Refleksi Hardiknas: Dunia Pendidikan Makin Buram
Surat PembacaKondisi memprihatinkan saat ini adalah
konsekuensi logis dari diterapkannya sistem pendidikan sekuler-kapitalistik
___________________
KUNTUMCAHAYA.com, SURAT PEMBACA- Setiap 2 Mei, seremoni Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) digelar dengan megah. Namun, di balik upacara dan simbol formalitas, wajah pendidikan kita kian buram dan memprihatinkan. Pendidikan seharusnya menjadi kawah candradimuka bagi lahirnya generasi beradab, tetapi hari ini justru menjadi saksi bisu runtuhnya moralitas dan kemanusiaan.
Potret Buram: Dekadensi di Jantung Pendidikan
Ruang aman di sekolah dan kampus kini hanya kenangan. Dikutip dari (kumparan.com, 21-4-2026) Fakta menyayat: di Bantul, seorang pelajar tewas dikeroyok dan dilindas. Tragedi memilukan juga menimpa dua pelajar SMA di Parungpanjang, Bogor, yang disiram air keras saat perjalanan pulang sekolah pada Senin (20-4-2026) malam. Cacat fisik yang mereka derita adalah bukti nyata terenggutnya rasa aman di tempat yang seharusnya paling mulia. (Detik News, 22-4-2026).
Kekerasan fisik bukan satu-satunya masalah, integritas akademik pun hancur lebur dengan praktik joki UTBK yang melibatkan teknologi canggih dan perputaran uang ratusan juta. (tempo.co, 21-4-2026)
Fenomena ini bukan sekadar "kenakalan remaja" biasa. Ini adalah alarm keras akan rusaknya tatanan generasi yang lahir dari sistem yang gagal. Mengapa ini terjadi?
Cengkeraman Sekularisme-Kapitalistik
Pendidikan kita hari ini berdiri di atas fondasi sekularisme-kapitalistik. Agama hanya diletakkan sebagai pelengkap kurikulum, sementara nilai-nilai liberal dan pragmatis menjadi napas utama. Pelajar dididik untuk menjadi mesin industri yang kompetitif. Namun, kering dari nilai spiritual.
Kondisi memprihatinkan ini adalah konsekuensi logis dari diterapkannya sistem pendidikan sekuler-kapitalistik. Sistem ini secara sengaja memisahkan agama dari pengaturan kehidupan sehingga melahirkan manusia yang mungkin cerdas secara kognitif namun kerdil secara moral. Pendidikan hanya dipandang sebagai alat produksi untuk mencetak tenaga kerja, bukan membentuk manusia seutuhnya.
Allah Swt. telah memberikan peringatan keras dalam Al-Qur'an mengenai dampak dari berpalingnya manusia dari aturan-Nya. Allah berfirman “Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.” (QS. Thaha: 124)
Kehidupan yang "sempit" ini tercermin dalam bentuk lahirnya generasi yang liberal, pragmatis, dan menghalalkan segala cara demi mencapai kesuksesan duniawi yang semu.
Solusi Hakiki dalam Islam
Kepemimpinan Islam sang penyelamat. Masalah pendidikan yang sistemik ini tidak akan pernah tuntas hanya dengan mengganti kurikulum atau memperketat sanksi administratif yang tumpul. Dibutuhkan perubahan paradigma fundamental yang hanya bisa diwujudkan melalui kepemimpinan Islam yang menerapkan syariat secara kafah.
Dalam pandangan Islam, pemimpin adalah pengurus dan pelindung. Rasulullah saw. bersabda: "Imam (pemimpin) itu laksana perisai, dimana orang-orang akan berperang di belakangnya dan berlindung kepadanya." (HR. Muslim)
Kepemimpinan Islam akan menuntaskan masalah pendidikan melalui tiga pilar strategis dengan kurikulum berbasis akidah Islam. Negara memastikan pendidikan bertujuan membentuk syakhsiyah islamiah (kepribadian Islam). Pelajar dididik untuk memiliki kesadaran akan pengawasan Allah sehingga kejujuran menjadi karakter yang melekat.
Atmosfer ketaatan di tengah masyarakat, negara tidak akan membiarkan konten media yang merusak moral atau peredaran narkoba meracuni generasi. Negara menciptakan lingkungan yang mendukung ketaatan, sehingga pendidikan di sekolah sejalan dengan kondisi di lapangan.
Sistem sanksi yang adil dan tegas. Islam menerapkan hukum yang berfungsi sebagai zawajir (pencegah) dan jawabir (penebus dosa). Hal ini akan memberikan efek jera yang nyata, menjaga kehormatan darah dan nyawa, serta menjamin keamanan di lingkungan pendidikan.
Pendidikan yang cerah hanya akan lahir dari rahim sistem yang benar. Tanpa kepemimpinan Islam yang menerapkan aturan Sang Pencipta, hari pendidikan nasional (Hardiknas) akan tetap menjadi seremoni hampa di tengah kegelapan moral yang kian pekat. Saatnya kita kembali pada Islam, satu-satunya cahaya yang mampu memanusiakan manusia. Wallahualam bissawab. [MKC/SM]
Nurhikmah Oktavia


