Meneladani Rasulullah Tak Sekadar Akhlakiyah tapi Secara Kafah
OpiniSebagai bentuk kecintaan kita kepada Nabi
kita harus terikat dan taat pada setiap aturan Allah yang telah ditetapkan untuk kita semua
_______________________
Penulis Sri Nurhayati, S.Pd.I
Kontributor Media Kuntum Cahaya
KUNTUMCAHAYA.com, OPINI - Bulan Rabiul Awal sudah menuju penghujungnya. Bulan yang erat kaitannya dengan kelahiran insan mulia, jungjunan alam, teladan bagi manusia yang mengharap keridaan Allah dan Rasul-Nya. Lahirnya Rasulullah Muhammad saw., menjadikan bulan Rabiul Awal memiliki keistimewaan bagi kaum muslim.
Datangnya bulan Rabiul Awal senantiasa diramaikan dengan acara memperingati kelahiran nabi Muhammad saw, yang sering kita sebut Maulid Nabi. Acara ini tak hanya kekadar memperingati kelahiran Nabi saja, tetapi merupakan momentum untuk terus memupuk kecintaan kita kepada Rasulullah saw..
Kecintaan kepada Rasulullah harus senantiasa kita jaga akan tetap bersemi dalam diri kita sebagai seorang muslim. Sebab kecintaan ini adalah bukti keimanan kita kepada Allah dan Rasul-Nya. Kecintaan ini harus tercermin dalam diri kita sebagai umatnya yang harus mengikuti apa yang dicontohkan beliau dalam menjalankan setiap sendi kehidupan kita.
Seperti yang dipesankan oleh Ketua BAZNAS Kabupaten Bandung, Dr. KH Yusuf Ali Tantowi, Lc., M.A., saat menghadiri Gebyar Maulid Nabi Muhammad SAW Kabupaten Bandung di Dome Bale Rame, Selasa, 25 Agustus 2026 lalu. Beliau berpesan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW ini tak hanya mengenang kelahiran Rasulullah, tetapi juga meneladani akhlak beliau dalam kehidupan sehari-hari. (Jabar.mili.id, 26-08-2026)
Beliau menyoroti salah satu sifat Rasulullah yang dianggap relevan dengan kondisi kehidupan sosial saat ini, yakni kedermawanan dan keperdulian terhadap sesama. KH. Yusuf mengatakan kecintaan ini seharusnya diwujudkan melalui upaya meniru akhlak beliau, termasuk membangun kebiasaan berbagi kepada masyarakat yang membutuhkan.
Kegembiraan dan kecintaan kita terhadap Rasulullah memang harus tercermin dalam kehidupan kita, yakni mengikuti setiap yang Rasulullah contohkan. Sebab beliau saw adalah teladani bagi kita. Namun, meneladani Rasulullah saw tak sekadar hanya fokus pada akhlakiyah dan kedermawaan beliau semata. Namun, setiap apa yang beliau contohkan, baik yang terkait akidah, ibadah, muamalah, uqubat atau sanksi harus kita teladani dalam kehidupan sehari-hari. Semua itu dicontohkan oleh Rasulullah tanpa ada perbedaan atau meninggikan amal satu dan mengenyampingkan amal yang lain.
Semua yang beliau lakukan dengan senantiasa berpegang pada Al-Quran dan Sunnah. Oleh karena itu, dalam meneladani beliau tak sekadar hanya masalah akhlakiyah saja. Apalagi kondisi umat saat ini yang dilanda permasalahan diberbagai sendi kehidupan, sejatinya menunjukkan kepada kita bahwa kehidupan kita saat ini jauh dari apa yang dicontohkan Rasulullah saw..
Racun sekularisme-kapitalisme yang lama merasuki tubuh umat telah menyempitkan kecintaan kepada Rasulullah saw hanya sekadar pada aspek akhlakiyah saja dan menjauhkan mereka dari pondasi kehidupan mereka, yakni penerapan Islam secara kafah serta institusi penjaganya. Kecintaan kepada Nabi Muhammad saw. tidak boleh disempitkan hanya pada aspek akhlakiyah dan kedermawan beliau saja.
Sebab, beliau diangkat sebagai Rasulullah dengan risalah Islam yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhannya (akidah dan ibadah), hubungan manusia dengan sesama manusia (muamalah dan uqubat) dan hubungan manusia dengan dirinya sendiri (akhlak, pakaian, makanan dan minuman).
Oleh sebab itu, mengikuti dan meneladani beliau saw, haruslah ada dalam setiap aspek kehidupan kita. Karena, kepribadian dan kedermawanan Rasulullah saw lahir dari risalah Islam yang beliau emban dan terapkan dalam kehidupan dalam sebuah institusi yang beliau bangun dari semenjak hari pertama beliau hijrah ke Madinah.
Institusi yang beliau bangun menjadi warisan untuk kita, agar senantiasa kita jaga dan lanjutkan dalam menerapkan Islam secara kaffah dalam kehidupan kita. Beliau sebagai pemimpin negara telah memberikan contoh pula bagaimana seorang kepala negara dalam memelihara masyarakat.
Beliau saw, saat membangun masyarakat di Madinah menerapkan kebijakan dengan adil dan tanpa membeda-bedakan agama dan status sosial. Saat tiba di Madinah dulu, beliau membangun masjid sebagai pusat kekuasaan. Di salah satu serambi masjid ini beliau menyiapkan tempat tinggal bagi mereka kaum fakir yang tidak memiliki tempat tinggal dan membiayai kebutuhan mereka yang diambil dari infak dan sadaqah mereka yang memiliki kelebihan harta.
Artinya di sini beliau memberikan contoh bagaimana negara memelihara rakyatnya. Tak sekadar meminta rakyatnya untuk saling tolong menolong, tetapi penguasa pun sebagai bagian dari negara mengurusi mereka yang tidak mampu, bukan berlepas tangan dan menuntut rakyat saja. Seperti saat ini yang terjadi, sehingga muncul slogan rakyat bantu rakyat. Sungguh, hal ini menunjukkan berlepas tangannya negara dalam memelihara rakyatnya.
Pemeliharaan dan pemenuhan kebutuhan rakyat dalam Islam merupakan kewajiban negara. Pemimpin sebagai penguasa wajib untuk menetapkan kebijakan yang mampu memenuhi semuanya. Dalam Islam, penguasa adalah pengurus rakyat.
Rasulullah ﷺ bersabda: "Tidaklah seorang hamba yang Allah beri amanah untuk mengurus rakyat, kemudian ia meninggal pada hari ia meninggal dalam keadaan menipu rakyatnya, kecuali Allah mengharamkan surga bagi dirinya." (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menunjukkan betapa beratnya tanggung jawab penguasa. Jika penguasa tak menjalankan tugasnya maka dianggap sebagai sebuah pengkhianatan terhadap rakyat dan bukan sekadar pelanggaran administratif. Ia adalah dosa besar yang memiliki konsekuensi di akhirat.
Oleh karena itu, sebagai bentuk kecintaan kita kepada Nabi, kita harus terikat dan taat pada setiap aturan Allah yang telah ditetapkan untuk kita semua. Tak hanya sekadar akhlakiyah, tapi semua aspek kehidupan, termasuk di dalamnya pemerintahan. Wallahualam bissawab. [Dara/MKC]


