Alt Title

Gen Z Terjepit: Antara Dompet Menipis, Healing, dan Krisis Arah Hidup

Gen Z Terjepit: Antara Dompet Menipis, Healing, dan Krisis Arah Hidup

 


Negara seolah lepas tangan

dari tanggung jawabnya dan membiarkan mekanisme pasar bebas mendikte hajat hidup orang banyak


__________________


KUNTUMCAHAYA.com, SURATPEMBACA- Generasi Z hari ini berdiri di bawah tekanan hidup yang sangat besar dan kompleks. Di satu sisi, mereka harus menghadapi masalah ekonomi yang semakin menghimpit ruang gerak harian mereka; di sisi lain, mereka terjebak dalam arus budaya modern yang menawarkan pelarian instan dari rasa penat.


Dikutip dari (kompas.com, 12-8-2026) Berdasarkan data yang ada, lebih dari 48% Gen Z secara terbuka menyatakan bahwa mereka merasa tidak aman secara finansial di tengah ketidakpastian situasi ekonomi global saat ini. 


Ironisnya, di tengah impitan dompet yang kian menipis, alokasi anggaran belanja untuk self-reward dan kegiatan healing justru mengalami lonjakan yang cukup drastis. Fenomena ini bukan sekadar pamer gaya hidup mewah, melainkan telah bergeser menjadi kebutuhan emosional yang mendesak untuk meredam beban mental serta stres harian akibat kerasnya tekanan zaman. (Kompas.com, 03-5-2026)

Cengkeraman Kapitalisme dan Sekularisme


Masalah pelik ini sejatinya timbul akibat penerapan sistem ekonomi Kapitalisme global yang menempatkan perolehan keuntungan material di atas segalanya. Sistem ini membuat biaya hidup, harga kebutuhan pokok, serta biaya layanan kesehatan dan pendidikan terus melambung tinggi tanpa kendali, sementara pendapatan buruh dan pekerja cenderung stagnan tanpa perlindungan yang memadai. 


Negara seolah lepas tangan dari tanggung jawabnya dan membiarkan mekanisme pasar bebas mendikte hajat hidup orang banyak, sehingga memaksa anak muda untuk berjuang sendirian demi bertahan hidup dalam kancah persaingan yang tidak adil.


Tekanan finansial tersebut semakin diperparah oleh dominasi gaya hidup sekuler-liberal yang menormalisasi budaya hedonis sebagai solusi pelarian paling logis dari stres. Kehadiran media sosial yang terus-menerus memicu rasa FOMO (Fear of Missing Out) turut mendorong perilaku konsumtif demi mendapatkan validasi sosial yang semu.


Namun, akar masalah yang paling dalam adalah krisis tujuan hidup. Hilangnya arah dan kompas moral membuat standar kebahagiaan direduksi secara sempit ke dalam materi duniawi, bukan pada rida Allah Swt..

Solusi Hakiki: Penerapan Islam Kafah


Islam datang membawa pandangan hidup yang sangat jelas bahwa manusia diciptakan di muka bumi ini bukan tanpa tujuan. Allah Swt. telah menegaskan hakikat penciptaan manusia melalui firman-Nya dalam surah Adz-Dzariyat ayat 56: "Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku."


Ayat yang mulia ini menegaskan bahwa kebahagiaan sejati hanya didapat dari ketaatan kepada Sang Pencipta, bukan dari pelarian materi atau healing sesaat.


Untuk menyelamatkan generasi muda dari krisis multidimensional ini, Islam menawarkan solusi tuntas yang diterapkan secara menyeluruh (kafah):


Sistem Ekonomi Islam: Negara Khil4fah wajib menjamin pemenuhan kebutuhan pokok seluruh rakyat, seperti pangan, sandang, papan, kesehatan, dan pendidikan, melalui pengelolaan kekayaan alam yang adil.


Negara juga memastikan ketersediaan lapangan kerja yang luas, sehingga tidak ada lagi individu yang harus menanggung beban ekonomi seorang diri.


Sistem Pergaulan dan Media: Islam menutup rapat celah budaya hedonis dan sekuler yang merusak moral. Media massa difungsikan secara optimal sebagai sarana edukasi publik untuk membangun ketakwaan kolektif dan pengawasan sosial yang sehat di tengah masyarakat.


Sistem Pendidikan Islam: Membangun visi hidup yang lurus melalui kurikulum berbasis akidah yang sahih. Generasi muda dibekali jiwa yang tangguh agar menjadikan ridho Allah Swt. sebagai satu-satunya standar dalam setiap amal perbuatan.


Penerapan Islam kafah bukan sekadar pilihan teologis semata, melainkan sebuah keniscayaan mutlak yang bersifat politis, ekonomis, serta sosial untuk membenahi seluruh kerusakan struktural secara tuntas. Hanya dengan menerapkan seluruh aturan mulia dari Sang Pencipta secara menyeluruh, negara akan berfungsi sebagai pelindung yang hakiki, menghentikan eksploitasi kapitalistik, serta membebaskan generasi muda dari cengkeraman krisis arah hidup.


Kembali kepada Islam kafah adalah satu-satunya jalan keluar yang paling adil untuk membangkitkan kembali kemuliaan umat manusia serta menyelamatkan masa depan peradaban generasi bangsa kita secara sempurna di dunia dan akhirat. Wallahualam bissawab. [SM/MKC]


Murni Cendra Kasih, S.Pd., Gr.