Alt Title

Cinta Tanpa Syariat Adalah Dusta

Cinta Tanpa Syariat Adalah Dusta


Maulid bukan hanya untuk menangis mengenang masa lalu

Maulid adalah panggilan untuk bangkit dan meneladani

______________________________


Penulis Qitfirul Azizah

Kontributor Media Kuntum Cahaya dan Pencerah Ideologis


KUNTUMCAHAYA.com, OPINI - Selawat tanpa ittibā‘ adalah pujian kosong. Cinta tanpa syariat adalah dusta.


Maulid Terjebak di Ranah Ritual 


Menyambut Rabiulawal 1448 Hijriah, Kementerian Agama mengajak 1.781.945 umat Islam dari berbagai penjuru Indonesia untuk berselawat. Peringatan Maulid Nabi Muhammad saw. ini digelar melalui kegiatan Blissful Mawlid 1448 H.


Salah satu agenda utamanya adalah Gema Selawat Kebangsaan, gerakan nasional yang mengajak masyarakat memperkuat kecintaan kepada Rasulullah saw. Berita tersebut dilansir dari SINDOnews.com pada Minggu, 23 Agustus 2026.


Kecintaan kepada Nabi saw. memang patut diungkapkan. Namun, substansi Maulid kita hari ini kerap berhenti pada aspek ritual dan emosional. Masjid penuh saat peringatan Maulid, tetapi kosong saat Subuh. Majelis selawat meriah, tetapi pembahasan tentang cara menegakkan risalah yang beliau bawa nyaris tidak ada.


Ittibā‘ kepada Nabi saw. masih dipahami sebatas meneladani akhlak pribadi: jujur, amanah, dan dermawan. Padahal akhlak beliau tidak lahir di ruang hampa. Akhlak itu buah dari sistem yang beliau perjuangkan. Sistem yang memutus rantai Jahiliyah: penghambaan kepada berhala, kepada hawa nafsu, dan kepada tuan-tuan Quraisy. Lalu menggantinya dengan penghambaan hanya kepada Allah Swt.


Tuntutan perubahan hari ini sudah muncul. Umat muak dengan korupsi, riba, kemiskinan, dan hukum yang tumpul ke atas tetapi tajam ke bawah. Akan tetapi, arah dan metodenya masih jauh dari metode yang dicontohkan Rasulullah saw. Kita ingin perubahan, tetapi tidak mau menempuh jalan perjuangan beliau.


Cinta Tanpa Konsekuensi Ideologis 


Inilah penyakit kita hari ini: Maulid tereduksi menjadi ekspresi cinta tanpa konsekuensi.


Pertama, cinta Nabi saw. dituntut melahirkan ketaatan pada risalahnya.


Allah Swt. berfirman: “Katakanlah: Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu.” [QS Ali ‘Imran: 31]


Ayat ini tegas. Bukti cinta bukan sekadar air mata saat mendengar sirah. Bukti cinta adalah ittibā‘ — mengikuti beliau dalam akidah, syariat, dan metode perjuangan.


Rasulullah saw. tidak hanya mengajarkan salat dan puasa. Beliau membangun negara di Madinah, menegakkan hukum, dan mengirim duta ke raja-raja untuk mengajak kepada Islam. Beliau berjuang 13 tahun di Makkah dengan metode dakwah yang jelas. Jika cinta kita hanya berhenti di selawat, maka kita belum benar-benar mengikuti beliau.


Kedua, penghambaan kepada selain Allah masih berlangsung secara sistemik.  


Zaman Jahiliyah dulu menyembah berhala. Zaman sekarang kita menyembah sistem. Demokrasi menjadikan suara terbanyak sebagai penentu halal-haram, bukan wahyu.  


Kapitalisme menjadikan materi dan keuntungan sebagai orientasi. Manusia dinilai dari produktivitasnya, bukan ketakwaannya. Riba dilegalkan, sumber daya alam diprivatisasi, dan rakyat dibiarkan miskin.  


Liberalisme menjadikan hawa nafsu sebagai standar. Bebas berpendapat, bebas berperilaku, bebas beragama — selama tidak mengganggu “pasar”.


Inilah bentuk modern dari ‘ubūdiyah lighairillāh — penghambaan kepada selain Allah Swt. Ironisnya, ini berjalan secara sistemik dan dilembagakan oleh negara.


Ketiga, sistem kapitalis-sekuler akan melawan kebangkitan umat. 


Setiap kali ada suara yang menyerukan kembali kepada syariat, akan ada upaya pembungkaman. Disebut radikal, intoleran, dan tidak relevan. Media, lembaga, bahkan aparat dikerahkan untuk menjaga status quo.


Sistem ini tahu bahwa jika umat sadar dan kembali kepada Islam kafah, cengkeraman mereka akan lepas. Sumber daya alam tidak dapat lagi dikuasai asing. Riba harus ditutup. Hukum Allah Swt. harus ditegakkan. Wajar jika mereka melawan.


Qudwah dan Metode Perjuangan Nabi saw.


Jika kita benar-benar mencintai Nabi saw., maka kita wajib menjadikan beliau sebagai qudwah — teladan dalam seluruh aspek, termasuk metode perjuangannya.


1. Qudwah: meneladani akhlak dan perjuangan beliau saw.


Allah Swt. berfirman: “Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu.” [QS Al-Ahzab: 21]


Kata uswah hasanah berarti teladan yang harus diikuti. Bukan hanya akhlaknya saat berdagang, tetapi juga keteguhannya saat menghadapi boikot di Syi‘ib Abi Thalib. Bukan hanya kelembutannya kepada anak, tetapi juga keberaniannya merobohkan berhala dan menegakkan hukum Allah Swt.


Qudwah dalam menghadapi penolakan sistem Jahiliyah 


Saat ditawari kerajaan, harta, dan wanita oleh pemuka Quraisy agar berhenti berdakwah, beliau menjawab: 


“Demi Allah, seandainya matahari diletakkan di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku agar aku meninggalkan dakwah ini, niscaya aku tidak akan meninggalkannya sampai Allah memenangkannya atau aku binasa karenanya.”


Inilah qudwah. Dakwah tidak boleh ditukar dengan dunia. Prinsip tidak boleh dikompromikan demi kekuasaan.


Qudwah dalam membangun negara 


Sesampainya di Madinah, hal pertama yang beliau lakukan adalah membangun masjid, mempersaudarakan Muhajirin-Ansar, dan membuat Piagam Madinah. Beliau menegakkan peradilan, mengirim pasukan, dan mengurus urusan rakyat.


Rasulullah saw bersabda: “Imam atau khalifah adalah rā‘in dan ia bertanggung jawab atas rakyatnya.” [HR Bukhari dan Muslim]


2. Ittibā‘ adalah keterikatan pada syariat dan metode perjuangan  


Mengikuti Nabi saw. berarti mengikuti 3 hal: akidah yang beliau bawa, syariat yang beliau ajarkan, dan tarīqah — metode perjuangan beliau.


Nabi saw. menempuh 3 tahapan sistematis:


Marhalah pertama: Taṣqīf — pembinaan intelektual 

Selama 13 tahun di Makkah, Nabi saw. fokus membentuk kaum muslimin yang memiliki syaksiyah Islamiyah. Mereka diajarkan akidah, hukum, dan cara pandang Islam. Hasilnya: para sahabat yang siap berjuang demi Islam karena paham.


Marhalah kedua: Tafā‘ul ma‘al ummah — interaksi dengan umat

Setelah kaum muslimin terbentuk, Nabi saw. mendatangi kabilah-kabilah di musim haji, menyampaikan Islam, dan mengajak kepada perubahan. Tidak menyembunyikan ide dan tidak kompromi pada prinsip. Tujuannya: mencari nuṣrah — dukungan umat untuk menegakkan kekuasaan Islam.


Marhalah ketiga: Istilāmu al-ḥukmi — penerimaan kekuasaan  

Puncaknya adalah Baiat Aqabah II. Kekuasaan diserahkan kepada Rasulullah saw. untuk menerapkan Islam secara kafah. Dari sinilah tegak Daulah Islam pertama di Madinah.


Inilah metode yang berhasil mengubah Jazirah Arab dari Jahiliyah menjadi mercusuar peradaban dalam 23 tahun.


3. Kewajiban memperjuangkan penerapan syariat kafah melalui Khil4fah 


Rasulullah saw. bersabda: “Bani Israil diurus oleh para nabi. Setiap seorang nabi wafat, digantikan oleh nabi lain. Sedangkan tidak ada nabi setelahku. Yang ada adalah para khalifah dan jumlahnya banyak.” [HR. Bukhari dan Muslim]


Hadis ini menunjukkan bahwa setelah kenabian, kewajiban mengurus umat adalah dengan sistem Khilafah, yaitu sistem yang menerapkan syariat Islam secara menyeluruh.


Selama sistem kapitalis-sekuler masih tegak, kewajiban ini belum gugur. Kita wajib memperjuangkannya dengan metode dakwah seperti Rasulullah saw.: mencerdaskan umat, berinteraksi dengan umat, dan menuntut perubahan sistemik.


4. Islam adalah rahmat bagi seluruh alam  


Allah Swt. berfirman: “Dan Kami tidak mengutus engkau, wahai Muhammad, melainkan untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam.” [QS Al-Anbiya: 107]


Rahmat berarti keadilan ditegakkan, fakir miskin dijamin, sumber daya alam dikelola untuk rakyat, dan hukum tidak pandang bulu. Hal ini tidak dapat diberikan oleh demokrasi, kapitalisme, dan liberalisme.


Solusi: Hidupkan Kembali Ruh Maulid dengan Qudwah 


Agar Maulid Nabi saw. tidak hanya menjadi seremoni tahunan, kita butuh 3 langkah:


1. Jadikan Nabi saw. qudwah dalam berpikir dan berjuang

Bukan hanya meniru cara makan dan berpakaian. Tetapi meniru cara beliau menghadapi sistem batil: tegas, cerdas, dan tidak kompromi.


2. Bangun kesadaran umat tentang sistem  

Umat harus paham bahwa masalah kita bukan sekadar “oknum pejabat korup”, tetapi sistem yang melahirkannya. Selama hukum buatan manusia masih dipakai, kezaliman akan terus berulang.


3. Tempuh metode perjuangan Nabi saw.

- Taṣqīf: buat halakah, kajian, dan sekolah Islam. Cetak generasi yang paham Islam.  

- Tafā‘ul: turun ke masyarakat, jelaskan Islam sebagai solusi. Ajak mereka menuntut perubahan.  

- Istilāmu al-ḥukmi: bersama-sama menuntut tegaknya kepemimpinan yang menerapkan syariat Islam kafah.


Penutup: Jangan Cukup Berselawat 


Wahai umat Islam!  

Maulid bukan hanya untuk menangis mengenang masa lalu. Maulid adalah panggilan untuk bangkit dan meneladani.


Rasulullah saw. tidak datang hanya untuk dicintai. Beliau saw. datang untuk ditaati dan diikuti qudwah-nya.


Jika kita benar mencintai beliau, buktikan dengan berjuang seperti beliau berjuang, yakni menolak sistem Jahiliyah dan menegakkan sistem Islam.


Jangan sampai 100 tahun lagi anak cucu kita masih memperingati Maulid dengan cara yang sama: meriah di luar, kosong di dalam. Sementara sistem yang menzalimi umat masih berdiri kokoh.


Saatnya kita mengembalikan ruh Maulid. Bukan sekadar berselawat, tetapi juga siap memikul amanah dan meneladani perjuangan beliau.


Karena satu-satunya cara memuliakan Nabi saw. adalah dengan menegakkan apa yang beliau perjuangkan.


“Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu.” [QS Al-Ahzab: 21]


Wallahualam bissawab