Refleksi Hardiknas, Potret Pendidikan Kian Mengkhawatirkan
Surat PembacaHardiknas seharusnya tidak berhenti sebagai peringatan seremonial tahunan
Momentum ini perlu dijadikan sarana evaluasi menyeluruh terhadap arah pendidikan bangsa
____________
KUNTUMCAHAYA.com, SURAT PEMBACA- Hari Pendidikan Nasional semestinya menjadi moment yang tepat untuk menilai kembali sejauh mana pendidikan mampu membentuk generasi berkualitas.
Namun, kenyataan yang terlihat saat ini justru menunjukkan berbagai persoalan yang semakin serius. Di tengah perayaan dan slogan tentang kemajuan pendidikan, berbagai kasus kekerasan, penyimpangan moral, hingga kriminalitas terus terjadi di lingkungan pelajar dan mahasiswa.
Kasus kekerasan dan pelecehan seksual di sekolah maupun kampus semakin sering muncul. Tempat yang seharusnya aman bagi peserta didik justru kerap menjadi ruang yang mengancam keselamatan mereka. Salah satu peristiwa tragis terjadi di Bantul, ketika seorang pelajar bernama Ilham Dwi Saputra meninggal dunia akibat pengeroyokan brutal.
Beberapa pelaku telah diamankan polisi, sementara lainnya masih dalam pengejaran. Lembaga pemantau kepolisian setempat mengindikasikan bahwa aksi tersebut diduga telah direncanakan sebelumnya. (Kumparan news, 21-05-2026)
Selain itu, praktik ketidakjujuran dalam dunia pendidikan juga makin terbuka. Di Surabaya kasus jaringan joki UTBK yang membantu peserta masuk perguruan tinggi dengan cara curang menunjukkan bahwa sebagian pelajar mulai menghalalkan segala cara demi meraih keberhasilan akademik. Kondisi ini memperlihatkan bahwa nilai kejujuran dalam pendidikan semakin terkikis. (Antara, 08-05-2026)
Permasalahan lain yang tak kalah memprihatinkan adalah meningkatnya penyalahgunaan narkoba di kalangan generasi muda. Pelajar dan mahasiswa yang seharusnya menjadi aset masa depan bangsa justru banyak terjebak dalam pergaulan yang merusak diri mereka sendiri. Di sisi lain, muncul pula fenomena menurunnya rasa hormat kepada guru. Tidak sedikit pendidik yang menghadapi penolakan bahkan ancaman hukum ketika memberikan teguran atau hukuman yang bersifat mendidik terhadap siswa.
Berbagai kejadian tersebut menunjukkan adanya krisis karakter dalam dunia pendidikan. Pendidikan tampak belum berhasil membentuk generasi yang berakhlak baik dan bertanggung jawab. Sistem pendidikan yang berorientasi pada nilai akademik dan keberhasilan materi semata membuat banyak peserta didik lebih mengejar hasil dibanding proses yang benar. Akibatnya, pola pikir pragmatis dan individualistis semakin berkembang.
Budaya instan juga tumbuh subur di tengah sistem pendidikan saat ini yaitu sistem pendidikan sekuler kapitalistik. Banyak orang ingin memperoleh keberhasilan dengan cepat tanpa memperhatikan cara yang ditempuh. Kecurangan dianggap wajar selama memberikan keuntungan. Ditambah lagi, lemahnya penegakan aturan terhadap berbagai bentuk kenakalan membuat sebagian pelaku tidak jera. Pendidikan agama pun sering kali hanya menjadi pelengkap dalam kurikulum, belum menjadi landasan utama pembentukan karakter.
Dalam Islam, pendidikan memiliki kedudukan yang sangat penting dan menjadi tanggung jawab negara. Tujuan pendidikan bukan sekadar mencetak individu yang cerdas secara intelektual tetapi juga membangun pribadi yang bertakwa dan berakhlak mulia. Akidah Islam dijadikan dasar dalam proses pendidikan agar ilmu yang dipelajari mampu membentuk kesadaran untuk taat kepada Allah serta mendorong perilaku yang benar. Ilmu juga bukan sekadar alat mencari pekerjaan, melainkan sarana mendekatkan diri kepada Allah dalam memakmurkan bumi sesuai syariat.
Allah Swt. berfirman yang artinya: “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan.” (QS. Al-‘Alaq: 1)
Pendidikan Islam juga menekankan pembentukan syakhsiyah Islamiyah, yaitu keselarasan antara pola pikir dan perilaku sesuai syariat.
Dengan konsep ini, peserta didik tidak hanya mengetahui kebaikan tetapi juga terdorong untuk mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Islam pun menetapkan sanksi yang tegas bagi pelaku kejahatan sebagai bentuk perlindungan terhadap masyarakat dan agar muncul efek jera.
Di samping itu, negara dalam sistem Islam akan menciptakan lingkungan yang mendukung ketakwaan. Masyarakat diarahkan untuk saling mengingatkan dalam kebaikan dan menjauhi kemaksiatan. Pendidikan di rumah, sekolah, dan lingkungan sosial berjalan seiring dalam membentuk generasi yang berilmu sekaligus beradab.
Karena itu, Hardiknas seharusnya tidak berhenti sebagai peringatan seremonial tahunan. Momentum ini perlu dijadikan sarana evaluasi menyeluruh terhadap arah pendidikan bangsa. Selama sistem pendidikan masih berorientasi sekuler dan materialistis, persoalan moral di kalangan generasi muda akan terus berulang. Sudah saatnya pendidikan diarahkan kembali pada sistem yang mampu melahirkan generasi cerdas, berakhlak, dan bertakwa dengan menjadikan akidah serta syariat Islam sebagai fondasinya. Wallahualam bissawab. [EA/MKC]
Elsa Nurraeni


