Alt Title

Gen Z: Dari Depresi Menuju Resistensi

Gen Z: Dari Depresi Menuju Resistensi

 




Kondisi Gen Z dengan depresi sebagai akibat 

negara tidak menjamin dan menyediakan masa depan yang pasti

___________________


Penulis Melta Vatmala Sari, S.E

Kontributor Media Kuntum Cahaya


KUNTUMCAHAYA.com, OPINI- Generasi muda yang disebut Gen Z saat ini berada di antara dua kenyataan. Di satu sisi, Generasi Z diberi harapan untuk mewujudkan mimpi bonus demografi menjadi bagian untuk menghantarkan Indonesia Emas pada tahun 2045.


Namun, di sisi lain mereka menghadapi kehidupan Indonesia yang makin renta. Pasalnya, rakyat Indonesia nampak berada di ambang kekacauan karena biaya pendidikan yang tinggi, masalah kesehatan mental, kecanduan digital, hoaks, dan kesulitan mendapatkan pekerjaan. 


Memang Gen Z hari ini memiliki akses yang lebih luas dibandingkan generasi sebelumnya. Sebab Gen Z hari ini ditekan dengan masa depan mereka sendiri. Tekanan masa depan seperti, untuk apa kuliah kalau tidak dapat kerja. Pernyataan itu menjadi sebuah pemikiran oleh Gen Z yang disebut dengan tekanan akademis. Inilah faktor yang menambah beban kekhawatiran dan kesepian dalam memikirkan masa depannya.


Data Survei Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) tahun 2022 menunjukkan bahwa 34,8 persen remaja di Indonesia, atau setara dengan 15,5 juta jiwa menghadapi persoalan kesehatan mental. Sementara itu, 5,5 persen di antaranya teridentifikasi memenuhi kriteria gangguan mental. Fenomena ini dipengaruhi oleh sejumlah faktor, antara lain perkembangan pada masa pubertas, dinamika emosional, dan tekanan sosial yang dialami remaja.


Kecemasan sosial merupakan kondisi ketika seseorang mengalami ketakutan berlebihan terhadap perhatian atau penilaian orang lain ketika berada dalam situasi sosial. Sebagaimana dijelaskan dan dikutip dari National Society Anxiety Center pada Kamis (30-04-2026).


Contohnya, ketakutan ini muncul ketika seseorang harus berbicara di depan publik, berinteraksi dengan orang yang baru dikenal, atau menghadapi perbedaan pendapat dengan orang lain. Dampaknya individu yang mengalami kecemasan sosial sering merasa cemas bahwa tindakan atau perilakunya akan dinilai secara negatif sehingga menimbulkan rasa malu atau tidak nyaman. (www.mojok.co.urban)


Faktor Penyebab Rusaknya Gen Z


Kondisi Gen Z dengan depresi sebagai akibat negara tidak menjamin dan menyediakan masa depan yang pasti. Depresi ini menuju mental yang resistensi. Apa yang dimaksud dengan mental resistensi? Yaitu mental sebagai bentuk perlawanan bawah sadar dari pikiran seseorang terhadap perubahan, kemajuan, atau penerimaan bantuan.

 
Adapun faktor penyebabnya, antara lain:


1. Media Sosial 


Akibat dari media sosial ini banyak anak anak yang membuat konten dengan mengejar flower terbanyak, like, komen dan share. Hingga anak-anak membuat konten yang melanggar syariat contoh dalam live, melepas hijab konten 'velocity' baik di media tik tok atau instagram.


2. Kurangnya pengendalian ego


Walaupun anak muda sekarang terhubung melalui perangkat, tetapi anak muda zaman sekarang sangat sulit dalam mengendalikan emosional dan egonya sehingga banyak anak muda kehilangan teman akrab, keluarga, dan teman teman di dunia nyata. Akibatnya banyak anak muda zaman sekarang mengalami depresi karena mereka merasa kesepian dan merasa tidak punya siapa-siapa yang ada di sekitarnya.


3. Hedonisme


Hedonisme adalah kesenangan hidup, kenyamanan hidup, dan kenyamanan diri dengan tujuan utamanya adalah materi. Itu menyebabkan anak muda zaman sekarang sering merasa tidak puas. Tingginya biaya hidup, sulit memperoleh pekerjaan yang layak apalagi setelah memiliki gelar S1, S2 dan seterusnya pasti ingin mendapatkan pekerjaan yang pantas sesuai keahlian, tetapi itu semua hanyalah harapan semata.


Mereka memiliki standar gaya hidup yang berlebihan dari sosial media. Mereka beranggapan orang yang paling sukses adalah yang bergelimang materi dan sukses dalam karier. Maka inilah penyebab munculnya mental resistensi.


Kerusakan moral yang terjadi pada sebagian pemuda saat ini dipandang bukan sebagai sesuatu yang muncul tanpa sebab. Banyak yang menilai generasi muda semakin terpengaruh oleh pola hidup Barat. Budaya liberal yang menempatkan kesenangan sebagai prioritas dianggap mulai memengaruhi pola pikir Gen Z. 


Aktivitas di media sosial seperti TikTok dinilai lebih sering menarik perhatian dibandingkan kebiasaan membaca Al-Qur’an. Figur publik dan influencer juga dinilai lebih dikenal daripada meneladani Rasulullah saw. dan para sahabatnya. Dampaknya perilaku seperti pacaran, gaul bebas, hingga seks di luar pernikahan mulai dianggap wajar. 


Demikian pun dalam cara berpakaian makin terbuka, dan berbagai bentuk gaya hidup yang dianggap menyimpang memperoleh penerimaan sosial. Orientasi hidup pun dinilai bergeser, dari mencari rida Allah menjadi mengejar keuntungan dan kepuasan pribadi.


Dalam pandangan ini, budaya Barat yang berlandaskan sekularisme—memisahkan kehidupan dari nilai agama—dipandang dapat membuat sebagian pemuda kehilangan arah dan tujuan hidup. Akibat dari mental resistensi Ini banyak dikalangan Gen Z mempertanyakan sistem kerja eksploitatif, ketimpangan, atau kesenjangan ekonomi yang semakin menjadi jadi, kerusakan lingkungan, hingga kebijakan yang dinilai tidak berpihak kepada rakyat.


Oleh karena itu, banyak anak muda menyuarakan isu kemanusiaan terhadap ketidakadilan dalam ekonomi saat ini. Sistem kapitalisme – sekuler telah melemahkan pemikiran masyarakat dengan problematika yang terjadi tanpa menemukan solusi. Mulai dari ketimpangan ekonomi, ketidakpastian pekerjaan, hingga krisis makna hidup. Kerusakan ini semua membuat anak muda hilang jati diri mereka, sebab negara mengajarkan tentang hidup materialisme dan individualisme.


Sejak diberlakukan sistem yang jauh dari aturan Allah Swt. telah memberikan pelajaran untuk kembali mengingat kisah nyata tentang peran penting para pemuda di masa lalu. Generasi muda saat ini, termasuk Gen Z, perlu mentadabburi ayat-ayat Allah Swt. sebagai pedoman hidup. 


Dalam surah Al-Kahfi ayat 13 disebutkan:
“Kami ceritakan kisah mereka kepadamu dengan sebenarnya. Sesungguhnya mereka itu adalah para pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambahkan petunjuk kepada mereka.”


Ayat di atas menggambarkan situasi pada masa itu, di mana keadaan masyarakat berada dalam kondisi penuh penyimpangan karena mayoritas manusia menyembah berhala. Di tengah situasi tersebut, para Ashabul Kahfi—sekelompok pemuda yang beriman—tetap teguh mempertahankan keimanan dan berani menyampaikan kebenaran meskipun harus menghadapi risiko besar, termasuk ancaman terhadap keselamatan diri mereka.


Demikianlah para pemuda ini lebih memilih untuk menentang sistem yang menyimpang. Lalu Allah Swt. melindungi mereka dengan menidurkannya selama kurang lebih 300 tahun. Ketika mereka terbangun, kondisi dunia telah berubah menjadi lebih baik.

Bukti Sejarah Islam Mendidik Generasi


Sejarah telah membuktikan bahwa sistem Islam menjamin kebutuhan manusia dalam pekerjaan, pendidikan , ekonomi, dan kesehatan. Dalam pendidikan, kurikulum dipersiapkan untuk mencetak generasi dengan berkepribadian Islam. Mereka dibentuk dan tumbuh di atas landasan akidah, Al-Qur'an jadi pedoman, dan kesadaran hubungan dengan Allah Swt. mewarnai setiap perbuatannya.


Pada masa peradaban Islam berhasil melahirkan para ilmuan. Sebut saja Usamah bin Zaid pada usia 18 tahun telah dipercaya memimpin pasukan menuju Romawi. Ada Muhammad Al-Fatih di usia 21 tahun berhasil menaklukkan Konstantinopel yang kini dikenal sebagai Istanbul di Turki. 


Selain itu, terdapat tokoh-tokoh seperti Imam Syafi’i, Al-Khawarizmi, Maryam Al-Ijliyyah, dan Fatimah Al-Fihri yang karya dan kontribusinya masih dirasakan hingga saat ini. Mereka menjadi contoh bahwa pemuda sebagai agen perubahan besar dalam ilmu, kepemimpinan, dan nilai-nilai Islam yang agung.


Demikian pun dengan generasi saat ini. Mereka adalah aset bangsa sekaligus penentu arah peradaban di masa depan. Karena itu, negara memiliki tanggung jawab dalam membina dan mengurus generasi muda. Peran negara tidak hanya sebatas membuat regulasi atau mengatur aspek ekonomi, tetapi juga memastikan terbentuknya lingkungan yang mendukung perkembangan remaja.


Pada hakikatnya, keagungan sejarah Islam tidak pernah hilang. Ada andil para ulama yang menyingkap kebenaran dan mengembalikan ingatan kaum muslimin bahwa mereka dahulu pernah memiliki peradaban nan agung.  


Kisah Ashabul Kahfi mengingatkan kita bahwa pemuda memiliki peran penting sebagai penggerak perubahan yang berlandaskan akidah, dan menjadi motor penggerak perubahan menuju lahirnya kembali sebuah peradaban Islam.

Negara Soko Guru Peradaban 


Dalam pandangan Islam, negara berkewajiban menyelenggarakan pendidikan berbasis kurikulum Islam yang bertujuan membentuk generasi dengan pola pikir dan pola sikap yang berlandaskan nilai-nilai Islam. 


Dengannya akan lahir generasi yang bertakwa, berilmu, dan memiliki ketangguhan dalam menghadapi tantangan kehidupan. Selain itu, negara juga mengatur kehidupan sosial agar lingkungan pergaulan generasi muda tetap terarah dan menjauhkan mereka dari aktivitas yang dapat membangkitkan syahwat. Pengawasan terhadap media juga dipandang penting untuk menilai apakah suatu aktivitas yang secara hukum mubah lebih banyak membawa manfaat atau justru mudarat.


Dalam sistem pemerintahan Islam, negara wajib menyediakan penegakan hukum yang tegas terhadap pelanggaran syariat serta menerapkan sistem ekonomi yang memungkinkan orang tua memiliki waktu yang cukup untuk mendampingi dan mendidik anak-anak mereka.


Di sisi lain, keluarga tetap memegang peranan utama dalam pembentukan karakter. Ayah berperan sebagai pemimpin keluarga yang bertanggung jawab memenuhi kebutuhan lahir dan menjaga fitrah keluarga, sedangkan ibu dipandang sebagai madrasah pertama bagi anak. Keduanya diharapkan membangun komunikasi yang baik, mengawasi pergaulan anak, serta menjadi teladan sesuai dengan nilai-nilai syariat Islam. Wallahualam bissawab.[EA/MKC]