Alt Title

Gencatan Senjata Palsu Darah G4za Terus Mengalir

Gencatan Senjata Palsu Darah G4za Terus Mengalir

 



Fenomena ini menunjukkan bahwa

gencatan senjata yang disponsori Barat bukanlah jaminan lahirnya keadilan

_________________________


KUNTUMCAHAYA.com, SURAT PEMBACA- Gencatan senjata seharusnya menjadi pintu menuju berakhirnya pertumpahan darah. Namun, realitas di G4za justru memperlihatkan ironi yang memilukan.


Kesepakatan yang dimediasi Amerika Serikat sejak Oktober 2025 tidak menghentikan pembunuhan, tetapi hanya mengubah bentuknya. Hingga pertengahan Juni 2026, lebih dari 1.000 warga P4lestina dilaporkan tewas akibat serangan Isra*l setelah gencatan senjata diberlakukan. Serangan udara, penembakan, perluasan wilayah pendudukan, dan blokade kemanusiaan tetap berlangsung. Sementara dunia seolah dipaksa menganggap keadaan telah "tenang." (aljazeera.com,18-06-2026)


Fenomena ini menunjukkan bahwa gencatan senjata yang disponsori Barat bukanlah jaminan lahirnya keadilan. Ketika pihak yang menjadi penjamin sekaligus merupakan sekutu utama Isra*l, sulit mengharapkan sikap yang benar-benar netral. Selama kepentingan politik dan strategis masih menjadi pertimbangan utama, penderitaan rakyat P4lestina akan terus diposisikan sebagai angka statistik, bukan tragedi kemanusiaan yang harus dihentikan.

Ketiadaan Junnah, Akar Persoalan Umat


Dalam pandangan Islam, persoalan P4lestina bukan sekadar pelanggaran gencatan senjata, melainkan akibat tidak adanya junnah (perisai) yang melindungi kaum muslim.


Rasulullah ﷺ bersabda:

"Sesungguhnya imam (khalifah) itu adalah perisai (junnah), yang orang-orang berperang di belakangnya dan berlindung kepadanya." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)


Hadis ini menegaskan pentingnya kepemimpinan yang menjaga keamanan dan kehormatan umat. Karena itu, menggantungkan keselamatan kaum muslim kepada kekuatan asing yang memiliki kepentingan politik sendiri bukanlah jalan yang membawa solusi bagi P4lestina.


Al-Qur'an pun mengingatkan: "Dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk menguasai orang-orang yang beriman." (QS. An-Nisa: 141)


Atas dasar itu, sebagian pemikiran politik Islam memandang bahwa penyelesaian konflik P4lestina memerlukan persatuan umat di bawah kepemimpinan Islam yang mampu melindungi wilayah kaum muslim dan memperjuangkan pembebasan P4lestina sesuai syariat. Pandangan ini merupakan salah satu perspektif dalam khazanah pemikiran politik Islam.


G4za kembali mengingatkan bahwa perdamaian yang dibangun di atas kepentingan politik mudah runtuh. Bagi umat Islam, perjuangan untuk membela saudara seiman, menguatkan persatuan, dan berikhtiar menghadirkan kepemimpinan yang melindungi umat dipandang sebagai bagian dari tanggung jawab besar yang tidak boleh dilupakan. Sebab selama akar persoalan belum diselesaikan, setiap gencatan senjata hanya berpotensi menjadi jeda singkat sebelum derita kembali berulang.


G4za telah berkali-kali membuktikan bahwa nasib umat tidak akan berubah hanya dengan resolusi, kecaman, atau gencatan senjata yang rapuh. Selama kaum Muslim tidak memiliki kepemimpinan yang mampu menjaga kehormatan dan melindungi darah mereka, luka yang sama akan terus berulang. 

Karena itu, bagi mereka yang meyakini pandangan ini, perjuangan menegakkan kehidupan Islam di bawah kepemimpinan yang menerapkan syariat bukan sekadar cita-cita politik, melainkan ikhtiar untuk menghadirkan kembali perisai bagi umat. Sebab, ketika umat bersatu di atas petunjuk Allah, kemuliaan bukan lagi angan-angan, tetapi janji yang diperjuangkan dengan iman, kesabaran, dan ketaatan.

Wallahualam bissawab.[EA/MKC]

Evi Faouziah, S.Pd