Kecerdasan Buatan Antara Kemajuan dan Kekhawatiran
OpiniTeknologi ini juga memiliki potensi untuk meningkatkan kualitas kehidupan manusia
Bagai pedang bermata dua, di satu sisi ada manfaat yang bisa diperoleh, namun di sisi lainnya bisa menjadi ancaman
_________________________
Penulis Kurnia Suci Romadhona, S.Kom.
Kontributor Media Kuntum Cahaya
KUNTUMCAHAYA.com, OPINI - Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) saat ini berlangsung dengan sangat cepat.
Kecerdasan buatan pun mulai mengubah cara kerja di berbagai sektor, dari pendidikan, kesehatan, keuangan, dan masih banyak lagi. Berbagai pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan kemampuan manusia kini mulai dapat dilakukan oleh AI, mulai dari menulis, menganalisis data, membuat program, hingga membantu penelitian.
Para peneliti kecerdasan buatan pun menerbitkan riset yang kembali memberi peringatan kepada pemerintah untuk bersiap menghadapi ‘’ledakan kecerdasan” AI. Riset yang melibatkan 22 peneliti termasuk Yoshua Bengio dan Geoffrey Hinton yang dianggap sebagai bapak AI modern. Riset tersebut juga melibatkan salah satu pendiri Anthropic Jack Clark dan kepala ilmuwan Open AI Jakub Pachoki. (CNN Indonesia, 30-09-2026)
Sebenarnya peringatan tersebut perlu dipandang secara serius, tetapi tidak secara berlebihan. Kekhawatiran terhadap AI bukan berarti manusia harus menghentikan perkembangan teknologi. Sebaliknya, peringatan tersebut seharusnya menjadi dorongan agar perkembangan AI dilakukan secara bertanggung jawab, pengawasan yang memadai, dan disertai aturan yang lebih ketat.
Tren Penggunaan AI
Sudah bukan rahasia lagi, saat ini banyak hal yang dapat dikerjakan menggunakan kecerdasan buatan. Dalam pendidikan, misalnya membantu mempermudah dalam menjawab pertanyaan ataupun tugas. Pada dunia kerja, menggunakan kecerdasan buatan bisa mengotomatisasi pekerjaan menjadi lebih efisien. Di sektor keuangan bisa dengan mudah menganalisis resiko keuangan. Dalam kesehatan bahkan kecerdasan buatan sudah mendukung penemuan obat untuk penyakit-penyakit yang sebelumnya belum ditemukan obatnya.
Selain digunakan untuk hal-hal yang produktif, terkadang kecerdasan buatan juga banyak digunakan untuk ‘seru-seruan’ di semua kalangan. Hal ini dikarenakan penggunaannya yang relatif mudah, dan prompt-nya bisa sangat mudah diperoleh dari media sosial dikarenakan banyak orang yang membagikannya, ataupun bisa juga dari mesin pencari seperti Google.
Misalnya di media sosial, banyak tren yang menggunakan kecerdasan buatan untuk membuat gambar yang diupload dari foto si pengguna menjadi kartun, efek tahun ’80-an, dan masih banyak lagi. Dalam hal tren seperti ini, kecerdasan buatan bisa membuat semua orang FOMO (Fear of Missing Out), sehingga orang yang belum ikutan trennya akan tergerak untuk melakukannya juga.
Pedang Bermata Dua
Penggunaan kecerdasan buatan yang semakin marak tidak semestinya hanya dilihat sebagai ancaman. Teknologi ini juga memiliki potensi untuk meningkatkan kualitas kehidupan manusia. Bagai pedang bermata dua, di satu sisi ada manfaat yang bisa diperoleh, tetapi di sisi lainnya bisa menjadi ancaman.
Kecerdasan buatan yang berkembang tanpa pengawasan dapat menimbulkan beberapa risiko seperti persoalan keamanan, ancaman biologis, penyalah gunaan teknologi, serangan siber, penyebaran informasi yang salah, bahkan kemungkinan manusia kehilangan kendali dan keterlibatan manusia atas sistem yang semakin otonom, serta ancaman perang antar negara.
Semakin banyaknya sistem yang diautomatisasi dengan kecerdasan buatan, suatu pekerjaan bisa menjadi lebih efisien dan jauh dari risiko human error, namun akan berdampak pada banyaknya orang yang kehilangan pekerjaannya karena tergantikan dengan teknologi tersebut.
Saat ini, dalam mengakses informasi juga terasa semakin cepat dengan adanya bantuan AI. Namun, tidak dapat dipungkiri banyak juga berita, informasi, foto ataupun video hoax yang ditemui di media sosial. Jadi memang perlu kesadaran dan lebih teliti dalam mengakses informasi. Karena itu, persoalan utama bukanlah manusia harus memilih salah satu dari AI ataupun hasil karya manusia itu sendiri, melainkan bagaimana manusia dapat memastikan bahwa AI tetap berada dalam batas yang aman dan sesuai dengan kepentingan manusia.
Regulasi Harus Diperketat
Pemerintah mempunyai peran yang sangat penting dalam menghadapi persoalan ini. Semestinya regulasi ini harus dibuat sebelum permasalahan muncul. Pemerintah harus mewajibkan transparansi dalam pengembangan teknologi yang berisiko tinggi, dan memastikan adanya mekanisme penghentian atau pembatasan apabila suatu sistem menunjukkan risiko yang serius.
Selain pemerintah, perusahaan teknologi juga harus bertanggung jawab. Perusahaan perlu melakukan pengujian yang ketat sebelum menerapkan sistem AI yang semakin otonom kepada masyarakat luas. Persaingan untuk menjadi perusahaan AI paling maju tidak boleh membuat aspek keselamatan dikorbankan. Bahkan server khusus untuk AI sendiri membutuhkan listrik, serta air dalam jumlah yang sangat banyak untuk pendinginnya. Maka bisa dipastikan pula hal itu dapat merusak lingkungan, seperti kekeringan, dan rusaknya ekosistem di dunia.
Pada sistem kapitalis ini para perusahaan teknologi sering kali berlomba untuk menjadi yang tercepat, paling unggul dalam teknologi agar mendapat keuntungan ekonomi, tetapi keselamatan manusia bukan yang menjadi prioritas utama.
Masyarakat pun perlu meningkatkan literasi AI. Pengguna tidak cukup hanya mengetahui cara menggunakan kecerdasan buatan, tetapi juga harus memahami keterbatasan, risiko, dan dampaknya. Pendidikan mengenai etika dan literasi digital menjadi semakin penting agar masyarakat tidak menerima semua keluaran dari AI sebagai sesuatu yang selalu benar.
Sejatinya, tidak perlu menghentikan inovasi, tetapi kita juga tidak boleh membiarkan inovasi berjalan tanpa arah. Masa depan AI seharusnya dibangun bukan dengan perlombaan untuk menjadi yang tercepat, melainkan dengan keseimbangan antara inovasi, keamanan, etika, dan tanggung jawab.
Teknologi AI dalam Pandangan Islam
Teknologi AI dalam Islam dilihat sebagai anugerah akal dari Allah Swt. yang bersifat mubah (boleh) dimanfaatkan selama membawa kemaslahatan dan tidak mendatangkan mudarat bagi siapa pun.
Kecerdasan buatan tidak semestinya hanya dilihat sebagai ancaman. Teknologi ini juga memiliki potensi untuk meningkatkan kualitas kehidupan manusia. Hanya saja, bukan di tangan manusia serakah yang justru semakin akan mendatangkan bahaya dan kerusakan di muka bumi. Allah Swt. berfirman,
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
Artinya : “Telah nampak kerusakan di darat dan di lautan disebabkan karena perbuatan tangan (maksiat) manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar Ruum: 41)
Penggunaan AI yang tidak mengenal batasan waktu dapat mengakibatkan bumi semakin rusak, mengalami kekeringan dikarenakan penggunaan air yang banyak untuk mendinginkan server AI. Juga membutuhkan daya listrik yang sangat banyak salah satunya bersumber dari batu bara, sehingga bisa terjadinya eksploitasi batu bara merusak bentang alam, mencemari air dan sungai yang sering kali menjadi salah satu faktor penyebab terjadinya bencana alam.
Teknologi AI akan semakin berkualitas jika di tangan manusia yang mempunyai akidah yang kokoh dan ketundukan pada syariat yang akan memberikan kemaslahatan bagi manusia. Ledakan kecerdasan buatan (AI) tanpa kendali akidah dan syariat Islam bisa beresiko pada kehancuran kehidupan manusia.
Manusia diberikan kemuliaan akal untuk memahami tanda-tanda kekuasaan Allah dan menjadi khalifah fiil ardhi. Sebagaimana dalam firman Allah Swt.,
وَهُوَ الَّذِي جَعَلَكُمْ خَلَائِفَ الْأَرْضِ وَرَفَعَ بَعْضَكُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجَاتٍ لِيَبْلُوَكُمْ فِي مَا آتَاكُمْ ۗ إِنَّ رَبَّكَ سَرِيعُ الْعِقَابِ وَإِنَّهُ لَغَفُورٌ رَحِيمٌ
Artinya: "Dan Dialah yang menjadikan kamu sebagai khalifah-khalifah di bumi dan Dia mengangkat sebahagian kamu beberapa derajat, untuk menguji kamu tentang apa yang telah diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu amat cepat siksaan-Nya dan sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. Al-An'am : 165).
Kecerdasan buatan merupakan buah perkembangan teknologi buatan manusia, namun AI dipengaruhi oleh berbagai informasi, pemikiran dan ideologi yang diproses menjadi satu keputusan. Islam menetapkan hukum yang tegas segala bentuk hasil pemikiran manusia menjadi hadarah (dipengaruhi ideologi) dan madaniyah (netral).
Dalam penggunaan kecerdasan buatan sering kali memerlukan data diri untuk diproses, sudah seharusnya sebagai umat muslim menjaga kerahasiaan data pengguna sebagai bagian dari prinsip penjagaan harta dan kehormatan (hifz al-mal dan hifz al-aradh). Jadi tidak hanya sekedar mengikuti tren semata yang justru dapat membahayakan keselamatan diri.
Jika kehidupan manusia pada sistem kapitalis hanya berasaskan keuntungan dan materi, maka pada sistem kehidupan manusia yang diatur dengan syariat Islam yang bersumber dari Al-Quran dan As-sunnah, akan berlandaskan halal dan haram agar selamat dunia akhirat. Wallahualam bissawab. [GSM/MKC]


