Alt Title

Tren Freestyle Merenggut Nyawa Alarm Keras Bagi Pendidikan Anak

Tren Freestyle Merenggut Nyawa Alarm Keras Bagi Pendidikan Anak



Tragedi akibat freestyle bukan sekadar kecelakaan biasa

tetapi bukti kegagalan sistem yang membiarkan generasi kehilangan arah

____________________


Penulis Marlina Wati, S.E

Kontributor Media Kuntum Cahaya dan Muslimah Peduli Umat


KUNTUMCAHAYA.com, OPINI- Belakangan ini, tren freestyle di kalangan remaja semakin mengkhawatirkan. Demi mendapatkan perhatian di media sosial, banyak anak nekat melakukan aksi berbahaya di atas sepeda motor tanpa memikirkan keselamatan. Tidak sedikit yang akhirnya mengalami kecelakaan fatal hingga kehilangan nyawa.


Fenomena ini menjadi alarm keras bahwa ada yang salah dalam sistem pendidikan dan pembinaan generasi hari ini. Dikutip dari kumparan.com, (7-5-2026) meninggalnya Hamad Izan Wadi, bocah 8 tahun asal Lombok Timur, setelah meniru aksi freestyle yang terinspirasi dari game online, menjadi peringatan serius bagi kita semua. Anak-anak sangat mudah meniru apa yang mereka lihat di game maupun media sosial, tanpa memahami bahaya yang mengintai. 


Oleh karena itu, pengawasan orang tua dan guru sangat penting agar anak tidak terpapar konten yang berisiko. Peristiwa ini menunjukkan bahwa perkembangan teknologi tanpa kontrol dapat membahayakan generasi muda. Kasus ini akan terjadi jika tidak ada kontrol terhadap aktivitas media untuk anak-anak di bawah usia.


Sudah seharusnya keluarga, sekolah, dan masyarakat bersama-sama memberikan pendidikan yang baik serta menanamkan nilai-nilai moral dan tanggung jawab agar anak-anak tumbuh dengan aman dan terarah. Aksi freestyle tersebut diduga terinspirasi dari game online populer seperti Garena Free Fire yang menampilkan gerakan ekstrem.


Kurangnya Pengawasan Orang Tua dan Kontrol Negara dalam Akses Internet


Nalar anak yang belum sempurna membuat mereka mudah meniru apa saja yang dianggap menarik dari game online dan media sosial. Mereka belum mampu memahami sepenuhnya mana yang aman, dan mana yang berbahaya. Akibatnya, aksi berisiko sering dianggap sebagai permainan biasa yang layak dicoba.


Tragedi meninggalnya Hamad Izan Wadi menjadi peringatan keras bagi para orang tua dan pendidik. Di tengah derasnya arus informasi digital, anak-anak membutuhkan pengawasan dan bimbingan yang lebih intensif. Tanpa pendampingan, konten hiburan dapat berubah menjadi ancaman nyata bagi keselamatan mereka.


Dalam sistem kapitalisme sekuler, ukuran keberhasilan sering kali hanya dilihat dari popularitas, sensasi, dan keuntungan materi. Media sosial pun menjadi ruang tanpa batas yang mendorong anak-anak berlomba mencari pengakuan, meski dengan cara yang membahayakan diri. Pendidikan lebih menekankan aspek akademik, tetapi minim dalam pembentukan kepribadian dan ketakwaan. 


Akibatnya, banyak generasi muda tumbuh tanpa pemahaman yang kuat tentang tujuan hidup dan tanggung jawab terhadap diri sendiri. Kurangnya pendampingan orang tua terhadap anak, membuat mereka dengan mudah mendapat akses informasi yg berpotensi merusak dan berbahaya. Lemahnya kontrol lingkungan, sehingga anak-anak dibiarkan bermain sendiri tanpa pengawasan. Pembatasan akses terhadap konten online oleh negara belum efektif dampaknya. Sungguh dalam sistem saat ini tidak ada tempat yang aman untuk generasi Islam.


Islam Memberikan Solusi Menyelamatkan Generasi Islam


Dalam Islam, anak-anak yg belum balig tidak dikenai dan dibebani taklif hukum karena akalnya belum sempurna. Mereka belum mampu memahami sepenuhnya konsekuensi dari setiap perbuatan.


Karena itu, mereka sangat membutuhkan bimbingan dan pendampingan dari orang dewasa agar tidak mudah terpengaruh oleh hal-hal yang membahayakan, termasuk konten dari game online dan media sosial. Allah Swt. telah menjadikan orang tua sebagai penjaga bagi anak-anaknya sehingga mereka tidak hanya bertugas memenuhi kebutuhan fisik, tetapi juga menanamkan akidah, akhlak, dan pemahaman tentang mana yang baik dan mana yang buruk.


Rasulullah saw. bersabda, “Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim).


Dalam Islam, anak adalah amanah yang harus dijaga, diarahkan, dan dididik dengan nilai-nilai ketakwaan agar tumbuh menjadi generasi yang cerdas, berakhlak mulia, dan mampu menjaga dirinya dari berbagai bahaya. Pendidikan dalam Islam bertumpu pada 3 pilar utama yakni peran orang tua, lingkungan, serta negara sehingga akan terwujud ekosistem yang kondusif untuk tumbuh kembang anak secara optimal. 


Negara akan membatasi ketat informasi yang tidak bermanfaat dan bahkan berpotensi membahayakan generasi dan memperbanyak konten edukasi sehingga terwujud generasi yang berperadaban cemerlang. Dengan demikian, tragedi akibat tren freestyle bukan sekadar kecelakaan biasa, tetapi bukti kegagalan sistem yang membiarkan generasi kehilangan arah. 


Islam menawarkan solusi menyeluruh melalui pendidikan berbasis iman, peran aktif keluarga, kontrol masyarakat, dan tanggung jawab negara. Hanya dengan penerapan syariat Islam secara kafah, generasi muda akan tumbuh sebagai pribadi yang bertakwa, berakhlak mulia, dan menjaga hidupnya sebagai amanah dari Allah Swt.. Wallahualam bissawab. [SM/MKC]