Alt Title

Nakba Bukan Sejarah tapi Kenyataan Berdarah

Nakba Bukan Sejarah tapi Kenyataan Berdarah




Tragedi Nakba bukan sekadar sejarah masa lalu

melainkan fakta kekerasan dan perampasan hak milik rakyat P4lestina yang terus berlangsung hingga saat ini

_____________________


KUNTUMCAHAYA.com, SURAT PEMBACA- Ironis! Sudah puluhan tahun P4lestina dijajah tetapi dunia Islam baru berani bicara sekarang. Liga Arab kembali bersuara lantang dari Kairo: rakyat P4lestina butuh perlindungan internasional dan Isra*l harus dipaksa menghentikan pendudukan ilegalnya atas tanah P4lestina, termasuk Yerusalem Timur.  


Penyataan ini bukan sekadar desakan kosong. Namun, Liga Arab sedang menagih Isra*l untuk tunduk pada pendapat hukum Mahkamah Internasional yang jelas-jelas menyebut pendudukan Isra*l terhadap P4lestina adalah ilegal. Selain itu Israel juga harus membayar ganti rugi atas kerusakan yang sudah mereka buat. (Antara.news, 15-05-2026)


Palestina sudah terjajah selama 78 tahun sejak 15 Mei 1948 entitas Yahudi merebut paksa tanah P4lestina atas dukungan Inggris. Sampai saat ini, umat muslim di sana masih terus berjuang mengusir penjajahan di tengah diamnya para pemimpin muslim dunia.


Maka, tragedi Nakba bukan sekadar sejarah masa lalu, melainkan fakta kekerasan dan perampasan hak milik rakyat P4lestina. Hingga kini pendudukan masih terus berlangsung bahkan lebih tragis.


Berlanjutnya penjajahan P4lestina adalah potret kegagalan sistem sekularisme. Sistem ini telah gagal menciptakan kedamaian dan keadilan di dunia, juga menunjukkan kebusukan konsep negara bangsa yang membuat umat Islam kehilangan powernya. Pembebasan P4lestina tidak bisa diharapkan datang dari negara-negara adidaya, lembaga- lembaga internasional, ataupun regional. Semuanya justru ada untuk mengukuhkan penjajahan terhadap umat Islam. 


Pembebasan P4lestina harus menjadi agenda yang include dalam penegakkan sistem kepemimpinan Islam. Hanya kepemimpinan Islam yang diharapkan bisa mengusir penjajahan dan mengalahkan kekuatan pendukungnya. 


Hal yang penting dilakukan saat ini adalah memahamkan umat tentang urgensi hidup di bawah naungan kepemimpinan Islam sebagai wujud keimanan. Kepemimpinan Islam akan menyatukan dan memobilisasi kekuatan umat Islam sehingga kewibawaan umat ini kembali dan umat Islam siap merebut kepemimpinan dunia menebar rahmat ke seluruh alam.


Solusi yang ditawarkan penjajah dengan membangun negara P4lestina yang merdeka dengan Yerusalem Timur sebagai ibu kota sesuai solusi dua negara, hukum internasional, dan Inisiatif Perdamaian Arab. Namun, di lapangan yang terjadi justru sebaliknya.


Peringatan tahun ini berlangsung di tengah G4za yang masih hancur oleh perang, dan Tepi Barat yang makin panas karena ekspansi pemukiman, pengusiran paksa, serangan pemukim, serta serangan ke situs suci Islam dan Kristen. 


Yang lebih parah, upaya melemahkan UNRWA (United Nations Relief and Works Agency for Palestine Refugees in the Near East) makin nyata. Padahal badan PBB itu adalah satu-satunya harapan bagi jutaan pengungsi P4lestina. Jika pendanaannya dipotong demi tekanan politik, maka yang mati bukan hanya anggaran tetapi nyawa dan masa depan pengungsi.


Nakba bukan sejarah yang bisa ditutup buku. Ia masih hidup, masih berdarah, setiap hari di G4za dan Tepi Barat. Kalau dunia serius bicara keadilan, maka dukungannya tidak boleh berhenti di pernyataan.


Allah Swt. berfirman: "Dan Kami wariskan kepada kaum yang (sebelumnya) tertindas, bumi bagian timur dan bagian baratnya yang telah Kami berkahi." (QS. Al-A'raf : 137)


Wallahualam bissawab. [EA/MKC]


Desti Sundari