Alt Title

Menghapus Air Mata Nakba: Ketidakberdayaan Dunia Membangkitkan Kekuatan Umat

Menghapus Air Mata Nakba: Ketidakberdayaan Dunia Membangkitkan Kekuatan Umat



Sistem sekuler saat ini yang diperparah oleh minimnya literasi

berhasil membuat umat muslim tidak berpikir memahami sejarah sebenarnya

__________________


KUNTUMCAHAYA.com, SURAT PEMBACA- Peringatan 78 tahun Nakba—yang menandai penderitaan rakyat Palestina akibat pengusiran, kekerasan, dan perampasan tanah oleh Israel dengan dukungan awal dari Inggris, masih terus berputar tanpa henti. Sejak dahulu hingga sekarang, keadaannya tidak berubah. Pejuang Palestina terus menghadapi ketidakadilan di tengah senyapnya para pemimpin muslim.


Demi memperingati peristiwa kelam itu, Liga Arab berulang kali mendesak perwujudan perlindungan internasional bagi rakyat Palestina. Mereka juga meminta komunitas global memaksa Isra*l menghentikan pendudukan atas tanah P4lestina, termasuk Yerusalem Timur. Selain itu, organisasi regional tersebut mendesak Zion*s menjalankan pendapat penasihat Mahkamah Internasional (ICJ) mengenai ilegalitas pendudukannya dan memberikan kompensasi atas kerusakan yang ditimbulkan. Dikutip dari (AntaraNews.com, 15-05-2026)


Membicarakan solusi Nakba di meja peradilan internasional adalah tindakan sia-sia. Mengapa? Pihak yang berwenang di sana, seperti AS dan beberapa negara adidaya lainnya, adalah pihak yang dahulu mendukung penuh pendudukan paksa tersebut.


Sayangnya, sistem sekuler saat ini yang diperparah oleh minimnya literasi, berhasil membuat umat muslim tidak berpikir sejauh itu. Akibat tidak memahami sejarah yang sebenarnya, sebagian orang masih menganggap urusan P4lestina hanyalah masalah domestik, konflik antaragama, atau berpikir bahwa solusinya adalah perdamaian dua negara (two-state solution).


Bayangkan, bagaimana mungkin kita membiarkan pencuri berdamai dengan korban kecurian? Bagaimana mungkin perampok dibiarkan menikmati hasil rampokannya, sementara korbannya dibiarkan sekarat? Bagaimana bisa pembegal dibiarkan terus membegal korbannya hingga habis? Apa yang harus kita lakukan terhadap pencuri, perampok, atau pembegal tersebut? Menjamunya? Tentu tidak.


Lupakan perdamaian. Satu-satunya solusi yang logis adalah mengusir Zion*s yang sejatinya bertindak sebagai pencuri, perampok, dan pembegal. Namun, apakah mengusir zionis yang didukung penuh negara adidaya itu mustahil? Tentu tidak. Negara adidaya tidak ada apa-apanya jika negeri-negeri muslim bersatu di bawah satu kepemimpinan.


Apakah persatuan itu akan terwujud? Ya, pasti terjadi. Sebagaimana sabda Rasulullah saw. bersabda, “Periode kenabian akan berlangsung pada kalian dalam beberapa tahun, kemudian Allah mengangkatnya. Setelah itu datang periode Khil4fah ‘ala minhaj an-nubuwwah (kekhalifahan sesuai manhaj kenabian) selama beberapa masa hingga Allah Taala mengangkatnya.


Kemudian datang periode mulkan aadhdhan (penguasa-penguasa yang menggigit) selama beberapa masa. Selanjutnya datang periode mulkan jabbriyyan (penguasa-penguasa yang memaksakan kehendak) dalam beberapa masa hingga waktu yang ditentukan Allah taala. Setelah itu akan terulang kembali periode Khil4fah ‘ala minhaj an-nubuwwah. Kemudian beliau diam.” (HR Ahmad; Sahih).


Wahai saudaraku, hadis di atas adalah janji dari Allah Yang Maha Agung sekaligus kabar gembira untuk kita semua. Saudara kita di Palestina sedang berjuang menuju janji tersebut. Walaupun sukar, pedih, dan berdarah-darah, mereka tetap bertahan dengan keyakinan penuh. Mereka adalah umat pilihan yang beruntung jika kita melihatnya dari sudut pandang keimanan.


Sebagaimana sabda Rasulullah saw., “Senantiasa ada kelompok dari umatku yang menampakkan kebenaran terhadap musuh mereka. Mereka mengalahkannya dan tidak ada yang membahayakan mereka orang-orang yang menentangnya, hingga datang kepada mereka keputusan Allah ‘Azza wa Jalla, dan tetaplah dalam keadaan demikian.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, di manakah mereka?” Rasulullah bersabda, “Di Baitulmaqdis dan di sisi-sisi Baitulmaqdis.” (HR Ahmad, Thabarani, Ibnu Khuzaimah).


Lantas, bagaimana dengan kita, umat Muslim di Indonesia? Umat yang arah perjuangannya masih bercabang dan mempertanyakan pilihan hidupnya sendiri. Ketahuilah satu hal yang pasti, memperjuangkan kemerdekaan Palestina dan menegakkan persatuan negeri muslim adalah pilihan mulia yang dicontohkan oleh Rasulullah dan para sahabat.


Hidup adalah pilihan dan hanya sekali. Pilihlah jalan hidup yang menguntungkan di akhirat. Pilihlah apa yang telah dipilih oleh Rasulullah dan para sahabat, niscaya kemuliaan yang mereka dapatkan akan menyertaimu juga. Wallahualam bissawab. [SM/MKC]


Sabila HR.