Pajak Dipaksa, G4za Dibelah, Remaja Terinfeksi
OpiniWaktunya bagi kita menjadi umat yang satu,
dan remaja yang terjaga, bukan umat yang tercerai berai dan remaja yang rusak
____________________
Penulis Misriyatik
Kontributor Media Kuntum Cahaya
KUNTUMCAHAYA.com, OPINI - Negara hari ini sibuk menggandeng Babinsa untuk membantu pengawasan kepatuhan pajak rakyat. Sibuk kampanye normalisasi edukasi seksual untuk kalangan remaja dan pelajar. Namun sayang, negara diam saat entitas Zion*s membelah G4za dengan tembok sepanjang 23 KM.
Kerusakannya mungkin saja berbeda, namun akar masalahnya sama yaitu berasal dari sistem sekuler kapitalisme yang terbukti gagal dalam mengurusi rakyat. Negara yang seharusnya melindungi rakyat, mengurusi urusan umat, berubah menjadi pemeras rakyat, pembela kezaliman, dan penghianat nyata bagi rakyat.
Kepatuhan Pajak Serasa Pemaksaan
Juli 2026, public dibuat ramai, heboh dengan terbitnya SE-8/PJ/2026 yang melibatkan Babinsa dari TNI dan Bhabinkamtibmas dari Polri untuk pengawasan kepatuhan wajib pajak. (CNNIndonesia, 21-7-2026)
Walaupun keduanya tidak memiliki wewenang untuk menagih pajak. Namun di benak masyarakat sudah tertanam pajak sama dengan ancaman. Sebagai contoh, kendaraan yang akan mengisi BBM di sebuah SPBU di stop tidak boleh isi BBM jenis pertalite karena belum bayar pajak kendaraan bahkan terjadi aksi kejar - kejaran.
Ironis, disaat rakyat kecil dikejar-kejar oleh pajak, negara sendiri sibuk memberikan karpet merah buat para oligarki: tax amnesty, tax holiday, dan family office. Adilkah ini? Hal serupa sangat berbeda dengan negara yang menerapkan syariat Islam. Pemimpin Islam (khalifah) berperan sebagai raa'in yaitu pelayan yang mengurusi urusan umat bukan sebaliknya.
Ketika pendapatan negara didapatkan bukan melalui pajak. Dalam negara Islam, pendapatan negara diatur di baitulmal yang memiliki sumber pemasukan dari pengelolaan SDA, jizyah, kharaj, dan zakat. Sedangkan pajak digunakan jika keadaan negara sedang sulit atau darurat, dan hanya diambil dari orang kaya saja, bukan dari semua rakyat dalam daulah.
Entitas Zion*s Isra*l Bangun Tembok Membelah G4za
Pada 21 Juli 2026, Citra Satelit membongkar kejahatan baru, tembok tanah raksasa sepanjang 23 KM membelah G4za telah dibangun Isra*l dengan diam-diam. (Kompas.com, 22-7-2026)
Pembangunan tembok ini melintasi pemukiman penduduk yang sudah hancur dan dahulu dihuni 2 juta penduduk.
Melihat fakta yang terjadi, ini jelas bukan keamanan. Israel tidak akan pernah mau memberikan kemerdekaan kepada rakyat P4lestina. Proyek BOP dan New G4za hanya sebuah propaganda yang menipu. Hal itu dibuat serasa manis untuk mengelabui.
Umat tidak boleh diam dan tertipu oleh muslihat ini. Berdamai dengan kezaliman adalah haram. Pembebasan atas P4lestina adalah fardu kifayah dan akan terwujud dengan adanya jihad fisabilillah di bawah komando seorang khalifah. Tanpa adanya negara yang menyerukan seruan jihad fisabilillah, P4lestina tidak akan pernah bebas dan merdeka. Inilah pentingnya sebuah persatuan dibawah satu kepemimpinan tunggal bernama Khil4fah sebagai kunci kemenangan.
Darurat Remaja Terjangkit HIV
Dinas kesehatan Pemkab Sidoarjo mencatat 7.230 orang sudah hidup dalam ketakutan HIV, 522 diantaranya merupakan pelajar dari jenjang PAUD - SMA. (Kumparannews, 24-7-2026)
Di Sumatra Utara, KPA mencatat 297 pelajar dan mahasiswa sudah terjangkit HIV. Sementara, Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Dardak malah mengusulkan pendidikan seksual sedini sebagai solusi. Dengan edukasi ini, anak tidak akan terjerumus pada pergaulan bebas pikirnya.
Sayang seribu kali sayang, masalahnya bukan kurangnya edukasi seksual sejak dini atau kurangnya alat pengaman di pasaran. Masalahnya adalah di sistem yang kita gunakan dalam kehidupan hari ini yakni sistem sekuler demokrasi yang memisahkan agama dari kehidupan dan sangat mengedepankan kebebasan dengan dalih HAM. Solusi yang diberikan adalah solusi tambal sulam. Tidak sampai menyentuh akar masalahnya.
Atas permasalahan ini, Islam punya solusi. Aturan sistem pergaulan, perintah menutup aurat, menundukkan pandangan dan menjaga kemaluannya, dan larangan berkhalwat serta sanksi tegas bagi pelaku zina. Tidak hanya sebatas sistem pergaulan, sinergi tiga Pilar juga sangat dibutuhkan.
Keluarga sebagai madrasah ula, masyarakat sebagai kontrol amar makruf nahi mungkar, dan negara sebagai pelaksanan dan penegakan sanksi berdasarkan Islam atas setiap pelanggaran. Pendidikan seksual bukan cuma soal teknis, ia merupakan perkara fikih dan peranan akidah sangatlah penting. Meyakini zina adalah dosa dan menutup aurat sebagai ibadah adalah buah dari akidah yang mantap.
Kembalilah kepada Syariat Islam
Satu solusi untuk tiga permasalahan umat hari ini. Pajak yang menindas, G4za yang dihianati dan terbelah, serta remaja rusak dan rawan terpapar HIV. Akar masalahnya adalah negara tidak menerapkan sistem Islam secara kafah dalam kehidupan sehari-hari dan bernegara. Sudah saatnya kita tinggalkan sistem rusak ini dan menggantinya dengan yang sistem yang lebih baik.
Waktunya bagi kita menjadi umat yang satu, dan remaja yang terjaga, bukan umat yang tercerai berai dan remaja yang rusak. Kembalilah pada hukum yang bersumber dari Al Mudabbir, yakni menerapkan Islam secara keseluruhan.
Sebagaimana firman Allah Swt., yang artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan. Sungguh, ia musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al-Baqarah [2]: 208)
Wallahualam bissawab. [Dara/MKC]


