Fenomena Remaja yang Terjebak di Ruang Hampa
AnalisisDi sistem ini, para remaja tidak bisa mendapatkan ruang aman dan nyaman dalam tumbuh kembangnya
Maraknya kasus perundungan dan pelecehan seksual yang senantiasa membayanginya
___________________
Penulis Ummu Fadiya
Kontributor Media Kuntum Cahaya
KUNTUMCAHAYA.com, ANALISIS - Masa remaja adalah masa yang tak terlupakan seumur hidup. Di sana ada suka duka di bangku sekolah, pertemanan, cita-cita yang ingin diwujudkan, harapan orang tua, dan amanah estafet perjuangan.
Semua itu tentu melalui proses panjang yang membutuhkan ilmu, pengorbanan, dan perjuangan yang tak kenal lelah. Di samping itu, ada satu lagi yang juga tak boleh dilupakan, yaitu melangitkan doa agar apa yang menjadi tujuan hidupnya bisa tercapai dengan maksimal.
Sayangnya, tidak semua remaja bisa mewujudkan semua mimpi dan harapannya. Pasalnya, sebagian remaja hari ini ternyata terjebak di dunianya sendiri karena bermasalah dengan kesehatan mentalnya.
Data dan Kondisi Kesehatan Anak Negeri
Masalah kesehatan mental yang menimpa para remaja tersebut disampaikan oleh Wihaji, Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/ BKKBN. Wihaji mengungkapkan bahwa presentasi remaja yang bermasalah dengan kesehatan mental berada di angka 34,9 persen. (Tribunnews.com, 23-9-2026)
Data di atas makin diperkuat oleh Kementerian Kesehatan yang menyatakan bahwa sekitar 5% anak dan remaja Indonesia mengalami gejala gangguan jiwa, terutama depresi dan kecemasan di awal 2026.
Angka tersebut berbanding lurus dengan data Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) pada Maret 2026 yang menyampaikan bahwa satu dari sepuluh anak Indonesia terindikasi menderita gangguan mental. (mpr.go.id, 11-4-2026)
Permasalahan yang menimpa remaja tersebut menjadi alarm keras bagi negara karena masalah kesehatan mental yang menyasar mereka sudah sedemikian parah. Maka dari itu, tentu harus ada upaya maksimal dari semua pihak agar anak dan remaja mampu menjaga dirinya dari paparan gangguan kesehatan mental.
Faktor Penyebab Gangguan Mental
Setiap masalah pasti ada faktor penyebabnya. Begitu juga dengan masalah gangguan mental pada remaja. Dikutip dari laman Halodoc, gangguan mental sejatinya disebabkan oleh beberapa faktor, di antaranya:
Pertama, pengalaman traumatis.
Kedua, proses tumbuh kembangnya.
Ketiga, lingkungan yang tidak kondusif dan tekanan yang muncul dari lingkaran pertemanan.
Keempat, adanya faktor genetik.
Dari penjelasan di atas, semua faktor tersebut menjadi sesuatu yang harus diperhatikan oleh negara. Jika tidak, semua hal yang memicu kesehatan mental pada anak dan remaja tidak akan bisa dicarikan solusi tuntasnya.
Tekanan Sistem Rusak
Adanya gangguan kesehatan mental yang menimpa remaja sejatinya tidak bisa dilepaskan oleh rusaknya sistem hari ini. Di sistem ini, para remaja tidak bisa mendapatkan ruang yang aman dan nyaman dalam tumbuh kembangnya. Hal itu bisa dilihat dari maraknya kasus perundungan dan pelecehan seksual yang senantiasa membayanginya.
Bahkan, ranah keluarga yang seharusnya menjadi tempat ternyaman justru menjadi ancaman yang mengerikan. Lihat saja kasus-kasus pelecehan seksual yang pelakunya datang dari orang terdekat, yaitu sesama anggota keluarga.
Begitu juga dengan lingkaran pertemanan yang hanya mengedepankan budaya hura-hura. Di sini, pertemanan yang terjalin nyatanya hanya bicara tentang materi, gaya hidup, dan penampilan yang serba mewah untuk mendapatkan pengakuan dari orang lain. Maka, ketika seseorang tidak bisa selevel teman-temannya, dirinya merasa dikucilkan dan sendirian.
Semua masalah yang membelenggu remaja sebenarnya lahir dari penerapan sistem kapitalisme liberal. Di sistem ini, agama hanya bicara tentang ibadah ritual. Sedangkan aktivitas selain itu, agama dilarang ikut campur. Pasalnya, agama dianggap menekan seseorang dengan aturan yang membatasi ruang geraknya. Alhasil, hidupnya merasa terkekang selamanya.
Pemikiran di atas membuat manusia lebih nyaman dengan aturan buatannya yang jauh dari kata sempurna. Padahal, hukum tersebut hanya membawa petaka dalam hidupnya. Maka tidak heran ketika menjumpai para remaja yang tidak punya sandaran untuk berbagi cerita.
Sebab, peran keluarga tak berfungsi dengan sempurna. Begitu dengan masyarakat yang minim rasa kepeduliannya. Sedangkan negara, tidak benar-benar hadir untuk mendampingi dan menangani permasalahan yang ada. Kondisi yang demikian membuat para remaja kehilangan arah karena terdampar di ruang hampa tanpa kehadiran siapa-siapa.
Remaja di Masa Kejayaan Islam
Kondisi berbeda akan kita dapati saat Islam dijadikan tolok ukur. Pasalnya, dalam pandangan Islam, remaja adalah penerus cita-cita perjuangan. Maka, negara akan memberikan perlindungan dan pengurusan yang baik kepada seluruh warga negaranya termasuk para remaja. Dengan begitu, fisik dan mental para remaja menjadi tangguh dan berdaya.
Kewajiban negara dalam memberikan periayahan tersebut sesuai dengan Rasulullah saw. yang artinya: "Sesungguhnya imam (khalifah) itu (laksana) perisai, (orang-orang) akan berperang di belakangnya (mendukung) dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan)nya." (HR. Bukhari, Muslim, An-Nasa’i, Abu Dawud, Ahmad)
Perhatian negara dalam Islam membuat para remaja di masa itu berada di posisi yang mulia. Mereka tidak hanya tangguh dan berdaya, tapi juga memiliki dedikasi dan militansi tinggi terhadap agamanya. Alhasil, tinta emas sejarah menuliskan kisah-kisah para sahabat Nabi saw. dan pemuda di masa setelahnya yang luar biasa dengan prestasi dan perjuangannya.
Sebut saja Abdullah bin Abbas di usia 12 tahun sudsh terkenal sebagai Habibur Ummah dan ahli tafsir Al-Qur'an yang sangat pintar. Ada juga Mush'ab bin Umair yang dipercaya menjadi duta Islam pertama yang dikirim Rasulullah saw. ke Madinah untuk mendakwahkan Islam sebelum peristiwa hijrah yang membuat para penduduk Madinah masuk Islam. Kemudian, ada Muhammad al-Fatih yang berhasil menundukkan Konstantinopel di usia 21 tahun.
Remaja Terjaga Lahir Batin dengan Islam
Keberadaan para remaja hebat dan bertakwa di masa Islam adalah fakta yang tak terbantahkan. Hal tersebut tentu tidak lepas dari peran negara yang maksimal dalam meriayah rakyatnya, termasuk para remaja. Kemudian, jika ada yang bermasalah dengan kesehatan mentalnya, negara akan bertindak cepat untuk mengatasinya.
Dikutip Muslimah News, negara akan memberikan penanganan terhadap orang-orang yang terganggu kesehatan mentalnya dengan pengobatan medis dan maupun nonmedis. Penanganan tersebut diserahkan kepada para ahli di bidang tersebut dan dibiayai penuh oleh negara.
Sejarah peradaban Islam menuliskan bahwa Daulah Islam saat itu telah memiliki rumah sakit jiwa (RSJ) dan metode pengobatan yang berhubungan dengan kesehatan mental. Hebatnya lagi, hal itu terjadi 10 abad sebelum Eropa memperkenalkan hal yang sama.
Sementara itu, Marwan Dwairy (1998) melalui hasil studinya di buku Mental Health in the Arab World menyampaikan , bahwa RSJ pertama di dunia ada di negara-negara Arab. Sedangkan letaknya, masing-masing berada di Baghdad, Irak pada tahun 705 M. Selanjutnya di Kairo, Mesir tahun 800 M, dan di Damaskus, Suriah tahun 1270 M. Kemudian, di situ juga dipaparkan bahwa yang menemukan bentuk terapi untuk penderita gangguan jiwa semacam psikoterapi, musik terapi, dan terapi konseling adalah para psikolog dan dokter muslim. (MuslimahNews, 22-12-2022)
Demikianlah gambaran kesempurnaan sistem Islam yang memiliki solusi hakiki untuk seluruh permasalahan manusia termasuk remaja yang terkena gangguan kesehatan mental. Dengan begitu para remaja yang terjebak di ruang hampa bisa keluar untuk menata kembali masa depannya. Namun, hal tersebut hanya bisa terwujud saat Islam dipakai dalam seluruh lini kehidupan. Wallahualam bissawab. [SM/MKC]


