Alt Title

Kala Layanan Kesehatan Terbentur Status Sosial

Kala Layanan Kesehatan Terbentur Status Sosial


Kesehatan adalah barang yang mewah dalam sistem kapitalis

Meskipun ada jaminan kesehatan dari pemerintah namun birokrasinya lambat dan ribet

_________________________


Penulis Ummu Fadiya

Kontributor Media Kuntum Cahaya


KUNTUMCAHAYA.com, OPINI- Kabar meninggalnya peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), bernama Yurizal masih menjadi perbincangan di tengah-tengah masyarakat. Sebelumnya, Yurizal mengaku bahwa dirinya harus menunggu delapan jam untuk bisa masuk ruang rawat inap. 


Yurizal juga sempat curhat pada Rabu (22-7), bahwa salah satu kendala dirinya sulit untuk mendapatkan fasilitas rawat inap karena statusnya sebagai pengguna BPJS Kesehatan. Siapa sangka, hal itu menjadi curhatan terakhirnya karena Yurizal akhirnya menghembuskan napas terakhir pada Jumat, (31-7). 


Kejadian di atas memaksa BPJS Kesehatan angkat bicara yang diwakili oleh Rizzky Anugerah, selaku Kepala Humas BPJS. Rizzky menyampaikan bahwa setiap orang yang tercatat di JKN dan masih aktif memiliki hak untuk mendapatkan layanan kesehatan dan fasilitas yang diperlukan. 


Rizzky juga menegaskan setiap peserta JKN yang kepesertaannya aktif berhak memperoleh pelayanan kesehatan sesuai indikasi medis dan ketentuan yang berlaku. Maka dari itu, ketika ketiadaan kamar rawat inap tidak bisa dijadikan sebagai alasan bagi pasien yang membuatnya mengantre selama berjam-jam. 


Sebaliknya, pasien bisa ditempatkan di kamar rawat inap kelas berikutnya tanpa dikenai biaya selama tiga hari. Hal itu berlaku ketika kamar rawat inap pasien telah penuh. Namun, ketika semua kamar inap tak tersedia, maka pasien akan dirujuk ke rumah sakit lain yang memiliki pelayanan sama. 


Ketentuan tersebut mengacu kepada Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 28 Tahun 2014 mengenai Pedoman Pelaksanaan Program Jaminan Kesehatan. (Liputan6.com, 5-8-2026) 


Terhalang Aturan yang Berbelit-belit


Keterangan di atas seharusnya membuat semua rumah sakit yang bekerja sama dengan BPJS bisa memberikan pelayanan secara maksimal. Sayangnya, hal itu masih jauh dari harapan. Sebaliknya, pasien pengguna JKN terkadang harus berhadapan dengan aturan yang berbelit-belit di tengah kondisinya yang sedang merasakan sakit. 


Peristiwa meninggalnya pasien BPJS Kesehatan yang terlalu lama menunggu untuk mendapatkan pelayanan kesehatan tentu menjadi hal yang sangat memprihatinkan. Pasalnya, hal itu sangat bertolak belakang dengan apa yang disampaikan oleh Kepala Humas BPJS. Artinya, ada yang tidak sinkron antara aturan yang berlaku dan kondisi di lapangan. Mirisnya, saat sudah jatuh korban baru ada reaksi dari para pengampu kebijakan. 


Kondisi tersebut tentu harus segera dievaluasi dan ditindaklanjuti. Jangan sampai, peristiwa yang sama terjadi lagi di kemudian hari. Di sini, tentu harus ada koordinasi dan tim yang solid agar aturan dalam mengakses layanan kesehatan bisa dijangkau oleh seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali. Dengan begitu, semua bisa mendapatkan haknya sebagai warga negara tanpa harus ada intimidasi. 


Reaksi Masyarakat


Kondisi Yurizal yang sedang sakit ternyata tidak serta merta mendapatkan dukungan. Sebaliknya, reaksi nirempati justru yang lebih banyak diterima olehnya. Hal itu bisa dilihat dari akun media sosialnya yang kebanjiran komentar bernada tak enak setelah Yurizal berbagi pengalaman saat menunggu untuk mendapatkan ruang perawatan. 


Tak cukup sampai di situ, para pengguna JKN juga ada yang menerima respon tidak menyenangkan saat curhat di media sosial. Hal itu pula yang menimpa Yurizal. Bukannya mendapatkan dukungan, dirinya justru menerima cibiran dan ucapan yang makin membuatnya makin drop dan terpojok. Mirisnya, perlakuan tersebut justru datang dari para tenaga kesehatan, yaitu dokter dan paramedis. 


Apa yang terjadi kepada Yurizal adalah bukti, betapa akses kesehatan di negeri ini begitu rumit. Bayangkan, untuk mendapatkan satu ruang rawat inap untuk satu orang saja harus menunggu begitu lama. Hal itu tentu berpengaruh kepada kondisi kesehatan pasien di tengah-tengah rasa sakit yang dideritanya. Di samping itu, komentar para pengguna media sosial yang diterima oleh pasien juga makin memperparah keadaan. 


Korban Sistem Rusak


Keterlambatan pasien JKN untuk mendapatkan fasilitas yang memadai sejatinya akibat dari kerusakan sistem hari. Di sistem ini, aspek kesehatan dijadikan sebagai bisnis yang menguntungkan dari sisi materi. Alhasil, yang mampu berobat mandiri lebih diutamakan dan mendapatkan pelayanan maksimal serta memadai. Sebaliknya, untuk pasien kelas bawah yang mendapatkan subsidi dari pemerintah terkadang harus bersabar karena pelayanan yang tidak sepenuh hati. 


Lebih dari itu, akar masalah dari peristiwa di atas adalah sistem kapitalisme liberal yang berasal dari pemikiran manusia. Padahal akal manusia itu lemah dan terbatas karena dirinya hanyalah ciptaan. Maka dari itu, hasilnya pun tak mampu memberikan perlindungan dan periayahan secara maksimal. Mirisnya, para pengampu kebijakan baru bersuara dan bertindak saat sudah jatuh korban. 


Gambaran Nyata Periayahan Negara


Kondisi berbeda akan kita dapatkan ketika Islam dijadikan sandaran. Di sistem yang berasal dari Zat Yang Maha Sempurna ini, semua permasalahan kehidupan sudah diatur sedemikian rupa tanpa ada yang tertinggal termasuk masalah kesehatan. Hal itu menjadi fakta yang tak terbantahkan karena semua manusia sama di hadapan Allah Swt..

 

Fakta di atas tersebut tergambar nyata saat Rasulullah saw. menjadi kepala negara Islam. Kala itu, saat salah satu penduduknya yang bernama Ubay menderita sakit, beliau langsung mendatangkan dokter untuk mengobatinya. Dokter tersebut adalah hadiah dari Raja Mesir, Muqauqis. Kemudian dokter itu dijadikan dokter umum untuk seluruh penduduk negeri.(HR. Muslim) 


Apa yang dilakukan oleh Rasulullah saw., seharusnya diikuti oleh setiap pemimpin. Pasalnya, seorang pemimpin adalah pengurus rakyat yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah Swt. Hal itu telah disampaikan oleh Rasulullah saw., yang artinya:


“Imam (penguasa) adalah pengurus rakyat dan ia bertanggung jawab atas rakyat yang ia urus.” (HR. Al-Bukhari) 


Islam dan Solusi Kehidupan


Keberadaan pemimpin yang mampu memberikan perlindungan kepada rakyatnya memang hanya ada di sistem Islam. Sebab, Islam telah memberikan panduan yang jelas, lugas, dan tuntas untuk seluruh lini kehidupan termasuk aspek kesehatan. Itu artinya, Islam adalah agama sekaligus solusi pasti bagi seluruh umat manusia di akhir zaman. 


Oleh karena itu, sudah selayaknya bagi umat Muslim untuk mengambil Islam secara sempurna. Hal tersebut menjadi sebuah keniscayaan agar permasalahan hidup manusia bisa terselesaikan dengan paripurna hingga ke akar-akarnya. Tanpa penerapan yang sempurna, harapan untuk bisa mendapatkan periayahan dan perlakuan yang sama tanpa terhalang status sosial tentu hanya sebatas mimpi saja. Wallahualam bissawab. [Luth/MKC]