Alt Title

Maulid Momentum Meneladani Perjuangan Nabi Saw.

Maulid Momentum Meneladani Perjuangan Nabi Saw.


Momentum Maulid adalah momentum ittiba 

dalam memperjuangkan dan menghidupkan kembali metode perubahan yang dicontohkan Rasulullah saw.

__________________


Penulis Nunung Sulastri, A.Md.

Kontributor Media Kuntum Cahaya 


KUNTUMCAHAYA.com, OPINI- Bulan Rabiul Awwal diperingati sebagai hari lahirnya seorang pemimpin besar, yang besarnya bukan disebabkan keturunan, pangkat, ataupun jabatan. Kebesaran dan keagungannya tersebab Allah Swt. yang telah mengutusnya, yakni Muhammad saw. sebagai seorang nabi untuk membimbing umat manusia dunia.


Allah berfirman dalam Quran surah Ali Imran ayat 164 :


لَقَدْ مَنَّ ٱللَّهُ عَلَى ٱلْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولًا مِّنْ أَنفُسِهِمْ يَتْلُوا۟ عَلَيْهِمْ ءَايَٰتِهِۦ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ ٱلْكِتَٰبَ وَٱلْحِكْمَةَ وَإِن كَانُوا۟ مِن قَبْلُ لَفِى ضَلَٰلٍ مُّبِينٍ


"Sungguh, Allah telah memberi karunia kepada orang-orang beriman ketika (Allah) mengutus seorang Rasul (Muhammad) di tengah-tengah mereka dari kalangan mereka sendiri..."


Menurut bapak Mukhlis M. Hanafi, selaku Penerangan Agama Islam Kementerian Agama, mengatakan: "gema selawat kebangsaan dirancang sebagai ruang bersama untuk menghidupkan tradisi selawat sekaligus meneladani akhlak Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa." (sindonews.com, 23-08-2026)


Setiap tahun umat Islam merayakan Maulid, sebagai pengingat hari kelahiran Nabi termulia yang membawa manusia dari kegelapan menuju cahaya hakiki. Setiap perayaan Maulid Nabi dirayakan dengan pembacaan selawat, tabligh akbar, dan pawai obor sebagai ekspresi cinta kepada Nabi saw..


Namun, substansinya kerap berhenti pada aspek ritual dan emosional semata. Cinta kepada Nabi saw. seharusnya dimanifestasikan dalam bentuk ittiba, yaitu dilakukan dengan cara mengamalkan seluruh ajaran Nabi saw., menjadikan Al-Qur'an sebagai petunjuk. Demikianpun dalam meneladani akhlak dan sunnah beliau dalam seluruh aspek kehidupan. 


Namun sangat disayangkan, faktanya saat ini pembahasan ittiba kepada Nabi saw. dalam momentum Maulid masih dibatasi pada keteladanan akhlak saja. Padahal momentum Maulid Nabi memiliki dimensi perubahan yang lebih besar daripada sekedar ritual tahunan. Peringatan Maulid saat ini, belum menyentuh kesadaran untuk mengubah sistem jahiliyah modern dari penghambaan kepada hawa nafsu dunia, menuju penghambaan kepada Allah Swt. dan penegakan seluruh syariat-Nya.


Memang, tuntutan perubahan yang sebenarnya telah muncul di kalangan umat Islam. Namun, arah dan metodenya masih sangat jauh dari metode perjuangan yang dilakukan Rasulullah saw.. Esensi ittiba mencakup seluruh lini kehidupan, dari mulai aspek ibadah, muamalah, hukum, hingga aspek kepemimpinan. Maka, ittiba terhadap Rasulullah saw. bersifat wajib bagi setiap muslim. 


Pengaruh Sistem Kapitalisme


Di tengah kehidupan sekularisme saat ini, perayaan Maulid Nabi tereduksi menjadi ekspresi kecintaan tanpa konsekuensi ideologis. Padahal cinta kepada Rasulullah saw. harus melahirkan keterikatan pada risalah dan pada perjuangan yang Nabi bawa.


Kesadaran akan kewajiban meneladani Rasulullah dalam segala aspek dimulai dari aspek ibadah hingga bernegara belum terealisasi. Kesadaran meneladani Rasulullah saw. baru muncul di ranah pribadi dan dalam ibadah mahdhoh saja. 


Saat ini umat kehilangan kesadaran bahwa penghambaan kepada selain Allah masih berlangsung secara sistematik melalui sistem demokrasi kapitalisme, dan liberalisme. Ketika sistem ini diterapkan telah mengakibatkan kerusakan pada sistemnya dan merusak manusianya. Sistem ini juga telah melahirkan aturan yang bebas, di mana tujuan dan prioritas utamanya adalah mengejar materi duniawi serta hawa nafsu.


Ide kebebasan dalam sistem kapitalisme terlahir dari akidah sekuler yang memisahan agama dari kehidupan. Dalam sistem sekularisme aturan agama dimandulkan. Aturan agama dibatasi hanya pada ranah pribadi saja, sedangkan di ranah sosial, pendidikan, ekonomi, maupun bernegara tidak disangkut pautkan. 


Demi mempertahankan eksistensinya, sistem kapitalisme akan terus berusaha eksis menghalangi suara kebenaran. Ketika ada kebangkitan umat Islam untuk menuntut menegakkan perubahan suatu sistem yang berdasarkan syariat Islam, akan dicegah dengan berbagai cara. Oleh sebab itu, peringatan Maulid Nabi dalam sistem kapitalisme hanya merupakan tradisi bersifat ritual semata, tidak memberikan dampak perubahan dan perbaikan dalam kehidupan bermasyarakat maupun bernegara. 


Meneladani Nabi saw. Wajib


Mengembalikan makna ittiba pada momentum Maulid Nabi adalah menjadikan keterikatan pada syariat dan metode perjuangannya. Inilah, aplikasi kecintaan yang sesungguhnya terhadap Nabi saw. dan ajaran Islam yang beliau bawa.


Allah berfirman dalam Quran surah Ali Imran ayat 31 :


قُلۡ اِنۡ كُنۡتُمۡ تُحِبُّوۡنَ اللّٰهَ فَاتَّبِعُوۡنِىۡ يُحۡبِبۡكُمُ اللّٰهُ وَيَغۡفِرۡ لَـكُمۡ ذُنُوۡبَكُمۡؕ‌ وَاللّٰهُ غَفُوۡرٌ رَّحِيۡمٌ


"Katakanlah (Muhammad), "Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang."


Keimanan seseorang belum sempurna sampai seseorang tersebut dapat merasakan manisnya cinta yang hakiki terhadap Nabi saw..


Sebagaimana Rasulullah saw. bersabda: 


"Ada tiga perkara yang jika dimiliki oleh seseorang niscaya dia akan merasakan manisnya iman, yaitu kecintaannya kepada Allah dan rasulnya melebihi cintanya kepada selain keduanya." (HR. Al Bukhari dan Muslim)


Sejarah telah mencatat, negara yang menerapkan Islam secara kafah dinamakan Khil4fah. Sebuah sistem kepemimpinan yang menerapkan Islam dalam seluruh sendi kehidupan. Dalam sistem ini negara berfungsi sebagai penegak syariat, pengikat persatuan umat Islam, dan pelaksana dakwah ke seluruh penjuru dunia.


Metode yang ditempuh oleh Rasulullah saw. dalam mendirikan sistem kepemimpinan Islam melalui tiga tahapan (marhalah), sebagai berikut:


1. Tasqif, yaitu tahapan pembinaan dengan menanamkan tsaqofah Islam, yang dilakukan secara intensif dan sistematis kepada para kader umat.


2. Tafa'ul ma'al ummah, yaitu tahapan bergerak kepada masyarakat dengan memahamkan Islam sebagai solusi kehidupan. Pada tahapan ini nampak aktivitas politik yang krusial, seperti (1) Menyerang pemikiran yang rusak dan menawarkan penggantinya dengan sistem Islam. (2) Perjuangan politik yang membongkar kebijakan para penguasa yang dzalim yang merugikan kaum muslimin, dan memperjuangkan kemaslahatan urusan umat. (3) Mencari dukungan para tokoh yang berpengaruh di masyarakat untuk mendapatkan perlindungan dakwah sekaligus penyerahan kekuasaan demi menerapkan syariat Islam.


3. Isti'lamu Hukmi (penerimaan kekuasaan), tahapan pengambilalihan kekuasaan dan penerapan Islam secara menyeluruh (kafah).


Maka ittiba adalah memperjuangkan dan menghidupkan kembali metode perubahan yang dicontohkan Rasulullah saw.. Kehidupan Islam in sya Allah akan tegak kembali di muka bumi, sehingga Islam akan benar-benar hadir sebagai rahmat bagi seluruh alam.


Allah Swt. berfirman dalam surat Al anbiya ayat 107 : 


وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ


"Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam."


Maka, memperjuangkan sistem Khilafah pada saat ini merupakan bukti nyata cinta kepada Rasulullah saw. serta meneladani apa yang beliau bawa. Semoga Khil4fah kembali tegak atas izin Allah Swt. dalam waktu yang dekat. Aamiiin Yaa Rabbal Alamiin. Wallahualam bissawab. [EA/MKC]