam tidak mengenal istilah nation state sebagaimana dalam kapitalisme. 


Ketiga, Islam menetapkan bahwa tanah Palestina merupakan tanah air kaum muslimin yang dikuasai melalui peperangan (tanah kharajiyah). Ini berlaku sejak era Khalifah Umar bin Khattab r.a. hingga berakhirnya dunia ini. Maka, haram jika membiarkan Zionis menguasai Palestina. 


Keempat, Islam menjamin kewibawaan umat muslim di mata dunia. Ketika Islam berjaya selama 1400 tahun, seluruh negara tunduk pada kekuasaan Islam. Umat muslim pun disegani. Ini karena Islam mampu mencetak pemimpin yang tegas dan menjadi raa’in (pengurus) dan junnah (perisai) bagi umat. 


Demikianlah kesempurnaan sistem Islam (Khilafah) dalam menyelesaikan masalah penjajahan, termasuk di Palestina. Namun, karena Khilafah belum tegak, maka setidaknya ada beberapa kewajiban vital yang harus umat tunaikan dalam rangka menyelamatkan Palestina. Yakni terus mendoakan warga Palestina, tak henti melakukan boikot produk-produk Zonis atau yang terafiliasi dengannya. Mengirimkan bantuan berupa materi semampunya. Tak lelah menyeru semua muslim di dunia dengan seruan yang sama dan mengingatkan akan kewajiban dan pentingnya persatuan dalam menolong Palestina. Terus menyuarakan kepada para penguasa muslim untuk segera melakukan aksi nyata mengirimkan pasukan militer ke Palestina serta jangan berhenti mengikuti kajian  Islam kafah, lalu menyuarakan Islam sampai umat paham terkait urgensi menerapkan syariat Islam. 


Sungguh, hanya dengan tegaknya syariat Islam kafah melalui bingkai Khilafah-lah pendudukan Zionis atas Palestina akan terhapuskan. Wallahualam bissawab. [SM/MKC]

Eksploitasi di Taman Safari Bukti Kuatnya Oligarki

Eksploitasi di Taman Safari Bukti Kuatnya Oligarki

 


Semuanya dianggap sama sebagai warga negara.

Seorang khalifah wajib melindungi rakyat karena itulah fungsi kepemimpinan dalam Islam. 


_____________________


Penulis Tinah Asri 

Kontributor Media Kuntum Cahaya dan Pegiat Literasi 


KUNTUMCAHAYA.com, OPINI - Senyum bahagia para pengunjung saat menyaksikan meriahnya pertunjukan sirkus di Taman Safari Bogor ternyata berbanding terbalik dengan kenyataan yang dialami oleh para pemainnya. Tak disangka, mereka diperlakukan layaknya binatang, dipaksa bekerja saat fisik terluka, disuruh tertawa meskipun batin menderita. 


Diberitakan sebelumnya, sejumlah orang eks pekerja Oriental Circus Indonesia (OCI) Taman Safari mendatangi kantor Komnas HAM pada tanggal 15 April 2025. Mereka datang didampingi kuasa hukumnya Muhammad Sholeh, untuk melaporkan "Tiga Macan Safari," julukan bagi tiga orang bersaudara pendiri OCI sekaligus pemilik Taman Safari Bogor yaitu Jansen Manangsang, Frans Manangsang, dan Tony Semampouw. Ketiganya dilaporkan terkait tindakannya yakni penganiayaan dan pelanggaran hak asasi manusia. (Tempo.co, 23-04-2025)


Butet, salah satu korban mengatakan sering dipukul, ditelanjangi, dipaksa bekerja meski sedang hamil tua. Bahkan, setelah melahirkan dia dipisahkan dengan anaknya, dijejali kotoran gajah saat kedapatan mengambil sepotong daging untuk dimakan.


Hal yang sama juga dialami oleh Vivi. Dia mengaku sering dipukuli jika melakukan kesalahan, tidak dikasih jatah makan selama dua hari, pernah disetrum dengan alat setrum gajah saat ketahuan hendak kabur, melarikan diri meninggalkan OCI. Sedangkan Ida mengalami cacat permanen, jatuh saat melakukan atraksi dalam sebuah pertunjukan di Lampung. Saat itu Ida tidak segera mendapatkan penanganan medis.


Sulitnya Mendapatkan Keadilan 

 

Meski kasus ini telah mendapatkan perhatian dari Komisi Hukum Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI, namun rasa-rasanya keadilan bagi eks pekerja ini tidak serta merta mudah mereka dapatkan. Pasalnya, Wakil Ketua DPR RI Ahmad Syahroni justru menyarankan kepada kedua belah pihak untuk menyelesaikan perkara ini secara kekeluargaan.


Hal ini disampaikannya saat rapat dengar pendapat Senin, 23 April 2025 yang menghadirkan kedua belah pihak, yakni eks pekerja dan Jansen Manangsang sebagai wakil dari pihak Taman Safari. Bisa dilihat bahwa solusi yang diberikan hanya sekadar imbauan, bukan sanksi tegas yang mengikat pihak Taman Safari untuk memenuhi tuntutan dari para eks pekerja yang sejak lama dirampas kebebasannya.


Hal ini menunjukkan jika pemerintah kurang peduli. Jika peduli hanya basa-basi supaya tidak disebut abai terhadap nasib rakyat kecil. Pemerintah telah gagal melindungi warganya. Saat ini kepemilikan pemerintahan diisi oleh orang-orang yang hanya peduli dengan dirinya sendiri, orang yang rela tunduk mengabdi pada oligarki.


Bagi mereka yang penting tetap bisa berkuasa serta bertambah pula pundi-pundi rupiahnya. Bisa hidup mewah tak peduli rakyat susah. Maka dari itu, berharap keadilan ditegakkan oleh pemerintahan yang menerapkan sistem demokrasi kapitalis adalah ibarat mimpi di siang hari.


Butuh Sosok Pemimpin Takwa


Berbeda jika negara menerapkan Islam secara kafah. Pemerintahan Islam hadir untuk mengurusi urusan rakyat, menyejahterakan hidup rakyat, menjaga kehormatan serta melindungi rakyat. Khalifah sebagai seorang pemimpin akan memberikan sanksi tegas jika ada pihak-pihak yang mengancam dan menyakiti rakyat, muslim maupun nonmuslim.


Semuanya dianggap sama sebagai warga negara. Seorang khalifah wajib melindungi rakyat karena itulah fungsi kepemimpinan dalam Islam. Rasulullah saw. bersabda: "Imam (kepala negara) adalah perisai. Orang-orang berperang dari belakang dan menjadikan dirinya pelindung. Jika ia memerintahkan ketaqwaan kepada Allah dan berlaku adil, baginya pahala. Jika ia memerintahkan yang selainya, ia harus bertanggung jawab." (HR. Bukhari)


Seorang khalifah dipilih oleh kaum muslim karena ketakwaan dan kemampuannya dalam melindungi rakyat. Seperti halnya Khalifah Umar bin Khattab yang dipilih dan dibaiat karena ketaatan dan perhatiannya kepada rakyat.


Saat sedang berjalan di Madinah beliau melihat seekor burung pipit yang dijadikan mainan oleh seorang anak. Karena rasa kasihan yang tiba-tiba muncul, beliau membeli burung tersebut kemudian melepaskannya supaya bisa terbang bebas. Sungguh luar biasa apa yang dilakukan oleh Khalifah Umar. Bayangkan saja, bagaimana seekor burung kecil saja sangat beliau perhatikan, apalagi dengan rakyatnya padahal Umar saat itu dikenal dikenal sebagai sosok yang keras dan tegas.


Imam Al-Baihaqi dalam kitab Syu'ab Al-Imam juga meriwayatkan bahwa Umar bin Khattab pernah berkata, "Andai ada kambing mati di tepi sungai Eufrat karena tidak terurus, sungguh aku takut kelak dimintai pertanggungjawaban atasnya."


Rasa tanggung jawab itu muncul karena dorongan iman dan takwa kepada Allah Swt. dan kesadaran bahwa seorang pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah Swt. atas apa yang ia pimpin. Sayang, saat ini sosok pemimpin seperti ini jarang kita dapati di negeri ini.


Meski ada yang dianggap sama dengan Umar bin Khattab karena sering blusukan masuk gorong-gorong. Namun, perilaku dan tindak tanduknya sama sekali tidak mencerminkan pribadi yang bertakwa sebagaimana Khalifah Umar bin Khattab. Jangankan melindungi rakyat, kebijakan yang  dikeluarkannya terkadang menyakiti dan membawa penderitaan bagi rakyat.


Untuk mendapatkan pemimpin yang bertakwa harus ada sistem yang mendukungnya, yakni sistem pendidikan Islam. Sistem pendidikan Islam dibangun berlandaskan keimanan dan kesadaran penuh bahwa di balik kehidupan, alam semesta, dan manusia ada Sang Pencipta sekaligus pengaturnya, yaitu Allah Swt.. Kurikulum dalam pendidikan Islam mewajibkan individu muslim untuk taat dan tunduk dengan aturan yang Allah turunkan. Inilah eksistensi takwa yang sesungguhnya. 


Saat ini kita butuh seorang pemimpin bertakwa. Seorang pemimpin yang takut hanya kepada Allah Swt. sebab ketakwaan adalah kunci untuk untuk membuka pintu kebaikan dan keberkahan. Untuk itu, saatnya kaum muslim bersatu. Berjuang bersama mewujudkan tegakkan syariat Islam di tengah-tengah masyarakat. Wallahualam bissawab. [Dara/MKC]

Miris Mental Curang Peserta SNBT

Miris Mental Curang Peserta SNBT

 


Adaptasi dari kapitalisme sekularisme memengaruhi pikiran pelajar

Mereka memikirkan tentang hasil akhir tanpa peduli pada norma-norma apalagi nilai agama


__________________


Penulis Nurul Bariyah 

Kontributor Media Kuntum Cahaya 


KUNTUMCAHAYA.com, OPINI - Semua orang tua tentu ingin anaknya bisa mencapai cita-cita yang tinggi. Memiliki gelar dan bekerja di perusahaan ternama serta mendapat gaji yang besar. Semua itu hanya bisa diraih dengan kuliah.


Universitas negeri banyak dituju masyarakat menengah ke bawah. Selain biaya yang tidak terlalu mahal, bergengsi, dan menjadi kebanggaan tersendiri apabila masuk ke sana. Seorang yang memiliki cita-cita tinggi, tentunya harus melakukan usaha yang keras. Calon mahasiswa harus lulus tes yang diuji oleh panitia penyelenggara.


Persaingan tentu saja sangat ketat karena diikuti oleh masyarakat seluruh Indonesia. Hal ini membuat calon mahasiswa memiliki kekhawatiran yang tinggi. Mereka yang memiliki sifat curang dan mental korup dalam diri mereka memilih cara tidak terpuji tersebut. Seharusnya mereka sadar bahwa cita-cita yang tinggi, berbanding lurus dengan proses dan perjuangan yang besar.


Namun faktanya, mereka memilih jalan pintas, yakni cara curang agar bisa lolos ke kampus ternama. Konsekuensinya mereka yang terbukti melakukan kecurangan akan mendapat hukuman yang akan sangat berat, yaitu tidak akan diterima di kampus negeri mana pun. Semua itu efek sifat tak jujur, membuat masa depannya berantakan.


Mengapa mereka memilih cara cepat dan curang? Mungkin dari seribu orang berhasil masuk satu orang yang curang. Akan tetapi, tidak menjamin apakah orang itu mampu bertahan dan belajar sampai akhir di universitas itu? Ini akan terjadi pada orang yang hidup jauh dari agama sehingga tidak takut akan dosa.


Ingin lolos masuk universitas bergengsi agar bisa jadi intelek hebat, tetapi cara yang ditempuh sangat tidak intelektual. Kaum terpelajar seharusnya menjadi contoh bagi masyarakat di bawah agar mengedepankan kemampuan diri dan kejujuran. Namun kenyataannya, mereka berlomba adu cara jitu untuk mencontek dan berbuat curang. 


Fakta dalam Penyelenggaraan Ul UTBK untuk Seleksi SNBT memang ditemukan banyak calon mahasiswa yang berbuat tidak jujur. Ditemukan juga modus baru yakni memasang kamera yang tidak terdeteksi metal detector di behel gigi, kuku, ikat pinggang, dan kancing baju. Canggih ya! (Beritasatu.com, 25-04-2025)


Pihak panitia melakukan investigasi lebih lanjut dengan menggandeng banyak pihak yang terkait, baik internal maupun eksternal sebagai langkah preventif dan korektif. Juga mendata akun peserta yang melakukan kecurangan. Memberikan pertanyaan dalam naskah soal yang berbeda di tiap sesi ujian merupakan salah satu langkah yang diambil. Ini bertujuan untuk meminimalisasi terjadinya kebocoran soal.


Pihak panitia mengimbau kepada seluruh penanggung jawab pusat untuk meningkatkan kecermatan pemeriksaan peserta sebelum memasuki ruang ujian dan meningkatkan pengawasan terhadap para peserta saat ujian berlangsung. Miris, meski dari tahun ke tahun selalu dilakukan usaha pencegahan. Akan tetapi, selalu ada saja celah bagi mereka untuk melakukan kecurangan. Seiring bertambah canggihnya teknologi, menambah makin canggih pula bentuk kecurangan.


Fakta bahwa 78 persen sekolah dan 98 persen kampus masih ditemukan kasus menyontek ditemukan dari hasil survei KPK. Ini menandakan bahwa tingkat kecurangan di dunia pendidikan kita sangat tinggi dan memprihatinkan.(detikedu.com, 25-04-2025) 


Adaptasi dari kapitalisme sekularisme memengaruhi pikiran pelajar. Mereka memikirkan tentang hasil akhir tanpa peduli pada norma-norma apalagi nilai agama. Akhlak mereka hilang, pergi entah kemana, kejujuran bersembunyi di balik tujuan kesuksesan. Ketika yang dipentingkan hanya hasil akhirnya saja.


Tanpa peduli jalan yang ditempuh baik atau buruk. Orang itu telah melanggar norma-norma kejujuran dan keadilan. Mereka hanya berpikir tentang bagaimana bisa menjadi mahasiswa di kampus terbaik. Membanggakannya meski dengan cara manipulatif.


Hingga berangan-angan mendapat ijazah dan bisa bekerja di perusahaan ternama. Begitulah karakter orang-orang pecundang yang akan menambah deret panjang angka pengangguran karena minimnya ilmu dan pengetahuan di samping saat ini kesempatan kerja sangat sedikit.


Mereka selalu berangan tinggi, tetapi usaha dan kerja mereka tidak ada. Kebahagiaan mereka hanya terukur dari materi. Lebih dari itu mereka tidak peduli. Seorang penganut sistem kapitalis sekularisme akan lebih mementingkan bagaimana mendapat keuntungan yang besar buat dirinya pribadi.


Islam menjadikan ukuran kebahagiaan adalah keridaan Allah Swt.. Semata-mata agar Allah rida, jadi tak menghitung untung rugi dan lainnya. Mereka kaum muslim yang taat, menyandarkan dirinya pada aturan Allah Swt.. Apakah sesuatu itu boleh atau tidak boleh dilakukan menurut Allah?


Kehidupan di dunia ini diatur oleh Sang Kuasa. Semua aturan ada di dalam Al-Qur'an dan hadis sehingga umat muslim menjadikannya pedoman dalam melakukan aktivitas di dunia ini. Allah Swt. berfirman: "Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan bersamalah kamu dengan orang-orang yang benar." (QS. At-Taubah 9: 119)


Dalam Islam, pendidikan sangat penting. Belajar dalam Islam diwajibkan mulai dari buaian hingga liang lahat. Maksudnya adalah kita wajib belajar sampai kapan pun. Apabila seseorang telah tiada baru kewajiban itu akan hilang. Dalam Islam, bersikap jujur dan tidak curang sangat penting supaya mendapat keridaan Allah. Sebagaimana Baginda Rasulullah kita adalah manusia yang jujur dan benar. 


Islam membuat para pelajar menjadi orang-orang yang mengedepankan adab sebelum ilmu. Adab terhadap guru dan menomorsatukan nilai kejujuran. Mengapa adab sangat penting dalam Islam? Karena tanpa adab seseorang yang berilmu ia akan salah arah seolah-olah dia buta.


Umat Islam memiliki akidah yang kuat sejak dini sehingga mencetak generasi yang unggul dan cemerlang juga taat syariat. Hukum Allah yang mengatur baik buruknya suatu perbuatan. Pemuda dan pelajar Islam berperan dalam peradaban, hingga nantinya mereka memimpin peradaban di masa depan. Bahkan, semua teknologi canggih yang tercipta dari tangan mereka sesuai dengan tuntunan Allah dan digunakan untuk meraih rida Allah Swt. semata. Wallahualam bissawab.[Dara/MKC]

Girls on Fire: Remaja Juara Remaja Bertakwa

Girls on Fire: Remaja Juara Remaja Bertakwa




Jagalah kemuliaanmu dengan menerapkan Islam

Jadilah remaja juara remaja bertakwa


______________________________


Penulis Siska Juliana

Tim Media Kuntum Cahaya 


KUNTUMCAHAYA.com, REPORTASE - Kisah tentang perempuan tidak pernah ada habisnya. Kartini yang menulis dalam sunyi demi cahaya emansipasi hingga para muslimah di Gaza yang berdiri tegak di tengah reruntuhan bangunan. Semua perempuan sedang berjuang dengan cara masing-masing. 


Kita menyadari bahwa menjadi muslimah yang taat di zaman sekarang bukanlah hal yang mudah. Lantas, apa saja yang harus dilakukan agar menjadi muslimah yang diridai Allah?


Untuk itu, komunitas Smart With Islam mengadakan kajian yang bertajuk “Girls on Fire: Remaja Juara, Remaja Bertakwa” pada Ahad, 27 April 2025. Kegiatan ini dihadiri oleh puluhan pelajar dan mahasiswa area Kota Bandung, Jawa Barat. 


Para peserta antusias mengikuti acara ini dari awal hingga akhir. Adanya sesi tanya jawab dan silah ukhuwah bersama peserta menambah pemahaman para remaja muslimah yang menghadiri acara ini. 


Teh Lia selaku pemerhati remaja mengawali pembahasannya dengan mengungkapkan kondisi mayoritas remaja muslimah saat ini. Misalnya, mengikuti sesuatu yang sedang viral seperti tren velocity, boros untuk membeli baju dan skincare, nongkrong di kafe berjam-jam, dan posting segala hal supaya mendapat validasi. 


Kondisi berbeda dialami oleh muslimah Palestina. Mereka banyak menjadi korban genosida. Menurut data PBB, sebanyak 70 persen korban tewas di Gaza merupakan perempuan dan anak-anak. Di tengah kondisi yang kacau, mereka tetap teguh dan taat kepada Allah. Mereka tetap mengenakan kerudung saat tidur agar ketika rumahnya dibom, mayatnya masih menutup aurat.


Perbedaan sikap yang terjadi pada muslimah disebabkan oleh Barat yang menyebarkan ide kebebasan. Ide tersebut lahir dari sistem kapitalisme sekuler. Akhirnya, perempuan makin bebas mengekspresikan diri (pamer aurat, pergaulan bebas) dan ingin disejajarkan dengan laki-laki (feminisme). 


Sosok yang senantiasa membela hak perempuan untuk mendapatkan pendidikan adalah Ibu Kartini. Benarkah beliau memperjuangkan feminisme?


Ibu Kartini mempelajari dan mendalami Islam melalui Al-Qur’an. Beliau merasa kesulitan memahami Al-Qur’an karena berbahasa Arab. Suatu hari, beliau menghadiri pengajian Kyai Sholeh Darat yang memberikan tafsir surah Al-Fatihah. 


Beliau semangat mempelajari dan memahami Al-Qur’an, serta menyatakan bahwa Al-Qur’an adalah bimbingan hidup bahagia dan sejahtera bagi manusia. Ibu Kartini selalu membaca dan mempelajari Al-Qur’an yang sudah diterjemahkan ayat per ayat oleh Kyai Sholeh dari surah Al-Fatihah sampai surah Ibrahim karena Kyai Sholeh meninggal. 


Beliau sangat terkesan dengan surah Al-Baqarah ayat 257 bahwa Allah yang membimbing orang-orang beriman dari gelap kepada cahaya (minazh-zhulumaati ilan nuur). Alhasil, kita mengenalnya dengan ungkapan “Habis Gelap Terbitlah Terang”.


Namun, Ibu Kartini belum sempat mempelajari surah An-Nur dan Al-Ahzab sehingga kita mengenalnya belum mengenakan kerudung dan jilbab. Ibu Kartini menginginkan perempuan juga bisa belajar sesuai perintah Allah, bukan kesetaraan ala kaum feminis. 


Hanya dengan Islam perempuan bisa mulia. Hal ini terlihat jelas dari kondisi perempuan sebelum Islam datang dan sesudahnya. Sebelum Islam datang, bayi-bayi perempuan dikubur hidup-hidup. Selain itu, perempuan tidak dihargai, diperlakukan kasar, dan dilecehkan. 


Setelah Islam datang, Islam mengangkat harkat dan derajat perempuan, serta menempatkannya di posisi yang mulia.


“Aku wasiatkan kepada kalian untuk berbuat baik kepada para wanita.” (HR. Muslim)


Islam dengan syariatnya menjaga kemuliaan wanita. Bagaikan mutiara yang mahal, tubuh perempuan harus benar-benar terjaga kesuciannya dan diwajibkan untuk mengenakan kerudung dan jilbab.


“Wahai Nabi (Muhammad), katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin supaya mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk dikenali sehingga mereka tidak diganggu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Ahzab: 59)


Perempuan juga dilarang pergi sendirian tanpa ditemani mahram dalam perjalanan sehari semalam agar mereka terjaga dari orang-orang jahat.


Teh Lia menjelaskan jika muslimah mempunyai peran istimewa yaitu sebagai ummun wa rabbatun bayt (ibu dan pengelola rumah tangga) dan madrasatul ula (pendidik utama dan pertama bagi anak). Ia juga menceritakan beberapa kisah muslimah di masa Rasulullah saw., antara lain: 


- Khadijah 

Istri dan ibu terbaik yang mendukung dan menguatkan dakwah Rasulullah. Beliau rela menyerahkan seluruh yang dimilikinya kepada Allah dan Rasul-Nya.


- Sumayyah 

Merupakan syahidah pertama. Beliau mendapat berbagai siksaan dari kaum kafir, tetapi tidak melunturkan iman dari hatinya. 


- Ummu Imarah

Seorang pahlawan muslimah dalam Perang Uhud. Ia bersama suami dan anak-anaknya melindungi Rasulullah saw. dari musuh. 


- Asma’ binti Abu Bakar

Hijrah ke Madinah dalam keadaan hamil. Beliau menempuh perjalanan jauh, meninggalkan negerinya, keluarga, dan harta benda.


“Cara agar menjadi muslimah yang bertakwa yaitu, menampilkan cita rasa muslim yang gaul, syar’i, dan mabda’i, siap menjadi garda terdepan sebagai pembela Islam, dan istikamah mempelajari Islam lebih dalam,” ungkapnya. 


“Yuk buruan ngaji! Jagalah kemuliaanmu dengan menerapkan Islam! Jadilah remaja juara remaja bertakwa,” jelasnya. 


Demikianlah cara agar remaja muslimah menjadi bertakwa dan tidak terjebak dalam gaya hidup bebas yang merusak.


Wallahualam bissawab.

Jihad, Seruan Pembebasan Palestina

Jihad, Seruan Pembebasan Palestina



Hanya dengan negara Islam, seruan jihad bisa digerakkan 

untuk membebaskan Palestina dari tangan penjajah Israel


________________


Penulis Anastasia, S.Pd. 

Kontributor Media Kuntum Cahaya


KUNTUMCAHAYA.com, OPINI - Penderitaan penduduk Gaza sungguh sudah di luar batas kemanusiaan. Dunia hanya diam seribu bahasa. Lautan manusia di berbagai dunia sudah melakukan aksi protes genosida.


Tepat di jantung negara kapitalis, di Universitas California, Los Angeles (UCLA) salah satu kampus paling bergengsi di Amerika Serikat  berlangsung unjuk rasa menentang penjajah di Gaza, Palestina. Hal ini memicu kampus-kampus yang lain untuk melakukan hal yang sama, (bbc.com, 3-03-2025)


Begitu banyak aksi protes membela Palestina, tetapi para pemimpin negara khususnya negara Islam tidak mampu memberikan solusi apa pun, hanya sekadar kecaman padahal sesama muslim itu bersaudara.


Bagaimana tanggung jawab kita di hadpaan Allah Swt. melihat sesama muslim dibantai. Bukankah sesama muslim itu harus saling mencintai dan menyayangi. Seperti dalam riwayat hadis Al-Bukhari dan Muslim dijelaskan bahwa Rasulullah saw. berkata: "Tidak beriman salah seorang dari kalian sampai mencintai saudaranya seperti ia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim)


Apalagi bumi Palestina adalah tanah yang diberkahi dan penuh dengan sejarah Islam. Seharusnya umat Islam merasa memilikinya. Akan tetapi, pemimpin kita lebih mencintai dunia dan takut mati. 


Sungguh ironi, melihat jumlah umat Islam di seluruh negeri yang begitu besar. Namun mereka adalah buih yang tidak memberikan kekuatan apa pun untuk membela Palestina. Tentu kita sangat malu kepada Rasulullah saw. dan para sahabat yang telah memberikan contoh berjihad di jalan Allah menghilangkan segala kezaliman. 


Kita memahami betul akar penjajahan Palestina adalah hilang Islam dari kekuasaan. Semenjak Islam menjadi negara kecil yang terpecah-pecah, umat Islam telah terkotak-kotak oleh ikatan kebangsaan, yaitu nasionalisme.


Nasionalisme adalah paham yang sangat berbahaya karena telah memisahkan kita dengan saudara muslim yang lainnya. Pemahaman ini telah menjadikan umat Islam  tidak merasa bagian dari muslim yang lainya sehingga permasalahan Palestina hingga detik ini tidak terselesaikan.


Derita Palestina dan Nasionalisme 


Masalah Palestina tidak bisa dipisahkan dari hilang kekuasaan Islam. Sepanjang Islam diterapkan dalam sebuah kekuasaan, umat Islam hidup dalam ketenangan dan perdamaian. Bukan hanya umat Islam yang merasakannya, tapi kekuasaan Islam mampu memberikan perlindungan kepada kafir dzimmi yang tunduk kepada negara Islam kala itu.


Namun kini, setelah runtuhnya Turki Utsmani, penderitaan umat Islam bagaikan anak kehilangan induknya. Tidak ada lagi yang memberikan perlindungan. Kafir penjajah sungguh sangat cerdik, setelah runtuhnya kekuasaan Islam, mereka telah membagi wilayah kekuasaan Islam menjadi wilayah kecil yang seolah-olah diberikan kemerdekaan. Padahal itu adalah bentuk memecah belah kesatuan Islam. 


Paham nasionalisme memang sengaja disuburkan oleh penjajah ke negeri-negeri Islam. Supaya mereka mencintai wilayahnya sendiri, sehingga umat Islam menjadi terpisah dari umat Islam yang lainnya. Hal inilah yang telah menghambat perjuangan kita untuk membebaskan Palestina.


Pembebasan Palestina tidak akan pernah bisa diwujudkan apabila saat ini, kita masih memiliki paham nasionalisme. Paham nasionalisme sangat berbahaya bagi umat Islam karena dengan sendirinya dia akan dituntut untuk mencintai negaranya dan mencukupkan peduli hanya kepada orang yang terdekat. Tentu ini bertentangan dengan Islam, yang beranggapan bahwa sesama muslim itu bersaudara tanpa melihat etnis, suku, dan perbedaan bahasa. 


Seruan Pembebasan Palestina


Tentu kita sadari bersama, solusi permasalahan Palestina sesungguhnya datangnya dari Islam, yaitu dengan menggerakkan seluruh elemen jihad dan militer. Namun, kekuatan ini tidak akan pernah terwujud apabila saat ini masih berharap pada sistem saat ini. 


Kita harus bisa menghapus paham nasionalisme dan menjadikan Islam sebagai pandangan hidup. Dalam sistem Islam, jihad untuk memerangi kejahatan adalah kewajiban, seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah saw. saat melakukan peperangan melawan kebatilan.


Hanya dengan kepemimpinan Islam, jihad dilakukan oleh negara. Untuk itu harus ada orang-orang menyeru kepada para pengusaha dan melakukan pembinaan dakwah pemikiran untuk membangun kesadaran agar kembali menerapkan syariat Islam dalam bentuk negara.


Hanya dengan negara Islam, seruan jihad bisa digerakkan untuk membebaskan Palestina dari tangan penjajah Israel. Negara Islam adalah negara yang kekuasaan tidak dipisahkan oleh batas geografis dan teritorial karena yang menjadi landasan adalah akidah Islam. Selama mereka adalah muslim, mereka bagian dari kekuasaan Islam yang harus dilindungi dan dijaga kehormatannya. 


Tentu, dasar demikian menjadikan kekuasaan Islam akan semakin luas sehingga dengan adannya kekuasaan Islam, persatuan dan persaudaraan sesama muslim akan semakin kuat. Kekuataan inilah yang saat ini dibutuhkan untuk membebaskan Palestina.


Untuk itu, sudah saatnya kita berjuang bersama-sama untuk menerapkan kembali sistem negara Islam. Umat Islam harus kembali lagi melihat perjuangan Rasulullah saw. dalam menerapkan Islam ke tengah-tengah masyarakat.


Setelah Islam menjadi kekuasaan yang diperhitungkan, Rasulullah saw. melakukan aktivitas jihad melawan segala bentuk kezaliman. Semenjak adanya kekuasaan dalam negara, Islam menjadi kekuatan yang tidak terkalahkan dan membawa dunia pada cahaya perdamaian dan keadilan. Wallahualam bissawab. [Dara/MKC]

Kisah Pilu Ekspemain Oriental  Sirkus Taman Safari Indonesia

Kisah Pilu Ekspemain Oriental Sirkus Taman Safari Indonesia




Hidup di sistem kapitalis sekuler saat ini membuat kita berpikir

betapa lemahnya peran negara

_______________________


KUNTUMCAHAYA.com, SURAT PEMBACA - Dunia saat ini dibuat tercengang dengan kabar pemberitaan dari  beberapa jebolan  pemain sirkus Oriental Circus Indonesia (OCI) Taman Safari Indonesia (TSI). Mereka  menyambangi  Kementerian Hak Asasi Manusia (KemenHAM) terkait dugaan eksploitasi yang dialami saat bekerja di sana. 


Berita yang menggemparkan tersebut, berdampak kepada Taman Safari Indonesia (TSI) yang kembali disorot masyarakat. Terutama oleh netizen di dunia maya. 


Masyarakat jadi mengetahui betapa kejamnya perlakuan pihak Taman Safari. Mereka mengaku diperlakukan secara tidak manusiawi sejak mereka kecil tinggal dengan pemilik Taman Safari tersebut. Dalam pengakuannya eks pemain OCI kepada Wakil Menteri HAM Mugiyanto mengungkapkan ada praktik perbudakan dan kekerasan. 


Dari laporan tersebut, Kementerian HAM pun memanggil pihak Taman Safari untuk memberikan tanggapan terkait kasus tersebut. Komisaris TSI Tony Sumampouw membantah tuduhan itu dan mengatakan tuduhan itu salah alamat. (detik.com, 20-04-2025)


Bantahan tersebut sangat kontras dengan hadirnya puluhan korban yang diasuh sejak balita. Mereka diambil dari tangan orang tua mereka, bahkan ada yang diambil dari tempat penampungan tidak jelas asal-usulnya. Mereka dijanjikan diberi pendidikan yang layak. Namun nyatanya, mereka dijadikan pemain sirkus dari sejak usia dini. Kekerasan fisik maupun verbal pun mereka alami.


Sistem Kapitalis Sekuler Pemicu Eksploitasi Anak


Sungguh sangat menyayat hati kita sebagai netizen merasa sangat geram. Terlebih pihak Taman Safari menyangkal perbuatan tersebut. Diadopsinya sistem kapitalis sekuler jadi pemicu utama terjadinya eksploitasi anak. Para oligarki tersebut dengan leluasanya memanfaatkan tenaga anak dari sejak dini bahkan tanpa bayaran.


Kurangnya ketahanan keluarga titik awal munculnya kerumitan kasus ini. Mereka dengan mudahnya melanggar syariat tidak mengindahkan aturan Islam.  Namun saat terlahir seorang anak ke bumi, mereka dengan mudah pula menjualnya atau mengalihkan tanggung jawab kepada pihak lain. Gayung pun bersambut, saat pihak luar memanfaatkan peluang, terjadilah eksploitasi.


Lemahnya Peran Negara 


Hidup di sistem kapitalis sekuler saat ini membuat kita berpikir, betapa lemahnya peran negara. Kasus yang jelas-jelas menimbulkan kekejaman dan menghilangkan kemerdekaan anak-anak dibiarkan berlangsung begitu saja bertahun-tahun tanpa ada sikap tegas negara padahal seharusnya penderitaan mereka bisa berakhir kalau negara dari dulu turun tangan pelakunya diadili dan dipidanakan.


Lemahnya sistem pendidikan di Indonesia juga jadi salah satu faktor penyumbang terjadinya eksploitasi anak ini. Negara gagal dengan program pendidikan yang diusungnya. Pendidikan yang bagus hanya bisa di terima bagi mereka yang berkecukupan. Tidak adanya jaminan pendidikan dari pemerintah sehingga orang tua dengan mudahnya melepaskan kehidupan anaknya ke pangkuan orang lain dengan diiming-imingi jaminan pendidikan yang layak. 


Dalam aturan Islam itu sendiri harusnya pendidikan adalah tanggung jawab negara kepada rakyatnya. Bukan tugas individu apalagi pengusaha yang rentan untuk mengambil keuntungan.


Solusi Islam


Negara juga wajib membina masyarakat untuk tidak individual. Kebiasaan di masyarakat, mereka enggan melakukan pembelaan jika terjadi kekerasan yang melanggar hukum. Terlebih jika pelakunya para konglomerat. Lagi-lagi uang berbicara dan kebenaran jadi hal yang rancu. Benar dan salah sulit dibedakan karena sudah diperjualbelikan. 


Kekacauan tersebut hanya bisa diselesaikan jika aturan Islam tegak di muka bumi ini. Karena hanya aturan Islamlah yang paling tegas bersifat preventif dan bikin efek jera bagi pelakunya. Wallahualam bissawab. [SM/MKC]


Siti Sopianti