Alt Title

Dilema Kecanggihan AI, Antara Maslahat dan Mudarat

Dilema Kecanggihan AI, Antara Maslahat dan Mudarat


Dengan pemahaman yang bersumber dari tsaqafah Islam disertai dengan kekuatan iman dan ketakwaan

manusia akan lebih mudah menentukan mana yang harus dilakukan atau tidak

______________________________


Penulis Siska Juliana 

Tim Media Kuntum Cahaya


KUNTUMCAHAYA.com, OPINI - Kecerdasan buatan atau artificial intelligent (AI) adalah sebuah teknologi buatan manusia yang bisa merangkum data berskala besar dan memprosesnya selayaknya pikiran manusia. Sistem AI kini menjadi teknologi yang digunakan oleh hampir semua orang untuk berbagai kepentingan.


Dalam penggunaannya, AI bisa memberikan dampak positif maupun negatif. Dampak positifnya, kecerdasan buatan ini mampu membantu mempermudah tugas seseorang dalam seluruh aspek kehidupan. Baik itu pekerjaan, pendidikan, keuangan, sosial, bahkan kedokteran. Meskipun demikian, adanya AI juga memiliki dampak negatif bahkan bisa membahayakan manusia itu sendiri.


Menurut riset yang diterbitkan oleh Jurnal Cambridge Programme on AI Science & Policy (CASP) menyebutkan bahwa para peneliti AI, termasuk “Bapak AI” dunia mengatakan bahwa harus ada kewaspadaan akan adanya ledakan kecerdasan AI. Ledakan kecerdasan AI ini sangat berbahaya karena mampu menggantikan jutaan peneliti manusia terbaik hanya dengan kecerdasan AI karena proses otomatisasi penelitian dan pengembangan oleh AI itu sendiri.


Para peneliti menunjukkan bahwa ledakan kecerdasan buatan akibat perangkat lunak AI dapat menyebabkan perkembangan yang sangat cepat dari sistem yang sangat mumpuni atau Superhuman AI System. (cnnindonesia.com, 30-09-2026)


Dalam dunia kesehatan, AI juga dapat digunakan untuk merancang dan menemukan obat, mengembangkan teknologi bionik, dan memanfaatkan teknologi genomik. Inilah salah satu yang menjadi pembahasan dalam pertemuan para pemimpin perusahaan bidang AI dalam acara Ai Everything Abu Dhabi yang digelar di ADNEC Centre, Abu Dhabi, pada 6-7 Oktober 2026. Pembahasan lainnya termasuk mengenai perkembangan AI dalam menganalisis risiko keuangan, hingga membantu dalam pengambilan keputusan. (kompas.id, 05-10-2026)


Meskipun dapat memberikan dampak positif dalam berbagai bidang, termasuk medis dan teknologi lainnya, ledakan kecerdasan AI juga membawa tiga risiko besar bagi manusia, yakni ancaman biologis dan siber, hilangnya kendali dan keterlibatan manusia, serta ancaman perang antarnegara. 


Salah satu ancaman utama dari AI adalah kemampuannya menghasilkan konten palsu yang sangat realistis, seperti gambar, video, dan teks. Kemampuan deepfake AI ini mampu memanipulasi data dengan sangat mudah. Hal ini tentu bisa dengan mudah disalahkangunakan dan bisa menjadikan kejahatan siber mengingkat. Seperti risiko merusak reputasi seseorang, memicu konflik sosial, hingga manipulasi opini publik.


Kecerdasan AI bisa menggantikan kompetensi jutaan orang di berbagai bidang hanya dengan satu kali ketikan dan satu klik saja maka semua informasi dan data yang dinginkan akan muncul. Adanya AI juga bisa mengurangi lapangan pekerjaan akibat otomatisasi, mulai dari pekerjaan yang ringan, hingga riset para ilmuwan. 


Ini tentu sangat berbahaya bagi perkembangan tingkat kecerdasan manusia itu sendiri. Manusia akan semakin ketergantungan dengan AI, kemampuan berpikir kritis akan semakin menurun, dan semangat belajar generasi muda pun akan ikut terkikis.


Di sinilah pentingnya akal manusia untuk bisa membedakan mana manfaat dan mudarat bagi dirinya sendiri. Dengan pemahaman yang bersumber dari tsaqafah Islam disertai dengan kekuatan iman dan ketakwaan, manusia akan lebih mudah menentukan mana yang harus dilakukan atau tidak. Karena ledakan kecerdasan buatan (AI) tanpa kendali akidah dan syariat Islam bisa berisiko pada kehancuran kehidupan manusia. 


Manusia adalah makhluk ciptaan Allah yang paling sempurna. Ia memiliki akal untuk berpikir dan memahami tanda-tanda kekuasaan dan kebesaran Allah Swt.. Manusia dipilih Allah untuk menjadi khalifah di bumi untuk mengatur dan menjaga alam semesta sesuai perintah Allah. Sebagaimana disebutkan alam Al-Qur’an surah Al-Baqarah ayat 30 yang artinya sebagai berikut:


“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, ‘Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.’ Mereka berkata, ‘Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?’ Dia berfirman, ‘Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.’ ”


Di dalam syariat Islam, segala bentuk hasil pemikiran manusia dibedakan menjadi dua jenis, yakni hadarah (hasil pemikiran manusia yang dipengaruhi ideologi) dan madaniyah (hasil pemikiran manusia yang tidak dipengaruhi ideologi/bersifat netral). Dari kedua jenis ini, umat Islam harusnya bisa membedakan mana yang boleh diterima dan mana yang tidak. Alhasil, ia bisa bijak dalam menggunakan teknologi, termasuk AI. 


Umat Islam tidak akan kebingungan menerima informasi yang begitu banyak lewat AI karena ia memiliki fondasi tsaqafah (pemahaman) Islam yang kuat. Alhasil, kecanggihan teknologi AI dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya untuk kepentingan yang positif yang akan memberikan kemashlahatan bagi dirinya dan umat. Itulah pentingnya fondasi akidah Islam bagi seorang muslim. 


Sebaliknya, bagi orang yang tidak memahami Islam, ia akan menggunakan AI hanya untuk keuntungan dirinya sendiri, tanpa melihat apakah itu baik atau buruk. Apakah itu bertujuan untuk kebaikan atau kejahatan. Karena itulah, AI di tangan manusia kafir hanya akan mendatangkan bahaya dan kerusakan.


Allah telah memberikan aturan hidup yang sempurna bagi manusia di segala aspek kehidupan. Maka berpegang teguhlah pada tali agama Allah (syariat Islam) agar kamu selamat di dunia dan akhirat. Wallahualam bissawab.