Sistem Kehidupan Islam: Selamatkan Masa Depan Generasi
Surat PembacaBanyak dari Generasi Z hari ini merasa jauh dari agama
karena narasi yang sampai kerap kali terasa kaku, regresif, atau sekadar berisi ancaman
___________________
KUNTUMCAHAYA.com, SURAT PEMBACA - Di era ketika lini masa media sosial dipenuhi tren self-care, aesthetic lifestyle, dan perjuangan mencari inner peace, pernahkah kamu merasa ada yang janggal? Kita diajarkan untuk merawat diri, tetapi lingkungan di sekitar kita justru makin membuat sesak.
Kasus keracunan massal yang menimpa ratusan saudara kita di Jayapura, naiknya pajak buku, sampai kopdes lahir dari tata kelola program publik yang serampangan, (kompas.com, 7-8-26). Bagi Generasi Z yang kritis, respons terhadap peristiwa seperti ini tidak boleh berhenti pada riak simpati di InstaStory atau sekadar tagar viral yang menguap dalam 24 jam.
Ini adalah momentum untuk mempertanyakan hal yang lebih mendasar. Hidup manusia di bawah sistem terasa begitu murah dan transaksional
Gen Z sering dijuluki sebagai generasi yang paling sadar isu sosial (socially aware) dan paling lelah secara mental (burnout). Alasan psikologisnya sederhana, kita dipaksa hidup dalam sistem kapitalisme global yang mengukur segala sesuatu berdasarkan angka, efisiensi, dan margin keuntungan. Ketika negara atau lembaga publik berinteraksi dengan rakyat menggunakan kacamata bisnis, manusia tidak lagi dipandang sebagai jiwa yang wajib dilindungi, melainkan sekadar angka statistik, konsumen, atau komoditas politik.
Pangan yang seharusnya menjadi jaminan dasar hidup yang higienis dan menyehatkan, berubah menjadi proyek kejar tayang demi memuaskan target kuantitas atau kepentingan segelintir elite. Di sinilah letak krisis dasarnya. Ketika profit diletakkan di atas kemanusiaan, kelalaian prosedur dianggap hal biasa, dan keselamatan rakyat diposisikan sebagai risiko yang bisa diganti dengan permohonan maaf formalitas.
Menjadikan Islam Way of Life
Islam bukan sekadar sekumpulan ritual pribadi di atas sajadah, melainkan sebuah sistem nilai dan tata kelola kehidupan (ideology & governance) yang komprehensif. Banyak dari Generasi Z hari ini merasa jauh dari agama karena narasi yang sampai kerap kali terasa kaku, regresif, atau sekadar berisi ancaman. Padahal, jika menggali akar pemikiran Islam yang otentik, Islam menghadirkan jawaban revolusioner atas krisis sosial, ekonomi, dan politik global.
Dalam pandangan Islam, kepemimpinan dan pengelolaan publik bukanlah panggung pencitraan, apalagi ajang berbisnis dengan rakyat. Islam menetapkan kaidah fundamental: "Setiap kalian adalah pengurus dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang diurusnya." (HR. Bukhari & Muslim)
Prinsip ri’ayah (pengurusan) mewajibkan negara bertindak sebagai pelindung (junnah). Negara bukan korporasi yang menjual jasa kepada warganya, melainkan penjamin langsung atas kebutuhan pokok setiap individu. Mulai dari pangan yang aman, pendidikan gratis berkualitas, hingga layanan kesehatan tingkat tinggi. Jika ada satu saja nyawa yang terancam akibat kelalaian sistemis, Islam memandangnya sebagai kegagalan besar yang menuntut pertanggungjawaban hukum secara tegas, bukan sekadar kompromi di balik pintu tertutup.
Gen Z Peduli Penerapan Islam Kafah
Mendengar kata Khil4fah, sebagian orang mungkin merasa asing atau terbayang narasi negatif yang dikonstruksi media. Namun, secara substantif dan historis, Khil4fah Islamiyyah adalah model kepemimpinan global yang menerapkan hukum-hukum Islam secara utuh untuk mewujudkan keadilan hakiki. Sistem Islam mengelola fasilitas umum seperti rumah sakit, sekolah, dan pengawasan mutu pangan secara penuh tanpa berorientasi pada keuntungan (non-profit).
Tidak ada celah bagi oligarki untuk menjadikan kebutuhan dasar rakyat sebagai ladang investasi yang mengabaikan keselamatan. Prinsip itqan (profesionalisme) dan kesucian nyawa manusia membuat pejabat atau kontraktor yang lalai dalam tugas publik dapat dijatuhi sanksi hukum berat. Nyawa seorang anak di pelosok desa memiliki nilai yang sama berharganya dengan nyawa seorang pejabat di pusat kota.
Gen Z merindukan dunia yang adil, transparan, dan berkesinambungan. Sistem Islam menghadirkan kepemimpinan yang tidak bertumpu pada keserakahan modal, melainkan pada ketundukan kepada Sang Pencipta (Tawhid) yang melahirkan empati sejati kepada sesama manusia. Menjadi kritis adalah karakter alami Gen Z.
Namun, kritis tanpa arah hanya akan menjadikan kita generasi yang skeptis dan hopeless (doomer). Tragedi demi tragedi akibat bobroknya tata kelola hari ini harus menjadi titik balik. Langkah konkrit dimulai dari mengedukasi diri, mempelajari Islam bukan hanya sebagai aturan individu, tetapi sebagai jawaban atas krisis global. Gunakan kreativitas, platform digital, dan literasi yang dimiliki untuk bersuara kritis membongkar ketidakadilan serta menawarkan alternatif pemikiran yang fundamental.
Mari, bergabung dalam gerakan kebaikan yang memperjuangkan penerapan nilai Islam secara utuh. Dunia yang lebih baik tidak akan lahir dari sistem yang gagal mengurus manusia. Saatnya Gen Z mengambil peran dan menjadi bagian dari perubahan sejati. Wallahualam bissawab. [Dara/MKC]
Rizky Damayanti, ST


