Alt Title

Ini Kisah Hijrah Ku, Bulan Maret Tahun 2019

Ini Kisah Hijrah Ku, Bulan Maret Tahun 2019


Banyak sekali pengalaman yang membuat saya menjadi lebih dewasa, lebih beramal lagi, dan lebih sabar

yang penting barisan dakwah membina semua orang menjadi lebih baik sesuai syariat Islam

__________________


Penulis Ema

Kontributor Media Kuntum Cahaya 


KUNTUMCAHAYA.com, INSPIRASI - Berawal dari mimpi bertemu Nabi Muhammad Shalallahu 'alaihi wassalam. Lalu hari kedua, mimpi mempunyai kerudung yang warnanya bagus cerah. Suatu ketika saya masih kerja di perusahaan textile. Saya dulu suka ngobrol dengan lawan jenis padahal saat itu saya sudah berkeluarga.


Berawal dari ngobrol lalu saya penasaran dengan Islam. Karena laki-laki yang saya ajak ngobrol terlihat islami. Setelah ngobrol lama terbukalah pikiran saya. Saya tersadar oleh ucapannya bahwa riba itu haram dan tidak boleh dilakukan karena akibatnya dan ancaman yang sangat mengerikan.


Pada saat itu, awalnya saya hendak meminjam uang ke koperasi. Namun, dengan disadari oleh laki-laki tadi, saya memutuskan untuk tidak jadi meminjam. Dari awal saya dapat hidayah bahwa riba itu haram, saya sedikit demi sedikit mengajak kepada rekan-rekan kerja yang lain untuk tidak meminjam ke koperasi lagi. Namun, apa yang saya dapat? Niat baik saya justru dibalas oleh mereka dengan kemarahan. Mungkin saat itu saya tidak bisa menyampaikan dengan makruf.


Beberapa lama kemudian saya berpikir. Ooh, ternyata mimpi itu bertujuan memberi saya hidayah dan sedikit demi sedikit saya mencari ilmu di media sosial. Singkat cerita, saya punya niat untuk mengkhitan anak pertama saya. Karena dulu saya dan suami bekerja, jadi uang masih banyak, tetapi kami tidak riba. 


Acara khitanan anak saya diadakan dengan meriah. Saya undang ustaz ternama pada saat itu. Saya mengundang Ibu Entin tetangga saya yang ternyata sekarang menjadi awal saya mengkaji Islam. Setelah acara khitanan selesai, saya punya niat untuk mendaftarkan ngaji anak saya ke DTA terdekat dan gurunya adalah Ibu Entin. Setelah beberapa waktu, saya melihat perilaku baik dari Ibu Entin tadi. 


Bawaannya sejuk adem dan berpenampilan sopan. Nah, di sanalah saya memberanikan diri untuk menghubungi beliau untuk mengajak saya ngaji. Dulu saya niatnya ingin bisa tajwid, tetapi Alhamdulillah setelah sekian tahun bukan hanya tajwid, tetapi ilmu-ilmu yang lain juga saya dapat. Karena saat saya menghubungi beliau, lalu beliau bikin grup majelis taklim ibu-ibu. Alhamdulillah waktu itu baru ada tujuh orang. Kami mengkaji Islam di rumah salah seorang bergilir setiap Minggu.


Kemudian sejak kenal Bu Entin, saya diajak mengkaji Islam lebih dalam. Saya jadi lebih tahu bagaimana indahnya Islam, kasih sayangnya Allah pada umatnya. Bagaimana perjuangan nabi, dan banyak lagi, sehingga tujuan hidup saya lebih terarah lagi.


Meski grupnya sempat bubar, lalu saya berinisiatif membuat grup ibu-ibu lagi yang mau bisa membaca Al-Qur'an. Saya adakan gratis. Ada tiga orang yang mau ikut. Alhamdulillah dari tiga orang, ada satu orang yang awalnya tidak bisa baca menjadi bisa baca Al-Qur'an. Meski panjang pendeknya belum sempurna tapi saya hargai mereka sangat semangat untuk belajar walau panas atau hujan mereka setiap hari Senin-Jumat hadir.


Akhir Cerita 


Dulu saya yang tidak tahu apa-apa. Namun, sekarang saya tahu sedikit demi sedikit ilmu Allah. Ternyata ilmu Allah itu banyak, dan Allah sayang kepada semua makhluknya. Selain itu, kebahagiaan terbesar saya adalah Allah memilih saya untuk berada di barisan dakwah.


Alhamdulillah setelah beberapa tahun saya ikut barisan dakwah, sedikit demi sedikit saya mulai memahami dan bagaimana cara bersosialisasi dengan lingkungan sekitar, bagaimana mengurus anak sesuai syariat, dan banyak lagi. Malah keluarga bangga dengan saya karena bisa sampai saat ini menjauhi riba, bisa menjadi contoh baik buat keluarga. 


Setelah ikut barisan dakwah saya belajar banyak hal. Dari mengatasi kemalasan, agar tidak malas kita harus bergaul dengan teman yang mengajak pada kebaikan yang selalu menghadiri kajian, dan sopan santun. Saya menjadi tahu cara bagaimana bertanya yang baik, bagaimana berbicara dengan orang yang usianya di atas atau di bawah kita.


Disiplin pun diajarkan karena setiap kajian kita ditugaskan untuk tepat waktu. Bahkan barisan dakwah mengajarkan saya untuk bertanggung jawab karena setiap apa yang kita lakukan di dunia pasti akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah Swt..


Senangnya ikut barisan dakwah ini. Saya jadi mempunyai banyak pengalaman yang awalnya hanya hadir kajian, tapi di sini kita ditugasan bergilir menjadi panitia kajian. Saya pernah menjadi pembawa acara, menjadi pembaca doa, menjadi pembaca Al-Qur'an. Adapun yang paling seru adalah menjadi panitia kids corner yang dimana ditugaskan untuk menjaga anak-anak sampai selesai acara agar acara majelis taklim kondusif. Saya jadi tahu skala prioritas, mana yang penting dan mana yang tidak penting. Contohnya mendahulukan yang kita butuhkan, bukan yang kita inginkan dan banyak lagi.


Banyak sekali pengalaman yang membuat saya menjadi lebih dewasa, lebih beramal lagi, dan lebih sabar, yang penting barisan dakwah membina semua orang menjadi lebih baik sesuai syariat Islam. Yang mana hari ini sudah banyak ditinggalkan. Barisan dakwah ini mencakup semua hal secara menyeluruh sesuai aturan Allah. Bahwa semua aturan Islam harus diamalkan bukan sebagian tetapi secara menyeluruh atau kafah. Wallahualam bissawab. [Dara/MKC]