Alt Title

Benarkah Kita Sudah Merdeka?

Benarkah Kita Sudah Merdeka?


Dalam bernegara kita sudah merdeka

namun secara ekonomi kita jauh dari kata merdeka karena kesenjangan sosial nampak nyata

__________________________


KUNTUMCAHAYA.com, SURAT PEMBACA - Beberapa hari lalu, setiap tanggal 17 Agustus, kita mengibarkan bendera merah putih, menyanyikan lagu kebangsaan, dan mengingat kembali perjuangan para pahlawan.


Kita bangga mengatakan bahwa Indonesia telah merdeka sejak 1945. Secara hukum dan politik, benar bahwa Indonesia telah menjadi negara yang berdaulat.


Namun, ada pertanyaan yang lebih dalam: benarkah seluruh rakyat Indonesia sudah merasakan kemerdekaan dalam kehidupan sehari-hari.? Nyatanya masih banyak rakyat Indonesia yang miskin, kelaparan dan bencana yang belum juga selesai, akibat kelalaian dalam mengurusi urusan rakyatnya, apa ini yang dikatakan kita sudah merdeka?


Perayaan HUT ke-81 Kemerdekaan RI di Kecamatan Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang, pada Senin (17-8-2026) menjadi perhatian setelah seorang nenek terlihat melintas di tengah kegiatan yang dihadiri pejabat dan tamu undangan. Momen tersebut terekam kamera dan kemudian beredar di media sosial. Kehadiran sang nenek di tengah rangkaian acara pun memunculkan beragam tanggapan dari warganet. 


Di tengah suasana seremoni yang berlangsung khidmat, perhatian publik justru tertuju pada sosok nenek yang berjalan di antara peserta dan tamu undangan. Kemudian memunculkan pertanyaan mengenai ruang bagi masyarakat umum dalam berbagai kegiatan peringatan kemerdekaan, dalam hal ini rakyat juga berharap ikut serta dalam perayaan kemerdekaan ini. (Radarkediri.com, 19-08-2026)


Dalam Kapitalisme, Rakyat Tidak Akan Pernah Merdeka


Setiap tahun kita memperingati kemerdekaan dengan mengibarkan bendera merah putih, mengikuti upacara, dan mengenang jasa para pahlawan. Namun, di balik kemeriahan perayaan kemerdekaan, ada pertanyaan yang patut kita renungkan: apakah seluruh rakyat benar-benar telah merasakan kemerdekaan?


Namun, dalam sistem kapitalisme kehidupan masyarakat sangat dipengaruhi oleh mekanisme pasar dan kepemilikan modal. Keuntungan sering menjadi pertimbangan utama dalam aktivitas ekonomi. Akibatnya, kebutuhan dasar masyarakat dapat diberlakukan sebagai komoditas yang harus dibeli sesuai kemampuan masing-masing.


Di sinilah persoalan muncul. Bagaimana rakyat kecil dapat merasa merdeka jika kebutuhan pokok semakin mahal, sementara pendapatan tidak selalu mencukupi? Bagaimana rakyat merasa merdeka jika pendidikan dan kesehatan berkualitas sulit dijangkau oleh keluarga yang ekonominya lemah? Kemerdekaan akhirnya terasa berbeda bagi setiap orang. 


Kemerdekaan Sejati dengan Kebangkitan Islam


Kemerdekaan sering dimaknai sebagai terbebas dari penjajahan. Namun bagi seorang muslim, kemerdekaan memiliki makna yang lebih dalam, yaitu terbebas dari penghambaan kepada manusia dan hanya tunduk kepada Allah Swt. sebab manusia diciptakan bukan untuk mengikuti aturan manusia semata, tetapi untuk beribadah kepada Allah.


Allah Swt. berfirman: “Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)


Hari ini kita memang telah merdeka dari penjajahan secara fisik. Namun, berbagai persoalan masih dirasakan masyarakat, seperti kesulitan ekonomi, mahalnya kebutuhan hidup, ketimpangan, dan persoalan keadilan. Karena itu, kemerdekaan seharusnya tidak berhenti pada perayaan dan seremoni, tetapi juga diwujudkan dalam kehidupan rakyat.


Islam memiliki aturan yang mengatur kehidupan manusia secara menyeluruh.


 Allah Swt. berfirman: “Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah.” (QS. Yusuf: 40)


Ayat tersebut mengingatkan bahwa seorang Muslim meyakini hukum tertinggi berasal dari Allah Swt.. Maka, kehidupan tidak seharusnya hanya berorientasi pada kepentingan manusia, kekayaan, atau kekuasaan, tetapi harus mengikuti aturan yang telah ditetapkan oleh Allah.


Dalam Islam, pemimpin juga memiliki tanggung jawab besar terhadap rakyat. Rasulullah ﷺ bersabda:


“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)


Hadis ini menunjukkan bahwa kekuasaan adalah amanah. Pemimpin tidak hanya bertugas memerintah, tetapi juga wajib memperhatikan keamanan, kebutuhan, keadilan, dan kesejahteraan masyarakat.


Sebagai muslim kita harus yakin bahwa Khil4fah adalah sistem pemerintahan Islam yang berlandaskan syariat Islam dan menjadikan penguasa sebagai pengurus urusan rakyat. Tujuannya bukan sekadar pergantian bentuk pemerintahan, tetapi bagaimana nilai keadilan dan hukum Allah diterapkan dalam kehidupan. Alhasil, rakyat bisa merasakan apa arti kemerdekaan.


Kemerdekaan sejatinya bukan hanya tentang bendera yang berkibar dan upacara setiap tahun, tetapi kehidupan rakyatnya masih sengsara. Merdeka itu jika rakyat mendapatkan haknya, hidup dengan aman, memperoleh keadilan, dan tidak menjadi korban kesewenang-wenangan.


Maka, mari menjadikan momentum kemerdekaan sebagai bahan renungan. Sudahkah kemerdekaan benar-benar dirasakan oleh seluruh rakyat? Bagi seorang muslim, kemerdekaan yang hakiki adalah ketika manusia tidak menjadi hamba bagi manusia lainnya, tetapi hanya tunduk dan taat kepada Allah Swt.. Wallahualam bissawab. [Luth/MKC]


Marlina Wati, S.E