Taring yang Tidak Pernah Merasa Cukup
NafsiyahHari demi hari, ia makin miskin dalam hal-hal yang tidak dapat dihitung dengan angka
Persahabatan menghilang Kepercayaan mengering
___________________
Penulis Dyah Pitaloka
Kontributor Media Kuntum Cahaya
KUNTUMCAHAYA.com, NAFSIYAH- Tidak ada seorang pun yang benar-benar tahu apa yang pernah terjadi dalam kehidupan seseorang sebelum ia menjadi dirinya yang sekarang. Barangkali ada luka yang belum selesai, kekalahan yang terlalu dalam untuk dilupakan, atau penyesalan yang entah bagaimana ikut terbawa dari satu kehidupan ke kehidupan berikutnya.
Mungkin pula ia pernah berdiri di tempat yang salah, mengambil keputusan yang keliru, lalu menghabiskan sisa hidupnya dengan perasaan bahwa dunia telah berutang sesuatu kepadanya.
Entah apa sebabnya, sejak lama kehidupan orang lain selalu tampak lebih menarik di matanya. Setiap langkah yang mereka tempuh, setiap pencapaian yang mereka raih, bahkan kebahagiaan sederhana yang mereka nikmati, seperti cermin yang memantulkan betapa hambar hidupnya sendiri. Setiap kali ia melihatnya, sesuatu di dalam dirinya terasa sakit.
Padahal, jika dilihat dari luar, hidupnya tidaklah buruk. Ia tidak benar-benar miskin, tidak pula hidup dalam kekurangan yang membuatnya harus mengemis belas kasihan. Ia memiliki tempat untuk berpijak, sesuatu untuk dimakan, dan cukup banyak hal yang semestinya dapat membuat seseorang berhenti sejenak serta berkata bahwa hidupnya baik-baik saja. Ia bahkan mungkin memiliki lebih banyak daripada yang dimiliki sebagian orang.
Namun, rasa cukup tidak pernah benar-benar tumbuh di dalam dirinya. Matanya terlalu sibuk mengawasi kehidupan orang lain. Ia memperhatikan siapa yang mulai berhasil, siapa yang semakin dikenal, siapa yang mendapatkan kesempatan, siapa yang memiliki kehidupan lebih baik, dan siapa yang perlahan mampu berdiri dengan kakinya sendiri.
Semakin banyak ia melihat, semakin sulit baginya menikmati apa yang berada di tangannya sendiri. Kehidupan orang lain seolah menjadi ukuran bagi harga dirinya, sementara hidupnya sendiri perlahan kehilangan nilainya di matanya.
Ketika seseorang yang dahulu berada di bawahnya mulai mampu berdiri tegak, ada sesuatu yang menggelegak dalam dadanya. Ia sulit menerima kenyataan bahwa orang itu bisa berjalan tanpa menoleh kepadanya. Lebih menyakitkan lagi ketika seseorang yang dahulu ia anggap membutuhkan dirinya ternyata mampu hidup tanpa bantuannya, bahkan berani memilih jalan yang tidak lagi melewati dirinya.
Ia tidak selalu marah. Sering kali ia justru diam. Tetapi diamnya bukan ketenangan. Di balik wajah yang tenang, pikirannya bergerak seperti pisau yang terus diasah. Mengapa dia bisa? Mengapa mereka tidak lagi mendengarkannya? Mengapa mereka merasa mampu hidup tanpa dirinya?
Pertanyaan-pertanyaan itu berputar begitu lama hingga ia tidak menyadari bahwa hidupnya sendiri sedang berjalan ke arah yang berlawanan. Ia sibuk menghitung langkah orang lain sampai lupa menghitung langkahnya sendiri.
Waktu yang seharusnya digunakan untuk membangun hidupnya habis untuk memperhatikan hidup orang lain. Tenaganya terkuras untuk mengetahui siapa yang naik dan siapa yang turun, siapa yang masih patuh dan siapa yang mulai berani membangkang, siapa yang masih menghormatinya dan siapa yang tidak lagi menganggap dirinya penting. Kesempatan-kesempatan yang semestinya dapat digunakan untuk memperbaiki keadaan justru terlewat karena ia terlalu sibuk memastikan bahwa orang lain tidak tumbuh terlalu tinggi.
Tanpa disadarinya, sesuatu yang dahulu cukup mulai terasa kurang, yang dulu mudah didapat perlahan menjadi sulit dicari. Apa yang pernah ia anggap akan selalu ada ternyata dapat hilang satu demi satu, dan ketika akhirnya ia menoleh kepada kehidupannya sendiri, ia mendapati bahwa banyak hal telah berubah.
Kesulitan Tidak Membuatnya Bercermin
Ia tidak bertanya apakah selama ini ada sesuatu yang keliru dalam cara ia menjalani hidup. Ia tidak bertanya mengapa orang-orang mulai menjauh, atau mengapa apa yang dimilikinya perlahan menguap. Ia justru mencari seseorang untuk disalahkan.
Pada titik itulah taringnya mulai tumbuh. Kesulitan membuatnya semakin keras. Kekecewaan membuatnya semakin curiga. Rasa tidak puas membuatnya semakin lapar. Perlahan, ia mulai percaya bahwa hidup bukan tentang bagaimana seseorang membangun dirinya sendiri, melainkan tentang siapa yang lebih dahulu menggigit dan siapa yang lebih dulu berhasil membuat orang lain jatuh.
Maka Ia Mengasah Taring Itu
Pelan-pelan, sabar, dan penuh perhitungan. Ketekunan yang seharusnya digunakan untuk memperbaiki kehidupannya sendiri justru ia gunakan untuk mencari kelemahan orang-orang yang tidak ia sukai. Ia mengingat kesalahan mereka, menyimpan kekurangan mereka, mengamati gerak-gerik mereka, dan menunggu saat ketika mereka lengah.
Ia tidak selalu menyerang secara terang-terangan. Kadang cukup dengan sebuah kalimat yang diletakkan pada tempat yang tepat. Kadang dengan bisikan kecil yang sengaja dibiarkan menyebar. Kadang dengan tekanan yang begitu halus hingga orang yang menerimanya bahkan tidak menyadari dari mana datangnya.
Ia hanya perlu melihat seseorang kehilangan pijakan. Ketika itu terjadi, ia merasakan sesuatu yang selama ini sulit ia temukan dalam hidupnya sendiri.
Kuasa
Ia menyukai perasaan ketika seseorang yang sedang berdiri tiba-tiba harus menoleh kepadanya. Ia menyukai saat orang lain mulai takut kehilangan sesuatu. Ia menyukai ketika seseorang yang dahulu berjalan bebas akhirnya kembali menundukkan kepala.
Barangkali itulah yang sebenarnya ia cari selama ini.
Bukan kebahagiaan. Bukan kecukupan. Bahkan bukan keberhasilan.
Ia hanya ingin memastikan bahwa tidak ada orang lain yang berdiri lebih tinggi darinya.
Sebab, entah dari mana keyakinan itu tumbuh, ia merasa keberhasilan orang lain adalah penghinaan terhadap dirinya. Kebahagiaan orang lain terasa seperti pengingat bahwa dirinya sendiri tidak cukup bahagia. Kebebasan orang lain terasa seperti ancaman. Dan keberanian seseorang untuk hidup tanpa berada di bawah kuasanya terasa seperti sebuah penghinaan yang harus dibalas.
Setiap kali melihat seseorang melangkah lebih jauh, ia merasa sedang ditinggalkan. Setiap kali melihat seseorang hidup tanpa membutuhkannya, ia merasa sedang dilupakan. Dan setiap kali seseorang menolak berada di bawah kuasanya, ia merasa harga dirinya sedang dirampas.
Ia tidak sadar bahwa yang sebenarnya sedang merampas hidupnya adalah dirinya sendiri.
Hari demi hari, ia semakin miskin dalam hal-hal yang tidak dapat dihitung dengan angka. Persahabatan menghilang. Kepercayaan mengering. Orang-orang yang dahulu datang membawa cerita mulai memilih diam. Mereka yang pernah memandangnya sebagai tempat berteduh perlahan mencari jalan lain.
Tetapi ia tidak melihat semua itu sebagai kehilangan.
Ia melihatnya sebagai pengkhianatan.
Dan setiap pengkhianatan, menurut pikirannya, harus dibayar.
Begitulah lingkaran itu terus berputar. Ia terluka, lalu melukai. Ia merasa ditinggalkan, lalu berusaha membuat orang lain kehilangan tempat berpijak. Ia merasa tidak berkuasa, lalu mencari seseorang untuk dikuasai. Ia melihat orang lain kehabisan darah, lalu merasa dirinya kembali hidup.
Padahal setiap tetes darah yang ia ambil sebenarnya adalah bagian dari dirinya sendiri yang ikut mengering.
Tidak ada yang tahu sampai kapan ia akan hidup seperti itu. Mungkin sampai orang-orang yang ia benci tidak memiliki apa-apa lagi untuk diambil. Mungkin sampai semua mangsanya habis. Mungkin sampai tidak ada lagi seseorang yang bisa ia salahkan.
Atau mungkin sampai suatu hari ia berdiri sendirian di depan cermin dan akhirnya melihat sesuatu yang selama ini tidak ingin ia akui.
Bahwa taring yang paling tajam tidak selalu digunakan untuk membunuh orang lain.
Kadang-kadang, taring itu justru perlahan menggerogoti pemiliknya sendiri.
Dan, ketika darah terakhir telah mengering dari mangsanya, mungkin ia baru menyadari bahwa selama ini ia tidak sedang memenangkan kehidupan. Ia hanya sedang memastikan bahwa dirinya sendiri ikut kehilangan kehidupan yang sebenarnya masih bisa ia miliki.
Sebab, ada manusia yang terlalu sibuk memastikan orang lain jatuh sampai tidak sadar, bahwa tanah tempat ia berdiri pun telah lama runtuh.
Mungkin, jika memang ada kehidupan sebelum kehidupan ini, barangkali di sanalah ia pernah melakukan kesalahan yang sama. Barangkali dahulu ia juga pernah merasa kurang, pernah iri, pernah terluka melihat kehidupan orang lain, lalu memilih menggenggam taring daripada membuka tangannya sendiri.
Hanya saja kali ini ia diberi kesempatan untuk memilih jalan yang berbeda.
Sayangnya, Ia Kembali Memilih Taring.
Taring yang terus diasah tanpa pernah mengenal kata cukup, pada akhirnya tidak akan lagi memilih mangsa. Ia akan mencari apa pun yang masih bisa digigit.
Bahkan dirinya sendiri. Wallahualam bissawab. [SM/MKC]


