Di Balik Meriahnya Hardiknas Dunia Pendidikan Kian Buram
OpiniPerayaan Hardiknas menyimpan fakta kelam dunia pendidikan
yang dibutuhkan dunia saat ini adalah menjadikan wahyu Illahi sebagai asas dan landasan dalam dunia pendidikan
______________________________
Penulis Sahara Maina Larasati
Kontributor Media Kuntum dan Aktivis Dakwah Kampus
KUNTUMCAHAYA.com, OPINI-Pentingnya pendidikan. Pendidikan sebagai jiwa suatu bangsa. Bangsa yang maju lahir dari pendidikan yang berkualitas bagi warganya. Warga negara suatu bangsa berhak mendapatkan pendidikan yang layak dan berkualitas.
Pendidikan tidak hanya diberikan di rumah saja. Namun, pendidikan di luar rumah tidak kalah penting dalam menunjang setiap warga negara agar menjadi lebih baik secara pribadi maupun sosialnya. Bahkan, pendidikan ini bisa berasal dari berbagai arah.
Semisal pendidikan dari rumah yang diberikan oleh orang tua, pendidikan dari lingkungan yang diberikan oleh masyarakat, dan pendidikan formal dari sekolah atau yayasan. Dengan metode inilah pendidikan akan seimbang.
Potret Pendidikan Kini
Pendidikan formal saat ini sudah banyak di buka. Baik yang berbasis umum, maupun yang berbasis IT (Islam Terpadu). Tentu apa pun label dari suatu lembaga pendidikan pastinya memiliki tujuan yang sama. Tujuan mulia untuk membentuk karakter generasi suatu bangsa.
Pendidikan formal maupun nonformal bermaksud hadir untuk membantu mendidik anak bangsa supaya tumbuh menjadi pengharum nama bangsa. Tidak sedikit orang tua yang memiliki kesadaran akan pentingnya pendidikan bagi anak-anaknya. Tidak sedikit juga orang tua yang berlomba-lomba memilihkan pendidikan terbaik bagi anak-anaknya.
Namun, sayang sekali harapan orang tua dipatahkan dengan kondisi pendidikan saat ini yang sudah keluar dari tujuan utamanya. Pendidikan seharusnya mencetak generasi yang akan menjaga nama harum bangsa justru sekarang banyak meninggalkan sejarah yang pilu. Pendidikan yang seharusnya memberikan cahaya seakan sudah semakin redup.
Hal ini sebagaimana banyak fakta yang mengungkapkan pendidikan di negri ini sudah tidak bisa diharapkan untuk mencetak generasi yang diharapakan. Sebagaimana harapan negeri untuk mencetak generasi emas tersebut di masa mendatang.
Fakta yang mencuat saat ini di dalam lingkungan pendidikan adalah mahalnya biayanya sekolah sehingga tidak semua warga negara mampu untuk menempuh pendidikan. Belum lagi kurikulum yang tidak benar-benar mencetak karakter dari generasi, melainkan hanya untuk mencetak generasi sebagai pekerja bukan pencipta.
Sampai yang paling miris adalah hubungan sosial yang tidak harmonis. Seperti halnya perundungan, pelecehan, dan kekerasan banyak terjadi di lingkungan pendidikan yang pelakunya mulai dari pihak yang seharusnya memberikan keteladanan yang baik sampai sesama pelajar.
Sebagaimana yang terlampir dalam VIO.id “Minggu depan kami akan melakukan pendampingan kepada anak-anak, misalnya melakukan asesmen terhadap jiwa dan psikologinya,” ujar Basnang Said dalam keterangannya, Minggu (11-05-2026).
Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan hari ini sedang tidak ideal. Pendidikan yang seharusnya hadir memberikan cahaya bagi jiwa jiwa yang gelap dan pikiran yang buntu. Namun, malah memberikan luka dan trauma. Hal ini berbanding balik dengan ungkapan Mendikdasmen Mu'ti dilansir Antara, Sabtu (02-04-2026) yang terlampir dalam DetikNews "Berbagai kebijakan peningkatan mutu pendidikan tidak akan terlaksana tanpa 3M: Mindset (pola pikir) yang maju, Mental yang kuat, dan Misi yang lurus," kata Mendikdasmen Mu'ti dilansir Antara, Sabtu (02-04-2026).
Fakta di atas menggambarkan kelamnya pendidikan saat ini menunjukkan bahwa pendidikan sudah tidak dapat memberikan cahaya yang terang bagi generasi bangsa. Hal ini wajar saja karena pendidikan saat ini lahir dari sistem liberalisme kapitalis. Menjalankan pendidikan dengan kurikulum yang bebas dengan tujuan untuk mendapatkan kebermanfaatan materi.
Dunia Pendidikan Butuh Islam
Berbeda dengan dunia pendidikan Islam. Pendidikan dalam Islam lahir dari landasan akidah Islam. Syariat Islam dijadikan sumber dalam menyusun kurikulum dan standar keberhasilan pendidikan itu sendiri. Islam telah mendorong setiap orang dengan perintah wajib dalam menuntut ilmu. Sebagaimana hadis Rasulullah saw.
“Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim dan Muslimah." (HR. Ibnu Majah no. 224, Al-Baihaqi)
Untuk mendukung terciptanya pendidikan yang berkualitas negara wajib penyediaan fasilitas pendidikan. Mulai pendidikan dari rumah, sekolah, maupun masyarakat. Alhasil, hal demikian sangat disuasanakan dan disediakan oleh negara.
Pendidikan dalam Islam mewajibkan seluruh peserta didik terikat dengan syatiat Islam. Kurikulum yang berbasis akidah Islam slam ini akan mampu melahirkan generasi yang beradab dan bertakwa kepada Allah Swt..
Para pendidik melaksanakan amanah dari Allah bukan karena gaji semata, tetapi tanggung jawab takwa. Bahkan pendidikan dalam Islam biayanya gratis dan penghargaan yang tinggi diberikan bagi mereka yang berprestasi.
Maka dari itu, pendidikan saat ini tidak membutuhkan perayaan yang meriah untuk meningkatkan mutu pendidikan. Melainkan perbaikan sistem pendidikan yang mengatur ritme pendidikan. Alhasil, satu-satunya cara agar ritme pendidikan ini berjalan dengan ideal dan mampu meningkatkan mutu pendidikan adalah dengan mengembalikan sistem Islam untuk diterapkan.
Karena syariat Islam bukan mengatur terkait hubungan manusia dengan Allah saja (hablum min Allah). Namun juga mengatur terkait hubungan manusia dengan manusia lainnya (hablum min nas), juga mengatur hubungan manusia dengan dirinya sendiri (hablum min nafsihi).
Maka, sistem pendidikan merupakan bagian dari hablum min nas yang memiliki aturan khas. Aturan ini hanya bisa diterapkan ketika ada daulah atau negara Islam yang dipimpin oleh seorang khalifah.
Daulah Islamiah yang akan menerapkan seluruh aturan Islam dan semua elemen wajib terikat dengan syariat Islam. Alhasil, pendidikan sebagai jantung negara untuk mencetak generasi emas ini bisa direalisasikan.
Hal ini terbukti ratusan tahun silam. Bagaimana ilmuan Islam lahir dari sekolah sekolah yang dibangun oleh Daulah Islam. Seperti halnya Ibnu Sina sebagai bapak kedokteran, al-Khawarizmi sebagai bapak matematika atau penemu angka 0, dan masih banyak yang lainnya.
Sejarah emas peradaban Islam bukan hanya untuk dikenang, ditonton atau sekadar dibaca. Melainkan sejarah harus hadir kembali untuk diulang lagi keberhasilannya.
Khatimah
Perbaikan pendidikan tidak semestinya hanya dengan perayaan yang meriah. Namun, yang harus dilakukan adalah dengan memperbaiki sistem. Sistem yang mampu membawa kebangkitan dan cahaya, itulah sistem Islam yang diterapkan oleh negara Islamiah. Wallahualam bissawab. [EA/MKC]


